http://www.raisulakbar.wordpress.com


PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN

LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR

DI SMA NEGERI 1 LHOONG

ABSTRAK

Salah satu setrategi pembelajaran yang sesuai dengan hal tersebut  adalah pembelajaran dengan pendekatan Pakem. Dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar maka implementasi pembelajaran pakem akan memungkinkan siswa bisa mengembangkan kreativitas, motivasi dan partisipasinya dalam pembelajaran . Dari hasil pantauan peneliti selaku pengawas sekolah, selama ini  para guru di SMA Negeri 1 Lhoong , sangat jarang dan bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Begitu pula dalam KKG, kemampuan guru berdiskusi masih kurang aktif dan kreatif, sehingga kemampuan guru memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar belum baik. Berdasarkan latar belakang di atas, maka  permasalahan yang dapat dirumuskan adalah:

1.      Apakah dengan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar di SMA Negeri 1 Lhoong

2.      Apakah kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas maka penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar dan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong

Penelitian ini dirancang dalam bentuk Penelitian Tindakan Sekolah yang direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus,dimana setiap siklusnya dilaksanakan dalam dua sampai tiga kali  pertemuan. Adapun subyek penelitian ini adalah guru-guru di SMA Negeri 1 Lhoong yang terdiri dari enam orang guru kelas dan dua orang guru bidang studi.

Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan pengumpulan data dengan menggunakan format observasi,instrumen penilaian skenario pembelajaran dan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif.

 

KATA PENGANTAR

 

Penelitian ini berjudul “PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN  LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SMA NEGERI 1 LHOONG bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar melalui diskusi  dalam kelompok kerja guru (KKG).

Laporan hasil  penelitian tindakan sekolah ini dapat terselesaikan berkat dukungan dari berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan, motivasi, materi serta fasilitas pendukung lainnya.Untuk itu melalui kesempatan ini,disampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada :

Semua pihak yang terkait di SMA Negeri 1 Lhoong yang telah menyediakan kondisi dan fasilitas pelaksanaan penelitian, sehingga  seluruh kegiatan penelitian dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana.

 

 

Terima kasih.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Untuk itu sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku sekarang  ini, memerlukan strategi baru terutama dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sebelumnya lebih banyak didominasi oleh peran guru (teacher centered) diperbaharui dengan sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Dalam implementasi KTSP guru harus mampu memilih dan menerapkan model, motode atau setrategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi sehingga mampu mengembangkan daya nalar siswa secara optimal.Dengan demikian dalam pembelajaran guru tidak hanya terpaku dengan pembelajaran di dalam kelas, melainkan guru harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan motode yang variatif.

Disamping itu sesuai dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan), guru harus mampu menghadapkan siswa dengan dunia nyata sesuai dengan yang dialaminya sehari-hari. Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan Pakem yang memungkinkan bisa mengembangkan kreativiats, motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Hal ini juga sesuai dengan salah satu pilar dari pendekatan contekstual yaitu masyarakat belajar (learning commonity). Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara belajar yang disarankan dalam KTSP sebagai upaya mendekatkan aktivitas belajar siswa pada berbagai fakta kehidupan sehari-hari di sekitar lingkungan siswa. Memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar menjadi alternatif setrategi pembelajaran untuk memberikan kedekatan teoritis dan praktis bagi pengembangan hasil belajar siswa secara optimal. Ekowati (2001) mengatakan, memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar merupakan bentuk pembelajaran yang berfihak pada pembelajaran melalui penggalian dan penemuan (experiencing) serta keterkaitan (relating) antara materi pelajaran dengan konteks pengalaman kehidupan nyata melalui kegiatan proyek. Pada pembelajaran dengan setrategi ini guru bertindak sebagai pelatih metakognitif yaitu membantu pebelajar dalam menemukan materi belajar, mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan dalam pembuatan laporan dan dalam penampilan hasil dalam bentuk presentasi.

Dari hasil pantauan peneliti selaku kepala sekolah, selama ini  para guru masih sangat jarang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Lingkungan  sekolah  tidak  lebih  hanya  digunakan sebagai tempat bermain-main siswa pada saat istirahat. Kalau tidak jam istirahat, guru lebih sering  memilih mengkarantina siswa di dalam kelas, walaupun misalnya siswa sudah merasa sangat jenuh berada di dalam kelas.

Seperti observasi awal yang dilakukan di SMA Negeri 1 Lhoong guru-guru di sekolah tersebut memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar hanya dua sampai tiga kali dalam satu semester. Guru lebih sering menyajikan pelajaran di dalam kelas walaupun materi yang disajikan berkaitan dengan lingkungan sekolah. Dari wawancara yang dilakukan peneliti, sebagian besar guru mengaku enggan mengajak siswa belajar di  luar kelas, karena alasan susah mengawasi. Selain itu ada guru yang menyampaikan bahwa mereka tidak bisa dan tidak tahu dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Untuk mengatasi hal itu perlu adanya diskusi kelompok diantara para guru kelas dalam bentuk KKG untuk mendiskusikan masalah pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Dalam kegiatan diskusi tersebut para guru bisa membagi pengalaman dalam pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar untuk mencapai hasil belajar yang optimal.  Penelitian Nur Mohamad dalam Ekowati (2001) menunjukkan diskusi kolompok memiliki dampak yang amat positif bagi guru yang tingkat pengalamannya rendah maupun yang tingkat pengalamannya tinggi.

Bagi guru yang tingkat pengalamannya tinggi akan menjadi lebih matang dan bagi guru yang tingkat pengalamannya rendah akan menambah pengetahuan.  Keunggulan diskusi kelompok melalui KKG adalah keterlibatan guru bersifat holistic dan  konprehensip   dalam   semua   kegiatan.  Dari   segi  lainnya  guru  dapat  menukar pendapat,   memberi saran, tanggapan dan berbagai reaksi sosial dengan teman seprofesi sebagai peluang bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, serta hasil pengamatan peneliti melalui supervisi,maka dapat diidentifikasi masalahnya sebagai berikut:

1.      Pendekatan pembelajaran lebih banyak didominasi oleh peran guru, dan guru satu-satunya sumber belajar,selain buku paket.

2.      Pembelajaran yang dikembangkan di kelas – kelas kelihatannya  lebih ditekankan pada pemikiran reproduktif, menekankan pada hafalan dan mencari satu jawaban benar terhadap soal-soal yang diberikan

3.      Dalam  kegiatan  pembelajaran guru belum mampu menerapkan model, motode atau setrategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan sehingga kurang mengembangkan daya nalar siswa secara optimal.

4.      Dalam proses pembelajaran guru sangat jarang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,walaupun materi pelajaran ada kaitannya dengan lingkungan sekolah.

5.      Kegiatan  Kelompok  Kerja   Guru  (KKG) belum dimanfaatkan  dan dilaksanakan secara optimal.

C.  Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas,maka dalam penelitian tindakan sekolah ini difokuskan pada penelitian masalah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.      Apakah  kemampuan guru  dalam  memanfaatkan  lingkungan  sekolah sebagai sumber  belajar dapat ditingkatkan melalui diskusi Kelompok Kerja Guru di SMA Negeri 1 Lhoong?

2.      Apakah kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong?

 

D.  Pemecahan Masalah

Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, dapat ditentukan hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah : Diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG), dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong.

E. Tujuan  dan Manfaat Penelitian

1.  Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari dilaksanakan penelitian tindakan sekolah ini adalah : Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar melalui diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) di SMA Negeri 1 Lhoong

2.  Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan memberikan manfaat yang berarti bagi :

a.    Guru, dapat menyempurnakan metode pembelajaran yang  diterapkan di  sekolah sehingga dapat meningkatkan kreativiats, motivasi dan hasil belajar siswa.

b.    Kepala Sekolah, dapat memberikan motivasi bagi guru-guru yang lain untuk  menyempurnakan metode dan setrategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

c.    Pengawas sekolah, dapat membantu dalam membimbing dan pengawas guru  dalam pelaksanaan tugasnya sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.

 

BAB II

LANDASAN TEORETIS

A.  Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar

Sumber belajar masyarakat dapat digunakan untuk kepentingan proses pembelajaran sains, ilmu sosial dan yang lainnya, salah satunya melalui survei wilayah. Melalui survei wilayah siswa akan menemukan sumber belajar di masyarakat sehingga mampu menumbuhkan motivasi untuk memperkaya nilai-nilai hasil belajar guna dapat meningkatkan pemahaman dan peningkatan materi pelajaran. (Sarman, 2005 : 3)

Nilai-nilai kegunaan sumber belajar masyarakat adalah : (1) menghubungkan kurikulum dengan kegiatan-kegiatan masyarakat akan mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah sosial; (2) menggunakan minat-minat pribadi peserta didik akan menyebabkan belajar lebih bermakna baginya; (3) mempelajari kondisi-kondisi masyarakat merupakan latihan berpikir ilmiah (scientif methode); (4) mempelajari masyarakat akan memperkuat dan memperkaya kurikulum melalui pelaksanaan praktis didalam situasi sesungguhnya; (5) peserta didik memperoleh pengalaman langsung yang kongkrit, realistis dan verbalisme. (Douglas dan Mill dalam Rusyan 2001 : 152)

Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar mengarahkan anak pada peristiwa atau keadaan yang sebenarnya atau keadaan yang alami sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Manfaat nyata yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan ini adalah : (1) menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak, (2) memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (meaningful learning), (3) memungkinkan terjadinya proses pembentukan kepribadian anak, (4) kegiatan belajar akan lebih menarik bagi anak, dan (5) menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning aktivities). (Badru Zaman, dkk. 2005)

B.  Diskusi Kelompok Kerja Guru

Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah bentuk kegiatan yang beranggotakan guru-guru kelas, dimana tujuan kegiatannya adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi mereka sesuai kelas yang dipegang. Bentuk kegiatan KKG bisa berupa diklat, simulasi, diskusi atau yang lainnya.

Kemudian diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar yang dilakukan secara bersama-sama. Diskusi kelompok pada dasarnya memecahkan persoalan secara bersama-sama. Artinya setiap anggota turut memberikan sumbangan pemikiran dan pendapat dalam memecahkan persoalan tersebut. Diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar untuk memecahkan persoalan secara bersama-sama, sehingga akan memperoleh hasil yang lebih baik. (Tabrani dan Daryani dalam Kasianto,2004)

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa diskusi kelompok adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan yang dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.

Ischak.SW dan Warji R. (dalam Kasianto,2004) mengemukakan beberapa petunjuk dalam pelaksanaan diskusi kelompok, yaitu :

a.       Pilihlah teman yang cocok untuk bergabung dalam belajar kelompok. Jumlah setiap kelompok terdiri dari 5 hingga 7 orang.

b.      Tetapkan siapa sebagai pemimpin yang akan memimpin jalannya diskusi atau belajar kelompok.

c.       Hentaskan persoalan satu persatu dengan memberi kesempatan kepada anggota untuk mengajukan pendapatnya. Dari pendapat yang masuk dikaji bersama-sama mana yang paling tepat.  (Ischak.SW dan Warji R. dalam Kasianto,2004)

Dari uraian di atas,maka di dalam pelaksanaan diskusi kelompok perlu diperhatikan pembentukan kelompok,penetapan pimpinan kelompok,penetapan masalah yang akan dibahas dan pencatatan kesimpulan hasil diskusi kelompok.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.   Lokasi Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah ini berlokasi di SMA Negeri 1 Lhoong yang ditujukan pada guru-guru kelas dan guru bidang studi.Adapun alasan utamanya adalah dari hasil pengamatan dan  informasi dari guru,bahwa hampir semua guru jarang dan bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

B.   Perencanaan Tindakan

Bentuk tindakan dalam penelitian ini berupa supervisi (bimbingan kelompok) kepada guru-guru melalui KKG, agar mampu menyusun skenario pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar secara efektif. Secara rinci bentuk tindakan dalam penelitian ini adalah :

1. Menyampaikan informasi tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai  sumber belajar.

2. Membimbing  guru  menyusun  skenario  pembelajaran  yang  berkaitan   dengan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

3. Membimbing  guru  dalam  memanfaatkan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

4. Membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Prosedur penelitian yang dilakukan adalah menggunakan model penelitian  tindakan sekolah yang dikembangkan oleh Kemmis & Taggart (2000), dimana pada prinsipnya ada empat tahap kegiatan yaitu, perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi dan evaluasi proses tindakan (observation and evaluation) dan melakukan refleksi (reflecting).

Perencanaan

Alur penelitian secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai berikut :

 

Tindakan

 

 

Observasi

Refleksi

Gambar 0.1. Alur Penelitian

Secara rinci prosedur tindakan yang dilakukan adalah :

1.      Membagi guru dalam dua kelompok kecil.

2.      Peneliti memberi penjelasan tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

3.      Guru  menyusun  skenario  pembelajaran  dengan  memanfaakan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dalam diskusi kelompok.

4.      Peneliti membimbing kelompok guru dalam menyusun skenario    pembelajaran.

5.      Wakil  kelompok guru mempresentasikan  skenario pembelajaran.

6.      Peneliti memberi masukan terhadap skenario pembelajaran yang telah dibuat kelompok guru.

7.      Guru melaksanakan skenario pembelajaran dalam proses pembelajaran yang sebenarnya.

8. Peneliti mengevaluasi kemampuan guru dalam mengimplementasikan skenario pembelajaran.

9. Dalam kelompok diskusi guru berbagi pengalaman terkait dengan pelaksanaan pembelajaran yang memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

10. Target yang diharapkan:

a.       Guru  mampu  membuat  skenario pembelajaran  dengan memanfaakan   lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

b.      Guru mampu melaksanakan pembelajaran dengan memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

c.       Guru mampu berdiskusi secara aktif dan kreatif,dan mampu memanfaatkan  diskusi kelompok kerja guru secara efektif dan efesien dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran.

C.  Pelaksanaan Tindakan

1. Siklus I

a. Perencanaan Penelitian.

Kegiatan penelitian ini direncanakan berlangsung selama dua siklus,mulai bulan  desember s/d bulan Agustus 2010 di SMA Negeri 1 Lhoong  pada jam sekolah 07.30-12.50.

Perencanaan penelitian meliputi:

1). Pertemuan  dengan  Kepala  Sekolah  dan guru – guru, menginformasikan  tentang pelaksanaan penelitian.

2). Peneliti  menyiapkan  skenario diskusi kelompok yang akan dilaksanakan selama proses tindakan.

3). Peneliti  menyiapkan instrumen  penelitian ( lembar observasi, lembar  penilaian   kemampuan  guru).

b. Pelaksanaan Penelitian.

Pada tahap pelaksanaan merupakan tahap inti dimana pelaksanaan diskusi KKG berlangsung dengan langkah-langkah berikut.

1). Pertemuan I

a). Peneliti selaku pengawas sekolah memberi arahan umum pemanfaatan lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar

2). Pertemuan II

a). Guru melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar sesuai skenario pembelajaran yang dimiliki.

b). Peneliti melakukan penilaian pada guru terkait dengan implementasi pembelajaran sesuai skenario yang dibuat.

3).  Pertemuan III

a).  Kelompok kerja guru melakukan diskusi tentang kendala-kendala pelaksanakan pembelajaran dengan  memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

b). Peneliti melakukan bimbingan dalam kelompok, terkait dengan pembelajaran yang diterapkan guru. dan merevisi  skenario  pembelajaran  sehingga  menghasilkan skenario pembelajaran yang sesuai dengan pakem.

c. Observasi dan Evaluasi

Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan yaitu pada saat diskusi KKG baik pada pertemuan I, II dan III.  Tahap observasi bertujuan untuk mengetahui kerjasama ,kreativitas,perhatian, maupun presentasi yang dilakukan guru dalam menyusun skenario  pembelajaran maupun dalam melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Adapun skala penilaian yang digunakan adalah skala Likert dengan 5 katagori sikap yaitu:sangat tinggi, tinggi, rendah, sedang dan sangat rendah. Penilaian dilakukan dengan memberi skor pada kolom yang tesedia dengan ketentuan sebagai berikut : skor 5 = sangat tinggi, skor 4 = tinggi, skor 3 = sedang, skor 2 = rendah, dan skor 1 = sangat rendah. Untuk mendapatkan nilai digunakan rumus :

NK= Jumlah skor  perolehan x 100

Jumlah skor maksimal

Setelah diperoleh nilai,maka nilai tersebut ditransfer ke dalam bentuk kualitatif untuk memberikan komentar bagaimana kualitas sikap guru yang diamati dalam diskusi KKG, penyusunan skenario  pembelajaran dan penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan kriteria penilaian acuan patokan skala lima sebagai berikut: Tahap evaluasi dilakukan pada akhir tindakan yang bertujan untuk mengetahui tingkat kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Pelaksanaaan evaluasi dilakukan dengan menggunakan lembar penilaian skenario pembelajaran dan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:

1.      Skenario pembelajaran sekurang-kurangnya memuat standar kompetensi, kompotensi dasar, indikator, materi pelajaran, alat/media, sumber belajar dan penilaian.

2.      Kesesuaian  antara  materi  pelajaran  dengan media dan setrategi pembelajaran

3.      Kaitan antara materi pelajaran dengan pemilihan sumber belajar

4.      Kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan sumber bahan dan  penilaian.

Format Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

1.      Kegiatan pendahuluan ( apersepsi dan motivasi )

2.      Kegiatan inti pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan

3.      Kemampuan guru mengkaitkan materi pelajaran dengan lingkungan sekolah.

4.      Kemampuan guru memberi contoh-contoh riil yang ada di lingkuan sekolah.

5.      Kemampaun membuat evaluasi berkaitan dengan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

6.      Penutup pelajaran (memberi penguatan, memberi PR tentang pemanfaatan lingkungan sekolah.)

d.  Refleksi

Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus dilakukan refleksi. Hasil refleksi ini dijadikan acuan untuk merencanakan penyempurnaan dan perbaikan siklus berikutnya. Semua tahap kegiatan tersebut mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan maupun observasi dan evaluasi dilakukan secara berulang-ulang melalui siklus–siklus sampai ada peningkatan sesuai yang diharapkan yaitu mencapai angka katagori”baik” dengan rentang skor  80 – 89. Jika skor yang diperoleh kurang dari  80-89,berarti belum memenuhi target yang ditetapkan, maka perlu bimbingan pada siklus II

2. Siklus II

a. Perencanaan Penelitian.

Pada tahap ini direncanakan supervisi (pembinaan) dengan menggunakan tehnik  diskusi  kelompok  kerja  guru,  tentang  pemanfaatan  lingkungan  sekolah  sebagai sumber belajar oleh guru kelas maupun guru bidang studi di SMA Negeri 1 Lhoong yang belum mencapai hasil optimal dalam siklus I. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi siklus I,dilakukan perbaikan terhadap strategi dan penyempurnaan pelaksanaan  bimbingan  di siklus II.

b. Pelaksanaan Penelitian.

Pada  prinsipnya langkah-langkah pelaksanaan tindakan pada  siklus I  diulang pada siklus II dengan memodifikasi dan perbaikan-perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Kegiatan pada siklus II terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

 

1). Pertemuan I

a)      Melalui kelompok kerja, guru mendiskusikan tentang permasalahan-permasalan atau hambatan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,dalam menyusun skenario pembelajaran yang selanjutnya dicarikan pemecahannya. Kegiatan ini dibantu oleh guru yang dianggap  sudah cukup mampu dalam hal tersebut

b)      Guru mempresentasikan dan mensimulasikan hasil diskusi kelompoknya.

c)      Guru  merevisi  dan  menyempurnakan   skenario  pembelajaran dengan   mengoptimalkan  pemanfaatan  lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar.

2). Pertemuan II

a)      Guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas   dengan  menggunakan skenario pembelajaran yang sudah direvisi.

b)      Guru mendiskusikan dan menyempurnakan skenario pembelajaran yang lengkap dengan pemanfaatan  lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar.

c)      Guru mencatat kekurangan pembelajaran yang perlu diperbaiki dan disempurnakan.

c. Observasi dan Evaluasi.

Observasi dilakukan peneliti saat guru berdiskusi tentang masalah atau hambatan  dan  pemecahannya  dalam  kegiatan  kelompok  kerja  guru baik  secara individu maupun kelompok.Observasi terhadap aspek sikap guru dilakukan dengan menggunakan format observasi yang sama dengan format observasi yang digunakan pada siklus I.

Evaluasi dilakukan pada akhir pertemuan siklus II,dengan menggunakan format penilaian yang sama dengan format penilaian yang digunakan pada siklus I. Adapun aspek yang dinilai, serta cara menilai juga sama dengan penilaian pada siklus I.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus II,maka dilanjutkan dengan mengadakan refleksi terhadap kegiatan dan hasil  kegiatan yang sudah berlangsung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Stop Dreaming Start Action saya masukkan saja sebagai Kata Mutiara karena memang maknanya sangat berharga yaitu agar kita tidak hanya bermimpi untuk mendapatkan sesuatu melainkan perlu berusaha dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang baik, rajin, ulet, tekun dan tetap gembira apapun hasilnya. Anda setuju kan kalau uangkapan Stop Dreaming Start Action ini merupakan kata bijak?. Beberapa orang mungkin menterjemahkan Stop Dreaming sebagai berhentilah mempunyai impian. Kalau diartikan seperti itu tentu saja maknanya menjadi berbeda, karena sesungguhnya Power of Dream atau Kekuatan Impian adalah luar biasa. Yang pasti untuk benar-benar berhasil kita perlu NOT only dreaming buat Start a real Action.

Jadi ingat saja kata mutiara satu ini jika suatu ketika Anda punya keinginan baru atau keinginan lama yang belum terwujudkan. Anda dapat memperkuat dream Anda tersebut dengan cara membayangkan yang enak-enak jika Anda berhasil mendapatkannya, dan membayangkan betapa susahnya Anda jika hal itu tidak tercapai. Tandanya dream atau impian Anda tersebut sudah sangat mendominasi anda maka anda akan tergerak untuk benar-benar MENGUSAHAKANnya atau Start Action. Itulah maka dari kata mutiara Stop Dreaming Start Action menurut saya.

Sebenarnya harus saya akui bahwa kata mutiara atau kata bijak yang sering saya baca dari buku-buku atau yang diucapkan orang-orang, termasuk juga yang bahkan sering dikutip teman-teman menjadi Status Facebook mereka, lebih sering hanya sampai di level pengetahuan saja. Mungkin juga Anda sering juga mendengar kata bijak yang sangat sederhana dan memaknainya sebatas itu, seperti saya tadi. hehe.. Misalnya ketika mendengar kata bijak Rajin Pangkal Pandai, sepertinya sudah menjadi biasa, bukan senilai mutiara lagi. Lalu hanya sedikit diantara kita yang benar-benar RAJIN dalam arti yang luas. Benar kan?. Semoga kata mutiara yang satu ini Stop Dreaming Start Action dapat melekat lebih kuat dan sanggup benar-benar kita praktekkan.

Semoga Anda setuju dengan uraian singkat diatas, dan mulai sekarang kita kumandangkan dan praktekkan Stop Dreaming Start Action ini jauh lebih kuat jauh lebih sering.

Atau Anda punya pendapat lain tentang makna Stop Dreaming Start Action ini? Silahkan berkomentar.

A. Judul Penelitian

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

PADA SMA NEGERI 1 SUKA MAKMUR

KABUPATEN ACEH BESAR

B. Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan Manjemen Berbasis Sekolah diimplementasikan dengan tujuan, meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, sekolah dan pemerintah tentang suatu sekolah. Meningkatkan kompetisi yang sehat antara sekolah untuk mencapai mutu pendidikan yang diharapkan.

Dengan melihat pada tujuan Manajemen Berbasis Sekolah bahwa hal itu hanya akan dapat kita capai apabila diberdayakan secara maksimal semua sumber daya pendidikan yang ada di sekolah . Pemberdayaan semua potensi sumber daya yang ada pada sekolah secara maksimal untuk mencapai tujuan sekolah inilah yang dinamakan dengan kinerja sekolah.

1

Adapun indikator – indikator yang ditetapkan sebagai ukuran dalam menilai Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada tiap – tiap sekolah , antara lain: Apakah proses pembelajaran efektif. Adakah kepemimpinan kepala sekolah yang kuat. Apakah sekolah memiliki teamwork yang efektif. Apakah sekolah memiliki kemandirian. Apakah terdapat partisipasi masyarakat pada sekolah dan sebaliknya. Apakah sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Apakah sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. Apakah sekolah memiliki akuntabilitas. Apakah sekolah memiliki transparansi

Tentunya masih banyak lagi indikator yang masih terdapat dirumuskan sesuai dengan kebutuhan tiap – tiap daerah yang mempunyai karakteristik dan kebutuhan pembangunan daerah masing – masing. Misalnya saja suatu daerah perlu memasukkan kelestarian lingkungan atau perkembangan kesenian yang menjadi ciri khas daerahnya.

Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa dan dalam membangun watak bangsa. Pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan bangsa dan mengembangkan masyarakat Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, memiliki keterampilan dan pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan . Pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembangunan nasional yang ikut menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

1

Tekanan yang menuntut pertanggung jawaban mengenai relevansi dan mutu hasil pendidikan semakin besar. Ketidakpastian mengenai lowongan pekerjaan, kelangkaan sumber-sumber dan perlunya meneliti dengan cermat lembaga yang menerima pembiayaan juga menuntut pendidikan untuk memberikan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, dimana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh ketidakpastian. Dalam kerangka inilah pendidikan diperlukan dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju, demikian halnya bagi masyarakat Indonesia yang memiliki wilayah yang amat luas.

Kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bervariasi serta munculnya berbagai masalah mendorong pemerintah memperhatikan potensi daerah. Standarisasi bagi penyeragaman rencana yang terlalu terpusat menghambat Implementasi pembangunan karena cenderung akan berakibat pada ketidaksesuaian antara rencana pusat dan kebutuhan daerah masing-masing. Sejalan dengan arah kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi yang ditempuh pemerintah, tanggung jawab pemerintah daerah meningkat, salah satunya manajemen pendidikan. Wacana desentralisasi pendidikan muncul sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) tentang Otonomi Daerah. Pasal 11 Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 menyebutkan bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Kebijakan ini memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk memberdayakan pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat. Pemerintah daerah diharapkan senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam berbagai tahap pembangunan pendidikan, sejak tahap perumusan kebijakan daerah, perencanaan, Implementasi, sampai pemantauan di daerah masing-masing.

Manajeman Berbasis Sekolah (School Based Management) merupakan satu kajian yang banyak dibahas untuk mengubah sistem pendidikan yang sentralistik ke arah desentralistik. Desentralisasi pendidikan memberi kewenangan kepada sekolah dan masyarakat setempat untuk mengelola pendidikan. Dengan demikian dapat diharapkan tercapai peningkatan kerjasama antara kepala sekolah, guru, pegawai lainnya dan masyarakat, serta peningkatan kualitas dan produktivitas pendidikan. Hal tersebut juga akan membentuk kemandirian sekolah yang selama ini kurang ditekankan, sehingga fungsi-fungsi yang ada akan didesentralisasikan di sekolah.

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu di dukung kemampuan manajerial para kepala sekolah. Sekolah perlu berkembang maju dari tahun ke tahun. Karena itu, hubungan baik antar guru perlu diciptakan agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan. Demikian halnya penataan penampilan fisik dan manajemen sekolah perlu dibina agar sekolah menjadi lingkungan yang dapat menumbuhkan kreativitas, disiplin dan semangat belajar yang baik bagi peserta didik.

Implementasi manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien menuntut seorang kepala sekolah yang memiliki pandangan luas tentang sekolah dan pendidikan. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuh kembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar, dengan melakukan supervisi kelas, membina, dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Disamping itu, kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, dan studi banding antar sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah lain.

Implementasi manajemen berbasis sekolah juga menuntut guru untuk berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung peserta didik dikelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pelajaran. Guru juga harus mengorganisasikan kelasnya dengan baik mulai jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik, kebersihan dan ketertiban kelas, pengaturan tempat duduk peserta didik dan penempatan media pembelajaran pada tempatnya.

Implementasi manajemen berbasis sekolah yang ideal harus sesuai dengan karakteristik manajemen berbasis sekolah dan harus melalui tahap-tahap Implementasi manajemen berbasis sekolah. Perencanaan dan persiapan yang baik dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah akan membantu keberhasilan program tersebut. Hal itu akan menghasilkan mutu pendidikan yang semakin baik, ada kepedulian warga sekolah dan tanggung jawab sekolah pun akan semakin meningkat.

SMA Negeri 1 Suka Makmur adalah salah satu SMA di kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar yang menjadi sekolah rintisan manajemen berbasis sekolah. Kondisi sekolah yang strategis dan kondusif untuk belajar tepat untuk dijadikan SMA rintisan manajemen berbasis sekolah dan SMA Unggulan, sehingga dengan mempertimbangkan uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan penelitian dengan judul Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar.

C.  Rumusan Masalah

Penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah harus di Implementasikan dalam setiap langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah melalui konsep Manajemen Berbasis Sekolah, hal tersebut adalah suatu konsep dalam pendidikan, sehingga perlu untuk melakukan suatu kajian untuk melihat Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: Bagamanakah Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah di sekolah dasar ini bertujuan untuk:

  1. Tahap-tahap implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.
  2. Tugas kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.
  3. Peran guru dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.

E. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian dalam penelitian kualitatif ini. Pertanyaan penelitian akan membimbing arah proses penelitian agar tetap berada di jalur yang tetap. Dalam penelitian ini pertanyaan penelitian yang diajukan berasal dari rumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan di depan. Adapun pertanyaan penelitian tersebut

adalah :

  1. Bagaimana tahap-tahap implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur ?
  2. Bagaimana tugas kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur?
  3. Bagaimana peran guru dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur?
    1. F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang akan dirasakan sehubungan dengan Implementasi penelitian yang dilakukan adalah berupa sumbangan dan masukan bagi pengembangan disiplin ilmu Administrasi Pendidikan yang berkenaan dengan kajian manajemen Berbasis Sekolah, kebijakan pendidikan, , kepemimpinan pendidikan serta hubungan sekolah dengan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bantuan kepeda pihak lembaga bahwa penerapan MBS menuntut adanya pengolahan pendidikan secara lebih baik.

G. Landasan Teoretis

Manajemen sekolah seringkali diartikan sebagai administrasi sekolah. Dalam berbagai kepentingan, pemakaian istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, demikian halnya dalam berbagai literatur, sering kali dipertukarkan. Berdasarkan fungsi pokoknya istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi perencanaan, Implementasi, pengawasan, dan pembinaan. Pidarta (1988: 15) mengungkapkan sesudah manajemen membuahkan aktivitas-aktivitas tertentu dalam lembaga pendidikan dengan program-programnya, sarananya, anggarannya, kriteria Implementasi dan keberhasilan dan petunjuk-petunjuk Implementasi, maka proses pendidikan dilaksanakan.

Sekolah dikatakan mampu mengimplentasikan MBS untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah harus memperhatikan faktor-faktor pendukung keberhasilan MBS yaitu Menurut Nurkholis (2003:264), ada enam faktor pendukung keberhasilan implementasi MBS. Keenamnya mencakup: political will, finansial, sumber daya manusia, budaya sekolah, kepemimpinan, dan keorganisasian.

Jika keenam faktor tersebut sudah terpenuhi maka akan dilihat dari ukuran keberhasilan pengimplentasian MBS seperti yang dikatakan Nurkholis (2003:271-282) menyatakan bahwa ukuran keberhasilan implemen-tasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari sembilan kriteria.

  1. jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakin meningkat.
  2. kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik, yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan nonakademik siswa.
  3. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik. Maksudnya, rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Siswa yang tinggal kelas menurun karena :

a)    siswa semakin semangat datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua dan lingkungannya.

b)   Pembelajaran di sekolah semakin baik karena kemampuan mengajar guru menjadi lebih menarik dan menyenangkan.

Aspek produktivitas sekolah meningkat disebabkan karena :

a)      Peningkatan efisiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah, dengan memberdayakan peran serta masyarakat, isntitusi, dan tenaga kependidikan secara demokratis dan efisien.

b)      Peningkatan efektivitas dengan tercapainya berbagai tujuan pendidikan yang diterapkan.

  1. Relevansi pendidikan semakin baik, karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat, baik dari aspek pengembangan kurikulum maupun sarana dan prasarana sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat.
  2. Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata, tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Biaya pendidikan pada tingkat dan jenis pendidikan serupa antara daerah yang satu dengan daerah lainnya akan berlainan menurut kekuatan ekonomi warganya.
  3. Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah, baik yang menyangkut keputusan instruksional maupun organisasional.
  4. Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan.
  5. Kesejahteraan guru dan staf sekolah membaik.
  6. Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kesimpulan yang diperoleh dari uraian di atas adalah manajemen sekolah merupakan manajemen yang melaksanakan fungsi-fungsi manajamen sekolah. Implementasi fungsi-fungsi manajemen sekolah harus berjalan secara terpadu dan berkesinambungan.

H. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Bogdan dan Taylor yang dikutip Moleong (2002 : 3) mengungkapkan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskritif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Sedangkan Arikunto (1998: 245–247) membedakan penelitian kualitatif berdasarkan sifat dan analisis datanya menjadi dua jenis yaitu :

  1. Riset deskriptif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atas suatu fenomena
  2. Riset deskriptif yang bersifat developmental digunakan untuk menemukan suatu mode atau prototipe

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang bersifat eksploratif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data yang dekriptif yang menggambarkan keadaan Implementasi manajemen berbasis sekolah.

  1. I. Subjek Penelitian

Menurut Arikunto (1998: 109) subyek penelitian mempunyai kedudukan sangat sentral, karena pada subyek penelitian itulah data tentang variabel yang diteliti berada dan diamati oleh peneliti.

Arikunto (2000 : 116 ) mengungkapkan subyek penelitian adalah benda, hal, orang atau tempat data untuk variabel penelitian melekat dan dipermasalahkan. Penelitian kualitatif selalu bertolak dari asumsi tentang realita sosial yang bersifat unik, komplek dan ganda.

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan 8 guru di SMA Negeri 1 Suka Makmur yaitu subyek yang terlibat secara langsung dan sebagai pelaksana manajemen berbasis sekolah di SMA ini. Subyek-subyek tersebut harus dipandang sebagai informan dan bukan sebagai responden.

  1. J. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam penelitian, sebab data yang terkumpul akan dijadikan sebagai bahan analisa penelitian. Metode pengumpulan data erat kaitannya dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan. Dalam penelitian metode maupun alat pengumpulan data yang tepat (sesuai) dapat membantu pencapaian hasil (pemecahan masalah) yang valid dan reliable. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap subyek penelitian.

  1. 1. Pengamatan atau observasi nonpartisipan

Penelitian ini menggunaan metode pengamatan atau observasi nonpartisipan. Menurut Nawawi (1991: 100) observasi bias diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang nampak pada obyek penelitian. Nawawi (1991: 104) mengungkapkan bahwa observasi nonpartisipan yaitu observer tidak ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat. Peneliti dalam penelitian ini tidak dapat bertindak untuk mengendalikan jalannya situasi tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah.

Penggunaan metode ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan, ruang peralatan, para pelaku dan juga aktivitas sosial yang sedang berlangsung dan yang berhubungan dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah yaitu karakteristik manajemen berbasis sekolah, tahaptahap Implementasi manajemen berbasis sekolah, fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah, peran kepala sekolah dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah dan peran guru dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA ini yang tidak bisa terungkap dalam metode wawancara.

  1. 2. Wawancara

Moleong (2002: 135) mengungkapkan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh 2 pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yaitu pihak yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Teknik wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada kepala sekolah dan guru untuk mengungkap seputar Implementasi manajemen berbasis sekolah meliputi karakteristik manajemen berbasis sekolah, tahap-tahap Implementasi manajemen berbasis sekolah, fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah, tugas kepala sekolah dan peran guru dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah.. Teknik ini juga untuk mengkonfirmasikan tentang data yang diperoleh dari obsevasi.

  1. 3. Dokumentasi

Moleong mengungkapakan bahwa dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film lain dari rekaman yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan dari seorang penyelidik. Dalam penelitian ini teknik dokumentasi berfungsi sebagai pelengkap data yang digunakan untuk memperoleh data berupa dokumen-dokumen berupa format strategi implementasi dan perangkat Implementasi manajemen berbasis sekolah.

K. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode non statistik yaitu analisis data deskriptif artinya dari data yang diperoleh melalui penelitian tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah dilaporkan apa adanya kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai fakta yang ada.

Hal ini dilakukan karena penelitian ini tidak mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Menurut Nasution (1996 : 129) analisis data yang dianjurkan ialah mengikuti langkah-langkah yang masih bersifat umum yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian atau display data dan (3) pengambilan kesimpulan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. 1. Reduksi data

Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian atau laporan yang terinci. Laporan ini akan terus menerus bertambah dan akan menambah kesulitan bila tidak segera dianalisis sejak mulanya. Laporan itu perlu direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema atau polanya. Jadi laporan lapangan sebagai bahan yang disingkatkan, direduksi dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan. Reduksi data dapat pula membantu dalam memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, penyederhanaan dan transformasi data kasar yang diperoleh dari catatan lapangan. Reduksi data berlangsung terus-menerus selama proses penelitian berlangsung. Peneliti melaksanakan pemilihan data yang diperoleh dari wawancara, pengamatan dan pengumpulan dokumendokumen yang relevan tersebut.

  1. 2. Penyajian Data

Penyajian data merupakan penyusunan sekumpulan informasi dari reduksi data yang kemudian disajikan dalam laporan yang sistematis dan mudah dipahami.

  1. 3. Pengambilan Kesimpulan

Pada tahap ini peneliti mengambil kesimpulan terhadap data yang telah direduksi ke dalam laporan secara sistematis dengan cara membandingkan, menghubungkan, dan memilih data yang mengarah pada pemecahan masalah serta mampu menjawab permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai.

L. Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 10 bulan dengan jadwal kegiatan tampak pada tabel berikut

Tabel 1

No Agenda kegiatan Tahun 2010

Bulan Implementasi

Mar Apr Mai Jun Jul Ags Sep Nov Des Jan
1. Observasi awal X X X X
2. Penyusunan proposal X X X X
3. Seminar proposal X
4. Perbaikan proposal X X
5. Persiapan Bab II X
6. Pengumpulan data X
7. Pengolahan data X X
8. Analisis data X
9. Sidang tesis X
10. Revisi /cetak hasil  penelitian X X

  1. M. Instrumen Penelitian

Moleong (2002: 19) mengungkapkan bahwa instrumen penelitian adalah alat pengumpul data dalam penelitian. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan instrumen berupa lembar observasi, pedoman wawancara dan dokumen untuk mengumpulkan data.

Instrumen penelitian adalah (1) peneliti sendiri (2) melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik dalam proses penelitian; (3) menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan nilai kepercayaan akan kebenaran data yang diperoleh, (4) member check, pengecekan terhadap hasil-hasil yang diperoleh guna perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dalam memberikan data yang dibutuhkan peneliti.

PROGRAM TAHUNAN

Nama   Sekolah                       : SMA Negeri 1 Lhoong

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelas / Semester                      : X

Tahun Pelajaran                       : 2009/2010

A. PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU TIAP SEMESTER

Semester I

No Bulan Banyaknya Pekan Semester Gasal Keterangan
Seluruhnya Tidak Efektif Efektif
1 Juli 2009 4 2 2

 

2 Agustus 2009 4 2 2

 

3 September 2009 5 4 1

 

4 Oktober 2009 4 1 3

 

5 November 2009 4 2 2

 

6 Desember 2009 5 1 4

 

Jumlah 26 12 14

Semester II

No Bulan Banyaknya Pekan Semester Genap Keterangan
Seluruhnya Tidak Efektif Efektif
1 Januari 2010 5 1 4 1 Minggu Jam Tatap Muka 2 Jam Pelajaran

 

2 Februari 2010 4 - 4
3 Maret 2010 5 - 5
4 April 2010 4 - 4
5 Mei 2010 4 - 4
6 Juni 2010 5 5 -
Jumlah 27 6 21

B. RINCIAN PROGRAM

Kelas / Semester : X / 1

Semester Standart Kompetensi Kompetensi Dasar Alokasi Waktu Ket
S  A  T  U
  1. Mempratikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

1.1  Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.2  Mempraktikkan keterampilan salah satu permainan olahraga beregu bola kecil dengan menggunakan alat dan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.3  Mempraktikkan keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.4      Mempraktikkan keterampilan salah satu cabang olahraga bela diri serta nilai kejujuran, menghargai orang lain, kerja keras, dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
2. Mempratikkan latihan kebugaran dan jasmani dan cara mengukurnya sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

2.1     Mempraktikkan latihan kekuatan, kecepatan, daya tahan dan kelentukan untuk kebugaran jasmani dalam bentuk sederhana serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri.

 

2 x 45 Menit
2.2     Mempraktikkan tes kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab dan percaya diri.

 

1 x 45 Menit
2.3      Mempraktikkan perawatan tubuh agar tetap segar

 

1 x 45 Menit
3. Mempratikkan keterampilan rangkaian senam lantai dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

3.1      Mempraktikkan rangkaian senam lantai dengan menggunakan bantuan serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab dan menghargai teman

 

2 x 45 Menit
3.2      Mempraktikkan rangkaian senam lantai tanpa alat serta nilai percaya diri, kerjasama dan tanggung jawab

 

2 x 45 Menit
4. Mempratikkan aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi yang baik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

 

 

4.1  Mempraktikkan keterampilan gerak dasar langkah dan melompat pada aktivitas ritmik tanpa alat serta nilai kedisiplinan, konsentrasi dan keluwesan.

2 x 45 Menit
4.2  Mempraktikkan keterampilan dasar ayunan lengan pada aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi gerak yang benar serta nilai disiplin, toleransi dan estetika

2 x 45 Menit
5. Mempratikkan salah satu gaya renang dan loncat indah sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*)

 

5.1  Mempraktikkan keterampilan teknik dasar salah satu gaya renang serta nilai disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan kerja keras

2 x 45 Menit
6. Mempratikkan perencanaan penjelajahan dan penyelamatan aktivitas di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ***)

 

6.1  Mempraktikkan keterampilan dasar-dasar kegiatan menjelajah sungai serta nilai tanggung jawab, kerjasama, toleransi, tolong menolong, melaksanakan keputusan kelompok

 

2 x 45 Menit
6.2  Mempraktikkan keterampilan dasar penyelamatan kegiatan penjelajahan di sungai serta nilai tanggung jawab, kerjasama, toleransi, tolong menolong, keputusan dalam kelompok

 

2 x 45 Menit
7.  Menerapkan budaya hidup sehat

 

7.1  Menganalisis bahaya penyalahgunaan Narkoba

 

1 x 45 Menit
7.2  Memahami berbagai peraturan perundangan  tentang Narkoba

 

1 x 45 Menit
Jumlah Jam

28  x 45 Menit

Kelas / Semester  : X / 2

Semester Standart Kompetensi Kompetensi Dasar Alokasi Waktu Ket
D  U  A 8. Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

8.1    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, percaya diri**)

 

4 x 45 Menit
8.2    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga bola kecil dengan menggunakan peraturan dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai dan percaya diri **) 4 x 45 Menit
8.3    Mempraktikkan keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat dan percaya diri **)

 

2 x 45 Menit
8.4    Mempraktikkan keterampilan gerak olahraga beladiri serta nilai kejujuran, toleransi, kerja keras dan percaya diri **)

 

2 x 45 Menit
9. Mempraktikkan latihan kebugaran jasmani dan cara mengukurnya sesuai dengan keutuhan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

9.1    Mempraktikkan bebagai bentuk kebugaran jasmani sesuai dengan kebutuhan serta nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin dan percaya diri

 

2 x 45 Menit
9.2    Mempraktikkan tes kebugaran dan interpretasi hasil tes dalam menentukan derajat kebugaran serta nilai kejujuran, semangat, tanggung jawab, disiplin dan percaya diri 4 x 45 Menit
10. Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 10.1Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai dengan menggunakan alat serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab dan menghargai teman 2 x 45 Menit

11. Mempraktikkan aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi yang baik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 11.1Mempraktikkan kombinasi keterampilan langkah kaki dan ayunan lengan pada aktivitas ritmik berirama tanpa  alat serta nilai disiplin, toleransi, keluwesan dan estetika 2 x 45 Menit

12. Memahami beberapa gaya renang dan pertolongan kecelakaan di air dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*)

 

12.1Menganalisis kombinasi teknik renang gaya dada, gaya bebas dan salah satu gaya lain serta nilai disiplin, kerja keras, keberanian dan tanggung jawab

 

2 x 45 Menit

12.2Memahami cara pertolongan kecelakaan di air dengan sistem Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) serta nilai disiplin, kerja keras keberanian dan tanggung jawab 2 x 45 Menit

13. Mempraktikkan perencanaan penjelajahan dan penyelamatan aktivitas di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*)

 

13.1Mempraktikkan keterampilan dasar-dasar kegiatan menjelajah gunung serta nilai tanggung jawab, kerjasama, toleransi, tolong menolong, dan melaksanakan keputusan dalam kelompk 4  x 45 Menit

 

13.2Mempraktikkan keterampilan dasar penyelamatan penjelajahan di pegunungan serta nilai tanggung jawab, kerjasama, toleransi, tolong menolong, dan melaksanakan keputusan kelompok 4 x 45 Menit

 

13.3Mempraktikkan keterampilan penjagaan lingkungan yang sehat 2 x 45 Menit

14. Menerapkan budaya hidup sehat 14.1Menganalisis dampak seks bebas 2 x 45 Menit
14.2Memahami cara menghindari seks bebas 2  x 45 Meni
Jumlah Jam

42 x 45 Menit

Kepala sekolah SMA Negeri 1 Lhoong                                              Lhoong, 01 Juni 2009

Guru mata pelajaran

 

Yusmizar, S.Pd                                                                                           Raisul Akbar, S.Pd

Nip. 196201011984032026                                                                Nip.  198009202006041017

PROGRAM TAHUNAN

Nama   Sekolah                       : SMA Negeri 1 Lhoong

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelas / Program                       : XI/IA-IS

Tahun Pelajaran                       : 2009/2010

A. PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU TIAP SEMESTER

Semester I

No Bulan Banyaknya Pekan Semester Gasal Keterangan
Seluruhnya Tidak Efektif Efektif
1 Juli 2009 4 2 2

 

2 Agustus 2009 4 2 2

 

3 September 2009 5 4 1

 

4 Oktober 2009 4 1 3

 

5 November 2009 4 2 2

 

6 Desember 2009 5 1 4

 

Jumlah 26 12 14

Semester II

No Bulan Banyaknya Pekan Semester Genap Keterangan
Seluruhnya Tidak Efektif Efektif
1 Januari 2010 5 1 4 1 Minggu Jam Tatap Muka 2 Jam Pelajaran

 

2 Februari 2010 4 - 4
3 Maret 2010 5 - 5
4 April 2010 4 - 4
5 Mei 2010 4 - 4
6 Juni 2010 5 5 -
Jumlah 27 6 21

B. RINCIAN PROGRAM

Kelas / Semester  : XI/ 1

Semester Standart Kompetensi Kompetensi Dasar Alokasi Waktu Ket
S  A   T   U 1. Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dengan teknik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

 

1.1    Mempraktikkan keterampilan teknik bermain salah satu permainan olahraga bola besar secara sederhana serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.2    Mempraktikkan keterampilan teknik serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.3    Mempraktikkan keterampilan teknik salah satu nomor atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, kerja keras dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.4    Mempraktikkan keterampilan teknik penyerangan salah satu permainan olahraga beladiri serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai orang, kerja keras dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
2. Mempraktikkan aktivitas pengembangan untuk meningkatkan kualitas kebugaran jasmani dan cara pengukurannya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

2.1    Mempraktikkan berbagai bentuk latihan kelincahan, power dan daya tahan untuk peningkatan kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin dan percaya diri

 

2 x 45 Menit
2.2    Mempraktikkan tes untuk kelincahan, dan daya tahan dalam kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin dan percaya diri

 

2 X 45 Menit
3.Mempraktikkan keterampilan senam dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

3.1    Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam ketangkasan dengan menggunakan alat serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman

 

2 x 45 Menit
3.2    Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam ketangkasan tanpa menggunakan alat serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman

 

2 x 45 Menit
4. Mempraktikkan aktivitas ritmik menggunakan alat dengan koordinasi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

 

 

4.1    Mempraktikkan keterampilan aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi gerak lanjutan serta nilai kedisiplinan, konsentrasi dan keluwesan dan estetika

 

2 x 45 Menit
4.2    Mempraktikkan keterampilan aktivitas ritmik menggunakan alat serta nilai disiplin, toleransi, kerja sama, keluwesan dan estetika

 

2 x 45 Menit
5. Memahami salah satu gaya renang dan loncat indah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*) 5.1    Menganalisis  renang gaya samping untuk pertolongan serta nilai disiplin, keberanian, kerja sama dan kerja keras

 

2 x 45 Menit
6. Menerapkan budaya hidup sehat

 

6.1    Memahami bahaya HIV/AIDS

 

2 x 45 Menit
6.2    Memahami cara penularan HIV/AIDS

 

2 x 45 Menit
6.3    Memahami cara menghindari penularan HIV/AIDS 2 x 45 Menit
Jumlah Jam

28 x 45 Menit

 

Kelas / Semester  : XI/ 2

Semester Standart Kompetensi Kompetensi Dasar Alokasi Waktu Ket
D   U   A 7. Mempraktikkan berbagai keterampilan dasar permainan olahraga dengan teknik dan taktik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

 

7.1    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan olahraga bola besar serta nilai kerjasama, kejujuran, kerja keras, dan percaya diri**)

 

4 x 45 Menit
7.2    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan olahraga bola kecil serta nilai kerjasama, kejujuran, kerja keras, toleransi dan percaya diri**)

 

4 x 45 Menit
7.3    Mempraktikkan teknik salah satu atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai percaya diri**)

 

4 x 45 Menit
7.4    Mempraktikkan teknik salah satu permainan olahraga bela diri serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, percaya diri** 2 x 45 Menit

8. Meningkatkan kualitas kebugaran jasmani dan cara pengukurannya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 8.1    Mempraktikkan latihan sirkuit untuk peningkatan kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri 2 x 45 Menit
8.2    Mempraktikkan peningkatan beban latihan sirkuit untuk meningkatkan kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri 2 x 45 Menit
8.3    Mempraktikkan tes untuk mengukur tingkat kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri 4 x 45 Menit

9. Mempraktekkan keterampilan senam ketangkasan dengan alat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

9.1    Mempraktikkan keterampilan senam ketangkasan dengan menggunakan alat lanjutan serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman 2 x 45 Menit
9.2    Mempraktikkan keterampilan senam ketangkasan tanpa menggunakan alat lanjutan serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman 2 x 45 Menit
10. Mempraktikkan aktivitas ritmik menggunakan alat dengan koordinasi yang baik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

10.1Mempraktikkan kombinasi gerak berirama menggunakan alat dengan koordinasi serta nilai kedisiplinan, konsentrasi dan keluwesan 2 x 45 Menit
10.2Merangkai aktivitas ritmik menggunakan alat serta nilai kedisiplinan, konsentrasi dan keluwesan 2 x 45 Menit
11. Memahami dasar pertolongan kecelakaan di air dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*) 11.1Menganalisis keterampilan kombinasi gerakan renang serta nilai disiplin, kerja sama serta keberanian 2 x 45 Menit
11.2Memahami  dasar pertolongan kecelakaan di air dengan sistem Resusitasi Jantung dan Paru (RPJ) serta nilai disiplin dan tanggung jawab 2 x 45 Menit
12. Mempraktikkan perencanaan dan keterampilan penjelajahan dan penyelamatan di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 12.1Mempraktikkan keterampilan merencanakan penjalajahan di perbukitan 2 x 45 Menit
12.2Mempraktikkan keterampilan merencanakan penjalajahan di perbukitan 4 x 45 Menit

Jumlah Jam

42 x 45 Menit

 

Kepala sekolah SMA Negeri 1 Lhoong                                              Lhoong, 01 Juni 2009

Guru mata pelajaran

 

Yusmizar, S.Pd                                                                                           Raisul Akbar, S.Pd

Nip. 196201011984032026                                                                Nip.  198009202006041017

PROGRAM TAHUNAN

Nama   Sekolah                       : SMA Negeri 1 Lhoong

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelas / Program                       : XII/IA-IS

Tahun Pelajaran                       : 2009/2010

A. PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU TIAP SEMESTER

Semester I

No Bulan Banyaknya Pekan Semester Gasal Keterangan
Seluruhnya Tidak Efektif Efektif
1 Juli 2009 4 2 2

 

2 Agustus 2009 4 2 2

 

3 September 2009 5 4 1

 

4 Oktober 2009 4 1 3

 

5 November 2009 4 2 2

 

6 Desember 2009 5 1 4

 

Jumlah 26 12 14

Semester II

No Bulan Banyaknya Pekan Semester Genap Keterangan
Seluruhnya Tidak Efektif Efektif
1 Januari 2010 5 1 4 1 Minggu Jam Tatap Muka 2 Jam Pelajaran

 

2 Februari 2010 4 - 4
3 Maret 2010 5 - 5
4 April 2010 4 - 4
5 Mei 2010 4 - 4
6 Juni 2010 5 5 -
Jumlah 27 6 21

B. RINCIAN PROGRAM

Kelas / Semester  : XII/ 1

Semester Standart Kompetensi Kompetensi Dasar Alokasi Waktu Ket
S A T U 1. Mempraktikkan keterampilan permainan olahraga dengan peraturan yang sebenarnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

 

1.1    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu olahraga bola besar lanjutan dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, toleransi, kerja keras dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.2    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu olahraga bola kecil dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, toleransi, kerja keras dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
1.3    Mempraktikkan teknik atletik dengan menggunakan peraturan yang sesungguhnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, percaya diri **)

 

2 x 45 Menit
1.4    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan olahraga bela diri secara berpasangan dengan peraturan yang sebenarnya serta nilai kejujuran, menghargai lawan, kerja keras dan menerima kekalahan**)

 

2 x 45 Menit
2. Mempraktikkan perancangan aktivitas pengembangan untuk peningkatan dan pemeliharaan kebugaran jasmani.

 

2.1    Merancang program latihan fisik untuk pemeliharaan kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri 2 x 45 Menit
2.2    Melaksanakan program latihan fisik sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri 2 X 45 Menit
3. Mempraktikkan rangkaian gerak senam ketangkasan dengan konsep yang benar dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

 

3.1    Mempraktikkan keterampilan gerakan kombinasi rangkaian senam lantai serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab dan menghargai teman

 

2 x 45 Menit
3.2    Mempraktikkan keterampilan gerakan kombinasi rangkaian senam lantai serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab dan menghargai teman

 

2 x 45 Menit
3.3    Mempraktikkan keterampilan gerakan kombinasi rangkaian senam ketangkasan serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab dan menghargai teman 2 x 45 Menit

4. Mempraktikkan satu rangkaian gerak senam berirama berbentuk aktivitas aerobik secara beregu dengan diiringi musik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

4.1    Mempraktikkan keterampilan gerak berirama senam aerobik serta nilai kerjasama, kedisiplinan, percaya diri, keluwesan dan estetika

 

2 x 45 Menit
4.2    Mempraktikkan keterampilan menyelaraskan antara gerak dan irama dengan iringan musik serta nilai kerjasama, disiplin, percaya diri, keluwesan dan estetika

 

2 x 45 Menit
5.  Memahami berbagai gaya renang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

5.1    Menganalisis gaya dada lanjutan serta nilai disiplin, kerja keras dan keberanian

 

1 x 45 Menit
5.2    Menganalisis  renang gaya bebas lanjutan serta nilai disiplin, kerja keras dan keberanian

 

2 x 45 Menit
5.3    Menganalisis  renang gaya punggung lanjutan serta nilai disiplin, kerja keras dan keberanian

 

1 x 45 Menit
5.4    Menganalisis  renang gaya samping lanjutan serta nilai disiplin, kerja keras dan keberanian

 

2 x 45 Menit
Jumlah Jam

28  x 45 Menit

Kelas / Semester  : XII/ 2

Semester Standart Kompetensi Kompetensi Dasar Alokasi Waktu Ket
D    U   A 6.  Mempraktikkan keterampilan permainan olahraga dengan peraturan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

6.1    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan olahraga bola besar lanjutan dengan peraturan yang sebenarnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri**)

 

4 x 45 Menit
6.2    Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan olahraga bola kecil dengan peraturan yang sebenarnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
6.3    Mempraktikkan keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang sebenarnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri**)

 

4  x 45 Menit
6.4    Mempraktikkan keterampilan bela diri secara berpasangan dengan menggunakan peraturan yang sebenarnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri**)

 

2 x 45 Menit
7.  Memelihara tingkat kebugaran jasmani yang telah dicapai dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

 

7.1    Mempraktikkan program latihan fisik untuk pemeliharaan kebugaran jasmani

 

2 x 45 Menit
7.2    Mempraktikkan membaca hasil tes berdasarkan tabel yang cocok

 

2 X 45 Menit
8.  Mengkombinasikan rangkaian gerakan senam lantai dan senam ketangkasan dengan alat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

 

 

 

 

8.1    Mempraktikkan rangkaian gerakan senam lantai serta nilai percaya diri, tanggung jawab, kerja sama dan percaya kepada teman

 

2 x 45 Menit
8.2    Mempraktikkan rangkaian gerakan senam ketangkasan dengan menggunakan alat serta nilai percaya diri, tanggung jawab, kerja sama dan percaya kepada teman

2 x 45 Menit

9.  Mempraktikkan satu rangkaian gerak berirama secara beregu dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

 

9.1    Mempraktikkan rangkaian gerak senam aerobik dengan iringan musik serta nilai kerjasama, disiplin, keluwesan dan estetika

 

2 x 45 Menit
9.2    Mempraktikkan senam irama tradisional sesuai budaya daerah secara berkelompok serta nilai kerjasama, disiplin, percaya diri, keluwesan dan estetika

 

2 x 45 Menit
10.  Memahami dan  penguasaan teknik berbagai gaya renang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*)

 

10.1   Menganalisis  berbagai gaya renang untuk kepentingan bermain di air dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai disiplin, sportif, jujur, toleran, kerja keras dan keberanian

 

2 x 45 Menit
10.2   Menganalisis keterampilan berbagai gaya renang untuk estafet sesuai  dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai disiplin, sportif, jujur, toleran, kerja keras dan keberanian

 

2 x 45 Menit
10.3   Menganalisis keterampilan ber-bagai gaya renang untuk kepentingan pertolo-ngan serta nilai disiplin, sportif, jujur, toleran, kerja keras dan keberanian

 

2 x 45 Menit
11.  Mengevaluasi kegiatan luar kelas/sekolah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya***)

 

11.1   Mengevaluasi kegiatan di sekitar sekolah serta nilai percaya diri, kebersamaan, saling menghormati, toleransi, etika dan demokrasi

 

2 x 45 Menit

11.2   Mengevaluasi kegiatan di alam bebas serta nilai percaya diri, kebersamaan, saling menghormati, toleransi, etika dan demokrasi

 

2 x 45 Menit
11.3   Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri, kebersamaan, saling menghormati, toleransi, etika dan demokrasi

 

2 x 45 Menit
11.4   Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya diri, kebersamaan, saling menghormati, toleransi, etika dan demokrasi

 

2 x 45 Menit
12.  Mempraktikkan budaya hidup sehat

 

12.1   Mempraktikkan pola hidup sehat

 

2 x 45 Menit

 

12.2   Menampilkan pola hidup sehat

 

2 x 45 Menit
Jumlah Jam

42  x 45 Menit

 

 

Kepala sekolah SMA Negeri 1 Lhoong                                              Lhoong, 01 Juni 2009

Guru mata pelajaran

 

Yusmizar, S.Pd                                                                                           Raisul Akbar, S.Pd

Nip. 196201011984032026                                                                Nip.  198009202006041017

 

 

 

 

 

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka Pemerintah telah berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi kenyataan belum cukup dalam meningkatkan kualitas pendidikan (Depdiknas, 2001:2).

1

Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor : 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Salah satu tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini berarti peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam peningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya sekadar memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu sekolah.
Otonomi daerah sebagai wahana untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan di masyarakat, lancar dan tidaknya realisasi pelaksanaan otonomi daerah tersebut, sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat itu sendiri. Kemampuan yang dibutuhkan antaranya adalah kemampuan sumber daya manusia untuk mengelola dinamika masyarakat, kemampuan untuk mengalokasikan sumber finansial daya alam, secara tepat, memotifasi lembaga-lembag pendukung pembangunan, serta keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan untuk kemajuan daerah. Dalam rangka pelaksanaan otonomi pendidikan sebagai salah satu bagian dari otonomi daerah, maka untuk meningkatkan peran serta masyarakat di bidang pendidikan, diperlukan suatu wadah yang dapat mengakomodasikan pandangan, aspirasi dan menggali potensi masyarakat untuk menjamin terciptanya demokratisasi, transparasi, dan akuntabilitas pendidikan.  Salah satu wadah tersebut  adalah  dewan pendidikan di tingkat Kabupaten/ Kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Keberadaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah ini telah mengacu kepada undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Progam Pembangunan Nasional (Propenas) tahun 2000-2004, dan sebagai implementasi dari undang-undang tersebut telah diterbitkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang bersifat universal, untuk seluruh umat dimanapun dan kapanpun. Di Indonesia pendidikan merupakan kebutuhan seluruh warga negara, maka pengembangannya harus konseptual, menyeluruh, fleksibel dan berkesinambungan (Hardono, 1999:1). Untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan di antaranya kebijakan pembentukan dewan Pendidikan dan  Komite Sekolah yang akhir-akhir ini menjadi agenda terhangat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Konsep baru ini cenderung disambut dan diapresiasi sebagai sebuah angin segar dalam proses perjalanan penyelenggaraan lembaga pendidikan dengan lebih mengintensifkan pelibatan masyarakat.
Adanya perubahan paradigma sistem  pemerintahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi telah membuka peluang bagi mmasyarakat utnuk dapat meningkatkan peran sertanya dalam pengelolaan pendidikan, Salah satunya upaya untuk mewujudkan peluang tersebut adalah melalui Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten /Kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan amanat rakyat yang telah tertuang dalam UU RI No.25 tahun 2000 tentang Progam Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Amanat rakyat ini selaras dengan kebijakan otonomi daerah, yang telah memposisikan Kabupaten/Kota sebagai pemegang kewenangan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan pendidikan di daerah tidak hanya diserahkan kepada Kabupaten/Kota, melainkan juga dalam beberapa hal telah diberikan kepada satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Dengan kata lain, keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah propinsi, Kabupaten/Kota, dan pihak sekolah orang tua, dan masyarakat atau stakeholder  pendidikan. Hal ini sesuai dengan konsep partisipasi bebasis masyarakat (community based participation) dan Manajemen Berbasis Sekolah (school based management) yang kini tidak hanya menjadi wacana, tetapi mulai dilaksanakan di Indonesia. Inti dari penerapan  kedua  konsep tersebut  adalah bagaimana agar sekolah dan semua yang berkompeten atau stakeholder pendidikan dapat memberikan layanan pendidikan yang berkualitas. Untuk itu diperlukan kerjasama yang sinergis dari pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat atau stakeholder lainnya secara sitematik sebagai wujud peran serta dalam melakukan pengelolaan pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan Komite sekolah.
Sesuai dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang semakin meningkat dewasa ini, maka dalam era manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pengelolaan pendidikan perlu dibenahi selaras dengan tuntutan perubahan yang dilandasi oleh adanya kesepakatan, komitmen, kesadaran, kesiapan membangun budaya baru dan profesionalisme dalam mewujudkan “Masyarakat Sekolah” yang memiliki loyalitas terhadap peningkatan mutu sekolah.
Pendidikan dengan segala persoalannya tidak mungkin diatasi hanya oleh lembaga persekolahan. Untuk melaksanakan program-progamnya, sekolahan perlu mengundang berbagai pihak yaitu keluarga, masyarakat, dan dunia usaha/ industri untuk beraptisipasi secara aktif dalam berbagai program pendidikan. Paertisipasi ini perlu dikelola dan dikoordinasikan dengan baik agar lebih bermakna bagi sekolah, terutama dalam peningkatan mutu dan efektifitas pendidikan lewat suatu wadah yaitu Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten/ Kota dan Komite Sekolah di setiap satuan pendidikan. Dengan demikian pelaksanaan MBS disatuan pendidikan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa alasan penulis memilih tema di atas adalah: 1) adanya fenomena yang berkembang di masyarakat terhadap keberadaan Komite Sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan 2) Komite Sekolah merupakan organisasi baru dalam dunia pendidikan yang menarik untuk ditelaah lebih mendalam khususnya dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Dengan uraian diatas maka dalam penelitian ini mengkaji eksistensi komite dalam Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah yang terjadi di lingkungan SMP Negeri 1 Seulimeum.

B. Rumusan Masalah
Pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang melibatkan masyakat secara aktif dalam setiap langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah adalah merupakan pemaknaan dari penerapan konsep Manajemen Berbasis Sekolah, namun disebabkan hal tersebut adalah suatu konsep dalam pendidikan, sehingga perlu untuk melakukan suatu kajian untuk melihat keaktifan masyarakat dalam penerapan konsep Manajemen Berbasis Sekolah.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi pokok permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: Bagamanakah peranserta komite sekolah dalam meningkatan mutu pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah untuk di SMP Negeri 1 Seulimeum?
C. Tujuan Penelitian
Mengingat penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap secara menyeluruh dan komprehensif semua aspek yang terkait tentang Eksistensi Komite Sekolah Dalam Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah, dengan mengambil kasus yang terjadi di SMP Negeri 1 Seulimeum Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis:
Bagaimana  peran Komite sekolah yang telah diterapkan secara konsekuensi di SMP Negeri 1 Seulimeum ?
Bagaimana  cara-cara komite sekolah dalam menjalankan peranannya dalam penyelenggaraan pendidikan dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum
Sejauh mana ketercapaian pelaksanaan peran komite sekolah dalam memberikan jaminan pelibatan stakeholder pendidikan dalam mendukung proses pendidikan.
Faktor pendorong dan faktor penghambat yang dapat mempengaruhi eksistensi sekolah dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum.  
D. Pertanyaan Penelitian
Adapun pokok- pokok masalah penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
Bagaimanakah peran Komite sekolah yang telah diterapkan secara konsekuensi di SMP Negeri 1 Seulimeum ?
Bagaimanakah cara-cara komite sekolah dalam menjalankan peranannya dalam penyelenggaraan pendidikan dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum
Sejauh manakah ketercapaian pelaksanaan peran komite sekolah dalam memberikan jaminan pelibatan stakeholder pendidikan dalam mendukung proses pendidikan.
Bagaimnakah faktor pendorong dan faktor penghambat yang dapat mempengaruhi eksistensi sekolah dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang berupa eksistensi Komite Sekolah dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum akan bermanfaat bagi para penyelenggara pendidikan (kepala sekolah), departemen Pendidikan dan Kebudayaan, para pengurus komite sekolah, serta para stakeholder pendidikan terutama untuk :
1. Manfaat teoritis
Menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama tentang eksistensi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS.
Peneliti dapat menyumbangkan gagasannya yang berkaitan dengan eksistensi sekolah dalam pelaksanaan MBS.
Hasil-hasil yang diperoleh dapat menimbulkan permasalahan baru untuk diteliti lebih lanjut.
2. Manfaat praktis
Bagi pengurus komite sekolah
Mengungkapkan beberapa kendalaatau hambatan terhadap profil dan peran komite sekolahyang pada akhirnya dapat digunakan oleh pengurus komite sekolahsebagai tataran pelaksanaan di lapangan, serta keberadaaannya yang cukup strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
b. Bagi penyelenggara pendidikan
Memberikan sumbangan pemikiran dan masukan bagi penyelenggara pendidikan akan pentingnya profil dan peran Komite Sekolah yang berguna dalam upaya peningkatan komitmen dan profesionalisme dalam mewujudkan “Masyarakat Sekolah” yang memiliki loyalitas terhadap peningkatan mutu sekolah.
c.  Bagi Dinas Pendidikan Nasional
Membentuk pihak-pihak yang berkepentingan dalam menjelaskan berbagai isu terhadap pembentukan Komite Sekolah hanya sekedar merubah nama dari BP3 sekaligus memberi masukan yang penting bagi para pemerhati pendidikan untuk lebih memiliki integritas yang tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di satuan pendidikan masing-masing.

G. Landasan Teoritis
Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan di tingkat pendidikan dasar tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.
Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.
Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi.
Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.
Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui Manajemen Berbasisi Sekolah (School Based Management).
Faktor Pendorong Perlunya Desentralisasi Pendidikan
Saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan1. Beberapa perubahan tersebut antara lain,
Orientasi manajemen yang sarwa negara ke orientasi pasar. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul.
Orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis.
Sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.
Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global.
Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif, yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Disamping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal), menghambat kreativitas, dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi terinci sbb.:
tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.
anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah.
ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam.
penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat
tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.
Desentralisasi pendidikan, mencakup tiga hal, yaitu;
manajemen berbasis lokasi (site based management).
pendelegasian wewenang
inovasi kurikulum.
Pada dasarnya manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pengurangan administrasi pusat adalah konsekwensi dari yang pertama dengan diikuti pendelegasian wewenang dan urusan pada sekolah. Inovasi kurikulum menekankan pada pembaharuan kurikulum sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua peserta didik. Kurikulum disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di daerah atau sekolah. Pada kurikulum 2004 yang akan diberlakukan, pusat hanya akan menetapkan kompetensi-kompetensi lulusan dan materi-materi minimal. Daerah diberi keleluasaan untuk mengembangkan silabus (GBPP) nya yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan daerah. Pada umumnya program pendidikan yang tercermin dalam silabus sangat erat dengan program-program pembangunan daerah. Sebagai contoh, suatu daerah yang menetapkan untuk mengembangkan ekonomi daerahnya melalui bidang pertanian, implikasinya silabus IPA akan diperkaya dengan materi-materi biologi pertanian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian. Manajemen berbasis lokasi yang merujuk ke sekolah, akan meningkatkan otonomi sekolah dan memberikan kesempatan kepada tenaga sekolah, orangtua, siswa, dan anggota masyarakat dalam pembuatan keputusan.
Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran, personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional. Jika pengelola di tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko, Nigeria, dan Zimbabwe.
Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikulum lokal. Kurikulum juga harus mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional.
Proses belajar mengajar menekankan terjadinya proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran lingkungan yaitu memanfaatkan lingkungan baik fisik maupun sosial sebagai media dan sumber belajar, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan alat pemersatu bangsa.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
H. Pendekatan Penelitian
Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengguna metode dan pendekatan tersebut mengingat tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis mengenai upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penerapan MBS di SMP Negeri 1 Seulimeum Kabupaten Aceh Besar, oleh Kepala Sekolah maupun guru yang terjadi pada saat sekarang. Sebagaimana yang di kemukakan oleh Latunussa (1989:55) bahwa:
Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu pertanyaan mengenai hakikat gejala atau pertanyaan mengenai apa itu atau mendiskripsikan tentang apa itu, sehingga diperoleh informasi keadaan gejala yang sedang berlangsung sebagai pemecahan masalah yang ada, masalah yang hangat dan actual, dalam bentuk kata atau kalimat sehingga memberikan makna.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong (1996:31) mengemukakan bahwa:
Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu prosedur penelitian  yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati yang diarahakan pada latar dan individu secara holistik.
I. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah tokoh masyarakat, Kepala Sekolah, Guru dan pihak- pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan di persekolahan, dan yang akan dijadikan sebagi lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Lhoong.  pengambilan sumber data dalam penelitian ini menggunakan ‘ purposive sampling’ yaitu pilihan peneliti tentang aspek apa dan siapa yang jadikan focus pada saat situasi tertentu dan karena itu uterus menerus sepanjang penelitian. Sampling kualitatif yang tergantung pada tujuan focus pada saat itu. Penelitian ini berprinsip bahwa penelitian kualitatif yang dipentingkan adalah konteks dan bukan jumlah sumber datanya. Sumber data awal ini menjadi pegangan dalam penelitian ini, sedangkan data dapat diperoleh dari banyak informasi (menggelinding), sehingga mencapai taraf konsisten.
Namun untuk menjadi suatu pedoman dalam pelaksanaan penelitian dan untuk memudah pelaksanaan, maka dalam hal ini jumlah subjeknya adalah: 1 (satu) orang kepala sekolah, 4 (empat) orang dari masing- masing pengurus komite sekolah, 4 (empat) orang guru dari sekolah dan tokoh masyarakat dari sekitar sekolah yang bersangkutan.
J. Teknik Pengumpulan Data
Keberhasilan suatu penelitian terutama penelitian kualitatif, tergantung beberapa factor. Paling tidak ditentukan oleh factor kejelasan tujuan dan permasalahan penelitian, ketepatan pemilihan pendekatan/ metodelogi, ketelitian dan kelengkapan data/ informasi itu sendiri. Dalam penelitian yang mendasarkan pada pendekatan kualitatif ini dipergunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Ketiga teknik yang akan dijalaskan berikut ini, digunakan peneliti dalam rangka memperoleh informasi saling melengkapi.
Observasi; dilakukan dengan pengamatan tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Observasi sebagai pengumpulan data/ informasi dilakukan secara sistematis, bukan sebagai sambilan atau kebetulan saja. Dan dalam observasi ini akan diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk mengatur, mempengaruhi atau memanipulasi objek pengamatan yang sedang diobservasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi focus dari observasi adalah kegiatan- kegiatan yang berkenaan tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Seperti Pertemuan antara pihak sekolah dengan komite sekolah, kegiatan seharian di sekolah dan kegiatan lain yang berkenaan dengan tujuan dari penelitian ini.
Wawancara; yaitu dengan melakukan tanya jawab atau mengkonfirmasikan kepada sampel penelitian dengan sistematis (wawancara terstruktur). Dalam wawancara ini, pertanyaan dan jawaban akan bersifat verbal atau semacam percakapan yang bertujuan memperoleh data atau informasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi sasaran dari wawancara adalah Kepala Sekolah, pengurus Komite Sekolah, guru, tokoh masyarakat dan sumber lainnya yang relevan.
Studi dokumentasi; yaitu suatu alat penelitian yang bertujuan untuk melengkapi data (sebagai bukti pendukung), yang bersumber bukan dari manusia yang memungkinkan dilakukannya pengecekan untuk mengetahui kesesuiannya. Sumber data yang menjadi focus dalam penelitian ini adalah Notulen Rapar pihak sekolah dengan Komite sekolah, orang tua siswa dan dengan masyarakat. Serta dokumen lainnya yang mendukung kajian penelitian ini.
Dalam penelitian kualitatif tidak terdapat prosedur pengumpulan data yang memiliki pola yang pasti. Nasution (1982:37) mengatakan “ masing- masing peneliti dapat memberi sejumlah petunjuk dan saran berdasarkan pengalaman masing- masing”, namun demikian Lincoln dan Guba (Nasution, 1996) mengatakan terdapat rangkaian prosedur dasar yang dipergunakan dalam penelitian kualitatif, prosedur itu meliputi tahap orientasi, explorasi, dan member check. Pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kegiatan sebagai berikut:
Tahap Orientasi
Pada saat ini peneliti melakukan kegiatan:
Pendekatan kelembaga-lembaga yang menjadi lokasi penelitian, dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang lokasi dan focus masalah penelitian , serta memilih jumlah informan awal yang memadai untuk memperoleh informan yang tepat.
Melakukan pendalaman terhadap sumber-sumber bacaan yang berhubungan dengan masalah penelitian, guna menyusun kerangka penelitian dan teori-teori.
Melakukan wawancara awal untuk memperoleh informasi yang bersifat umum yang berkenaan dengan ruang lingkup penelitian ini.
Tahap Eksplorasi
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan:
Mengadakan wawancara secara intensif dengan subjek penelitian, yaitu kepala sekolah, pengurus komite sekolah, guru dan tokoh masyarakat, terutama yang berperan aktif dalam kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat.
Melakukan observasi persiapan dan pelaksanaan dalam konteks upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam manajemen berbasis sekolah.
Mengumpulkan dan mempelajari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan kegiatan upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam manajemen berbasis sekolah.
Tahap Member check
Pada tahap ini, semua data dan informasi yang telah dikumpulkan dan dicek ulang dengan metode triangulasi, untuk melihat kelengkapan atau kesempurnaan serta validitas data. Pengecekan data-data ini dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut:
Mengecek ulang data-data yang sudah terkumpul, baik data yang terkumpul dari wawancara, hasil observasi maupun dokumen.
Meminta data atau informasi ulang kepada subjek penelitian apabila ternyata data yang terkumpul tersebut belum lengkap.
Meminta penjelasan kepada pihak terkait tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi dalam penerapan manajemen berbasis sekolah
K. Teknik Analisis Data
Tujuan utama penelitian ini adalah memahami prilaku manusia dalam konteks tertentu. Sebagai konsekuensi dari tujuan , sifat dan pendekatan penelitian kualitatif tersebut, maka proses dan teknik analisa data yang ditempuh peneliti cenderung beragam. Kualitas konseptual, kreativitas dan intuisi peneliti menentukan keberhasilan analisanya. Sesuai dengan sifat penelitian yang naturalistic-fenomenologis kualitatif, tentunya semua informasi yang dijaring dengan berbagai macam alat dalam studi ini berupa uraian yang penuh deskripsi mengenai subjek yang diteliti, pendapat, pengetahuan, pengalaman dan aspek lainya yang berkaitan. Tentu tidak semua data itu dipindahkan dalam laporan penelitian, melainkan dianalisis dengan menggunakan prosedur menurut Nasution ( 1988:129-130) yaitu: (1) reduksi data, (2) display data, (3) mengambil keputusan dan verifikasi. Analisis data dalam penelitian naturalisti kualitatif menurut Moelong (2000) adalah proses mengatur data untuk ditafsirkan dan diketahui maknanya.
1. Reduksi Data
Tahap ini dilakukan dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan lapangan, dan dokumen, sehingga dapat ditemukan hal- hal pokok dari proyek yang diteliti yang berkenaan dengan fokus penelitian.
2. Display Data
Pada tahap ini, dilakukan dengan merangkum hal- hal pokok yang ditemukan dalam susunan yang sismatis, yaitu data disusun dengan cara menggolongkannya ke dalam pola, tema, unit atau katagori, sehingga tema sentral dapat diketahui dengan mudah, kemudian diberi makna sesuai materi penelitian. Lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan analisis dan interpretasi data adalah merupakan proses penyederhanaan dan trasformasi timbunan data mentah, sehingga menjadi kesimpulan- kesimpulan yang singkat, padat dan bermakna.
3. Verifikasi
Pada tahap ini dilakukan pengujian tentang kesimpulan yang telah diambil dengan data pembandingan yang bersumber dari hasil pengumpulan data dan penunjang lainnya. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat kebenaran hasil analisis sehingga melahirkan kesimpulan yang diambil dilakukan dengan menghubungkan atau mengkomunikasikan hasil- hasil penelitian dengan teori- teori para ahli. Terutama teori yang menjadi kerangka acuan peneliti dan keterkaitannya dengan temuan- temuan dari penelitian lainnya yang relevan, melakukan proses member- chek mulai dari tahap orientasi sampai dengan kebenaran data terakir, dan akhirnya membuat kesimpulan untuk dilaporkan sebagai hasil penelitian.
L. Instrumen Penelitian
Instrument  penelitian dilakukan melalui (1) trianggulasi, baik metode, dan sumber untuk mencek kebenaran data dengan membandingkannya dengan data yang diperoleh sumber lain, dilakukan, untuk mempertajam tilikan kita terhadap hubungan sejumlah data; (2) melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik dalam proses penelitian; (3) menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan nilai kepercayaan akan kebenaran data yang diperoleh, (4) member check, pengecekan terhadap hasil-hasil yang diperoleh guna perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dalam memberikan data yang dibutuhkan peneliti.

1. Berdasarkan sifat masalah, rancangan penelitian dapat digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu:

Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan. Penelitian deskriptif penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung. Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman. Penelitian Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2). Rancangan Penelitian Eksperimen Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi. Rancangan Pra-Eksperimental Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu: a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study) b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest) c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design) Karakteristik Penelitian Eksperimen Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi. Rancangan Eksperimen Sungguhan Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu: a) Adanya kelompok kontrol. b) Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok. c) Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut. • Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest only control group design) • Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (therandomized pretest-posttest control group design) • Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design) • Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design) • Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using) Rancangan Eksperimen Semu Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu: • Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (therandomized posttest – only control group design, using matched subject). • Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject), • Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter balanced, using matched subject) . • Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design) • Rancangan faktorial (factorial design). Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu: a. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. b. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. c. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. d. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: 1. Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; 2. menentukan cara mengontrol; 3. memilih rancangan penelitian yang tepat; 4. menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; 5. membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; 6. membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; 7. mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis. e. Melaksanakan eksperimen. f. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen. g. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan. h. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. i. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003). Studi kasus dan Penelitian lapangan Penelitian kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan. kekhususan  Subjek yang diteliti terdiri dari suatu kesatuan ( unit ) secara mendalam, sehingga hasilnya merupakan gambaran lengkap atau kasus pada unit itu. Kasus bisa terbatas pada satu orang saja, satu keluarga, satu daerah, satu peristiwa atau suatu kelompok terbatas lain.  Selain penelitian hanya pada suatu unit, ubahan-ubahan yang diteliti juga terbatas, dari ubahan-ubahan dan kondisi-kondisi yang lebih besar jumlahnya, yang terpusat pada spek yang menjadi kasus. Biasanya penelitian ini dengan cara longitudinal. Penelitian Korelasional Penelitian korelasional bertujuan melihat hubungan antara dua gejala atau lebih.misalnya, apakah ada hubungan antara status sosial orang tua siswa dengan prestasi anak mereka. Penelitian Kausal-Komparatif Penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki. Misalnya : sikap santai siswa dalam kegiatan belajar mungkin disebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja. Kekhususan  Pengumpulan data mengenai gejala yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat itu dilakukan setelah peristiwa yang dipermasalahkan itu telah terjadi ( penelitian bersifat ex post facto ).  Suatu gejala yang diamati, diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau. Penelitian Tindakan Penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru untuk mengatasi kebutuhan dalam dunia kerja atau kebutuhan praktis lain. Misalnya, meneliti keterampilan kerja yang sesuai bagi siswa putus sekolah di suatu daerah. 2. Perbedaan pendekatan kuantitatif dan kualitatif adalah: Perbedaan Paradigma Kuantitatif-Kualitatif Bertolak dari perbedaan-perbedaan disebut, dapat dicatat berbagai perbedaan paradigma yang cukup signifikan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Seperti dikemukakan sebelumnya, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigmatik dengan penelitian kualitatif. Secara garis besar, perbedaan dimaksud mencakup beberapa hal: Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang analisisnya secara umum memakai analisis statistik. Penelitian kuantitatif dikembangkan oleh penganut positivisme yang dipelopori oleh Auguste Conte. Aliran ini berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu sosial, maka metode-metode IPA harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu sosial (Harahap, 1992). Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti yang kemudian menghasilkan data kuantitatif. Berbeda dengan penelitian kualitatif yang menekankan pada studi kasus, penelitian kuantitatif bermuara pada survey. Richard dan Cook (dalam Abdullah Fajar, 1992) mengemukakan perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut :   PARADIGMA KUALITATIF PARADIGMA KUANTITATIF Menganjurkan pemakaian metode kualitatif Bersandar pada fenomenologisme dan verstehen; perhatian tertuju pada pemahaman tingkah laku manusia dari sudut pandangan pelaku itu sendiri. Pengamatan berlangsung secara alamiah (naturalistic) dan tidak dikendalikan (uncontrolled) Bersifat subyektif Dekat dengan data; bertolak dari perspektif dari “dalam” individu atau masyarakat yang diteliti. Penelitian bersifat mendasar (grouned), ditujukan pada penemuan (discovery-oriented), menekankan pada perluasan (expansionist), bersifat deskriptif, dan induktif. Berorientasi pada proses Valid; data bersifat ‘mendalam’, ‘kaya’, dan ‘nyata. Tidak dapat digeneralisasikan; studi di atas kasus tunggal Bersifat holistic Mengasumsikan adanya realitas yang bersifat dinamik Menganjurkan pemakaian metode-metode kuantitatif. Bersandar pada positivisme logika; mencari fakta-fakta dan sebab-sebab dari gejala sosial dengan mengesampingkan keadaan individu-individu. Pengamatan ditandasi pengukuran yang dikendalikan dan blak-blakan (obtrusive) Bersifat obyektif Jauh dari data; bertolak dari sudut pandangan dari “luar” Penelitian bersifat tidak mendasar (ungrouned), ditujukan pada pengujian (verification-oriented), menekankan penegasan (confirmatory), reduksionis, inferensial, deduktif-hipotetik. Berorientasi pada hasil Reliabel; data ‘keras’ dan dapat diulangDapat digeneralisasikan; studi atas banyak kasus Bersifat partikularistik Mengasumsikan adanya realitas yang stabil 3. Dua macam kesalahan dalam pengujian hipotesis adalah: Pengujian Hipotesis Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata hupo dan thesis. Hupo artinya sementara, atau kurang kebenarannya atau masih lemah kebenarannya. Sedangkan thesis artinya pernyataan atau teori. Karena hipotesis adalah pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya, sehingga istilah hipotesis ialah pernyataan sementara yang perlu diuji kebenarannya. Untuk menguji kebenaran sebuah hipotesis digunakan pengujian yang disebut pengujian hipotesis atau pengetesan hipotesis (testing hypothesis). Pengujian hipotesis akan membawa kepada kesimpulan untuk menolak atau menerima hipotesis. Dengan demikian kita dihadapkan pada dua pilihan. Agar pemilihan kita lebih rinci dan mudah, maka diperlukan hipotesis alternatif selanjutnya disingkat H1 dan hipotesis nol yang selanjutnya disingkat Ho. H1 disebut sebagai hipotesis kerja atau hipotesis penelitian (research hypothesis). H1 adalah lawan atau tandingan dari Ho. Dalam pengujian hipotesis akan terjadi dua macam kesalahan, yaitu : 1. Kesalahan tipe 1 yaitu menolak hipotesis yang seharusnya tidak ditolak. 2. Kesalahan tipe 2 yaitu tidak menolak hipotesis yang seharusnya ditolak. Hubungan antara hipotesis, kesimpulan dan tipe kesalahan dapat digambarkan seperti tabel di bawah ini : Ho benar Ho salah Menerima Ho benar Kesalahan 1 Menolak Ho Kesalahan 2 benar Ketika merencanakan pengujian hipotesis, kedua tipe kesalahan tesebut hendaklah dibuat sekecil mungkin. Kedua tipe kesalahan tersebut dinyatakan dalam peluang. Peluang ini juga sekaligus merupakan besarnya resiko kesalahan yang ingin kita hadapi. Peluang membuat kesalahan tipe 1 biasanya dinyatakan dengan α. Dan peluang membuat kesalahan tipe 2 Tugas Statistik biasanya dinyatakan dengan β. α disebut juga taraf signifikansi, taraf arti, taraf nyata atau probability = p, taraf kesalahan dan taraf kekeliruan. Pengujian hipotesis ada tiga macam, yaitu : 1. Uji Eka Arah, yaitu pihak kanan 2. Uji Eka Arah, yaitu pihak kiri 3. Uji Dwi Arah 4. 10 FENOMENA YANG BERKAITAN DENGAN PROFESI BIMBINGAN KONSELING ADALAH: 1. Mengganggu teman pada saat proses belajar mengajar 2. Bolos jam pelajaran 3. Mencontek 4. Tidak focus atau konsentrasi pada materi belajar 5. Kurang disiplin terhadap peraturan sekolah 6. Tidak mengerjakan pekerjaan rumah 7. Keluar masuk kelas pada saat PBM 8. Sering terlambat 9. Berkelahi dengan teman 10. Melawan guru KORELASI KEBIJAKAN SISTEM PENDIDIKAN DENGAN PROGRAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL (PBKL) A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menetapkan Visi pendidikan nasional dalam mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Untuk mewujudkan visi tersebut, misi Departemen Pendidikan Nasional adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional; (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global; (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; (6) meningkatkan profesionalas dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejalan dengan Visi dan Misi Depdiknas tersebut di atas, maka sebagai acuan dasar dalam rangka pengembangan Rencana Strategis Pengembangan dan Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah 2005–2009, Ditjen. Manajemen Dikdasmen merumuskan Visi dan Misi sebagai berikut: Visi Ditjen. Manajemen Dikdasmen adalah: ”Mewujudkan pendidikan bermutu untuk kehidupan yang cerdas atas dasar kepribadian dan akhlak mulia bagi seluruh anak bangsa”. Dari visi dimaksud, kemudian disusun misi Ditjen Manajemen Dikdasmen yang meliputi: 1. meningkatkan akses masyarakat untuk pendidikan dasar dan menengah, 2. membantu/membimbing satuan pendidikan di jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk memberikan pelayanan pendidikan bermutu, 3. menjalin kerjasama yang efektif dan produktif dengan pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengembangan dan pembinaan pendidikan dasar dan menengah yang bermutu, 4. membantu pemerintah daerah menyediakan sarana dan prasarana belajar pendidikan bermutu, 5. melakukan inovasi dalam mengembangkan sistem penyelenggaraan pendidikan bermutu dan akuntabel, 6. merintis pengembangan lingkungan sekolah sebagai pusat pengembangan budaya (a centre for cultural development), 7. mengembangkan sistem pelayanan khusus untuk peserta yang berada dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan kondisi geografis khusus. Direktorat Pembinaan SMA sebagai bagian intergral dari Ditjen. Manajemen Dikdasmen, dituntut untuk dapat berperan aktif dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional tersebut di atas, sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No. 14/2005, yang dinyatakan bahwa Direktorat Pembinaan SMA mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi di bidang pembinaan sekolah menengah atas, maka salah satu program yang telah dilaksanakan sejak pada tahun 2007 adalah mengembangkan program Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) Sebagaimana yang tercantum dalam UU RI No. 20 Th. 2003 Bab XIV Ps. 50 ayat (5) dinyatakan bahwa, Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Hal ini didukung pula oleh prinsip penyelenggaraan pendidikan seperti yang tercantum pada UU RI No. 20 Th. 2003 Bab III Ps. 4 ayat (1), yang menyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Kemudian pada Bab X Ps. 36 ayat (2) yang dinyatakan Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik, dan pada ayat (3) menyatakan Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Indonesia dengan memperhatikan: a) peningkatan iman dan takwa; b) peningkatan ahlak mulia; c) penigkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; f) tuntutan dunia kerja; g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; h) agama; i) dinamika perkembangan global; dan j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Kebijakan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal juga ditekankan pada PP RI No. 19 Tahun 2005 Ps. 14 ayat (1), (2), dan (3). Sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan dan potensi daerah dalam penyelenggaraan pendidikan, Direktorat Pembinaan SMA telah melaksanakan berbagai program dan kegiatan diantaranya program pengembangan Pendidikan Berbasis Luas (Broad Based Education/BBE) kecakapan hidup Life Skill/LS) di sejumlah SMA yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan 2004, dan pada tahun 2006 melaksanakan rintisan Pengembangan Sekolah Berwawasan Keunggulan Lokal Kelautan di 100 SMA, yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan Departemen Kelautan. Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan pengembangan program BBE- Life Skill dan Sekolah Berwawasan Keunggulan Lokal Kelautan tersebut di atas, menunjukkan hasil yang belum optimal dan tidak berkesinambungan. Hal tersebut disebabkan karena kedua program tersebut pembelajarannya. Hal ini disebabkan karena program tersebut pembelajarannya bukan menjadi bagian dari struktur kurikulum. Mengacu pada Standar Isi khususnya struktur kurikulum, Direktorat Pembinaan SMA menetapkan kebijakan pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dilaksanakan secara terintegrasi pada mata pelajaran yang relevan, muatan lokal dan mata pelajaran keterampilan sebagai bagian integral dari keseluruhan proses penyelenggaraan pendidikan pada SMA. Hal dimaksud sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada BAB III tentang Standar Isi pasal 14 ayat (1) yang dinyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal; dan ayat (2) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat merupakan bagian dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan kelompok matapelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan kelompok mata pelajaran estetika atau kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani,olah raga dan kesehatan; dan ayat (3) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. Untuk itu, diperlukan adanya Program Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) yang diselenggarakan secara komprehensif dan berkelanjutan. Program ini merupakan salah satu upaya memberikan kesempatan kepada sekolah untuk membekali peserta didik berkaitan dengan pengetahuan dan sikap menghargai sumberdaya dan potensi yang ada di lingkungan setempat, serta mampu menggali dan memanfaatkannya untuk dapat digunakan sebagai bekal kehidupan yang akan dijalaninya di masa yang akan datang. Kebijakan Pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal ini juga sangat relevan dengan kondisi wilayah negara Indonesia yang sangat luas, dengan aneka ragam potensi serta sumber daya yang dapat dikembangkan secara maksimal dan menjadi keunggulan lokal daerah masing-masing. Oleh karena itu diperlukan adanya program strategi implementasi PBKL sebagai bagi pemangku kebijakan di tingkat pusat,provinsi, dan kabupaten/kota dalam melakukan pembinaan dan pendampingan. B. Tujuan Naskah Program Implementasi Rintisan PBKL disusun dengan tujuan : 1. Memberikan pemahaman/persepsi yang sama tentang PBKL 2. Sebagai panduan bagi para pemangku kebijakan dan kepentingan dalam melakukan pembinaan Rintisan PBKL. 3. Sebagai panduan bagi sekolah dalam melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan local. B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis merumuskan pemasalahan pokok,yaitu; korelasi kebijakan sistem pendidikan dengan program implementasi pendidikan berbasis keunggulan lokal (PBKL) C. Defenisi oprasional Agar seluruh pihak yang terkait dalam penyelenggaraan program rintisan PBKL di sejumlah SMA memiliki pemahaman/persepsi yang sama, perlu adanya rumusan pengertian sebagai berikut: 1. Keunggulan Lokal Keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain. Sumber lain mengatakan bahwa Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah (Dedidwitagama,2007 Keunggulan Lokal (KL) dapat didefinisikan sebagai suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu ciri khas kedaerahan dan potensi daerah, sehingga menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik dan memiliki keunggulan komparatif. Ciri khas kedaerahan adalah suatu bentuk kegiatan atau produk yang hanya terdapat pada satu daerah/lokal dan tidak terdapat pada daerah lainnya. Potensi daerah adalah aset yang dimiliki oleh satu daerah tertentu yang dapat memberikan nilai benefit/kemanfaatan dan nilai effektif/kemudahan bagi daerah itu sendiri). 2. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) di SMA adalah pendidikan/program pembelajaran yang diselenggarakan pada Satuan Pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan potensi daerah yang bermanfaat dalam proses pengembangan kompetensi peserta didik. Sumberdaya dan potensi daerah dimaksud antara lain mencakup aspek SDA, SDM, ekonomi, budaya/history, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi (TIK/ICT), ekologi dan lain-lain. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di satu daerah untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf hidup masyarakat setempat). Berkaitan dengan hal dimaksud, perlu adanya pemahaman dari semua pihak bahwa program PBKL di SMA bukan merupakan mata pelajaran baru tetapi merupakan materi pembelajaran pada Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar (SK/KD) mata pelajaran yang relevan. Materi Pembelajaran tersebut dikembangkan melalui proses analisis keunggulan lokal di daerah setempat. 3. Acuan Pengembangan Program PBKL di SMA Mengacu pada berbagai pengertian tersebut di atas, maka program PBKL dikembangkan dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan (SMA) berdasarkan: 1. Sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), potensi dan kebutuhan daerah yang mencakup aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), ekologi, dan lain-lain. 2. Kebutuhan, minat, dan bakat peserta didik. 3. Ketersediaan daya dukung/potensi satuan pendidikan (internal) antara lain: a. Kurikulum Sekolah yang memuat program keunggulan lokal melalui integrasi pada mata pelajaran yang relevan, muatan lokal dan keterampilan. b. Sarana prasarana: ruang belajar, peralatan praktik, media pembelajaran, buku/bahan ajar sesuai dengan program PBKL yang diselenggarakan. c. Ketenagaan dengan keahlian sesuai tuntutan program PBKL d. Biaya operasional pendidikan yang diperoleh melalui berbagai sumber 4. Ketersediaan daya dukung eksternal antara lain: a. Dukungan Pemda Kab/Kota baik berupa kebijakan, pembinaan dan fasilitas/ pembiayaan. b. Dukungan Pemda Kab/Kota baik berupa kebijakan, pembinaan dan fasilitas/ pembiayaan. c. Stakeholders yang memiliki kepedulian untuk mendukung keseluruhan proses penyelenggaraan PBKL, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. d. Nara sumber yang memiliki kemampuan/keahlian sesuai dengan program keunggulan lokal yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. e. Satuan pendidikan formal lain dan/atau satuan pendidikan nonformal yang terakreditasi. D. Hipotesis Terdapat Korelasi Kebijakan Sistem Pendidikan Dengan Program Implementasi Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (Pbkl). 5. Menganalisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepele Sekolah Terhadap Motivasi Dan Produktivitas Kerja Guru Di Kabupaten Pidie a. Teknik Sampling Yang Representatif Dapat Digunakan Adalah: Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan Alasannya: Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. b. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: Teknik pengumpulan data bisa dibedakan dengan beberapa hal, seperti: 1. Berdasarkan Setting (Setting Alamiah, Labortorium dengan melalui eksperimen, di rumah dengan mewawancarai responden, seminar, dan lain-lain) 2. Berdasarkan sumber data: (Sumber Primer : Sumber yang langsung memberikan data dan Sumber Sekunder : Sumber yang tidak langsung memberikan data). 3. Berdasarkan Teknik Pengumpulan Data dibagi lagi menjadi: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Triangulasi/Gabungan Pengumpulan Data dengan Observasi Macam-macam observasi: (Sanafiah Faisal: 1990) • Observasi Partisipatif, yang terbagi menjadi: Observasi yang Pasif, Observasi yang Moderat, Observasi yang Aktif, dan Observasi yang Lengkap. • Observasi Terus Terang dan Tersamar • Observasi tak Terstruktur Observasi Partisipatif • Peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti (Susan Stainback:1998) • Klasifikasi (Sanafiah Faisal:1990) • Partisipasi Pasif : Peneliti mengamati tapi tidak terlibat dalam kegiatan tersebut. • Partisipasi Moderat :P eneliti ikut observasi partisipatif pada beberapa beberapa kegiatan saja, tidak semua kegiatan. • Partisipasi Aktif : Peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan narasumber, tapi belum sepenuhnya lengkap • Partisipasi Lengkap : Peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan narasumber Observasi Terus Terang atau Tersamar • Peneliti berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian. • Suatu saat peneliti melakukan tidak berterus terang agar dapat mengetahui informasi yang dirahasiakan narasumber. Observasi tak Berstruktur • Dilakukan dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas • Apabila masalah sudah jelas, maka dapat dilakukan secara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi c. Teknik analisis data Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi. Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat. Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut : + atau – 0.80 hingga 1.00 korelasi sangat tinggi 0.60 hingga 0.79 korelasi tinggi 0.40 hingga 0.59 korelasi moderat 0.20 hingga 0.39 korelasi rendah 0.01 hingga 0.19 korelasi sangat rendah Satu hal yang perlu diingat adalah “korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat”. Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan “lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi”.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.