MATA PELAJARAN

      Mata Pelajaran      : Penjaskes

      Program Studi       : IPA

PELAKSANAAN

      Hari/tanggal           :

Jam                                   :

PETUNJUK UMUM

  1. Isikan nomor ujian, nama peserta dan tanggal lahir pada Lembar JawabanUjian Nasional (LJUN), sesuai petunjuk di LJUN
  2. Hitamkan bulatan didepan nama mata ujian pada LJUN
  3. Tersedia waktu 120 menit untuk mengerjakan paket tes tersebut .
  4. Jumlah soal sebanyak 40 butir, pada setiap butir soal terdapat 5 (Lima) pilihan jawaban.
  5. Periksa dan bacalah soal-soal sebelum anda menjawabnya.
  6. Laporkan kepada pengawas ujian apabila terdapat lembar soal yang kurang jelas, rusak, atau tidak lengkap.
  7. Mintalah kertas buram kepada pengawas ujian, bila diperlukan.
  8. Tidak diizinkan menggunakan kalkulator, Hp,Tabel matematika atau alat bantu hitung lainnya.
  9. Periksalah pekerjaan anda sebelum diserahkan kepada pengawas ujian.
  10. Lembar soal tidak boleh dicoret-coret, difotokopy, atau digandakan. 

 

 

 

 

 

 

 

 Gambar

 

 

 

 

 

 

 

 

SMA NEGERI 2 PULO ACEH

UJIAN SEMESTER GANJIL

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Mata Pelajaran : PENJAS                      Waktu               :  60 Menit

Kelas/ Jurusan  :  XI/IA                          Guru Bid. Studi :  Raisul Akbar,S.Pd.MPd

 
   

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf  a, b, c, d atau e pada lembar jawab yang tersedia !

 

  1. Penyerangan dalam permainan bola basket yang dilakukan secara cepat dan kilat secara serentak disebut …

a.Pivot                                                                   d. Lay up      

  1. Jump ball                                                        e. Fast break
  2. Shoot                                                              
  3. Lemparan hukuman bebas pada permainan bola basket, akan mendapatkan angka sebesar…
    1. 5 angka                                                           d. 2 angka
    2. 4 angka                                                           e. 1 angka
    3. 3 angka

3.   Lemparan bola basket dari daerah persyaratan akan mendapatkan angka sebesar …

  1. 5 angka                                                           d. 2 angka
  2. 4 angka                                                           e. 1 angka
  3. 3 angka

4.   Panjang dan lebar ukuran papan pantul pada lapangan bola basket adalah …

  1. 1,20 meter dan 1,80 meter                            d. 1,25 meter dan 1,85 meter
  2. 1,10 meter dan 1,85 meter                            e. 1,25 meter dan 1,90 meter
  3. 1,15 meter dan 1,75 meter

5.   Fungsi menggiring bola tingi adalah …

  1. menyusup pertahanan lawan                                 
  2. memperoleh posisi mendekati basket lawan.       
  3. menggiring bola dalam menghadapi lawan
  4. mengacaukan pertahan lawan
  5. mengolah lawan menempel ketat

6.   Fast break adalah senjata ampuh dalam bola basket yang berarti ….

  1. Tembakan kilat                                          d. Pertahanan cepat
  2. Perlawanan ketat                                       e. Penyerangan bertahap
  3. Serangan kilat

7.   Apabila seorang pemain menembak bola dari luar daerah bersyarat, maka akan    mendapatkan angka sebesar …

  1. 5 angka                                                           d. 2 angka
  2. 4 angka                                                           e. 1 angka
  3. 3 angka

8.   Memutar badan dengan salah satu kaki menjadi poros , putaran tersebut disebut …

  1. Jump ball                                                       d. Pivot
  2. Jump shoot                                                    e. Lay up
  3. Fast break

9.   Induk organisasi nasional bola basket di Indonesia adalah …

  1. PERBASI                                                      d. PERSANI
  2. PERSARI                                                      e. PERBASASI
  3. PERCASI

10   Dasar umum pembuatan pola permainan bola basket adalah ….

  1. Ada pemain pengatur serangan
  2. Ada pemain pengamanan serangan
  3. Ada pemain penembak serangan
  4. Ada pemain bertahan
  5. Semua benar

11. Dalam permainan bola basket, tugas seorang forward adalah ….

a.   Menjaga daerah belakang

b.   Menyusup ke pertahanan lawan

c.   Membendung tembakan lawan

d.   Melakukan rebound

e.   Memberikan umpan

  1. Tujuan utama permainan sepak bola adalah
    1. Menggunakan taktik dan strategi
    2. Memasukan bola kedalam gawang lawan
    3. Memainkan bola seindah-indahnya
    4. Menjaga daerah pertahanan
    5. Menggunakan teknik yang cantik
  2. Yang tidak termasuk teknik dengan bola pola penyerangan permainan sepak bola adalah
    1. Operan satu – dua
    2. Lemparan kedalam
    3. Teknik Off Side
    4. Tendangan penjuru
    5. Tendangan bebas
  3. Nomor lari yang diperlombakan dalam lari estafet adalah:
    1. 4 x 100 meter dan 4 x 300 meter
    2. 4 x 100 meter dan 4 x 400 meter
    3. 4 x 100 meter dan 4 x 500 meter
    4. 4 x 100 meter dan 4 x 600 meter
    5. 4 x 200 meter dan 4 x 700 meter
  4. Dalam lapangan lari estafet, Jarak tempat pergantian tongkat adalah:………
    1. 20 meter                                              d. 40 meter
    2. 25 meter                                              e. 45 meter
    3. 30 meter
  5. Pada lari estafet pelari kedua, ketiga dan keempat menggunakan start:……………
    1. Jongkok                                              d. berjalan
    2. Berdiri                                                  e. ½ berjalan
    3. Melayang
  6. Permainan bola basket dimainkan dua regu, masing-masing regu terdiri dari:
    1. 5 orang                                                d. 3 orang
    2. 6 orang                                                e. 11 orang
    3. 7 orang                       
  7. Permainan bola basket diciptakan oleh:
    1. William G. Morgan                              d. Dr. Hasley
    2. Dr. Luther                                            e. Dr. James A. Naismith
    3. Dr. Gulick                               
  8. Ukuran panjang lapangan bola basket adalah:
    1. 24 meter                                              d. 29 meter
    2. 25 meter                                              e. 30 meter
    3. 26 meter                     
  9. Menendang bola dapat dilakukan dengan berbagai teknik kecuali :
    1. Menendang bola dengan punggung kaki
    2. Menendang bola dengan kaki bagian dalam
    3. Menendang bola dengan kaki bagian luar
    4. Menendang bola dengan tumit kaki
    5. Menendang bola dengan lutut kaki
  10. Teknik menghentikan bola yang datangnya dari atas, dapat dilakukan dengan:
    1. Kaki bagian dalam                              d. A, b dan c benar
    2. Kaki bagian luar                                  e. A, b dan c salah
    3. Punggung kaki
  11. Bagi seorang pemain bola, cara mengontrol bola yang paling mudah adalah datangnya bola…..
    1. Dari atas                                              d. Tendangan sudut
    2. Mendatar                                             e. Tendangan bebas
    3. melambung
  12. Penguasaan bola yang paling baik dan efektif dilakukan dengan….
    1. Paha                                                    d. kepala
    2. Dada                                                   e. tangan
    3. kaki
  13. Serangan pertama dalam permainan bola voli adalah:
    1. Smash                                                 d. block
    2. Servise                                                e. spike
    3. Pass
  14. Teknik dasar permainan bola voli dibawah ini, kecuali:
    1. Smash                                                 d. block
    2. Servise                                                e. Pola penyerangan
    3. pass

ESSAY TEST

  1. Jelaskan pembagian dari cabang olah raga Atletik secara terperinci?
  2. Jelaskan teknik dasar permainan bola basket?
  3. Berapakah panjang,lebar dan jari-jari lingkaran tengah bola basket?
  4. Gambarkan lapangan lengkap beserta ukurannya dan sebutkan berapa istilah dalam permainan Sepak bola?
  5. Kemukakan pendapat dan alasan anda apa manfaat pelajaran penjas bagi siswa/i SMA Negeri 2 Pulo Aceh?

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN

LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR

DI SMA NEGERI 1 LHOONG

ABSTRAK

Salah satu setrategi pembelajaran yang sesuai dengan hal tersebut  adalah pembelajaran dengan pendekatan Pakem. Dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar maka implementasi pembelajaran pakem akan memungkinkan siswa bisa mengembangkan kreativitas, motivasi dan partisipasinya dalam pembelajaran . Dari hasil pantauan peneliti selaku pengawas sekolah, selama ini  para guru di SMA Negeri 1 Lhoong , sangat jarang dan bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Begitu pula dalam KKG, kemampuan guru berdiskusi masih kurang aktif dan kreatif, sehingga kemampuan guru memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar belum baik. Berdasarkan latar belakang di atas, maka  permasalahan yang dapat dirumuskan adalah:

1.      Apakah dengan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar di SMA Negeri 1 Lhoong

2.      Apakah kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas maka penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar dan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong

Penelitian ini dirancang dalam bentuk Penelitian Tindakan Sekolah yang direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus,dimana setiap siklusnya dilaksanakan dalam dua sampai tiga kali  pertemuan. Adapun subyek penelitian ini adalah guru-guru di SMA Negeri 1 Lhoong yang terdiri dari enam orang guru kelas dan dua orang guru bidang studi.

Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan pengumpulan data dengan menggunakan format observasi,instrumen penilaian skenario pembelajaran dan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif.

 

KATA PENGANTAR

 

Penelitian ini berjudul “PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN  LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SMA NEGERI 1 LHOONG bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar melalui diskusi  dalam kelompok kerja guru (KKG).

Laporan hasil  penelitian tindakan sekolah ini dapat terselesaikan berkat dukungan dari berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan, motivasi, materi serta fasilitas pendukung lainnya.Untuk itu melalui kesempatan ini,disampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada :

Semua pihak yang terkait di SMA Negeri 1 Lhoong yang telah menyediakan kondisi dan fasilitas pelaksanaan penelitian, sehingga  seluruh kegiatan penelitian dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana.

 

 

Terima kasih.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Untuk itu sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku sekarang  ini, memerlukan strategi baru terutama dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sebelumnya lebih banyak didominasi oleh peran guru (teacher centered) diperbaharui dengan sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Dalam implementasi KTSP guru harus mampu memilih dan menerapkan model, motode atau setrategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi sehingga mampu mengembangkan daya nalar siswa secara optimal.Dengan demikian dalam pembelajaran guru tidak hanya terpaku dengan pembelajaran di dalam kelas, melainkan guru harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan motode yang variatif.

Disamping itu sesuai dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan), guru harus mampu menghadapkan siswa dengan dunia nyata sesuai dengan yang dialaminya sehari-hari. Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan Pakem yang memungkinkan bisa mengembangkan kreativiats, motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Hal ini juga sesuai dengan salah satu pilar dari pendekatan contekstual yaitu masyarakat belajar (learning commonity). Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara belajar yang disarankan dalam KTSP sebagai upaya mendekatkan aktivitas belajar siswa pada berbagai fakta kehidupan sehari-hari di sekitar lingkungan siswa. Memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar menjadi alternatif setrategi pembelajaran untuk memberikan kedekatan teoritis dan praktis bagi pengembangan hasil belajar siswa secara optimal. Ekowati (2001) mengatakan, memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar merupakan bentuk pembelajaran yang berfihak pada pembelajaran melalui penggalian dan penemuan (experiencing) serta keterkaitan (relating) antara materi pelajaran dengan konteks pengalaman kehidupan nyata melalui kegiatan proyek. Pada pembelajaran dengan setrategi ini guru bertindak sebagai pelatih metakognitif yaitu membantu pebelajar dalam menemukan materi belajar, mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan dalam pembuatan laporan dan dalam penampilan hasil dalam bentuk presentasi.

Dari hasil pantauan peneliti selaku kepala sekolah, selama ini  para guru masih sangat jarang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Lingkungan  sekolah  tidak  lebih  hanya  digunakan sebagai tempat bermain-main siswa pada saat istirahat. Kalau tidak jam istirahat, guru lebih sering  memilih mengkarantina siswa di dalam kelas, walaupun misalnya siswa sudah merasa sangat jenuh berada di dalam kelas.

Seperti observasi awal yang dilakukan di SMA Negeri 1 Lhoong guru-guru di sekolah tersebut memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar hanya dua sampai tiga kali dalam satu semester. Guru lebih sering menyajikan pelajaran di dalam kelas walaupun materi yang disajikan berkaitan dengan lingkungan sekolah. Dari wawancara yang dilakukan peneliti, sebagian besar guru mengaku enggan mengajak siswa belajar di  luar kelas, karena alasan susah mengawasi. Selain itu ada guru yang menyampaikan bahwa mereka tidak bisa dan tidak tahu dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Untuk mengatasi hal itu perlu adanya diskusi kelompok diantara para guru kelas dalam bentuk KKG untuk mendiskusikan masalah pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Dalam kegiatan diskusi tersebut para guru bisa membagi pengalaman dalam pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar untuk mencapai hasil belajar yang optimal.  Penelitian Nur Mohamad dalam Ekowati (2001) menunjukkan diskusi kolompok memiliki dampak yang amat positif bagi guru yang tingkat pengalamannya rendah maupun yang tingkat pengalamannya tinggi.

Bagi guru yang tingkat pengalamannya tinggi akan menjadi lebih matang dan bagi guru yang tingkat pengalamannya rendah akan menambah pengetahuan.  Keunggulan diskusi kelompok melalui KKG adalah keterlibatan guru bersifat holistic dan  konprehensip   dalam   semua   kegiatan.  Dari   segi  lainnya  guru  dapat  menukar pendapat,   memberi saran, tanggapan dan berbagai reaksi sosial dengan teman seprofesi sebagai peluang bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, serta hasil pengamatan peneliti melalui supervisi,maka dapat diidentifikasi masalahnya sebagai berikut:

1.      Pendekatan pembelajaran lebih banyak didominasi oleh peran guru, dan guru satu-satunya sumber belajar,selain buku paket.

2.      Pembelajaran yang dikembangkan di kelas – kelas kelihatannya  lebih ditekankan pada pemikiran reproduktif, menekankan pada hafalan dan mencari satu jawaban benar terhadap soal-soal yang diberikan

3.      Dalam  kegiatan  pembelajaran guru belum mampu menerapkan model, motode atau setrategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan sehingga kurang mengembangkan daya nalar siswa secara optimal.

4.      Dalam proses pembelajaran guru sangat jarang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,walaupun materi pelajaran ada kaitannya dengan lingkungan sekolah.

5.      Kegiatan  Kelompok  Kerja   Guru  (KKG) belum dimanfaatkan  dan dilaksanakan secara optimal.

C.  Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas,maka dalam penelitian tindakan sekolah ini difokuskan pada penelitian masalah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.      Apakah  kemampuan guru  dalam  memanfaatkan  lingkungan  sekolah sebagai sumber  belajar dapat ditingkatkan melalui diskusi Kelompok Kerja Guru di SMA Negeri 1 Lhoong?

2.      Apakah kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong?

 

D.  Pemecahan Masalah

Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, dapat ditentukan hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah : Diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG), dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong.

E. Tujuan  dan Manfaat Penelitian

1.  Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari dilaksanakan penelitian tindakan sekolah ini adalah : Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar melalui diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) di SMA Negeri 1 Lhoong

2.  Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan memberikan manfaat yang berarti bagi :

a.    Guru, dapat menyempurnakan metode pembelajaran yang  diterapkan di  sekolah sehingga dapat meningkatkan kreativiats, motivasi dan hasil belajar siswa.

b.    Kepala Sekolah, dapat memberikan motivasi bagi guru-guru yang lain untuk  menyempurnakan metode dan setrategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

c.    Pengawas sekolah, dapat membantu dalam membimbing dan pengawas guru  dalam pelaksanaan tugasnya sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.

 

BAB II

LANDASAN TEORETIS

A.  Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar

Sumber belajar masyarakat dapat digunakan untuk kepentingan proses pembelajaran sains, ilmu sosial dan yang lainnya, salah satunya melalui survei wilayah. Melalui survei wilayah siswa akan menemukan sumber belajar di masyarakat sehingga mampu menumbuhkan motivasi untuk memperkaya nilai-nilai hasil belajar guna dapat meningkatkan pemahaman dan peningkatan materi pelajaran. (Sarman, 2005 : 3)

Nilai-nilai kegunaan sumber belajar masyarakat adalah : (1) menghubungkan kurikulum dengan kegiatan-kegiatan masyarakat akan mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah sosial; (2) menggunakan minat-minat pribadi peserta didik akan menyebabkan belajar lebih bermakna baginya; (3) mempelajari kondisi-kondisi masyarakat merupakan latihan berpikir ilmiah (scientif methode); (4) mempelajari masyarakat akan memperkuat dan memperkaya kurikulum melalui pelaksanaan praktis didalam situasi sesungguhnya; (5) peserta didik memperoleh pengalaman langsung yang kongkrit, realistis dan verbalisme. (Douglas dan Mill dalam Rusyan 2001 : 152)

Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar mengarahkan anak pada peristiwa atau keadaan yang sebenarnya atau keadaan yang alami sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Manfaat nyata yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan ini adalah : (1) menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak, (2) memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (meaningful learning), (3) memungkinkan terjadinya proses pembentukan kepribadian anak, (4) kegiatan belajar akan lebih menarik bagi anak, dan (5) menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning aktivities). (Badru Zaman, dkk. 2005)

B.  Diskusi Kelompok Kerja Guru

Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah bentuk kegiatan yang beranggotakan guru-guru kelas, dimana tujuan kegiatannya adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi mereka sesuai kelas yang dipegang. Bentuk kegiatan KKG bisa berupa diklat, simulasi, diskusi atau yang lainnya.

Kemudian diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar yang dilakukan secara bersama-sama. Diskusi kelompok pada dasarnya memecahkan persoalan secara bersama-sama. Artinya setiap anggota turut memberikan sumbangan pemikiran dan pendapat dalam memecahkan persoalan tersebut. Diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar untuk memecahkan persoalan secara bersama-sama, sehingga akan memperoleh hasil yang lebih baik. (Tabrani dan Daryani dalam Kasianto,2004)

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa diskusi kelompok adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan yang dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.

Ischak.SW dan Warji R. (dalam Kasianto,2004) mengemukakan beberapa petunjuk dalam pelaksanaan diskusi kelompok, yaitu :

a.       Pilihlah teman yang cocok untuk bergabung dalam belajar kelompok. Jumlah setiap kelompok terdiri dari 5 hingga 7 orang.

b.      Tetapkan siapa sebagai pemimpin yang akan memimpin jalannya diskusi atau belajar kelompok.

c.       Hentaskan persoalan satu persatu dengan memberi kesempatan kepada anggota untuk mengajukan pendapatnya. Dari pendapat yang masuk dikaji bersama-sama mana yang paling tepat.  (Ischak.SW dan Warji R. dalam Kasianto,2004)

Dari uraian di atas,maka di dalam pelaksanaan diskusi kelompok perlu diperhatikan pembentukan kelompok,penetapan pimpinan kelompok,penetapan masalah yang akan dibahas dan pencatatan kesimpulan hasil diskusi kelompok.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.   Lokasi Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah ini berlokasi di SMA Negeri 1 Lhoong yang ditujukan pada guru-guru kelas dan guru bidang studi.Adapun alasan utamanya adalah dari hasil pengamatan dan  informasi dari guru,bahwa hampir semua guru jarang dan bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

B.   Perencanaan Tindakan

Bentuk tindakan dalam penelitian ini berupa supervisi (bimbingan kelompok) kepada guru-guru melalui KKG, agar mampu menyusun skenario pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar secara efektif. Secara rinci bentuk tindakan dalam penelitian ini adalah :

1. Menyampaikan informasi tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai  sumber belajar.

2. Membimbing  guru  menyusun  skenario  pembelajaran  yang  berkaitan   dengan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

3. Membimbing  guru  dalam  memanfaatkan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

4. Membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Prosedur penelitian yang dilakukan adalah menggunakan model penelitian  tindakan sekolah yang dikembangkan oleh Kemmis & Taggart (2000), dimana pada prinsipnya ada empat tahap kegiatan yaitu, perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi dan evaluasi proses tindakan (observation and evaluation) dan melakukan refleksi (reflecting).

Perencanaan

Alur penelitian secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai berikut :

 

Tindakan

 

 

Observasi

Refleksi

Gambar 0.1. Alur Penelitian

Secara rinci prosedur tindakan yang dilakukan adalah :

1.      Membagi guru dalam dua kelompok kecil.

2.      Peneliti memberi penjelasan tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

3.      Guru  menyusun  skenario  pembelajaran  dengan  memanfaakan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dalam diskusi kelompok.

4.      Peneliti membimbing kelompok guru dalam menyusun skenario    pembelajaran.

5.      Wakil  kelompok guru mempresentasikan  skenario pembelajaran.

6.      Peneliti memberi masukan terhadap skenario pembelajaran yang telah dibuat kelompok guru.

7.      Guru melaksanakan skenario pembelajaran dalam proses pembelajaran yang sebenarnya.

8. Peneliti mengevaluasi kemampuan guru dalam mengimplementasikan skenario pembelajaran.

9. Dalam kelompok diskusi guru berbagi pengalaman terkait dengan pelaksanaan pembelajaran yang memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

10. Target yang diharapkan:

a.       Guru  mampu  membuat  skenario pembelajaran  dengan memanfaakan   lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

b.      Guru mampu melaksanakan pembelajaran dengan memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

c.       Guru mampu berdiskusi secara aktif dan kreatif,dan mampu memanfaatkan  diskusi kelompok kerja guru secara efektif dan efesien dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran.

C.  Pelaksanaan Tindakan

1. Siklus I

a. Perencanaan Penelitian.

Kegiatan penelitian ini direncanakan berlangsung selama dua siklus,mulai bulan  desember s/d bulan Agustus 2010 di SMA Negeri 1 Lhoong  pada jam sekolah 07.30-12.50.

Perencanaan penelitian meliputi:

1). Pertemuan  dengan  Kepala  Sekolah  dan guru – guru, menginformasikan  tentang pelaksanaan penelitian.

2). Peneliti  menyiapkan  skenario diskusi kelompok yang akan dilaksanakan selama proses tindakan.

3). Peneliti  menyiapkan instrumen  penelitian ( lembar observasi, lembar  penilaian   kemampuan  guru).

b. Pelaksanaan Penelitian.

Pada tahap pelaksanaan merupakan tahap inti dimana pelaksanaan diskusi KKG berlangsung dengan langkah-langkah berikut.

1). Pertemuan I

a). Peneliti selaku pengawas sekolah memberi arahan umum pemanfaatan lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar

2). Pertemuan II

a). Guru melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar sesuai skenario pembelajaran yang dimiliki.

b). Peneliti melakukan penilaian pada guru terkait dengan implementasi pembelajaran sesuai skenario yang dibuat.

3).  Pertemuan III

a).  Kelompok kerja guru melakukan diskusi tentang kendala-kendala pelaksanakan pembelajaran dengan  memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

b). Peneliti melakukan bimbingan dalam kelompok, terkait dengan pembelajaran yang diterapkan guru. dan merevisi  skenario  pembelajaran  sehingga  menghasilkan skenario pembelajaran yang sesuai dengan pakem.

c. Observasi dan Evaluasi

Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan yaitu pada saat diskusi KKG baik pada pertemuan I, II dan III.  Tahap observasi bertujuan untuk mengetahui kerjasama ,kreativitas,perhatian, maupun presentasi yang dilakukan guru dalam menyusun skenario  pembelajaran maupun dalam melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Adapun skala penilaian yang digunakan adalah skala Likert dengan 5 katagori sikap yaitu:sangat tinggi, tinggi, rendah, sedang dan sangat rendah. Penilaian dilakukan dengan memberi skor pada kolom yang tesedia dengan ketentuan sebagai berikut : skor 5 = sangat tinggi, skor 4 = tinggi, skor 3 = sedang, skor 2 = rendah, dan skor 1 = sangat rendah. Untuk mendapatkan nilai digunakan rumus :

NK= Jumlah skor  perolehan x 100

Jumlah skor maksimal

Setelah diperoleh nilai,maka nilai tersebut ditransfer ke dalam bentuk kualitatif untuk memberikan komentar bagaimana kualitas sikap guru yang diamati dalam diskusi KKG, penyusunan skenario  pembelajaran dan penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan kriteria penilaian acuan patokan skala lima sebagai berikut: Tahap evaluasi dilakukan pada akhir tindakan yang bertujan untuk mengetahui tingkat kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Pelaksanaaan evaluasi dilakukan dengan menggunakan lembar penilaian skenario pembelajaran dan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:

1.      Skenario pembelajaran sekurang-kurangnya memuat standar kompetensi, kompotensi dasar, indikator, materi pelajaran, alat/media, sumber belajar dan penilaian.

2.      Kesesuaian  antara  materi  pelajaran  dengan media dan setrategi pembelajaran

3.      Kaitan antara materi pelajaran dengan pemilihan sumber belajar

4.      Kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan sumber bahan dan  penilaian.

Format Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

1.      Kegiatan pendahuluan ( apersepsi dan motivasi )

2.      Kegiatan inti pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan

3.      Kemampuan guru mengkaitkan materi pelajaran dengan lingkungan sekolah.

4.      Kemampuan guru memberi contoh-contoh riil yang ada di lingkuan sekolah.

5.      Kemampaun membuat evaluasi berkaitan dengan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

6.      Penutup pelajaran (memberi penguatan, memberi PR tentang pemanfaatan lingkungan sekolah.)

d.  Refleksi

Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus dilakukan refleksi. Hasil refleksi ini dijadikan acuan untuk merencanakan penyempurnaan dan perbaikan siklus berikutnya. Semua tahap kegiatan tersebut mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan maupun observasi dan evaluasi dilakukan secara berulang-ulang melalui siklus–siklus sampai ada peningkatan sesuai yang diharapkan yaitu mencapai angka katagori”baik” dengan rentang skor  80 – 89. Jika skor yang diperoleh kurang dari  80-89,berarti belum memenuhi target yang ditetapkan, maka perlu bimbingan pada siklus II

2. Siklus II

a. Perencanaan Penelitian.

Pada tahap ini direncanakan supervisi (pembinaan) dengan menggunakan tehnik  diskusi  kelompok  kerja  guru,  tentang  pemanfaatan  lingkungan  sekolah  sebagai sumber belajar oleh guru kelas maupun guru bidang studi di SMA Negeri 1 Lhoong yang belum mencapai hasil optimal dalam siklus I. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi siklus I,dilakukan perbaikan terhadap strategi dan penyempurnaan pelaksanaan  bimbingan  di siklus II.

b. Pelaksanaan Penelitian.

Pada  prinsipnya langkah-langkah pelaksanaan tindakan pada  siklus I  diulang pada siklus II dengan memodifikasi dan perbaikan-perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Kegiatan pada siklus II terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

 

1). Pertemuan I

a)      Melalui kelompok kerja, guru mendiskusikan tentang permasalahan-permasalan atau hambatan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,dalam menyusun skenario pembelajaran yang selanjutnya dicarikan pemecahannya. Kegiatan ini dibantu oleh guru yang dianggap  sudah cukup mampu dalam hal tersebut

b)      Guru mempresentasikan dan mensimulasikan hasil diskusi kelompoknya.

c)      Guru  merevisi  dan  menyempurnakan   skenario  pembelajaran dengan   mengoptimalkan  pemanfaatan  lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar.

2). Pertemuan II

a)      Guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas   dengan  menggunakan skenario pembelajaran yang sudah direvisi.

b)      Guru mendiskusikan dan menyempurnakan skenario pembelajaran yang lengkap dengan pemanfaatan  lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar.

c)      Guru mencatat kekurangan pembelajaran yang perlu diperbaiki dan disempurnakan.

c. Observasi dan Evaluasi.

Observasi dilakukan peneliti saat guru berdiskusi tentang masalah atau hambatan  dan  pemecahannya  dalam  kegiatan  kelompok  kerja  guru baik  secara individu maupun kelompok.Observasi terhadap aspek sikap guru dilakukan dengan menggunakan format observasi yang sama dengan format observasi yang digunakan pada siklus I.

Evaluasi dilakukan pada akhir pertemuan siklus II,dengan menggunakan format penilaian yang sama dengan format penilaian yang digunakan pada siklus I. Adapun aspek yang dinilai, serta cara menilai juga sama dengan penilaian pada siklus I.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus II,maka dilanjutkan dengan mengadakan refleksi terhadap kegiatan dan hasil  kegiatan yang sudah berlangsung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Stop Dreaming Start Action saya masukkan saja sebagai Kata Mutiara karena memang maknanya sangat berharga yaitu agar kita tidak hanya bermimpi untuk mendapatkan sesuatu melainkan perlu berusaha dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang baik, rajin, ulet, tekun dan tetap gembira apapun hasilnya. Anda setuju kan kalau uangkapan Stop Dreaming Start Action ini merupakan kata bijak?. Beberapa orang mungkin menterjemahkan Stop Dreaming sebagai berhentilah mempunyai impian. Kalau diartikan seperti itu tentu saja maknanya menjadi berbeda, karena sesungguhnya Power of Dream atau Kekuatan Impian adalah luar biasa. Yang pasti untuk benar-benar berhasil kita perlu NOT only dreaming buat Start a real Action.

Jadi ingat saja kata mutiara satu ini jika suatu ketika Anda punya keinginan baru atau keinginan lama yang belum terwujudkan. Anda dapat memperkuat dream Anda tersebut dengan cara membayangkan yang enak-enak jika Anda berhasil mendapatkannya, dan membayangkan betapa susahnya Anda jika hal itu tidak tercapai. Tandanya dream atau impian Anda tersebut sudah sangat mendominasi anda maka anda akan tergerak untuk benar-benar MENGUSAHAKANnya atau Start Action. Itulah maka dari kata mutiara Stop Dreaming Start Action menurut saya.

Sebenarnya harus saya akui bahwa kata mutiara atau kata bijak yang sering saya baca dari buku-buku atau yang diucapkan orang-orang, termasuk juga yang bahkan sering dikutip teman-teman menjadi Status Facebook mereka, lebih sering hanya sampai di level pengetahuan saja. Mungkin juga Anda sering juga mendengar kata bijak yang sangat sederhana dan memaknainya sebatas itu, seperti saya tadi. hehe.. Misalnya ketika mendengar kata bijak Rajin Pangkal Pandai, sepertinya sudah menjadi biasa, bukan senilai mutiara lagi. Lalu hanya sedikit diantara kita yang benar-benar RAJIN dalam arti yang luas. Benar kan?. Semoga kata mutiara yang satu ini Stop Dreaming Start Action dapat melekat lebih kuat dan sanggup benar-benar kita praktekkan.

Semoga Anda setuju dengan uraian singkat diatas, dan mulai sekarang kita kumandangkan dan praktekkan Stop Dreaming Start Action ini jauh lebih kuat jauh lebih sering.

Atau Anda punya pendapat lain tentang makna Stop Dreaming Start Action ini? Silahkan berkomentar.

 

mulai dari titik 0

bekerjalah penuh kecintaan

 

BIO CLUBIndonesia yang masuk dalam jajaran Negara paling berpolusi no 3 sedunia, setidaknya boleh berbangga hati. Di tengah – tengah mirisnya pendidikan di negeri ini, sebuah inovasi baru di bidang pendidikan Indonesia hadir

Green School – Kul- Kul Campus. Yang terletak di desa Cundien, 56 km dari pusat kota Banda Aceh. Sebuah sekolah unik yang digagas oleh Dompet Duafa,Ditambah lagi arena olahraga, laboratorium, perpustakaan, dll.

INTERAKSI DENGAN ALAM

Para murid diajarkan untuk dekat dengan alam, mulai dari cara menanam pohon dan tanaman comersil, memproduksi sendiri. Semua itu tak lepas dari harapan agar murid – murid mereka mengerti tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan mampu menjadi pemimpin di dunia yang selalu berubah dan menantang ini.

Pendeknya, mereka-para pelajar-akan tahu segala hal dari organic gardening hingga mendesain website, dari menjalankan bisnis kecil hingga menekan emisi karbon, menjadi orang yang membanggakan dan dapat dipercaya mengelola kehidupan dengan lebih baik, di tengah krisis bumi ini.
Di sisi yang lain seharusnya keberadaan Green School menginspirasi pemerintah dan swasta membuat sekolah yang mirip namun lebih affordable dalam biaya.
Bukan apa, sebagai anak negeri, miris rasanya melihat anak – anak bule yang terkenal bersih itu mau bermain – main dengan lumpur dan duduk lesehan di atas tikar, kemudian mampu bercocok tanam, menanam padi, dan membudidayakan udang. Sedangkan kita ? masuk ke lumpur saja mungkin tidak pernah, apalagi menanam padi ? padahal bercocok tanam merupakan identitas bangsa kita sebagai negara agraris.
Andaikata sekolah di negeri ini seperti Green School, mungkin tidak akan ada lagi yang namanya illegal logging, dan pembabatan hutan secara liar, karena sejak kecil mereka telah diajarkan bagaimana cara mencintai alam.

Hem…
Sekarang banyak banget ya..sekolah yang kurang memperhatikan adanya penghijauan…karena tidak ada tumbuhan-tumbuhan yang menghiasi disitu, makanya mulai sekarang biar kita nyaman belajar di situ ayolah adakan penghijauan di sekolah kamu masing-masing…

Btw (by the way)^^….
Gimana nich dengan sekolah kamu…udah ada penghijauan di sekolah kamu belum????^^
Kalau dipikir-pikir ya emang sih sekolah yang kurang penghijauan kita berada di sana kurang nyaman….PANAS..-_- Apa lagi kalau ada proses belajar mengajar out door hem….bisa kepanasan kita..+ tidak ada tempat untuk berteduh.
TAPI kalau kita merawat lingkungan sekolah khususnya sekolahan jita sendiri niscaya dech pasti kita sekolah di situ pasti nyaman dan tidak hanya kita saja tapi warga sekolah…^^

 

Gerakan Indonesia menanam merupakan agenda tahunan yang dicanangkan pemerintah untuk mengatasi krisis Global Warming.

THE EARTH

 

A. Judul Penelitian

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

PADA SMA NEGERI 1 SUKA MAKMUR

KABUPATEN ACEH BESAR

B. Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan Manjemen Berbasis Sekolah diimplementasikan dengan tujuan, meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, sekolah dan pemerintah tentang suatu sekolah. Meningkatkan kompetisi yang sehat antara sekolah untuk mencapai mutu pendidikan yang diharapkan.

Dengan melihat pada tujuan Manajemen Berbasis Sekolah bahwa hal itu hanya akan dapat kita capai apabila diberdayakan secara maksimal semua sumber daya pendidikan yang ada di sekolah . Pemberdayaan semua potensi sumber daya yang ada pada sekolah secara maksimal untuk mencapai tujuan sekolah inilah yang dinamakan dengan kinerja sekolah.

1

Adapun indikator – indikator yang ditetapkan sebagai ukuran dalam menilai Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada tiap – tiap sekolah , antara lain: Apakah proses pembelajaran efektif. Adakah kepemimpinan kepala sekolah yang kuat. Apakah sekolah memiliki teamwork yang efektif. Apakah sekolah memiliki kemandirian. Apakah terdapat partisipasi masyarakat pada sekolah dan sebaliknya. Apakah sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Apakah sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. Apakah sekolah memiliki akuntabilitas. Apakah sekolah memiliki transparansi

Tentunya masih banyak lagi indikator yang masih terdapat dirumuskan sesuai dengan kebutuhan tiap – tiap daerah yang mempunyai karakteristik dan kebutuhan pembangunan daerah masing – masing. Misalnya saja suatu daerah perlu memasukkan kelestarian lingkungan atau perkembangan kesenian yang menjadi ciri khas daerahnya.

Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa dan dalam membangun watak bangsa. Pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan bangsa dan mengembangkan masyarakat Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, memiliki keterampilan dan pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan . Pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembangunan nasional yang ikut menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

1

Tekanan yang menuntut pertanggung jawaban mengenai relevansi dan mutu hasil pendidikan semakin besar. Ketidakpastian mengenai lowongan pekerjaan, kelangkaan sumber-sumber dan perlunya meneliti dengan cermat lembaga yang menerima pembiayaan juga menuntut pendidikan untuk memberikan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, dimana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh ketidakpastian. Dalam kerangka inilah pendidikan diperlukan dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju, demikian halnya bagi masyarakat Indonesia yang memiliki wilayah yang amat luas.

Kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bervariasi serta munculnya berbagai masalah mendorong pemerintah memperhatikan potensi daerah. Standarisasi bagi penyeragaman rencana yang terlalu terpusat menghambat Implementasi pembangunan karena cenderung akan berakibat pada ketidaksesuaian antara rencana pusat dan kebutuhan daerah masing-masing. Sejalan dengan arah kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi yang ditempuh pemerintah, tanggung jawab pemerintah daerah meningkat, salah satunya manajemen pendidikan. Wacana desentralisasi pendidikan muncul sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) tentang Otonomi Daerah. Pasal 11 Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 menyebutkan bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Kebijakan ini memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk memberdayakan pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat. Pemerintah daerah diharapkan senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam berbagai tahap pembangunan pendidikan, sejak tahap perumusan kebijakan daerah, perencanaan, Implementasi, sampai pemantauan di daerah masing-masing.

Manajeman Berbasis Sekolah (School Based Management) merupakan satu kajian yang banyak dibahas untuk mengubah sistem pendidikan yang sentralistik ke arah desentralistik. Desentralisasi pendidikan memberi kewenangan kepada sekolah dan masyarakat setempat untuk mengelola pendidikan. Dengan demikian dapat diharapkan tercapai peningkatan kerjasama antara kepala sekolah, guru, pegawai lainnya dan masyarakat, serta peningkatan kualitas dan produktivitas pendidikan. Hal tersebut juga akan membentuk kemandirian sekolah yang selama ini kurang ditekankan, sehingga fungsi-fungsi yang ada akan didesentralisasikan di sekolah.

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu di dukung kemampuan manajerial para kepala sekolah. Sekolah perlu berkembang maju dari tahun ke tahun. Karena itu, hubungan baik antar guru perlu diciptakan agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan. Demikian halnya penataan penampilan fisik dan manajemen sekolah perlu dibina agar sekolah menjadi lingkungan yang dapat menumbuhkan kreativitas, disiplin dan semangat belajar yang baik bagi peserta didik.

Implementasi manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien menuntut seorang kepala sekolah yang memiliki pandangan luas tentang sekolah dan pendidikan. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuh kembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar, dengan melakukan supervisi kelas, membina, dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Disamping itu, kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, dan studi banding antar sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah lain.

Implementasi manajemen berbasis sekolah juga menuntut guru untuk berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung peserta didik dikelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pelajaran. Guru juga harus mengorganisasikan kelasnya dengan baik mulai jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik, kebersihan dan ketertiban kelas, pengaturan tempat duduk peserta didik dan penempatan media pembelajaran pada tempatnya.

Implementasi manajemen berbasis sekolah yang ideal harus sesuai dengan karakteristik manajemen berbasis sekolah dan harus melalui tahap-tahap Implementasi manajemen berbasis sekolah. Perencanaan dan persiapan yang baik dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah akan membantu keberhasilan program tersebut. Hal itu akan menghasilkan mutu pendidikan yang semakin baik, ada kepedulian warga sekolah dan tanggung jawab sekolah pun akan semakin meningkat.

SMA Negeri 1 Suka Makmur adalah salah satu SMA di kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar yang menjadi sekolah rintisan manajemen berbasis sekolah. Kondisi sekolah yang strategis dan kondusif untuk belajar tepat untuk dijadikan SMA rintisan manajemen berbasis sekolah dan SMA Unggulan, sehingga dengan mempertimbangkan uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan penelitian dengan judul Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar.

C.  Rumusan Masalah

Penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah harus di Implementasikan dalam setiap langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah melalui konsep Manajemen Berbasis Sekolah, hal tersebut adalah suatu konsep dalam pendidikan, sehingga perlu untuk melakukan suatu kajian untuk melihat Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: Bagamanakah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah di sekolah dasar ini bertujuan untuk:

  1. Tahap-tahap implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.
  2. Tugas kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.
  3. Peran guru dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.

E. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian dalam penelitian kualitatif ini. Pertanyaan penelitian akan membimbing arah proses penelitian agar tetap berada di jalur yang tetap. Dalam penelitian ini pertanyaan penelitian yang diajukan berasal dari rumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan di depan. Adapun pertanyaan penelitian tersebut

adalah :

  1. Bagaimana tahap-tahap implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur ?
  2. Bagaimana tugas kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur?
  3. Bagaimana peran guru dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur?
    1. F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang akan dirasakan sehubungan dengan Implementasi penelitian yang dilakukan adalah berupa sumbangan dan masukan bagi pengembangan disiplin ilmu Administrasi Pendidikan yang berkenaan dengan kajian manajemen Berbasis Sekolah, kebijakan pendidikan, , kepemimpinan pendidikan serta hubungan sekolah dengan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bantuan kepeda pihak lembaga bahwa penerapan MBS menuntut adanya pengolahan pendidikan secara lebih baik.

G. Landasan Teoretis

Manajemen sekolah seringkali diartikan sebagai administrasi sekolah. Dalam berbagai kepentingan, pemakaian istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, demikian halnya dalam berbagai literatur, sering kali dipertukarkan. Berdasarkan fungsi pokoknya istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi perencanaan, Implementasi, pengawasan, dan pembinaan. Pidarta (1988: 15) mengungkapkan sesudah manajemen membuahkan aktivitas-aktivitas tertentu dalam lembaga pendidikan dengan program-programnya, sarananya, anggarannya, kriteria Implementasi dan keberhasilan dan petunjuk-petunjuk Implementasi, maka proses pendidikan dilaksanakan.

Sekolah dikatakan mampu mengimplentasikan MBS untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah harus memperhatikan faktor-faktor pendukung keberhasilan MBS yaitu Menurut Nurkholis (2003:264), ada enam faktor pendukung keberhasilan implementasi MBS. Keenamnya mencakup: political will, finansial, sumber daya manusia, budaya sekolah, kepemimpinan, dan keorganisasian.

Jika keenam faktor tersebut sudah terpenuhi maka akan dilihat dari ukuran keberhasilan pengimplentasian MBS seperti yang dikatakan Nurkholis (2003:271-282) menyatakan bahwa ukuran keberhasilan implemen-tasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari sembilan kriteria.

  1. jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakin meningkat.
  2. kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik, yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan nonakademik siswa.
  3. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik. Maksudnya, rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Siswa yang tinggal kelas menurun karena :

a)    siswa semakin semangat datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua dan lingkungannya.

b)   Pembelajaran di sekolah semakin baik karena kemampuan mengajar guru menjadi lebih menarik dan menyenangkan.

Aspek produktivitas sekolah meningkat disebabkan karena :

a)      Peningkatan efisiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah, dengan memberdayakan peran serta masyarakat, isntitusi, dan tenaga kependidikan secara demokratis dan efisien.

b)      Peningkatan efektivitas dengan tercapainya berbagai tujuan pendidikan yang diterapkan.

  1. Relevansi pendidikan semakin baik, karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat, baik dari aspek pengembangan kurikulum maupun sarana dan prasarana sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat.
  2. Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata, tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Biaya pendidikan pada tingkat dan jenis pendidikan serupa antara daerah yang satu dengan daerah lainnya akan berlainan menurut kekuatan ekonomi warganya.
  3. Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah, baik yang menyangkut keputusan instruksional maupun organisasional.
  4. Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan.
  5. Kesejahteraan guru dan staf sekolah membaik.
  6. Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kesimpulan yang diperoleh dari uraian di atas adalah manajemen sekolah merupakan manajemen yang melaksanakan fungsi-fungsi manajamen sekolah. Implementasi fungsi-fungsi manajemen sekolah harus berjalan secara terpadu dan berkesinambungan.

H. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Bogdan dan Taylor yang dikutip Moleong (2002 : 3) mengungkapkan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskritif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Sedangkan Arikunto (1998: 245–247) membedakan penelitian kualitatif berdasarkan sifat dan analisis datanya menjadi dua jenis yaitu :

  1. Riset deskriptif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atas suatu fenomena
  2. Riset deskriptif yang bersifat developmental digunakan untuk menemukan suatu mode atau prototipe

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang bersifat eksploratif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data yang dekriptif yang menggambarkan keadaan Implementasi manajemen berbasis sekolah.

  1. I. Subjek Penelitian

Menurut Arikunto (1998: 109) subyek penelitian mempunyai kedudukan sangat sentral, karena pada subyek penelitian itulah data tentang variabel yang diteliti berada dan diamati oleh peneliti.

Arikunto (2000 : 116 ) mengungkapkan subyek penelitian adalah benda, hal, orang atau tempat data untuk variabel penelitian melekat dan dipermasalahkan. Penelitian kualitatif selalu bertolak dari asumsi tentang realita sosial yang bersifat unik, komplek dan ganda.

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan 8 guru di SMA Negeri 1 Suka Makmur yaitu subyek yang terlibat secara langsung dan sebagai pelaksana manajemen berbasis sekolah di SMA ini. Subyek-subyek tersebut harus dipandang sebagai informan dan bukan sebagai responden.

  1. J. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam penelitian, sebab data yang terkumpul akan dijadikan sebagai bahan analisa penelitian. Metode pengumpulan data erat kaitannya dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan. Dalam penelitian metode maupun alat pengumpulan data yang tepat (sesuai) dapat membantu pencapaian hasil (pemecahan masalah) yang valid dan reliable. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap subyek penelitian.

  1. 1. Pengamatan atau observasi nonpartisipan

Penelitian ini menggunaan metode pengamatan atau observasi nonpartisipan. Menurut Nawawi (1991: 100) observasi bias diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang nampak pada obyek penelitian. Nawawi (1991: 104) mengungkapkan bahwa observasi nonpartisipan yaitu observer tidak ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat. Peneliti dalam penelitian ini tidak dapat bertindak untuk mengendalikan jalannya situasi tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah.

Penggunaan metode ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan, ruang peralatan, para pelaku dan juga aktivitas sosial yang sedang berlangsung dan yang berhubungan dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah yaitu karakteristik manajemen berbasis sekolah, tahaptahap Implementasi manajemen berbasis sekolah, fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah, peran kepala sekolah dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah dan peran guru dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA ini yang tidak bisa terungkap dalam metode wawancara.

  1. 2. Wawancara

Moleong (2002: 135) mengungkapkan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh 2 pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yaitu pihak yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Teknik wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada kepala sekolah dan guru untuk mengungkap seputar Implementasi manajemen berbasis sekolah meliputi karakteristik manajemen berbasis sekolah, tahap-tahap Implementasi manajemen berbasis sekolah, fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah, tugas kepala sekolah dan peran guru dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah.. Teknik ini juga untuk mengkonfirmasikan tentang data yang diperoleh dari obsevasi.

  1. 3. Dokumentasi

Moleong mengungkapakan bahwa dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film lain dari rekaman yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan dari seorang penyelidik. Dalam penelitian ini teknik dokumentasi berfungsi sebagai pelengkap data yang digunakan untuk memperoleh data berupa dokumen-dokumen berupa format strategi implementasi dan perangkat Implementasi manajemen berbasis sekolah.

K. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode non statistik yaitu analisis data deskriptif artinya dari data yang diperoleh melalui penelitian tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah dilaporkan apa adanya kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai fakta yang ada.

Hal ini dilakukan karena penelitian ini tidak mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Menurut Nasution (1996 : 129) analisis data yang dianjurkan ialah mengikuti langkah-langkah yang masih bersifat umum yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian atau display data dan (3) pengambilan kesimpulan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. 1. Reduksi data

Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian atau laporan yang terinci. Laporan ini akan terus menerus bertambah dan akan menambah kesulitan bila tidak segera dianalisis sejak mulanya. Laporan itu perlu direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema atau polanya. Jadi laporan lapangan sebagai bahan yang disingkatkan, direduksi dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan. Reduksi data dapat pula membantu dalam memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, penyederhanaan dan transformasi data kasar yang diperoleh dari catatan lapangan. Reduksi data berlangsung terus-menerus selama proses penelitian berlangsung. Peneliti melaksanakan pemilihan data yang diperoleh dari wawancara, pengamatan dan pengumpulan dokumendokumen yang relevan tersebut.

  1. 2. Penyajian Data

Penyajian data merupakan penyusunan sekumpulan informasi dari reduksi data yang kemudian disajikan dalam laporan yang sistematis dan mudah dipahami.

  1. 3. Pengambilan Kesimpulan

Pada tahap ini peneliti mengambil kesimpulan terhadap data yang telah direduksi ke dalam laporan secara sistematis dengan cara membandingkan, menghubungkan, dan memilih data yang mengarah pada pemecahan masalah serta mampu menjawab permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai.

L. Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 10 bulan dengan jadwal kegiatan tampak pada tabel berikut

Tabel 1

No Agenda kegiatan Tahun 2010

Bulan Implementasi

Mar Apr Mai Jun Jul Ags Sep Nov Des Jan
1. Observasi awal X X X X
2. Penyusunan proposal X X X X
3. Seminar proposal X
4. Perbaikan proposal X X
5. Persiapan Bab II X
6. Pengumpulan data X
7. Pengolahan data X X
8. Analisis data X
9. Sidang tesis X
10. Revisi /cetak hasil  penelitian X X

  1. M. Instrumen Penelitian

Moleong (2002: 19) mengungkapkan bahwa instrumen penelitian adalah alat pengumpul data dalam penelitian. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan instrumen berupa lembar observasi, pedoman wawancara dan dokumen untuk mengumpulkan data.

Instrumen penelitian adalah (1) peneliti sendiri (2) melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik dalam proses penelitian; (3) menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan nilai kepercayaan akan kebenaran data yang diperoleh, (4) member check, pengecekan terhadap hasil-hasil yang diperoleh guna perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dalam memberikan data yang dibutuhkan peneliti.

  1. ANALISIS RAPBS DAN SOLUSI UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN ADALAH:

Setiap sekolah dalam merancang dan melaksanakan program harus dituangkan dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS), yang dalam penyusunan dan pelaksanaannya harus menerapkan prinsip akuntabilitas, transparansi dan melibatkan partisipasi setiap warga sekolah khususnya guru-guru, yang pada akhirnya ikut bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisasi pengaruh akuntabilitas, transparansi dan partisipasi alam penyusunan RAPBS terhadap kualitas pelayanan sekolah . Dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntabilitas dalam penyusunan RAPBS berpengaruh positif, langsung, dan signifikan terhadap partisipasi guru-guru dalam penyusunan RAPBS, begitu juga partisipasi guru-guru terhadap transparansi, dan partisipasi guru-guru terhadap kualitas pelayanan sekolah, serta transparansi penyusunan RAPBS terhadap kualitas pelayanan sekolah, serta transparansi penyusunan RAPBS terhadap kualias pelayanan sekolah mempunyai hubungan kausalitas. Sedangkan [engaruh tidak langsung ditunjukan oleh variabel akuntabilitas terhadap partisipasi dan partisipasi terhadap kualitas pelayanan sekolah.

Banyak sekolah yang menginginkan agar mutu pendidikan bisa lebih meningkat. Namun tak sedikit orangtua siswa yang mengeluh karena harus dibebani berbagai iuran tak wajib yang memberatkan peserta didik. Agar tidak lagi ditemui permasalahan tersebut, Dinas Pendidikan mengingatkan agar dalam penyusunan rancangan anggaran pendapatan belanja sekolah (RAPBS)  lebih berdasarkan kebutuhan bukan keinginan sekolah. Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) harus berdasarkan pada rencana pengembangan sekolah dan merupakan bagian dari rencana operasional tahunan. RAPBS meliputi penganggaran untuk kegiatan pengajaran, materi kelas, pengembangan profesi guru, renovasi bangunan sekolah, pemeliharaan, buku, meja dan kursi.

  1. A. Prinsip Penyusunan RAPBS

RAPBS harus benar-benar difokuskan pada peningkatan pembelajaran murid secara jujur, bertanggung jawab, dan transparan.

RAPBS harus ditulis dalam bahasa yang sederhana dan jelas, dan dipajang di tempat terbuka di sekolah.

Dalam menyusun RAPBS, sekolah sebaiknya secara saksama memprioritaskan pembelanjaan dana sejalan dengan rencana pengembangan sekolah.

  1. B. Proses Penyusunan RAPBS

Langkah berikut biasa dipertimbangkan dalam menyusun sebuah RAPBS:

  • menggunakan tujuan jangka menengah dan tujuan jangka pendek yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah,
  • menghimpun, merangkum, dan mengelompokkan isu-isu dan masalah utama ke dalam berbagai bidang yang luas cakupannya,
  • menyelesaikan analisis kebutuhan,
  • memprioritaskan  kebutuhan,
  • mengonsultasikan rencana aksi yang ditunjukkan/dipaparkan dalam rencana pengembangan sekolah,
  • mengidentifikasi dan memperhitungkan seluruh sumber pemasukan,
  • menggambarkan rincian (waktu, biaya, orang yang bertanggung jawab, pelaporan, dsb.), dan
  • mengawasi serta memantau kegiatan dari tahap perencanaan menuju tahap penerapan hingga evaluasi.
  1. C. Pengelolaan Anggaran Sekolah

Pengelola anggaran sekolah biasanya adalah kepala sekolah, tetapi bisa juga guru berpengalaman (senior) atau anggota komite sekolah. Di sekolah-sekolah yang lebih besar, mungkin ada pihak lain yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sebagian anggaran.Secara khusus, pengendalian anggaran terdiri dari serangkaian kegiatan pemeriksaan dan persetujuan untuk memastikan bahwa:

  • dana dibelanjakan sesuai rencana,
  • ada kelonggaran dalam penganggaran untuk pembayaran pajak,
  • pembelanjaan dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan
  • dana tidak dihabiskan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak disetujui atau diberikan kepada pihak penerima tanpa persetujuan.

Hasil analisis kebutuhan secara logis diklasifikasikan ke dalam kelompok staf, materi kurikulum, barang, jasa, pemeliharaan bangunan, dsb.Pengelola anggaran sekolah diharapkan membelanjakan uang sesuai alokasi dana yang direncanakan. Setiap perubahan anggaran harus disetujui oleh komite sekolah bila memang harus ada perubahan dalam tahun berjalan.Pengendalian Anggaran

Pengendalian anggaran dilakukan untuk memastikan adanya:

  • pengelolaan dana yang jujur,
  • penyesuaian antara pengeluaran dengan tujuan jangka menengah sekolah, tujuan jangka pendek sekolah, dan rencana-rencana lainnya,
  • transparansi, dan
  • upaya menghindari pembelanjaan berlebih.

Kegiatan pengendalian anggaran meliputi rencana penerapan anggaran, catatan transaksi pemasukan dan pengeluaran (pembukuan), serta pelaporan yang transparan dan akurat (akuntabilitas).

  1. D. Aturan Umum dalam Pembukuan

Setiap transaksi harus didukung dengan bukti yang sah (kuitansi). Semua transaksi dicatat sesuai urutan waktu (kronologis).Setiap halaman buku kas umum harus dilengkapi kepala surat/kop, kolom catatan, nomor halaman, dan nama bulan.Setiap sisi halaman harus diparaf oleh kepala sekolah dan bendahara komite sekolah.Pada akhir setiap bulan, buku kas umum ditutup dengan membandingkan saldo yang tercatat pada buku kas dan saldo di rekening bank.

2.  SPESIFIKASI ANGGARAN DAN LANGKAH-LANGKAH DALAM PENYEDIAN BIAYA PENDIDIKAN ADALAH:

Sumber Dana Pendidikan

Lembaga pendidikan dalam melaksanakan tugasnya menerima dana dari berbagai sumber. Penerimaan dari berbagai sumber tersebut perlu dikelola dengan baik dan benar. Banyak pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan penerimaan keuangan pendidikan, namun dalam pelaksanaannya pendekatan-pendekatan tersebut memiliki berbagai persamaan. Sumber-sumber dana pendidikan antara lain meliputi: Anggaran rutin (DIK); Anggaran pembangunan (DIP); Dana Penunjang Pendidikan (DPP); Dana BP3; Donatur; dan lain-lain yang dianggap sah oleh semua pihak yang terkait. Pendanaan pendidikan pada dasarnya bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun 1989).

Langkah yang ditempuh untuk penyediaan biaya pendidikan adalah:

Partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan sekolah sudah menjadi hal yang umum dibicarakan, baik di negara maju maupun negara berkembang.  Dalam teori pengembangan sekolah di era desentralisasi, ada tiga segitiga stakeholder yang harus dibangun, yaitu kerjasama sekolah, orang tua dan masyarakat.

Partisipasi masyarakat seakan menjadi kata kunci untuk memecahkan masalah di sekolah. Pemerintah di negara manapun, dengan dalih mengembalikan lembaga sekolah kepada pemilik utamanya yaitu masyarakat, menggembar-gemborkan ide ini.  Tapi sebenarnya ada sebuah misi utama dibalik propaganda ini, yaitu meringankan beban keuangan pemerintah dengan mengajak masyarakat untuk menyediakan dana lebih dalam pengembangan sekolah.

Misi ini di beberapa kasus menunjukkan keberhasilannya, tapi ketika situasi ekonomi pun mencekik rakyat, maka kebijakan melibatkan masyarakat dalam pengembangan sekolah yang bermakna `pendanaan` kelihatannya kurang bijak.

Amerika dan beberapa negara pengusung konsep SBM (School Based Management) yang menjadi titik awal keterlibatan masyarakat di sekolah, tegas menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dan masyarakat adalah dalam bentuk pengembangan finansial, kurikulum dan personalia.  Dalam hal ini masyarakat menjadi penentu keberhasilan sekolah, demikian pula masa depan guru dan tenaga administrator sekolah.

Saat ini, kegiatan pendidikan sumber pendanaannya diambil dari APBN dan APBD. Jika dari dua sumber itu masih kurang maka akan dicarikan solusi. Bisa saja dengan melibatkan peran serta masyarakat, komite, para alumni, dunia usaha, dan sebagainya. “Tentu partisipasi tersebut harus disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,”

Prinsipnya adalah, RAPBS harus disusun berdasarkan analisis kebutuhan bukan keinginan. Kemudian harus melalui azas musyawarah mufakat. Selain itu harus ada subsidi silang dan dicarikan solusi bagi peserta didik yang tidak mampu. Yang tak kalah pentingnya adalah, sekolah dilarang mengeluarkan siswa hanya karena faktor keuangan atau yang bersangkutan dari keluarga tidak mampu.

Terkait hal tersebut, sejatinya pihak sekolah  boleh meminta dukungan materi dari para orangtua murid. Akan tetapi sifatnya tidak memaksa. Ini untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan dan subsidi bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mengenai besar kecilnya, tergantung dari kebutuhan sekolah masing-masing. Karena sekolah diberi kewenangan untuk menyusun RAPBS sesuai dengan manajemen yang berbasis sekolah.

Pihaknya berharap, karena saat ini perhatian pemerintah sudah semakin baik, maka hendaknya iuran bagi peserta didik baru (IPDB) seyogyanya semakin mengecil. Tentunya dengan tetap memperhatikan kualitas pelayanan pendidikan. Sebagai contoh, saat ini guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi, harusnya diimbangi dengan peningkatan profesionalitas dalam mengajar. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas perhatian pemerintah terhadap kesra guru.

Selain membahas program sekolah, juga akan disinggung mengenai bantuan bagi siswa tak mampu. Saat ini, Sudin Dikmen  menyiapkan subsidi bagi siswa yang tak mampu dalam bentuk beasiswa. Jumlah murid yang menerima beasiswa ditargetkan meningkat menjadi 20 persen dari sebelumnya 15 persen dari keseluruhan siswa di Kabupaten.
3. CONTOH DARI BALANCE SCORECARD ADALAH:

Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan perubahan besar luar biasa dalam persaingan, produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, dan penanganan transaksi antara perusahaan dengan pelanggan dan perusahaan dengan perusahaan lain. Persaingan yang bersifat global dan tajam menyebabkan terjadinya penciutan laba yang diperoleh perusahaan-perusahaan yang memasuki persaingan tingkat dunia. Hanya perusahaan-perusahaan yang memiliki keunggulan pada tingkat dunia yang mampu memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen, mampu menghasilkan produk yang bermutu, dan cost effevtive (Mulyadi, 1997).

Perubahan-perubahan tersebut mendorong perusahaan untuk mempersiapkan dirinya agar bisa diterima di lingkungan global. Keadaan ini memaksa manajemen untuk berupaya menyiapkan, menyempurnakan ataupun mencari strategi-strategi baru yang menjadikan perusahaan mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan tingkat dunia. Oleh karena itu perusahaan dalam hal ini manajemen harus mengkaji ulang prinsip-prinsip yang selama ini digunakan agar dapat bertahan dan bertumbuh dalam persaingan yang semakin ketat untuk dapat menghasilkan produk dan jasa bagi masyarakat.

Kunci persaingan dalam pasar global adalah kualitas total yang mancakup penekanan-penekanan pada kualitas produk, kualitas biaya atau harga, kualitas pelayanan, kualitas penyerahan tepat waktu, kualitas estetika dan bentuk-bentuk kualitas lain yang terus berkembang guna memberikan kepuasan terus menerus kepada pelanggan agar tercipta pelanggan yang loyal (Hansen dan Mowen, 1999). Sehingga meningkatnya persaingan bisnis memacu manajemen untuk lebih memperhatikan sedikitnya dua hal penting yaitu “keunggulan” dan “nilai”.

Penilaian atau pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam perusahaan. Selain digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan, pengukuran kinerja juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan sistem imbalan dalam perusaan, misalnya untuk menentukan tingkat gaji karyawan maupun reward yang layak. Pihak manajemen juga dapat menggunakan pengukuran kinerja perusahaan sebagai alat untuk mengevaluasi pada periode yang lalu.

Pemakaian penilaian kinerja tradisional yaitu ROI, Profit Margin dan Rasio Operasi sebetulnya belum cukup mewakili untuk menyimpulkan apakah kinerja yang dimiliki oleh suatu perusahaan sudah baik atau belum. Hal ini disebabkan karena ROI, Profit Marjin dan Rasio Operasi hanya menggambarkan pengukuran efektivitas penggunaan aktiva serta laba dalam mendukung penjualan selama periode tgertentu. Ukuran-ukuran keuangan tidak memberikan gambaran yang riil mengenai keadaan perusahaan karena tidak memperhatikan hal-hal lain di luar sisi finansial misalnmya sisi pelanggan yang merupakan fokus penting bagi perusahaan dan karyawan, padahal dua hal tersebut merupakan roda penggerak bagi kegiatan perusahaan (Kaplan dan Norton, 1996).

Dalam akuntansi manajemen dikenal alat analisis yang bertujuan untuk menunjang proses manajemen yang disebut dengan Balanced Scorecard yang dikembangkan oleh Norton pada tahun 1990. Balanced Scorecard merupakan suatu ukuran yang cukup komprehensif dalam mewujudkan kinerja, yang mana keberhasilan keuangan yang dicapai perusahaan bersifat jangka panjang (Mulyadi dan Johny Setyawan, 1999). Balanced Scorecard tidak hanya sekedar alat pengukur kinerja perusahaan tetapi merupakan suatu bentuk transformasi strategik secara total kepada seluruh tingkatan dalam organisasi. Dengan pengukuran kinerja yang komprehensif tidak hanya merupakan ukuran-ukuran keuangan tetapi penggabungan ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan maka perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan lebih baik.

PENILAIAN KINERJA DAN BALANCED SCORECARD

Kinerja adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki (Helfert, 1996).

Kinerja merupakan suatu istilah secara umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang diproyeksikan, dengan dasar efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya.

Adapun kinerja menurut Mulyadi adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Tujuan utama dari penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personal dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memenuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi (Mulyadi dan Johny setyawan, 1999).

Penilaaian kinerja dapat digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semstinya dan untuk merangsang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan, melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta pemberian penghargaan, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.

Dengan adanya penilaian kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang obyektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggungjawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat membentuk motivasi dan rangsangan pada masing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien.

Menurut Mulyadi penilaian kinerja dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk:

  • Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.
  • Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawannya seperti promosi, pemberhentian, mutasi.
  • Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
  • Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengeai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka.
  • Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.

Balanced scorecard dapat digunakan sebagai alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang lebih komprehensif dan tidak hanya bertumpu pada pengukuran atas dasar perspektif keuangan saja. Hal ini terbukti dengan adanya manfaat-manfaat yang dirasakan oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkannya.



DIMENSI ECONOMIC AND FINANCE

DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKA

A. Pendekatan Sistem

Di dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar dan mengucapkan kata “sistem”. Kurikulum TK sampai SLTA sesuai SK Menteri P dan K No. 08/U/1975 pun menggunakan pendekatan sistem yang dikenal dengan nama PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).Kata “sistem” sering agak keliru diartikan. Misalnya ada yang menganggap “sistem” sama dengan”cara”. Pada hal “sistem” bukanlah berarti “cara”.Konsep untuk memahami arti “sistem”, terlebih danulu perlu dipahami beberapa istilah yang bersangkut erat dengan “sistem” sebagai berikut: Sistem: Suatu gabungan dari komponen-komponen yang terorganisir seba¬gai suatu kesatuan, dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Contoh: sebuah “sekolah” (yang menjadi titik perhatian kita) adalah suatu “sistem”. Sekolah terdiri atas murid, guru, kurikulum, gedung, kese¬muanya bertali-erat satu sama lain untuk mencapai tujuan.”instruksional” atau kelembagaan.

Definisi Sistem

Sesuai dengan pengertian di atas, suatu “sistem” adalah merupakan jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerja bersama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasar atas kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap “sistem” pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari komponen-komponen adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tu¬juan tersebut. .Contoh: Pemerintah, Sekolah, Pendidikan. Unsur-unsur suatu sistem: (1) Input (masukan) misalnya: sumber, biaya, personel dan (2) Output (keluaran) misalnya: hasil, produk, atau keuntungan.

Supra Sistem: Suatu sistem yang kompleks yang mencakup lebih dari satu sistem sebagai komponennya. Sub Sistem: Suatu kesatuan atau kumpulan kesatuan yang merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar yang bisa dibedakan dengan maksud untuk keperluan observasi atau mempelajarinya. Sistem Terbuka: Suatu sistem yang dapat menerima input misalnya berupa informasi dari luar sistem tersebut.

Sistem Tertutup: Suatu sistem yang tertutup untuk menerima input informasi yang datang dari luar. Feedback (Umpan balik): Informasi yang diperoleh dari hasil pelaksanaan sebelumnya yang berguna untuk perbaikan. Informasi ini berlangsung terus-menerus se¬panjang proses berjalan. Hierarch : Sekelompok orang, barang atau kegiatan yang diatur secara ber¬tingkat, grup atau kelas. Output (Keluaran): Hasil konversi dari proses suatu sistem yang dihitung sebagai hasil, produk atau keuntungan.

Proses: Penerapan suatu cara dan sarana untuk mencapai suatu hasil atau produk.Produk: Hasil atau produk akhir.Systems Approach (Pendekatan Sistem): Suatu proses yang dengannya kebutuhan diidentifikasi, problem dipilih, syarat-syarat pemecahan problem diidentifikasi, pemecahan dipilih dari beberapa alternatif, metode dan alat dicari dan diterapkan, hasil dievaluasi, dan revisi yang diperlukan terhadap seluruh bagian dari sistem tersebut dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga kebutuham ter¬ebut dapat tercapai. Dengan memahami arti istilah-istilah tersebut di atas, maka penger¬tian sistem secara lebih mendalam dapat dicapai misalnya tentang defi¬nisi, unsur, sifat, tingkat, dan kegunaannya dalam penyusunan planning.

B. Model Budget Untuk Pembiayaan Pendidikan

Sebagai manusia, kita semua menyadari, bahwa ada hal-hal yang kita tak mampu untuk mengontrolnya. Namun kita pun menyadari, banyak juga hal-hal yang kita mampu untuk mengontrolnya. Dalam hal ini pendekatan sistem (systems approach) memberikan kepada kita suatu alat untuk menganalisis, untuk mengidentifikasi, dan memecahkan masalah sesuai dengan yang kita inginkan, dengan menggunakan perencanaan yang sistematis; Suatu perencanaan yang sistematik mempunyai daya ramal dan kon¬trol yang baik. Proses ini dapat berjalan baik karena kita; Merumuskan secara spesifik dan nyata akan kebutuhan (need assissment); Menggunakan logika, proses setapak demi setapak, untuk menuju perobahan yang diharapkan; Memperhatikan macam-macam pendekatan dan memilih yang lebih sesuai dengan situasi dan kondisi; Menetapkan mekanisme “feedback” yang memberitahukan kemajuan kita, identifikasi hambatan-hambatan dan menunjuk¬ kan perubahan-perubahan yang diperlukan; dan Menggunakan istilah dan langkah yang jelas , mudah dikomunikasikan dan dipahami orang lain. Meskipun banyak keuntungannya, planning tersebut pun mempunyai kelemahan antara lain Menghabiskan waktu, tenaga dan biaya; Keadaan bisa berubah disaat proses sedang berjalan.

Model-Model Perencanaan Secara Sistematis

Suatu perencanaan secara sistematis pada hakekatnya sama dengan proses pemecahan masalah secara umum (ageneral problem-solving process).Sebuah model menurut Kaufman (1979) adalah sebagai berikut: Diagram 1. Model Perencanaan menurut Kaufman. Sesuai dengan model tersebut, langkah-langkah suatu perencanaan yang sistematis adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi masalah berdasarkan kebutuhan.
  2. Tentukan syarat-syarat dan altematif pemecahannya.
  3. Pilih strategi pemecahannya.
  4. Laksanakan strategi yang telah dipilih untuk mencapai hasil yang diharapkan.
  5. Tentukan efektifitas hasilnya dengan jalan mengadakan evaluasi.
  6. Adakan revisi bila perlu pada setiap langkah dari proses tersebut. C.Line Item

Ciri lain anggaran tradisional adalah struktur anggaran bersifat line-item yang didasarkan atas dasar sifat (nature) dari penerimaan dan pengeluaran. Metode line-item budget tidak memungkinkan untuk menghilangkan item-item penerimaan atau pengeluaranyang telah ada dalam struktur anggaran, walaupun sebenarnya secara riil item tertentu sudah tidak relevan lagi untuk digunakan pada periode sekarang. Karena sifatnyayang demikian, penggunaan anggaran tradisional tidak memungkinkan untuk dilakukan penilaian kinerja secara akurat, karena satu-satunya tolok ukuryang dapat digunakan adalah semata-mata pada ketaatan dalam menggunakan dana yang diusulkan.

Penyusunan anggaran dengan menggunakan struktur line-item dilandasi alasan adanya orientasi sistem anggaran yang dimaksudkan untuk mengontrol pengeluaran. Berdasarkan hal tersebut, anggaran tradisional disusun atas dasar sifat penerimaan dan pengeluaran, seperti misalnya pendapatandari pemerintah atasan, pendapatan dari pajak, atau pengeluaran untuk gaji, pengeluaran untuk belanja barang, dan sebagainya, bukan berdasar pada tujuan yang ingin dicapai dengan pengeluaran yang dilakukan

D. Strategi Pembiayaan pendidikan Dan Pemborosan Anggaran

Dengan pelaksanaan APBA/APBK tersebut. Selama ini, proses penyusunan, pembahasan sampai pada penetapan APBA/ APBK dan LKPJ, umumnya perhatian lebih terfokus pada besarnya anggaran. Padahal sejak diberlakukannya Kepmendagri No. 29 tahun 2002 yang sudah diganti dengan Permendagri No 13 tahun 2006 dan diubah lagi dengan Permendagri No 59 Tahun 2007, yang mengatur tentangpedoman pengelolaan keuangan daerah, sistem yang dianut dalam APBD adalah anggaran yang berbasis kinerja. Artinya penyusunan, pembahasan, penetapan sampai pengawasan pelaksanaan anggaran tidak cukup dengan hanya melihat besar kecilnya anggaran yang merupakan masukan, tapi juga harus memperhatikan kinerja anggaran tersebut yang meliputi capaian kinerja, keluaran, hasil danmanfaat serta tepat tidaknya kelompok sasaran kegiatan yang dibiayai anggaran tadi. Kesenjangan dalam dataran peraturan dan pelaksanaan ini harus menjadi pendorong bagi optimalisasi fungsi DPRD agar semakin memainkan peran penting dalam menjadikan APBD yang senantiasa berpihak kepada kepentingan rakyat. Penyusunan anggaran Dalam PP No 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah dijelaskan bahwa penerapan anggaran berbasis kinerja mengandung makna setiap penyelenggara Negara berkewajiban untuk bertanggung jawab atas hasil proses dan penggunaan sumber dayanya, agar setiap program dan kegiatan pemerintahan yang didanai dengan dana publik dapat dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Dengan pemahaman seperti itu maka penerapan anggaran berbasis kinerja harus diawali sejak dimulainya penyusunan anggaran. Untuk itu, beberapa prinsip dasar dalam penyusunan anggaran perlu diperhatikan. Pertama, transparan, setiap dokumen Pelaksanaan Penganggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (DPA-SKPD)- sebagai bagian dari APBA/APBK- hendaknya Evaluasi Anggaran Berbasis Kinerja Oleh: dapat memberikan informasi yang jelas tentang kelompok sasaran, capaian kinerja, masukan, keluaran, hasil dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Dengan transparansi itu, akan membuat semua pihak bisa memberikan penilaian secara terbuka baik terhadap program dan kegiatan maupun pengalokasian anggarannya. Kedua, partisipatif, harus dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua lapisan masyarakat untuk bisa berpartisipasi dalam setiap proses penganggaran demi menjamin adanya kesesuaian antar kebutuhan dan aspirasi masyarakat dengan peruntukan anggaran. Prinsip partisipatif ini sekaligus juga untuk mencegah dan menemukan sedini mungkin praktek korupsi dalam proses penganggaran. Namun, bila hanya sekelompok kecil masyarakat yang memanfaatkan peluang ini tidak tertutup kemungkinan juga akan melahirkan praktek “korupsi berjama’ah”. Karena itu, keterbukaan kesempatan ini perlu dibarengi dengan memberikan motivasi berpartisipasi kepada semua lapisan masyarakat, untuk menghindari dominasi kelompok masyarakat tertentu dalam proses anggaran. Ketiga, disiplin, penyusunan anggaran harus menunjukkan disiplin anggaran dengan klasifikasi yang jelas dari setiap komponen kegiatan. Termasuk juga dalam prinsip ini adalah disiplin waktu.

APBD akan berdampak besar terhadap geliat ekonomi masyarakat, terutama sektor riil dan sektor konsumsi sebab APBD merupakan salah satu stimulus penting bagi bangkitnya perekonomian rakyat. APBD molor berarti akan banyak proyek insfrastruktur yang terbengkalai karena dana tidak cair, tunjangan pegawai negeri dan pembayaran gaji guru honor dan gaji pegawai honorer lainnya juga bakal tak terbayar karena menunggu pengesahan APBA. Keempat, keadilan, pengalokasian anggaran melalui perencanaan kegiatan harus adil dan bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.. Kelima, efesiensi dan efektifitas, setiap kegiatan yang direncanakan harus mempertimbangkan efektifitas dalam pencapaian kinerjanya dan efisien dalam pengalokasian anggarannya. Keenam, rasional dan terukur, capaian kinerja dan anggaran yang dialokasikan dalam setiap kegiatan harus rasional dan terukur. Apabila keenam prinsip dasar penyusunan anggaran ini sudah bisa dilaksanakan maka pada tahap pelaksanaan anggarannya relative akan lebih mudah dilakukan pengawasan.

Kedua, evaluasi terhadap ketentuan peraturan dan prosedur yang ditetapkan dalam pelaksanaan APBD, misalnya proses pengadaanbarang/jasa, proses pemilihanpenyedia barang/jasa, proses penetapan standar harga barang/jasa dan lain-lain. Apakah ketentuanketentuan tersebut sudah sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi atau justru malah bertentangan. Ketidaksesuaian tersebut merupakan suatu penyimpangan yang berpotensi melahirkan tindak pidana korupsi, minimal akan membuat realisasi anggaran tidak tepat sasaran. Ketiga, evaluasi terhadap tolok ukur, baik dalam skala makro maupun mikro. Tolok ukur dalam skala makro berkaitan dengan rasionalisasi indikator-indikator dari sektorsektor yang dijadikan prioritas pembangunan. Tolok ukur dalam skala mikro berkaitan dengan rasionalisasi indikator-indikator dari suatukegiatan (proyek). Ketiga langkah pengawasan tersebut jika dilaksanakan dengan serius niscaya akan mampu meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Sehingga istilah anggaran berbasis kinerja tidak berhenti sebatas peraturan tetapi juga terealisasi dalam pelaksanaan.

Metode Untuk Memperoleh Dana Pendidikan

  1. 1. Penyelenggaraan Otonomi Pendidikan Dan MBS

Pemerintah telah menetapkan kebijakan otonomi pendidikan, sebagaimana mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan yang menyebutkan: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.

Berdasarkan pasal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab negara melainkan diserahkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri. Dalam penjelasan pasal 3 ayat 2 RUU Badan Hukum Pendidikan disebutkan bahwa Kemandirian dalam penyelengaraan pendidikan merupakan kondisi yang ingin dicapai melalui pendirian BHP, dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi pada pendidikan tinggi. Hanya dengan kemandirian, pendidikan dapat menumbuhkembangkan kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitasnya.

Artinya pemerintah menilai bahwa selama ini terhambatnya kemajuan pendidikan indonesia diantaranya karena pengelolaan pendidikan yang sentralistis, sehingga perlunya kebijakan desentralisasi kewenangan (MBS dan otonomi pendidikan) untuk memajukan pendidikan indonesia.

Kenyataannya, kebijakan tersebut menuai berbagai sikap kontra dari masyarakat karena dinilai sarat dengan tekanan pihak asing (negara donor) yang menghendaki privatisasi lembaga –lembaga yang dikelola negara termasuk lembaga pendidikan, sehingga negara pun akan lepas tangan dari tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan secara penuh. Sebagaimana diungkapkan oleh komisi hukum nasional (KHN) bahwa dalam RUU BHP versi yang baru, semua bentuk pendidikan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah daerah atau pemerintah harus berbentuk badan hukum yang sama yaitu badan hukum pendidikan. Oleh karenanya, jika RUU BHP disahkan – maka peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peraturan pemerintah tentang BHMN tidak akan berlaku lagi. Perubahan yang terjadi antara konsep RUU lama dan yang baru, dapat diamati dari bunyi pasal 1 ayat 7 (versi lama), yang mengatur bahwa ”Penyelenggara adalah satuan pendidikan berstatus Badan Hukum Pendidikan (BHP)” dan “Semua satuan pendidikan tinggi harus berstatus Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) (Pasal 2 ayat (1)”. Selain itu, disebutkan juga bahwa “Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat berstatus Badan Hukum Pendidikan Dasar Menengah (BHPDM)”.

Yang menjadi persoalan, apakah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) merupakan jawaban yang tepat bagi pengembangan pendidikan tinggi kedepan? Bagaimana RUU ini meletakkan peran pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi serta bagaimana mengkonstruksi hubungan antara penyelenggara pendidikan (yayasan, perkumpulan, badan wakaf, pemerintah, dll) dengan satuan pendidikan? Apakah RUU BHP memberikan jaminan bagi terwujudnya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global ? Selain itu kebijakan otonomi pendidikan sendiri merupakan hal belum tentu dapat meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bila makna otonomi itu sendiri ternyata bentuk lepas tangan pemerintah dengan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan secara lebih besar porsinya kepada masyarakat. Padahal hakikatnya penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara/ pemerintah sebagai pihak yang diamanahi rakyat untuk mengatur urusan mereka dengan sebaik mungkin.

  1. 2. Mengoptimal Kemitraan Dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri

Berkaitan dengan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan : (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. (3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Hal yang justru memunculkan kerawanan saat ini adalah dengan adanya RUU BHP maka peranan pihak swasta (pengusaha) mendapatkan akses yang lebih luas untuk mengelola pendidikan, sehingga bagaimana jadinya kalau kemitraan dengan DU/DI tersebut ternyata menempatkan pengusaha ataupun perusahaan sebagai pihak yang berinvestasi dalam lembaga pendidikan dengan menuntut adanya return yang sepadan dari investasinya tersebut? Kondisi ini pada akhirnya akan memperkokoh keberlangsungan kapitalisasi pendidikan.

Hambatan Implementasi  :

Indikator peran serta tokoh masyarakat dan dunia usaha masih kurang. Temuan ini sejalan dengan temuan pada indikator pembiayaan di mana kebanyakan pembiayaan pendidikan, di luar sumber pemerintah, masih berasal dari orangtua siswa. Menurut sebagian responden gejala rendahnya peranserta tokoh masyarakat dan dunia usaha disebabkan rendahnya kepedulian mereka terhadap pendidikan. Dengan dasar itu, perlu dikembangkan strategi untuk melibatkan tokoh masyarakat dan dunia usaha dalam kehidupan sekolah.

Sekolah cukup mengeluhkan minimnya dana yang bersumber dari BP3/Komite Sekolah. Apalagi menurut sebagian responden, dana BP3/Komite Sekolah pada umumnnya baru bersumber dan orangtua anak yang bersekolah,             Sedangkan dari masyarakat luas masih sangat terbatas. Kondisi ini memang sangat disayangkan karena salah satu tujuan penerapan manajemen berbasis sekolah adalah agar masyarakat dalam anti luas bertanggung jawab atas maju mundurnya sekolah di lingkungannya, ini berarti diperlukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya partisipasi mereka dalam pembiayaan pendidikan. Karena tanpa ada perubahan seperti itu, maka pembentukan komite sekolah pada dasarnya hanyalah pergantian nama dari BP3.

E. Defisit finance

Dalam membahas sumber daya economic dan finansial dalam sebuah lembaga pendidikan, sebagai contoh sekolah, ada tiga aspek yang menurut WG Cunningham perlu diperhatikan yaitu perencanaan strategis, perencanaan pengeluaran, dan perencanaan pendapatan. Perencanaan strategis terbentuk seiring dengan berlangsungnya proses administrasi dan harus jelas sebelum memulai proses penyusunan anggaran. Perencanaan pengeluaran dan pendapatan dalam proses perencanaan akan menyediakan input dalam perencanaan operasional. Namun ketika anggaran tidak dapat mendukung apa yang sudah disusun dalam perencanaan strategis maka hubungan antara keduanya tidak akan dapat berkembang dan bisa melemahkan proses perencanaan. Sementara anggaran berperan sebagai perpaduan harapan dari seluruh program yang telah direncanakan oleh sekolah. Sistem anggaran sekolah mengatur estimasi pendapatan dan pengeluaran sekolah yang yang cukup penting, sehingga harus memperhitungkan sumber-sumber yang sesuai agar mendapatkan keuntungan sistem yang maksimal.

Perencanaan strategis memuat bangunan sistem dalam sebuah sekolah dengan tujuan tertentu dimasa yang akan datang yaitu yang berkaitan dengan visi, target, tujuan strategis dan kebijakan. Perencanaan strategis mempersiapkan koordinasi dan tujuan operasional, tetapi hanya dalam proses penentuan anggaran pada saat awal dan akhir. Selama dalam proses ini anggaran akan sangat ditentukan oleh perencanaan strategis baik dari segi kualitas maupun kuantitas sedangkan perencanaan operasional lebih banyak ditentukan oleh keputusan yang diambil selama dalam proses perencanaan. Morphet, Jhon dan Ruller mengatakan suatu program pendidikan harus dipersiapkan dengan sejumlah estimasi dana tertentu sebagai antisipasi akan penggunaan dan yang berlebih dan hal tersebut seharusnya dipersiapkan sebelum menentukan jumlah biaya yang harus digunakan agar mendapatkan pencapaian hasil yang terbaik.

Perencanaan strategis dan penganggaran merupakan petunjuk sistem yang didasari oleh rencan operasional sedangkan usaha yang sia-sia dan staff yang kurang mampu bisa berkembang jika perencanaan operasional sesuai dengan sumber dayanya. Tentunya dengan komitmen serta adanya tujuan perencanaan strategis yang proporsional. Dalam bidang pendidikan vokasi yang dihadapkan dengan supervisor yang memberikan tugas (bagaimanapun cara pengerjaannya) agar dalam sekolah yang mereka pimpin dapat mencapai target yang disepakati dalam jangka 5 tahun kedepan. Sementara itu, para pimpinan sekolah dan supervisor memiliki rancangan perencanaan mentah pada masing-masing program yang harus disepakati bersama. Namun setelah pimpinan sekolah mengadakan sekian banyak kegiatan ternyata apa-apa yang tercantum dalam perencanaan strategis tidak didanai selama 2 tahun. Padahal seluruh program yang dibangun oleh mereka sudah diinformasikan dan ditawarkan pada masyarakat. Maka ketika proyek tersebut tidak berjalan dan hanya membuang waktu maka kepercayaan pada proses perencanaan itu hilang. Dari salah satu kasus tersebut, dan tentunya masih banyak kasus lainnya, WG Cunningham berpendapat bahwa sumber daya ekonomi dan finansial atau masalah penganggaran memiliki peran vital dalam perencanaan strategis, melebihi sumber daya lainnya.

WG Cunningham menambahkan bahwa tujuan strategis berkembang selama proses perencanaan strategis dan disempurnakan dalam proses penganggaran sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa ada perbedaan yang nyata antara tujuan strategis dan tujuan operasional dimana sebenarnya dalam proses ini ada ketidak jelasan garis antara dua proses yaitu masalah penganggaran. Proses penganggaran atau budgetting sendiri dianggap berada diantara kedua proses perencanaan dan menjadi batas dimana perencanaan strategis berakhir dan perencanaan operasional dimulai. George Odiorne juga berpendapat bahwa masalah waktu merupakan esensi dari tujuan dan harus diperhitungkan sebelumnya bukan sesuadah perencanaan anggaran. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa pemerintah seharusnya melakukan dua perencanaan yang sinergis yaitu antara tujuan jangka panjang sebelum melakukan perencanaan anggaran dan tujuan jangka pendek sesudah penentuan anggaran. Intinya, WG Cunningham ingin menyampaikan pada pembaca buku ini bahwa model perencanaan top down lebih efektif, efisien, dengan memulai dari perencanaan strategis yang diikuti oleh penganggaran biaya dan perencanaan operasional.

Alasan yang diungkap olehnya secara eksplisit memaparkan bahwa model perencanaan top down akan mengikis gesekan-gesekan individu yang terlibat dalam proses perencanaan tersebut. Dan agar hasil perencanaan yang dibuat oleh para penentu kebijakan di level atas dapat dilaksanakan oleh para pelaku organisasi di level bawah dengan baik tanpa adanya protes, WG Cunningham menempatkan komunikasi sebagai kunci utama untuk menekan para ‘bawahan’. Caranya adalah dengan melibatkan sejumlah ‘bawahan’ yang tentunya dianggap dapat mewakili, dalam pembicaraan-pembicaraan mengenai proses perencanaan. Para ‘bawahan’ harus diperlakukan ‘seolah-olah’ dilibatkan dalam proses perencanaan, walaupun pada akhirnya, penentuan keputusan tetap berada pada kelompok ‘atasan’. Padahal gesekan-gesekan individu penyebab konflik yang terjadi dalam sebuah organisasi adalah sebuah proses yang manusiawi dalam pendewasaan diri individu maupun organisasi tersebut. Sehingga bila proses ‘pendewasaan’ tersebut dimatikan semata-mata hanya karena alasan efisiensi waktu dan efektifitas hasil, maka sifat-sifat manusiawi tersebut tidak akan pernah berkembang dengan sebagaimana mestinya.

Sumber daya ekonomi dan finansial’ atau lebih tepatnya dapat disebut dengan modal, pada peringkat teratas mengenai hal-hal pokok yang harus diutamakan dalam proses perencanaan. Pada bab 2 dalam buku ini dapat ditemukan pendapat WG Cunningham berikut contoh kasus yang sedemikian lengkapnya mengenai ketidak berhasilan perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan yang penyebabnya semata-mata ditumpukan pada permasalahan finansial. Sehingga bila perencanaan yang dibuat oleh lembaga pendidikan tidak disesuaikan dengan kondisi finansial yang ada, maka berbagai implikasi negatif yang ditimbulkan harus ditanggung oleh pihak lembaga pendidikan itu sendiri. Menurutnya, perencanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan dana yang tersedia, dan jangan pernah mengimplementasikan rencana yang sumber dananya belum jelas akan didapatkan dari mana.

Perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan, tentunya tidak boleh melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu pendidikan untuk pendidikan, sebagaimana diungkapkan oleh John Dewey. Dan agar sebuah perencanaan dalam lembaga pendidikan tersebut tidak melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, harus digunakan sebuah model perencanaan yang lebih ‘manusiawi’. Sudah tentu model perencanaan top down dengan semangat neoliberal yang ditawarkan oleh WG Cunningham tidaklah dapat mengakomodasi ‘kemanusiawian’ tersebut. Model perencanaan partisipatif dalam lembaga pendidikan, yang sering dikemukakan oleh Paulo Freire, dan model perencanaan deliberatif yang dicetuskan oleh Jurgen Habermas, adalah model-model perencanaan yang paling tepat dalam dunia pendidikan. Inti dari kedua model tersebut adalah pemanusiaan individu yang berada dalam sebuah komunitas melalui perluasan partisipasi dalam proses penentuan kebijakan, dalam hal ini yang berkaitan dengan proses perencanaan dalam dunia pendidikan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.