<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SMAN 1 LHOONG BLOGS</title>
	<atom:link href="http://raisulakbar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://raisulakbar.wordpress.com</link>
	<description>Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Jun 2011 15:53:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='raisulakbar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f1812b757c391f4c7f5f786ca176343a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>SMAN 1 LHOONG BLOGS</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://raisulakbar.wordpress.com/osd.xml" title="SMAN 1 LHOONG BLOGS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://raisulakbar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR  DI SMA NEGERI 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/11/05/peningkatan-kemampuan-guru-dalam-memanfaatkan-lingkungan-sekolah-sebagai-sumber-belajar-di-sma-negeri-1-lhoong/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/11/05/peningkatan-kemampuan-guru-dalam-memanfaatkan-lingkungan-sekolah-sebagai-sumber-belajar-di-sma-negeri-1-lhoong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 11:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[http://www.raisulakbar.wordpress.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SMA NEGERI 1 LHOONG ABSTRAK Salah satu setrategi pembelajaran yang sesuai dengan hal tersebut  adalah pembelajaran dengan pendekatan Pakem. Dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar maka implementasi pembelajaran pakem akan memungkinkan siswa bisa mengembangkan kreativitas, motivasi dan partisipasinya dalam pembelajaran . Dari hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=550&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>DI </strong><strong>SMA NEGERI 1 LHOONG</strong></p>
<p style="text-align:center;">ABSTRAK</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu setrategi pembelajaran yang sesuai dengan hal tersebut  adalah pembelajaran dengan pendekatan Pakem. Dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar maka implementasi pembelajaran pakem akan memungkinkan siswa bisa mengembangkan kreativitas, motivasi dan partisipasinya dalam pembelajaran . Dari hasil pantauan peneliti selaku pengawas sekolah, selama ini  para guru di SMA Negeri 1 Lhoong , sangat jarang dan bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula dalam KKG, kemampuan guru berdiskusi masih kurang aktif dan kreatif, sehingga kemampuan guru memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar belum baik. Berdasarkan latar belakang di atas, maka  permasalahan yang dapat dirumuskan adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Apakah dengan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar di SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Apakah kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas maka penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar dan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian ini dirancang dalam bentuk Penelitian Tindakan Sekolah yang direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus,dimana setiap siklusnya dilaksanakan dalam dua sampai tiga kali  pertemuan. Adapun subyek penelitian ini adalah guru-guru di SMA Negeri 1 Lhoong yang terdiri dari enam orang guru kelas dan dua orang guru bidang studi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan pengumpulan data dengan menggunakan format observasi,instrumen penilaian skenario pembelajaran dan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian ini berjudul “PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN  LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SMA NEGERI 1 LHOONG bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar melalui diskusi  dalam kelompok kerja guru (KKG).</p>
<p style="text-align:justify;">Laporan hasil  penelitian tindakan sekolah ini dapat terselesaikan berkat dukungan dari berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan, motivasi, materi serta fasilitas pendukung lainnya.Untuk itu melalui kesempatan ini,disampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada :</p>
<p style="text-align:justify;">Semua pihak yang terkait di SMA Negeri 1 Lhoong yang telah menyediakan kondisi dan fasilitas pelaksanaan penelitian, sehingga  seluruh kegiatan penelitian dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;">Terima kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB I</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.  Latar Belakang Masalah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku sekarang  ini, memerlukan strategi baru terutama dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sebelumnya lebih banyak didominasi oleh peran guru (<em>teacher centered</em>) diperbaharui dengan sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa (<em>student</em> <em>centered</em>). Dalam implementasi KTSP guru harus mampu memilih dan menerapkan model, motode atau setrategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi sehingga mampu mengembangkan daya nalar siswa secara optimal.Dengan demikian dalam pembelajaran guru tidak hanya terpaku dengan pembelajaran di dalam kelas, melainkan guru harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan motode yang variatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Disamping itu sesuai dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan), guru harus mampu menghadapkan siswa dengan dunia nyata sesuai dengan yang dialaminya sehari-hari. Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan Pakem yang memungkinkan bisa mengembangkan kreativiats, motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Hal ini juga sesuai dengan salah satu pilar dari pendekatan <em>contekstual</em> yaitu masyarakat belajar (<em>learning commonity</em>). Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara belajar yang disarankan dalam KTSP sebagai upaya mendekatkan aktivitas belajar siswa pada berbagai fakta kehidupan sehari-hari di sekitar lingkungan siswa. Memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar menjadi alternatif setrategi pembelajaran untuk memberikan kedekatan teoritis dan praktis bagi pengembangan hasil belajar siswa secara optimal. Ekowati (2001) mengatakan, memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar merupakan bentuk pembelajaran yang berfihak pada pembelajaran melalui penggalian dan penemuan (<em>experiencing</em>) serta keterkaitan (<em>relating</em>) antara materi pelajaran dengan konteks pengalaman kehidupan nyata melalui kegiatan proyek. Pada pembelajaran dengan setrategi ini guru bertindak sebagai pelatih metakognitif yaitu membantu pebelajar dalam menemukan materi belajar, mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan dalam pembuatan laporan dan dalam penampilan hasil dalam bentuk presentasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hasil pantauan peneliti selaku kepala sekolah, selama ini  para guru masih sangat jarang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Lingkungan  sekolah  tidak  lebih  hanya  digunakan sebagai tempat bermain-main siswa pada saat istirahat. Kalau tidak jam istirahat, guru lebih sering  memilih mengkarantina siswa di dalam kelas, walaupun misalnya siswa sudah merasa sangat jenuh berada di dalam kelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti observasi awal yang dilakukan di SMA Negeri 1 Lhoong guru-guru di sekolah tersebut memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar hanya dua sampai tiga kali dalam satu semester. Guru lebih sering menyajikan pelajaran di dalam kelas walaupun materi yang disajikan berkaitan dengan lingkungan sekolah. Dari wawancara yang dilakukan peneliti, sebagian besar guru mengaku enggan mengajak siswa belajar di  luar kelas, karena alasan susah mengawasi. Selain itu ada guru yang menyampaikan bahwa mereka tidak bisa dan tidak tahu dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengatasi hal itu perlu adanya diskusi kelompok diantara para guru kelas dalam bentuk KKG untuk mendiskusikan masalah pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kegiatan diskusi tersebut para guru bisa membagi pengalaman dalam pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar untuk mencapai hasil belajar yang optimal.  Penelitian Nur Mohamad dalam Ekowati (2001) menunjukkan diskusi kolompok memiliki dampak yang amat positif bagi guru yang tingkat pengalamannya rendah maupun yang tingkat pengalamannya tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi guru yang tingkat pengalamannya tinggi akan menjadi lebih matang dan bagi guru yang tingkat pengalamannya rendah akan menambah pengetahuan.  Keunggulan diskusi kelompok melalui KKG adalah keterlibatan guru bersifat holistic dan  konprehensip   dalam   semua   kegiatan.  Dari   segi  lainnya  guru  dapat  menukar pendapat,   memberi saran, tanggapan dan berbagai reaksi sosial dengan teman seprofesi sebagai peluang bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Identifikasi Masalah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, serta hasil pengamatan peneliti melalui supervisi,maka dapat diidentifikasi masalahnya sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Pendekatan pembelajaran lebih banyak didominasi oleh peran guru, dan guru satu-satunya sumber belajar,selain buku paket.</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Pembelajaran yang dikembangkan di kelas – kelas kelihatannya  lebih ditekankan pada pemikiran reproduktif, menekankan pada hafalan dan mencari satu jawaban benar terhadap soal-soal yang diberikan</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Dalam  kegiatan  pembelajaran guru belum mampu menerapkan model, motode atau setrategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan sehingga kurang mengembangkan daya nalar siswa secara optimal.</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Dalam proses pembelajaran guru sangat jarang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,walaupun materi pelajaran ada kaitannya dengan lingkungan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">5.      Kegiatan  Kelompok  Kerja   Guru  (KKG) belum dimanfaatkan  dan dilaksanakan secara optimal.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C.  Rumusan Masalah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan identifikasi masalah diatas,maka dalam penelitian tindakan sekolah ini difokuskan pada penelitian masalah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar yang dapat dirumuskan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Apakah  kemampuan guru  dalam  memanfaatkan  lingkungan  sekolah sebagai sumber  belajar dapat ditingkatkan melalui diskusi Kelompok Kerja Guru di SMA Negeri 1 Lhoong?</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Apakah kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong?</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D.  Pemecahan Masalah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, dapat ditentukan hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah : Diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG), dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber  belajar di SMA Negeri 1 Lhoong.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>E. Tujuan  dan Manfaat Penelitian </strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.  Tujuan Penelitian</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari dilaksanakan penelitian tindakan sekolah ini adalah : Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar melalui diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG) di SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p style="text-align:justify;">2.  Manfaat Penelitian</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan memberikan manfaat yang berarti bagi :</p>
<p style="text-align:justify;">a.    Guru, dapat menyempurnakan metode pembelajaran yang  diterapkan di  sekolah sehingga dapat meningkatkan kreativiats, motivasi dan hasil belajar siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">b.    Kepala Sekolah, dapat memberikan motivasi bagi guru-guru yang lain untuk  menyempurnakan metode dan setrategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">c.    Pengawas sekolah, dapat membantu dalam membimbing dan pengawas guru  dalam pelaksanaan tugasnya sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB II</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>LANDASAN TEORETIS</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.  Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber belajar masyarakat dapat digunakan untuk kepentingan proses pembelajaran sains, ilmu sosial dan yang lainnya, salah satunya melalui survei wilayah. Melalui survei wilayah siswa akan menemukan sumber belajar di masyarakat sehingga mampu menumbuhkan motivasi untuk memperkaya nilai-nilai hasil belajar guna dapat meningkatkan pemahaman dan peningkatan materi pelajaran. (Sarman, 2005 : 3)</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai-nilai kegunaan sumber belajar masyarakat adalah : (1) menghubungkan kurikulum dengan kegiatan-kegiatan masyarakat akan mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah sosial; (2) menggunakan minat-minat pribadi peserta didik akan menyebabkan belajar lebih bermakna baginya; (3) mempelajari kondisi-kondisi masyarakat merupakan latihan berpikir ilmiah (<em>scientif methode</em>); (4) mempelajari masyarakat akan memperkuat dan memperkaya kurikulum melalui pelaksanaan praktis didalam situasi sesungguhnya; (5) peserta didik memperoleh pengalaman langsung yang kongkrit, realistis dan verbalisme. (Douglas dan Mill dalam Rusyan 2001 : 152)</p>
<p style="text-align:justify;">Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar mengarahkan anak pada peristiwa atau keadaan yang sebenarnya atau keadaan yang alami sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Manfaat nyata yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan ini adalah : (1) menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak, (2) memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (<em>meaningful learning</em>), (3) memungkinkan terjadinya proses pembentukan kepribadian anak, (4) kegiatan belajar akan lebih menarik bagi anak, dan (5) menumbuhkan aktivitas belajar anak (<em>learning aktivities</em>). (Badru Zaman, dkk. 2005)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B.  Diskusi Kelompok Kerja Guru</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah bentuk kegiatan yang beranggotakan guru-guru kelas, dimana tujuan kegiatannya adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi mereka sesuai kelas yang dipegang. Bentuk kegiatan KKG bisa berupa diklat, simulasi, diskusi atau yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar yang dilakukan secara bersama-sama. Diskusi kelompok pada dasarnya memecahkan persoalan secara bersama-sama. Artinya setiap anggota turut memberikan sumbangan pemikiran dan pendapat dalam memecahkan persoalan tersebut. Diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar untuk memecahkan persoalan secara bersama-sama, sehingga akan memperoleh hasil yang lebih baik. (Tabrani dan Daryani dalam Kasianto,2004)</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa diskusi kelompok adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan yang dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">Ischak.SW dan Warji R. (dalam Kasianto,2004) mengemukakan beberapa petunjuk dalam pelaksanaan diskusi kelompok, yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">a.       Pilihlah teman yang cocok untuk bergabung dalam belajar kelompok. Jumlah setiap kelompok terdiri dari 5 hingga 7 orang.</p>
<p style="text-align:justify;">b.      Tetapkan siapa sebagai pemimpin yang akan memimpin jalannya diskusi atau belajar kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">c.       Hentaskan persoalan satu persatu dengan memberi kesempatan kepada anggota untuk mengajukan pendapatnya. Dari pendapat yang masuk dikaji bersama-sama mana yang paling tepat.  (Ischak.SW dan Warji R. dalam Kasianto,2004)</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas,maka di dalam pelaksanaan diskusi kelompok perlu diperhatikan pembentukan kelompok,penetapan pimpinan kelompok,penetapan masalah yang akan dibahas dan pencatatan kesimpulan hasil diskusi kelompok.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB III</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>METODOLOGI PENELITIAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.   Lokasi Penelitian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian Tindakan Sekolah ini berlokasi di SMA Negeri 1 Lhoong yang ditujukan pada guru-guru kelas dan guru bidang studi.Adapun alasan utamanya adalah dari hasil pengamatan dan  informasi dari guru,bahwa hampir semua guru jarang dan bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B.   Perencanaan Tindakan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bentuk tindakan dalam penelitian ini berupa supervisi (bimbingan kelompok) kepada guru-guru melalui KKG, agar mampu menyusun skenario pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar secara efektif. Secara rinci bentuk tindakan dalam penelitian ini adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menyampaikan informasi tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai  sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Membimbing  guru  menyusun  skenario  pembelajaran  yang  berkaitan   dengan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Membimbing  guru  dalam  memanfaatkan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Prosedur penelitian yang dilakukan adalah menggunakan model penelitian  tindakan sekolah yang dikembangkan oleh Kemmis &amp; Taggart (2000), dimana pada prinsipnya ada empat tahap kegiatan yaitu, perencanaan tindakan (<em>planning</em>), pelaksanaan tindakan (<em>action</em>), observasi dan evaluasi proses tindakan (<em>observation and evaluation</em>) dan melakukan refleksi (<em>reflecting</em>).</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align:center;">
<div>
<p>Perencanaan</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">Alur penelitian secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p style="text-align:center;">Tindakan</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p style="text-align:center;">Observasi</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p style="text-align:center;">Refleksi</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><em>Gambar 0.1. Alur Penelitian</em></p>
<p style="text-align:justify;">Secara rinci prosedur tindakan yang dilakukan adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Membagi guru dalam dua kelompok kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Peneliti memberi penjelasan tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Guru  menyusun  skenario  pembelajaran  dengan  memanfaakan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dalam diskusi kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Peneliti membimbing kelompok guru dalam menyusun skenario    pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">5.      Wakil  kelompok guru mempresentasikan  skenario pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">6.      Peneliti memberi masukan terhadap skenario pembelajaran yang telah dibuat kelompok guru.</p>
<p style="text-align:justify;">7.      Guru melaksanakan skenario pembelajaran dalam proses pembelajaran yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Peneliti mengevaluasi kemampuan guru dalam mengimplementasikan skenario pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">9. Dalam kelompok diskusi guru berbagi pengalaman terkait dengan pelaksanaan pembelajaran yang memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">10. Target yang diharapkan:</p>
<p style="text-align:justify;">a.       Guru  mampu  membuat  skenario pembelajaran  dengan memanfaakan   lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">b.      Guru mampu melaksanakan pembelajaran dengan memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">c.       Guru mampu berdiskusi secara aktif dan kreatif,dan mampu memanfaatkan  diskusi kelompok kerja guru secara efektif dan efesien dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C.  Pelaksanaan Tindakan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>1. Siklus I </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">a. Perencanaan Penelitian.</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan penelitian ini direncanakan berlangsung selama dua siklus,mulai bulan  desember s/d bulan Agustus 2010 di SMA Negeri 1 Lhoong  pada jam sekolah 07.30-12.50.</p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan penelitian meliputi:</p>
<p style="text-align:justify;">1). Pertemuan  dengan  Kepala  Sekolah  dan guru &#8211; guru, menginformasikan  tentang pelaksanaan penelitian.</p>
<p style="text-align:justify;">2). Peneliti  menyiapkan  skenario diskusi kelompok yang akan dilaksanakan selama proses tindakan.</p>
<p style="text-align:justify;">3). Peneliti  menyiapkan instrumen  penelitian ( lembar observasi, lembar  penilaian   kemampuan  guru).</p>
<p style="text-align:justify;">b. Pelaksanaan Penelitian.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahap pelaksanaan merupakan tahap inti dimana pelaksanaan diskusi KKG berlangsung dengan langkah-langkah berikut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> 1). Pertemuan I</em></p>
<p style="text-align:justify;">a). Peneliti selaku pengawas sekolah memberi arahan umum pemanfaatan lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar</p>
<p style="text-align:justify;">2). <em>Pertemuan II</em></p>
<p style="text-align:justify;">a). Guru melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar sesuai skenario pembelajaran yang dimiliki.</p>
<p style="text-align:justify;">b). Peneliti melakukan penilaian pada guru terkait dengan implementasi pembelajaran sesuai skenario yang dibuat.</p>
<p style="text-align:justify;">3).  <em>Pertemuan III </em></p>
<p style="text-align:justify;">a).  Kelompok kerja guru melakukan diskusi tentang kendala-kendala pelaksanakan pembelajaran dengan  memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">b). Peneliti melakukan bimbingan dalam kelompok, terkait dengan pembelajaran yang diterapkan guru. dan merevisi  skenario  pembelajaran  sehingga  menghasilkan skenario pembelajaran yang sesuai dengan pakem.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Observasi dan Evaluasi</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan yaitu pada saat diskusi KKG baik pada pertemuan I, II dan III.  Tahap observasi bertujuan untuk mengetahui kerjasama ,kreativitas,perhatian, maupun presentasi yang dilakukan guru dalam menyusun skenario  pembelajaran maupun dalam melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun skala penilaian yang digunakan adalah skala Likert dengan 5 katagori sikap yaitu:sangat tinggi, tinggi, rendah, sedang dan sangat rendah. Penilaian dilakukan dengan memberi skor pada kolom yang tesedia dengan ketentuan sebagai berikut : skor 5 = sangat tinggi, skor 4 = tinggi, skor 3 = sedang, skor 2 = rendah, dan skor 1 = sangat rendah. Untuk mendapatkan nilai digunakan rumus :</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<div>
<p>NK= <span style="text-decoration:underline;"><sup>Jumlah     skor  perolehan</sup></span> x 100</p>
<p><sup>Jumlah skor maksimal</sup></p>
</div>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">Setelah diperoleh nilai,maka nilai tersebut ditransfer ke dalam bentuk kualitatif untuk memberikan komentar bagaimana kualitas sikap guru yang diamati dalam diskusi KKG, penyusunan skenario  pembelajaran dan penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan kriteria penilaian acuan patokan skala lima sebagai berikut: Tahap evaluasi dilakukan pada akhir tindakan yang bertujan untuk mengetahui tingkat kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Pelaksanaaan evaluasi dilakukan dengan menggunakan lembar penilaian skenario pembelajaran dan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Skenario pembelajaran sekurang-kurangnya memuat standar kompetensi, kompotensi dasar, indikator, materi pelajaran, alat/media, sumber belajar dan penilaian.</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Kesesuaian  antara  materi  pelajaran  dengan media dan setrategi pembelajaran</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Kaitan antara materi pelajaran dengan pemilihan sumber belajar</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan sumber bahan dan  penilaian.</p>
<p style="text-align:justify;">Format Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Kegiatan pendahuluan ( apersepsi dan motivasi )</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Kegiatan inti pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Kemampuan guru mengkaitkan materi pelajaran dengan lingkungan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Kemampuan guru memberi contoh-contoh riil yang ada di lingkuan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">5.      Kemampaun membuat evaluasi berkaitan dengan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">6.      Penutup pelajaran (memberi penguatan, memberi PR tentang pemanfaatan lingkungan sekolah.)</p>
<p style="text-align:justify;">d.  Refleksi</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus dilakukan refleksi. Hasil refleksi ini dijadikan acuan untuk merencanakan penyempurnaan dan perbaikan siklus berikutnya. Semua tahap kegiatan tersebut mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan maupun observasi dan evaluasi dilakukan secara berulang-ulang melalui siklus–siklus sampai ada peningkatan sesuai yang diharapkan yaitu mencapai angka katagori”baik” dengan rentang skor  80 &#8211; 89. Jika skor yang diperoleh kurang dari  80-89,berarti belum memenuhi target yang ditetapkan, maka perlu bimbingan pada siklus II</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>2. Siklus II </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">a. Perencanaan Penelitian.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahap ini direncanakan supervisi (pembinaan) dengan menggunakan tehnik  diskusi  kelompok  kerja  guru,  tentang  pemanfaatan  lingkungan  sekolah  sebagai sumber belajar oleh guru kelas maupun guru bidang studi di SMA Negeri 1 Lhoong yang belum mencapai hasil optimal dalam siklus I. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi siklus I,dilakukan perbaikan terhadap strategi dan penyempurnaan pelaksanaan  bimbingan  di siklus II.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Pelaksanaan Penelitian.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada  prinsipnya langkah-langkah pelaksanaan tindakan pada  siklus I  diulang pada siklus II dengan memodifikasi dan perbaikan-perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Kegiatan pada siklus II terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><em>1). Pertemuan I</em></p>
<p style="text-align:justify;">a)      Melalui kelompok kerja, guru mendiskusikan tentang permasalahan-permasalan atau hambatan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,dalam menyusun skenario pembelajaran yang selanjutnya dicarikan pemecahannya. Kegiatan ini dibantu oleh guru yang dianggap  sudah cukup mampu dalam hal tersebut</p>
<p style="text-align:justify;">b)      Guru mempresentasikan dan mensimulasikan hasil diskusi kelompoknya.</p>
<p style="text-align:justify;">c)      Guru  merevisi  dan  menyempurnakan   skenario  pembelajaran dengan   mengoptimalkan  pemanfaatan  lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>2). Pertemuan II </em></p>
<p style="text-align:justify;">a)      Guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas   dengan  menggunakan skenario pembelajaran yang sudah direvisi.</p>
<p style="text-align:justify;">b)      Guru mendiskusikan dan menyempurnakan skenario pembelajaran yang lengkap dengan pemanfaatan  lingkungan  sekolah sebagai sumber belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">c)      Guru mencatat kekurangan pembelajaran yang perlu diperbaiki dan disempurnakan.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Observasi dan Evaluasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Observasi dilakukan peneliti saat guru berdiskusi tentang masalah atau hambatan  dan  pemecahannya  dalam  kegiatan  kelompok  kerja  guru baik  secara individu maupun kelompok.Observasi terhadap aspek sikap guru dilakukan dengan menggunakan format observasi yang sama dengan format observasi yang digunakan pada siklus I.</p>
<p style="text-align:justify;">Evaluasi dilakukan pada akhir pertemuan siklus II,dengan menggunakan format penilaian yang sama dengan format penilaian yang digunakan pada siklus I. Adapun aspek yang dinilai, serta cara menilai juga sama dengan penilaian pada siklus I.</p>
<p style="text-align:justify;">d. Refleksi</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus II,maka dilanjutkan dengan mengadakan refleksi terhadap kegiatan dan hasil  kegiatan yang sudah berlangsung.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/httpwww-raisulakbar-wordpress-com/'>http://www.raisulakbar.wordpress.com</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/550/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=550&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/11/05/peningkatan-kemampuan-guru-dalam-memanfaatkan-lingkungan-sekolah-sebagai-sumber-belajar-di-sma-negeri-1-lhoong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.173650 95.314636</georss:point>
		<geo:lat>5.173650</geo:lat>
		<geo:long>95.314636</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stop Dreaming Start Action</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/10/24/stop-dreaming-start-action/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/10/24/stop-dreaming-start-action/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 10:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[http://www.raisulakbar.wordpress.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Stop Dreaming Start Action saya masukkan saja sebagai Kata Mutiara karena memang maknanya sangat berharga yaitu agar kita tidak hanya bermimpi untuk mendapatkan sesuatu melainkan perlu berusaha dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang baik, rajin, ulet, tekun dan tetap gembira apapun hasilnya. Anda setuju kan kalau uangkapan Stop Dreaming Start Action ini merupakan kata bijak?. Beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=545&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Stop Dreaming Start Action</strong> saya masukkan saja sebagai <strong>Kata Mutiara</strong> karena memang maknanya sangat berharga yaitu agar kita tidak hanya  bermimpi untuk mendapatkan sesuatu melainkan perlu berusaha dengan  sungguh-sungguh, dengan cara yang baik, rajin, ulet, tekun dan tetap  gembira apapun hasilnya. Anda setuju kan kalau uangkapan <strong>Stop Dreaming Start Action</strong> ini merupakan kata bijak?. Beberapa orang mungkin menterjemahkan <strong>Stop Dreaming</strong> sebagai <em>berhentilah mempunyai impian</em>.  Kalau diartikan seperti itu tentu saja maknanya menjadi berbeda, karena  sesungguhnya Power of Dream atau Kekuatan Impian adalah luar biasa.  Yang pasti untuk benar-benar berhasil kita perlu NOT only dreaming buat  Start a real Action.</p>
<p>Jadi ingat saja kata mutiara satu ini jika suatu ketika Anda punya  keinginan baru atau keinginan lama yang belum terwujudkan. Anda dapat  memperkuat dream Anda tersebut dengan cara membayangkan yang enak-enak  jika Anda berhasil mendapatkannya, dan membayangkan betapa susahnya Anda  jika hal itu tidak tercapai. Tandanya dream atau impian Anda tersebut  sudah sangat mendominasi anda maka anda akan tergerak untuk benar-benar  MENGUSAHAKANnya atau Start Action. Itulah maka dari kata mutiara <a title="Stop Dreaming Start Action" href="http://katamutiara.net/stop-dreaming-start-action"><strong>Stop Dreaming Start Action</strong></a> menurut saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya harus saya akui bahwa kata mutiara atau kata bijak yang  sering saya baca dari buku-buku atau yang diucapkan orang-orang,  termasuk juga yang bahkan sering dikutip teman-teman menjadi Status  Facebook mereka, lebih sering hanya sampai di level pengetahuan saja.  Mungkin juga Anda sering juga mendengar kata bijak yang sangat sederhana  dan memaknainya sebatas itu, seperti saya tadi. hehe.. Misalnya ketika  mendengar kata bijak <em>Rajin Pangkal Pandai</em>, sepertinya sudah  menjadi biasa, bukan senilai mutiara lagi. Lalu hanya sedikit diantara  kita yang benar-benar RAJIN dalam arti yang luas. Benar kan?. Semoga  kata mutiara yang satu ini <strong>Stop Dreaming Start Action</strong> dapat melekat lebih kuat dan sanggup benar-benar kita praktekkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Anda setuju dengan uraian singkat diatas, dan mulai sekarang kita kumandangkan dan praktekkan <strong>Stop Dreaming Start Action</strong> ini jauh lebih kuat jauh lebih sering.</p>
<p style="text-align:justify;">Atau Anda punya pendapat lain tentang makna <strong>Stop Dreaming Start Action</strong> ini? Silahkan berkomentar.</p>
<br />Filed under: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/httpwww-raisulakbar-wordpress-com/'>http://www.raisulakbar.wordpress.com</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/545/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=545&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/10/24/stop-dreaming-start-action/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.173650 95.314636</georss:point>
		<geo:lat>5.173650</geo:lat>
		<geo:long>95.314636</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Green School – Kul- Kul Campus SMA N 1 Lhoong</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/10/14/green-school-%e2%80%93-kul-kul-campus/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/10/14/green-school-%e2%80%93-kul-kul-campus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 07:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Indonesia yang masuk dalam jajaran Negara paling berpolusi no 3 sedunia, setidaknya boleh berbangga hati. Di tengah – tengah mirisnya pendidikan di negeri ini, sebuah inovasi baru di bidang pendidikan Indonesia hadir Green School – Kul- Kul Campus. Yang terletak di desa Cundien, 56 km dari pusat kota Banda Aceh. Sebuah sekolah unik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=511&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#00ff00;"><strong><em><a href="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/good.jpg"></a></em></strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_520" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><em><a href="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/r-n-m.jpg"><img class="size-medium wp-image-520" title="THE TEACHER" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/r-n-m.jpg?w=300&#038;h=225" alt="mulai dari titik 0" width="300" height="225" /></a></em></strong><p class="wp-caption-text">bekerjalah penuh kecintaan</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em><img class="aligncenter size-medium wp-image-517" title="good" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/good.jpg?w=300&#038;h=225" alt="BIO CLUB" width="300" height="225" />Indonesia yang masuk dalam jajaran Negara paling berpolusi no 3 sedunia, setidaknya boleh berbangga hati. Di tengah – tengah mirisnya pendidikan di negeri ini, sebuah inovasi baru di bidang pendidikan Indonesia </em><em>hadir</em></strong></p>
<p><span style="color:#00ff00;"><strong><em>Green School – Kul- Kul Campus. Yang terletak di desa Cundien, 56 km dari pusat kota Banda Aceh. Sebuah sekolah unik yang digagas oleh Dompet Duafa,Ditambah lagi arena olahraga, laboratorium, perpustakaan, dll.</em></strong></span></p>
<p><strong><em>INTERAKSI DENGAN ALAM</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong>Para murid diajarkan untuk dekat dengan alam, mulai dari cara menanam pohon dan tanaman comersil, memproduksi sendiri. Semua itu tak lepas dari harapan agar murid – murid mereka mengerti tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan mampu menjadi pemimpin di dunia yang selalu berubah dan menantang ini.</p>
<p>Pendeknya, mereka-para pelajar-akan tahu segala hal dari organic gardening hingga mendesain website, dari menjalankan bisnis kecil hingga menekan emisi karbon, menjadi orang yang membanggakan dan dapat dipercaya mengelola kehidupan dengan lebih baik, di tengah krisis bumi ini.<br />
Di sisi yang lain seharusnya keberadaan Green School menginspirasi pemerintah dan swasta membuat sekolah yang mirip namun lebih affordable dalam biaya.<br />
Bukan apa, sebagai anak negeri, miris rasanya melihat anak – anak bule yang terkenal bersih itu mau bermain – main dengan lumpur dan duduk lesehan di atas tikar, kemudian mampu bercocok tanam, menanam padi, dan membudidayakan udang. Sedangkan kita ? masuk ke lumpur saja mungkin tidak pernah, apalagi menanam padi ? padahal bercocok tanam merupakan identitas bangsa kita sebagai negara agraris.<br />
Andaikata sekolah di negeri ini seperti Green School, mungkin tidak akan ada lagi yang namanya illegal logging, dan pembabatan hutan secara liar, karena sejak kecil mereka telah diajarkan bagaimana cara mencintai alam.</p>
<p>Hem&#8230;<br />
Sekarang banyak banget ya..sekolah yang kurang memperhatikan  adanya penghijauan&#8230;karena tidak ada tumbuhan-tumbuhan yang  menghiasi disitu, makanya mulai sekarang biar kita nyaman belajar di  situ ayolah adakan penghijauan di sekolah kamu masing-masing&#8230;</p>
<p>Btw (by the way)^^&#8230;.<br />
Gimana nich dengan sekolah kamu&#8230;udah ada penghijauan di sekolah kamu belum????^^<br />
Kalau  dipikir-pikir ya emang sih sekolah yang kurang penghijauan kita berada  di sana kurang nyaman&#8230;.PANAS..-_-  Apa lagi kalau ada proses belajar  mengajar out door hem&#8230;.bisa kepanasan kita..+ tidak ada tempat untuk  berteduh.<br />
TAPI kalau kita merawat lingkungan sekolah khususnya  sekolahan jita sendiri niscaya dech pasti kita sekolah di situ pasti  nyaman dan tidak hanya kita saja tapi warga sekolah&#8230;^^</p>
<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_514" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/team.jpg"><img class="size-medium wp-image-514" title="team" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/team.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Gerakan Indonesia menanam merupakan agenda tahunan yang dicanangkan pemerintah untuk mengatasi krisis Global Warming. " width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">THE EARTH</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/dokumen-sekolah/'>DOKUMEN SEKOLAH</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/511/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=511&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/10/14/green-school-%e2%80%93-kul-kul-campus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/r-n-m.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">THE TEACHER</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/good.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">good</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2010/10/team.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">team</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/04/22/implementasi-manajemen-berbasis-sekolah/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/04/22/implementasi-manajemen-berbasis-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:20:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[http://www.raisulakbar.wordpress.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[A. Judul Penelitian IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA SMA NEGERI 1 SUKA MAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR B. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan Manjemen Berbasis Sekolah diimplementasikan dengan tujuan, meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=502&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Judul Penelitian</strong></p>
<p><strong>IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH</strong></p>
<p>PADA SMA NEGERI 1 SUKA MAKMUR</p>
<p>KABUPATEN ACEH BESAR</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Latar Belakang Masalah</strong></p>
<p>Pelaksanaan Manjemen Berbasis Sekolah diimplementasikan dengan tujuan, meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.</p>
<p>Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, sekolah dan pemerintah tentang suatu sekolah. Meningkatkan kompetisi yang sehat antara sekolah untuk mencapai mutu pendidikan yang diharapkan.</p>
<p>Dengan melihat pada tujuan Manajemen Berbasis Sekolah bahwa hal itu hanya akan dapat kita capai apabila diberdayakan secara maksimal semua sumber daya pendidikan yang ada di sekolah . Pemberdayaan semua potensi sumber daya yang ada pada sekolah secara maksimal untuk mencapai tujuan sekolah inilah yang dinamakan dengan kinerja sekolah.</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>1</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Adapun indikator &#8211; indikator yang ditetapkan sebagai ukuran dalam menilai Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada tiap &#8211; tiap sekolah , antara lain: Apakah proses pembelajaran efektif. Adakah kepemimpinan kepala sekolah yang kuat. Apakah sekolah memiliki teamwork yang efektif. Apakah sekolah memiliki kemandirian. Apakah terdapat partisipasi masyarakat pada sekolah dan sebaliknya. Apakah sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Apakah sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan. Apakah sekolah memiliki akuntabilitas. Apakah sekolah memiliki transparansi</p>
<p>Tentunya masih banyak lagi indikator yang masih terdapat dirumuskan sesuai dengan kebutuhan tiap &#8211; tiap daerah yang mempunyai karakteristik dan kebutuhan pembangunan daerah masing &#8211; masing. Misalnya saja suatu daerah perlu memasukkan kelestarian lingkungan atau perkembangan kesenian yang menjadi ciri khas daerahnya.</p>
<p>Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa dan dalam membangun watak bangsa. Pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan bangsa dan mengembangkan masyarakat Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, memiliki keterampilan dan pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan . Pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembangunan nasional yang ikut menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara.</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>1</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tekanan yang menuntut pertanggung jawaban mengenai relevansi dan mutu hasil pendidikan semakin besar. Ketidakpastian mengenai lowongan pekerjaan, kelangkaan sumber-sumber dan perlunya meneliti dengan cermat lembaga yang menerima pembiayaan juga menuntut pendidikan untuk memberikan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, dimana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh ketidakpastian. Dalam kerangka inilah pendidikan diperlukan dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju, demikian halnya bagi masyarakat Indonesia yang memiliki wilayah yang amat luas.</p>
<p>Kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bervariasi serta munculnya berbagai masalah mendorong pemerintah memperhatikan potensi daerah. Standarisasi bagi penyeragaman rencana yang terlalu terpusat menghambat Implementasi pembangunan karena cenderung akan berakibat pada ketidaksesuaian antara rencana pusat dan kebutuhan daerah masing-masing. Sejalan dengan arah kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi yang ditempuh pemerintah, tanggung jawab pemerintah daerah meningkat, salah satunya manajemen pendidikan. Wacana desentralisasi pendidikan muncul sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) tentang Otonomi Daerah. Pasal 11 Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 menyebutkan bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Kebijakan ini memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk memberdayakan pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat. Pemerintah daerah diharapkan senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam berbagai tahap pembangunan pendidikan, sejak tahap perumusan kebijakan daerah, perencanaan, Implementasi, sampai pemantauan di daerah masing-masing.</p>
<p>Manajeman Berbasis Sekolah (<em>School Based Management</em>) merupakan satu kajian yang banyak dibahas untuk mengubah sistem pendidikan yang sentralistik ke arah desentralistik. Desentralisasi pendidikan memberi kewenangan kepada sekolah dan masyarakat setempat untuk mengelola pendidikan. Dengan demikian dapat diharapkan tercapai peningkatan kerjasama antara kepala sekolah, guru, pegawai lainnya dan masyarakat, serta peningkatan kualitas dan produktivitas pendidikan. Hal tersebut juga akan membentuk kemandirian sekolah yang selama ini kurang ditekankan, sehingga fungsi-fungsi yang ada akan didesentralisasikan di sekolah.</p>
<p>Peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu di dukung kemampuan manajerial para kepala sekolah. Sekolah perlu berkembang maju dari tahun ke tahun. Karena itu, hubungan baik antar guru perlu diciptakan agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan. Demikian halnya penataan penampilan fisik dan manajemen sekolah perlu dibina agar sekolah menjadi lingkungan yang dapat menumbuhkan kreativitas, disiplin dan semangat belajar yang baik bagi peserta didik.</p>
<p>Implementasi manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien menuntut seorang kepala sekolah yang memiliki pandangan luas tentang sekolah dan pendidikan. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuh kembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar, dengan melakukan supervisi kelas, membina, dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Disamping itu, kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, dan studi banding antar sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah lain.</p>
<p>Implementasi manajemen berbasis sekolah juga menuntut guru untuk berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung peserta didik dikelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pelajaran. Guru juga harus mengorganisasikan kelasnya dengan baik mulai jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik, kebersihan dan ketertiban kelas, pengaturan tempat duduk peserta didik dan penempatan media pembelajaran pada tempatnya.</p>
<p>Implementasi manajemen berbasis sekolah yang ideal harus sesuai dengan karakteristik manajemen berbasis sekolah dan harus melalui tahap-tahap Implementasi manajemen berbasis sekolah. Perencanaan dan persiapan yang baik dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah akan membantu keberhasilan program tersebut. Hal itu akan menghasilkan mutu pendidikan yang semakin baik, ada kepedulian warga sekolah dan tanggung jawab sekolah pun akan semakin meningkat.</p>
<p>SMA Negeri 1 Suka Makmur adalah salah satu SMA di kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar yang menjadi sekolah rintisan manajemen berbasis sekolah. Kondisi sekolah yang strategis dan kondusif untuk belajar tepat untuk dijadikan SMA rintisan manajemen berbasis sekolah dan SMA Unggulan, sehingga dengan mempertimbangkan uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan penelitian dengan judul Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar.</p>
<p>C.  <strong>Rumusan Masalah</strong></p>
<p>Penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah harus di Implementasikan dalam setiap langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah melalui konsep Manajemen Berbasis Sekolah, hal tersebut adalah suatu konsep dalam pendidikan, sehingga perlu untuk melakukan suatu kajian untuk melihat Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar.</p>
<p>Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: <strong><em>Bagamanakah </em></strong><strong><em>Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar</em></strong><strong><em>?</em></strong></p>
<p><strong>D. </strong><strong>Tujuan Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah di sekolah dasar ini bertujuan untuk:</p>
<ol>
<li>Tahap-tahap implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.</li>
<li>Tugas kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.</li>
<li>Peran guru dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur.</li>
</ol>
<p><strong>E. </strong><strong>Pertanyaan Penelitian</strong></p>
<p>Pertanyaan penelitian dalam penelitian kualitatif ini. Pertanyaan penelitian akan membimbing arah proses penelitian agar tetap berada di jalur yang tetap. Dalam penelitian ini pertanyaan penelitian yang diajukan berasal dari rumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan di depan. Adapun pertanyaan penelitian tersebut</p>
<p>adalah :</p>
<ol>
<li>Bagaimana tahap-tahap implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur ?</li>
<li>Bagaimana tugas kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur?</li>
<li>Bagaimana peran guru dalam implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA Negeri 1 Suka Makmur?
<ol>
<li><strong>F. </strong><strong>Manfaat Penelitian</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Manfaat penelitian yang akan dirasakan sehubungan dengan Implementasi penelitian yang dilakukan adalah berupa sumbangan dan masukan bagi pengembangan disiplin ilmu Administrasi Pendidikan yang berkenaan dengan kajian manajemen Berbasis Sekolah, kebijakan pendidikan, , kepemimpinan pendidikan serta hubungan sekolah dengan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bantuan kepeda pihak lembaga bahwa penerapan MBS menuntut adanya pengolahan pendidikan secara lebih baik.</p>
<p><strong>G. </strong><strong>Landasan Teoretis</strong></p>
<p>Manajemen sekolah seringkali diartikan sebagai administrasi sekolah. Dalam berbagai kepentingan, pemakaian istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, demikian halnya dalam berbagai literatur, sering kali dipertukarkan. Berdasarkan fungsi pokoknya istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi perencanaan, Implementasi, pengawasan, dan pembinaan. Pidarta (1988: 15) mengungkapkan sesudah manajemen membuahkan aktivitas-aktivitas tertentu dalam lembaga pendidikan dengan program-programnya, sarananya, anggarannya, kriteria Implementasi dan keberhasilan dan petunjuk-petunjuk Implementasi, maka proses pendidikan dilaksanakan.</p>
<p>Sekolah dikatakan mampu mengimplentasikan MBS untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah harus memperhatikan <strong>faktor-faktor pendukung keberhasilan MBS</strong> yaitu Menurut Nurkholis (2003:264), ada enam faktor pendukung keberhasilan implementasi MBS. Keenamnya mencakup: <em>political will, </em>finansial, sumber daya manusia, budaya sekolah, kepemimpinan, dan keorganisasian.</p>
<p>Jika keenam faktor tersebut sudah terpenuhi maka akan dilihat dari <strong>ukuran keberhasilan pengimplentasian MBS</strong> seperti yang dikatakan Nurkholis (2003:271-282) menyatakan bahwa ukuran keberhasilan implemen-tasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari sembilan kriteria.</p>
<ol>
<li>jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakin meningkat.</li>
<li>kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik, yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan nonakademik siswa.</li>
<li>tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik. Maksudnya, rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Siswa yang tinggal kelas menurun karena :</li>
</ol>
<p>a)    siswa semakin semangat datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua dan lingkungannya.</p>
<p>b)   Pembelajaran di sekolah semakin baik karena kemampuan mengajar guru menjadi lebih menarik dan menyenangkan.</p>
<p>Aspek produktivitas sekolah meningkat disebabkan karena :</p>
<p>a)      Peningkatan efisiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah, dengan memberdayakan peran serta masyarakat, isntitusi, dan tenaga kependidikan secara demokratis dan efisien.</p>
<p>b)      Peningkatan efektivitas dengan tercapainya berbagai tujuan pendidikan yang diterapkan.</p>
<ol>
<li>Relevansi pendidikan semakin baik, karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat, baik dari aspek pengembangan kurikulum maupun sarana dan prasarana sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat.</li>
<li>Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata, tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Biaya pendidikan pada tingkat dan jenis pendidikan serupa antara daerah yang satu dengan daerah lainnya akan berlainan menurut kekuatan ekonomi warganya.</li>
<li>Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah, baik yang menyangkut keputusan instruksional maupun organisasional.</li>
<li>Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan.</li>
<li>Kesejahteraan guru dan staf sekolah membaik.</li>
<li>Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.</li>
</ol>
<p>Kesimpulan yang diperoleh dari uraian di atas adalah manajemen sekolah merupakan manajemen yang melaksanakan fungsi-fungsi manajamen sekolah. Implementasi fungsi-fungsi manajemen sekolah harus berjalan secara terpadu dan berkesinambungan.</p>
<p><strong>H. </strong><strong>Pendekatan Penelitian</strong></p>
<p>Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Bogdan dan Taylor yang dikutip Moleong (2002 : 3) mengungkapkan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskritif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.</p>
<p>Sedangkan Arikunto (1998: 245–247) membedakan penelitian kualitatif berdasarkan sifat dan analisis datanya menjadi dua jenis yaitu :</p>
<ol>
<li>Riset deskriptif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atas suatu fenomena</li>
<li>Riset deskriptif yang bersifat developmental digunakan untuk menemukan suatu mode atau prototipe</li>
</ol>
<p>Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang bersifat eksploratif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data yang dekriptif yang menggambarkan keadaan Implementasi manajemen berbasis sekolah.</p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>Subjek Penelitian</strong></li>
</ol>
<p>Menurut Arikunto (1998: 109) subyek penelitian mempunyai kedudukan sangat sentral, karena pada subyek penelitian itulah data tentang variabel yang diteliti berada dan diamati oleh peneliti.</p>
<p>Arikunto (2000 : 116 ) mengungkapkan subyek penelitian adalah benda, hal, orang atau tempat data untuk variabel penelitian melekat dan dipermasalahkan. Penelitian kualitatif selalu bertolak dari asumsi tentang realita sosial yang bersifat unik, komplek dan ganda.</p>
<p>Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan 8 guru di SMA Negeri 1 Suka Makmur yaitu subyek yang terlibat secara langsung dan sebagai pelaksana manajemen berbasis sekolah di SMA ini. Subyek-subyek tersebut harus dipandang sebagai informan dan bukan sebagai responden.</p>
<ol>
<li><strong>J. </strong><strong>Teknik Pengumpulan Data</strong></li>
</ol>
<p>Metode pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam penelitian, sebab data yang terkumpul akan dijadikan sebagai bahan analisa penelitian. Metode pengumpulan data erat kaitannya dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan. Dalam penelitian metode maupun alat pengumpulan data yang tepat (sesuai) dapat membantu pencapaian hasil (pemecahan masalah) yang valid dan reliable. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap subyek penelitian.</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Pengamatan atau observasi nonpartisipan</strong></li>
</ol>
<p>Penelitian ini menggunaan metode pengamatan atau observasi nonpartisipan. Menurut Nawawi (1991: 100) observasi bias diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang nampak pada obyek penelitian. Nawawi (1991: 104) mengungkapkan bahwa observasi nonpartisipan yaitu observer tidak ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat. Peneliti dalam penelitian ini tidak dapat bertindak untuk mengendalikan jalannya situasi tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah.</p>
<p>Penggunaan metode ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan, ruang peralatan, para pelaku dan juga aktivitas sosial yang sedang berlangsung dan yang berhubungan dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah yaitu karakteristik manajemen berbasis sekolah, tahaptahap Implementasi manajemen berbasis sekolah, fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah, peran kepala sekolah dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah dan peran guru dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah di SMA ini yang tidak bisa terungkap dalam metode wawancara.</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Wawancara</strong></li>
</ol>
<p>Moleong (2002: 135) mengungkapkan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh 2 pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yaitu pihak yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.</p>
<p>Teknik wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada kepala sekolah dan guru untuk mengungkap seputar Implementasi manajemen berbasis sekolah meliputi karakteristik manajemen berbasis sekolah, tahap-tahap Implementasi manajemen berbasis sekolah, fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah, tugas kepala sekolah dan peran guru dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah.. Teknik ini juga untuk mengkonfirmasikan tentang data yang diperoleh dari obsevasi.</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Dokumentasi</strong></li>
</ol>
<p>Moleong mengungkapakan bahwa dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film lain dari rekaman yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan dari seorang penyelidik. Dalam penelitian ini teknik dokumentasi berfungsi sebagai pelengkap data yang digunakan untuk memperoleh data berupa dokumen-dokumen berupa format strategi implementasi dan perangkat Implementasi manajemen berbasis sekolah.</p>
<p><strong>K. </strong><strong>Teknik Analisis Data</strong></p>
<p>Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode non statistik yaitu analisis data deskriptif artinya dari data yang diperoleh melalui penelitian tentang Implementasi manajemen berbasis sekolah dilaporkan apa adanya kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai fakta yang ada.</p>
<p>Hal ini dilakukan karena penelitian ini tidak mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Menurut Nasution (1996 : 129) analisis data yang dianjurkan ialah mengikuti langkah-langkah yang masih bersifat umum yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian atau display data dan (3) pengambilan kesimpulan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Reduksi data</strong></li>
</ol>
<p>Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian atau laporan yang terinci. Laporan ini akan terus menerus bertambah dan akan menambah kesulitan bila tidak segera dianalisis sejak mulanya. Laporan itu perlu direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema atau polanya. Jadi laporan lapangan sebagai bahan yang disingkatkan, direduksi dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan. Reduksi data dapat pula membantu dalam memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, penyederhanaan dan transformasi data kasar yang diperoleh dari catatan lapangan. Reduksi data berlangsung terus-menerus selama proses penelitian berlangsung. Peneliti melaksanakan pemilihan data yang diperoleh dari wawancara, pengamatan dan pengumpulan dokumendokumen yang relevan tersebut.</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Penyajian Data</strong></li>
</ol>
<p>Penyajian data merupakan penyusunan sekumpulan informasi dari reduksi data yang kemudian disajikan dalam laporan yang sistematis dan mudah dipahami.</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Pengambilan Kesimpulan</strong></li>
</ol>
<p>Pada tahap ini peneliti mengambil kesimpulan terhadap data yang telah direduksi ke dalam laporan secara sistematis dengan cara membandingkan, menghubungkan, dan memilih data yang mengarah pada pemecahan masalah serta mampu menjawab permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai.</p>
<p><strong>L. </strong><strong>Rancangan Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 10 bulan dengan jadwal kegiatan tampak pada tabel berikut</p>
<p><em>Tabel 1</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="558">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="36">No</td>
<td rowspan="2" width="144">Agenda kegiatan</td>
<td width="38" valign="top"></td>
<td colspan="9" width="340">Tahun 2010</p>
<p>Bulan Implementasi</td>
</tr>
<tr>
<td width="38">Mar</td>
<td width="38">Apr</td>
<td width="38">Mai</td>
<td width="38">Jun</td>
<td width="38">Jul</td>
<td width="38">Ags</td>
<td width="38">Sep</td>
<td width="38">Nov</td>
<td width="38">Des</td>
<td width="38">Jan</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">1.</td>
<td width="144">Observasi awal</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">2.</td>
<td width="144">Penyusunan proposal</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">3.</td>
<td width="144">Seminar proposal</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">4.</td>
<td width="144">Perbaikan proposal</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">5.</td>
<td width="144">Persiapan Bab II</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">6.</td>
<td width="144">Pengumpulan data</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">7.</td>
<td width="144">Pengolahan data</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">8.</td>
<td width="144">Analisis data</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">9.</td>
<td width="144">Sidang tesis</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38"></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">10.</td>
<td width="144">Revisi /cetak hasil    penelitian</td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38"></td>
<td width="38">X</td>
<td width="38">X</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>M. </strong><strong>Instrumen Penelitian</strong></li>
</ol>
<p>Moleong (2002: 19) mengungkapkan bahwa instrumen penelitian adalah alat pengumpul data dalam penelitian. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan instrumen berupa lembar observasi, pedoman wawancara dan dokumen untuk mengumpulkan data.</p>
<p>Instrumen penelitian adalah (1) peneliti sendiri (2) melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik dalam proses penelitian; (3) menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan nilai kepercayaan akan kebenaran data yang diperoleh, (4) <em>member check</em>, pengecekan terhadap hasil-hasil yang diperoleh guna perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dalam memberikan data yang dibutuhkan peneliti.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/httpwww-raisulakbar-wordpress-com/'>http://www.raisulakbar.wordpress.com</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=502&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/04/22/implementasi-manajemen-berbasis-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/07/500/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/07/500/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 11:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[my job]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[ANALISIS RAPBS DAN SOLUSI UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN ADALAH: Setiap sekolah dalam merancang dan melaksanakan program harus dituangkan dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS), yang dalam penyusunan dan pelaksanaannya harus menerapkan prinsip akuntabilitas, transparansi dan melibatkan partisipasi setiap warga sekolah khususnya guru-guru, yang pada akhirnya ikut bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=500&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>ANALISIS RAPBS DAN SOLUSI UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN ADALAH:</li>
</ol>
<p>Setiap sekolah dalam merancang dan melaksanakan program harus dituangkan dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS), yang dalam penyusunan dan pelaksanaannya harus menerapkan prinsip akuntabilitas, transparansi dan melibatkan partisipasi setiap warga sekolah khususnya guru-guru, yang pada akhirnya ikut bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisasi pengaruh akuntabilitas, transparansi dan partisipasi alam penyusunan RAPBS terhadap kualitas pelayanan sekolah . Dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntabilitas dalam penyusunan RAPBS berpengaruh positif, langsung, dan signifikan terhadap partisipasi guru-guru dalam penyusunan RAPBS, begitu juga partisipasi guru-guru terhadap transparansi, dan partisipasi guru-guru terhadap kualitas pelayanan sekolah, serta transparansi penyusunan RAPBS terhadap kualitas pelayanan sekolah, serta transparansi penyusunan RAPBS terhadap kualias pelayanan sekolah mempunyai hubungan kausalitas. Sedangkan [engaruh tidak langsung ditunjukan oleh variabel akuntabilitas terhadap partisipasi dan partisipasi terhadap kualitas pelayanan sekolah.</p>
<p>Banyak sekolah yang menginginkan agar mutu pendidikan bisa lebih meningkat. Namun tak sedikit orangtua siswa yang mengeluh karena harus dibebani berbagai iuran tak wajib yang memberatkan peserta didik. Agar tidak lagi ditemui permasalahan tersebut, Dinas Pendidikan mengingatkan agar dalam penyusunan rancangan anggaran pendapatan belanja sekolah (RAPBS)  lebih berdasarkan kebutuhan bukan keinginan sekolah. Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) harus berdasarkan pada rencana pengembangan sekolah dan merupakan bagian dari rencana operasional tahunan. RAPBS meliputi penganggaran untuk kegiatan pengajaran, materi kelas, pengembangan profesi guru, renovasi bangunan sekolah, pemeliharaan, buku, meja dan kursi.</p>
<ol>
<li><strong>A. </strong><strong>Prinsip Penyusunan RAPBS</strong></li>
</ol>
<p>RAPBS harus benar-benar difokuskan pada peningkatan pembelajaran murid secara jujur, bertanggung jawab, dan transparan.</p>
<p>RAPBS harus ditulis dalam bahasa yang sederhana dan jelas, dan dipajang di tempat terbuka di sekolah.</p>
<p>Dalam menyusun RAPBS, sekolah sebaiknya secara saksama memprioritaskan pembelanjaan dana sejalan dengan rencana pengembangan sekolah.</p>
<ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Proses Penyusunan RAPBS</strong></li>
</ol>
<p>Langkah berikut biasa dipertimbangkan dalam menyusun sebuah RAPBS:</p>
<ul>
<li>menggunakan tujuan jangka      menengah dan tujuan jangka pendek yang ditetapkan dalam rencana      pengembangan sekolah,</li>
<li>menghimpun, merangkum, dan      mengelompokkan isu-isu dan masalah utama ke dalam berbagai bidang yang      luas cakupannya,</li>
<li>menyelesaikan analisis      kebutuhan,</li>
<li>memprioritaskan       kebutuhan,</li>
<li>mengonsultasikan rencana aksi      yang ditunjukkan/dipaparkan dalam rencana pengembangan sekolah,</li>
<li>mengidentifikasi dan      memperhitungkan seluruh sumber pemasukan,</li>
<li>menggambarkan rincian (waktu,      biaya, orang yang bertanggung jawab, pelaporan, dsb.), dan</li>
<li>mengawasi serta memantau      kegiatan dari tahap perencanaan menuju tahap penerapan hingga evaluasi.</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>C. </strong><strong>Pengelolaan Anggaran Sekolah</strong></li>
</ol>
<p>Pengelola anggaran sekolah biasanya adalah kepala sekolah, tetapi bisa juga guru berpengalaman (senior) atau anggota komite sekolah. Di sekolah-sekolah yang lebih besar, mungkin ada pihak lain yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sebagian anggaran.Secara khusus, pengendalian anggaran terdiri dari serangkaian kegiatan pemeriksaan dan persetujuan untuk memastikan bahwa:</p>
<ul>
<li>dana dibelanjakan sesuai      rencana,</li>
<li>ada kelonggaran dalam      penganggaran untuk pembayaran pajak,</li>
<li>pembelanjaan dilakukan dengan      memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan</li>
<li>dana tidak dihabiskan untuk      kegiatan-kegiatan yang tidak disetujui atau diberikan kepada pihak      penerima tanpa persetujuan.</li>
</ul>
<p>Hasil analisis kebutuhan secara logis diklasifikasikan ke dalam kelompok staf, materi kurikulum, barang, jasa, pemeliharaan bangunan, dsb.Pengelola anggaran sekolah diharapkan membelanjakan uang sesuai alokasi dana yang direncanakan. Setiap perubahan anggaran harus disetujui oleh komite sekolah bila memang harus ada perubahan dalam tahun berjalan.Pengendalian Anggaran</p>
<p><em>Pengendalian anggaran dilakukan untuk memastikan adanya:</em></p>
<ul>
<li>pengelolaan dana yang jujur,</li>
<li>penyesuaian antara pengeluaran      dengan tujuan jangka menengah sekolah, tujuan jangka pendek sekolah, dan      rencana-rencana lainnya,</li>
<li>transparansi, dan</li>
<li>upaya menghindari pembelanjaan      berlebih.</li>
</ul>
<p>Kegiatan pengendalian anggaran meliputi rencana penerapan anggaran, catatan transaksi pemasukan dan pengeluaran (pembukuan), serta pelaporan yang transparan dan akurat (akuntabilitas).</p>
<ol>
<li><strong>D. </strong><strong>Aturan Umum dalam Pembukuan</strong></li>
</ol>
<p>Setiap transaksi harus didukung dengan bukti yang sah (kuitansi). Semua transaksi dicatat sesuai urutan waktu (kronologis).Setiap halaman buku kas umum harus dilengkapi kepala surat/kop, kolom catatan, nomor halaman, dan nama bulan.Setiap sisi halaman harus diparaf oleh kepala sekolah dan bendahara komite sekolah.Pada akhir setiap bulan, buku kas umum ditutup dengan membandingkan saldo yang tercatat pada buku kas dan saldo di rekening bank.</p>
<p>2.  SPESIFIKASI ANGGARAN DAN LANGKAH-LANGKAH DALAM PENYEDIAN BIAYA PENDIDIKAN ADALAH:</p>
<p><strong>Sumber Dana Pendidikan</strong></p>
<p>Lembaga pendidikan dalam melaksanakan tugasnya menerima dana dari berbagai sumber. Penerimaan dari berbagai sumber tersebut perlu dikelola dengan baik dan benar. Banyak pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan penerimaan keuangan pendidikan, namun dalam pelaksanaannya pendekatan-pendekatan tersebut memiliki berbagai persamaan. Sumber-sumber dana pendidikan antara lain meliputi: Anggaran rutin (DIK); Anggaran pembangunan (DIP); Dana Penunjang Pendidikan (DPP); Dana BP3; Donatur; dan lain-lain yang dianggap sah oleh semua pihak yang terkait. Pendanaan pendidikan pada dasarnya bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun 1989).</p>
<p><strong>Langkah yang ditempuh untuk penyediaan biaya pendidikan adalah:</strong></p>
<p>Partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan sekolah sudah menjadi hal yang umum dibicarakan, baik di negara maju maupun negara berkembang.  Dalam teori pengembangan sekolah di era desentralisasi, ada tiga segitiga stakeholder yang harus dibangun, yaitu kerjasama sekolah, orang tua dan masyarakat.</p>
<p>Partisipasi masyarakat seakan menjadi kata kunci untuk memecahkan masalah di sekolah. Pemerintah di negara manapun, dengan dalih mengembalikan lembaga sekolah kepada pemilik utamanya yaitu masyarakat, menggembar-gemborkan ide ini.  Tapi sebenarnya ada sebuah misi utama dibalik propaganda ini, yaitu meringankan beban keuangan pemerintah dengan mengajak masyarakat untuk menyediakan dana lebih dalam pengembangan sekolah.</p>
<p>Misi ini di beberapa kasus menunjukkan keberhasilannya, tapi ketika situasi ekonomi pun mencekik rakyat, maka kebijakan melibatkan masyarakat dalam pengembangan sekolah yang bermakna `pendanaan` kelihatannya kurang bijak.</p>
<p>Amerika dan beberapa negara pengusung konsep SBM (School Based Management) yang menjadi titik awal keterlibatan masyarakat di sekolah, tegas menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dan masyarakat adalah dalam bentuk pengembangan finansial, kurikulum dan personalia.  Dalam hal ini masyarakat menjadi penentu keberhasilan sekolah, demikian pula masa depan guru dan tenaga administrator sekolah.</p>
<p>Saat ini, kegiatan pendidikan sumber pendanaannya diambil dari APBN dan APBD. Jika dari dua sumber itu masih kurang maka akan dicarikan solusi. Bisa saja dengan melibatkan peran serta masyarakat, komite, para alumni, dunia usaha, dan sebagainya. &#8220;Tentu partisipasi tersebut harus disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,&#8221;</p>
<p>Prinsipnya adalah, RAPBS harus disusun berdasarkan analisis kebutuhan bukan keinginan. Kemudian harus melalui azas musyawarah mufakat. Selain itu harus ada subsidi silang dan dicarikan solusi bagi peserta didik yang tidak mampu. Yang tak kalah pentingnya adalah, sekolah dilarang mengeluarkan siswa hanya karena faktor keuangan atau yang bersangkutan dari keluarga tidak mampu.</p>
<p>Terkait hal tersebut, sejatinya pihak sekolah  boleh meminta dukungan materi dari para orangtua murid. Akan tetapi sifatnya tidak memaksa. Ini untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan dan subsidi bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mengenai besar kecilnya, tergantung dari kebutuhan sekolah masing-masing. Karena sekolah diberi kewenangan untuk menyusun RAPBS sesuai dengan manajemen yang berbasis sekolah.</p>
<p>Pihaknya berharap, karena saat ini perhatian pemerintah sudah semakin baik, maka hendaknya iuran bagi peserta didik baru (IPDB) seyogyanya semakin mengecil. Tentunya dengan tetap memperhatikan kualitas pelayanan pendidikan. Sebagai contoh, saat ini guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi, harusnya diimbangi dengan peningkatan profesionalitas dalam mengajar. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas perhatian pemerintah terhadap kesra guru.</p>
<p>Selain membahas program sekolah, juga akan disinggung mengenai bantuan bagi siswa tak mampu. Saat ini, Sudin Dikmen  menyiapkan subsidi bagi siswa yang tak mampu dalam bentuk beasiswa. Jumlah murid yang menerima beasiswa ditargetkan meningkat menjadi 20 persen dari sebelumnya 15 persen dari keseluruhan siswa di Kabupaten.<br />
3. CONTOH DARI BALANCE SCORECARD ADALAH:</p>
<p>Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan perubahan besar luar biasa dalam persaingan, produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, dan penanganan transaksi antara perusahaan dengan pelanggan dan perusahaan dengan perusahaan lain. Persaingan yang bersifat global dan tajam menyebabkan terjadinya penciutan laba yang diperoleh perusahaan-perusahaan yang memasuki persaingan tingkat dunia. Hanya perusahaan-perusahaan yang memiliki keunggulan pada tingkat dunia yang mampu memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen, mampu menghasilkan produk yang bermutu, dan cost effevtive (Mulyadi, 1997).</p>
<p>Perubahan-perubahan tersebut mendorong perusahaan untuk mempersiapkan dirinya agar bisa diterima di lingkungan global. Keadaan ini memaksa manajemen untuk berupaya menyiapkan, menyempurnakan ataupun mencari strategi-strategi baru yang menjadikan perusahaan mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan tingkat dunia. Oleh karena itu perusahaan dalam hal ini manajemen harus mengkaji ulang prinsip-prinsip yang selama ini digunakan agar dapat bertahan dan bertumbuh dalam persaingan yang semakin ketat untuk dapat menghasilkan produk dan jasa bagi masyarakat.</p>
<p>Kunci persaingan dalam pasar global adalah kualitas total yang mancakup penekanan-penekanan pada kualitas produk, kualitas biaya atau harga, kualitas pelayanan, kualitas penyerahan tepat waktu, kualitas estetika dan bentuk-bentuk kualitas lain yang terus berkembang guna memberikan kepuasan terus menerus kepada pelanggan agar tercipta pelanggan yang loyal (Hansen dan Mowen, 1999). Sehingga meningkatnya persaingan bisnis memacu manajemen untuk lebih memperhatikan sedikitnya dua hal penting yaitu &#8220;keunggulan&#8221; dan &#8220;nilai&#8221;.</p>
<p>Penilaian atau pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam perusahaan. Selain digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan, pengukuran kinerja juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan sistem imbalan dalam perusaan, misalnya untuk menentukan tingkat gaji karyawan maupun reward yang layak. Pihak manajemen juga dapat menggunakan pengukuran kinerja perusahaan sebagai alat untuk mengevaluasi pada periode yang lalu.</p>
<p>Pemakaian penilaian kinerja tradisional yaitu ROI, Profit Margin dan Rasio Operasi sebetulnya belum cukup mewakili untuk menyimpulkan apakah kinerja yang dimiliki oleh suatu perusahaan sudah baik atau belum. Hal ini disebabkan karena ROI, Profit Marjin dan Rasio Operasi hanya menggambarkan pengukuran efektivitas penggunaan aktiva serta laba dalam mendukung penjualan selama periode tgertentu. Ukuran-ukuran keuangan tidak memberikan gambaran yang riil mengenai keadaan perusahaan karena tidak memperhatikan hal-hal lain di luar sisi finansial misalnmya sisi pelanggan yang merupakan fokus penting bagi perusahaan dan karyawan, padahal dua hal tersebut merupakan roda penggerak bagi kegiatan perusahaan (Kaplan dan Norton, 1996).</p>
<p>Dalam akuntansi manajemen dikenal alat analisis yang bertujuan untuk menunjang proses manajemen yang disebut dengan Balanced Scorecard yang dikembangkan oleh Norton pada tahun 1990. <em>Balanced Scorecard</em> merupakan suatu ukuran yang cukup komprehensif dalam mewujudkan kinerja, yang mana keberhasilan keuangan yang dicapai perusahaan bersifat jangka panjang (Mulyadi dan Johny Setyawan, 1999). <em>Balanced Scorecard</em> tidak hanya sekedar alat pengukur kinerja perusahaan tetapi merupakan suatu bentuk transformasi strategik secara total kepada seluruh tingkatan dalam organisasi. Dengan pengukuran kinerja yang komprehensif tidak hanya merupakan ukuran-ukuran keuangan tetapi penggabungan ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan maka perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan lebih baik.</p>
<p><strong>PENILAIAN KINERJA DAN BALANCED SCORECARD</strong></p>
<p>Kinerja adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki (Helfert, 1996).</p>
<p>Kinerja merupakan suatu istilah secara umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang diproyeksikan, dengan dasar efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya.</p>
<p>Adapun kinerja menurut Mulyadi adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.</p>
<p>Tujuan utama dari penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personal dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memenuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi (Mulyadi dan Johny setyawan, 1999).</p>
<p>Penilaaian kinerja dapat digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semstinya dan untuk merangsang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan, melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta pemberian penghargaan, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.</p>
<p>Dengan adanya penilaian kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang obyektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggungjawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat membentuk motivasi dan rangsangan pada masing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien.</p>
<p>Menurut Mulyadi penilaian kinerja dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk:</p>
<ul>
<li>Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.</li>
<li>Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawannya seperti promosi, pemberhentian, mutasi.</li>
<li>Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.</li>
<li>Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengeai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka.</li>
<li>Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.</li>
</ul>
<p>Balanced scorecard dapat digunakan sebagai alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang lebih komprehensif dan tidak hanya bertumpu pada pengukuran atas dasar perspektif keuangan saja. Hal ini terbukti dengan adanya manfaat-manfaat yang dirasakan oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkannya.</p>
<p>﻿</p>
<br />Filed under: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/dokumen-sekolah/'>DOKUMEN SEKOLAH</a>, <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/my-job/'>my job</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/500/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=500&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/07/500/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DIMENSI ECONOMIC AND FINANCE  DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/04/dimensi-economic-and-finance-dalam-pengembangan-pendidikan/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/04/dimensi-economic-and-finance-dalam-pengembangan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 17:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[DIMENSI ECONOMIC AND FINANCE DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKA A. Pendekatan Sistem Di dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar dan mengucapkan kata &#8220;sistem&#8221;. Kurikulum TK sampai SLTA sesuai SK Menteri P dan K No. 08/U/1975 pun menggunakan pendekatan sistem yang dikenal dengan nama PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).Kata &#8220;sistem&#8221; sering agak keliru diartikan. Misalnya ada yang menganggap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=497&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DIMENSI ECONOMIC AND FINANCE </strong></p>
<p><strong>DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKA</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>A. </strong><strong>Pendekatan Sistem</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Di dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar dan mengucapkan kata &#8220;sistem&#8221;. Kurikulum TK sampai SLTA sesuai SK Menteri P dan K No. 08/U/1975 pun menggunakan pendekatan sistem yang dikenal dengan nama PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).Kata &#8220;sistem&#8221; sering agak keliru diartikan. Misalnya ada yang menganggap &#8220;sistem&#8221; sama dengan&#8221;cara&#8221;. Pada hal &#8220;sistem&#8221; bukanlah berarti &#8220;cara&#8221;.Konsep untuk memahami arti &#8220;sistem&#8221;, terlebih danulu perlu dipahami beberapa istilah yang bersangkut erat dengan &#8220;sistem&#8221; sebagai berikut: Sistem: Suatu gabungan dari komponen-komponen yang terorganisir seba¬gai suatu kesatuan, dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Contoh: sebuah &#8220;sekolah&#8221; (yang menjadi titik perhatian kita) adalah suatu &#8220;sistem&#8221;. Sekolah terdiri atas murid, guru, kurikulum, gedung, kese¬muanya bertali-erat satu sama lain untuk mencapai tujuan.&#8221;instruksional&#8221; atau kelembagaan.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Definisi Sistem</span></em></p>
<p>Sesuai dengan pengertian di atas, suatu &#8220;sistem&#8221; adalah merupakan jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerja bersama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasar atas kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap &#8220;sistem&#8221; pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari komponen-komponen adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tu¬juan tersebut. .Contoh: Pemerintah, Sekolah, Pendidikan. Unsur-unsur suatu sistem: (1) Input (masukan) misalnya: sumber, biaya, personel dan (2) Output (keluaran) misalnya: hasil, produk, atau keuntungan.</p>
<p>Supra Sistem: Suatu sistem yang kompleks yang mencakup lebih dari satu sistem sebagai komponennya. Sub Sistem: Suatu kesatuan atau kumpulan kesatuan yang merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar yang bisa dibedakan dengan maksud untuk keperluan observasi atau mempelajarinya. Sistem Terbuka: Suatu sistem yang dapat menerima input misalnya berupa informasi dari luar sistem tersebut.</p>
<p>Sistem Tertutup: Suatu sistem yang tertutup untuk menerima input informasi yang datang dari luar. Feedback (Umpan balik): Informasi yang diperoleh dari hasil pelaksanaan sebelumnya yang berguna untuk perbaikan. Informasi ini berlangsung terus-menerus se¬panjang proses berjalan. Hierarch : Sekelompok orang, barang atau kegiatan yang diatur secara ber¬tingkat, grup atau kelas. Output (Keluaran): Hasil konversi dari proses suatu sistem yang dihitung sebagai hasil, produk atau keuntungan.</p>
<p>Proses: Penerapan suatu cara dan sarana untuk mencapai suatu hasil atau produk.Produk: Hasil atau produk akhir.Systems Approach (Pendekatan Sistem): Suatu proses yang dengannya kebutuhan diidentifikasi, problem dipilih, syarat-syarat pemecahan problem diidentifikasi, pemecahan dipilih dari beberapa alternatif, metode dan alat dicari dan diterapkan, hasil dievaluasi, dan revisi yang diperlukan terhadap seluruh bagian dari sistem tersebut dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga kebutuham ter¬ebut dapat tercapai. Dengan memahami arti istilah-istilah tersebut di atas, maka penger¬tian sistem secara lebih mendalam dapat dicapai misalnya tentang defi¬nisi, unsur, sifat, tingkat, dan kegunaannya dalam penyusunan planning.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Model Budget Untuk Pembiayaan Pendidikan</strong></p>
<p>Sebagai manusia, kita semua menyadari, bahwa ada hal-hal yang kita tak mampu untuk mengontrolnya. Namun kita pun menyadari, banyak juga hal-hal yang kita mampu untuk mengontrolnya. Dalam hal ini pendekatan sistem (systems approach) memberikan kepada kita suatu alat untuk menganalisis, untuk mengidentifikasi, dan memecahkan masalah sesuai dengan yang kita inginkan, dengan menggunakan perencanaan yang sistematis; Suatu perencanaan yang sistematik mempunyai daya ramal dan kon¬trol yang baik. Proses ini dapat berjalan baik karena kita; Merumuskan secara spesifik dan nyata akan kebutuhan (need assissment); Menggunakan logika, proses setapak demi setapak, untuk menuju perobahan yang diharapkan; Memperhatikan macam-macam pendekatan dan memilih yang lebih sesuai dengan situasi dan kondisi; Menetapkan mekanisme &#8220;feedback&#8221; yang memberitahukan kemajuan kita, identifikasi hambatan-hambatan dan menunjuk¬ kan perubahan-perubahan yang diperlukan; dan Menggunakan istilah dan langkah yang jelas , mudah dikomunikasikan dan dipahami orang lain. Meskipun banyak keuntungannya, planning tersebut pun mempunyai kelemahan antara lain Menghabiskan waktu, tenaga dan biaya; Keadaan bisa berubah disaat proses sedang berjalan.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Model-Model Perencanaan Secara Sistematis</span></em></p>
<p>Suatu perencanaan secara sistematis pada hakekatnya sama dengan proses pemecahan masalah secara umum (ageneral problem-solving process).Sebuah model menurut Kaufman (1979) adalah sebagai berikut: Diagram 1. Model Perencanaan menurut Kaufman. Sesuai dengan model tersebut, langkah-langkah suatu perencanaan yang sistematis adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Identifikasi masalah berdasarkan kebutuhan.</li>
<li>Tentukan syarat-syarat dan altematif pemecahannya.</li>
<li>Pilih strategi pemecahannya.</li>
<li>Laksanakan strategi yang telah dipilih untuk mencapai hasil yang diharapkan.</li>
<li>Tentukan efektifitas hasilnya dengan jalan mengadakan evaluasi.</li>
<li>Adakan revisi bila perlu pada setiap langkah dari proses tersebut.<strong> C.</strong><strong>Line Item</strong></li>
</ol>
<p>Ciri lain anggaran tradisional adalah struktur anggaran bersifat line-item yang didasarkan atas dasar sifat (nature) dari penerimaan dan pengeluaran. Metode line-item budget tidak memungkinkan untuk menghilangkan item-item penerimaan atau pengeluaranyang telah ada dalam struktur anggaran, walaupun sebenarnya secara riil item tertentu sudah tidak relevan lagi untuk digunakan pada periode sekarang. Karena sifatnyayang demikian, penggunaan anggaran tradisional tidak memungkinkan untuk dilakukan penilaian kinerja secara akurat, karena satu-satunya tolok ukuryang dapat digunakan adalah semata-mata pada ketaatan dalam menggunakan dana yang diusulkan.</p>
<p>Penyusunan anggaran dengan menggunakan struktur line-item dilandasi alasan adanya orientasi sistem anggaran yang dimaksudkan untuk mengontrol pengeluaran. Berdasarkan hal tersebut, anggaran tradisional disusun atas dasar sifat penerimaan dan pengeluaran, seperti misalnya pendapatandari pemerintah atasan, pendapatan dari pajak, atau pengeluaran untuk gaji, pengeluaran untuk belanja barang, dan sebagainya, bukan berdasar pada tujuan yang ingin dicapai dengan pengeluaran yang dilakukan</p>
<p><strong>D. </strong><strong>Strategi Pembiayaan pendidikan Dan Pemborosan Anggaran</strong></p>
<p>Dengan pelaksanaan APBA/APBK tersebut. Selama ini, proses penyusunan, pembahasan sampai pada penetapan APBA/ APBK dan LKPJ, umumnya perhatian lebih terfokus pada besarnya anggaran. Padahal sejak diberlakukannya Kepmendagri No. 29 tahun 2002 yang sudah diganti dengan Permendagri No 13 tahun 2006 dan diubah lagi dengan Permendagri No 59 Tahun 2007, yang mengatur tentangpedoman pengelolaan keuangan daerah, sistem yang dianut dalam APBD adalah anggaran yang berbasis kinerja. Artinya penyusunan, pembahasan, penetapan sampai pengawasan pelaksanaan anggaran tidak cukup dengan hanya melihat besar kecilnya anggaran yang merupakan masukan, tapi juga harus memperhatikan kinerja anggaran tersebut yang meliputi capaian kinerja, keluaran, hasil danmanfaat serta tepat tidaknya kelompok sasaran kegiatan yang dibiayai anggaran tadi. Kesenjangan dalam dataran peraturan dan pelaksanaan ini harus menjadi pendorong bagi optimalisasi fungsi DPRD agar semakin memainkan peran penting dalam menjadikan APBD yang senantiasa berpihak kepada kepentingan rakyat. Penyusunan anggaran Dalam PP No 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah dijelaskan bahwa penerapan anggaran berbasis kinerja mengandung makna setiap penyelenggara Negara berkewajiban untuk bertanggung jawab atas hasil proses dan penggunaan sumber dayanya, agar setiap program dan kegiatan pemerintahan yang didanai dengan dana publik dapat dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya.</p>
<p>Dengan pemahaman seperti itu maka penerapan anggaran berbasis kinerja harus diawali sejak dimulainya penyusunan anggaran. Untuk itu, beberapa prinsip dasar dalam penyusunan anggaran perlu diperhatikan. Pertama, transparan, setiap dokumen Pelaksanaan Penganggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (DPA-SKPD)- sebagai bagian dari APBA/APBK- hendaknya Evaluasi Anggaran Berbasis Kinerja Oleh: dapat memberikan informasi yang jelas tentang kelompok sasaran, capaian kinerja, masukan, keluaran, hasil dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Dengan transparansi itu, akan membuat semua pihak bisa memberikan penilaian secara terbuka baik terhadap program dan kegiatan maupun pengalokasian anggarannya. Kedua, partisipatif, harus dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua lapisan masyarakat untuk bisa berpartisipasi dalam setiap proses penganggaran demi menjamin adanya kesesuaian antar kebutuhan dan aspirasi masyarakat dengan peruntukan anggaran. Prinsip partisipatif ini sekaligus juga untuk mencegah dan menemukan sedini mungkin praktek korupsi dalam proses penganggaran. Namun, bila hanya sekelompok kecil masyarakat yang memanfaatkan peluang ini tidak tertutup kemungkinan juga akan melahirkan praktek “korupsi berjama’ah”. Karena itu, keterbukaan kesempatan ini perlu dibarengi dengan memberikan motivasi berpartisipasi kepada semua lapisan masyarakat, untuk menghindari dominasi kelompok masyarakat tertentu dalam proses anggaran. Ketiga, disiplin, penyusunan anggaran harus menunjukkan disiplin anggaran dengan klasifikasi yang jelas dari setiap komponen kegiatan. Termasuk juga dalam prinsip ini adalah disiplin waktu.</p>
<p>APBD akan berdampak besar terhadap geliat ekonomi masyarakat, terutama sektor riil dan sektor konsumsi sebab APBD merupakan salah satu stimulus penting bagi bangkitnya perekonomian rakyat. APBD molor berarti akan banyak proyek insfrastruktur yang terbengkalai karena dana tidak cair, tunjangan pegawai negeri dan pembayaran gaji guru honor dan gaji pegawai honorer lainnya juga bakal tak terbayar karena menunggu pengesahan APBA. Keempat, keadilan, pengalokasian anggaran melalui perencanaan kegiatan harus adil dan bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.. Kelima, efesiensi dan efektifitas, setiap kegiatan yang direncanakan harus mempertimbangkan efektifitas dalam pencapaian kinerjanya dan efisien dalam pengalokasian anggarannya. Keenam, rasional dan terukur, capaian kinerja dan anggaran yang dialokasikan dalam setiap kegiatan harus rasional dan terukur. Apabila keenam prinsip dasar penyusunan anggaran ini sudah bisa dilaksanakan maka pada tahap pelaksanaan anggarannya relative akan lebih mudah dilakukan pengawasan.</p>
<p>Kedua, evaluasi terhadap ketentuan peraturan dan prosedur yang ditetapkan dalam pelaksanaan APBD, misalnya proses pengadaanbarang/jasa, proses pemilihanpenyedia barang/jasa, proses penetapan standar harga barang/jasa dan lain-lain. Apakah ketentuanketentuan tersebut sudah sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi atau justru malah bertentangan. Ketidaksesuaian tersebut merupakan suatu penyimpangan yang berpotensi melahirkan tindak pidana korupsi, minimal akan membuat realisasi anggaran tidak tepat sasaran. Ketiga, evaluasi terhadap tolok ukur, baik dalam skala makro maupun mikro. Tolok ukur dalam skala makro berkaitan dengan rasionalisasi indikator-indikator dari sektorsektor yang dijadikan prioritas pembangunan. Tolok ukur dalam skala mikro berkaitan dengan rasionalisasi indikator-indikator dari suatukegiatan (proyek). Ketiga langkah pengawasan tersebut jika dilaksanakan dengan serius niscaya akan mampu meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Sehingga istilah anggaran berbasis kinerja tidak berhenti sebatas peraturan tetapi juga terealisasi dalam pelaksanaan.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Metode Untuk Memperoleh Dana Pendidikan</span></em></p>
<ol>
<li><em>1. </em><em>Penyelenggaraan Otonomi Pendidikan Dan MBS </em></li>
</ol>
<p>Pemerintah telah menetapkan kebijakan otonomi pendidikan, sebagaimana mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan yang menyebutkan: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.</p>
<p>Berdasarkan pasal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab negara melainkan diserahkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri. Dalam penjelasan pasal 3 ayat 2 RUU Badan Hukum Pendidikan disebutkan bahwa Kemandirian dalam penyelengaraan pendidikan merupakan kondisi yang ingin dicapai melalui pendirian BHP, dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi pada pendidikan tinggi. Hanya dengan kemandirian, pendidikan dapat menumbuhkembangkan kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitasnya.</p>
<p>Artinya pemerintah menilai bahwa selama ini terhambatnya kemajuan pendidikan indonesia diantaranya karena pengelolaan pendidikan yang sentralistis, sehingga perlunya kebijakan desentralisasi kewenangan (MBS dan otonomi pendidikan) untuk memajukan pendidikan indonesia.</p>
<p>Kenyataannya, kebijakan tersebut menuai berbagai sikap kontra dari masyarakat karena dinilai sarat dengan tekanan pihak asing (negara donor) yang menghendaki privatisasi lembaga –lembaga yang dikelola negara termasuk lembaga pendidikan, sehingga negara pun akan lepas tangan dari tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan secara penuh. Sebagaimana diungkapkan oleh komisi hukum nasional (KHN) bahwa dalam RUU BHP versi yang baru, semua bentuk pendidikan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah daerah atau pemerintah harus berbentuk badan hukum yang sama yaitu badan hukum pendidikan. Oleh karenanya, jika RUU BHP disahkan &#8211; maka peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peraturan pemerintah tentang BHMN tidak akan berlaku lagi. Perubahan yang terjadi antara konsep RUU lama dan yang baru, dapat diamati dari bunyi pasal 1 ayat 7 (versi lama), yang mengatur bahwa ”Penyelenggara adalah satuan pendidikan berstatus Badan Hukum Pendidikan (BHP)” dan “Semua satuan pendidikan tinggi harus berstatus Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) (Pasal 2 ayat (1)”. Selain itu, disebutkan juga bahwa “Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat berstatus Badan Hukum Pendidikan Dasar Menengah (BHPDM)”.</p>
<p>Yang menjadi persoalan, apakah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) merupakan jawaban yang tepat bagi pengembangan pendidikan tinggi kedepan? Bagaimana RUU ini meletakkan peran pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi serta bagaimana mengkonstruksi hubungan antara penyelenggara pendidikan (yayasan, perkumpulan, badan wakaf, pemerintah, dll) dengan satuan pendidikan? Apakah RUU BHP memberikan jaminan bagi terwujudnya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global ? Selain itu kebijakan otonomi pendidikan sendiri merupakan hal belum tentu dapat meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bila makna otonomi itu sendiri ternyata bentuk lepas tangan pemerintah dengan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan secara lebih besar porsinya kepada masyarakat. Padahal hakikatnya penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara/ pemerintah sebagai pihak yang diamanahi rakyat untuk mengatur urusan mereka dengan sebaik mungkin.</p>
<ol>
<li><em>2. </em><em>Mengoptimal Kemitraan Dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri</em></li>
</ol>
<p>Berkaitan dengan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan : (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. (3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.</p>
<p>Hal yang justru memunculkan kerawanan saat ini adalah dengan adanya RUU BHP maka peranan pihak swasta (pengusaha) mendapatkan akses yang lebih luas untuk mengelola pendidikan, sehingga bagaimana jadinya kalau kemitraan dengan DU/DI tersebut ternyata menempatkan pengusaha ataupun perusahaan sebagai pihak yang berinvestasi dalam lembaga pendidikan dengan menuntut adanya return yang sepadan dari investasinya tersebut? Kondisi ini pada akhirnya akan memperkokoh keberlangsungan kapitalisasi pendidikan.</p>
<p>Hambatan Implementasi  :</p>
<p>Indikator peran serta tokoh masyarakat dan dunia usaha masih kurang. Temuan ini sejalan dengan temuan pada indikator pembiayaan di mana kebanyakan pembiayaan pendidikan, di luar sumber pemerintah, masih berasal dari orangtua siswa. Menurut sebagian responden gejala rendahnya peranserta tokoh masyarakat dan dunia usaha disebabkan rendahnya kepedulian mereka terhadap pendidikan. Dengan dasar itu, perlu dikembangkan strategi untuk melibatkan tokoh masyarakat dan dunia usaha dalam kehidupan sekolah.</p>
<p>Sekolah cukup mengeluhkan minimnya dana yang bersumber dari BP3/Komite Sekolah. Apalagi menurut sebagian responden, dana BP3/Komite Sekolah pada umumnnya baru bersumber dan orangtua anak yang bersekolah,             Sedangkan dari masyarakat luas masih sangat terbatas. Kondisi ini memang sangat disayangkan karena salah satu tujuan penerapan manajemen berbasis sekolah adalah agar masyarakat dalam anti luas bertanggung jawab atas maju mundurnya sekolah di lingkungannya, ini berarti diperlukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya partisipasi mereka dalam pembiayaan pendidikan. Karena tanpa ada perubahan seperti itu, maka pembentukan komite sekolah pada dasarnya hanyalah pergantian nama dari BP3.<strong> </strong></p>
<p><strong>E. </strong><strong>Defisit finance</strong></p>
<p>Dalam membahas sumber daya economic dan finansial dalam sebuah lembaga pendidikan, sebagai contoh sekolah, ada tiga aspek yang menurut WG Cunningham perlu diperhatikan yaitu perencanaan strategis, perencanaan pengeluaran, dan perencanaan pendapatan. Perencanaan strategis terbentuk seiring dengan berlangsungnya proses administrasi dan harus jelas sebelum memulai proses penyusunan anggaran. Perencanaan pengeluaran dan pendapatan dalam proses perencanaan akan menyediakan input dalam perencanaan operasional. Namun ketika anggaran tidak dapat mendukung apa yang sudah disusun dalam perencanaan strategis maka hubungan antara keduanya tidak akan dapat berkembang dan bisa melemahkan proses perencanaan. Sementara anggaran berperan sebagai perpaduan harapan dari seluruh program yang telah direncanakan oleh sekolah. Sistem anggaran sekolah mengatur estimasi pendapatan dan pengeluaran sekolah yang yang cukup penting, sehingga harus memperhitungkan sumber-sumber yang sesuai agar mendapatkan keuntungan sistem yang maksimal.</p>
<p>Perencanaan strategis memuat bangunan sistem dalam sebuah sekolah dengan tujuan tertentu dimasa yang akan datang yaitu yang berkaitan dengan visi, target, tujuan strategis dan kebijakan. Perencanaan strategis mempersiapkan koordinasi dan tujuan operasional, tetapi hanya dalam proses penentuan anggaran pada saat awal dan akhir. Selama dalam proses ini anggaran akan sangat ditentukan oleh perencanaan strategis baik dari segi kualitas maupun kuantitas sedangkan perencanaan operasional lebih banyak ditentukan oleh keputusan yang diambil selama dalam proses perencanaan. Morphet, Jhon dan Ruller mengatakan suatu program pendidikan harus dipersiapkan dengan sejumlah estimasi dana tertentu sebagai antisipasi akan penggunaan dan yang berlebih dan hal tersebut seharusnya dipersiapkan sebelum menentukan jumlah biaya yang harus digunakan agar mendapatkan pencapaian hasil yang terbaik.</p>
<p>Perencanaan strategis dan penganggaran merupakan petunjuk sistem yang didasari oleh rencan operasional sedangkan usaha yang sia-sia dan staff yang kurang mampu bisa berkembang jika perencanaan operasional sesuai dengan sumber dayanya. Tentunya dengan komitmen serta adanya tujuan perencanaan strategis yang proporsional. Dalam bidang pendidikan vokasi yang dihadapkan dengan supervisor yang memberikan tugas (bagaimanapun cara pengerjaannya) agar dalam sekolah yang mereka pimpin dapat mencapai target yang disepakati dalam jangka 5 tahun kedepan. Sementara itu, para pimpinan sekolah dan supervisor memiliki rancangan perencanaan mentah pada masing-masing program yang harus disepakati bersama. Namun setelah pimpinan sekolah mengadakan sekian banyak kegiatan ternyata apa-apa yang tercantum dalam perencanaan strategis tidak didanai selama 2 tahun. Padahal seluruh program yang dibangun oleh mereka sudah diinformasikan dan ditawarkan pada masyarakat. Maka ketika proyek tersebut tidak berjalan dan hanya membuang waktu maka kepercayaan pada proses perencanaan itu hilang. Dari salah satu kasus tersebut, dan tentunya masih banyak kasus lainnya, WG Cunningham berpendapat bahwa sumber daya ekonomi dan finansial atau masalah penganggaran memiliki peran vital dalam perencanaan strategis, melebihi sumber daya lainnya.</p>
<p>WG Cunningham menambahkan bahwa tujuan strategis berkembang selama proses perencanaan strategis dan disempurnakan dalam proses penganggaran sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa ada perbedaan yang nyata antara tujuan strategis dan tujuan operasional dimana sebenarnya dalam proses ini ada ketidak jelasan garis antara dua proses yaitu masalah penganggaran. Proses penganggaran atau budgetting sendiri dianggap berada diantara kedua proses perencanaan dan menjadi batas dimana perencanaan strategis berakhir dan perencanaan operasional dimulai. George Odiorne juga berpendapat bahwa masalah waktu merupakan esensi dari tujuan dan harus diperhitungkan sebelumnya bukan sesuadah perencanaan anggaran. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa pemerintah seharusnya melakukan dua perencanaan yang sinergis yaitu antara tujuan jangka panjang sebelum melakukan perencanaan anggaran dan tujuan jangka pendek sesudah penentuan anggaran. Intinya, WG Cunningham ingin menyampaikan pada pembaca buku ini bahwa model perencanaan top down lebih efektif, efisien, dengan memulai dari perencanaan strategis yang diikuti oleh penganggaran biaya dan perencanaan operasional.</p>
<p>Alasan yang diungkap olehnya secara eksplisit memaparkan bahwa model perencanaan top down akan mengikis gesekan-gesekan individu yang terlibat dalam proses perencanaan tersebut. Dan agar hasil perencanaan yang dibuat oleh para penentu kebijakan di level atas dapat dilaksanakan oleh para pelaku organisasi di level bawah dengan baik tanpa adanya protes, WG Cunningham menempatkan komunikasi sebagai kunci utama untuk menekan para ‘bawahan’. Caranya adalah dengan melibatkan sejumlah ‘bawahan’ yang tentunya dianggap dapat mewakili, dalam pembicaraan-pembicaraan mengenai proses perencanaan. Para ‘bawahan’ harus diperlakukan ‘seolah-olah’ dilibatkan dalam proses perencanaan, walaupun pada akhirnya, penentuan keputusan tetap berada pada kelompok ‘atasan’. Padahal gesekan-gesekan individu penyebab konflik yang terjadi dalam sebuah organisasi adalah sebuah proses yang manusiawi dalam pendewasaan diri individu maupun organisasi tersebut. Sehingga bila proses ‘pendewasaan’ tersebut dimatikan semata-mata hanya karena alasan efisiensi waktu dan efektifitas hasil, maka sifat-sifat manusiawi tersebut tidak akan pernah berkembang dengan sebagaimana mestinya.</p>
<p>Sumber daya ekonomi dan finansial’ atau lebih tepatnya dapat disebut dengan modal, pada peringkat teratas mengenai hal-hal pokok yang harus diutamakan dalam proses perencanaan. Pada bab 2 dalam buku ini dapat ditemukan pendapat WG Cunningham berikut contoh kasus yang sedemikian lengkapnya mengenai ketidak berhasilan perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan yang penyebabnya semata-mata ditumpukan pada permasalahan finansial. Sehingga bila perencanaan yang dibuat oleh lembaga pendidikan tidak disesuaikan dengan kondisi finansial yang ada, maka berbagai implikasi negatif yang ditimbulkan harus ditanggung oleh pihak lembaga pendidikan itu sendiri. Menurutnya, perencanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan dana yang tersedia, dan jangan pernah mengimplementasikan rencana yang sumber dananya belum jelas akan didapatkan dari mana.</p>
<p>Perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan, tentunya tidak boleh melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu pendidikan untuk pendidikan, sebagaimana diungkapkan oleh John Dewey. Dan agar sebuah perencanaan dalam lembaga pendidikan tersebut tidak melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, harus digunakan sebuah model perencanaan yang lebih ‘manusiawi’. Sudah tentu model perencanaan top down dengan semangat neoliberal yang ditawarkan oleh WG Cunningham tidaklah dapat mengakomodasi ‘kemanusiawian’ tersebut. Model perencanaan partisipatif dalam lembaga pendidikan, yang sering dikemukakan oleh Paulo Freire, dan model perencanaan deliberatif yang dicetuskan oleh Jurgen Habermas, adalah model-model perencanaan yang paling tepat dalam dunia pendidikan. Inti dari kedua model tersebut adalah pemanusiaan individu yang berada dalam sebuah komunitas melalui perluasan partisipasi dalam proses penentuan kebijakan, dalam hal ini yang berkaitan dengan proses perencanaan dalam dunia pendidikan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/mpd-doc/'>MPd.doc</a> Tagged: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/tag/raisul-akbar-doc/'>raisul akbar.doc</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=497&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/04/dimensi-economic-and-finance-dalam-pengembangan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARADIGMA DALAM PEMBIAYAAN PENDIDIKAN  VERSUS PEMBOROSAN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/04/paradigma-dalam-pembiayaan-pendidikan-versus-pemborosan/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/04/paradigma-dalam-pembiayaan-pendidikan-versus-pemborosan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 17:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian Pendidikan Menurut Pendekatan Sistem Pendekatan sistem merupakan aplikasi pandangan sistem (system view or system thinking) dalam upaya memahami sesuatu atau memecahkan suatu permasalahan. Apabila kita mengaplikasikan pendekatan sistem dalam mempelajari pendidikan, maka dapat  didefinisikan bahwa pendidikan adalah suatu keseluruhan yang terpadu dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan melaksanakan fungsi-fungsi tertentu dalam rangka mencapai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=495&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:left;">
<li><strong>A. </strong><strong>Pengertian Pendidikan Menurut Pendekatan Sistem</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Pendekatan sistem merupakan aplikasi pandangan sistem <em>(system view or system thinking)</em> dalam upaya memahami sesuatu atau memecahkan suatu permasalahan. Apabila kita mengaplikasikan pendekatan sistem dalam mempelajari pendidikan, maka dapat  didefinisikan bahwa <em>pendidikan</em> adalah suatu keseluruhan yang terpadu dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan melaksanakan fungsi-fungsi tertentu dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.</p>
<p style="text-align:left;">Ditinjau dari asal-usul kejadiannya, pendidikan tergolong ke dalam jenis sistem buatan manusia <em>(a man made system);</em> ditinjau dari wujudnya, tergolong ke dalam jenis sistem sosial; sedangkan ditinjau dari segi hubungan dengan lingkungannya, tergolong ke dalam jenis sistem terbuka.</p>
<p style="text-align:left;">Pendidikan (sistem pendidikan) berada dalam suatu supra sistem, yaitu masyarakat. Selain sistem pendidikan, di dalam masyarakat terdapat pula berbagai sistem lainnya seperti: sistem ekonomi, sistem politik, sistem petahanan dan keamanan, dll.  Karena sistem pendidikan merupakan sistem terbuka, maka sistem pendidikan mengambil masukan <em>(input)</em> dari masyarakat dan memberikan hasilnya/luaran <em>(out put)</em> kepada masyarakat. Sistem pendidikan memiliki ketergantungan kepada sistem-sistem lainnya, dan terdapat saling hubungan atau saling pengaruh antar sistem pendidikan  dengan sistem-sistem lainnya yang ada di dalam masyarakat.</p>
<p style="text-align:left;">Sebagaimana dikemukakan Philiph H. Coombs, ada tiga jenis sumber utama input dari masyarakat bagi sistem pendidikan, yaitu:</p>
<p style="text-align:left;">1. Ilmu pengetahuan,  tujuan-tujuan dan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat.</p>
<p style="text-align:left;">2. Penduduk serta tenaga kerja yang tersedia.</p>
<p style="text-align:left;">3. Ekonomi atau penghasilan masyarakat.</p>
<p style="text-align:left;">Terhadap ketiga sumber utama input sistem pendidikan tersebut, dilakukan seleksi berdasarkan tujuan, kebutuhan, efisiensi dan relevansinya bagi pendidikan. Selain itu, seleksi dilakukan pula atas dasar nilai dan norma tertentu dengan alasan bahwa pendidikan bersifat normatif. Hasil seleksi tersebut selanjutnya diambil atau diterima sebagai input sistem pendidikan.</p>
<p style="text-align:left;">Input sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:</p>
<ol style="text-align:left;">
<li>Input mentah <em>(raw input)</em>,      yaitu peserta didik.</li>
<li>Input alat <em>(instrumental      input)</em> seperti: kurikulum, pendidik, dll.</li>
<li>Input lingkungan <em>(environmental      input)</em> seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan masyarakat dll. yang      secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses      pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Berbagai jenis input pendidikan terseleksi sebagaimana dikemukakan di atas, selanjutnya  akan membentuk komponen-komponen pendidikan atau berbagai sub sistem pendidikan. Dalam hal ini dilakukan diferensiasi sehingga setiap komponen memiliki fungsi-fungsi khusus. Namun demikian, karena pendidikan adalah suatu sistem, maka pelaksanaan fungsi setiap komponen pendidikan secara keseluruhan diarahkan demi pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.</p>
<p style="text-align:left;">Philiph H. coombs mengidentifikasi 12 komponen sistem pendidikan, yaitu:</p>
<ol style="text-align:left;">
<li>Tujuan dan prioritas. Fungsinya      adalah memberikan arah kegiatan sistem.</li>
<li>Peserta didik (siswa).      Fungsinya adalah belajar hingga mencapai tujuan pendidikan.</li>
<li>Pengelolaan. Fungsinya adalah      merencanakan, mengkoordinasikan, mengarahkan, dan menilai sistem.</li>
<li>Struktur dan jadwal. Fungsinya      adalah mengatur waktu dan mengelompokan peserta didik berdasarkan tujuan      tertentu.</li>
<li>Isi atau kurikulum. Fungsinya      adalah sebagai bahan yang harus dipelajari peserta didik.</li>
<li>Pendidik (guru). Fungsinya      adalah menyediakan bahan, menciptakan kondisi belajar dan menyelenggarakan      pendidikan.</li>
<li>Alat bantu belajar. Fungsinya      memungkinkan proses belajar-mengajar sehingga menarik, lengkap,      bervariasi, dan mudah.</li>
<li>Fasilitas. fungsinya sebagai      tempat terselenggaranya pendidikan.</li>
<li>Pengawasan mutu. Fungsinya      membina peraturan-peraturan dan standar pendidikan (peraturan penerimaan      peserta didik, pemberian nilai ujian, kriteria baku.</li>
<li>Teknologi. Fungsinya      mempermudah atau memperlancar pendidikan.</li>
<li>Penelitian. Fungsinya      mengembangkan pengetahuan, penampilan sistem dan hasil kerja sistem.</li>
<li>Biaya (ongkos pendidikan).      Merupakan satuan biaya untuk memperlancar proses pendidikan.       Fungsinya sebagai petunjuk tingkat efisiensi sistem.</li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Dalam sistem pendidikan terjadi <em>proses transformasi</em>, hakikatnya adalah  proses mengubah raw input (peserta didik) agar menjadi out put (manusia terdidik sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan). Dalam hal ini semua komponen pendidikan idealnya melaksanakan fungsinya masing-masing dan berinteraksi satu sama lain yang mengarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Adapun out putnya diperuntukan bagi masyarakat atau sistem-sistem lain yang ada di dalam supra sistem.</p>
<p style="text-align:left;">Sebagaimana dikemukakan terdahulu, di dalam sistem pendidikan terdapat komponen pengawasan mutu (kontrol kualitas). Pelaksanaan fungsinya antara lain akan menghasilkan <em>feedback</em> yang digunakan untuk melakukan koreksi atau perbaikan dalam proses transformasi berikutnya. Sehingga dengan demikian diharapkan sistem pendidikan tersebut mampu mengatasi entropi atau mampu mempertahankan eksistensi dan meningkatkan pretasinya.</p>
<ol style="text-align:left;">
<li><strong>B. </strong><strong>Melibatkan Masyarakat Dalam Reformasi Dan Pembiayaan Sekolah</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan sekolah sudah menjadi hal yang umum dibicarakan, baik di negara maju maupun negara berkembang.  Dalam teori pengembangan sekolah di era desentralisasi, ada tiga segitiga stakeholder yang harus dibangun, yaitu kerjasama sekolah, orang tua dan masyarakat.</p>
<p style="text-align:left;">Partisipasi masyarakat seakan menjadi kata kunci untuk memecahkan masalah di sekolah. Pemerintah di negara manapun, dengan dalih mengembalikan lembaga sekolah kepada pemilik utamanya yaitu masyarakat, menggembar-gemborkan ide ini.  Tapi sebenarnya ada sebuah misi utama dibalik propaganda ini, yaitu meringankan beban keuangan pemerintah dengan mengajak masyarakat untuk menyediakan dana lebih dalam pengembangan sekolah.</p>
<p style="text-align:left;">Misi ini di beberapa kasus menunjukkan keberhasilannya, tapi ketika situasi ekonomi pun mencekik rakyat, maka kebijakan melibatkan masyarakat dalam pengembangan sekolah yang bermakna `pendanaan` kelihatannya kurang bijak.</p>
<p style="text-align:left;">Amerika dan beberapa negara pengusung konsep SBM (School Based Management) yang menjadi titik awal keterlibatan masyarakat di sekolah, tegas menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dan masyarakat adalah dalam bentuk pengembangan finansial, kurikulum dan personalia.  Dalam hal ini masyarakat menjadi penentu keberhasilan sekolah, demikian pula masa depan guru dan tenaga administrator sekolah.</p>
<p style="text-align:left;">Jepang-yang menurut pandangan saya tak terlalu kencang gaung `SBM`-nya- lebih menekankan kepada partisipasi masyarakat bukan dalam bentuk pendanaan, atau pengembangan kurikulum, apalagi mengutak-atik masalah tenaga kependidikan.  Dikarenakan sekolah-sekolah di Jepang masih murni dikontol oleh menteri pendidikan, masih merupakan sekolah-sekolah negeri/publik. Sehingga bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan sekolah di Jepang agak bernuansa lain.  Lebih kepada masyarakat menjadi penyedia fasilitas belajar siswa atau menjadi pengayom dan pelindung siswa-siswa ketika berada di luar lingkungan sekolah.  Kelihatannya masyarakat Jepang berusaha membuat image bahwa tempat belajar itu ada di mana saja, bukan hanya di sekolah.</p>
<p style="text-align:left;">Sekarang bagaimana dengan Indonesia ?</p>
<p style="text-align:left;">Pola partisipasi masyarakat dalam pengembangan sekolah di Indonesia lebih condong kepada apa yang diterapkan di Amerika dan Australia.  Pembentukan `komite sekolah` (KS) dan `dewan pendidikan` (DP) yang dianggap sebagai perwakilan masyarakat dan orang tua, adalah murni meniru konsep `school governance` yang diterapkan di Barat.  Untuk menjalankan fungsi advisory, supporting, monitoring, mediatoring, tentunya diperlukan orang-orang yang berkemampuan sebagai anggota dan pengurus komite sekolah pun dewan pendidikan.  Juga diperlukan orang-orang yang berdedikasi penuh, mau meluangkan waktunya mengurusi perkara yang barangkali bukan pekerjaan utamanya.  Sayangnya karena konsep supporting lebih kuat ketika KS dicetuskan pertama kali maka anggota-anggota KS adalah orang tua yang berkantung tebal, pengusaha, pejabat, yang notabene hampir tak punya waktu untuk datang dan mengontrol sekolah.  Proses advisory akhirnya berjalan satu arah, yaitu ketika pihak sekolah meminta.  Proses supporting yang kelihatannya lebih diutamakan menjadi pembicaraan utama dalam rapat-rapat komite sekolah, yang hampir terkesan bahwa kepala sekolah dan stafnya juga ketua OSIS melaporkan agenda kegiatan dan komite sekolah hanya menandatangani jika kelihatannya anggarannya masuk akal.  Proses monitoring dan controling pun hanya berlangsung melalui sodoran berkas laporan kegiatan dari kepala sekolah ke komite sekolah.  Adapun proses mediatoring yang dimaksudkan menghubungkan lembaga sekolah dengan lembaga non sekolah dan masyarakat pada umumnya, tampaknya belum berhasil diterjemahkan dengan baik oleh beberapa komite sekolah.  Lembaga apa yang harus bekerja sama dengan sekolah ? Dalam hal apa kerjasama harus dibangun ? Belum terjawab.</p>
<p style="text-align:left;">Saya yakin, dari pada menjiplak pola partisipasi masyarakat di Barat atau dari negara manapun, pendidikan di Indonesia pasti akan lebih baik kondisinya jika dikembangkan dengan formula Indonesia.  Partisipasi masyarakat yang khas, yang bercirikan karakternya orang Indonesia.</p>
<ol style="text-align:left;">
<li><strong>C. </strong><strong>Sistim Perencanaan Anggaran</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Masih ingat dengan paradigma lama sistem penganggaran di Indosesia? Benar, pengelolaan anggaran pada masa lampau berkutat bagaimana cara menghabiskan pagu anggaran yang tersedia agar nantinya memperoleh anggaran pada periode berikiutnya lebih besar. Sistem penganggaran ini dikenal dengan sebutan line item budget system. Jelas sekali sistem penganggaran ini memiliki kekurangan-kekeurangan. Diantaranya adalah tidak optimalnya manfaat dari dana pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan dalam hal mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan berkesinambungan.</p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>Line item budget system</em></strong></p>
<p style="text-align:left;">Merupakan sistem penganggaran yang menjadikan input yang berupa item-item sebagai dasar dalam penyusunan anggaran. Misalnya anggaran dalam pelaksanaan pendidikan dasar, ada belanja pegawai guru, buku-buku, sarana dan prasarana lainnya. Anggaran ini begitu sederhana. Bahkan kita sering membuatnya untuk membuat daftar anggaran belanjaan kita. Sistem penganggaran line item ini selalu identik dengan incremental budget system. Anggaran dapat ditambah atau dikurangi berdasarkan penggunaannya pada periode sebelumnya. Jika pada periode sebelumnya pagu anggaran yang disediakan sedikit atau kurang terserap, maka pada periode anggaran berikutnya. Jatah pada pos anggaran tersebut dikurangi. Sebaliknya, bila jatah anggaran dihabiskan, maka pada periode anggaran berikutnya, pagu anggaran akan ditambah.Sistem ini menimbulkan efek samping, yaitu setiap penyelenggara kegiatan (aparat pemerinyah) berlomba-lomba menghabiskan anggaran tanpa memperhatikan manfaat yang akan dihasilkan dari penggunaan dana tersebut.</p>
<ol style="text-align:left;">
<li><strong>D. </strong><strong>Paradikma Pendidikan Masa Depan</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Dunia pendidikan juga muncul dua problem yang lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang telah disebutkan di atas.</p>
<p style="text-align:left;">Pertama, pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. Kedua, pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang terlalu bersifat text-bookish sehingga bagaikan sudah diceraikan baik dari akar sumbernya maupun aplikasinya.</p>
<p style="text-align:left;">Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasilnya. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan di tanah air kita dapat dikatakan senantiasa gagal menjawab problem masyarakat? Sesungguhnya kegagalan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan di tanah air kita bukan semata-mata terletak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri yang bersifat erratic, tambal sulam, melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini menyebabkan adanya harapan-harapan yang tidak realistis dan tidak tepat terhadap efikasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:left;">Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa secara keseluruhan. Dalam proses pembangunan tersebut peranan pendidikan amatlah strategis.</p>
<p style="text-align:left;">John C. Bock, dalam Education and Development: A Conflict Meaning (1992), mengidentifikasi peran pendidikan tersebut sebagai : a) memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa, b) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan sosial, dan c) untuk meratakan kesempatan dan pendapatan. Peran yang pertama merupakan fungsi politik pendidikan dan dua peran yang lain merupakan fungsi ekonomi.</p>
<p style="text-align:left;">Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam pembangunan nasional muncul dua paradigma yang menjadi kiblat bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan kebijakan pendidikan: Paradigma Fungsional dan paradigma Sosialisasi. Paradigma fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan dikarenakan masyarakat tidak mempunyai cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap modern. Menurut pengalaman masyarakat di Barat, lembaga pendidikan formal sistem persekolahan merupakan lembaga utama mengembangkan pengetahuan, melatih kemampuan dan keahlian, dan menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses pembangunan. Bukti-bukti menunjukkan adanya kaitan yang erat antara pendidikan formal seseorang dan partisipasinya dalam pembangunan. Perkembangan lebih lanjut muncul, tesis Human lnvestmen, yang menyatakan bahwa investasi dalam diri manusia lebih menguntungkan, memiliki economic rate of return yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi dalam bidang fisik.</p>
<p style="text-align:left;">Sejalan dengan paradigma Fungsional, paradigma Sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah: a) mengembangkan kompetensi individu, b) kompetensi yang lebih tinggi tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, dan c) secara urnum, meningkatkan kemampuan warga masyarakat dan semakin banyaknya warga masyarakat yang memiliki kemampuan akan meningkatkan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, berdasarkan paradigma sosialisasi ini, pendidikan harus diperluas secara besar-besaran dan menyeluruh, kalau suatu bangsa menginginkan kemajuan.</p>
<p style="text-align:left;">Paradigma Fungsional dan paradigma Sosialisasi telah melahirkan pengaruh besar dalam dunia pendidikan paling tidak dalam dua hal. Pertama, telah melahirkan paradigma pendidikan yang bersifat analis-mekanistis dengan mendasarkan pada doktrin reduksionisme dan mekanistik. Reduksionisme melihat pendidikan sebagai barang yang dapat dipecah-pecah dan dipisah-pisah satu dengan yang lain. Meka Fns melihat bahwa pecahan-pecahan atau bagian-bagian tersebut memiliki keterkaitan linier fungsional, satu bagian menentukan bagian yang lain secara langsung. Akibatnya, pendidikan telah direduksi sedemikian rupa ke dalam serpihan-serpihan kecil yang satu dengan yang lain menjadi terpisah tiada hubungan, seperti, kurikulum, kredit SKS, pokok bahasan, program pengayaan, seragam, pekerjaan rumah dan latihan-latihan. Suatu sistem penilaian telah dikembangkan untuk menyesuaikan dengan serpihan-serpihan tersebut: nilai, indeks prestasi, ranking, rata-rata nilai, kepatuhan, ijazah.</p>
<p style="text-align:left;">Paradigma pendidikan lnput-Proses-Output, telah menjadikan sekolah bagaikan proses produksi. Murid diperlakukan bagaikan raw-input dalam suatu pabrik. Guru, kurikulum, dan fasilitas diperlakukan sebagai instrumental input. Jika raw-input dan instrumental input baik, maka akan menghasilkan proses yang baik dan akhirnya baik pula produkyang dihasilkan. Kelemahan paradigma pendidikan tersebut nampak jelas, yakni dunia pendidikan diperlakukan sebagai sistem yang bersifat mekanik yang perbaikannya bisa bersifat partial, bagian mana yang dianggap tidak baik. Sudah barang tentu asumsi tersebut jauh dari realitas dan salah. Implikasinya, sistem dan praktek pendidikan yang mendasarkan pada paradigma pendidikan yang keliru cenderung tidak akan sesuai dengan realitas. Paradigma pendidikan tersebut di atas tidak pernah melihat pendidikan sebagai suatu proses yang utuh dan bersifat organik yang merupakan bagian dari proses kehidupan masyarakat secara totalitas.</p>
<p style="text-align:left;">Kedua, para pengambil kebijakan pemerintah menjadikan pendidikan sebagai engine of growth, penggerak dan loko pembangunan. Sebagai penggerak pembangunan maka pendidikan harus mampu menghasilkan invention dan innovation, yang merupakan inti kekuatan pembangunan. Agar berhasil melaksanakan fungsinya, maka pendidikan harus diorganisir dalam suatu lembaga pendidikan formal sistem persekolahan, yang bersifat terpisah dan berada di atas dunia yang lain, khususnya dunia ekonomi. Bahkan pendidikan harus menjadi panutan dan penentu perkembangan dunia yang lain, khususnya, dan bukan sebaliknya perkembangan ekonomi menentukan perkembangan pendidikan. Dalam lembaga pendidikan formal inilah berbagai ide dan gagasan akan dikaji, berbagai teori akan dluji, berbagai teknik dan metode akan dikembangkan, dan tenaga kerja dengan berbagai jenis kemampuan akan dilatih.</p>
<p style="text-align:left;">Sesuai dengan peran pendidikan sebagai engine of growth, dan penentu bagi perkembangan masyarakat, maka bentuk sistem pendidikan yang paling tepat adalah single track dan diorganisir secara terpusat sehingga mudah diarahkan untuk kepentingan pembangunan nasional. Lewat jalur tunggal inilah lembaga pendidikan akan mampu menghasilkan berbagai tenaga kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Agar proses pendidikan efisien dan etektif, pendidikan harus disusun dalam struktur yang bersifat rigid, manajemen (bersifat sentralistis, kurikulum penuh dengan pengetahuan dan teori-teori (text bookish).</p>
<p style="text-align:left;">Namun, pengalaman selama ini menunjukkan, pendidikan nasional sistem persekolahan tidak bisa berperan sebagai penggerak dan loko pembangunan, bahkan Gass (1984) lewat tulisannya berjudul Education versus Qualifications menyatakan pendidikan telah menjadi penghambat pembangunan ekonomi dan teknologi, dengan munculnya berbagai kesenjangan: kultural, sosial, dan khususnya kesenjangan vokasional dalam bentuk melimpahnya pengangguran terdidik.</p>
<p style="text-align:left;">Berbagai problem pendidikan yang muncul tersebut di atas bersumber pada kelemahan pendidikan nasional sistem persekolahan yang sangat mendasar, sehingga tidak mungkin disempurnakan hanya lewat pembaharuan yang bersifat tambal sulam (Erratic). Pembaharuan pendidikan nasional sistem persekolahan yang mendasar dan menyeluruh harus dimulai dari mencari penjelasan baru atas paradigma peran pendidikan dalam pembangunan.</p>
<p style="text-align:left;">Penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam pembangunan yang diikuti oleh para penentu kebijakan kita dewasa ini memiliki kelemahan, baik teoritis maupun metodologis. Pertama, tidak dapat diketemukan secara tepat dan pasti bagaimana proses pendidikan menyumbang pada peningkatan kemampuan individu. Memang secara mudah dapat dikatakan bahwa pendidikan formal akan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki sistem teknologi produksi yang semakin kompleks. Tetapi, dalam kenyataannya, kemampuan teknologis yang diterima dari lembaga pendidikan formal tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada. Di samping itu, adanya perubahan di bidang teknologi yang cepat, justru melahirkan apa yang disebut dengan de-skilled process, yakni dunia industri memerlukan tenaga kerja dengan keahlian yang lebih sederhana dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.</p>
<p style="text-align:left;">Kedua, paradigma fungsional dan sosialisasi memiliki asumsi bahwa pendidikan sebagai penyebab dan pertumbuhan ekonomi sebagai akibat. Investasi di bidang pendidikan formal sistem persekolahan akan menentukan pembangunan ekonomi di masa mendatang. Tetapi realitas menunjukkan sebaliknya. Bukannya pendidikan muncul terlebih dahulu, kemudian akan muncul pembangunan ekonomi, melainkan bisa sebaliknya, tuntutan perluasan pendidikan terjadi sebagai akibat adanya pembangunan ekonomi dan politik. Dengan kata lain, pendidikan sistem persekolahan bukannya engine of growth, melainkan gerbong dalam pembangunan. Perkemkembangan pendidikan tergantung pada pembangunan ekonomi. Sebagai bukti, karena hasil pembangunan ekonomi tidak bisa dibagi secara merata, maka konsekuensinya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan tidak juga bisa sama di antara berbagai kelompok masyarakat, sebagaimana terjadi dewasa ini.</p>
<p style="text-align:left;">Ketiga, paradigma fungsional dan sosialisasi juga memiliki asumsi bahwa pendapatan individu mencerminkan produktivitas yang bersangkutan. Secara makro upah tenaga kerja erat kaitannya dengan produktivitas. Dalam realitas asumsi ini tidak pernah terbukti. Upah dan produktivitas tidak selalu sering. Implikasinya adalah bahwa kesimpulan kajian selama ini yang selalu menunjukkan bahwa economic rate of return dan pendidikan di negara kita adalah sangat tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan investasi di bidang lain, adalah tidak tepat, sehingga perlu dikaji kembali.</p>
<p style="text-align:left;">Keempat, paradigma sosialisasi hanya berhasil menjelaskan bahwa pendidikan memiliki peran mengembangkan kompetensi individual, tetapi gagal menjelaskan bagaimana pendidikan dapat meningkatkan kompetensi yang lebih tinggi untuk meningkatkan produktivitas. Secara riil pendidikan formal berhasil meningkatkan pengetahuan dan kemampuan individual yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi modern. Semakin lama waktu bersekolah semakin tinggi pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Namun, Randal Collins, lewat karyanya The Credential Society: An Historicaf Sosiology of Education and Stratification (1979) menentang tesis ini. Berbagai bukti tidak mendukung tesis atas tuntutan pendidikan untuk memegang suatu pekerjaan-pekerjaan tersebut. Pekerja dengan pendidikan formal yang lebih tinggi tidak harus diartikan memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja .yang memiliki pendidikan lebih rendah. Banyak keterampilan dan keahlian yang justru dapat banyak diperoleh sambil menjalankan pekerjaan di dunia kerja formal. Dengan kata lain, tempat bekerja bisa berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang lebih canggih.</p>
<ol style="text-align:left;">
<li><strong>E. </strong><strong>Pentingnya Defisit Finance</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:left;">Sasaran kebijakan pendidikan  ditetapkan secara konsisten berdasarkan pada target ekonomi makro yang hendak dicapai dalam kurun waktu tertentu. Selanjutnya, dengan mempertimbangkan kondisi terkini disusun kebijakan operasional untuk mencapai target-target yang hendak dicapai tersebut. Kerangka ekonomi makro disusun oleh Pemerintah untuk selanjutnya dibahas bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Pembahasan difokuskan pada kebijakan umum yang hendak ditempuh oleh Pemerintah dan prioritas-prioritas kegiatan yang hendak dilakukan oleh Kementerian Negara/Lembaga untuk mendorong sasaran makro dimaksud, yang diterjemahkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah dan diwujudkan melalui rencana belanja negara. Rencana belanja disusun dengan memperhatikan kemampuan Pemerintah untuk menghimpun seluruh potensi penerimaan negara. Dalam hal terjadi kekurangan akibat belanja negara melampaui penerimaan negara, maka Pemerintah harus mencari sumber-sumber pembiayaan defisit. Pencarian sumber pembiayaan tersebut dilakukan dengan terlebih dahulu memperhitungkan seluruh kewajiban Pemerintah di sisi pembiayaan yang mengikat dan tidak mungkin ditangguhkan. Agar kesinambungan fiskal tetap terjaga, maka besarnya sasaran defisit ditetapkan pada tingkat yang terkendali dalam jangka panjang. Penyusunan perkiraan penerimaan, pemilihan kegiatan prioritas, dan penentuan sumber pembiayaan dalam hal terjadi defisit, merupakan proses yang dinamis dan diperhitungkan secara cermat hingga dicapai suatu keseimbangan dan kombinasi yang optimal diantara ketiga komponen tersebut, sehingga APBN dapat secara obyektif mencerminkan upaya pencapaian target. Dalam penentuan besaran pembiayaan defisit dan identifikasi sumber-sumber pembiayaan, Pemerintah harus senantiasa mempertimbangkan batasan-batasan risiko yang dihadapi karena besaran defisit yang tidak terkendali dapat mengganggu kesinambungan fiskal.</p>
<br />Filed under: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/category/mpd-doc/'>MPd.doc</a> Tagged: <a href='http://raisulakbar.wordpress.com/tag/pascasarjana-com/'>pascasarjana.com</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=495&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2010/02/04/paradigma-dalam-pembiayaan-pendidikan-versus-pemborosan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROGRAM TAHUNAN PENJAS SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/11/16/489/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/11/16/489/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 12:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[http://www.raisulakbar.wordpress.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[PROGRAM TAHUNAN Nama   Sekolah                       : SMA Negeri 1 Lhoong Mata Pelajaran                        : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas / Semester                      : X Tahun Pelajaran                       : 2009/2010 A. PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU TIAP SEMESTER Semester I No Bulan Banyaknya Pekan Semester Gasal Keterangan Seluruhnya Tidak Efektif Efektif 1 Juli 2009 4 2 2 &#160; 2 Agustus 2009 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=489&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PROGRAM TAHUNAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Nama   Sekolah                       : SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p>Mata Pelajaran                        : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan</p>
<p>Kelas / Semester                      : X</p>
<p>Tahun Pelajaran                       : 2009/2010</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU TIAP SEMESTER </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Semester I</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="631">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="161"><strong>Bulan</strong></td>
<td colspan="3" width="303"><strong>Banyaknya Pekan Semester Gasal</strong></td>
<td rowspan="2" width="132"><strong>Keterangan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="95"><strong>Seluruhnya</strong></td>
<td width="104"><strong>Tidak Efektif</strong></td>
<td width="104"><strong>Efektif</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">1</td>
<td width="161" valign="top">Juli 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">2</td>
<td width="161" valign="top">Agustus 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">3</td>
<td width="161" valign="top">September 2009</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">4</td>
<td width="104">1</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">4</td>
<td width="161" valign="top">Oktober 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">3</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">5</td>
<td width="161" valign="top">November 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">6</td>
<td width="161" valign="top">Desember 2009</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">4</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="196"><strong>Jumlah</strong></td>
<td width="95"><strong>26</strong></td>
<td width="104"><strong>12</strong></td>
<td width="104"><strong>14</strong></td>
<td width="132"><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Semester II</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="631">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="161"><strong>Bulan</strong></td>
<td colspan="3" width="303"><strong>Banyaknya Pekan Semester Genap</strong></td>
<td rowspan="2" width="132"><strong>Keterangan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="95"><strong>Seluruhnya</strong></td>
<td width="104"><strong>Tidak Efektif</strong></td>
<td width="104"><strong>Efektif</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">1</td>
<td width="161" valign="top">Januari 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">4</td>
<td rowspan="7" width="132"><em>1 Minggu Jam Tatap Muka 2 Jam   Pelajaran</em></p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">2</td>
<td width="161" valign="top">Februari 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">3</td>
<td width="161" valign="top">Maret 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">4</td>
<td width="161" valign="top">April 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">5</td>
<td width="161" valign="top">Mei 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">6</td>
<td width="161" valign="top">Juni 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">5</td>
<td width="104">-</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="196"><strong>Jumlah</strong></td>
<td width="95"><strong>27</strong></td>
<td width="104"><strong>6</strong></td>
<td width="104"><strong>21</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>B. </strong><strong>RINCIAN PROGRAM</strong></p>
<p><strong><em>Kelas / Semester : X / 1</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="640">
<tbody>
<tr>
<td width="36"><strong>Semester</strong></td>
<td width="180"><strong>Standart   Kompetensi</strong></td>
<td width="265"><strong>Kompetensi   Dasar</strong></td>
<td width="94"><strong>Alokasi Waktu</strong></td>
<td width="66"><strong>Ket</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="16" width="36"><strong>S  A  T  U</strong></td>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">
<ol>
<li>Mempratikkan berbagai keterampilan permainan olahraga   dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265">1.1    Mempraktikkan   keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar   serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">1.2    Mempraktikkan   keterampilan salah satu permainan olahraga beregu bola kecil dengan   menggunakan alat dan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama,   kejujuran, menghargai, semangat, dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">1.3    Mempraktikkan   keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta   nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">1.4        Mempraktikkan   keterampilan salah satu cabang olahraga bela diri serta nilai kejujuran,   menghargai orang lain, kerja keras, dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="180" valign="top">2. Mempratikkan latihan kebugaran dan jasmani dan   cara mengukurnya sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265">2.1       Mempraktikkan   latihan kekuatan, kecepatan, daya tahan dan kelentukan untuk kebugaran   jasmani dalam bentuk sederhana serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan   percaya diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">2.2       Mempraktikkan   tes kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab dan percaya diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>1   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">2.3        Mempraktikkan   perawatan tubuh agar tetap segar</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>1   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">3. Mempratikkan keterampilan rangkaian senam   lantai dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265">3.1        Mempraktikkan   rangkaian senam lantai dengan menggunakan bantuan serta nilai percaya diri,   kerjasama, tanggung jawab dan menghargai teman</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">3.2        Mempraktikkan   rangkaian senam lantai tanpa alat serta nilai percaya diri, kerjasama dan   tanggung jawab</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">4. Mempratikkan aktivitas ritmik tanpa alat   dengan koordinasi yang baik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265">4.1    Mempraktikkan   keterampilan gerak dasar langkah dan melompat pada aktivitas ritmik tanpa   alat serta nilai kedisiplinan, konsentrasi dan keluwesan.</p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">4.2    Mempraktikkan   keterampilan dasar ayunan lengan pada aktivitas ritmik tanpa alat dengan   koordinasi gerak yang benar serta nilai disiplin, toleransi dan estetika</p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">5. Mempratikkan salah satu gaya renang dan loncat   indah sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265">5.1    Mempraktikkan   keterampilan teknik dasar salah satu gaya renang serta nilai disiplin,   keberanian, tanggung jawab, dan kerja keras</p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">6. Mempratikkan perencanaan penjelajahan dan   penyelamatan aktivitas di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya ***)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265">6.1    Mempraktikkan   keterampilan dasar-dasar kegiatan menjelajah sungai serta nilai tanggung   jawab, kerjasama, toleransi, tolong menolong, melaksanakan keputusan kelompok</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">6.2    Mempraktikkan   keterampilan dasar penyelamatan kegiatan penjelajahan di sungai serta nilai   tanggung jawab, kerjasama, toleransi, tolong menolong, keputusan dalam   kelompok</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">7.    Menerapkan budaya hidup sehat</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265">7.1    Menganalisis   bahaya penyalahgunaan Narkoba</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>1   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265">7.2  Memahami berbagai peraturan perundangan  tentang Narkoba</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>1   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="480"><strong>Jumlah Jam</strong></td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong>28  x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><em>Kelas / Semester  : X / 2</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="640">
<tbody>
<tr>
<td width="36"><strong>Semester</strong></td>
<td width="180"><strong>Standart   Kompetensi</strong></td>
<td width="265"><strong>Kompetensi   Dasar</strong></td>
<td width="94"><strong>Alokasi Waktu</strong></td>
<td width="66"><strong>Ket</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="15" width="36"><strong>D  U  A </strong></td>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">8. Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan   olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">8.1      Mempraktikkan   keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar   dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama,   kejujuran, menghargai, semangat, percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">8.2      Mempraktikkan   keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga bola kecil dengan   menggunakan peraturan dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran,   menghargai dan percaya diri **)</td>
<td width="94"><strong>4   x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">8.3      Mempraktikkan   keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta   nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat dan percaya diri **)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">8.4      Mempraktikkan   keterampilan gerak olahraga beladiri serta nilai kejujuran, toleransi, kerja   keras dan percaya diri **)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">9. Mempraktikkan latihan kebugaran jasmani dan   cara mengukurnya sesuai dengan keutuhan dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">9.1      Mempraktikkan   bebagai bentuk kebugaran jasmani sesuai dengan kebutuhan serta nilai   kejujuran, tanggung jawab, disiplin dan percaya diri</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">9.2      Mempraktikkan   tes kebugaran dan interpretasi hasil tes dalam menentukan derajat kebugaran   serta nilai kejujuran, semangat, tanggung jawab, disiplin dan percaya diri</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">10. Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam   lantai dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</td>
<td width="265" valign="top">10.1Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai   dengan menggunakan alat serta nilai percaya diri, kerjasama, tanggung jawab   dan menghargai teman</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">11. Mempraktikkan aktivitas ritmik tanpa alat   dengan koordinasi yang baik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</td>
<td width="265" valign="top">11.1Mempraktikkan kombinasi keterampilan langkah kaki   dan ayunan lengan pada aktivitas ritmik berirama tanpa  alat serta nilai disiplin, toleransi, keluwesan   dan estetika</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">12. Memahami beberapa gaya renang dan pertolongan   kecelakaan di air dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">12.1Menganalisis kombinasi teknik renang gaya dada, gaya   bebas dan salah satu gaya lain serta nilai disiplin, kerja keras, keberanian   dan tanggung jawab</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">12.2Memahami cara pertolongan kecelakaan di air dengan   sistem Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) serta nilai disiplin, kerja keras   keberanian dan tanggung jawab</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">13. Mempraktikkan perencanaan penjelajahan dan   penyelamatan aktivitas di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya*)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">13.1Mempraktikkan keterampilan dasar-dasar kegiatan   menjelajah gunung serta nilai tanggung jawab, kerjasama, toleransi, tolong   menolong, dan melaksanakan keputusan dalam kelompk</td>
<td width="94"><strong>4  x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">13.2Mempraktikkan keterampilan dasar penyelamatan   penjelajahan di pegunungan serta nilai tanggung jawab, kerjasama, toleransi,   tolong menolong, dan melaksanakan keputusan kelompok</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">13.3Mempraktikkan keterampilan penjagaan lingkungan yang   sehat</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">14. Menerapkan budaya hidup sehat</td>
<td width="265" valign="top">14.1Menganalisis dampak seks bebas</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">14.2Memahami cara menghindari seks bebas</td>
<td width="94"><strong>2  x 45 Meni</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="480"><strong>Jumlah Jam</strong></td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong>42 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kepala sekolah SMA Negeri 1 Lhoong                                              Lhoong, 01 Juni 2009</p>
<p><strong> </strong> Guru mata pelajaran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yusmizar, S.Pd                                                                                           Raisul Akbar, S.Pd</p>
<p>Nip. 196201011984032026                                                                Nip.  198009202006041017</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PROGRAM TAHUNAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Nama   Sekolah                       : SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p>Mata Pelajaran                        : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan</p>
<p>Kelas / Program                       : XI/IA-IS</p>
<p>Tahun Pelajaran                       : 2009/2010</p>
<p><strong>A. </strong><strong>PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU TIAP SEMESTER </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Semester I</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="631">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="161"><strong>Bulan</strong></td>
<td colspan="3" width="303"><strong>Banyaknya Pekan Semester Gasal</strong></td>
<td rowspan="2" width="132"><strong>Keterangan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="95"><strong>Seluruhnya</strong></td>
<td width="104"><strong>Tidak Efektif</strong></td>
<td width="104"><strong>Efektif</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">1</td>
<td width="161" valign="top">Juli 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">2</td>
<td width="161" valign="top">Agustus 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">3</td>
<td width="161" valign="top">September 2009</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">4</td>
<td width="104">1</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">4</td>
<td width="161" valign="top">Oktober 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">3</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">5</td>
<td width="161" valign="top">November 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">6</td>
<td width="161" valign="top">Desember 2009</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">4</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="196"><strong>Jumlah</strong></td>
<td width="95"><strong>26</strong></td>
<td width="104"><strong>12</strong></td>
<td width="104"><strong>14</strong></td>
<td width="132">
<strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Semester II</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="631">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="161"><strong>Bulan</strong></td>
<td colspan="3" width="303"><strong>Banyaknya Pekan Semester Genap</strong></td>
<td rowspan="2" width="132"><strong>Keterangan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="95"><strong>Seluruhnya</strong></td>
<td width="104"><strong>Tidak Efektif</strong></td>
<td width="104"><strong>Efektif</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">1</td>
<td width="161" valign="top">Januari 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">4</td>
<td rowspan="7" width="132"><em>1 Minggu Jam Tatap Muka 2 Jam Pelajaran</em></p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">2</td>
<td width="161" valign="top">Februari 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">3</td>
<td width="161" valign="top">Maret 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">4</td>
<td width="161" valign="top">April 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">5</td>
<td width="161" valign="top">Mei 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">6</td>
<td width="161" valign="top">Juni 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">5</td>
<td width="104">-</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="196"><strong>Jumlah</strong></td>
<td width="95"><strong>27</strong></td>
<td width="104"><strong>6</strong></td>
<td width="104"><strong>21</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B. </strong><strong>RINCIAN PROGRAM</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Kelas / Semester  : XI/ 1</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="640">
<tbody>
<tr>
<td width="36"><strong>Semester</strong></td>
<td width="180"><strong>Standart   Kompetensi</strong></td>
<td width="265"><strong>Kompetensi   Dasar</strong></td>
<td width="94"><strong>Alokasi Waktu</strong></td>
<td width="66"><strong>Ket</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="14" width="36"><strong>S  A     T   U</strong></td>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">1. Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan   olahraga dengan teknik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">1.1      Mempraktikkan   keterampilan teknik bermain salah satu permainan olahraga bola besar secara   sederhana serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat, percaya   diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">1.2      Mempraktikkan   keterampilan teknik serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat,   percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">1.3      Mempraktikkan   keterampilan teknik salah satu nomor atletik dengan menggunakan peraturan   yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, kejujuran, kerja keras dan percaya   diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">1.4      Mempraktikkan   keterampilan teknik penyerangan salah satu permainan olahraga beladiri serta   nilai kerjasama, kejujuran, menghargai orang, kerja keras dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">2. Mempraktikkan   aktivitas pengembangan untuk meningkatkan kualitas kebugaran jasmani dan cara   pengukurannya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">2.1      Mempraktikkan   berbagai bentuk latihan kelincahan, power dan daya tahan untuk peningkatan   kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin dan percaya diri</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">2.2      Mempraktikkan   tes untuk kelincahan, dan daya tahan dalam kebugaran jasmani serta nilai   tanggung jawab, disiplin dan percaya diri</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 X 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">3.Mempraktikkan   keterampilan senam dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">3.1      Mempraktikkan   keterampilan rangkaian senam ketangkasan dengan menggunakan alat serta nilai   percaya diri, kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">3.2      Mempraktikkan   keterampilan rangkaian senam ketangkasan tanpa menggunakan alat serta nilai   percaya diri, kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">4. Mempraktikkan   aktivitas ritmik menggunakan alat dengan koordinasi dan nilai-nilai yang   terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">4.1      Mempraktikkan   keterampilan aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi gerak lanjutan   serta nilai kedisiplinan, konsentrasi dan keluwesan dan estetika</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">4.2      Mempraktikkan   keterampilan aktivitas ritmik menggunakan alat serta nilai disiplin,   toleransi, kerja sama, keluwesan dan estetika</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">5. Memahami   salah satu gaya renang dan loncat indah dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya*)</td>
<td width="265" valign="top">5.1      Menganalisis  renang gaya samping untuk pertolongan serta   nilai disiplin, keberanian, kerja sama dan kerja keras</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="180" valign="top">6. Menerapkan   budaya hidup sehat</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">6.1      Memahami bahaya   HIV/AIDS</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">6.2      Memahami cara   penularan HIV/AIDS</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">6.3      Memahami cara   menghindari penularan HIV/AIDS</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="480"><strong>Jumlah Jam</strong></td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong>28 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Kelas / Semester  : XI/ 2</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="640">
<tbody>
<tr>
<td width="36"><strong>Semester</strong></td>
<td width="180"><strong>Standart   Kompetensi</strong></td>
<td width="265"><strong>Kompetensi   Dasar</strong></td>
<td width="94"><strong>Alokasi Waktu</strong></td>
<td width="66"><strong>Ket</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="15" width="36"><strong>D   U     A</strong></td>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">7. Mempraktikkan berbagai keterampilan dasar permainan   olahraga dengan teknik dan taktik dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">7.1      Mempraktikkan keterampilan bermain   salah satu permainan olahraga bola besar serta nilai kerjasama, kejujuran,   kerja keras, dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">7.2      Mempraktikkan keterampilan bermain   salah satu permainan olahraga bola kecil serta nilai kerjasama, kejujuran,   kerja keras, toleransi dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">7.3      Mempraktikkan teknik salah satu   atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama,   kejujuran, menghargai percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">7.4      Mempraktikkan teknik salah satu   permainan olahraga bela diri serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai,   percaya diri**</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="180" valign="top">8. Meningkatkan kualitas kebugaran jasmani dan cara   pengukurannya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</td>
<td width="265" valign="top">8.1      Mempraktikkan latihan sirkuit untuk   peningkatan kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan   percaya diri</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">8.2      Mempraktikkan peningkatan beban   latihan sirkuit untuk meningkatkan kebugaran jasmani serta nilai tanggung   jawab, disiplin, dan percaya diri</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">8.3      Mempraktikkan tes untuk mengukur   tingkat kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan percaya   diri</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">9. Mempraktekkan keterampilan senam ketangkasan dengan   alat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">9.1      Mempraktikkan keterampilan senam   ketangkasan dengan menggunakan alat lanjutan serta nilai percaya diri,   kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">9.2      Mempraktikkan keterampilan senam   ketangkasan tanpa menggunakan alat lanjutan serta nilai percaya diri,   kerjasama, tanggung jawab, menghargai teman</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">10. Mempraktikkan aktivitas ritmik menggunakan alat dengan   koordinasi yang baik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">10.1Mempraktikkan   kombinasi gerak berirama menggunakan alat dengan koordinasi serta nilai   kedisiplinan, konsentrasi dan keluwesan</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">10.2Merangkai   aktivitas ritmik menggunakan alat serta nilai kedisiplinan, konsentrasi dan   keluwesan</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">11. Memahami dasar pertolongan kecelakaan di air dan nilai-nilai   yang terkandung di dalamnya*)</td>
<td width="265" valign="top">11.1Menganalisis   keterampilan kombinasi gerakan renang serta nilai disiplin, kerja sama serta   keberanian</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">11.2Memahami    dasar pertolongan kecelakaan di air   dengan sistem Resusitasi Jantung dan Paru (RPJ) serta nilai disiplin dan   tanggung jawab</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">12. Mempraktikkan perencanaan dan keterampilan   penjelajahan dan penyelamatan di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung   di dalamnya.</td>
<td width="265" valign="top">12.1Mempraktikkan   keterampilan merencanakan penjalajahan di perbukitan</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">12.2Mempraktikkan keterampilan merencanakan penjalajahan di   perbukitan</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="480"><strong>Jumlah Jam</strong></td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong>42 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kepala sekolah SMA Negeri 1 Lhoong                                              Lhoong, 01 Juni 2009</p>
<p><strong> </strong> Guru mata pelajaran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yusmizar, S.Pd                                                                                           Raisul Akbar, S.Pd</p>
<p>Nip. 196201011984032026                                                                Nip.  198009202006041017</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong>PROGRAM TAHUNAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Nama   Sekolah                       : SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p>Mata Pelajaran                        : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan</p>
<p>Kelas / Program                       : XII/IA-IS</p>
<p>Tahun Pelajaran                       : 2009/2010</p>
<p><strong>A. </strong><strong>PERHITUNGAN ALOKASI WAKTU TIAP SEMESTER </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Semester I</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="631">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="161"><strong>Bulan</strong></td>
<td colspan="3" width="303"><strong>Banyaknya Pekan Semester Gasal</strong></td>
<td rowspan="2" width="132"><strong>Keterangan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="95"><strong>Seluruhnya</strong></td>
<td width="104"><strong>Tidak Efektif</strong></td>
<td width="104"><strong>Efektif</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">1</td>
<td width="161" valign="top">Juli 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">2</td>
<td width="161" valign="top">Agustus 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">3</td>
<td width="161" valign="top">September 2009</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">4</td>
<td width="104">1</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">4</td>
<td width="161" valign="top">Oktober 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">3</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">5</td>
<td width="161" valign="top">November 2009</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">2</td>
<td width="104">2</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">6</td>
<td width="161" valign="top">Desember 2009</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">4</td>
<td width="132">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="196"><strong>Jumlah</strong></td>
<td width="95"><strong>26</strong></td>
<td width="104"><strong>12</strong></td>
<td width="104"><strong>14</strong></td>
<td width="132">
<strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Semester II</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="631">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="161"><strong>Bulan</strong></td>
<td colspan="3" width="303"><strong>Banyaknya Pekan Semester Genap</strong></td>
<td rowspan="2" width="132"><strong>Keterangan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="95"><strong>Seluruhnya</strong></td>
<td width="104"><strong>Tidak Efektif</strong></td>
<td width="104"><strong>Efektif</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">1</td>
<td width="161" valign="top">Januari 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">1</td>
<td width="104">4</td>
<td rowspan="7" width="132"><em>1 Minggu Jam Tatap Muka 2 Jam   Pelajaran</em></p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">2</td>
<td width="161" valign="top">Februari 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">3</td>
<td width="161" valign="top">Maret 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">4</td>
<td width="161" valign="top">April 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">5</td>
<td width="161" valign="top">Mei 2010</td>
<td width="95">4</td>
<td width="104">-</td>
<td width="104">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">6</td>
<td width="161" valign="top">Juni 2010</td>
<td width="95">5</td>
<td width="104">5</td>
<td width="104">-</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="196"><strong>Jumlah</strong></td>
<td width="95"><strong>27</strong></td>
<td width="104"><strong>6</strong></td>
<td width="104"><strong>21</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>B. </strong><strong>RINCIAN PROGRAM</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Kelas / Semester  : XII/ 1</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="640">
<tbody>
<tr>
<td width="36"><strong>Semester</strong></td>
<td width="180"><strong>Standart   Kompetensi</strong></td>
<td width="265"><strong>Kompetensi   Dasar</strong></td>
<td width="94"><strong>Alokasi Waktu</strong></td>
<td width="66"><strong>Ket</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="15" width="36"><strong>S A T U</strong></td>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">1. Mempraktikkan keterampilan permainan   olahraga dengan peraturan yang sebenarnya dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">1.1      Mempraktikkan keterampilan bermain   salah satu olahraga bola besar lanjutan dengan peraturan yang dimodifikasi   serta nilai kerjasama, kejujuran, toleransi, kerja keras dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">1.2      Mempraktikkan keterampilan bermain   salah satu olahraga bola kecil dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai   kerjasama, kejujuran, toleransi, kerja keras dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">1.3      Mempraktikkan teknik atletik dengan   menggunakan peraturan yang sesungguhnya serta nilai kerjasama, kejujuran,   menghargai, semangat, percaya diri **)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">1.4      Mempraktikkan keterampilan bermain   salah satu permainan olahraga bela diri secara berpasangan dengan peraturan   yang sebenarnya serta nilai kejujuran, menghargai lawan, kerja keras dan   menerima kekalahan**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">2. Mempraktikkan perancangan   aktivitas pengembangan untuk peningkatan dan pemeliharaan kebugaran jasmani.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">2.1      Merancang program latihan fisik untuk   pemeliharaan kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin, dan   percaya diri</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">2.2      Melaksanakan program latihan fisik   sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar serta nilai tanggung jawab,   disiplin, dan percaya diri</td>
<td width="94"><strong>2 X 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="180" valign="top">3. Mempraktikkan rangkaian gerak   senam ketangkasan dengan konsep yang benar dan nilai-nilai yang terkandung di   dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">3.1      Mempraktikkan keterampilan gerakan   kombinasi rangkaian senam lantai serta nilai percaya diri, kerjasama,   tanggung jawab dan menghargai teman</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">3.2      Mempraktikkan keterampilan gerakan   kombinasi rangkaian senam lantai serta nilai percaya diri, kerjasama,   tanggung jawab dan menghargai teman</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">3.3      Mempraktikkan keterampilan gerakan   kombinasi rangkaian senam ketangkasan serta nilai percaya diri, kerjasama,   tanggung jawab dan menghargai teman</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">4. Mempraktikkan satu rangkaian gerak senam berirama   berbentuk aktivitas aerobik secara beregu dengan diiringi musik dan nilai-nilai   yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">4.1      Mempraktikkan keterampilan gerak   berirama senam aerobik serta nilai kerjasama, kedisiplinan, percaya diri,   keluwesan dan estetika</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">4.2      Mempraktikkan keterampilan   menyelaraskan antara gerak dan irama dengan iringan musik serta nilai   kerjasama, disiplin, percaya diri, keluwesan dan estetika</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66">
<strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">5.  Memahami berbagai   gaya renang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">5.1      Menganalisis gaya dada lanjutan serta   nilai disiplin, kerja keras dan keberanian</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>1 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">5.2      Menganalisis  renang gaya bebas lanjutan serta nilai   disiplin, kerja keras dan keberanian</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">5.3      Menganalisis  renang gaya punggung lanjutan serta nilai   disiplin, kerja keras dan keberanian</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>1 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">5.4      Menganalisis  renang gaya samping lanjutan serta nilai   disiplin, kerja keras dan keberanian</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="480"><strong>Jumlah Jam</strong></td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong>28  x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Kelas / Semester  : XII/ 2</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="640">
<tbody>
<tr>
<td width="36"><strong>Semester</strong></td>
<td width="180"><strong>Standart   Kompetensi</strong></td>
<td width="265"><strong>Kompetensi   Dasar</strong></td>
<td width="94"><strong>Alokasi Waktu</strong></td>
<td width="66"><strong>Ket</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="19" width="36"><strong>D    U   A</strong></td>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">6.  Mempraktikkan keterampilan permainan olahraga dengan peraturan   dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">6.1      Mempraktikkan keterampilan bermain   salah satu permainan olahraga bola besar lanjutan dengan peraturan yang   sebenarnya serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras   dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>4 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">6.2      Mempraktikkan keterampilan bermain   salah satu permainan olahraga bola kecil dengan peraturan yang sebenarnya   serta nilai kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya   diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">6.3      Mempraktikkan keterampilan atletik   dengan menggunakan peraturan yang sebenarnya serta nilai kerjasama,   kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>4  x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">6.4      Mempraktikkan keterampilan bela diri   secara berpasangan dengan menggunakan peraturan yang sebenarnya serta nilai   kerjasama, kejujuran, menerima kekalahan, kerja keras dan percaya diri**)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">7.    Memelihara   tingkat kebugaran jasmani yang telah dicapai dan nilai-nilai yang terkandung   di dalamnya</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">7.1      Mempraktikkan program latihan fisik   untuk pemeliharaan kebugaran jasmani</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">7.2      Mempraktikkan membaca hasil tes   berdasarkan tabel yang cocok</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 X 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">8.    Mengkombinasikan rangkaian gerakan senam lantai dan senam ketangkasan   dengan alat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">8.1      Mempraktikkan rangkaian gerakan senam   lantai serta nilai percaya diri, tanggung jawab, kerja sama dan percaya   kepada teman</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">8.2      Mempraktikkan rangkaian gerakan senam   ketangkasan dengan menggunakan alat serta nilai percaya diri, tanggung jawab,   kerja sama dan percaya kepada teman</td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2 x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="180" valign="top">9.    Mempraktikkan satu rangkaian gerak berirama secara beregu dan   nilai-nilai yang terkandung di dalamnya</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">9.1      Mempraktikkan rangkaian gerak senam   aerobik dengan iringan musik serta nilai kerjasama, disiplin, keluwesan dan   estetika</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">9.2      Mempraktikkan senam irama tradisional   sesuai budaya daerah secara berkelompok serta nilai kerjasama, disiplin,   percaya diri, keluwesan dan estetika</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="180" valign="top">10.  Memahami dan  penguasaan teknik berbagai gaya renang dan   nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">10.1     Menganalisis  berbagai gaya renang untuk kepentingan   bermain di air dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai disiplin,   sportif, jujur, toleran, kerja keras dan keberanian</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">10.2     Menganalisis keterampilan berbagai   gaya renang untuk estafet sesuai    dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai disiplin, sportif,   jujur, toleran, kerja keras dan keberanian</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">10.3     Menganalisis keterampilan ber-bagai   gaya renang untuk kepentingan pertolo-ngan serta nilai disiplin, sportif,   jujur, toleran, kerja keras dan keberanian</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" width="180" valign="top">11.    Mengevaluasi   kegiatan luar kelas/sekolah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya***)</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">11.1     Mengevaluasi kegiatan di sekitar   sekolah serta nilai percaya diri, kebersamaan, saling menghormati, toleransi,   etika dan demokrasi</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong> 2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">11.2     Mengevaluasi kegiatan di alam bebas   serta nilai percaya diri, kebersamaan, saling menghormati, toleransi, etika   dan demokrasi</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">11.3     Mengevaluasi kegiatan kunjungan ke   tempat-tempat bersejarah serta nilai percaya diri, kebersamaan, saling   menghormati, toleransi, etika dan demokrasi</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="265" valign="top">11.4   Mengevaluasi kegiatan karya wisata serta nilai percaya   diri, kebersamaan, saling menghormati, toleransi, etika dan demokrasi</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">12.    Mempraktikkan   budaya hidup sehat</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">12.1     Mempraktikkan pola hidup sehat</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="180" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="265" valign="top">12.2     Menampilkan pola hidup sehat</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="94"><strong>2 x 45 Menit</strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="480"><strong>Jumlah Jam</strong></td>
<td width="94"><strong> </strong></p>
<p><strong>42  x 45 Menit</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="66"><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kepala sekolah SMA Negeri 1 Lhoong                                              Lhoong, 01 Juni 2009</p>
<p><strong> </strong> Guru mata pelajaran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yusmizar, S.Pd                                                                                           Raisul Akbar, S.Pd</p>
<p>Nip. 196201011984032026                                                                Nip.  198009202006041017</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="302" valign="top">
<span style="text-decoration:underline;"> </span></td>
<td width="302" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="302" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH, http://www.raisulakbar.wordpress.com  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/489/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=489&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/11/16/489/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROPOSAL PENGADAAN MOBILER</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/11/15/484/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/11/15/484/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 05:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/2009/11/15/484/</guid>
		<description><![CDATA[PROPOSAL PENGADAAN PERALATAN MOBILER PEMERINTAH KABUPATEN ACEH BESAR DINAS PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 LHOONG Alamat : Jl. Raya Banda Aceh –Meulaboh KM 56 Kode Pos 23354 KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan dan kesehatan prima bagi kami, sehinggga dapat menyelesaikan Proposal usulan Bantuan Pengadaan Peralatan Mobiler pada SMA [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=484&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PROPOSAL</p>
<p>PENGADAAN PERALATAN  MOBILER</p>
<p>PEMERINTAH KABUPATEN ACEH BESAR<br />
DINAS PENDIDIKAN<br />
SMA NEGERI 1 LHOONG<br />
Alamat : Jl. Raya Banda Aceh –Meulaboh KM 56 Kode Pos 23354</p>
<p>KATA PENGANTAR</p>
<p>Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan dan kesehatan prima bagi kami, sehinggga dapat menyelesaikan Proposal usulan Bantuan Pengadaan Peralatan Mobiler pada SMA Negeri 1 Lhoong Aceh Besar Tahun 2009, dalam rangka pengembangan untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam mewujudkan kualitas para lulusan yang sesuai dengan standar kebutuhan kerja atau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.<br />
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan  perlu adanya kesadaran dan komitmen yang dilakukan secara terencana, terarah, dan inovatif untuk mewujudkan para lulusan sebagai persiapan kebutuhan untuk memasuki dunia kerja ditengah kemajuan dunia pendidikan yang sarat dengan persaingan. Peralatan Mobiler sebagai sarana pendukung pembelajaran.<br />
Proposal ini masih banyak kelemahan dan kekurangan, namun keinginan untuk mewujudkan terlaksananya proses pembelajaran dan mutu lulusan yang lebih baik sangatlah besar, atas bantuan dan perhatian semua pihak sangat kami ucapkan terima kasih.</p>
<p>Kepada Yth:<br />
Kepala Dinas Pendidikan Aceh Besar<br />
Cq. Kepala Bidang Menengah<br />
Di<br />
Kota Jantho</p>
<p> Assalamulaikum Wr Wb.<br />
Dengan hormat,  Berdasarkan dengan hasil rapat Komite Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lhoong tentang keadaan kekurangan mobiler pada sekolah kami berupa meja/kursi siswa. Dengan ini kami mengajukan permohonan bantuan kepada Bapak sesuai dengan Proposal Bantuan Pengadaan Peralatan Mobiler. Demikianlah permohonan ini kami ajukan dengan harapan untuk dapat dikabulkan / direalisasikan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Aceh Besar. Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih. Kami Yang Bermohon: </p>
<p>Lhoong, 09 November 2009<br />
Komite Sekolah						Kepala SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p>Tgk.Bukhari							Yusmizar,S.Pd<br />
								Nip. 196201011984032026                   </p>
<p>LEMBARAN PENGESAHAN PROPOSAL </p>
<p>PENGADAAN PERALATAN  MOBILER</p>
<p>SMA NEGERI 1 LHOONG</p>
<p>							  	Lhoong, 09 November 2009<br />
Komite Sekolah					Kepala SMA Negeri 1 Lhoong</p>
<p>Tgk.Bukhari						Yusmizar,S.Pd<br />
								Nip. 196201011984032026                   </p>
<p>Mengetahui,<br />
Kasubdin Madrasah Menengah<br />
Pendidikan Kabupaten Aceh Besar</p>
<p>Drs. Ramli Yahya<br />
Pembina TK.I / Nip.131 902 926</p>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>A.	Latar Belakang</p>
<p>Seiring dengan era globalisasi dan bergulirnya reformasi dinegara ini telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai lingkungan termasuk lingkungan pendidikan. Salah satu contoh perubahan mendasar yang sedang digulirkan saat ini adalah manajemen pendidikan.<br />
Adapun  konsepsi  pendidikan  tertera dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat (1) sebagai berikut:<br />
Pendidikan adalah usaha sadar dan  terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya  untuk  memiliki  kekuatan  spiritual  keagamaan,  pengendalian  diri, kepribadian,  kecerdasan,  akhlak  mulia,  serta  keterampilan  yang  diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<br />
 		Definisi  ini  merupakan  penafsiran  formal  dari  ungkapan  “mencerdaskan  kehidupan bangsa”. Suatu  tafsiran  yang  utuh  tidak  meredusir  atau  mengkerdilkan  manusia  hanya sekedar  cerdas  secara  intelektual  (IQ),  tetapi  secara emosional  (EQ),  secara  spiritual  (SQ), dan  secara  fisikal  (PQ).    Definisi  ini  juga  mengimplikasikan  bahwa  pendidikan  bukan sekedar  menyiapkan  tenaga  kerja  (SDM)  yang  trampil,  melainkan  juga merupakan  suatu proses  pembudayaan  dan  transformasi  nilai-nilai  budaya  bangsa,  serta menyiapkan warga masyarakat bangsa dan negara yang baik (a good citizen).<br />
Sementara itu berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Ditinjau dari kemajuan di era globalisasi, pendidikan di Aceh masih jauh kentinggalan dibandingkan dengan Provinsi lain. Dengan demikian para siswa  disekolah-sekolah dibekali dengan pengetahuan yang melibatkan pendidik yang trampil dan tersedianya fasilitas media pendidikan yang memadai.<br />
	Hal ini sejalan dengan peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan  yang merupakan kriteria minimum yang perlu dicapai oleh setiap satuan penyelenggaraan pendidikan salah satunya adalah perlu adanya sarana dan prasarana yang memadai untuk menjamin terwujudnya kompetensi lulusan.<br />
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, SMA Negeri 1 Lhoong  dalam upaya meningkatkan mutu para lulusan yang lebik baik, sesuai standar kompetensi kebutuhan, baik kebutuhan yang bersifat kemasyarakatan yang mandiri maupun untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu perlu mengupayakan terlaksananya proses pembelajaran yang lebih baik, khususnya dalam  pembekalan kompetensi para siswa yang berkaitan dengan pengadaan peralatan mobile untuk proses pendidikan disekolah.</p>
<p>B. 	Visi dan Misi<br />
Visi :  Menciptakan lulusan yang berkualitas unggul berlandaskan IMTAQ dan IPTEK serta menghasilkan siswa yang berkompetitif.<br />
		Misi:<br />
1. Meningkatkan kualitas organisasi dan manajemen sekolah dalam menumbuhkan semangat keunggulan dan  kompetitif.<br />
2.	Meningkatkan kualitas kompetensi guru dan pegawai dalam mewujudkan peningkatan kualitas pembelajaran untuk mencapai kompetensi siswa berstandar Nasional dan global.<br />
3.	Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan  dalam mendukung  peningkatan siswa yang berkualitas.<br />
4.	Meningkatkan kualitas pembinaan kesiswaan dalam mewujudkan IMTAQ dan sikap kemandirian .<br />
5.	Meningkatkan kemitraan dengan masyarakat khususnya komite sekolah dalam menunjang kualitas SDM. </p>
<p>C.	Tujuan dan Sasaran<br />
	Tujuan:<br />
1.	Membekali para siswa dengan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan seni agar mampu mengembangkan diri secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.<br />
2.	Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi siswa sesuai program studi  yang dipilihnya.<br />
3.	Menyiapkan siswa agar mampu memiliki karir, ulet dan gigih dalam berkompetisi, beradaptasi dilingkungan kerja dan mengembangkan sikap profesionalnya.<br />
	Sasaran:<br />
1.	Meningkatkan kualitas pembelajaran dengan pengadaan peralatan mobiler pada SMA Negeri 1 Lhoong.<br />
2.	Mendukung Ketersediaan fasilitas pendidikan  untuk penyelenggaraan pembelajaran<br />
3.	Untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan lulusan SMA Negeri 1 Lhoong dalam merespon perkembangan era globalisasi serta memiliki kompetitif dan komperatif .</p>
<p>USULAN PENGADAAN  PERALATAN MOBILER</p>
<p>NO	NAMA BARANG	SATUAN<br />
1	MEJA SISWA	80 UNIT<br />
2	KURSI SISWA	80 UNIT<br />
	JUMLAH	160 UNIT</p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=484&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/11/15/484/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN  MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/10/23/peran-komite-sekolah-dalam-pelaksanaan-manajemen-berbasis-sekolah-2/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/10/23/peran-komite-sekolah-dalam-pelaksanaan-manajemen-berbasis-sekolah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 11:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[http://www.raisulakbar.wordpress.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka Pemerintah telah berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=482&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. </strong><strong>Latar Belakang Masalah</strong><strong> </strong><br />
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka Pemerintah telah berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi kenyataan belum cukup dalam meningkatkan kualitas pendidikan (Depdiknas, 2001:2).</p>
<table style="text-align:center;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>1</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor : 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.<br />
Salah satu tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini berarti peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam peningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya sekadar memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu sekolah.<br />
Otonomi daerah sebagai wahana untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan di masyarakat, lancar dan tidaknya realisasi pelaksanaan otonomi daerah tersebut, sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat itu sendiri. Kemampuan yang dibutuhkan antaranya adalah kemampuan sumber daya manusia untuk mengelola dinamika masyarakat, kemampuan untuk mengalokasikan sumber finansial daya alam, secara tepat, memotifasi lembaga-lembag pendukung pembangunan, serta keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan untuk kemajuan daerah. Dalam rangka pelaksanaan otonomi pendidikan sebagai salah satu bagian dari otonomi daerah, maka untuk meningkatkan peran serta masyarakat di bidang pendidikan, diperlukan suatu wadah yang dapat mengakomodasikan pandangan, aspirasi dan menggali potensi masyarakat untuk menjamin terciptanya demokratisasi, transparasi, dan akuntabilitas pendidikan.  Salah satu wadah tersebut  adalah  dewan pendidikan di tingkat Kabupaten/ Kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Keberadaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah ini telah mengacu kepada undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Progam Pembangunan Nasional (Propenas) tahun 2000-2004, dan sebagai implementasi dari undang-undang tersebut telah diterbitkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.<br />
Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang bersifat universal, untuk seluruh umat dimanapun dan kapanpun. Di Indonesia pendidikan merupakan kebutuhan seluruh warga negara, maka pengembangannya harus konseptual, menyeluruh, fleksibel dan berkesinambungan (Hardono, 1999:1). Untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan di antaranya kebijakan pembentukan dewan Pendidikan dan  Komite Sekolah yang akhir-akhir ini menjadi agenda terhangat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Konsep baru ini cenderung disambut dan diapresiasi sebagai sebuah angin segar dalam proses perjalanan penyelenggaraan lembaga pendidikan dengan lebih mengintensifkan pelibatan masyarakat.<br />
Adanya perubahan paradigma sistem  pemerintahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi telah membuka peluang bagi mmasyarakat utnuk dapat meningkatkan peran sertanya dalam pengelolaan pendidikan, Salah satunya upaya untuk mewujudkan peluang tersebut adalah melalui Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten /Kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan amanat rakyat yang telah tertuang dalam UU RI No.25 tahun 2000 tentang Progam Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Amanat rakyat ini selaras dengan kebijakan otonomi daerah, yang telah memposisikan Kabupaten/Kota sebagai pemegang kewenangan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan pendidikan di daerah tidak hanya diserahkan kepada Kabupaten/Kota, melainkan juga dalam beberapa hal telah diberikan kepada satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Dengan kata lain, keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah propinsi, Kabupaten/Kota, dan pihak sekolah orang tua, dan masyarakat atau stakeholder  pendidikan. Hal ini sesuai dengan konsep partisipasi bebasis masyarakat (community based participation) dan Manajemen Berbasis Sekolah (school based management) yang kini tidak hanya menjadi wacana, tetapi mulai dilaksanakan di Indonesia. Inti dari penerapan  kedua  konsep tersebut  adalah bagaimana agar sekolah dan semua yang berkompeten atau stakeholder pendidikan dapat memberikan layanan pendidikan yang berkualitas. Untuk itu diperlukan kerjasama yang sinergis dari pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat atau stakeholder lainnya secara sitematik sebagai wujud peran serta dalam melakukan pengelolaan pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan Komite sekolah.<br />
Sesuai dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang semakin meningkat dewasa ini, maka dalam era manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pengelolaan pendidikan perlu dibenahi selaras dengan tuntutan perubahan yang dilandasi oleh adanya kesepakatan, komitmen, kesadaran, kesiapan membangun budaya baru dan profesionalisme dalam mewujudkan &#8220;Masyarakat Sekolah&#8221; yang memiliki loyalitas terhadap peningkatan mutu sekolah.<br />
Pendidikan dengan segala persoalannya tidak mungkin diatasi hanya oleh lembaga persekolahan. Untuk melaksanakan program-progamnya, sekolahan perlu mengundang berbagai pihak yaitu keluarga, masyarakat, dan dunia usaha/ industri untuk beraptisipasi secara aktif dalam berbagai program pendidikan. Paertisipasi ini perlu dikelola dan dikoordinasikan dengan baik agar lebih bermakna bagi sekolah, terutama dalam peningkatan mutu dan efektifitas pendidikan lewat suatu wadah yaitu Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten/ Kota dan Komite Sekolah di setiap satuan pendidikan. Dengan demikian pelaksanaan MBS disatuan pendidikan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.<br />
Beberapa alasan penulis memilih tema di atas adalah: 1) adanya fenomena yang berkembang di masyarakat terhadap keberadaan Komite Sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan 2) Komite Sekolah merupakan organisasi baru dalam dunia pendidikan yang menarik untuk ditelaah lebih mendalam khususnya dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.<br />
Dengan uraian diatas maka dalam penelitian ini mengkaji eksistensi komite dalam Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah yang terjadi di lingkungan SMP Negeri 1 Seulimeum.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Rumusan Masalah</strong><br />
Pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang melibatkan masyakat secara aktif dalam setiap langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah adalah merupakan pemaknaan dari penerapan konsep Manajemen Berbasis Sekolah, namun disebabkan hal tersebut adalah suatu konsep dalam pendidikan, sehingga perlu untuk melakukan suatu kajian untuk melihat keaktifan masyarakat dalam penerapan konsep Manajemen Berbasis Sekolah.<br />
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi pokok permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: <strong><em>Bagamanakah peranserta komite sekolah dalam meningkatan mutu pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah untuk di SMP Negeri 1 Seulimeum?</em></strong><br />
<strong><em> </em></strong><strong>C. </strong><strong>Tujuan Penelitian</strong><br />
Mengingat penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap secara menyeluruh dan komprehensif semua aspek yang terkait tentang Eksistensi Komite Sekolah Dalam Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah, dengan mengambil kasus yang terjadi di SMP Negeri 1 Seulimeum Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis:<br />
Bagaimana  peran Komite sekolah yang telah diterapkan secara konsekuensi di SMP Negeri 1 Seulimeum ? <strong><em> </em></strong><br />
Bagaimana  cara-cara komite sekolah dalam menjalankan peranannya dalam penyelenggaraan pendidikan dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum <strong><em> </em></strong><br />
Sejauh mana ketercapaian pelaksanaan peran komite sekolah dalam memberikan jaminan pelibatan stakeholder pendidikan dalam mendukung proses pendidikan. <strong><em> </em></strong><br />
Faktor pendorong dan faktor penghambat yang dapat mempengaruhi eksistensi sekolah dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum.  <strong><em> </em></strong><br />
<strong><em> </em></strong><strong>D. </strong><strong>Pertanyaan Penelitian</strong><br />
Adapun pokok- pokok masalah penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:<br />
Bagaimanakah peran Komite sekolah yang telah diterapkan secara konsekuensi di SMP Negeri 1 Seulimeum ? <strong><em> </em></strong><br />
Bagaimanakah cara-cara komite sekolah dalam menjalankan peranannya dalam penyelenggaraan pendidikan dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum<br />
Sejauh manakah ketercapaian pelaksanaan peran komite sekolah dalam memberikan jaminan pelibatan stakeholder pendidikan dalam mendukung proses pendidikan.<br />
Bagaimnakah faktor pendorong dan faktor penghambat yang dapat mempengaruhi eksistensi sekolah dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum.<br />
<strong>F. </strong><strong>Manfaat Penelitian</strong><br />
Hasil penelitian yang berupa eksistensi Komite Sekolah dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum akan bermanfaat bagi para penyelenggara pendidikan (kepala sekolah), departemen Pendidikan dan Kebudayaan, para pengurus komite sekolah, serta para stakeholder pendidikan terutama untuk :<br />
1. Manfaat teoritis<br />
Menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama tentang eksistensi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS.<br />
Peneliti dapat menyumbangkan gagasannya yang berkaitan dengan eksistensi sekolah dalam pelaksanaan MBS.<br />
Hasil-hasil yang diperoleh dapat menimbulkan permasalahan baru untuk diteliti lebih lanjut.<br />
2. Manfaat praktis<br />
Bagi pengurus komite sekolah<br />
Mengungkapkan beberapa kendalaatau hambatan terhadap profil dan peran komite sekolahyang pada akhirnya dapat digunakan oleh pengurus komite sekolahsebagai tataran pelaksanaan di lapangan, serta keberadaaannya yang cukup strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan.<br />
b.  Bagi penyelenggara pendidikan<br />
Memberikan sumbangan pemikiran dan masukan bagi penyelenggara pendidikan akan pentingnya profil dan peran Komite Sekolah yang berguna dalam upaya peningkatan komitmen dan profesionalisme dalam mewujudkan &#8220;Masyarakat Sekolah&#8221; yang memiliki loyalitas terhadap peningkatan mutu sekolah.<br />
c.  Bagi Dinas Pendidikan Nasional<br />
Membentuk pihak-pihak yang berkepentingan dalam menjelaskan berbagai isu terhadap pembentukan Komite Sekolah hanya sekedar merubah nama dari BP3 sekaligus memberi masukan yang penting bagi para pemerhati pendidikan untuk lebih memiliki integritas yang tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di satuan pendidikan masing-masing.</p>
<p><strong>G. </strong><strong>Landasan Teoritis</strong><br />
Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan di tingkat pendidikan dasar tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.<br />
Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.<br />
Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi.<br />
Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.<br />
Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui Manajemen Berbasisi Sekolah (School Based Management).<br />
<em>Faktor Pendorong Perlunya Desentralisasi Pendidikan</em><br />
Saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan<sup>1</sup>. Beberapa perubahan tersebut antara lain,<br />
Orientasi manajemen yang sarwa negara ke orientasi pasar. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul.<br />
Orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis.<br />
Sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.<br />
Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global.<br />
Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif, yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Disamping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal), menghambat kreativitas, dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi terinci sbb.:<br />
tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.<br />
anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah.<br />
ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam.<br />
penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat<br />
tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.<br />
Desentralisasi pendidikan, mencakup tiga hal, yaitu;<br />
manajemen berbasis lokasi (site based management).<br />
pendelegasian wewenang<br />
inovasi kurikulum.<br />
Pada dasarnya manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pengurangan administrasi pusat adalah konsekwensi dari yang pertama dengan diikuti pendelegasian wewenang dan urusan pada sekolah. Inovasi kurikulum menekankan pada pembaharuan kurikulum sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua peserta didik. Kurikulum disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di daerah atau sekolah. Pada kurikulum 2004 yang akan diberlakukan, pusat hanya akan menetapkan kompetensi-kompetensi lulusan dan materi-materi minimal. Daerah diberi keleluasaan untuk mengembangkan silabus (GBPP) nya yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan daerah. Pada umumnya program pendidikan yang tercermin dalam silabus sangat erat dengan program-program pembangunan daerah. Sebagai contoh, suatu daerah yang menetapkan untuk mengembangkan ekonomi daerahnya melalui bidang pertanian, implikasinya silabus IPA akan diperkaya dengan materi-materi biologi pertanian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian. Manajemen berbasis lokasi yang merujuk ke sekolah, akan meningkatkan otonomi sekolah dan memberikan kesempatan kepada tenaga sekolah, orangtua, siswa, dan anggota masyarakat dalam pembuatan keputusan.<br />
Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran, personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional. Jika pengelola di tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko, Nigeria, dan Zimbabwe.<br />
Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikulum lokal. Kurikulum juga harus mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional.<br />
Proses belajar mengajar menekankan terjadinya proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran lingkungan yaitu memanfaatkan lingkungan baik fisik maupun sosial sebagai media dan sumber belajar, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan alat pemersatu bangsa.<br />
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.<br />
<strong>H. </strong><strong>Pendekatan Penelitian</strong><br />
Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengguna metode dan pendekatan tersebut mengingat tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis mengenai upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penerapan MBS di SMP Negeri 1 Seulimeum Kabupaten Aceh Besar, oleh Kepala Sekolah maupun guru yang terjadi pada saat sekarang. Sebagaimana yang di kemukakan oleh Latunussa (1989:55) bahwa:<br />
Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu pertanyaan mengenai hakikat gejala atau pertanyaan mengenai apa itu atau mendiskripsikan tentang apa itu, sehingga diperoleh informasi keadaan gejala yang sedang berlangsung sebagai pemecahan masalah yang ada, masalah yang hangat dan actual, dalam bentuk kata atau kalimat sehingga memberikan makna.<br />
Sejalan dengan pendapat tersebut, Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong (1996:31) mengemukakan bahwa:<br />
Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu prosedur penelitian  yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati yang diarahakan pada latar dan individu secara holistik.<br />
<strong>I. </strong><strong>Subjek Penelitian</strong><br />
Subjek penelitian ini adalah tokoh masyarakat, Kepala Sekolah, Guru dan pihak- pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan di persekolahan, dan yang akan dijadikan sebagi lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Lhoong.  pengambilan sumber data dalam penelitian ini menggunakan ‘ <em>purposive sampling</em>’ yaitu pilihan peneliti tentang aspek apa dan siapa yang jadikan focus pada saat situasi tertentu dan karena itu uterus menerus sepanjang penelitian. Sampling kualitatif yang tergantung pada tujuan focus pada saat itu. Penelitian ini berprinsip bahwa penelitian kualitatif yang dipentingkan adalah konteks dan bukan jumlah sumber datanya. Sumber data awal ini menjadi pegangan dalam penelitian ini, sedangkan data dapat diperoleh dari banyak informasi (menggelinding), sehingga mencapai taraf konsisten.<br />
Namun untuk menjadi suatu pedoman dalam pelaksanaan penelitian dan untuk memudah pelaksanaan, maka dalam hal ini jumlah subjeknya adalah: 1 (satu) orang kepala sekolah, 4 (empat) orang dari masing- masing pengurus komite sekolah, 4 (empat) orang guru dari sekolah dan tokoh masyarakat dari sekitar sekolah yang bersangkutan.<br />
<strong>J. </strong><strong>Teknik Pengumpulan Data</strong><br />
Keberhasilan suatu penelitian terutama penelitian kualitatif, tergantung beberapa factor. Paling tidak ditentukan oleh factor kejelasan tujuan dan permasalahan penelitian, ketepatan pemilihan pendekatan/ metodelogi, ketelitian dan kelengkapan data/ informasi itu sendiri. Dalam penelitian yang mendasarkan pada pendekatan kualitatif ini dipergunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Ketiga teknik yang akan dijalaskan berikut ini, digunakan peneliti dalam rangka memperoleh informasi saling melengkapi.<br />
Observasi; dilakukan dengan pengamatan tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Observasi sebagai pengumpulan data/ informasi dilakukan secara sistematis, bukan sebagai sambilan atau kebetulan saja. Dan dalam observasi ini akan diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk mengatur, mempengaruhi atau memanipulasi objek pengamatan yang sedang diobservasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi focus dari observasi adalah kegiatan- kegiatan yang berkenaan tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Seperti Pertemuan antara pihak sekolah dengan komite sekolah, kegiatan seharian di sekolah dan kegiatan lain yang berkenaan dengan tujuan dari penelitian ini.<br />
Wawancara; yaitu dengan melakukan tanya jawab atau mengkonfirmasikan kepada sampel penelitian dengan sistematis (wawancara terstruktur). Dalam wawancara ini, pertanyaan dan jawaban akan bersifat verbal atau semacam percakapan yang bertujuan memperoleh data atau informasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi sasaran dari wawancara adalah Kepala Sekolah, pengurus Komite Sekolah, guru, tokoh masyarakat dan sumber lainnya yang relevan.<br />
Studi dokumentasi; yaitu suatu alat penelitian yang bertujuan untuk melengkapi data (sebagai bukti pendukung), yang bersumber bukan dari manusia yang memungkinkan dilakukannya pengecekan untuk mengetahui kesesuiannya. Sumber data yang menjadi focus dalam penelitian ini adalah Notulen Rapar pihak sekolah dengan Komite sekolah, orang tua siswa dan dengan masyarakat. Serta dokumen lainnya yang mendukung kajian penelitian ini.<br />
Dalam penelitian kualitatif tidak terdapat prosedur pengumpulan data yang memiliki pola yang pasti. Nasution (1982:37) mengatakan “ masing- masing peneliti dapat memberi sejumlah petunjuk dan saran berdasarkan pengalaman masing- masing”, namun demikian Lincoln dan Guba (Nasution, 1996) mengatakan terdapat rangkaian prosedur dasar yang dipergunakan dalam penelitian kualitatif, prosedur itu meliputi tahap orientasi, explorasi, dan member check. Pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kegiatan sebagai berikut:<br />
Tahap Orientasi<br />
Pada saat ini peneliti melakukan kegiatan:<br />
Pendekatan kelembaga-lembaga yang menjadi lokasi penelitian, dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang lokasi dan focus masalah penelitian , serta memilih jumlah informan awal yang memadai untuk memperoleh informan yang tepat.<br />
Melakukan pendalaman terhadap sumber-sumber bacaan yang berhubungan dengan masalah penelitian, guna menyusun kerangka penelitian dan teori-teori.<br />
Melakukan wawancara awal untuk memperoleh informasi yang bersifat umum yang berkenaan dengan ruang lingkup penelitian ini.<br />
Tahap Eksplorasi<br />
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan:<br />
Mengadakan wawancara secara intensif dengan subjek penelitian, yaitu kepala sekolah, pengurus komite sekolah, guru dan tokoh masyarakat, terutama yang berperan aktif dalam kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat.<br />
Melakukan observasi persiapan dan pelaksanaan dalam konteks upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam manajemen berbasis sekolah.<br />
Mengumpulkan dan mempelajari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan kegiatan upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam manajemen berbasis sekolah.<br />
Tahap Member check<br />
Pada tahap ini, semua data dan informasi yang telah dikumpulkan dan dicek ulang dengan metode triangulasi, untuk melihat kelengkapan atau kesempurnaan serta validitas data. Pengecekan data-data ini dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut:<br />
Mengecek ulang data-data yang sudah terkumpul, baik data yang terkumpul dari wawancara, hasil observasi maupun dokumen.<br />
Meminta data atau informasi ulang kepada subjek penelitian apabila ternyata data yang terkumpul tersebut belum lengkap.<br />
Meminta penjelasan kepada pihak terkait tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi dalam penerapan manajemen berbasis sekolah<br />
<strong>K. </strong><strong>Teknik Analisis Data</strong><br />
Tujuan utama penelitian ini adalah memahami prilaku manusia dalam konteks tertentu. Sebagai konsekuensi dari tujuan , sifat dan pendekatan penelitian kualitatif tersebut, maka proses dan teknik analisa data yang ditempuh peneliti cenderung beragam. Kualitas konseptual, kreativitas dan intuisi peneliti menentukan keberhasilan analisanya. Sesuai dengan sifat penelitian yang <em>naturalistic-fenomenologis</em> <em>kualitatif, tentunya semua </em>informasi yang dijaring dengan berbagai macam alat dalam studi ini berupa uraian yang penuh deskripsi mengenai subjek yang diteliti, pendapat, pengetahuan, pengalaman dan aspek lainya yang berkaitan. Tentu tidak semua data itu dipindahkan dalam laporan penelitian, melainkan dianalisis dengan menggunakan prosedur menurut Nasution ( 1988:129-130) yaitu: (1) reduksi data, (2) display data, (3) mengambil keputusan dan verifikasi. Analisis data dalam penelitian naturalisti kualitatif menurut Moelong (2000) adalah proses mengatur data untuk ditafsirkan dan diketahui maknanya.<br />
<strong><em>1. </em></strong><strong><em>Reduksi Data</em></strong><br />
Tahap ini dilakukan dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan lapangan, dan dokumen, sehingga dapat ditemukan hal- hal pokok dari proyek yang diteliti yang berkenaan dengan fokus penelitian.<br />
<strong><em>2. </em></strong><strong><em>Display Data</em></strong><br />
Pada tahap ini, dilakukan dengan merangkum hal- hal pokok yang ditemukan dalam susunan yang sismatis, yaitu data disusun dengan cara menggolongkannya ke dalam pola, tema, unit atau katagori, sehingga tema sentral dapat diketahui dengan mudah, kemudian diberi makna sesuai materi penelitian. Lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan analisis dan interpretasi data adalah merupakan proses penyederhanaan dan trasformasi timbunan data mentah, sehingga menjadi kesimpulan- kesimpulan yang singkat, padat dan bermakna.<br />
<strong><em>3. </em></strong><strong><em>Verifikasi</em></strong><br />
Pada tahap ini dilakukan pengujian tentang kesimpulan yang telah diambil dengan data pembandingan yang bersumber dari hasil pengumpulan data dan penunjang lainnya. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat kebenaran hasil analisis sehingga melahirkan kesimpulan yang diambil dilakukan dengan menghubungkan atau mengkomunikasikan hasil- hasil penelitian dengan teori- teori para ahli. Terutama teori yang menjadi kerangka acuan peneliti dan keterkaitannya dengan temuan- temuan dari penelitian lainnya yang relevan, melakukan proses member- chek mulai dari tahap orientasi sampai dengan kebenaran data terakir, dan akhirnya membuat kesimpulan untuk dilaporkan sebagai hasil penelitian.<br />
<strong>L. </strong><strong>Instrumen Penelitian</strong><br />
Instrument  penelitian dilakukan melalui (1) trianggulasi, baik metode, dan sumber untuk mencek kebenaran data dengan membandingkannya dengan data yang diperoleh sumber lain, dilakukan, untuk mempertajam tilikan kita terhadap hubungan sejumlah data; (2) melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik dalam proses penelitian; (3) menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan nilai kepercayaan akan kebenaran data yang diperoleh, (4) <em>member check</em>, pengecekan terhadap hasil-hasil yang diperoleh guna perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dalam memberikan data yang dibutuhkan peneliti.</p>
<br />Posted in http://www.raisulakbar.wordpress.com  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/482/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=482&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/10/23/peran-komite-sekolah-dalam-pelaksanaan-manajemen-berbasis-sekolah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MACAM-MACAM PENELITIAN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/10/16/macam-macam-penelitian/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/10/16/macam-macam-penelitian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 17:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[http://www.raisulakbar.wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[1. Berdasarkan sifat masalah, rancangan penelitian dapat digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu: Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=480&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">1.	Berdasarkan sifat masalah, rancangan penelitian dapat digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu:<a href="http://www.raisulakbar.wordpress.com"> </a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.raisulakbar.wordpress.com">Penelitian historis  menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.  Penelitian deskriptif  penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain.  Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.  Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.  Penelitian Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).  Rancangan Penelitian Eksperimen  Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi. Rancangan Pra-Eksperimental Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu: a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study) b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest) c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design) Karakteristik Penelitian Eksperimen Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi. Rancangan Eksperimen Sungguhan Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu: a)	Adanya kelompok kontrol. b)	Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok. c)	Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut. •	Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest only control group design) •	Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (therandomized pretest-posttest control group design) •	Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design) •	Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design) •	Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using) Rancangan Eksperimen Semu  Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu: •	Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (therandomized posttest – only control group design, using matched subject).  •	Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject), •	Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter balanced, using matched subject) . •	Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design) •	Rancangan faktorial (factorial design). Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:  a.	Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.  b.	Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.  c.	Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.  d.	Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:  1.	Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;  2.	menentukan cara mengontrol;  3.	memilih rancangan penelitian yang tepat;  4.	menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;  5.	membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;  6.	membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;  7.	mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis. e.	Melaksanakan eksperimen.  f.	Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen. g.	Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.  h.	Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.  i.	Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003). Studi  kasus dan Penelitian lapangan Penelitian kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan. kekhususan 	Subjek yang diteliti terdiri dari suatu kesatuan ( unit ) secara mendalam, sehingga hasilnya merupakan gambaran lengkap atau kasus pada unit itu. Kasus bisa terbatas pada satu orang saja, satu keluarga, satu daerah, satu peristiwa atau suatu kelompok terbatas lain. 	Selain penelitian hanya pada suatu unit, ubahan-ubahan yang diteliti juga terbatas, dari ubahan-ubahan dan kondisi-kondisi yang lebih besar jumlahnya, yang terpusat pada spek yang menjadi kasus. Biasanya penelitian ini dengan cara longitudinal. Penelitian Korelasional Penelitian korelasional bertujuan melihat hubungan antara dua gejala atau lebih.misalnya, apakah ada hubungan antara status sosial orang tua siswa dengan prestasi anak mereka. Penelitian Kausal-Komparatif Penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki. Misalnya : sikap santai siswa dalam kegiatan belajar mungkin disebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja. Kekhususan 	Pengumpulan data mengenai gejala yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat itu dilakukan setelah peristiwa yang dipermasalahkan itu telah terjadi ( penelitian bersifat ex post facto ). 	Suatu gejala yang diamati, diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau. Penelitian Tindakan Penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru untuk mengatasi kebutuhan dalam dunia kerja atau kebutuhan praktis lain. Misalnya, meneliti keterampilan kerja yang sesuai bagi siswa putus sekolah di suatu daerah.          2.	Perbedaan pendekatan kuantitatif dan kualitatif adalah: Perbedaan Paradigma Kuantitatif-Kualitatif           Bertolak dari perbedaan-perbedaan disebut, dapat dicatat berbagai perbedaan paradigma yang cukup signifikan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Seperti dikemukakan sebelumnya, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigmatik dengan penelitian kualitatif. Secara garis besar, perbedaan dimaksud mencakup beberapa hal: Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang analisisnya secara umum memakai analisis statistik. Penelitian kuantitatif dikembangkan oleh penganut positivisme yang dipelopori oleh Auguste Conte. Aliran ini berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu sosial, maka metode-metode IPA harus diadopsi ke dalam  riset-riset ilmu sosial (Harahap, 1992). Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti yang  kemudian menghasilkan data kuantitatif. Berbeda dengan penelitian kualitatif yang menekankan pada studi kasus, penelitian kuantitatif bermuara pada survey. Richard dan Cook (dalam Abdullah Fajar, 1992) mengemukakan perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut :   PARADIGMA KUALITATIF	PARADIGMA KUANTITATIF Menganjurkan pemakaian metode kualitatif  Bersandar pada fenomenologisme dan verstehen; perhatian tertuju pada pemahaman tingkah laku manusia dari sudut pandangan pelaku itu sendiri.  Pengamatan berlangsung secara alamiah (naturalistic) dan tidak dikendalikan (uncontrolled)  Bersifat subyektif Dekat dengan data; bertolak dari perspektif dari “dalam” individu atau masyarakat yang diteliti. Penelitian bersifat mendasar (grouned), ditujukan pada penemuan (discovery-oriented), menekankan pada perluasan (expansionist), bersifat deskriptif, dan induktif. Berorientasi pada proses Valid; data bersifat ‘mendalam’, ‘kaya’, dan ‘nyata. Tidak dapat digeneralisasikan; studi di atas kasus tunggal  Bersifat holistic Mengasumsikan adanya realitas yang bersifat dinamik	Menganjurkan pemakaian metode-metode kuantitatif. Bersandar pada positivisme logika; mencari fakta-fakta dan sebab-sebab dari gejala sosial dengan mengesampingkan keadaan individu-individu. Pengamatan ditandasi pengukuran yang dikendalikan dan blak-blakan (obtrusive)  Bersifat obyektif Jauh dari data; bertolak dari sudut pandangan dari “luar”   Penelitian bersifat tidak mendasar (ungrouned), ditujukan pada pengujian (verification-oriented), menekankan penegasan (confirmatory), reduksionis,   inferensial, deduktif-hipotetik. Berorientasi pada hasil  Reliabel; data ‘keras’ dan dapat diulangDapat digeneralisasikan; studi atas banyak kasus  Bersifat partikularistik Mengasumsikan adanya realitas yang stabil  3.	Dua macam kesalahan dalam pengujian hipotesis adalah: Pengujian Hipotesis Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata hupo dan thesis. Hupo artinya sementara, atau kurang kebenarannya atau masih lemah kebenarannya. Sedangkan thesis artinya pernyataan atau teori. Karena hipotesis adalah pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya, sehingga istilah hipotesis ialah pernyataan sementara yang perlu diuji kebenarannya. Untuk menguji kebenaran sebuah hipotesis digunakan pengujian yang disebut pengujian hipotesis atau pengetesan hipotesis (testing hypothesis). Pengujian hipotesis akan membawa kepada kesimpulan untuk menolak atau menerima hipotesis. Dengan demikian kita dihadapkan pada dua pilihan. Agar pemilihan kita lebih rinci dan mudah, maka diperlukan hipotesis alternatif selanjutnya disingkat H1 dan hipotesis nol yang selanjutnya disingkat Ho. H1 disebut sebagai hipotesis kerja atau hipotesis penelitian (research hypothesis). H1 adalah lawan atau tandingan dari Ho. Dalam pengujian hipotesis akan terjadi dua macam kesalahan, yaitu : 1.	Kesalahan tipe 1 yaitu menolak hipotesis yang seharusnya tidak ditolak. 2.	Kesalahan tipe 2 yaitu tidak menolak hipotesis yang seharusnya ditolak. Hubungan antara hipotesis, kesimpulan dan tipe kesalahan dapat digambarkan seperti tabel di bawah ini : Ho benar Ho salah Menerima Ho benar Kesalahan 1 Menolak Ho Kesalahan 2 benar Ketika merencanakan pengujian hipotesis, kedua tipe kesalahan tesebut hendaklah dibuat sekecil mungkin. Kedua tipe kesalahan tersebut dinyatakan dalam peluang. Peluang ini juga sekaligus merupakan besarnya resiko kesalahan yang ingin kita hadapi. Peluang membuat kesalahan tipe 1 biasanya dinyatakan dengan α. Dan peluang membuat kesalahan tipe 2 Tugas Statistik biasanya dinyatakan dengan β. α disebut juga taraf signifikansi, taraf arti, taraf nyata atau probability = p, taraf kesalahan dan taraf kekeliruan. Pengujian hipotesis ada tiga macam, yaitu : 1.	Uji Eka Arah, yaitu pihak kanan 2.	Uji Eka Arah, yaitu pihak kiri 3.	Uji Dwi Arah  4.	10 FENOMENA YANG BERKAITAN DENGAN PROFESI BIMBINGAN KONSELING ADALAH: 1.	Mengganggu teman pada saat proses belajar mengajar 2.	Bolos jam pelajaran 3.	Mencontek 4.	Tidak focus atau konsentrasi pada materi belajar 5.	Kurang disiplin terhadap peraturan sekolah 6.	Tidak mengerjakan pekerjaan rumah 7.	Keluar masuk kelas pada saat PBM 8.	Sering terlambat 9.	Berkelahi dengan teman 10.	Melawan guru  KORELASI KEBIJAKAN SISTEM PENDIDIKAN DENGAN PROGRAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL (PBKL) A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menetapkan Visi pendidikan nasional dalam mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Untuk mewujudkan visi tersebut, misi Departemen Pendidikan Nasional adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional; (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global; (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; (6) meningkatkan profesionalas dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejalan dengan Visi dan Misi Depdiknas tersebut di atas, maka sebagai acuan dasar dalam rangka pengembangan Rencana Strategis Pengembangan dan Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah 2005–2009, Ditjen. Manajemen Dikdasmen merumuskan Visi dan Misi sebagai berikut: Visi Ditjen. Manajemen Dikdasmen adalah: ”Mewujudkan pendidikan bermutu untuk kehidupan yang cerdas atas dasar kepribadian dan akhlak mulia bagi seluruh anak bangsa”. Dari visi dimaksud, kemudian disusun misi Ditjen Manajemen Dikdasmen yang meliputi: 1.	meningkatkan akses masyarakat untuk pendidikan dasar dan menengah, 2.	membantu/membimbing satuan pendidikan di jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk memberikan pelayanan pendidikan bermutu, 3.	menjalin kerjasama yang efektif dan produktif dengan pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengembangan dan pembinaan pendidikan dasar dan menengah yang bermutu, 4.	membantu pemerintah daerah menyediakan sarana dan prasarana belajar pendidikan bermutu, 5.	melakukan inovasi dalam mengembangkan sistem penyelenggaraan pendidikan bermutu dan akuntabel, 6.	merintis pengembangan lingkungan sekolah sebagai pusat pengembangan budaya (a centre for cultural development), 7.	mengembangkan sistem pelayanan khusus untuk peserta yang berada dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan kondisi geografis khusus. Direktorat Pembinaan SMA sebagai bagian intergral dari Ditjen. Manajemen Dikdasmen, dituntut untuk dapat berperan aktif dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional tersebut di atas, sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No. 14/2005, yang dinyatakan bahwa Direktorat Pembinaan SMA mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi di bidang pembinaan sekolah menengah atas, maka salah satu program yang telah dilaksanakan sejak pada tahun 2007 adalah mengembangkan program Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL)  Sebagaimana yang tercantum dalam UU RI No. 20 Th. 2003 Bab XIV Ps. 50 ayat (5) dinyatakan bahwa, Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Hal ini didukung pula oleh prinsip penyelenggaraan pendidikan seperti yang tercantum pada UU RI No. 20 Th. 2003 Bab III Ps. 4 ayat (1), yang menyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Kemudian pada Bab X Ps. 36 ayat (2) yang dinyatakan Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik, dan pada ayat (3) menyatakan Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Indonesia dengan memperhatikan: a) peningkatan iman dan takwa; b) peningkatan ahlak mulia; c) penigkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; f) tuntutan dunia kerja; g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; h) agama; i) dinamika perkembangan global; dan j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Kebijakan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal juga ditekankan pada PP RI No. 19 Tahun 2005 Ps. 14 ayat (1), (2), dan (3). Sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan dan potensi daerah dalam penyelenggaraan pendidikan, Direktorat Pembinaan SMA telah melaksanakan berbagai program dan kegiatan diantaranya program pengembangan Pendidikan Berbasis Luas (Broad Based Education/BBE) kecakapan hidup Life Skill/LS) di sejumlah SMA yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan 2004, dan pada tahun 2006 melaksanakan rintisan Pengembangan Sekolah Berwawasan Keunggulan Lokal Kelautan di 100 SMA, yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan Departemen Kelautan.  Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan pengembangan program BBE- Life Skill dan Sekolah Berwawasan Keunggulan Lokal Kelautan tersebut di atas, menunjukkan hasil yang belum optimal dan tidak berkesinambungan. Hal tersebut disebabkan karena kedua program tersebut pembelajarannya. Hal ini disebabkan karena program tersebut pembelajarannya bukan menjadi bagian dari struktur kurikulum.  Mengacu pada Standar Isi khususnya struktur kurikulum, Direktorat Pembinaan SMA menetapkan kebijakan pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dilaksanakan secara terintegrasi pada mata pelajaran yang relevan, muatan lokal dan mata pelajaran keterampilan sebagai bagian integral dari keseluruhan proses penyelenggaraan pendidikan pada SMA. Hal dimaksud sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada BAB III tentang Standar Isi pasal 14 ayat (1) yang dinyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal; dan ayat (2) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat merupakan bagian dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan kelompok matapelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan kelompok mata pelajaran estetika atau kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani,olah raga dan kesehatan; dan ayat (3) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.  Untuk itu, diperlukan adanya Program Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) yang diselenggarakan secara komprehensif dan berkelanjutan. Program ini merupakan salah satu upaya memberikan kesempatan kepada sekolah untuk membekali peserta didik berkaitan dengan pengetahuan dan sikap menghargai sumberdaya dan potensi yang ada di lingkungan setempat, serta mampu menggali dan memanfaatkannya untuk dapat digunakan sebagai bekal kehidupan yang akan dijalaninya di masa yang akan datang. Kebijakan Pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal ini juga sangat relevan dengan kondisi wilayah negara Indonesia yang sangat luas, dengan aneka ragam potensi serta sumber daya yang dapat dikembangkan secara maksimal dan menjadi keunggulan lokal daerah masing-masing. Oleh karena itu diperlukan adanya program strategi implementasi PBKL sebagai bagi pemangku kebijakan di tingkat pusat,provinsi, dan kabupaten/kota dalam melakukan pembinaan dan pendampingan.  B. Tujuan Naskah Program Implementasi Rintisan PBKL disusun dengan tujuan :  1.	Memberikan pemahaman/persepsi yang sama tentang PBKL 2.	Sebagai panduan bagi para pemangku kebijakan dan kepentingan dalam melakukan pembinaan Rintisan PBKL. 3.	Sebagai panduan bagi sekolah dalam melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan local.  B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis merumuskan pemasalahan pokok,yaitu; korelasi kebijakan sistem pendidikan dengan program implementasi pendidikan berbasis keunggulan lokal (PBKL) C. Defenisi oprasional  Agar seluruh pihak yang terkait dalam penyelenggaraan program rintisan PBKL di sejumlah SMA memiliki pemahaman/persepsi yang sama, perlu adanya rumusan pengertian sebagai berikut: 1.	Keunggulan Lokal Keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain. Sumber lain mengatakan bahwa Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah (Dedidwitagama,2007 Keunggulan Lokal (KL) dapat didefinisikan sebagai suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu ciri khas kedaerahan dan potensi daerah, sehingga menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik dan memiliki keunggulan komparatif. Ciri khas kedaerahan adalah suatu bentuk kegiatan atau produk yang hanya terdapat pada satu daerah/lokal dan tidak terdapat pada daerah lainnya. Potensi daerah adalah aset yang dimiliki oleh satu daerah tertentu yang dapat memberikan nilai benefit/kemanfaatan dan nilai effektif/kemudahan bagi daerah itu sendiri). 2.	Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) di SMA adalah pendidikan/program pembelajaran yang diselenggarakan pada Satuan Pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan potensi daerah yang bermanfaat dalam proses pengembangan kompetensi peserta didik. Sumberdaya dan potensi daerah dimaksud antara lain mencakup aspek SDA, SDM, ekonomi, budaya/history, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi (TIK/ICT), ekologi dan lain-lain. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di satu daerah untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf hidup masyarakat setempat). Berkaitan dengan hal dimaksud, perlu adanya pemahaman dari semua pihak bahwa program PBKL di SMA bukan merupakan mata pelajaran baru tetapi merupakan materi pembelajaran pada Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar (SK/KD) mata pelajaran yang relevan. Materi Pembelajaran tersebut dikembangkan melalui proses analisis keunggulan lokal di daerah setempat.  3.	Acuan Pengembangan Program PBKL di SMA Mengacu pada berbagai pengertian tersebut di atas, maka program PBKL dikembangkan dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan (SMA) berdasarkan: 1.	Sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), potensi dan kebutuhan daerah yang mencakup aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), ekologi, dan lain-lain. 2.	Kebutuhan, minat, dan bakat peserta didik. 3.	Ketersediaan daya dukung/potensi satuan pendidikan (internal) antara lain:  a. Kurikulum Sekolah yang memuat program keunggulan lokal melalui integrasi pada mata pelajaran yang relevan, muatan lokal dan keterampilan. b. Sarana prasarana: ruang belajar, peralatan praktik, media pembelajaran, buku/bahan ajar sesuai dengan program PBKL yang diselenggarakan. c. Ketenagaan dengan keahlian sesuai tuntutan program PBKL d. Biaya operasional pendidikan yang diperoleh melalui berbagai sumber 4.	Ketersediaan daya dukung eksternal antara lain: a. Dukungan Pemda Kab/Kota baik berupa kebijakan, pembinaan dan fasilitas/ pembiayaan. b. Dukungan Pemda Kab/Kota baik berupa kebijakan, pembinaan dan fasilitas/ pembiayaan. c. Stakeholders yang memiliki kepedulian untuk mendukung keseluruhan proses penyelenggaraan PBKL, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. d. Nara sumber yang memiliki kemampuan/keahlian sesuai dengan program keunggulan lokal yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. e. Satuan pendidikan formal lain dan/atau satuan pendidikan nonformal yang terakreditasi. D. Hipotesis Terdapat Korelasi Kebijakan Sistem Pendidikan Dengan Program Implementasi Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (Pbkl).  5.	Menganalisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepele Sekolah Terhadap Motivasi Dan Produktivitas Kerja Guru Di Kabupaten Pidie a.	Teknik Sampling Yang Representatif Dapat Digunakan Adalah: Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan Alasannya: Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. b.	Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: Teknik pengumpulan data bisa dibedakan dengan beberapa hal, seperti: 1.	Berdasarkan Setting (Setting Alamiah, Labortorium dengan melalui eksperimen, di rumah dengan mewawancarai responden, seminar, dan lain-lain) 2.	Berdasarkan sumber data: (Sumber Primer : Sumber yang langsung memberikan data dan Sumber Sekunder : Sumber yang tidak langsung memberikan data). 3.	Berdasarkan Teknik Pengumpulan Data dibagi lagi menjadi: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Triangulasi/Gabungan Pengumpulan Data dengan Observasi Macam-macam observasi: (Sanafiah Faisal: 1990) •	Observasi Partisipatif, yang terbagi menjadi: Observasi yang Pasif, Observasi yang Moderat, Observasi yang Aktif, dan Observasi yang Lengkap. •	Observasi Terus Terang dan Tersamar  •	Observasi tak Terstruktur Observasi Partisipatif •	Peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti (Susan Stainback:1998) •	Klasifikasi (Sanafiah Faisal:1990) •	Partisipasi Pasif : Peneliti mengamati tapi tidak terlibat dalam kegiatan tersebut. •	Partisipasi Moderat <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> eneliti ikut observasi partisipatif pada beberapa beberapa kegiatan saja, tidak semua kegiatan. •	Partisipasi Aktif : Peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan narasumber, tapi belum sepenuhnya lengkap •	Partisipasi Lengkap : Peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan narasumber Observasi Terus Terang atau Tersamar •	Peneliti berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian. •	Suatu saat peneliti melakukan tidak berterus terang agar dapat mengetahui informasi yang dirahasiakan narasumber. Observasi tak Berstruktur •	Dilakukan dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas •	Apabila masalah sudah jelas, maka dapat dilakukan secara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi c. Teknik analisis data Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.  Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.  Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :  + atau &#8211; 0.80 hingga 1.00    korelasi sangat tinggi          0.60 hingga 0.79    korelasi tinggi          0.40 hingga 0.59    korelasi moderat          0.20 hingga 0.39    korelasi rendah          0.01 hingga 0.19    korelasi sangat rendah Satu hal yang perlu diingat adalah &#8220;korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat&#8221;. Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan &#8220;lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi&#8221;.</a></p>
<br />Posted in http://www.raisulakbar.wordpress.com, MPd.doc  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/480/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=480&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/10/16/macam-macam-penelitian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DEWAN PENDIDIKAN III/KOMITE SEKOLAH</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-pendidikan-iiikomite-sekolah/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-pendidikan-iiikomite-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 19:12:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Modul 3.1 Sekolah Sebagai Suatu Sistem I. TUJUAN Peserta memahami: Pengertian sistem Komponen-komponen sekolah sebagai sistem Dimensi mutu pendidikan dan karakteristik sekolah efektif Peran Komite Sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah II. MATERI Pengertian sistem dan sistem pendidikan nasional Komponen sekolah sebagai statu sistem Dimensi mutu pendidikan dan karakterisitik sekolah efektif Peran Komite Sekolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=453&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 3.1</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sekolah Sebagai Suatu Sistem</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peserta memahami:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pengertian sistem</li>
<li>Komponen-komponen sekolah sebagai sistem</li>
<li>Dimensi mutu pendidikan dan karakteristik sekolah efektif</li>
<li>Peran Komite Sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pengertian sistem dan sistem pendidikan nasional</li>
<li>Komponen sekolah sebagai statu sistem</li>
<li>Dimensi mutu pendidikan dan karakterisitik sekolah efektif</li>
<li>Peran Komite Sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu yang diperlukan adalah 90 menit  (2 JPL @ 45 menit)<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Penjelasan</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda untuk flip chart</li>
<li>Papan tulis dengan perlengkapannya</li>
<li>LCD</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Secara diagramatik, langkah pembelajaran dalam pertemuan ini digambarkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>10’                                    20’                                       30’                            30’</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(1)                                    (2)                                         (3)                              (4)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kegiatan dibuka dengan salam dan perkenalan, serta tujuan yang akan dicapai dalam satu kegiatan sesi ini. Peserta ditunjukkan sebuah foto sebuah sekolah sebagai berikut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Gambar bermakna seribu kata. Cobalah buat pertanyaan berkenaan dengan foto tersebut.  Berikan kesempatan kepada yang lain untuk menganalis berbagai kemungkinan faktor penyebab masalah tersebut. Kaitkan dengan penyertian sistem yang akan dibahas dalam modul ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Waktu: 15 menit </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Diskusikan tentang istilah <em>macrosystem</em> dan<em> microsystem, subsystem</em>, dsb. Minta peserta menyebutkan masing-masing contoh. Apa karakteristik sistem tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Waktu: 30 menit</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berikan contoh bagan, misalnya bagan tentang Dimensi Mutu Pendidikan dari Buku ”EFA Global Monitoring Report 2005”. Buat empat sampai lima kelompok dengan tugas untuk membuat bagan untuk sistem yang mereka pilih sendiri, yang diambil dari komponen yang ada di sekolah, misalnya perpustakaan sekolah, laboratorium bahasa, dsb.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Waktu: 30 menit</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tahap refleksi tentang berbagai contoh kasus sekolah yang efektif yang dapat diperoleh dari lingkungan dan daerahnya. Analisis faktor-faktor apakah yang mempengaruhinya. Apakah Komite Sekolah mempunyai andil yang ikut berpengaruh terhadap keberhasilan. Kaitkan dengan peran Komite Sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Waktu: 15 menit</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegiatan, penyaji atau pendamping meminta kepada salah seorang peserta untuk menyebutkan komponen sekolah, dan apa peran masing-masing komponen tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN </span></strong><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>Sekolah Sebagai Suatu Sistem</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>a. </strong><strong>Pengertian Sistem</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>“System is an assemblage of elements comprising a whole with each element related to other elements”(<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/system">http://en.wikipedia.org/wiki/system</a>). </em>Dengan kata lain, sistem adalah satu keseluruhan terpadu yang terdiri dari elemen-elemen yang masing-masing elemen terkait dengan elemen yang lain. Dijelaskan lebih lanjut bahwa <em>“any element which has no relationship with any other element of the system cannot be a part of that system”</em> atau setiap elemen yang tidak memiliki hubungan dengan elemen lainnya dari sistem tidak dapat menjadi bagian dari sistem itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Demikianlah pengertian yang sudah sering kita pahami selama ini. Roda sepeda adalah sebuah elemen dari satu kesatuan sepeda sebagai satu sistem. Sadel sepeda itu juga merupakan elemen lainnya. Demikian juga dengan stang sepeda itu. Elemen-elemen yang membentuk sepeda itu saling terkait dan saling pengaruh mempengaruhi. Tidak berfungsinya salah satu elemen dalam sistem tersebut, akan mempengaruhi keseluruh fungsi suatu sistem.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan mahluk ciptaannya secar sistemik. Jagad raya yang diciptakan-Nya adalah suatu sistem yang maha kompleks. Salah satu sistem di dalam jagad raya itu adalah sistem tata surya (<em>solar system</em>). Bumi adalah satu subsistem dalam sistem tata surya itu. Bumi pun juga merupakan suatu sistem. Manusia, yang menempati bumi itu adalah sebuah subsistem. Manusia pun juga sebagai sistem. Manusia menciptakan pendidikan untuk kelangsungan hidupnya. Pendidikan juga merupakan suatu sistem yang tidak kalah kompleksnya. Sekolah merupakan suatu subsistem pendidikan. Sekolah juga merupakan suatu sistem. Sampai dengan sel yang hanya dapat kita lihat dengan mikroskop adalah juga suatu sistem tersendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Walhasil, apa yang ada di dalam jagad raya ini merupakan suatu sistem. Yang akan dibahas dalam modul ini adalah sekolah sebagai suatu sistem.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa elemen, yang masing-masing elemen mempunyai hubungan yang saling kait mengait, tidak dapat dipisahkan, serta saling pengaruh mempengaruhi, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Definisi tersebut sejalan dengan pengertian yang tercantum dalam pasal 1 butir 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menyatakan bahwa:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>”Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Definisi tersebut menjelaskan bahwa sistem mengandung pengertian (a) komponen atau elemen yang saling terkait, (b) komponen saling pengaruh mempengaruhi, dan (3) keterkaitan dan pengaruh tersebut dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>b. </strong><strong>Komponen Sekolah Sebagai Suatu Sistem</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa elemen, yang antara satu elemen dengan elemen lainnya saling berkaitan dan saling pengaruh mempengaruhi. Sebagai contoh, kepala sekolah adalah salah satu elemen sekolah. Kepala sekolah akan berhubungan secara timbal balik dengan elemen-elemen lain di sekolah itu. Kinerja sekolah akan dipengaruhi oleh kinerja para guru yang mengajar di sekolah itu. Demikian juga sebalinya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa elemen sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Peserta didik (anak didik, siswa)</li>
<li>Kepala sekolah</li>
<li>Pendidik atau guru</li>
<li>Staf tata usaha</li>
<li>Kurikulum</li>
<li>Fasilitas pendidikan lainnya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan teori input-process-output, elemen-elemen sekolah sebagai suatu sistem tersebut dapat dibedakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Elemen masukan kasar (<em>raw input</em>) adalah peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran, dengan latar belakang sosial-ekonomis-budaya, dan kesiapan akademisnya.</li>
<li>Elemen masukan instrumental (<em>instrumental input</em>), meliputi:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">1)      kepala sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">2)      pendidik atau guru</p>
<p style="text-align:justify;">3)      kurikulum, dan</p>
<p style="text-align:justify;">4)      fasilitas pendidikan</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Elemen masukan lingkungan (<em>environmental input</em>), meliputi:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">1)      alam (geografis, demografis)</p>
<p style="text-align:justify;">2)      sosial, ekonomi, kebudayaan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Proses pendidikan (<em>process</em>) merupakan interaksi edukatif, atau proses belajar mengajar, proses pembelajaran, menggunakan metode dan media pembelajaran atau alat peraga yang diperlukan.</li>
<li><em>Output</em> atau keluaran, yaitu berapa siswa yang tamat dan atau lulus dari sekolah tersebut.</li>
<li><em>Outcomes</em> atau hasil, misalnya berapa siswa yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, berapa yang dapat memperoleh lapangan kerja, dsb..</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Elemen-elemen sekolah sebagai suatu sistem dapat dijelaskan dalam bagan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: dimodifikasi dari berbagai sumber.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari bagan tersebut dapat dijelaskan bahwa proses pendidikan memang akan dipengaruhi oleh masukan, baik masukan kasar, masukan instrumental, maupun maupun masukan lingkungan. Sementara proses pendidikan akan mempengaruhi keluaran (<em>output</em>) maupun hasil pendidikan (<em>outcomes</em>) yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Namun perlu difahami bahwa hasil pembangunan pendidikan yang terlalu berorientasi kepada masukan (input) ternyata tidak sesuai dengan harapan. Banyak fasiltias pendidikan yang telah diadakan, telah banyak guru yang telah ditatar atau mengikuti pelatihan, banyak buku yang telah diterbitkan, dan kurikulum pun selalu disempurnakan. Namun apa hasilnya? Gedung sekolah masih banyak yang rusak, mutu pendidikan (secara rata-rata) masih rendah. Berdasarkan analisis tersebut, ada kemungkinan hal itu terjadi karena proses pendidikan, apa yang terjadi di dalam ruang kelas masih belum banyak memperoleh perhatian kita. Kini, proses pendidikan yang terjadi di ruang kelas itulah yang seyogyanya kini lebih memperoleh perhatian kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>c. </strong><strong>Kinerja Sekolah Sebagai Suatu Sistem</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kinerja sekolah ditentukan oleh kinerja semua elemen sekolah. Keberhasilan sekolah tidak ditentukan oleh kinerja kepala sekolah saja, juga bukan oleh kinerja pendidiknya saja, atau juga bukan karena gedungnya yang megah, juga bukan karena fasilitasnya yang lengkap, melainkan oleh sinergi yang dibangun dari semua elemen sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan konsep sekolah efektif, terdapat lima elemen yang menentukan efektivitas kinerja suatu sekolah:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>strong principal leadership</em> (kepemimpinan kepala sekolah yang kuat)</li>
<li><em>safe and conducive school climate</em> (iklim sekolah yang aman dan kondusif)</li>
<li><em>emphasis on the acquition of basic sklls </em>(menekankan pada pengusaan kecakapan dasar)</li>
<li><em>teacher high expectation</em> (ekspektasi yang tinggi pada pendidik)</li>
<li><em>frequency of evaluation</em> (keteraturan penilaian)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Kelima faktor sekolah efektif tersebut merujuk kepada elemen-elemen sekolah yang sangat penting, yakni kepala sekolah, pendidik, kurikulum, dan penilaian secara berkala kepada siswa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>d. </strong><strong>Peran Komite Sekolah Dalam Peningkatan Kinerja Sekolah</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apakah ada peran Komite Sekolah dalam peningkatan kinerja sekolah pada umumnya, dan hasil belajar siswa pada khususnya? Jika elemen-elemen yang disebutkan sebagai elemen yang berpengaruh pada hasil belajar siswa, maka ada masukan lingkungan yang juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap peningkatan mutu pendidikan pada umumnya dan peningkatan hasil belajar siswa pada khususnya. Selain masukan instrumental (instrumental input), dalam sistem tersebut juga terdapat masukan yang tidak kalah pentingnya, yakni masukan lingkungan (environmental input) yang antara lain adalah kondisi sosial-ekonomi-budaya, dan bahkan termasuk keamanan lingkungan sekolah. Dalam konteks ini, faktor orangtua dan masyarakat juga memegang peranan yang amat penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Orangtua dan masyarakat serta elemen pemangku kepentingan (<em>stakeholder</em>) merupakan masukan lingkungan yang ikut berpengaruh terhadap kinerja sekolah sebagai suatu sistem (Suparlan, 2005: 61).</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>e. </strong><strong>Kasus </strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini beberapa kasus yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sering kita dengan pernyataan yang menegaskan bahwa wajah sekolah tergambar pada kepala sekolahnya. Sejauh mana kebenaran pernyataan tersebut dikaitkan dengan topik yang sedang dibahas, yaitu sekolah sebagai suatu sistem.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Para ahli manajemen sering menggunakan perumpamaan pertandingan sepak bola untuk menunjukkan perlunya sinergi antara semua elemen yang terlibat dalam proses organisasi dan manajemen. Perumpamaan tersebut melahirkan istilah <em>total football management</em>. Dapatkah perumpamaan tersebut dianalogikan dengan proses organisasi dan manajemen di sekolah?</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 3.2</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegiatan pelatihan, peserta dapat menjelaskan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).</li>
<li>Organisasi Pendukung Sekolah dalam melaksanakan MBS</li>
<li>Langkah-langkah yan diperlukan dalam menyusun program sekolah</li>
<li>Pengelolaan Sekolah</li>
<li>Monitoring dan Evaluasi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Prinsip dasar MBS</li>
<li>Organisasi Pendukung Sekolah dalam melaksanakan MBS</li>
<li>Langkah-langkah dalam menyusun program sekolah</li>
<li>Pengelolaan sekolah</li>
<li>Monitoring dan evaluasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu yang diperlukan untuk kegaitan ini adalah 90 menit.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Paparan</li>
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda untuk flip chart</li>
<li>Papan tulis dengan perlengkapannya</li>
<li>LCD</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buka pertemuan dengan menucapkan salam singkat.</li>
<li>Lakukan Ice Breaker</li>
<li>Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan mendiskusikan mengenai <strong><em>Manajemen Berbasis Sekolah</em></strong>, dan uraikan maksud dan tujuan dari diskusi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tanyakan kepada peserta apa yang mereka ketahui mengenai Manajemen Berbasis Sekolah. Tuliskan jawaban peserta dalam kertas plano.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em> Kunci : Manajemen Berbasis Sekolah adalah……</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 15 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan melanjutkan kegiatan dengan paparan Manajemen Berbasis Sekolah</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu 60 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Setelah selesai paparan, tanyakan kepada peserta :</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mengapa diperlukan Manajemen Berbasis Sekolah</li>
<li>Diskusikan kemungkinan hambatan dan peluang dalam melaksanakan MBS</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Simpulkan pendapat mereka tentang MBS<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 10 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bahas bersama peserta faktor – faktor yang bisa mempengaruhi dan menghambat upaya peningkatan mutu pelayanan sekolah.</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mungkinkah kita bisa saling mendukung dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah.</li>
<li>Mengapa kita bersedia bekerja sama dan bermitra untuk melaksanakan MBS?</li>
<li>Moto: “Apa yang saya bisa, Anda tidak bisa; apa yang Anda bisa saya tidak bisa; Dengan bersama-sama kita bisa mengerjakan semua”.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hasil diskusi ini selanjutnya disimpulkan dan dilakukan pencerahan sbb:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menumbuhkan komitmen bersama untuk melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 15 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selanjutnya pemandu melanjutkan Bahan Tayangan Mengenai Manajemen Berbasis Sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 25 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemandu menyimpulkan dan menutup materi sesi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegiatan, pelatih mengajukan beberapa pertanyaan, baik secara lisan maupun tertulis kepada peserta berkenaan dengan materi yang telah diberikan, atau implikasi dari yang telah dijelaskan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Peran Dewan Pendidikan dalam meningkatkan mutu pelayanan sekolah semakin hari menjadi semakin penting. Terlebih lagi setelah diberlakukannya otonomi daerah. Dengan otonomi pendidikan sampai ke sekolah, masa depan sekolah lebih banyak ditentukan oleh kemandirian dan kemampuan sekolah dalam mnsimfonikan peluang dan tantangan dari luar versus kekuatan dan kelamahan yang ada di dalam sekolah. Oleh karena itu empat fungsi Dewan Pendidikan dalam pengelolaan pendidikan akan lebih banyak bermakna apabila kapabilitas Dewan Pendidikan ditunjang dengan kesatubahasaan antara para Birokrat Pendidikan dengan Dewan Pendidikan terhadap pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah sebagai konsekuensi desentralisasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dengan diberikannya kewenangan yang lebih besar kepada sekolah bersama masyarakat sekitar untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah maka peran Dewan Pendidikan menjadi lebih mengemuka.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Adanya kewenangan yang lebih luas yang diberikan kepada sekolah dalam pengelolaan pendidikan merupakan kesempatan bagi Dewan Pendidikan memainkan peran (empat fungsi dewan) dalam memberikan sumbangan terhadap peningkatan mutu pelayanan pendidikan pada tingkat sekolah dan sekaligus dalam meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui optimalisasi pengelolaan sumber daya yang ada. Sekolah perlu didampingi oleh Dewan Pendidikan dalam memutuskan pengalokasian sumber daya kepada prioritas program dan agar sekolah menjadi lebih tanggap terhadap kebutuhan dan tututan setempat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian MBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah dapat dikelola dengan berbagai cara.  Cara tersebut sangat tergantung pada sistem pengelolaan yang dianut, kondisi sekolah yang bersangkutan dan lingkungan sosial budaya setempat. Keragaman dalam cara mengelola tersebut merupakan upaya yang bersungguh-sungguh agar sekolah dapat melayani masyarakat dengan baik dalam bidang pembelajaran. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah salah satu cara pengelolaan sekolah yang pada saat ini sedang digalakkan Pemerintah, sebagai konsekuensi kebijakan desentralisasi yang melimpahkan sebagian besar kewenangan Pemerintah Pusat ke Pemerintahan Daerah di berbagai bidang termasuk bidang pendidikan. Tidak mengherankan kalau pelimpahan kewenangan dalam mengelola pendidikan itu harus juga diberikan ke sekolah agar sekolah dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimiliknya dan keinginan masyarkat yang menghidupinya. Terlebih lagi, pada kenyataannya kondisi dan lingkungan sosialnya juga berbeda satu dengan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Manajemen berbasis sekolah adalah sebuah sistem pengelolaan yang memberikan kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. Pemberian kewenangan yang luas tersebut merupakan realisasi pelaksanaan konsep desentralisasi di bidang pendidikan pada tingkat terdepan yaitu sekolah. Kewenangan yang luas ini diberikan tetap dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional yang ada sehingga sekolah tidak berkembang semaunya sendiri. MBS menekankan agar pihak sekolah mengikutsertakan masyarakat secara intensif dan ekstensif sesuai dengan peran dan potensi masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Tujuan MBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Manajemen Berbasis Sekolah bertujuan agar sekolah yang melaksanakan MBS dapat menyelenggarakan pelayanan pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi siswa.  Misalnya, sekolah menjadi lebih bermutu, nilai ujian sekolah/nasional menjadi lebih baik, sekolah menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar, menjadikan sekolah tempat guru berkarier dan mengabdikan diri. Untuk mencapai tujuan ini sekolah perlu diberi kewenangan yang lebih luas dalam mengelola sumber daya sekolah. Dengan MBS sekolah dapat merencanakan pengembangan sekolah, mengelola sumber daya sekolah sendiri, mengembangkan staf lebih optimal dan mengikutsertakan masyarakat lebih aktif lagi dalam pengelolaan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Prinsip MBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam melaksanakan MBS, sekolah harus memperhatikan 10 prinsip sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Keterbukaan, artinya pengelola sekolah harus terbuka terhadap semua perolehan dan penggunaan sumber daya sekolah kepada semua pihak yang berkepentingan dengan sekolah. Demikian pula kegiatan-kegiatan yang dilakukan sekolah sama terbukanya seperti perolehan dan penggunaan dana. Artinya, siapa saja yang ingin mengetahui apa yanag dikerjakan sekolah harus diperbolehkan; dan tidak ada yang ditutup-tutupi sekolah. Misalnya sekolah menempel RAPBS dan laporan-laporan kegiatan pada papan pengumuman sekolah.</li>
<li>Kebersamaan, artinya pengelolaan sekolah dilakukan dengan melibatkan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat, mungkin diwakili komite sekolah memberikan masukan-masukan dan juga melakukan pengawasan terhadap pengelolaan sekolah.</li>
<li>Keberlanjutan, artinya ada kesinambungan dalam pengelolaan sekolah. Adanya keterkaitan antara kebijakan yang lalu dengan kebijakan sekarang. Segala sesuatu tidak dimulai dengan nol.</li>
<li>Menyeluruh, artinya penngelolaan sekolah harus mencakup seluruh komponen yang mempengruhi keberhasilan sekolah. Tidak seperuh-separuh, tetapi melihat saling keterkaitan antar  komponen yang dikelola. Misalnya kalau meningkatkan kemampuan guru, maka tidak lupa meningkatkan kesejahteraannya juga.</li>
<li>Pertanggungjawaban, artinya bahwa pengelola sekolah harus    menyiapkan pertanggungjawaban atas semua perbuatan dan tindakannya baik pada saat diminta maupun tidak diminta. Paling tidak setiap tahun sekali ada laporan pelaksanaan kegiatan apa yang menjadi tanggungjawab pengelola, bersedia diperiksa, ditanya dan memberikan penjelasan mengenai perihal yang menjadi tanggung jawabnya.</li>
<li>Demokratis, artinya setiap keputusan yang dibuat dilaksanakan atas dasar musyawarah antara pihak sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu pertemuan-pertemuan antara sekolah dan masyarakat perlu diselenggarakan sesering mungkin sesuai dengan urgensi yang timbul.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kemandirian, artinya sekolah mampu berdiri sendiri dan tidak banyak menggantungkan diri pada bantuan pihak lain. Dalam kemandirian, sekolah memiliki inisiatif dan inovasi dalam rangka mencapai tujuan sekolah.</li>
<li>Berorientasi mutu, artinya sekolah melaksanakan tugas dan fungsinya tidak asal-asalan, tetapi selalu mengupayakan hasil pekerjaan yang terbaik bagi stakeholder. Dalam hal ini sekolah selalu merencanakan peningkatan-peningkatan di semua bidang dari waktu ke waktu. Misalnya, sekoah mengupayakan mutu lulusan yang lebih baik, pelayanan sekolah yang semakin baik.</li>
<li>Pencapaian SPM, artinya pengelola selalu berusaha agar standar pelayanan minimal dapat dipenuhi secara kesseluruhan secara bertahap dan berkelanjutan.</li>
<li>Pendidikan untuk semua, artinya pengelola tidak membeda-bedakan kesempatan untuk dilayani oleh sekolah. Karena semua anak mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Keberhasilan Pelaksanaan MBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Keberhasilan pelaksanaan MBS sangat tergantung pada:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>1. </strong><strong>Dukungan, komitmen, dan kesungguhan untuk melaksanakan MBS.</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Stakeholders</em> (masyarakat, pemerintah daerah kabupaten/kota) mendukung pelaksanaan MBS. Oleh karena itu para stakeholders harus terlebih dulu mendapat sosialisasi MBS. Kepada mereka diperkenalkan konsep MBS dan alasan-alasan mengapa sekolah harus melakukan MBS serta keuntungan yang akan diperoleh dengan melaksnakan MBS. Tanpa dukungan stakeholders MBS akan sulit diterapkan karena salah satu ciri dalam MBS adalah partisipasi masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>2. </strong><strong>Kemampuan melaksanakan pembaharuan</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Melaksanakan MBS berarti sekolah meninggalkan sistem pengelolaan yang lama dan memulai dengan cara mengelola yang baru.  Ini berarti sekolah akan menjalani proses pembaharuan. Sekolah harus sadar bahwa sesuatu yang baru itu belum tentu akan langsung diterima. Oleh karena itu harus memiliki kemampuan untuk mengadakan pembaharuan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>3. </strong><strong>Nilai tambah MBS</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dukungan kepada sekolah akan lebih besar lagi apabila sekolah dengan melaksanakan MBS dapat menunjukkan adanya nilai tambah bagi masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>4. </strong><strong>Kemampuan pengembangan potensi</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah dapat memberikan pelayanan pendidikan yang dapat mengembangkan potensi anak secara maksimal dengan memperhatikan perbedaan individu siswa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>5. </strong><strong>Dukungan terhadap visi</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Lingkungan sosial sekolah mendukung pencapaian visinya. Melaksanakan MBS memerlukan dukungan dari berbagai pihak terutama sekali Komite Sekolah, Sekolah/Badan Peranserta Masyarakat. Organisasi pendukung tersebut diharapkan ada pada tingkat sekolah, desa yang dibentuk bersama oleh sekolah, orangtua siswa dan masyarakat sekitar untuk mencapai visi dan sasaran yang telah ditentukan bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>6. </strong><strong>Potensi Sumber daya sekolah</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Potensi sumber daya sekolah dan masyarakat mendukung tercapainya target yang ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Partner Dewan Pendidikan Dalam MBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dewan pendidikan perlu menyadari pihak-pihak lain yang mungkin dapat dijadikan partner dalam melaksankan MBS. Mereka itu adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Legislatif</li>
<li>Pengambail Kebijakan</li>
<li>Perencana (Bappeda)</li>
<li>Perguruan Tinggi</li>
<li>Lembaga Diklat</li>
<li>Praktisi (Kepala Sekolah, guru)</li>
<li>Masyarakat.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Organisasi Pendukung MBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Banyak desa yang mempunyai lebih dari satu sekolah (SD, MI, SMP). Juga ada dua sekolah yang menempati satu gedung sekolah yang sama (tapi bukan merger). Kenyataan ini memungkinkan adanya beberapa alternatif organisasi pendukung. Yaitu, bagimana bentuk organisasi pendukung pada desa yang hanya punya satu sekolah dan bagaimana di desa yang mempunyai lebih dari satu sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini beberapa saran untuk sekolah dalam membentuk organisasi pendukung.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sekolah mengundang masyarakat sekitar seperti orangtua siswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat desa dan pihak-pihak lain yang relevan untuk membicarakan pembentukan Komite Sekolah atau badan peranserta masyarakat. Proses ini dilakukan bagi sekolah yang belum memiliki Komite Sekolah.</li>
<li>Dalam pertemuan tersebut diadakan kesepakatan bersama tentang pembentukan komite sekolah/Badan Peran Serta Masyarakat untuk sekolah/desa yang bersangkutan. Dalam pertemuan itu ditentukan pula kepengurusan komite Sekolah sesuai dengan kondisi sekolah/desa masing-masing.</li>
<li>Dengan kesepakatan pula ditetapkan pula tugas dan fungsi anggota komite   sekolah masing-masing.</li>
<li>Sepakati pula masa kerja keperngurusan Komite Sekolah tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Tugas Dan Fungsi Organisasi Pendukung</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam MBS organisasi pendukung diharapkan dapat melaksanakan tugas dan fungsi sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengikuti dan mencermati perkembangan pendidikan secara umum.</li>
<li>Membeikan saran dan masukan-masukan baik diminta maupun tidak mengenai penyusunan rencana dan program pengembangan sekolah baik dalam arti perluasan dan pemerataan kesempatn belajar, peningkatan mutu pembelajaran ataupun tata kelola sekolah.</li>
<li>Membantu sekolah merelissikan pendanaan rencana dan program sekolah melalui partisipasi orangtua siswa dan masyarakat.</li>
<li>Membantu sekolah mengaktifkan partisipasi orangtua siswa dan masyarakat, baik berupa material maupun non-material.</li>
<li>Membantu sekolah mencarikan solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekolah baik maslah teknis maupun masalah edukatif atu hal-hal lain yang berkenaan dengan pendidikan pada umumnya.</li>
<li>Membantu menyediakan fasilitas dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemampuan guru-guru sesuai dengan perkembangan zaman.</li>
<li>Mengembangkan hubungan kerja sama dengan sekolah lain, instansi pemerintah, dan dunia usaha dalam rangka meningkatkan materi sekolah.</li>
<li>Ikut serta menetapkan prosedur dan aturan pelaksanaan tugas dan kegiatan, termasuk jadwal pelaksanaan tugas.</li>
<li>Membantu pelaksanaan rencana dan program dan kinerja kepala sekolah beserta staf.</li>
<li>Menyusun rencana dan program dan laporan pelaksanan Komite Sekolah setiap awal dan akhir tahun ajaran.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Melaksanakan Program MBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Untuk dapat melaksnakan MBS di sekolah maka perlu disusun beberapa hal sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Program sekolah</li>
<li>Strategi pengelolaan SDM sekolah</li>
<li>Pengembangan kurikulum</li>
<li>Sistem pengelolaan kesiswaan</li>
<li>Sistem Pengelolaan keuangan</li>
<li>Sistem pengelolaan sarana dan prasarana</li>
<li>Pengembangan kemitraan antara sekolah dan masyarakat.</li>
<li>Sistem monitoring dan evaluasi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Menyusun Program Sekolah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam melaksanakan  MBS perlu disusun program sekolah. Program sekolah adalah seperangkat kegiatan dan sasaran yang akan dilaksanakan sekolah untuk mencapai suatu kondisi tertentu yang diinginkan. Program ini disusun dengan mempertimbangkan atau analisis situasi dan kondisi sekolah yang terdiri dari: kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki atau dihadapi sekolah Program ini disusun dengan melibatkan unsur-unsur sebagi berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya.</li>
<li>Orangtua atau wali siswa</li>
<li>Tokoh masyarakat</li>
<li>Tokoh Agama</li>
<li>Wakil siswa</li>
<li>Pengawas</li>
<li>Pakar pendidikan setempat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan program sekolah adalah sebagi berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">1.      Menetapkan visi, misi dan tujuan sekolah (perubahan yang diinginkan secara bersama untuk dicapai beberapa tahun ke depan). Visi ini disusun dengan memperhatikan dan tidak bertentangan dengan visi pendidikan nasional, propinsi, dan daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Menetapkan misi sekolah, yaitu seperangkat tindakan untuk mencapai visi sekolah yang telah dirumuskan bersama tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Menetapkan tujuan sekolah, yaitu dengan menjabarkan visi sekolah ke dalam tujuan operasional (dapat diamati dan dapat diukur).</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Menetapkan target sekolah, yaitu menjabarkan tujuan ke dalam besaran-besaran kegiatan yang ingin dicapai dalam waktu tertentu. Misalnya, meningkatnya nilai rata-rata ujian sekolah/nasional dari 4 menjadi 6 dalam waktu 3 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kesimpulannya adalah bahwa program sekolah terdiri dari visi/misi sekolah dan tujuan serta seperangkat kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dengan target yang jelas serta penganggarannya. Selanjutnya untuk melaksanakannya disusun suatu program kerja yang menggambarkan didalamnya apa, oleh siapa dan kapan progam sekolah tersebut dilaksanakan dan bagaimana memantau pelaksanaan program tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Program sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) yang secara rinci diuraikan dalam modul Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Menyusun Strategi Pengelolaan SDM</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pengelolaan Sumber Daya manusia merupakan suatu tindakan pembinaan dan pendayagunaan SDM sekolah dan sekitarnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sekolah. Dua hal yang ditekankan di sini yaitu aspek pembinaan dana spek pendayagunaan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pembinaan SDM </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pembinaan SDM adalah upaya-upaya berkesinambungan yang dilakukan sekolah secara terarah dan terprogram agar sumber daya manusia sekolah dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan sekolah yang telah disepakati bersama.  Pembinaan ini meliputi:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kemampuan akademis/profesional</li>
<li>Karier</li>
<li>Kesejahteraan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pembinaan kemampuan akademis SDM sekolah meliputi pembinaan kemampuan tenaga kependidikan yang berhubungan dengan penguasaan materi pembelajaran, mengelola kegiatan belajar mengajar dan sikap sebagai pendidik dan pengajar di sekolah. Cara membina kemampuan akademis ini diawali dengan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>menetapkan syarat minimal kompetensi yang harus dimiliki;</li>
<li>mengevaluasi tingkat kemampuan akademis tenaga kependidikan;</li>
<li>meningkatkan kemampuan akademis tenaga kependidikan yang ada dengan berbagai cara: (1) mengikutsertakan mereka dalam program-program pelatihan yang sesuai dengan bidang tugas masing-masing; (2) membangkitkan motivasi untuk selalu ingin meningkatkan kemampuan diri dalam mengembangkan profesi; (3) menanamkan budaya berprestasi di kalangan tenaga kependidikan; (4) menumbuhkan kreativitas dengan menciptakan suasana yang mendukung bagi inovasi; (5) menanamkan budaya memiliki; (6) menanamkan budaya kerja keras, belajar dan membangun diri; dan (7) menegakkan disiplin dan komitmen dalam menjalankan tugas; (8) berlakukan sistim <em>reward and punishment</em> di sekolah untuk mendukung sistem pembinaan SDM sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pendayagunaan SDM</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pendayagunaan SDM adalah upaya-upaya memanfaatkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan potensi serta sikap SDM yang ada di sekolah maupun masyarakat secara optimal untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Pendayagunaan SDM ini dilakukan dengan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengidentifikasi tugas yang harus dikerjakan;</li>
<li>Mengidentifikasi kemampuan, minat dan sikap SDM yang ada;</li>
<li>Mengupayakan agar tugas-tugas dilaksanakan oleh tenaga yang sesuai dengan latar belakang pendidikan, pengalaman dan sikap seseorang gunakan moto ”<em>the right man on the right place at the right time”</em>;</li>
<li>Merumuskan tugas dan tanggung jawab (pembagian kerja secara individual maupun secara kelompok) dengan koordinasi yang memadai;</li>
<li>Intensifkan komunikasi antara pimpinan  dan staf dan sesama staf untuk mendiskusikan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab bersama maupun tanggung jawab masing-masing;</li>
<li>Lakukan supervisi secara berkala dan sampaikan umpan balik dari hasil supervisi dengan segera.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pembinaan karier</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pembinaan karier sumberdaya manusia adalah upaya yang berkaitan dengan pengembangan potensi SDM dalam memangku jabatan fungsional dan struktural atas dasar prestasi kerja. Pembinan ini dilakukan dengan menciptakan situasi yang mendukung sehingga memungkinkan sumber daya manusia dapat mencapai jenjang karier secara tepat waktu sesuai peraturan yang berlaku dengan cara:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menanamkan budaya malu</li>
<li>Menilai prestasi secara objektif</li>
<li>Mendorong seseorang agar mencapai jenjang karier secara optimal dengan menyedikan fasilitas dan kesempatan yang mendukung.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pembinaan Kesejahteraan</span></strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pembinaan kesejahteraan adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan yang terkait dengan baik mental, finansial, jasmani maupun rohani. Peningkatan kebutuhan ini dilaksanakan dengan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul style="text-align:justify;">
<li>menciptakan iklim sosial yang menyenangkan.</li>
<li>Meningkatkan hubungan kekeluargaan</li>
<li>Meningkatkan kerja sama dengan orangtua siswa, para alumni, dan masyarakat setempat.</li>
<li>Menggiatkan olahraga</li>
<li>Melakukan rekreasi bersama</li>
<li>Memberikan insentif yang layak sesuai dengan kinerja masing-masing</li>
<li>Memberikan penghargaan dalam bentuk material dan moral bagi mereke yang berprestasi.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Melaksanakan Pengembangan Kurikulum</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tidak kalah pentingnya adalah upaya pengembangan kurikulum. Dalam upaya mencapai tujuan sekolah maka kegiatan operasional sekolah harus mengacu kepada kurikulum nasional dan lokal yang berlaku sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah yang dijabarkan dalam program tahunan dan catur wulan berdasarkan kalender pendidikan. Adapun yang dimaksud dengan program tahunan sekolah adalah suatu rancangan kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler di sekolah menurut kelas dalam satu tahun ajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan program catur wulan sekolah adalah rancangan kegiatan kurikuler untuk semua mata pelajaran menurut kelas dalam satu catur wulan pada tahun ajaran berjalan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam kaitan hal tersebut di atas maka program tahunan kegiatan belajar mengajar disusun sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>menentukan hari belajar efktif dengan berlandaskan pada hari belajar efektif yang berlaku;</li>
<li>menentukan jam belajar efektif per minggu serta melakukan analisis materi pelajaran dengan mempertimbangkan perihal sebagi berikut:
<ul>
<li>Pencapaian tujuan</li>
<li>Kedukukan mata pelajaran dalam mata pelajaran lainnya.</li>
<li>Nilai aplikasinya</li>
<li>Kemutakhiran</li>
<li>Karakteristik pelajaran</li>
<li>Kebutuhan sekolah</li>
<li>menugaskan tenaga kependidikan menyusun program tahunan</li>
<li>melakukan pembahasan program tahunan</li>
<li>menyusun jadwal pelajaran</li>
<li>menyepakati rencana pelajaran</li>
<li>membahas secara bersama rencana pelajaran yang disusun guru</li>
<li>melakukan supervisi secara berkala</li>
<li>memenuhi kebutuhan sumber belajar</li>
<li>memenuhi media pembelajaran</li>
<li>menyepakati sistem pembelajaran yang dapat mengakomodsikan kemajuan belajar siswa</li>
<li>menyepakati bahwa pembelajaran senantiasa berpedoman pada prinsip-prinsip didaktik.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengelolaan Keuangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pengelolaan keuangan adalah suatu upaya untuk merencanakan, memperoleh, menggunakan dan mempertanggungjawabkan keuangan sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Perlunya pengelolaan keuangan disebabkan oleh terbatasnya sumber-sumber pembiayaan keuangan yang bisa diperoleh sekolah dalam suatu jangka waktu tertentu. Sehingga sekolah harus meyakinkan pihak-pihak yang dapat atau berpotensi dapat memberikan dana kepada sekolah mengenai pentingnya program yang akan dibiayai. Pengelolaan keuangan sekolah perlu memperhatikan 2 hal yaitu, mendapatkan dana dan menggunakan dana untuk kepentingan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Cara mendapatkan dana untuk sekolah dilakukan tindakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menyusun proposal untuk setiap kegiatan yang akan dilaksanakan.</li>
<li>Menentukan keperluan dana untuk setiap kegiatan yang diusulkan.</li>
<li>Mencatat dan mendaftar sumber-sumber pembiayaan sekolah.</li>
<li>Menyusun RAPBS</li>
<li>Menggunakan format yang ada.</li>
<li>Mengajukan proposal dan RAPBS ke instansi terkait, Komite Sekolah, Badan Peran serta Masyarakat,  Alumni, atau donatur.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Cara menggunakan dana sekolah dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Memilih bendahara, pemegang buku, dan pengawas yang bertanggung jawab.</li>
<li>Menentukan mekanisme pengeluaran keuangan sekolah misalnya sebelum mengeluarkan uang harus  mendapatkan persetujuan pengawas dan kepala sekolah.</li>
<li>Menggunakan keuangan sekolah sesuai dengan RAPBS.</li>
<li>Mencatat secara tertib dan teliti setiap pemasukan dan pengeluaran uang sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengelolaan Sarana dan Prasarana</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pengelolaan sarana dan prasarana adalah suatu upaya untuk merencanakan, memanfaatkan dan memelihara serta penghapusan sarana dan prasrana sesuai dengan kebutuhan sekolah dalam rangka menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Prasarana Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah semua fasilitas yang mendukung keterlaksanaan kegiatan pendidikan seprti gedung sekolah dan benda-benda tidak bergerak lainnya. Merencanakan kebutuhan prasarana pendidikan dilakukan sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menetapkan sarana dan prioritasnya.</li>
<li>Mencantumkan kebutuhan tersebut ke dalam RAPBS.</li>
<li>Mencatat perubahan prasarana sekolah secara tertib dan akurat.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Sarana Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sarana pendidikan adalah alat yang secara langsung digunakan dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat digolongkan menjadi alat pelajaran, alat peraga dan media pembelajaran. Merencanakan kebutuhan sarana pelajaran dilakukan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Alat pelajaran:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul style="text-align:justify;">
<li>Merencanakan kebutuhan buku, alat praktik, bahan praktik, dan alat laboratorium berdasar kurikulum yang berlaku dengan memperhatikan jumlah siswa.</li>
<li>Mendiskusikan jenis alat yang harus dibeli dan mana yang dapat dikembangkan sendiri.</li>
<li>Mendasarkan pengadaan alat pelajaran pada prioritas.</li>
<li>Mencatat fasilitas perpustakaan dengan cermat dan tertib.</li>
<li>Menentukan penanggung jawab laboratorium dan perpustakaan.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Alat Peraga:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menyusun kebutuhan alat peraga menurut jenisnya dengan memperhatikan jumlah siswa.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Media Pembelajaran:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menyusun dan menentukan kebutuhan media pembelajaran.</li>
<li>Memanfaatkan dan memelihara sarana dan prasarana dilakukan seperti berikut:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sarana:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menyusun jadwal pemanfaatan sesuai dengan peruntukan sarana masing-masing.</li>
<li>Menunjuk penanggung jawab untuk peralatan/sarana masing-masing.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Prasarana:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menunjuk petugas usaha sekolah sebagai penanggung jawab keamanan dan kebersihan prasarana.</li>
<li>Menetapkan pemanfaatan fasilitas yang ada.</li>
<li>Menyusun jadwal pemeliharaan fasilitas masing-masing.</li>
<li>Menentukan alat/bahan yang dibutuhkan untuk perawatan dan kebersihannya.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengelolan kerja sama sekolah dengan masyarakat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kerja sama antara sekolah dan masyarakat adalah kegiatan sekolah yang melibatkan masyarakat baik secara individual maupun secara organisasi dengan prinsip sukarela, saling menguntungkan dan memiliki kepentingan bersama dalam suatu wadah dalam rangka membantu kelancaran penyelnggaraan pendidikan di sekolah. Kerjasama ini dilakukan dengan tujuan mendayagunakan potensi masyarakat dalam membantu kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kerjasama tersebut dilaksanakan baik secara terjadwal, terencana dan bekesinambungan melalui pertemuan-pertemuan dengan tokoh masyarakat maupun pihak-pihak terkait lainnya maupun secara insidental sesuai dengan keperluan, misalnya dengan melakukan kunjungan ke rumah tokoh masyarakat. Pihak-pihak yang dapat diajak kerjasama oleh sekolah antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Warga masyarakat (tokoh masyarakat, tokoh agama) baik secara individu maupun secara organisasi.</li>
<li>Alumni</li>
<li>Instansi terkait lainnya, seperti Puskesmas, Kelurahan, Kecamatan, Sekolah lain dan lain-lain.</li>
<li>Dunia usaha dan industri</li>
<li>Orangtua siswa.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam melaksanakan kerjasama dengan masyarakat adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kunjungan ke rumah tokoh masyarakat/agama</li>
<li>Melakukan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.</li>
<li>Mengadakan kegiatan-kegiatan bersama dengan masyarakat.</li>
<li>Menerbitkan buletin/majalah sekolah.</li>
<li>Mengadakan pertemuan rutin/dialog dengan tokoh masyarakat maupun masyarakat sekitar serta pihak-pihak terkait.</li>
<li>Membina hubungan dengan instansi terkait dalam upaya memperoleh dukungan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh sekolah guna  meningkatkan kerjasama dengan masyarakat adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mencatat tokoh-tokoh masyarakat maupun pihak-pihak yang mungkin dapat diajak untuk bekerja sama.</li>
<li>Melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoph masyarakat maupun pihak-pihak terkait (alumni, instansi terkait, dunia usaha/industri).</li>
<li>Mengundang tokoh-tokoh masyarakat maupun pihak-pihak terkait ke sekolah.</li>
<li>Mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah seperti:</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Penyusunan program sekolah</li>
<li>Pengelolaan sekolah</li>
<li>Monitoring dan evaluasi</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pelaksanaan Monitoring dan Evalausi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Monitoring adalah kegiatan pemantauan pelaksanaan program untuk mengetahui keterlaksanaan, hambatan yang dihadapi dan penyimpangan yang mungkin terjadi. Sedangkan evaluasi adalah proses mendapatkan nformasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan progam sekolah yang telah tercapai berdasarkan pertimbangan tertentu secara obyektif. Monitoring dan evaluasi dilakukan sebagai bahan masukan perbaikan program yang sedang berlangsung. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan program sekolah sebagai bahan pengambilan kebijakan selanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Monitoring dan evaluasi mencakup input, proses, output dan outcome. Komponen input mencakup:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kurikulum</li>
<li>Peserta didik</li>
<li>ketenagaan</li>
<li>Saran dan prasarana</li>
<li>organisasi</li>
<li>Pembiayaan</li>
<li>Manajemen Sekolah</li>
<li>Peranserta masyarakat</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komponen proses mencakup:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Proses manajereial</li>
<li>Proses Belajar mengajar</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komponen Output mencakup:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Prestasi akademik (misalnya NEM, rapor, hasil EBTA, lomba karya tulis dll.)</li>
<li>Prestasi nonakademik seperti prestasi olahraga, prestasi keterampilan, kesenian, dan lain-lain:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komponen Out-come</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Outcome mencakup semua dampak pelaksanaan program baik terhadap individu maupun sosial (pendidikan lanjut, pengembangan karier, kesempatan untuk berkembang dan lain-lain).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Monitoring dilakukan secara berkesinambungan selama pelaksanaan program, misalnya setiap tahun atau catur wulan. Sedangkan evaluasi dilakukan setelah progam dilaksanakan secara tuntas. Monitoring dan evaluasi dilakukan baik secara internal maupun secara eksternal. Secara internal adalah sekolah sendiri (misalnya kepala sekolah dan guru) dan Komite sekolah/unit peranserta masyarakat. Secara eksternal monitoring dan evaluasi dilakukan oleh Dinas Pendidikan/instansi terkait (pusat/daerah) dan juga oleh Lembga Swadaya Masyarakat (LSM)/atau kelompok profesional yang bergerak di bidang pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pelasanaan monitoring secara internal dilakukan dengan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>mendiskusikan dengan pihak-pihak terkait tentang langkah-langkah perlu dilakukan dalam monitoring dan evaluasi.</li>
<li>Merumuskan tujuan monitoring dan evaluasi</li>
<li>Menbuat kisi-kisi monitoring dan evaluasi</li>
<li>Merumuskan kriteria keberhasilan</li>
<li>Mengembangkan alat ukur yang sesuai dengan tujuan dan indikator</li>
<li>Melakukan pengumpulan data secara periodik</li>
<li>Menganalisis data sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan</li>
<li>Membuat interpretasi data berdasarkan standar/kriteria yang ditetapkan</li>
<li>Mengembangkan usulan yang perlu diterapkan/dilaksanakan lebih lanjut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan monotoring dan evaluasi secara eksternal dilaksanakan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan penyelenggara. Selanjutnya setelah dilaksanakan monitoring dan evaluasi maka disusun laporan monitoring dan evaluasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Laporan merupakan kegiatan yang perlu dilakukan berkaitan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi. Dan hasilnya perlu dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah. Tujuannya antara lain untuk perbaikan program, pertanggungjawaban, pembuktian, penyelidikan, pendokumentasian, perolehan dukungan, dan promosi kepada masyarakat. Laporan tersebut disusun berdasarkan sistematika penulisan yang disesuaikan dengan kebutuhan, objek atau konteks yang dimonitor dan dievaluasi. Laporan terdiri dari laporan lengkap dan ringkasan laporan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Di bawah ni adalah contoh yang bisa digunakan sebagai sistematika laporan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Laporan Lengkap</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">A.     Pendahuluan</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Latar Belakang</li>
<li>Ruang Lingkup</li>
<li>Gambaran umum sekolah</li>
<li>Program-program sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">B.      Hasil</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Keterlaksanaan Program</li>
<li>Perkembangan aspek-aspek monitoring dan evaluasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">a.    input</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kurikulum</li>
<li>Peserta didik</li>
<li>Ketenagaan</li>
<li>Sarana dan prasarana</li>
<li>Organisasi</li>
<li>Pembiayaan</li>
<li>Manajemen sekolah</li>
<li>Peranserta masyarakat</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">b.   proses</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Proses manajerial</li>
<li>Proses Belajar mengajar</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">c.    Output</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Prestasi akademis</li>
<li>Prestasi nonakademis</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">3.       Ketercapaian Sasaran</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">C.      Kesimpulan dan Saran</p>
<p style="text-align:justify;">D.     Lampiran-Lampiran</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Ringkasan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ringkasan laporan diberikan kepada para pihak yang mempunyai kepentingan dengan pendidikan. Ringkasan laporan dapat berupa laporan tersendiri atau merupakan bagian dari laporan lengkap. Ringkasan berisi informasi singkat tentang tujuan, prosedur, temuan, pertimbangan-pertimbangan dan rekomendasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Menindaklanjuti hasil monitoring dan evaluasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh hasil monitoring dan evaluasi perlu diinformasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah dan selanjutnya digunakan untuk penyempurnaan program-program sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Laporan merupakan suatu kegiatan yang perlu dilakukan mengingat sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan. Adapun pihak-pihak yang perlu mengetahui perkembangan sekolah antara lain adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/kota, Dinas Kecamatan, Komite Sekolah dan masyarakat luas (tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha dan industri).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 3.3</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegiatan pelatihan peserta mampu:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menjelaskan pengertian PAKEM</li>
<li>Menjelaskan alasan penerapan PAKEM</li>
<li>Menjelaskan bagaimana suasana nyata PAKEM</li>
<li>Mengidentifikasi ciri-ciri guru yang menerapkan PAKEM</li>
<li>Melakukan simulasi PAKEM</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pengertian PAKEM</li>
<li>Alasan penerapan PAKEM</li>
<li>Karakteristik PAKEM</li>
<li>Ciri-ciri guru yang menerapkan PAKEM</li>
<li>Simulasi PAKEM</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini ádalah 90 menit.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Penjelasan</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda untuk flip chart</li>
<li>Papan tulis dengan perlengkapannya</li>
<li>LCD</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Secara diagramatik, langkah pembelajaran dalam pertemuan ini digambarkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>10’                                    20’                                       30’                            30’</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(1)                                    (2)                                         (3)                              (4)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<h6 style="text-align:justify;">Pengantar (10 menit)</h6>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Dengan menggunakan transparansi – 1, 2, dan 3, fasilitator menjelaskan pengertian pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).</li>
<li>Penjelasan dilakukan dengan cara mengurai masing-masing apa yang dimaksud dengan aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.</li>
<li>Penjelasan diharapkan memberikan sedikit gambaran tentang suasana PAKEM</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan: </strong>Pengantar dapat juga dilakukan dengan cara menggali pengertian PAKEM dari peserta, terutama bagi peserta yang telah menerapkan PAKEM</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Fasilitator memberikan pengantar bahwa setelah memahami pengertian apa dan mengapa PAKEM, peserta diharapkan dapat membayangkan keadaan nyata di kelas terutama ‘perilaku’ guru yang menerapkan PAKEM sekaligus memperkirakan kemampuan yang dituntut dari seorang guru untuk menerapkan PAKEM. Pertemuan ini dimaksudkan untuk membahas suasana nyata KBM dan kemampuan/ciri guru yang menunjang PAKEM.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Kerja Perorangan (20 menit)</h6>
<p style="text-align:justify;">Secara perorangan, peserta diminta membaca bahan berjudul “Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?”</p>
<h6 style="text-align:justify;">Diskusi kelompok (30 menit)</h6>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Diskusi kelompok (4-6 orang) untuk mengidentifikasi ciri-ciri/karakteristik kegiatan guru yang menerapkan PAKEM. Peserta diberi format yang memiliki dua kolom (Format 1 terlampir). Pada kolom kiri digambarkan ciri-ciri pembelajaran yang tradisional. Peserta diminta mengisi kolom kanan dengan ciri-ciri pembelajaran PAKEM.</li>
<li>Hasil diskusi dituliskan dalam kertas lebar atau transparansi untuk pelaporan</li>
<li>Tiap kelompok melaporkan hasil diskusinya di depan kelas;</li>
<li>Kelompok pelapor pertama memperlihatkan transparansi laporannya agar mudah dikomentari oleh yang lain;</li>
<li>Kelompok kedua dan selanjutnya hanya melaporkan apa yang belum disebut oleh kelompok sebelumnya;</li>
<li>Komentar dari peserta terhadap apa yang dilaporkan kelompok;</li>
<li>Komentar dari fasilitator, jika ada.</li>
<li>Kelompok menyimpulkan karakteristik guru PAKEM</li>
<li>Karakteristik tersebut hendaknya diketik kemudian dibagikan kepada peserta untuk menjadi pegangan dalam praktek mengajar.</li>
</ol>
<h6 style="text-align:justify;">Laporan kelompok (30 menit)</h6>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegiatan, pelatih mengajukan beberapa pertanyaan singkat tentang materi yang telah diberikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN </span></strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="170" height="14"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<h5 style="text-align:justify;">1.      Apa itu PAKEM?</h5>
<p style="text-align:justify;">PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aktif </em>dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. <em>Menyenangkan</em> adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak <em>efektif</em>, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan  mereka dengan penekanan pada <em>belajar melalui berbuat</em>.</li>
<li>Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.</li>
<li>Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’</li>
<li>Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.</li>
<li>Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.</li>
</ul>
<h5 style="text-align:justify;">2.      Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?</h5>
<h6 style="text-align:justify;">Memahami sifat yang dimiliki anak</h6>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya anak memiliki sifat: <strong><em>rasa ingin tahu</em></strong> dan <strong><em>berimajinasi</em></strong>. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.<em> </em></p>
<h6 style="text-align:justify;">Mengenal anak secara perorangan</h6>
<p style="text-align:justify;">Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (<em>tutor sebaya</em>). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar</h6>
<p style="text-align:justify;">Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau  berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah</h6>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).</p>
<h6 style="text-align:justify;">Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik</h6>
<p style="text-align:justify;">Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam PEMBELAJARAN karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar</h6>
<p style="text-align:justify;">Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar</h6>
<p style="text-align:justify;">Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental</h6>
<p style="text-align:justify;">Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKE Menyenangkan.’</p>
<h2 style="text-align:justify;">3.    Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama PEMBELAJARAN. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut tabel beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru:</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="92%">
<tbody>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="center"><strong>Kemampuan Guru</strong></p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<p align="center"><strong>Pembelajaran</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="left">1.     Guru merancang dan mengelola   PEMBELAJARAN yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam   pembelajaran.</p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<p align="left">Guru melaksanakan pembelajaran   dalam kegiatan yang beragam, misalnya:</p>
<ul>
<li>Percobaan</li>
<li>Diskusi   kelompok</li>
<li>Memecahkan   masalah</li>
<li>Mencari   informasi</li>
<li>Menulis   laporan/cerita/puisi</li>
<li>Berkunjung   keluar kelas</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="left">2.     Guru   menggunakan <strong>alat bantu dan sumber   belajar yang beragam.</strong></p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<p align="left">Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal:</p>
<ul>
<li>Alat   yang tersedia atau yang dibuat sendiri</li>
<li>Gambar</li>
<li>Studi   kasus</li>
<li>Nara sumber</li>
<li>Lingkungan</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="left">3.     Guru memberi kesempatan kepada siswa   untuk <strong>mengembangkan keterampilan</strong>.</p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<p align="left">Siswa:</p>
<ul>
<li>Melakukan   percobaan, pengamatan, atau wawancara</li>
<li>Mengumpulkan   data/jawaban dan mengolahnya sendiri</li>
<li>Menarik   kesimpulan</li>
<li>Memecahkan   masalah, mencari rumus sendiri</li>
<li>Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata   sendiri</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="left">4.     Guru   memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara   lisan atau tulisan.</p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<p align="left">Melalui:</p>
<ul>
<li>Diskusi</li>
<li>Lebih   banyak  pertanyaan terbuka</li>
<li>Hasil   karya yang merupakan pemikiran anak sendiri</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="left">5.    Guru   menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa.</p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<ul>
<li>Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk   kegiatan tertentu)</li>
<li>Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok   tersebut.</li>
<li>Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="left">6.     Guru   mengaitkan PEMBELAJARAN dengan <strong>pengalaman   siswa sehari-hari</strong>.</p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<ul>
<li>Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya   sendiri.</li>
<li>Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan   sehari-hari</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="43%" valign="top">
<p align="left">7.     Menilai   PEMBELAJARAN dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.</p>
</td>
<td width="56%" valign="top">
<ul>
<li>Guru   memantau kerja siswa</li>
<li>Guru   memberikan umpan balik</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/453/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=453&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-pendidikan-iiikomite-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DEWAN PENDIDIKAN II/KOMITE SEKOLAH</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-sekolah-iikomite-sekolah/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-sekolah-iikomite-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 18:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Modul 2.1 Memutar Roda Organisasi dan Manajemen Komite Sekolah I. TUJUAN Peserta dapat: Memahami tujuan pembentukan Komite Sekolah Memahami peran dan fungsi Komite Sekolah Memahami perangkat organisasi Komite Sekolah Memahami prinsip-prinsip menjalanlan roda organisasi Komite Sekolah Memahami prinsip-prinsip manajemen Komite Sekolah II.        MATERI 1.    Tujuan pembentukan Komite Sekolah 2.    Peran dan Fungsi Komite Sekolah 3.    [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=447&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left:30px;text-align:justify;"><strong>Modul 2.1</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memutar Roda Organisasi dan Manajemen Komite Sekolah </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Peserta dapat:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Memahami tujuan pembentukan Komite Sekolah</li>
<li>Memahami peran dan fungsi Komite Sekolah</li>
<li>Memahami perangkat organisasi Komite Sekolah</li>
<li>Memahami prinsip-prinsip menjalanlan roda organisasi Komite Sekolah</li>
<li>Memahami prinsip-prinsip manajemen Komite Sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>II.        MATERI </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">1.    Tujuan pembentukan Komite Sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Peran dan Fungsi Komite Sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Perangkat Organisasi Sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">4.    Manajemen Komite Sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>III.       WAKTU </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Waktu yang diperlukan adalah 90 menit (2 JPL @ 45 menit)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Curah pendapat</li>
<li>Diskusi</li>
<li>Penjelasan</li>
<li>Tanya jawab</li>
<li>Evaluasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kida untuk flipchart</li>
<li>Papan tulis</li>
<li>LCD</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kegiatan dibuka dengan salam dan perkenalan.</li>
<li>Lakukan <em>ice breaker</em>.</li>
<li>Jelaskan tujuan yang ingin dicapai dapal kegiatan sesi ini. Tanyakan pengetahuan dan pengertian peserta tentang BP3, Komite Sekolah Jaring Pengaman Sosial, dan Komite Sekolah yang akan dibahas dalam sesi ini.</li>
<li>Tanyakan pula apakah ada diantara peserta yang pernah menjadi pengurus salah satu organisasi tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(Waktu : 10 menit)</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Diskusikan tentang pengalaman peserta sebagai pengurus atau anggota BP3, Komite Sekolah JPS, atau Komite Sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(Waktu :  10 menit)</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tanyakan tujuan pembentukan Komite Sekolah, dilanjutkan penjelasan tentang Tujuan pembentukan Komite Sekolah yang membedakan dari tujuan pembentukan BP3, dan Komite Sekolah JPS.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(Waktu :  10 menit)</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selanjutnya tanyakan tentang peran dan fungsi Komite Sekolah. Tunjuk salah seorang peserta untuk menjelaskan peran Komite Sekolah dengan satu contoh kegiatan untuk memenuhi peran tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(Waktu : 10 menit)</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kegiatan dilanjutkan dengan paparan tentang Peran dan Fungsi Komite Sekolah, dilanjutkan dengan paparan tentang Perangkat Organisasi, dan Manajemen Komite Sekolah, diselingi dengan tanya jawab dan diskusi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(Waktu : 40 menit)</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buat resume/penutup dengan mengulang garis besar penyajian</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(Waktu : 10 menit)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berikan lembar evaluasi pembelajaran pelatihan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN 1: SUBSTANSI</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS). Dewan Pendidikan dibentuk di setiap Kabuapetn/Kota, sementara Komite Sekolah dibentuk di setiap satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Selanjutnya, guna memudahkan masyarakat dalam membentuk Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, Menteri Pendidikan Nasional menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah disertai Lampiran-lampiran. Kampiran I merupakan Acuan Pembentukan Dewan pendidikan, sementara Lampiran II merupakan Acuan Pembentukan Komite Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sesuai dengan semangat otonom daerah, khususnya di bidang pendidikan, Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 044/U/2002 tersebut hanya merupakan acuan, bukan merupakan petunjuk pelaksanaan (Juklak) atau petunjuk teknis (Juknis). Hal tersebut tesirat pada Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi : <em>”Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dapat menggunakan Acuan Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran II Keputusan ini”</em>. Hal ini berarti dari sudut organisasi dapat saja struktur organisasi Komite Sekolah di setiap satuan pendidikian atau kelompok satuan pendidikan berbeda satu sama lain. Namun demikian ada satu hal yang diharapkan menjadi acuan pokok Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, yaitu tentang peran dan fungsi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Keberadan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah kini telah diperkuat dari aspek legal karena telah dicantumkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pada Pasal 56, walaupun ada sedikit modifikasi. Oleh karena Peraturan Pemerintah yang menjabarkan UU Sisdiknas, khususnya yang menyangkut peranserta masyarakat termasuk di dalmnya Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah masih belum juga terbit, maka Kepmendiknas No. 044/U/2002 masih relevan untuk dijaikan acuan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Makalah ini akan menyoroti topik Komite Sekolah sebagai sebuah organisasi. Sebuah organisasi tentu memiliki tujuan utama, dan untuk mencapai tujuan itu, sebuah organisasi harus dijalankan secara efektif dan efisien.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>MAKSUD DAN TUJUAN PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Maksud</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Maksud dibentuknya Komite Sekolah adalah agar ada suatu organisasi masyarakat sekolah  yang mempunyai komitmen dan loyalitas serta peduli terhadap peningkatan kualitas sekolah. Komite Sekolah yang dibentuk dapat dikembangkan secara khas dan berakar dari budaya, demografis, ekologis, nilai kesepakatan, serta kepercayaan yang dibangun sesuai dengan potensi masyarakat setempat. Oleh karena itu, Komite Sekolah yang dibangun harus merupakan pengembang kekayaan filosifis masyarakat secara kolektif. Artinya, Komite Sekolah mengembangkan konsep yang berorientasi kepada pengguna (<em>client model</em>), berbagi kewenangan (<em>power sharing and advocacy model</em>), dan kemitraan (<em>partnership model</em>) yang difokuskan pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tujuan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tjuan dibentuknya Komite Sekolah sebagai suatu organisasi masyarakat sekolah adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mewadahi      dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan      kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Meningkatkan      tanggung-jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan      di satuan pendidikan.</li>
<li>Menciptakan      suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam      penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan      pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>PERAN DAN FUNGSI KOMITE SEKOLAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peran Komite Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Keberadaan Komite Sekolah harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di satuan pendidikan/sekolah. Oleh karena itu, pembentukan Komite Sekolah harus memperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada. Peran Komite Sekolah adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sebagai      lembaga pemberi pertimbangan (<em>advisory      agency</em>) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan      pendidikan</li>
<li>Sebagai      lembaga pendukung (<em>supporting agency</em>),      baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam      penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Sebagai      lembaga pengontrol (<em>controlling      agency</em>) dalam rangka ransparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan      keluaran pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Sebagai      lembaga mediator (<em>mediator agency</em>)      antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Fungsi Komite Sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Untuk menjalankan peran yang telah disebutkan di muka, Komite Sekolah memiliki fungsi sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mendorong tumbuhnya perhatian dan      komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.</li>
<li>Melakukan kerjasama dengan masyarakat      (Perorangan/organisasi/dunia usaha dan dunia industri (DUDI)) dan      pemerintah berkenaan dengan penyelengaraan pendidikan bermutu.</li>
<li>Menampung dan menganalisis aspirasi,      ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan olej      masyarakat.</li>
<li>Memberikan masukan, pertimbangan, dan      rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai :</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>
<ol>
<li>Kebijakan dan program pendidikan</li>
<li>Rencana Anggaran Pendidikan dan       Belanja Sekolah (RAPBS)</li>
<li>Kriteria kinerja satuan pendidikan</li>
<li>Kriteria tenaga kependidikan</li>
<li>Kriteria fasilitas pendidikan.</li>
<li>Hal-hal lain yang terkait dengan       pendidikan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mendorong orang tua siswa dan      masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung      peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan pendidikan.</li>
<li>Menggalang dana masyarakat dalam      rangka pembiayaan penyelengaraan pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Melakukan evaluasi dan pengawasan      terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan di      satuan pendidikan,</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PERANGKAT ORGANISASI SEKOLAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian Organisasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ada berbagai definisi atau batasan organisasi. Salah satu definisi tersebut adalah sebagai berikut. Organisasi adalah kesatuan (<em>entity</em>) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar keterikatan yang relatif terus menerus untuk mencapai tujuan atau sekelompok tujuan. Definisi ini sangat cocok jika diterapkan pada organisasi Komite Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam definisi tersebut terkandung terminologi kesatuan (<em>entity</em>) sosial. Kesatuan sosial dalam hal Komite Sekolah adalah masyarakat sekolah yang peduli pendidikan yang berinteraksi satu sama lain. Pengertian dikoordinasikan secara sadar bahwa organisasi itu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen, artinya roda organisasi harus dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen moderen.  Keterikatan yang terus-menerus berarti masyarakat secara sadar merasa terikat dengan sekolah karena mereka peduli dengan pendidikan. Terakhir adalah bahwa organisasi itu memiliki tujuan atau kelompok tujuan. Sebagaimana telah diuraikan di muka ada empat tujuan pembentukan Komite Sekolah, dan tujuan utamanya adalah meningkatkan mutu pembelajaran di satuan pendidikan tersebut, sehingga dihasilkan lulusan yang bermutu ditinjau dari aspek akademik dan non-akademik.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Perangkat Organisasi Komite Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Perangkat organisasi Komite Sekolah <strong>minima</strong>l yang harus ada, yang memungkinkan berjalannya roda organisasi Komite Sekolah adalah: Personel Komite Sekolah, Struktur Organisasi disertai <em>job description</em> setiap personel dan tata-hubungan antarpersonel, Panduan Organisasi (antara lain berupa AD/ART), fasilitas penunjang (Kantor/Sekretariat, tenaga adminstrasi).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kepengurusan</strong>. Komite Sekolah yang terdiri atas personel yang dibentuk berdasarkan ketentuan yang ada (dijelaskan pada topik Pembentukan Komite Sekolah) dibentuk menjadi sebuah organisasi yang paling tidak terdiri atas Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Anggota.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Struktur Organisasi</strong>. Dalam keadaan organisasi Komite Sekolah dengan kegiatan yang lebih kompleks, struktur organisasi dapat lebih diperluas dengan beberapa Ketua Bidang, dan beberapa Seksi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Job description</strong>. Guna menjalankan roda organisasi Komite Sekolah, perlu dibuat job description bagi setiap personel pada setiap jabatan yang diembannya, sehingga tidak terjadi tumpang tindih pelaksanaan tugas. Dalam hal ini job description berupa panduan siapa mengerjakan apa dan masing-masing personel bertanggung jawab atas terlaksananya tugas yang ia diemban. Terkait dengan job description, juga disusun panduan tata-hubungan antarpersonel. Misalnya Seksi Penggalangan dana masyarakat berada di bawah korrdinasi Ketua Bidang Sumberdaya. Salah satu hal yang penting diketahui oleh semua angota pengurus Komite Sekolah adalah mengenal satu sama lain dan masing-masing mengetahui kelebihan (dan kalau mungkin kelemahan) masing-masing. Hal ini penting bagi penempatan personel pada jabatan tertentu dalam organisasi Komite Sekolah. Perlu dihindari penempatan seseorang dalam organisasi adalah berdasarkan kedudukan, kepangkatan, atau kekayaaan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>AD/ART</strong>. AD/ART merupakan salah satu perangkat organisasi yang penting. Dalam hal organisasi masih merupakan organisasi yang sederhana dengan kegiatan yang masih terbatas, AD/ART tidak harus ada dulu. Akan tetapi Komite Sekolah tetap harus memiliki panduan berorganisasi, dan roda organisasi berjalan berdasarkan panduan tersebut. Dalam AD/ART atau Panduan Organisasi <span style="text-decoration:underline;">paling tidak</span> harus diatur mengenai: Dasar, Tujuan, dan kegiatan dari Komite Sekolah, ketentuan keanggotaan dan kepengurusan (termasuk masa bakti), hak dan kewajiban anggota dan pengurus, ketentuan tentang pengelolan keuangan, mekanisme pengambilan keputusan, perubahan Panduan Organisasi atau AD/ART, dan pembubaran organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Fasilitas Penunjang</strong>. Sebuah organisasi dapat dikatakan mustahil berjalan tanapa didukung oleh fasilitas penunjang. Fasilitas penunjang sebuah Komite Sekolah yang paling sederhana adalah adanya meja kerja bagi Ketua Komite, baik di rumah sang Ketua, di sebuah sekolah, atau bahkan di sebuah Kantor Khusus Komite Sekolah yang memiliki fasilitas ruang-ruang kerja pengurus, ruang rapat, fasilitas administrasi, dan karyawan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>MEMBANGUN ORGANISASI KOMITE SEKOLAH YANG EFEKTIF</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komite Sekolah dapat memutarkan roda organisasi dengan dimulai dengan hal-hal yang sederhana. Hal yang laping sederhana yang dapat dilakukan oleh Komite Sekolah adalah konsolidasi organisasi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penyamaan visi</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sebuah organisasi dapat berjalan apabila semua anggota pengurus dan anggota organisasi tersebut memiliki visi yang sama. Telah disinggung di muka bahwa tujuan akhir dari keberadaan Komite Sekolah di setiap satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan adalah untuk memingkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan tersebut. Ada prinsip yang harus dipegang oleh semua anggota Komite Sekolah, yaitu Komite Sekolah tidak mengambil peran satuan pendidikan, tidak juga mengambil peran pemerintah atau birokrasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Membangun Tim Yang Efektif</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah organisasi tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila tidak terjadi kebersamaan di dalam tim. Oleh karena itu perlu dibangun sistem kebersamaan, yaitu membangun sebuah Team Work yang efektif (Paparan tentang <strong>Team Work</strong>, tersedia secara terpisah).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengembangkan Kreativitas</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah organisasi akan berjalan lebih cepat, efektif, dan efisien apabila organisasi tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kreativitas. Orang yang kreatif adalah orang yang selalu bertanya tentang sesuatu yang dianggap masalah. Orang kreatif adalah orang yang selalu berfikir untuk menemukan solusi untuk memecahan suatu masalah. Orang yang kreatif selalu memiliki gagasan-gagasan baru, yang kadang-kadang tidak pernah dipikirkan orang lain. Organisasi yang baik adalah organisasi yang mendukung pengembangan kreativitas.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>PELAKSANAAN PROGRAM KERJA KOMITE SEKOLAH BERDASARKAN MASALAH YANG DITEMUKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah Komite Sekolah dapat menjalankan roda organisasi melalui berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut barangkali ada yang belum menyentuh substansi peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan tersebut. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah konsolidasi organisasi seperti yang disinggung di muka. Kegiatan lain adalah misalnya penyusunan Panduan Organisasi atau Penyusunan AD/ART atau melengkapi kelengkapan organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komite Sekolah yang telah memenuhi syarat minimal sebagai sebuah organisasi, dapat melangkah lebih jauh dalam menjalankan roda organisasi, dan mulai menyentuh substansi mutu pendidikan. Dalam hal ini Komite Sekolah dapat memulai kegiatannya dengan berangkat dari upaya pemecahan masalah yang dapat diidentifikasi. Berikut ini tahap-tahap yang dapat dilakukan oleh Komite Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Identifikasi Masalah</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setiap sekolah atau satuan pendidikan tentu memiliki maslah yang berbeda-beda. Langkah yang perlu dilakukan oleh Komite Sekolah dalam menjalankan roda organisasi adalan identifikasi masalah, baik masalah akademik, maupun masalah non-akademik. Dapat dipastikan bahwa akan banyak sekali masalah yang dapat diidentifikasi (Teknik identifikasi masalah disajikan dalam sesi tersendiri).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menentukan Prioritas</strong>. Dari sekian banyak masalah yang berhasil diidentifikasi harus dipilih masalah yang akan menjadi prioritas, dikaitkan dengan ketersediaan personel, dana, dan penunjang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Analisis Masalah.</strong> Guna mengetahui secara lebih mendalam tentang masalah yang terjadi, perlu dilakukan analisis masalah. Dalam masalah atau topik yang akan ditangani langkah-langkah yang perlu dilakkan adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Lakukan identifikasi <strong>akar</strong> masalah,</p>
<p style="text-align:justify;">à    Lakukan identifikasi faktor-faktor penyebab masalah tersebut,</p>
<p style="text-align:justify;">à    Buat daftar alternatif kemungkinan pemecahan masalah dan untung rugi masing-masing alternatif</p>
<p style="text-align:justify;">à    Pilih alternatif terbaik berdasarkan kesepakatan bersama</p>
<p style="text-align:justify;">à    Buat perencanaan untuk pemecahan masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Perencanaan Program</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan Program dapat dilakukan dengan baik apabila dibuat rencana aksi yang baik. Berikut ini contoh sebuah rencana aksi yang daspat diacu.</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="93" valign="top">Topik Masalah</td>
<td width="98" valign="top">Kegiatan yang dapat mengatasi   masalah</td>
<td width="101" valign="top">Waktu yang dibutuhkan</td>
<td width="105" valign="top">Sumberdaya yang diperlukan</td>
<td width="68" valign="top">Penanggung jawab</td>
<td width="105" valign="top">Indikator keberhasilan pemecahan   masalah</td>
</tr>
<tr>
<td width="93" valign="top">Masalah A</td>
<td width="98" valign="top">1.2.</p>
<p>3.</td>
<td width="101" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="93" valign="top">Masalah B</td>
<td width="98" valign="top">1.2.</td>
<td width="101" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="93" valign="top">Masalah C</td>
<td width="98" valign="top">1.2.</td>
<td width="101" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="93" valign="top">Masalah D</td>
<td width="98" valign="top">1.2.</p>
<p>3.</td>
<td width="101" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="105" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan Program/Kegiatan</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan rencana aksi, penangggung jawab program kemudian melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah disusun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Evaluasi Program</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Selama berjalannya waktu dilalukan evaluasi secara periodik. Setelah tenggat waktu periode tertentu terlewati tetapi indikator kinerja masih di bawah target, perlu dilakukan analisis dan dibuat tindakan koreksi (<em>corrective action</em>). Dalam hal ini ada baiknya dilakukan siklus perencanaan : Planà Do à Check à Action, yang kini banyak dianut oleh berbagai organisasi dalam menjalankan progran dan kegiatan organisasinya. Bahasan tentang PDCA ini dapat diberikan pada sesi tersendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komite Sekolah sebagai sebuah organisasi perlu dikelola sebagai sebuah organisasi dengan menerapkan berbagai prinsip dan praktik-praktik manajemen yang tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Namum demikian, tidak semua Komite Sekolah mampu menjalankan roda organisasi sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi tekad untuk meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan perlu menjadi alasan utama seseorang mengabdikan dirinya di sebuah otrganisasi Komite Sekolah. Malakah ini dapat diangga sebagai pembuka bagi Komite Sekolah dalam memulai menjalankan roda organisasi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN 2: REFERENSI/POWERPOINT</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 2.2</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan Rencana Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai mengikuti kegiatan pelatihan, peserta diharapkan dapat:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Memahami Pengertian Rencana Pengembangan Sekolah (RPS)</li>
<li>Menyadari Pentingnya RPS</li>
<li>Mengetahui dasar Filosofis RPS</li>
<li>Dapat Menyusun Visi, Misi dan Tujuan Sekolah</li>
<li>Dapat menyusun RPS</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pengertian Rencana Pengembangan Sekolah(RPS)</li>
<li>Pentingnya RPS</li>
<li>Dasar Filosofis RPS</li>
<li>Penyusunan Visi, Misi dan Tujuan Sekolah</li>
<li>Penyusunan RPS</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan ini dilaksanakan dalam waktu 90 menit.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Paparan</li>
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda untuk flip chart</li>
<li>Papan tulis dengan perlengkapannya</li>
<li>LCD</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buka pertemuan dengan mengucapkan salam singkat.</li>
<li>Lakukan <em>Ice Breaker</em>.</li>
<li>Sisipkan <em>anekdote</em> yang berkaitan dengan perencanaan atau pengembangan.</li>
<li>Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan mendiskusikan mengenai <strong><em>Rencana Pengembangan Sekolah </em></strong> dan uraikan maksud dan tujuan dari diskusi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> (Waktu : 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tanyakan kepada peserta apakah mereka pernah menyusun visi, misi dan tujuan sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em>Latihan menyusun visi, misi dan tujuan sekolah</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 10 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan melanjutkan kegiatan dengan paparan Rencana Pengembangan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Setelah selesai paparan, tanyakan kepada peserta :</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mengapa diperlukan Rencana Pengembangan Sekolah?</p>
<p style="text-align:justify;">Diskusikan kemungkinan hambatan dan peluang dalam melaksanakan penyusunan RPS.<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 10 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bahas bersama peserta faktor–faktor yang bisa mempengaruhi dan menghambat upaya penyusunan RPS.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Hasil diskusi ini selanjutnya disimpulkan dan dilakukan pencerahan sbb:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="text-decoration:underline;">Menumbuhkan komitmen bersama agar setiap sekolah memiliki RPS</span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 10 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selanjutnya pemandu melanjutkan Bahan Tayangan Mengenai Manajmen Berbasis Sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu 45 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemandu menyimpulkan dan menutup materi sesi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 10 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Keberhasilan pelatihan akan dievaluasi dengan menanyakan kepada beberapa orang secara random penguasaan materi dan teknik penyajian yang berkaitan dengan RPS. Dari jawaban peserta dapat diketahui seberapa besar tingkat pemahaman dan kemampuan. Antara lain mengenai:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Dasar filosofis Pengembangan Sekolah</li>
<li>Pengertian dan konsepRPS</li>
<li>Kekhasan dan manfaat RPS</li>
<li>Proses penyusunan data yang diperlukan dalam penyusunan RPS.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN 1: SUBSTANSI</span></strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="32" height="12"></td>
<td width="132"></td>
<td width="34"></td>
<td width="230"></td>
<td width="14"></td>
<td width="90"></td>
</tr>
<tr>
<td height="68"></td>
<td colspan="2"></td>
<td rowspan="3" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="37"></td>
<td align="left" valign="top"></td>
<td></td>
<td></td>
<td align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="102"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah adalah sebuah organisasi yang dinamis, yang berubah dari masa ke masa. Kurikulum berubah, demikian juga persyaratan mengajar guru, jumlah siswa dan lain sebagainya. Perubahan itu terjadi karena lingkungan sekolah mengalami perkembangan. Teknologi, sistem komunikasi, budaya masyarakat, ekonomi, politik, penduduk berubah. Perubahan lingkungan itu tidak dapat dihindari karena memang semua entitas tidak ada yang langgeng &#8212; kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan linkungan itu telah menimbulkan tuntutan-tuntutan baru terhadap bagaimana sekolah seharusnya melayani masyarakat. Dunia industri misalnya, memerlukan lulusan yang mampu bekerja dengan produktif, masyarakat memerlukan warga yang terdidik yang mampu memecahkan permasalahan-permasalahan baru yang belum ada sebelumnya. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan yang melayani masyarakat harus dapat menjawab tuntutan ini dengan melakukan perubahan secara terprogram. Jika sekolah tidak dapat melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan tuntutan <em>stakeholders</em> maka sekolah akan ditinggalkan oleh masyarakat. Hanya sekolah-sekolah yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan saja yang akan tetap hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam kontek ini perubahan yang dilakukan oleh sekolah merupakan upaya-upaya pengembangan dalam arti meningkatkan mutu pelayanan sekolah menjadi lebih baik, lebih dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh lingkungan sekolah – stakeholders.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pengembangan adalah sebuah proses yang memerlukan waktu, sumber-sumber, dan pengelolaan yang benar. Oleh karena itu untuk mengadakan perubahan/pengembangan diperlukan suatu perencanaan. Untuk ini, sekolah harus berbenah diri, dengan menyesuaikan kondisi-kondisi internal sekolah dengan kondisi eksternal agar sekolah tetap mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan pembelajaran secara maksimal.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah mempunyai satu atau lebih tujuan yang ingin dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut sekolah perlu menyusun suatu rencana yang jelas. Biasanya tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah dituangkan dari apa yang disebut dengan visi dan misi sekolah. Visi dan misi ini merupakan peta jalan yang perlu diikuti bagaimana sekolah berangkat dari kondisi sekarang menuju kondisi yang diinginkan karena sifatnya yang masih umum maka visi dan misi sekolah masih perlu penjabaran labih rinci sehingga dapat menjadi kegiatan yang bersifat operasional. Selanjutnya sekolah menuangkan kegiatan-kegiatan dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam suatu dokumen “Rencana Pengembangan Sekolah”. Agar sekolah dapat mengembangkan dirinya secara optimal maka sekolah harus menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). RPS ini disusun berdasarkan visi dan misi sekolah yang telah disepakati bersama, dijabarkan dengan rinci dalam kegiatan dan sasaran yang akan dicapai dan dimonitor dan evaluasi berdasarkan indikator-indikator keberhasilan yang disepakati pula.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pentingnya menyusun rencana ke depan, betapapun sederhananya sudah tidak dapat diragukan lagi. Impian yang indah tentang kondisi masa depan tidak dapat dicapai melalui kegiatan secara dadakan dan tidak terprogram. Sehingga ada kata-kata bijak yang mengatakan “Gagal membuat perencanaan sama artinya dengan merencanakan kegagalan”. Kebenaran kata-kata bijak itu dapat dilihat dari betapa besarnya dana dan daya (funds and forces) yang telah dikeluarkan untuk mencapai suatu tujuan tetapi tujuan itu tidak kunjung bisa dicapai.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dasar Fisolofis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekolah, tempat di mana anak-anak kita menuntut ilmu selayaknya merupakan tempat yang dihormati oleh warga masyarakat sekitarnya. Kurangnya penghormatan kepada sekolah itu telah membuat sekolah berfungsi ala kadarnya, pelayanan yang diberikan tidak maksimal, dan di beberapa tempat telah membuat sekolah menjadi mati suri, antara hidup dan mati. Inilah suatu gambaran sekolah yang memprihatinkan, meskipun daripadanya diharapkan banyak hal.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kondisi seperti itu tentu tidak seluruhnya dialami oleh sekolah. Ada sekolah-sekolah yang bagus, baik fisik bangunannya maupun kinerjanya dan juga sumberdaya manusia yang berada di dalamnya. Namun pada umumnya memang sekolah menghadapi berbagai masalah yang tidak pernah tuntas, bahkan hal ini terjadi pada sekolah yang dianggap paling baik sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Penghormatan itu patut diberikan kepada sekolah dalam bentuk kesadaran setiap warga masyarakat untuk ikut bertanggungjawab dalam:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>menghidupi sekolah</li>
<li>memelihara sekolah</li>
<li>mengembangkan sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Menghidupi sekolah artinya membuat sekolah eksis, dapat menjalankan fungsinya sebagai suatu lembaga yang melayani warga masyarakat di bidang pendidikan/pembelajaran. Memelihara sekolah artinya membuat sekolah bukan hanya sekedar hidup dapat menjalankan fungsinya tetapi juga membuat sekolah lestari yang karena kebersihannya, keutuhannya, kelengkapannya serta pengabdian aparat sekolah (kepala sekolah, guru, pegawai adminstratif, penjaga sekolah) membuat sekolah tetap dapat melayani masyarakat sebagai tempat pendidikan/pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengembangan Adalah Rukun Kehidupan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berkembang adalah suatu rukun kehidupan. Entitas yang hidup, secara alamiah akan selalu berkembang. Demikian pula organisasi yang ada di tengah masyarakat. Oleh karena itu, perlunya mengembangkan sekolah sebagai suatu organisasi tidak diragukan lagi. Sekolah-sekolah yang tidak dapat mengembangkan diri akan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya apalagi untuk mampu bersaing dengan sekolah lain. Perubahan lingkungan sekolah selalu berubah dengan cepat. Perubahan ini akan menuntut untuk berubah dengan cepat pula. Sekolah yang tidak tanggap menghadapi perubahan akhirnya akan mati. Oleh karena itu, sekolah perlu merencanakan perubahan dalam kapasitasnya untuk melayani masyarakat di bidang pembelajaran. Mengembangkan sekolah artinya meningkatkan kemampuan pelayanan sekolah, mengembangkan potensi sekolah agar kuantitas dan mutu pelayanan sekolah menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian RPS</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">RPS adalah sebuah dokumen perencanaan yang dibuat oleh “sekolah” untuk mengadakan perubahan fisik dan nonfisik sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan sekolah. RPS menggambarkan peta perjalanan perubahan sekolah dari suatu kondisi sekarang menuju kondisi yang lebih baik dan lebih menjanjikan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.</p>
<p style="text-align:justify;">RPS menggambarkan sekolah sebagai suatu sistem dan bagian dari suatu sistem yang lebih luas yang berinteraksi secara berkesinambungan, memperoleh masukan dari masyarakat dan memberikan output kepada masyarakat. Sehingga mutu pelayanan sekolah sangat tergantung dari input yang diterimanya dan proses yang dikerjakannya. Oleh karena itu jika pelayanan sekolah ingin ditingkatkan maka input dan proses dalam sekolah itu harus disempurnakan</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Tujuan Penyusunan RPS</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyusunan RPS bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kegiatan-kegiatan apa yang harus dikerjakan oleh sekolah dalam mencapai perubahan yang diinginkan khususnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan sekolah di bidang pembelajaran sesuai dengan potensi dan harapan komunitas setempat sehingga dapat:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengenali kondisi sekolah yang ada dalam fungsinya memberikan pelayanan pembelajaran kepada warga masyarakat.</li>
<li>Menetapkan tujuan/perubahan yang realistis.</li>
<li>Mengenali masalah-masalah dan kendala yang dihadapi sekolah.</li>
<li>Mampu menemukan penyebab masalah-masalah yanga dihadapi sekolah.</li>
<li>Menyusun saran-saran pemecahan masalah dalam bentuk pilihan-pilihan pemecahan masalah.</li>
<li>Menganalisis setiap saran pemecahan masalah sehingga menemukan pilihan pemecahan masalah yang terbaik bagi sekolah dengan mempertimbangkan dukungan yang ada.</li>
<li>Dengan pilihan pemecahan masalah terbaik menyusun rencana pengembangan /perubahan sekolah dalam jangka waktu lima tahun.</li>
<li>Melakukan perhitungan rencana pembiayaan.</li>
<li>Menetapkan sumber-sumber daya (dana, tenaga dan sarana) untuk membiayai rencana pengembangan sekolah.</li>
<li>Menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Sifat RPS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">RPS bersifat menyeluruh, utuh, realistik dan operasional serta berwawasan masa depan. Sebagai sebuah dokumen rencana pengembangan sekolah, RPS merupakan rencana pengembangan milik bersama dan menjadi komitmen bersama antara sekolah, komite sekolah dan para <em>stakeholders</em> setempat. RPS bukanlah sebuah dokumen yang statis dalam arti sekali RPS dibuat kemudian tidak berubah lagi. Tetapi RPS selalu dapat disempurnakan dari tahun ke tahun apabila perubahan lingkungan yang memerlukan perubahan RPS.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kekhasan RPS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">RPS memiliki kekhasan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Singkat, padat dan mudah dipahami.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">RPS merupakan dokumen rencana pengembangan sekolah yang disusun secara singkat, lengkap dan jelas. RPS memuat gambaran profil sekolah yang padat, berisi dan mudah dipahami. Sehingga RPS tidak merupakan dokumen yang tebal.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Realistik dan Operasional</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">RPS memuat rencana perubahan sekolah yang sangat realistik. RPS tidak berisi angan-angan kosong yang indah tetapi mustahil dicapai.  Realistik harus dilihat dari aspek waktu, sumber-sumber yang mendukung (dana, tenaga, fasilitas, dan teknologi). Oleh karena itu RPS adalah dokumen yang bersifat operasional.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Komprehensif</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">RPS mencakup seluruh aspek dan komponen sekolah  yang hendak dikembangkan menuju suatu capaian yang diharapkan. Oleh karena itu RPS menggunakan pendekatan sistem dalam mengkaji persoalan yang dihadapi dan dalam memberikan saran pemecahan masalah yang harus diikuti. RPS mempertimbangkan aspek-aspek sosial, budaya ekonomi masyarakat, kependudukan dan lingkungan di sekitar sekolah.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Partisipasi masyarakat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">RPS disusun dengan melibatkan keikutsertaan masyarakat dengan cara mengajak unsur-unsur yang ada dalam masyarakat/komunitas seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, komite sekolah perwakilan dunia usaha dan lain-lain. Keikutsertaan mereka dimaksudkan untuk memperoleh masukan-masukan (dapat berbentuk materiil maupun moril) dari masyarakat, menumbuhkan rasa tanggung jawab juga untuk membangun rasa kebersamaan serta rasa kepemilikan terhadap sekolah.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berbasis data dan Informasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">RPS disusun berdasarkan data dan informasi yang akurat, aktual, relevan dan lengkap. Oleh karena itu mulai dari perumusan masalah, penetapan sasaran-sasaran serta rencana pengembangan secara keseluruhan didukung oleh data dan informasi.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pengawasan dan umpan balik melalui pemantauan dan evaluasi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam RPS disertakan pula sistem pengawasan dan pengendalian serta pembinaan agar tujuan yang telah digariskan dapat dicapai secara maksimal. Oleh karean itu pelaksanaan RPS akan dipantau dan dievaluasi baik secara internal maupun secara eksternal. Pihak pemantau dan evaluator akan memberikan masukan-masukan guna menghindari penyimpangan-penyimpangan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.</p>
<p style="text-align:justify;">7.      RPS merupakan dokumen yang mengikat para <em>stakeholder</em> sekolah,  ia menjadi milik dan komitmen bersama para stakeholder.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kandungan RPS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">RPS mengambarkan dengan jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif mengenai kondisi sekolah pada saat sekarang, masalah-masalah yang tengah dihadapi, kondisi yang ingin dicapai, strategi dan langkah yang perlu dilakukan serta bagaimana sumber-sumber harus digalang untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Oleh karena itu RPS akan memuat antara lain:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Peta lokasi sekolah pada tingkat desa di tengah pemukiman penduduk (termasuk jalan, jembatan, dan derah-daerah persawahan, industri, rumah sakit dll.) Dalam peta ini agar dicantumkan legenda dan skala serta sekolah-sekolah lain yang berdekatan dengan lokasi sekolah yang berangkutan.</li>
<li>Narasi RPS.</li>
<li>Lampiran-lampiran.</li>
<li>Lembar pengesahan yang ditandatangani Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Konsep RPS </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Konsep Rencana Pengembangan Sekolah adalah sangat sederhana. Sesederhana orang merencanakan perjalanan dari kota A menuju ke kota B. Dalam contoh ini orang harus mengetahui dari mana dia berangkat ke mana dia akan pergi, kapan akan berangkat dan menggunakan kendaraan apa. Secara sederhana RPS merupakan sebuah dokumen menggambarkan secara operasional bagaimana sekolah akan melaksanakan perubahan. RPS dapat dianggap sebagai peta perjalanan dalam melaksanakan transformasi dari kondisi yang ada sekarang menuju kondisi masa depan yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sudah pasti ada perbedaan antara kondisi sekarang dan kondisi yang diinginkan. Mungkin perbedaan itu adalah perbedaan jumlah, perbedaan kualitas atau perbedaan kedua-duanya. Perbedaan (kesenjangan) ini adalah sebuah masalah. Misalnya ada perbedaan antara mutu guru yang ada sekarang dengan mutu guru yang diinginkan – selanjutnya perbedaan ini menimbulkan “masalah mutu guru”. Untuk menanggulangi masalah tentu diperlukan suatu perubahan (<em>transformasi</em>). Misalnya, sekolah mengupayakan peningkatan mutu guru dengan mengikutsertakan guru dalam pelatihan. Oleh karena itu, sekolah punya kebutuhan (<em>needs</em>) untuk melatih guru. Sehingga masalah sering diidentikkan dengan <em>needs</em> atau kebutuhan. Proses untuk mengetahui apa yang dibutuhkan sekolah sering disebut dengan <em>needs assessment</em>. Proses transformasi itu dapat digambarkan sebagai berikut.</p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="127" height="5"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong>RPS dan Proses Transformasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam melaksanakan perubahan dari satu kondisi yang ada menuju suatu kondisi yang diinginkan, sekolah harus melakukan suatu proses <em>transformasi</em> secara utuh (perubahan menyeluruh dan bukan perubahan parsial atau sebagian-sebagian) yaitu melakukan perubahan pada semua komponen penting sekolah dan memperbaharui interaksi dari komponen-komponen tersebut. Dalam hal ini mungkin diperlukan <em>redefinisi</em> peran-peran (tugas dan fungsi) dari komponen yang ada. Misalnya mengkaji kembali tugas dan fungsi aparat sekolah, apakah memerlukan perubahan, penyegaran, atau bahkan penegasan tugas dan fungsi. Dalam proses ini diperlukan kajian tugas dan fungsi mana yang sudah dapat berjalan dengan baik dan mana yang belum berjalan, kenapa ada fungsi yang belum dapat berjalan sebagaimana mestinya dan apa yang harus diperbaiki. Untuk melaksanakan perubahan ini diperlukan masukan-masukan sumberdaya (dana, tenaga, keuangan dan manajemen) yang tersedia dari lingkungan. Proses <em>transformasi</em> ini akan membuahkan <em>output</em> yang kuantitias dan kualitasnya sesuai dengan apa yang diharapkan bersama. <em>Output</em> ini akan kembali lagi ke lingkungan (masyarakat luas) sebagai hasil akhir layanan sekolah. Dan hasil ini akan dinilai oleh masyarakat. Ini adalah gambaran suatu proses transformasi yang berkesinambungan. Proses ini berjalan tidak hanya satu kali tetapi terjadi secara berkelanjutan sesuai dengan dinamika lingkungan dan tantangan yang dihadapi sekolah. RPS pada hakikatnya adalah sebuah dokumen yang menjelaskan bagaimana sekolah akan melaksanakan perubahan dalam jangka waktu lima tahun ke depan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>RAPBS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap perubahan pasti ada harganya. Harga atau biaya dalam arti jumlah dana, tenaga dan atau waktu. Semakin banyak perubahan dan atau kualitas perubahan, semakin besar pula biaya yang diperlukan. Sayangnya, kita punya banyak keinginan tetapi kita punya sedikit sumber-sumber pembiayaan. Oleh karena itu, kita selalu disarankan untuk melakukan perubahan yang realistis baik secara teknis mupun secara finansial atau waktu yang tersedia. Mempertimbangkan semua ini adalah hakikat diperlukannya sebuah perencanaan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komponen utama perencanaan adalah: (1) tujuan, (2) kegiatan, (3) sasaran, (4) penjadwalan, (5) anggaran, dan (6) pengorganisasian. Berbicara mengenai rencana, maka kita tidak mungkin terlepas dari membicarakan mengenai besarnya anggaran yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai tindak lanjut menyusun rencana lima tahun maka perlu disusun rencana tahunan. Rencana tahunan ini disusun dalam bentuk apa yang dinamakan RAPBS, sebagai alat <em>operasionalisasi</em> anggaran untuk mencapai tujuan perubahan dari tahun ke tahun. Inilah pentingnya sekolah untuk menyusun RAPBS tahun demi tahun dengn menyebutkan pos-pos apa yang akan dibiayai, berapa volumenya berapa anggarannya dan dari mana asalnya. Gambaran pembiayaan ini digambarkan dalam suatu RAPBS (lihat format terlampir).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Proses Penyusunan RPS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">RPS disusun oleh “sekolah” dengan melibatkan: guru, komite sekolah, orang tua siswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan dunia industri setempat. Sebagai dokumen perencanaan, RPS ditandatangani oleh Kepala sekolah dan Ketua Komite Sekolah. Proses penyusunannya adalah sebagai berikut.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kepala sekolah dan komite membentuk Tim Penyusun (TP) RPS. Susunan keanggotaan TP ini sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan tidak perlu seragam dari satu provinsi ke provinsi lain. Minimal ada ketua, sekretaris dan anggota. Pembentukan TP akan disertai dengan pembagian tugas dan fungsi yang jelas serta bagaimana koordinasinya.</li>
<li>Dalam waktu paling lambat 3 hari kerja, TP mengadakan rapat persiapan guna menyusun rencana/jadwal kerja untuk menyelesaikan RPS.</li>
<li>Tim menysusun draf awal.</li>
<li>Tim mempresentasikan draf awal di lingkungan terbatas (guru-guru dan ketua serta anggota komite sekolah). Mendengarkan masukan-masukan dari hadirin.</li>
<li>Review draf awal, menyusun draf II.</li>
<li>Tim mempresentasikan draf II ke forum yang lebih luas (guru, kepala sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, birokrat, pakar, pengawas dll).</li>
<li>Review draf II, menyusun draf final.</li>
<li>Pengesahan RPS.</li>
<li>Sosialisasi RPS (melalui rapat oleh komite sekolah dengan mengundang <em>stakeholder</em>) dan menggalang komitmen bersama terhadap pengembangan sekolah lima tahun ke depan.</li>
</ol>
<h1 style="text-align:justify;">Sistematika Penulisan</h1>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">A.     Latar Belakang</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Gambaran letak strategis sekolah. Riwayat sekolah, kapan dibangun dan oleh siapa; perubahan-perubahan (bantuan-bantuan, inovasi-inovasi) apa yang telah dialami sekolah sejak didirikan sampai dengan sekarang. Memuat latar belakang sekolah dalam upaya mengembangkan sekolah secara terprogram. Kendala-kendala apa yang selama ini menyebabkan belum atau kurang berkembangnya sekolah seperti apa yang diharapkan. Apa sebenarnya harapan masyarakat terhadap sekolah yang bersangkutan. Apa <em>urgensi</em> (kemendesakannya) pengembangan sekolah. Atau mengapa sekolah harus dikembangkan dan apa justifikasinya. Uraian bagaimana kondisi sekolah seandainya sekolah yang bersangkutan tidak dikembangkan secara baik. Gambarkan apakah ada semacam <em>group/political pressure</em> dari masyarakat untuk mengembangkan sekolah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Memuat gambaran pendidikan dan non-pendidikan pada saat sekarang (tahun 2006). Gambaran ini merupakan evaluasi yang aktual mengenai keadaan sekolah pada saat sekarang secara utuh, dilihat dari input yang diterima, proses (kemampuan mengolah input menjadi output) yang dikerjakan dan output yang dihasilkan yang sekaligus menggambarkan citra sekolah di mata masyarakat.
<ol>
<li>Kondisi sekolah mulai dari kondisi fisik, jumlah dan mutu aset sekolah yang dimiliki, jumlah dan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya sampai dengan mutu pelayanan sekolah pada umumnya.</li>
<li>Peta sekolah, beserta jalan dan pemukiman penduduk serta arus siswa.</li>
<li>Alat transportasi yang dipakai siswa dan guru dari rumah menuju ke sekolah. Berapa lama waktu yang ditempuh siswa/guru ke sekolah dengan alat transportasi yang ada.</li>
<li>Gambaran lingkungan sekolah (pabrik, pasar, <em>mall</em>, sungai, sawah, jembatan, dll.) yang mungkin besar pengaruhnya terhadap proses belajar mengajar.</li>
<li>Gambaran jumlah siswa perkelas, prosentase mengulang, putus sekolah, angka lulusan dan angka melanjutkan minimal untuk tiga tahun terakhir</li>
<li>Rangking sekolah tingkat kecamatan dan prestasi-prestasi seperti kejuraan-kejuaraan yang pernah diraih sekolah pada masa lalu dan sampai saat ini.</li>
<li>Intensitas dan kualitas partisipasi masyarakat terhadap pendidikan.</li>
<li>Animo masyarakat terhadap pendidikan terkait dengan sosial budaya yang terkait dengan hasrat masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya.</li>
<li>Gambaran ini dibuat dalam bentuk narasi, jika perlu dibuat lampiran untuk mendukung narasi tersebut.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Permasalahan yang dihadapi sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Hakikat permasalahan adalah kesenjangan antara kondisi yang ada sekarang dan kondisi yang diharapkan. Suatu masalah biasanya dikenali keberadaannya dari gejala-gejala yang muncul. Tetapi gejala adanya masalah tidak sama dengan masalah itu sendiri. Sehingga kalau yang diobati gejalanya maka masalahnya itu sendiri tidak akan hilang. Oleh karena itu untuk dapat memecahkan masalah maka kita harus dapat memilah mana yang masalah dan mana yang gejala. Mengobati gejala tidak akan menghilangkan masalah. Tetapi mengobati masalah akan dapat menghilangkan gejala. Selain itu masalah perlu dibedakan dengan kendala. Kendala adalah kondisi yang akan mempersulit orang mengobati suatu masalah. Kendala harus diatasi agar kita dapat melakukan pemecahan masalah. Dalam RPS digambarkan apa yang menjadi masalah dan apa yang menjadi gejala. Fisik dan non-fisik, tenaga kependidikan, finansial, alat bantu ajar, buku dll. Seperti kekurangan ruang belajar, ruang belajar yang tidak layak pakai, partisipasi masyarakat dll. Apa bila sumber permasalahan sudah dapat diketahui maka perlu dilakukan verifikasi masalah di lapangan, yaitu suatu proses pengecekan apakah masalah yang sudah kita rumuskan itu sudah tidak keliru dengan masalah yang sebenarnya. Tindakan verifikasi ini sangat penting agar kita tidak keliru dalam melakukan rekomendasi pemecahan masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Arah kebijakan pendidikan daerah sesuai dengan Dinas Pendidikan setempat yang meliputi aspek-aspek perluasan/pemerataan, mutu, dan tata kelola. Bagaimana sekolah dapat melaksanakan kebijakan tersebut, serta kendala-kendala dalam melaksanakannya. Arah dan kebijakan pendidikan pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota merupakan acuan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu Kepala Sekolah dan Komite Sekolah perlu mempelajari dan memahami kebijakan-kebijakan sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada. Dalam menyusun RPS tentunya diupayakan kegiatan-kegiatan yang akan mendukung kebijakan-kebijakan tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Visi dan Misi sekolah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Visi memuat wawasan ke depan yang diimpikan oleh stakeholder tentang sekolah masa depan. Visi dan misi sekolah biasanya merupakan pernyataan umum. Sekalipun begitu visi dan misi harus mampu menjadi kata/kalimat penggerak untuk memutar roda perubahan yang akan dilakukan oleh sekolah. Visi dan misi ini selanjutnya dijabarkan secara operasional ke dalam kegiatan dan sasaran yang akan dikerjakan oleh sekolah yang bersangkutan. Di bawah ini adalah contoh visi sekolah: Sedangkan misi memuat cara mencapai apa yang dinyatakaan dalam visi sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">F.      Tujuan /perubahan yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan. Perubahan-perubahan konkrit yang realistik untuk dicapai dalam waktu lima tahun yang akan datang yang bisa dilihat, dirasakan dan diukur.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">G.     Indikator keberhasilan (<em>milestone</em> sekolah)</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi pencapaian tujuan yang bisa diukur sepanjang kurun waktu lima tahun rencana pengembangan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">H.     Rencana lima tahun ke depan 2007- 2011 kegiatan, sasaran, dan perkiraan anggaran.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">I.       Sumber-sumber pembiayaan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Baik dari blockgrant, APBD, Yayasan, maupun masyarakat dll.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah tahun 2007.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Lampiran</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Data Yang Diperlukan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">1.      Profil sekolah yang memuat antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">a.      Data aset dan status sekolah (sarana dan prasarana sekolah).</p>
<p style="text-align:justify;">b.      Data guru/kepala sekolah dan pegawai adminstrasi, penjaga sekolah, dll.</p>
<p style="text-align:justify;">c.      Data murid</p>
<p style="text-align:justify;">d.      Data alat bantu ajar.</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Data murid per kelas selama tiga tahun terakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Asal murid (arus murid, dari desa mana saja murid ini berasal.</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Latar Belakang ekonomi orang tua murid.</p>
<p style="text-align:justify;">5.      Data yang mengambarkan lingkungan sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">6.      Peta lokasi sekolah dan sekolah lain dan sekitarnya (pabrik, rumah sakit, daerah persawahan, jalan dll).</p>
<p style="text-align:justify;">7.      Informasi tentang kepadatan penduduk.</p>
<p style="text-align:justify;">8.      Informasi mengenai mata pencaharian penduduk.</p>
<p style="text-align:justify;">9.      Data guru dan tenaga adminstratif lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Lampiran</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Arus murid tiga tahun terakhir.</li>
<li>Aset sekolah.</li>
<li>Tenaga kependidikan.</li>
<li>Rencana lima tahun dan tahunan.</li>
<li>Sasaran dan anggaran dan sumber-sumber pembiayaan.</li>
<li>RAPBS (2007).</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">RENCANA PENDAPATAN DAN BELANJA SEKOLAH TAHUN ….</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="4" width="296" valign="top">
<p align="center">Rencana   Penerimaan</p>
</td>
<td colspan="4" width="296" valign="top">
<p align="center">Rencana   Pengeluaran</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">No</td>
<td width="113" valign="top">Kegiatan</td>
<td width="72" valign="top">Sasaran</td>
<td width="78" valign="top">Anggaran</td>
<td width="34" valign="top">No</td>
<td width="112" valign="top">Kegiatan</td>
<td width="72" valign="top">Sasaran</td>
<td width="78" valign="top">Anggaran</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="113" valign="top">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
<td width="72" valign="top"></td>
<td width="78" valign="top"></td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="112" valign="top">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
<td width="72" valign="top"></td>
<td width="78" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jakarta,  1 Juli 2006</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kepala Sekolah.                                                          Mengetahui Komite Sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(………………)                                                          (………………….)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN 2: TRANSPARANSI/POWERPOINT</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 2.3</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menjalin Hubungan dan Kerjasama Komite Sekolah Dengan Institusi Yang Terkait</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>I.          TUJUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegiatan, peserta dapat:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Prinsip-Prinsip Channeling dan Kerjasama Program</li>
<li>Faktor-faktor dan Mekanisme Menjalin Hubungan Kerjasama Komite Sekolah dengan Institusi Yang Terkait</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Prinsip-prinsip kerjasama program</li>
<li>Faktor-faktor dan mekanisme menjalin hubungan dan kerjasama Komite Sekolah dengan institusi terkait.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan ini dilaksanakan dalam waktu 90 menit.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Penjelasan</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda untuk flip chart</li>
<li>Papan tulis dengan perlengkapannya</li>
<li>LCD</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buka pertemuan dengan salam singkat. Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan mendiskusikan mengenai <strong><em>topik Penguatan Kelembagaan Komite Sekolah</em></strong>, dan akan dimulai dengan diskusi pertama mengenai Materi <strong><em>”Menjalin Hubungan dan Kerjasama Komite Sekolah dengan Institusi Yang Terkait. </em></strong>Uraikan maksud dan tujuan dari diskusi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tanyakan kepada peserta mengenai pengalaman-pengalaman Komite Sekolah dalam menjalin hubungan dan Kerjasama dengan Institusi Terkait?
<ol>
<li>Dengan Institusi mana Komite Sekolah melaksanakan kerjasama?</li>
<li>Bentuk kerjasama apa yang dilaksanakan?</li>
<li>Apa hambatan dan permasalahan dalam upaya Komite Sekolah menjalin hubungan dan kerjasama?</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 15 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bagi peserta ke dalam 3 kelompok, kelompok pertama terdiri dari Komite Sekolah, kelompok 2  terdiri dari Masyarakat,  dan Kelompok 3  terdiri dari : Pemerintah dan Kelompok Peduli (LSM, Swasta, Asosiasi, dll). Beri tugas setiap kelompok untuk membahas bentuk-bentuk kerjasama yang bisa dilakukan, sbb:
<ol>
<li>Kelompok 1: Kerjasama Masyarakat dengan Komite Sekolah,</li>
<li>Kelompok 2: Kerjasama Komite Sekolah dengan Masyarakat serta Pemerintah dan Kelompok Peduli.</li>
<li>Kelompok 3: Kerjasama Pemerintah dan Kelompok Peduli dengan Komite Sekolah</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu :20 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bahas hasil diskusi kelompok dalam pleno kelas. Kemudian sepakati point-point yang disetujui</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu :20 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selanjutnya pemandu memaparkan Bahan Tayangan Mengenai Channeling Program Komite Sekolah. Selama penayangan lakukan tanya jawab dengan peserta</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 25 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemandu menyimpulkan dan menutup materi sesi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegitan pemandu menanyakan secara lisan secara acak tentang materi yang telah disampaikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN 1: SUBSTANSI</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh Tata Cara Pelaksanaan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerjasama Akses Program Pendidikan </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>antara Komite Sekolah dengan  Masyarakat dan Pihak Lainnya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>1. </strong><strong>Pendekatan Dalam Membangun Program Kerjasama di Bidang Pendidikan</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya keseluruhan pelaksanaan program kerja sama ini baik di tingkat masyarakat kelurahan hingga ke tingkat kota/kabupaten tidak boleh dipahami sebagai suatu proses yang administratif formal maupun mekanisme prosedural saja, namun diharapkan yang terjadi adalah <em>“dinamika proses” </em>dari pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Dengan menitikberatkan pada tumbuhnya kesadaran kritis semua pelaku dalam melakukan setiap langkah kegiatan, yang bermuara pada pemahaman tentang mengapa, apa, untuk apa, dan bagaimana kegiatan tersebut dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini berkaitan erat dengan hakekat partisipasi masyarakat yang tidak berarti hanya menyerahkan keputusan dan segala sesuatunya kepada masyarakat, namun juga mendorong serta menumbuhkembangkan <em>’kesadaran kritis masyarakat’,<strong> </strong></em>yakni kondisi dimana masyarakat paham terhadap resiko, tanggungjawab dan hak serta kewajiban yang timbul dari segala konsekuensi atas keputusan yang akan diambil. Sehingga diharapkan pada pelaksanaan kegiatan ini, masyarakat, pemerintah kota/ kabupaten, komite sekolah, dewan pendidikan dan pihak sekolah serta kelompok peduli senantiasa mampu mengambil dan melaksanakan keputusan yang lebih adil, berpihak pada masyarakat miskin, jujur dan berorientasi pada kemandirian serta pembangunan berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertolak dari hal tersebut, maka pendekatan pada kegiatan ini dikembangkan dengan menempatkan masyarakat sebagai pihak utama atau pusat pengembangan untuk lebih lebih bersifat memberdayakan masyarakat. Dasar proses pemberdayaan masyarakat adalah pengalaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaannya yang sangat luas dan berguna serta kemauan mereka untuk menjadi lebih baik. Proses ini bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya, menggunakan dan mengakses sumber daya setempat sebaik mungkin, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Proses ini diharapkan dapat terjadi secara terus menerus sehingga masyarakat akan dapat meningkatkan kemampuan dan kemandirian serta meningkatkan taraf hidupnya. Dalam proses ini semua pelaku akan bersama-sama melakukan:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Identifikasi dan mengkaji permasalahan dan potensinya.</li>
<li>Penyusunan rencana kegiatan kelompok berdasarkan hasil kajian</li>
<li>Terlibat aktif di dalam pelaksanaan rencana kegiatan</li>
<li>Secara terus-menerus memantau dan mengkaji proses dan hasil kegiatannya (Monitoring dan Evaluasi)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Proses tersebut untuk selanjutnya akan berlangsung secara terus menerus dan berkelanjutan dengan tiap kali berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi dilanjutkan dengan melakukan identifikasi dan pengkajian permasalahan yang muncul dan selanjutnya menyesuaikan rencana yang telah disusun sebelumnya untuk kemudian menerapkan rencana yang baru dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Gambar . Proses Perencanaan Partisipatif</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>2. </strong><strong>Prinsip dasar Program Kerjasama</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dan dilaksanakan sungguh-sungguh oleh para pelaku program dalam pelaksanaan program kerjasama ini adalah sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>a. </em></strong><strong><em>Prinsip Membangun Dari Dalam (Development from within)</em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Substansi dasar proses pengembangan masyarakat dititikberatkan pada upaya membangun kepedulian dan kesatuan serta solidaritas sosial masyarakat untuk bahu-membahu dan bersatu-padu menanggulangi permasalahan di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan, melalui upaya menggali dan menumbuhkembangkan nilai-nilai universal kemanusiaan dan  prinsip-prinsip kemasyarakatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil yang diharapkan dari proses ini adalah tumbuhnya kesadaran kritis dan kesiapan masyarakat bahwa persoalan kemiskinan di wilayahnya hanya akan bisa diatasi oleh mereka sendiri, dengan cara; (1) bertumpu pada keswadayaan, kemandirian dan pembangunan berkelanjutan, (2) keputusan serta tindakan yang lebih adil, lebih jujur dan lebih berpihak pada masyarakat miskin, dan (3) upaya menggali dan menggalang segenap potensi kepedulian, kerelawanan serta solidaritas dan kesatuan sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Prinsip dasar pengembangan masyarakat yang harus diyakini oleh semua pihak adalah bahwa proses pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat tidak akan efektif dengan hanya bertumpu dan selalu mengandalkan pendampingan dari pihak luar, baik itu fasilitator, konsultan maupun pemerintah. Terlebih apabila substansi pemberdayaan masyarakat ini terkait erat dengan perubahan perilaku masyarakat. Peran dari pendampingan pihak luar masyarakat hanyalah sebagai pelengkap dari adanya inisiatif, parakarsa, komitment, kepedulian, motivasi ikhtiar dari masyarakat itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada sisi lain, bagi para pendamping (fasilitator, konsultan dll), prinsip membangun dari dalam mengandung makna bahwa proses pendampingan tahapan kegiatan tidak hanya dilaksanakan sendiri oleh para pendamping, tetapi justru para pendamping seharusnya dapat melakukan proses pendampingan yang menitikberatkan pada proses pembelajaran bagi masyarakat. Sehingga selain masyarakat akan mampu melakukan tahapan kegiatan sendiri juga dapat menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat terhadap <em>mengapa, apa </em>dan<em> untuk apa</em> kegiatan itu dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Prinsip Kerelawanan </em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Proses pengembangan masyarakat dengan prinsip membangun ’masyarakat dari dalam’ akan membutuhkan pelopor-pelopor penggerak dari masyarakat itu sendiiri yang bekerja tanpa pamrih, ikhlas, peduli dan memiliki komitmen kuat pada kemajuan masyarakat di wilayahnya. ’Proses membangun dari dalam’ tidak akan terlaksana apabila pelopor-pelopor yang menggerakkan masyarakat tersebut merupakan individu atau sekumpulan individu yang hanya memiliki pamrih pribadi dan hanya mementingkan urusan ataupun kepentingan pribadi serta golongan atau kelompoknya. Dengan kata lain, perubahan perilaku masyarakat akan sangat ditentukan oleh relawan-relawan atau kader-kader motor penggerak setempat yang memiliki ’moral’ yang baik atau diakui kualitas sifat kemanusiaan yang dimilikinya, dibandingkan dengan kader-kader yang bertumpu pada pengalaman, pendidikan, status sosial, dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengertian relawan masyarakat dalam program bantuan pendidikan mengandung makna yang cukup luas, antara lain yakni: (i) Relawan-relawan terlibat mendalam secara khusus dalam satu atau beberapa tahapan kegiatan dengan menjadi utusan warga atau panitia-panitia dari pelaksanaan tahapan kegiatan dimaksud. (ii) Relawan-relawan masyarakat yang ikut dalam struktur yang dibangun masyarakat untuk melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan, serta (iii) Relawan-relawan yang mengikuti seluruh proses pelaksanaan untuk membantu masyarakat atau bahkan relawan-relawan yang tidak ikut terlibat dalam pelaksanaan, namun memberikan kontribusi nyata bagi kelancaran kegiatan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>3. </strong><strong>Siklus Kegiatan Program Kerjasama</strong></li>
</ol>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="5" height="24"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN 2: TRANSPARANSI/POWERPOINT </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/447/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=447&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-sekolah-iikomite-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DEWAN PENDIDIKAN I/KOMITE SEKOLAH</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-pendidikan-ikomite-sekolah/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-pendidikan-ikomite-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 18:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Modul 1.1 Pembentukan &#8212; Revitaliasai &#8212; Komite Sekolah I. TUJUAN Pada akhir pelatihan, para peserta dapat: Menjelaskan paradigma Komite Sekolah sebagai sarana kepedulian masyarakat terhadap pendidikan. Menjelaskan prinsip-prinsip kerelawanan, kepedulian, kepentingan bersama dan kepercayaan sebagai pondasi utama dari kohesi sosial (common bound) Komite Sekolah. Menjelaskan proses dan mekanisme pembentukan Komite Sekolah. Peserta memahami faktor–faktor yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=442&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 1.1</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembentukan &#8212; Revitaliasai &#8212; Komite Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir pelatihan, para peserta dapat:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menjelaskan paradigma Komite Sekolah sebagai sarana kepedulian masyarakat terhadap pendidikan.</li>
<li>Menjelaskan prinsip-prinsip kerelawanan, kepedulian, kepentingan bersama dan kepercayaan sebagai pondasi utama dari kohesi sosial (<em>common bound</em>) Komite Sekolah.</li>
<li>Menjelaskan proses dan mekanisme pembentukan Komite Sekolah.</li>
<li>Peserta memahami faktor–faktor yang membentuk kohesi sosial dalam Komite Sekolah.</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI </strong></li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Paradigma Komite Sekolah.</li>
<li>Prinsip-prinsip yang menjadi fondasi pembentukan Komite Sekolah.</li>
<li>Proses dan mekanisme pembentukan Komite Sekolah.</li>
<li>Faktor-faktor yang membentuk kohesi sosial dalam Komite Sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu yang diperlukan untuk kegiatan pelatihan ini adalah 90 menit.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Penjelasan</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT  BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda atau standar untuk <em>flip chart</em></li>
<li>Papan tulis atau <em>whiteboard</em> dengan perlengkapannya</li>
<li>LCD, atau alat bantu lain yang diperlukan</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buka pertemuan dengan salam singkat. Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan mendiskusikan mengenai <strong><em>topik Penguatan Kelembagaan Komite Sekolah</em></strong>, dan akan dimulai dengan diskusi pertama mengenai Materi <strong><em>”Membentuk Komite Sekolah”</em></strong>. Uraikan maksud dan tujuan dari diskusi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Tujuan Sesi Pembentukan Komite Sekolah</span></em></strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Paradigma Komite Sekolah sebagai sarana Kepedulian Pendidikan dan Masyarakat Miskin.</em></li>
<li><em>Prinsip-prinsip Kerelawanan, Kepedulian, Kepentingan Bersama dan Kepercayaan sebagai Pondasi utama dari Kohesi Sosial (common bound) Komite Sekolah.</em></li>
<li><em>Mekanisme Pembentukan Komite Sekolah. </em></li>
<li><em>Peserta memahami dan yakin tentang </em><em>faktor – faktor yang membentuk kohesi sosial dalam komite sekolah. </em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 5 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Minta Peserta untuk menyiapkan alat tulis dan menjawab pertanyaan mengenai soal-soal yang akan ditayangkan di layar. Tayangkan ”Paradigma Kita” satu demi satu untuk memberi kesempatan peserta menuliskan jawabannya. Setelah selesai penayangan, ajak peserta diskusi mengenai jawaban masing-masing. Jawaban peserta ditulis di kertas plano. Setelah itu lakukan penyimpulan dan pencerahan dengan kata-kata kunci sbb:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Penyimpulan dan Pencerahan Paradigma Kita:</span></em></strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Kita seringkali memahami Komite Sekolah dengan paradigma yang selama ini kita pahami (misalnya BP3, dll).</em></li>
<li><em>Perlu keterbukaan dan Kemauan Untuk Memahami Komite Sekolah agar Kita benar-benar memahami substansi Komite Sekolah tidak dari paradigma lain.</em></li>
<li><em>Peserta memahami dan yakin tentang </em><em>faktor – faktor yang membentuk kohesi sosial dalam komite sekolah.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya kita sampaikan kepada peserta bahwa kita akan mendiskusikan beberapa konsepsi dasar dari Komite Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu: 15 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selanjutnya peserta dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok untuk melakukan diskusi tentang kasus komite sekolah. Bagikan Lembar kasus Komite Sekolah ke masing-masing kelompok. Minta masing-masing kelompok mempelajari lembar kasus, mendiskusikannya di kelompok dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sbb:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Topik Diskusi Kelompok:</span></em></strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Sesuaikah pembentukan komite sekolah yang ada di lembar kasus dengan konsep pembentukan Komite Sekolah yang seharusnya dilakukan?)</em></li>
<li><em>Prinsip-prinsip apa yang perlu ada untuk membentuk Komite Sekolah?</em></li>
<li><em>Bagaimana sebaiknya prinsip-prinsip pembentukan komite sekolah tersebut diterapkan pada mekanisme pembentukan Komite Sekolah?</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Minta setiap kelompok menuliskan hasil diskusinya ke kertas plano untuk bahan presentase. Waktu untuk Diskusi Kelompok batasi hanya selama 20 menit.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu: 25 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Diskusi Pleno untuk presentasi dan pembahasan hasil diskusi kelompok. Setiap kelompok diberi kesempatan selama 5 menit untuk presentasi. Pemandu memfasilitasi forum diskusi dan tanya jawab antar peserta serta menuliskan kata-kata kunci yang disampaikan peserta dalam diskusi pleno tersebut. Selesai diskusi Pleno, Pemandu menyimpulkan dan melakukan pencerahan tentang komite sekolah dengan isu-isu kunci di bawah ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Penyimpulan dan Pencerahan Diskusi Pleno:</span></em></strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Komite Sekolah merupakan media bersama bagi orang-orang yang peduli, ikhlas dan tanpa pamrih berjuang untuk kepentingan peningkatan kualitas pendidikan dan akses masyarakat miskin memperoleh pendidikan. Komite Sekolah bukan sarana seseorang untuk memperjuangkan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Komite Sekolah bukan sarana untuk memperoleh status, jabatan, posisi, materi atau hak-hak istimewa (privallage) tertentu. Komite Sekolah adalah sarana orang-orang yang ikhlas berkorban dan mau memberi bagi kepentingan pendidikan dan masyarakat miskin</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Oleh karena itu, proses pembentukan komite sekolah harus dilandasi dengan prinsip-prinsip kerelawanan, kepedulian, keikhlasan, kepentingan bersama dan kepercayaan.</em></li>
<li><em>Atas dasar prinsip tersebut, maka kriteria anggota Komite Sekolah seyogyanya tidak hanya dilihat dari keterwakilan unsur, melainkan juga dari motivasi kerelawanan dan kepeduliannya. Untuk itu kriteria anggota komite sekolah harus didasarkan pada kualitas sifat kemanusiaan seseorang dan tidak didasarkan pada status, jabatan, latar belakang, atau simbol-simbol lainnya. </em></li>
<li><em>Sifat kualitas seseorang tidak dapat diketahui dari janji, kampanye dan pengakuan, melainkan dari track record perilaku dan perbuatan seseorang.Oleh karena itu, mekanisme atau proses pembentukan Komite Sekolah tidak dapat dilakukan secara instans melalui pertemuan formal satu-dua kali saja, melainkan harus diawali dengan serangkaian Focus Group Discussion (FGD) atau musyawarah pemangku kepentingan sebagai sarana untuk mengetahui track record seseorang.</em></li>
<li><em>Terkait dengan kriteria track record kualitas sifat kemanusiaan seseorang, maka pemilihan anggota Komite Sekolah sebaiknya dilakukan secara tertutup, tertulis, tanpa pencalonan, tanpa rekayasa dan tanpa kampanye.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu: 25 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemandu mempresentasikan bahan tayangan pembentukan Komite Sekolah dan melakukan tanya jawab dengan peserta. Selesai diskusi bahan tayangan, pemandu menutup pertemuan dengan mengulang kembali pencerahan dan penyimpulan sesi pembentukan Komite Sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu: 20 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peserta TOT diminta untuk memberikan pendapatnya tentang:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Proses pembentukan Komite Sekolah dewasa ini pada umumnya.</li>
<li>Proses dan mekanieme pembentukan Komite Sekolah yang seharusnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.</li>
<li>Dampak yang ditimbulkan dari proses pembentukan Komite Sekolah dewasa ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dasar hukum utama pembentukan Komite Sekolah untuk pertama kalinya adalah Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas), Rumusan Propenas tentang pembentukan Komite Sekolah kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 044/U/2002 yang merupakan acuan utama pembentukan Komite Sekolah. Disebutkan sebagai acuan karena pembentukan Komite Sekolah di berbagai satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Demikian pula sebutan Komite Sekolah dapat berbeda di setiap satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Namun demikian ada prinsip yang harus difahami dalam pembentukan Komite Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Prinsip Pembentukan Komite Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Komite Sekolah harus dibentuk berdasarkan pada prakarsa masyarakat yang peduli pendidikan, bukan didasarkan pada arahan atau instruksi dari lembaga pemerintahan. Pembentukan Komite Sekolah harus dilakukan secara <strong>transparan</strong>, <strong>akuntabel</strong>, dan <strong>demokratis</strong>. Transparan berarti pembentukan Komite Sekolah dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat khususnya masyarakat lingkungan sekolah mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, sosialisasi oleh panitia persiapan, penentuan kriteria calon anggota, pengumuman calon anggota, proses pemilihan, sampai penyampaian hasil pemilihan kepada masyarakat. Akuntabel berarti pembentukan Komite Sekolah yang dilakukan oleh panitia persiapan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat baik secara substansi maupun finansial. Demokratis berarti bahwa proses pembentukan Komite Sekolah dilakukan dengan melibatkan seluruh masyarakat khususnya masyarakat lingkungan sekolah, baik secara musyawarah mufakat maupun melalui pemungutan suara.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mekanisme Pembentukan Komite Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak awal disosialisasikan pembentukan Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 044/U/2002 diperkirakan Komite Sekolah telah terbentuk di hampir lebih 200 ribu satuan pendidikan mulai jenjang SD/MI sampai jenjang sekolah menengah. Namun diperkirakan pula pembentukan Komite Sekolah tersebut tidak atau belum mengikuti prinsip pembentukan Komite Sekolah yang diharapkan. Oleh karena itu perlu disosialisasikan kembali mekanisme pembentukan Komite Sekolah yang baku.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembentukan Komite Sekolah diawali dengan pembentukan panitia persiapan atas prakarsa masyarakat atau dipelopori oleh orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat/pemimpin informal, atau kepala satuan pendidikan. Panitia persiapan sekurang-kurangnya 5 orang terdiri atas kalangan praktisi pendidikan (guru, kepala satuan pendidikan, penyelenggara pendidikan), pemerhati pendidikan (LSM berorientasi atau peduli pendidikan, tokoh masyarakat/pemimpin informal, tokoh agama, dunia usaha/dunia industri), serta orang tua/wali peserta didik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembentukan Komite Sekolah yang dipandu oleh panitia persiapan seyogyanya mengikuti 7 langkah pokok, sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Langkah pertama</span> :</p>
<p style="text-align:justify;">Sosialisasi tentang Komite Sekolah dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan No. 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Langkah kedua</span>:</p>
<p style="text-align:justify;">Penyusunan kriteria dan identifikasi calon anggota berdasarkan usulan dari masyarakat. Bakal calon yang diusulkan tidak harus berdomisili di lingkungan sekolah, namun diketahui memiliki keterikatan batin dengan sekolah (misalnya alumni).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Langkah ketiga</span> :</p>
<p style="text-align:justify;">Seleksi bakal calon anggota yang diusulkan masyarakat, berdasarkan kriteria yang disepakati bersama pada langkah kedua.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Langkah keempat</span> :</p>
<p style="text-align:justify;">Pengumuman bakal calon anggota yang telah diseleksi pada langkah ketiga, dan yang menyatakan kesediaannya dicalonkan sebagai calon anggota Komite Sekolah. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya keberatan dari masyarakat terhadap satu atau lebih bakal calon.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Langkah kelima</span> :</p>
<p style="text-align:justify;">Penyusunan nama-nama calon anggota yang dinyatakan resmi sebagai calon anggota.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Langkah keenam</span> :</p>
<p style="text-align:justify;">Pemilihan anggota Komite Sekolah oleh masyarakat. Pemilihan dapat dilakukan dalam suatu forum baik secara musyawarah mufakat ataupun melalui pemungutan suara.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Langkah ketujuh</span> :</p>
<p style="text-align:justify;">Penyampaian nama-nama pimpinan dan anggota Komite Sekolah dan struktur organisasinya kepada kepala satuan pendidikan untuk mendapat surat keputusan kepala satuan pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Panitia persiapan memfasilitasi pengukuhan terbentuknya Komite Sekolah. Selanjutnya panitia persiapan dinyatakan bubar.</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah-langkah pembentukan Komite Sekolah seperti yang diuraikan di atas adalah langkah-langkah pembentukan Komite Sekolah <strong>untuk pertama kali</strong>, atau <strong>pembentukan kembali</strong> Komite Sekolah (yang telah dibentuk sebelumnya tetapi tidak didasarkan pada prinsip pembentukan Komite Sekolah yang baku). <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembentukan Komite Sekolah masa bakti berikutnya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bila masa bakti Komite Sekolah sudah hampir selesai, Komite Sekolah wajib membentuk panitia persiapan (sebaiknya dinyatakan dalam AD/ART) pemilihan anggota Komite Sekolah masa bakti berikutnya. Pembentukan Komite Sekolah masa bakti berikutnya termasuk pengukuhan Komite Sekolah mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, yang disusun oleh Komite Sekolah masa bakti pertama. Namun demikian prinsip dan langkah-langkah pembentukan Komite Sekolah tetap menjadi pegangan, namum dengan penyempurnaan disesuaikan dengan kondisi setempat sebaiknya dinyatakan dalam AD/ART).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 1.2</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Melaksanakan Peran dan Fungsi Komite Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu Layanan Pendidikan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir pelatihan, para peserta dapat:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menjelaskan peran dan fungsi Komite Sekolah.</li>
<li>Memberikan contoh program dan kegiatan Komite Sekolah yang dapat meningkatkan mutu layanan pendidikan.</li>
<li>Menjelaskan mutu layanan pendidikan.</li>
<li>Menjelaskan bagaimana melaksanakan peran dan fungsi KS dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan di satuan pendidikan.</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI </strong></li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Peran dan fungsi Komite Sekolah.</li>
<li>Contoh program dan kegiatan Komite Sekolah.</li>
<li>Mutu layanan pendidikan.</li>
<li>Melaksanakan peran dan fungsi Komite Sekolah untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu yang diperlukan untuk kegiatan pelatihan ini adalah 90 menit.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Penjelasan</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT  BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda atau standar untuk <em>flip chart.</em></li>
<li>Papan tulis atau <em>whiteboard</em> dengan perlengkapannya.</li>
<li>LCD, atau alat bantu lain yang diperlukan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VI. </strong><strong>LANGKAH-LANGKAH</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Secara diagramatik, langkah pembelajaran dalam pertemuan ini digambarkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> 10’                                   20’                                      45’                            15’</strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="0" height="0"></td>
<td width="112"></td>
<td width="52"></td>
<td width="140"></td>
<td width="34"></td>
<td width="120"></td>
<td width="32"></td>
<td width="109"></td>
</tr>
<tr>
<td height="1"></td>
<td colspan="4"></td>
<td rowspan="2" width="120" height="127" bgcolor="#ffff99">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>Diskusi kelompok Bagaimana melaksanakan peran     dan fungsi KS dalam     meningkatkan mutu layanan mutu pembelajaran</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="126"></td>
<td width="112" height="126" bgcolor="#ffff99">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>Pengantar tentang apa dan bagaimana mutu layanan     pendidikan dan peran dan fungsi KS</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td></td>
<td width="140" height="126" bgcolor="#ffff99">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>Kerja perorangan mengidentifikasi     berbagai layanan pendidikan untuk peningkatan mutu pembelajaran dan peran dan fungsi     KS</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td></td>
<td></td>
<td width="109" height="126" bgcolor="#ffff99">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>Laporan kelompok</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> (1)                                     (2)                                       (3)                              (4)</strong></p>
<h6 style="text-align:justify;">Pengantar (10 menit)</h6>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Fasilitator menjelaskan:</li>
<li>Mutu layanan pendidikan yang akan meningkatkan layanan pembelajaran</li>
<li>Peran dan fungsi komite sekolah</li>
<li>Penjelasan dilakukan dengan cara mengurai masing-masing apa yang dimaksud dengan mutu layanan pendidikan, peran dan fungsi komite sekolah.</li>
<li>Penjelasan diharapkan memberikan sedikit gambaran tentang suasana mutu layanan pendidikan yang akan meningkatkan layanan pembelajaran serta peran dan fungsi komite sekolah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan: </strong>Pengantar dapat juga dilakukan dengan cara menggali pengertian dari peserta.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Kerja Perorangan (20 menit)</h6>
<p style="text-align:justify;">Secara perorangan, peserta diminta untuk mengidentifikasi berbagai layanan pendidikan untuk peningkatan mutu pembelajaran. Selanjutnya membaca untuk memahami berbagai peran dan fungsi komite sekolah.</p>
<h6 style="text-align:justify;">Diskusi kelompok (45 menit)</h6>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Diskusi kelompok (4-6 orang) untuk mengidentifikasi berbagai kegiatan dari setiap peran dan fungsi komite sekolah dalam peningkatan mutu layanan pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Hasil diskusi dituliskan dalam kertas lebar atau transparansi untuk pelaporan</li>
<li>Tiap kelompok melaporkan hasil diskusinya di depan kelas.</li>
<li>Kelompok pelapor pertama memperlihatkan transparansi laporannya agar mudah dikomentari oleh yang lain.</li>
<li>Kelompok kedua dan selanjutnya hanya melaporkan apa yang belum disebut oleh kelompok sebelumnya.</li>
<li>Komentar dari peserta terhadap apa yang dilaporkan kelompok.</li>
<li>Komentar dari fasilitator, jika ada.</li>
<li>Kelompok menyimpulkan bagaimana melaksanakan peran dan fungsi komite sekolah dalam peningkatan mutu layanan pembelajaran di satuan pendidikan.</li>
<li>Hasil tersebut hendaknya diketik kemudian dibagikan kepada peserta untuk menjadi pegangan dalam melaksanakan kegiatan di tempat kerjanya masing-masing.</li>
</ol>
<h6 style="text-align:justify;">Laporan kelompok (15 menit)</h6>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>VII. </strong><strong>EVALUASI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peserta TOT diminta untuk memberikan pendapatnya tentang:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Proses pembentukan Komite Sekolah dewasa ini pada umumnya.</li>
<li>Proses dan mekanisme pembentukan Komite Sekolah yang seharusnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.</li>
<li>Dampak yang ditimbulkan dari proses pembentukan Komite Sekolah dewasa ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<h2 style="text-align:justify;">A.      Pengantar</h2>
<p style="text-align:justify;">Komite Sekolah merupakan suatu badan yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Badan ini bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hirarkis dengan sekolah maupun lembaga pemerintah lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Komite Sekolah merupakan penyempurnaan dan perluasan badan kemitraan dan komunikasi antara sekolah dengan masyarakat. Sampai tahun 1994 mitra sekolah hanya terbatas dengan orang tua peserta didik dalam wadah yang disebut dengan POMG (persatuan Orang Tua dan Guru), tahun 1994 sampai pertengahan 2002 dengan perluasan peran menjadi BP3 (Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan) yang personilnya terdiri atas orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah. Sejak pertengahan tahun 2002 wadah tersebut bertambah peran dan fungsinya sekaligus perluasan personilnya yang terdiri atas orang tua dan masyarakat luas yang peduli terhadap pendidikan yang tidak hanya di sekitar sekolah. Perbedaan yang prinsip antara BP3 dengan komite sekolah adalah dalam peran dan fungsi, keanggotaan serta dalam pemilihan dan pembentukan kepengurusan.</p>
<h2 style="text-align:justify;">B.      Peran dan Fungsi</h2>
<p style="text-align:justify;">Komite sekolah secara umum berperan, sebagai:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemberi pertimbangan (<em>advisory agency</em>) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.</li>
<li>Pendukung (<em>supporting agency</em>) baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Pengontrol (<em>controlling agency</em>) dalam rangka tranparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Mediator (<em>mediator agency</em>) antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam menjalankan perannya, secara umum Komite Sekolah memiliki fungsi sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.</li>
<li>Melakukan kerjasama dengan masyarakat dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.</li>
<li>Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.</li>
<li>Memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada  satuan pendidikan dalam hal :
<ol>
<li>kebijakan dan program pendidikan;</li>
<li>Penyusunan Reancana Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS);</li>
<li>Kriteria Kinerja  satuan pendidikan;</li>
<li>Kriteria tenaga kependidikan;</li>
<li>Kriteria fasilitas pendidikan; dan</li>
<li>Hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan.</li>
<li>Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.</li>
<li>Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.</li>
<li>Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Beberapa kegiatan yang teridentifikasi dalam melaksanakan peran komite sekolah untuk meningkatkan layanan pendidikan di satuan pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemberi pertimbangan</strong> (<em>advisory agency</em>) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di tingkat satuan pendidikan, minimal dalam memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada satuan pendidikan. Supaya masukan tersebut sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan, diperlukan informasi-informasi yang didasarkan pada kegiatan-kegiatan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengadakan pendataan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan sumberdaya pendidikan di masyarakat sekitar sekolah.</li>
<li>Menganalisis hasil pendataan sebagai bahan pemberian masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada sekolah.</li>
<li>Menyampaikan masukan, pertimbangan atau rekomendasi secara tertulis kepada sekolah.</li>
<li>Memberikan pertimbangan kepada sekolah dalam rangka pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).</li>
<li>Memberikan pertimbangan kepada sekolah untuk meningkatan mutu pembelajaran.</li>
<li>Memberikan pertimbangan kepada sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan (PAKEM).</li>
<li>Memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah dalam penyusunan visi, misi, tujuan, kebijakan, program dan kegiatan pendidikan di sekolah.</li>
<li>Memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah dalam penyusunan RAPBS.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendukung</strong> (<em>supporting agency</em>) baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan, minimal dalam mendorong tumbuhnya  perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelengaraan pendidikan yang bermutu, dalam bentuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengadakan pertemuan secara berkala dengan <em>stakeholders</em> di lingkungan sekolah.</li>
<li>Mendorong peran serta masyarakat dan dunia usaha/industri untuk mendukung penyelenggaraan pembelajaran yang bermutu.</li>
<li>Memotivasi masyarakat kalangan menengah ke atas untuk meningkatkan komitmennya bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.</li>
<li><strong>M</strong>endorong orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan, seperti;
<ol>
<li>Mendorong peran serta masyarakat dan dunia usaha/industri dalam penyediaan sarana/prasarana serta biaya pendidikan untuk masyarakat tidak mampu.</li>
<li>Ikut memotivasi masyarakat untuk melaksanakan kebijakan pendidikan sekolah.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengontrol</strong> (<em>controlling agency</em>) dalam rangka tranparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan. Minimal melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan dari satuan pendidikan. Dalam bentuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Meminta penjelasan sekolah tentang hasil belajar siswa di sekolahnya.</li>
<li>Mencari penyebab ketidakberhasilan belajar siswa, dan memperkuat berbagai hal yang menjadi keberhasilan belajar siswa.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Komite Sekolah  menyampaikan hasil kajian pelaksanaan program sekolah kepada <em>stakeholder</em> secara periodik, baik yang berupa keberhasilan maupun kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran program sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyampaikan laporan pertanggungjawaban bantuan masyrakat baik berupa materi, maupun non materi kepada masyarakat dan pemerintah setempat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mediator</strong> antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan, seperti :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Melakukan kerjasama dengan masyarakat baik perorangan, organisasi pemerintah dan kemasyarakatan untuk penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang bermutu.
<ol>
<li>Membina hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan seluruh <em>stakeholders</em> pendidikan di sekitar sekolah.</li>
<li>Mengadakan penjajagan tentang kemungkinan untuk dapat mengadakan kerjasama dengan lembaga lain di  luar sekolah untuk memajukan mutu pembelajaran di sekolah.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat, dalam bentuk:
<ol>
<li>Menyebarkan kuesioner untuk memperoleh masukan, saran dan ide kreatif dari <em>stakeholder</em> pendidikan di sekitar sekolah.</li>
<li>Menyampaikan laporan kepada masyarakat secara tertulis tentang hasil pengamatannya terhadap perkembangan pendidikan di daerah sekitar sekolahnya.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<h2 style="text-align:justify;">C.      Mutu Layanan Pendidikan</h2>
<p style="text-align:justify;">Mutu layanan pendidikan adalah pencapaian standar yang  dipersepsi oleh pengguna layanan yang menyamai atau bahkan melebihi standar layanan pendidikan yang berlaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan adalah upaya sadar untuk memfasilitasi perkembangan dan peningkatan potensi peserta didik.  Inti dari pendidikan adalah kegiatan pembelajaran. Pada jenis satuan pendidikan formal, seperti di sekolah dasar dan bentuk persekolahan lainnya pada jenjang yang di atasnya, inti pendidikan berupa pembelajaran biasa disebut dengan proses pembelajaran. Dengan demikian <strong>layanan pendidikan adalah berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk memberikan dukungan terjadinya kondisi proses pembelajaran yang baik atau bermutu</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada jenjang SD, proses pembelajaran terjadi selama 6 tahun, yang terjadi pada setiap kelas mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Rinciannya terjadi setiap mata pelajaran pada tiap kelas mulai kelas 1 sampai kelas 6.</p>
<p style="text-align:justify;">Proses pembelajaran yang baik/bermutu pada setiap mata pelajaran di kelas 1 semester 1 akan meningkatkan mutu hasil belajar di semester 1 baik dalam bentuk penguasaan bahan pelajaran, nilai, perilaku dan sikap peserta didik. Hasil belajar yang baik/bermutu pada semester 1 akan menjadi modal untuk proses belajar berbagai mata pelajaran pada semester 2 di kelas 1, demikian seterusnya sampai semester 2 kelas 6. Sehingga mutu pendidikan SD adalah hasil akumulasi dari mutu hasil belajar dari proses pembelajaran yang dimulai dari pembelajaran berbagai mata pelajaran semester 1 kelas 1 sampai semester 2 kelas 6.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal-hal yang berpengaruh terhadap pembelajaran adalah: secara langsung adalah guru (kemampuan/kompetensi, komitmen, konsentrasi), bakat dan motivasi peserta didik, sedangkan yang tidak langsung adalah sarana dan prasarana, dana, lingkungan, pemikiran dan hal-hal lainnya yang mendorong untuk terjadinya kondisi pembelajaran efektif dan bermutu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dana diperlukan dalam pembelajaran yang bermutu adalah untuk melengkapi sarana dan prasana, peningkatan kemampuan guru dalam penguasaan metodologi dan didaktik serta kemampuan bidang ajar. Selain itu yang tidak kalah penting adalah untuk menambah kesejahteraannya. Diasumsikan dengan bertambahnya kesejahteraan guru akan merasa dihargai dan akan meningkatkan konsentrasinya dalam mengajar, yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>LEMBAR KERJA PERORANGAN</strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="553">
<tbody>
<tr>
<td width="277" valign="top">
<p align="center"><strong>Ciri Pembelajaran   yang Efektif</strong></p>
</td>
<td width="277" valign="top">
<p align="center"><strong>Upaya yang harus   dilakukan</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top">1.</td>
<td width="277" valign="top">1.</td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top">2.</td>
<td width="277" valign="top">2.</td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top">3.</td>
<td width="277" valign="top">3.</td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top">4.</td>
<td width="277" valign="top">4.</td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top">5.</td>
<td width="277" valign="top">5.</td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top">6.</td>
<td width="277" valign="top">6.</td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top"></td>
<td width="277" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top"></td>
<td width="277" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top"></td>
<td width="277" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top"></td>
<td width="277" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top"></td>
<td width="277" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top"></td>
<td width="277" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="277" valign="top"></td>
<td width="277" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>LEMBAR KERJA KELOMPOK</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peran dan fungsi Komite Sekolah untuk meningkatkan mutu layanan pembelajaran :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="553">
<tbody>
<tr>
<td width="252" valign="top">
<p align="center"><strong>Peran dan Fungsi  Komite Sekolah </strong></p>
</td>
<td width="302" valign="top">
<p align="center"><strong>Bagaiman upaya yang   harus dilakukan oleh KS</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="5" width="252" valign="top">1. Pemberi pertimbangan (<em>advisory agency</em>)</td>
<td width="302" valign="top">1.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">2.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">3.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">4.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">5.</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="5" width="252" valign="top">2. Pendukung (<em>supporting   agency</em>)</td>
<td width="302" valign="top">1.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">2.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">3.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">4.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">5.</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="5" width="252" valign="top">3. Pengontrol (<em>controlling   agency</em>)</td>
<td width="302" valign="top">1.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">2.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">3.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">4.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">5.</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="5" width="252" valign="top">4. Mediator</td>
<td width="302" valign="top">1.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">2.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">3.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">4.</td>
</tr>
<tr>
<td width="302" valign="top">5.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Modul 1.3</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Membangun Hubungan Kemitraan dan Kerjasama Secara Sinergis Antara Sekolah, Keluarga dan Masyarakat</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>I. </strong><strong>TUJUAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir pelatihan peserta dapat menjelaskan:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Prinsip-prinsip dasar kerjasama dan kemitraan.</li>
<li>Hubungan antara kepercayaan, kejujuran dan kesamaan kepentingan untuk peduli bersama dengan kemitraan dan kerjasama.</li>
<li>Faktor–faktor yang membentuk hubungan kemitraan dan kerjasama secara sinergis antara sekolah, keluarga dan masyarakat.</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>II. </strong><strong>MATERI</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Komunitas sekolah dan unsur-unsurnya.</li>
<li>Faktor-faktor yang mempengaruhi dan menghambat terjadinya kerjasama kemitraan.</li>
<li>Prinsip-prinsip membangun kerjasama kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>III. </strong><strong>WAKTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu yang akan digunakan dalam pelatihan topik ini adalah 90 menit.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>IV. </strong><strong>METODE</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Curah Pendapat</li>
<li>Diskusi Kelompok</li>
<li>Penjelasan</li>
<li>Tanya Jawab</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>V. </strong><strong>ALAT BANTU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kertas plano</li>
<li>Kuda-kuda untuk <em>flip chart</em></li>
<li>Papan tulis dengan perlengkapannya</li>
<li>LCD</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>VI.     LANGKAH-LANGKAH</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buka pertemuan dengan salam singkat. Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan mendiskusikan mengenai <strong><em>topik Penguatan Kelembagaan Komite Sekolah</em></strong>, dan mendiskusikan materi berikutnya mengenai Materi <strong><em>”Membangun Hubungan Kemitraan”</em></strong>. Uraikan maksud dan tujuan dari diskusi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> (Waktu : 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Tanyakan kepada peserta apa yang dimaksud dengan Komunitas Sekolah  dan apa unsur &#8211; unsur yang ada di dalamnya?. Tuliskan jawaban peserta dalam kertas plano.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em>Kunci : komunitas Sekolah merupakan sekumpulan warga yang terlibat dalam lingkungan satuan pendidikan secara langsung maupun tidak langsung, dan perlu mengintegrasikan diri serta menciptakan hubungan – hubungan (ikatan) sosial untuk mencapai tujuan bersama. Unsur – unsur yang membentuk komunitas sekolah terdiri atas individu – individu dan kelompok – kelompok dalam satuan pendidikan, orang tua dan keluarga serta masyarakat di sekitar satuan pendidikan tersebut. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 15 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan melanjutkan kegiatan dengan permainan <em>Broken Square</em> atau memasukkan spidol pensil ke dalam botol.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">(catatan: Model permainan yang digunakan sesuai dengan kondisi peralatan yang ada dan mekanisme pelaksanaan tergantung pada jenis permainan yang digunakan untuk sesi ini)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 15 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Setelah selesai permainan, tanyakan kepada peserta :</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mengapa mereka memilih pasangannya masing – masing?</li>
<li>Cukup mudahkah atau susah untuk melaksanakan permainan itu, dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya?</li>
<li>Adakah terjalin interaksi atau komunikasi antara satu dengan lainnya?</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Dari pertanyaan tersebut temukan kata kunci dari peserta : <strong><em>untuk dapat berhasil melaksanakan permainan, memerlukan kemitraan dan kerjasama di antara mereka, tanpa kemitraan dan kerjasama akan sulit untuk mencapai tujuan bersama. </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 10 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bahas bersama peserta faktor–faktor yang bisa mempengaruhi dan menghambat kerjasama serta kemitraan. Gunakan kata-kata kunci sebagai berikut:</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mungkinkah kita percaya terhadap orang yang tidak jujur dan tidak peduli?</li>
<li>Mungkinkah kita bisa saling mendukung kalau kepentingan kita masing-masing berbeda?</li>
<li>Mengapa kita bersedia bekerja sama dan bermitra?</li>
<li>Apa yang perlu dibangun untuk bisa melaksanakan kerjasama dan kemitraan secara sinergis?</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hasil diskusi ini selanjutnya disimpulkan dan dilakukan pencerahan sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:justify;">Pencerahan tentang Prinsip-Prinsip yang harus dibangun oleh Komite Sekolah dalam membangun kerjasama dan kemitraan:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menumbuhkan kepercayaan, kejujuran dan kesamaan tujuan di antara anggota Komite Sekolah.</li>
<li>Menumbuhkan kepercayaan, kejujuran dan kesamaan tujuan antara Komite Sekolah dengan Keluarga.</li>
<li>Menumbuhkan kepercayaan, kejujuran dan kesamaan tujuan antara komite sekolah dengan masyarakat.</li>
<li>Menggunakan kepercayaan, kejujuran dan kesamaan tujuan sebagai landasan kemitraan dan kerjasama antara Komite Sekolah, Keluarga dan masyarakat .</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 15 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Selanjutnya pemandu memaparkan Bahan Tayangan Mengenai Membangun Kemitraan dan Kerjasama antara Komite Sekolah, Keluarga dan Masyarakat. Selama penayangan lakukan tanya jawab dengan peserta.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 25 menit)</span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemandu menyimpulkan dan menutup materi sesi ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">(Waktu : 5 menit)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>VII.   EVALUASI</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir kegiatan pelatihan, peserta menjawab beberapa pertanyaan tentang kerjasama kemitraan sekolah dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LAMPIRAN </span></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>1. </strong><strong>Sifat Dasar Kemitraan</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kemitraan bukanlah sekedar sekumpulan aturan main yang tertulis dan formal atau suatu kontrak kerja melainkan lebih menunjukkan perilaku hubungan yang bersifat intim antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak saling membantu untuk mencapai tujuan bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian kemitraan sekurang-kurangnya memiliki sifat-sifat dasar sebagai berikut.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Lebih bersifat jangka panjang bukan sekedar hubungan sesaat oleh sebab tujuan-tujuan yang ingin dicapai biasanya lebih mendasar, disamping itu hubungan sesaat tidak dapat membangun relasi yang lebih mendalam. Contoh hubungan tradisional yang bersifat sementara antara penjual dan pembeli seperti antara penjual rumah (developer) dan pembeli rumah (konsumer) atau antara penjual jasa konsultan dengan pemakai jasa konsultan.</li>
<li>Lebih di fokuskan pada pemecahan persoalan bersama untuk mencapai tujuan bersama bukan sekedar menjual suatu produk (barang atau jasa). Dalam tautan kemiskinan misalnya bagaimana kelompok masyarakat miskin ini mendapat akses ke tanah di kota, kredit, perizinan, dsb.</li>
<li>Didasarkan atas nilai-nilai luhur seperti lazimnya suatu kerjasama seperti kejujuran, keterbukaan, saling percaya, saling memperhatikan, kesetaraan, dsb.</li>
<li>Saling bergantung <a href="#_ftn1">[1]</a>), dimana tiap pihak sesuai peran dan fungsi masing-masing saling membutuhkan dan dibutuhkan agar tercapai tujuan bersama. Contoh yang jelas adalah tubuh manusia dimana tiap organ tubuh memiliki fungsi masing-masing tetapi tetap dalam kesetaraan dan saling membutuhkan agar kita dapat tetap hidup dengan wajar.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa kemitraan adalah jenis hubungan antar dua atau beberapa pihak dengan sifat-sifat dasar sebagai tersebut di atas (jangka panjang, berorientasi pemecahan persoalan bersama/tujuan bersama, dilandasi nilai-nilai luhur dan saling bergantung).</em></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>2. </strong><strong>Mengapa Kemitraaan PERLU</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Banyak alasan yang dapat dikemukakan mengapa kemitraan itu perlu dan menjadi makin perlu di masa-masa mendatang. Di antara berbagai alasan paling tidak ada tiga alasan seperti tersebut di bawah ini.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Yang pertama, persoalan yang dihadapi oleh semua pihak (stakeholder), para pelaku pembangunan (sektor swasta dan masyarakat) dan penyelenggara pembangunan (pemerintah) sudah sangat kompleks dan kronis sehingga tidak ada satu pihak pun yang dapat mengklaim memahami persoalan yang dihadapi oleh pihak lain. Akibatnya tindakan sepihak/diselesaikan secara sepihak saja tidak lagi memadai, termasuk misalnya meningkatkan pelayanan saja. Diperlukan kerja sama atau bentuk hubungan baru antar pihak (penyelenggara dan pelaku pembangunan) yang lebih intim untuk bersama-sama memecahkan persoalan bersama yang sudah kronis tersebut untuk mencapai tujuan bersama pula.</li>
<li>Pergeseran posisi pelaku utama dari pemerintah dan swasta (sebagai pemasok) ke masyarakat. Ini berarti masyarakatlah yang kini menentukan apa yang perlu dan bagaimana harus dipasok. Sering kali tuntutan masyarakat tidak mampu lagi dipenuhi oleh pola pasokan konvensional, misalnya masyarakat menuntut mutu layanan publik yang layak dengan harga yang terjangkau yang tidak mungkin lagi dipenuhi dengan hanya menurunkan harga dan mengurangi mutu yang lazim ditempuh dalam pola pasokan konvensional (perumahan misalnya). Masyarakat seringkali memiliki aspirasi yang berbeda terhadap produk-produk pelayanan publik yang ditawarkan/dipasok oleh pemerintah dan atau perusahaan perumahan milik swasta. Untuk mendekatkan antara harapan dan kemampuan pasokan inilah menuntut adanya bentuk hubungan baru/lain antara yang memasok dan yang dipasok, yang lebih bersifat jangka panjang dan beroreintasi pada pemecahan persoalan bersama.</li>
<li>Keterbatasan sumberdaya di semua pihak baik di pihak pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan maupun di pihak pelaku pembangunan lainnya; swasta maupun masyarakat, sehingga perlu dilakukan sinergi untuk mencapai tujuan bersama seperti pendidikan murah untuk semua, peningkatan mutu pendidikan, dll.</li>
<li>Keterbatasan sumberdaya ini dapat dilihat dari dua sisi, (i) sisi kelangkaan dan (ii) sisi distribusi/penyebaran penguasaan sumberdaya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">1)      Dari sisi kelangkaan dapat diartikan (i) keterbatasan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan oleh semua pihak, artinya sumberdaya yang tersedia terbatas yang membutuhkan banyak, sehingga setiap penggunaan oleh satu pihak akan berpengaruh pada yang lain.  Jadi perlu bentuk kerja sama baru yang lebih konseptual dan mendasar atau (ii) keterbatasan dalam arti tiap pihak menguasai sumberdaya yang sama secara terbatas sehingga untuk memproduksi sesuatu perlu bentuk kerjasama yang lebih konseptual sehingga tercapai sinergi.</p>
<p style="text-align:justify;">2)      Dari sisi penyebaran diartikan bahwa tiap pihak hanya menguasai satu atau dua jenis sumberdaya saja (dana saja, tanah saja atau tenaga kerja saja, dsb) sehingga untuk menghasilkan sesuatu perlu keterlibatan semua pihak yang menguasai sumberdaya yang berbeda. Dengan demikian maka dibutuhkan bentuk kerjasama baru yaitu kemitraan yang bersifat jangka panjang, berorientasi pada pemecahan persoalan bersama, di dasarkan nilai-nilai luhur dan tercapai saling kebergantungan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>3. </strong><strong>PENERAPAN KEMITRAAN DALAM PEMBANGUNAN </strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Agar kemitraan seperti tersebut di atas dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan konsepnya maka penerapan kemitraan harus mengikuti prinsip-prinsip dasar berikut yang selanjutnya disebut sebagai prinsip <em>PACTS</em> atau <em>PACTS</em> <em>principles</em> <a href="#_ftn2">[2]</a>).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Prinsip 1</em>: Partisipasi/<em>participation</em> (<strong><em>P</em></strong>), semua pihak memiliki kesempatan yang sama untuk menyatakan pendapat, memutuskan hal-hal yang langsung menyangkut nasibnya dan bertanggung jawab atas semua keputusan yang telah disepakati bersama. Dalam melaksanakan partisipasi maka semua pihak harus memperhatikan ketepatan waktu atau momentum artinya partisipasi harus tepat waktu/<em>punctual</em> (<strong><em>P</em></strong>) sehingga terjadi sinkronsikasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Prinsip 2</em>:   Akseptasi/<em>acceptable</em> (<strong><em>A</em></strong>); kehadiran tiap pihak harus diterima oleh pihak lain apa adanya dan dalam kesetaraan. Ini juga berarti bahwa tiap pihak memiliki fungsi masing-masing dan di dalam fungsi masing-masing tersebutlah terjadi kesetaraan. Contoh klasik dalam hal ini adalah tubuh manusia; tidak ada seorangpun yang beranggapan bahwa usus manusia yang penuh kotoran ini lebih rendah dari muka yang cantik. Jadi usus dan muka sesuai dengan fungsi masing-masing ada dalam kesetaraan. Agar tiap pihak dapat diterima oleh pihak lain maka kepada tiap pihak dituntut untuk bersikap bertanggung jawab atau dapat diandalkan atau bersifat tanggung gugat/<em>accountable</em> (<strong><em>A</em></strong>).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Prinsip 3</em>: Komunikasi/<em>communication</em>(<strong><em>C</em></strong>); masing-masing pihak harus mau dan mampu mengomunikasikan dirinya beserta rencana kerjanya sehingga dapat dilakukan koordinasi dan sinergi. Untuk itu tiap pihak dituntut untuk mau meleburkan diri menjadi satu kesatuan/<em>collaboration</em> (<strong><em>C</em></strong>)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Prinsip 4</em>:   Percaya/<em>trust</em> (<strong><em>T</em></strong>); masing-masing pihak harus dapat mempercayai dan dipercaya atau saling percaya karena tidak mungkin suatu hubungan kerjasama yang intim dibangun di atas kecurigaan atau saling tidak percaya. Untuk itu tiap pihak dituntut untuk berani bersikap terbuka/<em>transparant</em> (<strong><em>T</em></strong>)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Prinsip 5</em>:   Berbagi/<em>share</em> (<strong><em>S</em></strong>); masing-masing harus mampu membagikan diri dan miliknya (<em>time, treasure and talents</em>) untuk mencapai tujuan bersama dan bukan satu pihak saja yang harus berkorban atau memberikan segalanya sehingga tidak lagi proporsional. Dalam prinsip berbagi ini juga mengandung arti penyerahan/<em>submit</em> (<em>put under control of another</em> &#8211; <strong><em>S</em></strong>) artinya tiap pihak disamping siap memberi juga siap menerima pendapat orang lain termasuk dikritik</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa untuk melaksanakan kemitraan yang baik tiap pihak dituntut untuk mengikuti prinsip PACTS (<em>participation, acceptance, communication, trust, sharing</em>) dan untuk secara efektif dapat menerapkan PACTS tiap pihak harus menerapkan PACTS yang kedua (<em>punctual, accountable</em>, <em>collaboration, transparant, submit</em>). Kemitraan semacam inilah yang diharapkan tumbuh dan berkembang setelah disentuh Paket.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>4. </strong><strong>JENJANG KERJASAMA DALAM KEMITRAAN</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jaringan (<em>Networking</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berbagi informasi yang dapat membantu mitranya untuk bekerja lebih baik, seperti pengalaman (<em>best practices</em>), pelajaran yang disimpulkan dari pengalaman masing-masing, dsb. Beberapa pihak yang terlibat dalam jaringan ini tidak perlu melakukan satu pekerjaan bersama.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Koordinasi (<em>Coordination</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berbagi informasi, melakukan penyesuaian agar dapat mengakomodasi yang lain, agar tidak bersaing atau konflik, misalnya tidak melakukan kegiatan yang pesertanya sama dalam waktu yang bersamaan, atau tidak mendudukkan klien/konsumer untuk terpaksa memilih yang satu terhadap yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kooperasi (<em>Cooperation</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berbagi informasi, melakukan penyesuaian agar dapat mengakomodasi yang lain dan secara nyata ada beberapa aspek pekerjaan yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Contohnya dua organisasi yang bekerjasama untuk hanya melakukan satu kali kunjungan lapangan yang memenuhi tujuan masing-masing. Jadi dapat saja berbagi sumberdaya, menyamakan agenda, dsb tetapi hasilnya untuk kepentingan masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kolaborasi (<em>Collaboration</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berbagi informasi, melakukan penyesuaian agar dapat mengakomodasi yang lain, beberapa aspek dari pekerjaan menjadi tanggung jawab masing-masing sesuai bidang keahlian dan akhirnya berbagi hasil bersama. Dengan kata lain berbagi segalanya termasuk risiko untuk dapat mencapai hasil bersama yang lebih baik (sinergi) karena masing-masing tidak mampu mencapai hasil yang ingin dicapai bersama tersebut. Jadi secara bersama-sama juga bertanggung jawab /akuntabel terhadap hasil yang dicapai bersama. Kerjasama dalam bentuk kolaborasi inilah yang ingin dicapai melalui konsep kemitraan dalam Paket</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>5. </strong><strong>Sinergi</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sinergi adalah suatu situasi yang terjadi bila suatu kerjasama menghasilkan lebih besar dari penjumlahan hasil masing-masing pihak bila mengerjakannya sendiri-sendiri</p>
<p style="text-align:justify;">Secara rinci ciri-ciri sinergi dapat dikatakan sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>punya tujuan bersama</li>
<li>berorientasi pada hasil bersama</li>
<li>hasil bersama lebih besar dari penjumlahan hasil masing-masing</li>
<li>proses pengembangan alternatif ketiga</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencapai sinergi ini ada beberapa persyaratan baku sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>ada perbedaan atau keragaman</li>
<li>hargai perbedaan</li>
<li>hindari berpikir dan bersikap menang-menangan</li>
<li>berupaya untuk mengerti lebih dahulu</li>
<li>yakini bersama akan menemukan alternatif ke tiga.</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>6. </strong><strong>MEMBANGUN HUBUNGAN KEMITRAAN OLEH KOMITE SEKOLAH</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam rangka peningkatan keterlibatan masyarakat dalam bidang pendidikan di wilayahnya untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya di kelurahan/desa miskin, masih diperlukan berbagai upaya, antara lain:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pengusulan calon penerima bantuan, dan melakukan kontrol sosial terhadap pelaksanaan kegiatan.</li>
<li>Menempatkan Sekolah, sebagai pelaku sentral dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan diharapkan, yang bersifat <strong>inklusif</strong>, sehingga institusi pendidikan sekolah ini diharapkan pula menjadi milik masyarakat (komunitas).</li>
<li>Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan dan program masyarakat.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Komunitas Sekolah merupakan sekumpulan warga yang terlibat dalam lingkungan satuan pendidikan secara langsung maupun tidak langsung, dan perlu mengintegrasikan diri serta menciptakan hubungan – hubungan (ikatan) sosial untuk mencapai tujuan bersama. Unsur – unsur yang membentuk komunitas sekolah terdiri dari individu – individu dan kelompok – kelompok dalam satuan pendidikan, orang tua dan keluarga serta masyarakat di sekitar satuan pendidikan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang ingin dibangun adalah phase kemitraan, bukan sekedar informasi atau satu arah yang cenderung didominasi oleh salah satu pihak.</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" rowspan="2" width="132" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
</td>
<td colspan="4" width="457" valign="top">
<p align="center"><strong>Tahapan   Proyek</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="top">
<p align="center"><strong>Prakarsa &amp; gagasan</strong></p>
</td>
<td width="118" valign="top">
<p align="center"><strong>Perencanaan</strong></p>
</td>
<td width="117" valign="top">
<p align="center"><strong>Pelaksanaan</strong></p>
</td>
<td width="116" valign="top">
<p align="center"><strong>Pemeliharaan</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" width="21" valign="top">
<p align="center"><strong>Tingkat   Pembangunan Partisipaif</strong></p>
</td>
<td width="111" valign="top"><strong>Swadaya</strong></p>
<p align="left">Manajemen oleh masyarakat</p>
</td>
<td width="106" valign="top">Komite Sekolah dan   Masyarakat  memprakarsai &amp;   melakukan sendiri</td>
<td width="118" valign="top">Komite Sekolah dan Masyarakat merencanakan &amp; merancang sendiri</td>
<td width="117" valign="top">Komite Sekolah dan Masyarakat melaksanakan sendiri</td>
<td width="116" valign="top">Komite Sekolah dan Masyarakat memelihara sendiri</td>
</tr>
<tr>
<td width="111" valign="top"><strong>Kemitraan</strong></p>
<p align="left">Berbagi kerja   &amp; pengambilan keputusan</p>
</td>
<td width="106" valign="top">Komite Sekolah dan Masyarakat memprakarsai   pekerjaan bersama</td>
<td width="118" valign="top">Komite Sekolah dan Masyarakat merencanakan &amp;   merancang bersama</td>
<td width="117" valign="top">Komite   Sekolah dan Masyarakat melaksanakan bersama</td>
<td width="116" valign="top">Komite Sekolah dan Masyarakat  memelihara bersama</td>
</tr>
<tr>
<td width="111" valign="top"><strong>Konsultasi</strong></p>
<p align="left">Menanyakan pendapat   masyarakat</p>
</td>
<td width="106" valign="top">Sekolah   memprakarsai setelah konsultasi dgn masy./org tua</td>
<td width="118" valign="top">Sekolah   merencanakan &amp; merancang dgn konsultasi ke masyarakat/Klrga</td>
<td width="117" valign="top">Sekolah melaksanakan dgn konsultasi ke masyarakat</td>
<td width="116" valign="top">Sekolah memelihara dgn konsultasi ke masyarakat</td>
</tr>
<tr>
<td width="111" valign="top"><strong>Informasi</strong></p>
<p align="left">Satu arah, keputusan &amp; pelaksanaan oleh Sekolah</p>
</td>
<td width="106" valign="top">Sekolah   memprakarsai pekerjaan</td>
<td width="118" valign="top">Sekolah   &amp; merancang sendiri</td>
<td width="117" valign="top">Sekolah   melaksanakan sendiri</td>
<td width="116" valign="top">Sekolah   memelihara sendiri</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a>)  Stephen R. Covey, saling kebergantungan (interdependence) adalah tingkat kedewasaan tertinggi dari Seven   Habit Maturity Continum, Seven Habits of the Highly Effective People, 1994</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a>) PACTS adalah singkatan dari Participation, Acceptance, Communication, Trust, Sharing. Sedangkan PACTS sebagai satu kata berarti kesepakatan</p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/442/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=442&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/25/dewan-pendidikan-ikomite-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMBIAYAAN PENDIDIKAN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/pembiayaan-pendidikan/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/pembiayaan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 20:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[1 a.   Design budget kegiatan pembelajaran yang bermutu dilihat dari    keterbatasan    anggaran yang ada? Jawab: I.  STURKTUR KATEGORI BIAYA DALAM PROGRAM PENDIDIKAN 1. Biaya peningkatan produktivitas Biaya peningkatan efisiensi internal pendidikan Biaya peningkatan efektivitas eksternal pendidikan Biaya perbaikan iklim belajar mengajar 2. Biaya utama peningkatan daya tampung 3. Biaya pemantapan pembinaan siswa ( remedial) Pembinaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=224&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>1 </em></strong><strong><em>a.   Design budget kegiatan pembelajaran yang bermutu dilihat dari    keterbatasan    anggaran yang ada?</em></strong><br />
<strong><em>Jawab:</em></strong><br />
<strong><em> </em></strong><strong>I.  STURKTUR KATEGORI BIAYA DALAM PROGRAM PENDIDIKAN</strong><br />
<strong>1. </strong><strong>Biaya peningkatan produktivitas </strong></p>
<ol>
<li>Biaya peningkatan efisiensi internal pendidikan</li>
<li>Biaya peningkatan efektivitas eksternal pendidikan</li>
<li>Biaya perbaikan iklim belajar mengajar</li>
</ol>
<p><strong>2. </strong><strong>Biaya utama peningkatan daya tampung </strong><br />
<strong>3. </strong><strong>Biaya pemantapan pembinaan siswa ( remedial)</strong></p>
<ol>
<li>Pembinaan kegiatan siswa</li>
<li>Pembinaan kebutuhan dasar siswa</li>
</ol>
<p><strong>4. </strong><strong>Biaya utama kemampuan untuk berkembang </strong></p>
<ol>
<li>Pengembangan sumber daya manusia</li>
<li>Pengembangan sarana dan prasarana</li>
</ol>
<p><strong>5. </strong><strong>Biaya kerumahtanggaan</strong></p>
<ol>
<li>Biaya       pengembangan sumber daya pendidikan untuk peningkatan daya tampung</li>
<li>Biaya pengebangan jenis dan cara       pendidikan yang lebih intensif</li>
</ol>
<ol>
<li>Peningkatan       sistem dan kemampuan pengelolaan lembaga pendidikan</li>
<li>Pembinaan prasarana, sarana, dan       utilitas sekolah.</li>
</ol>
<p><strong><em> </em></strong><strong><em>b.   Prioritas(struktur pendidikan) sehingga menggambarkan yang diatas?</em></strong><br />
<em>Biaya pemantapan pembinaan siswa ( remedial)</em><br />
Pembinaan kegiatan siswa<br />
Pembinaan kebutuhan dasar siswa<br />
Inilah yang paling mendasar pada pengembangan pendidikan. Karena tujuan utama dari pada pendidikan adalah untuk mencerdaskan anak bangsa. Kendatipun hal-hal yang terikat tidak bisa dinafikan begitu saja. Kita maklumi bahwa untuk mencerdasarkan para siswa tentu ada perangkat lain yang harus kita libatkan  diantaranya kesejahteraan guru sebagai tenaga pengajar dan sekaligus pendidik serta perlu didukung oleh sarana dan prasara yang memadai, lingkungan belajar yang nyaman dll.<br />
<em>Pada pembinaan kegiatan siswa (remedial) tersebut meliputi ;</em><br />
1)      Memberikan pelajaran tambahan di sore hari<br />
2)      Melaksanakan pembinaan kelompok gruop<br />
3)      Memberikan pelajaran pengayanan bagi siswa yang termasuk dalam katagori pintar<br />
4)      Mengadakan buku referensi (termasuk LKS)</p>
<p><em>Pada Pembinaan Kebutuhan Dasar, yaitu ;</em><br />
Mengacu pada pola yang ditetapkan dalam PP no 19 tahun tentang Standars Isi<br />
Mencapai penyel;esaian pe,belajaran sesuai dengan Standar kelulusan<br />
Meningkjatakan mutu lulusan, sehingga mertela dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi</p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="604" height="52" bgcolor="white">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em> </em><strong><em> </em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>2 </em></strong><strong><em>Paradigma dalam pembiayaan pendidikan sebenarnya tidak perlumempertimbangkan desing budget. </em></strong><strong><em>Mengapa model budget yang ada tidak disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran?</em></strong><br />
<strong><em>Jawab:</em></strong><br />
Karena pengelolaan pembiayaan pendidikan sudah ditentukan oleh pemerintah pusat melaui DIPA (Daftar Isian Penggunaan Anggaran)<br />
Karena dikhawatirkan terjadinya kelebihan program dari pada alokasi dana yang tersedia yang tidak  sesuai dengan kemampuan pemerintah<br />
Karena lebih mudah dalam pertanggungjawaban dan pengawasan terhadap dana yang disediakan<br />
Waktu dalam pengalokasian dan pengusulan anggaran pendidikan sangat terbatas<br />
<strong><em>Berdasarkan dari soal nomor 1 diatas, kelompokan kedalam golongan      biaya budget tersebut sehingga akan terstruktur dengan jelas      pembiayaannya!</em></strong></p>
<table style="text-align:justify;height:547px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="365">
<tbody>
<tr>
<td width="48">
<p align="center">NO</p>
</td>
<td width="276">
<p align="center">SUMER   PEMBIAYAAN</p>
</td>
<td width="108">
<p align="center">ALOKASI ANGGARAN</p>
</td>
<td width="144" valign="top">
<p align="center">PENGELUARAN</p>
<p align="center">AKTUAL</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="48" valign="top">A.</td>
<td width="276" valign="top">Sumber Pemerintah :</p>
<ol>
<li>Dana   Rutin :</li>
</ol>
<p>1)                              Gaji dan tunjangan guru</p>
<p>2)                              Belanja barang</p>
<p>3)                              Belanja Pemeliharaan</p>
<p>4)                              Biaya Pendidikan</p>
<ol>
<li>Dana   Khusus:
<ol>
<li>DBO</li>
<li>Bea Siswa</li>
<li>Dana OPF</li>
<li>BKG</li>
<li>Dana Kesejahteraan GT</li>
<li>BKM</li>
<li>BOS</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>c. Beaya Daya dan Jasa</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="right">216.048.000</p>
<p align="right">2.650.000</p>
<p align="right">2.000.000</p>
<p align="right">80.000.000</p>
<p align="right">
<p align="right">3.800.000</p>
<p align="right">3.000.000</p>
<p align="right">1.250.000</p>
<p align="right">13.200.000</p>
<p align="right">6.000.000</p>
<p align="right">3.840.000</p>
<p align="right">25.000.000</p>
<p align="right">1.980.000</p>
</td>
<td width="144" valign="top">
<p align="right">216.048.000</p>
<p align="right">2.650.000</p>
<p align="right">2.000.000</p>
<p align="right">80.000.000</p>
<p align="right">
<p align="right">3.800.000</p>
<p align="right">3.000.000</p>
<p align="right">1.250.000</p>
<p align="right">13.200.000</p>
<p align="right">6.000.000</p>
<p align="right">3.840.000</p>
<p align="right">25.000.000</p>
<p align="right">1.980.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="48" valign="top">B.</td>
<td width="276" valign="top">SUMBER SWASTA :</p>
<ol>
<li>Uang Sekolah</li>
<li>Pemasukan   lainnya dari org tua</li>
<li>Sumbangan pribadi, hibah, dsb</li>
<li>Sumber-sumber lainnya</li>
</ol>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="right">2.000.000</p>
</td>
<td width="144" valign="top">
<p align="right">2.000.000</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="553">
<tbody>
<tr>
<td width="39" valign="top">NO.</td>
<td width="273" valign="top">
<p align="center">BIAYA PENDIDIKAN</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">ALOKASI ANGGARAN</p>
</td>
<td width="133" valign="top">
<p align="center">PENGELUARAN</p>
<p align="center">AKTUAL</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="39" valign="top">A.</td>
<td width="273" valign="top">Biaya Langsung :</p>
<ol>
<li>Gaji   guru dan pegawai lainnya</li>
</ol>
<p>b.  Pembelian   buku</p>
<ol>
<li>Sarana   &amp; Prasarana pembelajaran</li>
</ol>
<p>d.  Bahan-bahan   laboratorium</p>
<ol>
<li>Biaya   Pendidikan</li>
</ol>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="right">216.048.000</p>
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">80.000.000</p>
<p align="right">
</td>
<td width="133" valign="top">
<p align="right">216.048.000</p>
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">
<p align="right">80.000.000</p>
<p align="right">
</td>
</tr>
<tr>
<td width="39" valign="top">B.</td>
<td width="273" valign="top">Biaya Tak Langsung /Opportunity   Cost</p>
<ol>
<li>Sumbangan wali murid</li>
<li>Beaya hibah</li>
</ol>
</td>
<td width="108" valign="top"></td>
<td width="133" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><em> </em></strong><strong><em>4 </em></strong><strong><em>Dalam anggaran berbasis kinerja, kita memerlukan suatu kegiatan menstandartkan biaya sehingga tercipta biaya standart. Jelaskan hal itu mencerminkan effektively of learningsekaligus effisiensi?</em></strong><br />
<strong><em>Jawab:</em></strong><br />
Standar pembiayaan merupakan standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun ( PP No. 19 tahun 2005 ). Ini berarti setiap kegiatan yang dilakukan dibudgetkan, dengan demikian akan tercipta biaya standar. Biaya standar ini akan digunakan satuan pendidikan untuk merencanakan kebutuhan anggaran satuan pendidikannya sesuai dengan visi dan misinya secara <span style="text-decoration:underline;">efektif dan efisien</span>. Dalam menentukan biaya pada setiap kegiatan haruslah memperhatikan : a) perubahan harga di pasar, b) perubahan jumlah barang yang diperlukan, pertambahan jumlah siswa, peningkatan standar pendidikan, dan tingkat umur peserta didik ( Pidarta, 1997 ).  Pembiayaan pendidikan tidak hanya menyangkut analisa-analisa sumber dana saja, tetapi juga penggunaan dana-dana ini secara efisien. Makin efisien sistim pendidikan itu, makin kurang pula dana yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuannya, dank arena itu lebih banyak yang dapat dicapai dengan anggaran yang tersedia.<br />
Proyeksi biaya unit meliputi pembiayaan modal dan biaya berulang. Untuk itu perlu memperkirakan luasnya akibat tujuan kuantitatif dan kualitatif dalam memperhitungkan rata-rata biaya unit berulang untuk tahun yang bersangkutan.<br />
Cost Benefit Analysis<br />
Rates of Return Analysis<br />
Keputusan Investasi Pendidikan<br />
Komponen-komponen biaya pendidikan<br />
Komponen-komponen biaya pendidikan yang memberikan kontribusi terhadap kualitas dan optimalisasi Proses Belajar Mengajar (PBM) adalah komponen-komponen utama manajemen keuangan yang mendukung terlaksananya optimalisasi komponen biaya-biaya pendidikan adalah sebagai berikut:<br />
Sumber Dana Pendidikan<br />
Lembaga pendidikan dalam melaksanakan tugasnya menerima dana dari berbagai sumber. Penerimaan dari berbagai sumber tersebut perlu dikelola dengan baik dan benar. Banyak pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan penerimaan keuangan pendidikan, namun dalam pelaksanaannya pendekatan-pendekatan tersebut memiliki berbagai persamaan. Sumber-sumber dana pendidikan antara lain meliputi: Anggaran rutin (DIK); Anggaran pembangunan (DIP); Dana Penunjang Pendidikan (DPP); Dana BP3; Donatur; dan lain-lain yang dianggap sah oleh semua pihak yang terkait. Pendanaan pendidikan pada dasarnya bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun 1989).<br />
Sejalan dengan adanya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sekolah dapat menggali dan mencari sumber-sumber dana dari pihak masyarakat, baik secara perorangan maupun secara melembaga, baik di dalam maupun di luar negeri, sejalan dengan semangat globalisasi.<br />
Dana yang diperoleh dari berbagai sumber itu perlu digunakan untuk kepentingan sekolah, khususnya kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan itu, setiap perolehan dana, pengeluarannya harus didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang telah disesuaikan dengan rencana anggaran pembiayaan sekolah (RAPBS).<br />
Efektivitas  pendidikan menggambarkan tingkat kesesuaian antara jumlah keluaran yang dihasilkan dengan jumlah yang ditargetkan. Dengan kata lain, bahwa masalah efektifitas biaya pendidikan mempunyai kaitan langsung dengan upaya untuk mengetahui apakah sejumlah biaya tertentu dapat memberikan hasil pendidikan yang sudah ditentukan. Suatu pekerjaan disebut efektif, kalau pekerjaan itu dikerjakan dengan tepat dan mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian biaya efektif suatu program adalah biaya yang menurut harga pasar yang sedang berlaku, dapat menyelesaikan program itu sesuai dengan tujuan yang direncanakan.</p>
<p><strong><em>5 </em></strong><strong><em>Defisit financing memotivasi kepala sekolah untuk berperan semaksimalnya didalam pembiayaan sekolah. Hal-hal apa yang menghambat didalam implementasinya ! </em></strong><br />
<strong><em>Jawab:</em></strong><br />
<strong><em>1. </em></strong><strong><em>Enterpreneurship </em></strong><br />
Mungkin bagi kebanyakan siswa belum begitu familiar. Sementara “di luar sana”, Enterpreneurship sudah dikenal bahkan sudah dipraktikkan dalam dunia pendidikan. Sudah barang tentu, tidak ada salahnya jika kita mulai belajar mengenal Enterpreneurship. Enterpreneurship bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan hanya melalui aspek kognitif semata, karena disini juga membentuk sikap hidup. Maka, diperlukan latihan riil dan tantangan untuk mengembangkan ketrampilan dan keberanian dengan membuat keputusan merupakan kunci yang paling sukses memperkenalkan bidang Enterpreneurship di sekolah Formal.<br />
Sekolah berusaha memanfatkan berbagai momen yang sangat umum dilaksanakan semua sekolah, yaitu contohnya dengan mengadakan bazaar sekolah sehingga dapat mencoba untuk membina semangat Enterpreneurship dikalangan anak didik. Kami menggeser tujuan program bazaar sekolah dari program penjualan menjadi program perencanaan pengelolaan risiko. Dengan melalui tahap perencanaan, promosi pemasaran,dan kreatifitas diharapkan dapat menanggulangi masalah dan resiko yang dihadapi dalam setiap langkah Enterpreneurship, kami berharap secara bertahap agar anak didik akan membangun pola pikir kreatif yang menunjang kemampuan Enterpreneurial mereka. Ada tiga kegiatan yang dilaksanakan dalam Enterpreneurship Day di sekolah, yaitu :<br />
Bussines Plan Compotition kemudian dilanjutkan dengan penjualan produk.<br />
Garage sale dengan menjual barang –barang bekas yang tak berguna tapi masih bagus.<br />
Jingle Compotision Festival, menciptakan Jingle iklan untuk produk tertentu.<br />
Khususnya untuk Bussines Plan,para siswa diharapkan untuk mengembangkan Enterpreneurial mereka dalam mengembangkan proposal dan merealisasikannya. Beberapa hal yang kami tekankan tentang langkah-langkah membangun kemampuan Enterpreneurship adalah:<br />
Enterpreneurship merupakan kepekaan untuk memanfaatkan sesuatuyang tampaknya tak bernilai menjadi bermanfaat dan bernilai.<br />
Enterpreneur mampu untuk mendeteksi kesempatan untuk berkreasi dan memanfaatkannya.<br />
Enterpreneur mampu untuk merencanakan, melaksanakan, mengembangkan dan membangun suatu kegiatan terorganisir, serta siap melakukan perbuatan yang perlu setiap saat, untuk meningkatkan efisiensi.<br />
Enterpreneur selalu siap mengambil keputusan dengan resiko yang diperhitungkan secara matang, sejauh impact yang diperhitungkan akan cukup berarti, baik secara sosial maupun finansial.<br />
Kegiatan Enterpreneurial harus merupakan suatu kegiatan yang dikelola Secara berkelanjutan (sustainable), bukan sekedar suatu kegiatan dadakan (one soth activity).</p>
<p>Sejalan dengan pemikiran tersebut, penekanan pengelolaan kegiatan bazaar dalam Enterpreneurship day kami geser dari sekedar proses jual beli menjadi suatu proses panjang dan terstruktur sebagaimana layaknya pembangunan suatu organisasi bisnis dijalankan.<br />
Hambatan Implementasi  :<br />
Hambatan kegiatan yang selenggarakan, adalah bahwa kegiatan in merupakan kegiatan lepas yang tidak berkesinambungan (one shot activity), sehingga belum teruji apakah dalam pengelolaan jangka yang lebih panjang mereka akan tetap bisa bertahan. Padahal sustainability adalah suatu ciri-ciri kegiataan Enterpreneurship yang berhasil. Pada akhirnya, kami percaya betapapun sederhana dan tidak sempurnanya kegiatan yang telah selesai dilaksanakan, ini merupakan suatu contoh bahwa pendidikan Enterpreneurship pantas dilaksanakan di sekolah tanpa perlu merubah kurikulum utama yang diikuti oleh sekolah.<br />
<strong><em>Penyelenggaraan Otonomi      Pendidikan dan MBS </em></strong><br />
Pemerintah telah menetapkan kebijakan otonomi pendidikan, sebagaimana mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan yang menyebutkan: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.<br />
Berdasarkan pasal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab negara melainkan diserahkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri. Dalam penjelasan pasal 3 ayat 2 RUU Badan Hukum Pendidikan disebutkan bahwa Kemandirian dalam penyelengaraan pendidikan merupakan kondisi yang ingin dicapai melalui pendirian BHP, dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi pada pendidikan tinggi. Hanya dengan kemandirian, pendidikan dapat menumbuhkembangkan kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitasnya.<br />
Artinya pemerintah menilai bahwa selama ini terhambatnya kemajuan pendidikan indonesia diantaranya karena pengelolaan pendidikan yang sentralistis, sehingga perlunya kebijakan desentralisasi kewenangan (MBS dan otonomi pendidikan) untuk memajukan pendidikan indonesia.<br />
Kenyataannya, kebijakan tersebut menuai berbagai sikap kontra dari masyarakat karena dinilai sarat dengan tekanan pihak asing (negara donor) yang menghendaki privatisasi lembaga –lembaga yang dikelola negara termasuk lembaga pendidikan, sehingga negara pun akan lepas tangan dari tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan secara penuh. Sebagaimana diungkapkan oleh komisi hukum nasional (KHN) bahwa dalam RUU BHP versi yang baru, semua bentuk pendidikan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah daerah atau pemerintah harus berbentuk badan hukum yang sama yaitu badan hukum pendidikan. Oleh karenanya, jika RUU BHP disahkan &#8211; maka peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peraturan pemerintah tentang BHMN tidak akan berlaku lagi. Perubahan yang terjadi antara konsep RUU lama dan yang baru, dapat diamati dari bunyi pasal 1 ayat 7 (versi lama), yang mengatur bahwa ”Penyelenggara adalah satuan pendidikan berstatus Badan Hukum Pendidikan (BHP)” dan “Semua satuan pendidikan tinggi harus berstatus Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) (Pasal 2 ayat (1)”. Selain itu, disebutkan juga bahwa “Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat berstatus Badan Hukum Pendidikan Dasar Menengah (BHPDM)”.<br />
Yang menjadi persoalan, apakah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) merupakan jawaban yang tepat bagi pengembangan pendidikan tinggi kedepan? Bagaimana RUU ini meletakkan peran pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi serta bagaimana mengkonstruksi hubungan antara penyelenggara pendidikan (yayasan, perkumpulan, badan wakaf, pemerintah, dll) dengan satuan pendidikan? Apakah RUU BHP memberikan jaminan bagi terwujudnya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global ? Selain itu kebijakan otonomi pendidikan sendiri merupakan hal belum tentu dapat meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bila makna otonomi itu sendiri ternyata bentuk lepas tangan pemerintah dengan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan secara lebih besar porsinya kepada masyarakat. Padahal hakikatnya penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara/ pemerintah sebagai pihak yang diamanahi rakyat untuk mengatur urusan mereka dengan sebaik mungkin.<br />
Hambatan Implementasi  :<br />
Hambatan ini berkaitan implementasi konsep MBS.   Setelah sosialisasi dilakukan dan konsep MBS dapat diterima, masih ada persoalan yang menghadang, yakni bagaimana MBS dapat diimplementasikan secara efektif, bagaimana komite sekolah dibentuk dan bekerja sesuai format, bagaimana hubungan dengan   aparat sekolah, dan lain sebagainya.<br />
Membentuk komite sekolah tidak sekedar mengganti nama dari kelembagaan mitra sekolah sebelumnya, yakni BP3 (Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan).  Pembentukan komite sekolah perlu dilandasi dengan semangat peningkatan peran dan fungsi, serta perluasan keanggotaan.   Kasus yang umum terjadi adalah sekedar ganti nama.<br />
Umumnya komite sekolah yang sudah terbentuk merasa gamang apa yang akan dikerjakan.   Di satu sisi pihak, sekolah tidak merasa perlu membesarkan embrio komite sekolah yang terbentuk.  Di sisi lain anggota komite sekolah (khususnya partisan dari masyarakat) tidak memiliki cukup energi (motivasi, waktu, dan dana) untuk melakukan aktivitas yang nyata, menjalankan peran dan fungsi kelembagaan komite sekolah.<br />
Hambatan implementasi ini memerlukan penetrasi pemberdayaan baik oleh dinas terkait maupun pihak Dewan Pendidikan Daerah Kota Bekasi, melalui aktivitas sosialisasi dan fasilitasi.<br />
<strong><em>3. </em></strong><strong><em>Mengoptimal Kemitraan Dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri</em></strong><br />
Berkaitan dengan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan : (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. (3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.<br />
Hal yang justru memunculkan kerawanan saat ini adalah dengan adanya RUU BHP maka peranan pihak swasta (pengusaha) mendapatkan akses yang lebih luas untuk mengelola pendidikan, sehingga bagaimana jadinya kalau kemitraan dengan DU/DI tersebut ternyata menempatkan pengusaha ataupun perusahaan sebagai pihak yang berinvestasi dalam lembaga pendidikan dengan menuntut adanya return yang sepadan dari investasinya tersebut? Kondisi ini pada akhirnya akan memperkokoh keberlangsungan kapitalisasi pendidikan.<br />
Hambatan Implementasi  :<br />
Indikator peran serta tokoh masyarakat dan dunia usaha masih kurang. Temuan ini sejalan dengan temuan pada indikator pembiayaan di mana kebanyakan pembiayaan pendidikan, di luar sumber pemerintah, masih berasal dari orangtua siswa. Menurut sebagian responden gejala rendahnya peranserta tokoh masyarakat dan dunia usaha disebabkan rendahnya kepedulian mereka terhadap pendidikan. Dengan dasar itu, perlu dikembangkan strategi untuk melibatkan tokoh masyarakat dan dunia usaha dalam kehidupan sekolah.<br />
Sekolah cukup mengeluhkan minimnya dana yang bersumber dari BP3/Komite Sekolah. Apalagi menurut sebagian responden, dana BP3/Komite Sekolah pada umumnnya baru bersumber dan orangtua anak yang bersekolah,         Sedangkan dari masyarakat luas masih sangat terbatas. Kondisi ini memang sangat disayangkan karena salah satu tujuan penerapan manajemen berbasis sekolah adalah agar masyarakat dalam anti luas bertanggung jawab atas maju mundurnya sekolah di lingkungannya, ini berarti diperlukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya partisipasi mereka dalam pembiayaan pendidikan. Karena tanpa ada perubahan seperti itu, maka pembentukan komite sekolah pada dasarnya hanyalah pergantian nama dari BP3.</p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=224&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/pembiayaan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INVENTARIS BANGUNAN DAN GEDUNG SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/inventaris-bangunan-dan-gedung-sman-1-lhoong/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/inventaris-bangunan-dan-gedung-sman-1-lhoong/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 20:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[KARTU INVENTARIS RUANGAN (KIR) PROVINSI : NANGGROE ACEH DARUSSALAM KABUPATEN/KOTA : ACEH BESAR UNIT : SMA NEGERI 1 LHOONG RUANGAN : RUANG KEPALA SEKOLAH NOMOR REGISTER : NO KODE LOKASI : NOMOR KODE BARANG : NO URUT NAMA BARANG/ JENIS BARANG MERK MODE NOMOR SERI PABRIK UKURAN BAHAN TAHUN PEMBUATAN/PEMBELIAN NOMOR KODE BARANG JUMLAH BARANG/ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=67&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="border-collapse:collapse;width:841pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="1122">
<col style="width:30pt;" width="40"></col>
<col style="width:126pt;" width="168"></col>
<col style="width:51pt;" width="68"></col>
<col style="width:88pt;" width="117"></col>
<col style="width:50pt;" width="67"></col>
<col style="width:56pt;" width="75"></col>
<col style="width:68pt;" width="91"></col>
<col style="width:75pt;" width="100"></col>
<col style="width:53pt;" width="71"></col>
<col style="width:65pt;" width="86"></col>
<col style="width:28pt;" width="37"></col>
<col style="width:47pt;" width="63"></col>
<col style="width:38pt;" width="51"></col>
<col style="width:66pt;" width="88"></col>
<tbody>
<tr style="height:22.5pt;">
<td class="xl113" style="height:22.5pt;width:841pt;" colspan="14" width="1122" height="30">KARTU INVENTARIS RUANGAN (KIR)<span> </span></td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl67" style="height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15.75pt;">
<td class="xl68" style="height:15.75pt;" colspan="2" height="21">PROVINSI</td>
<td class="xl68" colspan="3">: NANGGROE ACEH   DARUSSALAM</td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" colspan="2" height="20">KABUPATEN/KOTA</td>
<td class="xl68" colspan="2">: ACEH BESAR</td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" colspan="2" height="20">UNIT</td>
<td class="xl68" colspan="3">: SMA NEGERI 1 LHOONG</td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" colspan="2" height="20">RUANGAN</td>
<td class="xl68" colspan="3">: RUANG KEPALA SEKOLAH</td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" height="20"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" height="20"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl69" colspan="2">NOMOR REGISTER</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl66">:</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" colspan="2" height="20">NO   KODE LOKASI</td>
<td class="xl68">:</td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl69" colspan="2">NOMOR KODE BARANG</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl66">:</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl67" style="height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:22.5pt;">
<td class="xl114" style="border-bottom:2pt double black;height:68.25pt;width:30pt;" rowspan="2" width="40" height="91">NO URUT</td>
<td class="xl116" style="border-bottom:2pt double black;width:126pt;" rowspan="2" width="168">NAMA BARANG/ JENIS BARANG</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:51pt;" rowspan="2" width="68">MERK MODE</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:88pt;" rowspan="2" width="117">NOMOR SERI PABRIK</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:50pt;" rowspan="2" width="67">UKURAN</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:56pt;" rowspan="2" width="75">BAHAN</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:68pt;" rowspan="2" width="91">TAHUN PEMBUATAN/PEMBELIAN</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:75pt;" rowspan="2" width="100">NOMOR KODE BARANG</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:53pt;" rowspan="2" width="71">JUMLAH BARANG/ REGISTER (X)</td>
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;width:65pt;" rowspan="2" width="86">HARGA BELI/ PEROLEHAN</td>
<td class="xl110" style="border-left:medium none;border-right:.5pt solid black;width:113pt;" colspan="3" width="151">KEADAAN BARANG</td>
<td class="xl119" style="border-bottom:2pt double black;width:66pt;" rowspan="2" width="88">KETERANGAN MUTASI<span> </span>DLL</td>
</tr>
<tr style="height:45.75pt;">
<td class="xl70" style="border-top:medium none;border-left:medium none;height:45.75pt;width:28pt;" width="37" height="61">BAIK (B)</td>
<td class="xl70" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63">KURANG   BAIK (KB)</td>
<td class="xl70" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51">RUSAK   BERAT(RB)</td>
</tr>
<tr style="height:14.25pt;">
<td class="xl71" style="border-top:medium none;height:14.25pt;width:30pt;" width="40" height="19">1</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">2</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68">3</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117">4</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67">5</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75">6</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91">7</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100">8</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:53pt;" width="71">9</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86">10</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37">11</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63">12</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51">13</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88">14</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl74" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17"></td>
<td class="xl75" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">RUANG   KEPALA SEKOLAH</td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:53pt;" width="71"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51"></td>
<td class="xl77" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">FILLING BOX</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ELITE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050104005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">FILLING BOX</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">YUNIKA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050104005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">JAM DINDING</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">QUART</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050202001</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI PUTAR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">UCHIWA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI SOFA</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 SET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17"></td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LAMBANG GARUDA</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">30X20</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KERTAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206026</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DINAS</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI ES</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">NATIONAL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">NR.A22KN.02811925</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">160X 80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI KACA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">280X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA BIRO</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X90</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75">KAYU</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91">2005</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100">2050201002</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37">B</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51"></td>
<td class="xl83" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA KECIL</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67">90X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MIKROPHONE</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">METAL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206014</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN PENGUMUMAN</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TAPE WAYERLESS</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">60X40</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206012</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">13</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:53pt;" width="71"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51"></td>
<td class="xl83" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG WAKASEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CD PEMBELAJARAN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">371 PCS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 12.500.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GLOBE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105016</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI PUTAR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">UCHIWA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ELITE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI ARSIP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BANTUAN JPNG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI LOCKER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X110</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA GURU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA BIRO</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN<span> </span></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105010</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PETA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KERTAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105014</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TANDU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANGAN TU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">FILLING BOX</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ELITE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI LIPAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">90X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">190X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI ARSIP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BANTUAN JPNG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN POTONG RUMPUT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">STHIL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">NO.979012421</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050203003</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN TIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">18 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN PENGUMUMAN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X130</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GORDYIN/KRAY</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206058</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG GURU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CERMIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">90X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KACA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">JAM DINDING</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">QUART</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">12 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">160X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2080156081</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">12 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN PENGUMUMAN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X130</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105010</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">5 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PETA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KERTAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CERET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DISPENSER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">EMBER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GELAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KOMPOR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">HOCK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ALMUNIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">13</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PANCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ALMUNIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">14</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PIRING</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DURALEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KACA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 LUSIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">15</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SENDOK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 LUSIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">16</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TOA MEGA PHONE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">METAL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">17</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG PUSTAKA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GEN SET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2080141101</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD/HILANG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KARPET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">8MX6M</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANVAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206056</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ACER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PRINT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CANON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2060102067</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">UPS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ICA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI BUKU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">350X200</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI LOCKER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">200X180</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050201009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">11 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN STENSIL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050103001</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD/HILANG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">POMPA AIR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SANYO</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RAK BUKU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">200X180</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">6 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RAK SEPATU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050104004</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">13</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DVD PLAYER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SAMSUNG</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 1.000.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ABBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">14</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TV<span> </span></td>
<td class="xl105" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PANASONIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">29 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206002</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 4.000.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG BELAJAR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS X-1</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050201004</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">38 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>38 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">35 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS X-2</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">34 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">34 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">33 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS X-3</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">35 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XI-IPA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">34 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">33 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">33 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">32 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XI-IPS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">26 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">25 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">28 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XII-IPA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">28 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">26 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">25 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XII-IPS.1</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">38 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">37 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XII-IPS.2</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TIANG BENDERA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">AULA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">KURSI LIPAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">87 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">63 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">24 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">7 RB</td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA PODIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl88" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LABORATORIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl90" style="border-left:medium none;">ALAT LAB IPA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 12.500.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;">KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006/2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">10 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD/BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">11 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI PANJANG</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">89 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA PANJANG</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">12 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN JAHIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206022</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">6 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">AMPLIFIER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206005</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RB</td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">TAPE COMPO</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TOSIBHA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206004</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">TELEVISI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SHARP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">29 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206002</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">LOUDSPEAKER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TOA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206007</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">8 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">LAP TOP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ACER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">17 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 10.000.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:13.5pt;" height="18">13</td>
<td class="xl91" style="border-left:medium none;">IN FOKUS/ PROYEKTOR</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BENQ</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl92" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 10.000.000</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl96" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl93" style="height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Tenis Meja</td>
<td class="xl104" style="border-left:medium none;">Nittaku</td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-left:medium none;">2 Set</td>
<td class="xl100" style="border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>2.500.000<span> </span></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Cakram   1 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>180.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Cakram   1,5 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>270.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Gitar</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Kapuk</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>150.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Ula   Hop</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rotan</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">5 Buah</td>
<td class="xl102" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>45.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Lembing   600 gr</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>590.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Lembing   700 gr</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>660.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Peluru   1 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>80.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Peluru   3 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>80.000</td>
<td class="xl103" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37"></td>
<td class="xl103" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Ring   Basket</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 Set</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>400.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Raket   Yoonex</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Yoonex</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>150.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Kaki</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Mikasa</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>250.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Volly</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Mikasa</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>250.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Basket</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Molten</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>300.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Shutle   Cook</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Garuda</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">5 Set</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>60.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Takraw</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Fiber Glass</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>250.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Futsall</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Molten</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>300.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Kasti</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Dunlop</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">6 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>70.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Skriping</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Speed</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>20.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Sepatu   Bola</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Speed</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">19 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>115.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl89" style="border-top:medium none;height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl106" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Net   Volly</td>
<td class="xl107" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Molten</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl108" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl107" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 Buah</td>
<td class="xl109" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>150.000</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.com <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=67&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/inventaris-bangunan-dan-gedung-sman-1-lhoong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN YANG KESATRIA</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/kepemimpinan-yang-kesatria/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/kepemimpinan-yang-kesatria/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 19:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[1. TEORI KEPEMIMPINAN YANG PALING COCOK UNTUK DITERAPKAN PADA PENDIDIKAN DI NEGARA KITA. kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=360&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>1. </strong><strong>TEORI KEPEMIMPINAN YANG PALING COCOK UNTUK DITERAPKAN PADA PENDIDIKAN DI NEGARA KITA.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Antara lain: Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan ada juga. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah  seseorang yang dengan kekekuasaanannya (his or her power) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Manajerial Robert Blake dan Jane Mouton mengembangkan kisi-kisi manajerial dengan dua sumbu yaitu perhatian pada orang dan perhatian pada produksi. Perhatian pada orang dan produksi yang tinggi  bersimbol (9,9), sedangkan perhatian pada oran dan produksi yang rendah diberi simbol (1,1). Simbol (1,9),(9,1), (5,5) merupakan simbol diantara keduanya. Gaya kepemimpinan (9,9) merupakan gaya kepemimpinan yang paling efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi menurut saya teori kepemimpinan yang paling cocok adalalah <em>TEORI KEPEMIMPINAN KONTEMPORER</em> Kepemimpinan Kharismatik Karisma merupakan sebuah atribusi yang berasal dari proses interaktif antara pemimpin dan para pengikut. Atribut-atribut karisma antara lain rasa percaya diri, keyakinan yang kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara dan yang lebih penting adalah bahwa atribut-atribut dan visi pemimpin tersebut relevan dengan kebutuhan para pengikut. Kepemimpinan Transformasional Pemimpin pentransformasi (transforming leaders) mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya kepada cita-cita dan nilai- nilai moral yang lebih tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Humanistik dengan para pelopor Argryris, Blake dan Mouton, Rensis Likert, dan Douglas McGregor. Teori ini secara umum berpendapat, secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Teori Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran. Dikemukakan, interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. Jadi, peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan Atas dasar teori diatas, House pada tahun 1970 mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>POWER ( KEKUASAAN )</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>a. <em>Power ( kekuasaan </em>) <em> adalah:</em></strong> Pada tahun 1962, French dan Raven telah membahagikan sumber   kekuasaan kepada lima bahagian di mana sumber-sumber ini mempunyai perbezaan yang ketara dan mempunyai kelebihan dan kelemahan yang tersendiri dalam situasi-situasi tertentu. Sumber-sumber kekuasaan yang dikemukakan French dan Raven ialah kekuasaan ganjaran, kekuasaan paksaan, kekuasaan sah, kekuasaan rujukan, dan kekuasaan pakar (Campbell, 1988).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Authority adalah</em></strong> merupakan sesuatu yang tercapai apabila seseorang mendapat kekuasaan yang sah (legitimate power). Hal ini mengaitkan kedudukan atau jawatan seseorang individu dalam sesebuah organisasi terutamanya organisasi formal. Oleh itu, autoriti yang ada pada individu tersebut membolehkannya menjadi pemimpin kepada organisasi itu kerana kedudukan dan jawatan yang disandang olehnya seterusnya menentukan pengurusan sesebuah organisasi itu berjalan dengan lancar.  Oleh itu, autoriti dikatakan sesuatu yang amat penting dalam sesebuah organisasi bagi menentukan kelancaran dan keberkesanan sesuatu proses terutamanya dalam organisasi formal. Organisasi yang berjaya dapat dilihat apabila seseorang pemimpin diiktiraf mempunyai hak dan kekuasaan dalam menentukan tanggungjawab dan peranan orang bawahan dan mereka juga mampu menurut perintah. Dengan kata lain, keberkesanannya berdasarkan pengiktirafan orang bawahan. Pemimpin yang mempunyai autoriti yang berkesan menyebabkan orang bawahan tidak merasa sangsi akan kebolehan ketua mereka dan dengan itu, seseorang pemimpin haruslah berkorban menjaga imej dan kedudukannya dengan memperlihatkan perilaku serta tindak-tanduk baik dan rasional. Kekuasaan sah atau kekuasaan pentadbir iaitu autoriti yang ada pada pemimpin dan kekuasaan kepakaran merupakan langkah terbaik untuk dipraktikkan dalam sesebuah organisasi formal terutamanya sebagai medium untuk memberi arahan kepada orang bawahan tetapi untuk kesan terbaik, hanya satu kekuasaan perlu dipraktikkan dalam situasi tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Influence adalah:</em></strong> merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai sesuatu dengan cara yang diinginkan. Studi tentang kekuasaan dan dampaknya merupakan hal yang penting dalam manajemen. Karena kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, maka mungkin sekali setiap interaksi dan hubungan sosial dalam suatu organisasi melibatkan penggunaan kekuasaan. Cara pengendalian unit organisasi dan individu di dalamnya berkaitan dengan penggunaan kekuasaan. Kekuasaan manager yang menginginkan peningkatan jumlah penjualan adalah kemampuan untuk meningkatkan penjualan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekuasaan melibatkan hubungan antara dua orang atau lebih. Dikatakan A mempunyai kekuasaan atas B, jika A dapat menyebabkan B melakukan sesuatu di mana B tidak ada pilihan kecuali melakukannya. Kekuasaan selalu melibatkan interaksi sosial antar beberapa pihak, lebih dari satu pihak. Dengan demikian seorang individu atau kelompok yang terisolasi tidak dapat memiliki kekuasaan karena kekuasaan harus dilaksanakan atau mempunyai potensi untuk dilaksanakan oleh orang lain atau kelompok lain</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>b. Bentuk dan sumber kekuasaan yang berkaitan dengan organisasi adalah: </em></strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>KEKUASAAN GANJARAN (REWARD POWER)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kekuasaan Ganjaran bermaksud seorang individu atau pentadbir yang mempunyai kelebihan untuk memberi ganjaran atau hadiah kepada kakitangan yang menurut arahannya. Kekuasaan ganjaran ini dianggap sebagai satu kekuasaan yang positif yang boleh menyebabkan perubahan dalam tingkahlaku dan perlakuan seseorang. Dengan kata lain ia merupakan pengukuhan positif. Namun kekuasaan ini ada had dan batasannya untuk membolehkan seseorang itu bertindakbalas darinya. Ia juga kekuasaan yang dapat mengawal pekerja melalui hadiah ganjaran bonus atau menjanjikan pelbagai bentuk insentif yang boleh membawa perubahan positif kepada para pekerja atau ahli-ahli dalam organisasi tersebut. Kadangkala berbentuk memberi tugas dan cabaran baru kepada seseorang yang menunjukkan prestasi kerja yang memuaskan dan baik di samping memberikan ganjaran atau hadiah sampingan.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>KEKUASAAN PAKSAAN (COERCIVE POWER)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Juga dikenali sebagai kekuasaan dendaan. Kekuasaan ini bersifat negatif kerana biasa perubahan perlakuan seseorang itu bukan atas kehendaknya tetapi lebih kepada ancaman dan dendaan yang akan diberikan oleh pihak atasan bila ianya tidak diikuti. Kekuasaan yang wujud cara ini biasanya tidak akan kekal. Ia dikatakan sebagai kekuasaan kerana ia dapat mengawal pekerja melalui paksaan, dendaan, ancaman dan mungkin juga berbentuk ugutan. Antara bentuk dendaan dan hukuman yang dipraktikkan ialah seperti tidak memberi kenaikan pangkat, menahan kenaikan gaji, menamatkan tugas atau pemberhentian dengan laporan yang negatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin yang menggunakan kekuasaan paksaan selalunya bergantung kepada kekuatan fizikal dan mental yang ada padanya, dan pemimpin yang mengamalkan kekuasaan ini tidak menghargai keupayaan sebenar yang ada pada kakitangannya. Secara amnya, subordinat akan mengikut arahan pemimpin semata-mata untuk mengelak daripada didenda oleh ketuanya. Maka segala kemahuan ketua akan dituruti. Walau bagaimanapun kekuasaan paksaan mendatangkan rasa tidak puas hati serta menimbulkan kemarahan para pekerja jika didenda dengan sebab yang tidak sepadan atau munasabah dan akhirnya akan menimbulkan konflik dalam organisasi. Seterusnya ia mampu memecahbelahkan organisasi di mana para pekerja dan pemimpin tidak sehaluan. Motivasi dan komitmen subordinat juga menurun jika kekuasaan paksaan dipraktikkan di dalam organisasi sebagai kekuasaan utama. Oleh kerana kekuasaan paksaan memberi pengukuhan negatif kepada orang bawahan, maka kekuasaan paksaan merupakan kekuasaan yang paling lemah untuk membuat kakitangan menurut perintah dan mempunyai hubungan negatif dengan keberkesanan.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>KEKUASAAN SAH (LEGITIMATE POWER)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kekuasaan yang sah timbul dari persepsi individu terhadap sesuatu arahan yang diberikan. Adakah arahan itu boleh diberikan oleh seseorang itu kepada orang bawahannya? Jika ianya dapat diterima maka kekuasaan ini menjadi satu kekuasaan yang sah dan tidak akan timbul masalah untuk mereka yang menerimanya melakukan arahan dan tugas yang diberikan itu. Ia terhasil akibat pelantikan seseorang dalam sesebuah organisasi. Kekuasaan yang ada pada seorang itu pula bergantung kepada kedudukannya dalam organisasi tersebut. Kekuasaan sah yang dimaksudkan di sini ialah kekuasaan rasmi yang diperoleh seseorang daripada autoriti pihak atasan melalui penyerahan kekuasaan yang memberikan ia sesuatu kedudukan dalam organisasi . Ia mendapat restu orang yang dipimpin bahawa ketua itu mempunyai hak yang sah untuk mempengaruhi mereka. Keadaan ini timbul dari nilai-nilai budaya, struktur sosial, ataupun kedudukan ketua</p>
<p style="text-align:justify;">Kekuasaan sah dari segi budaya ialah pengiktirafan daripada pengikut disebabkan oleh pemimpin itu lebih veteran dan berkedudukan daripada pengikut dan mempunyai banyak pengalaman dalam aspek struktur sosial dari segi kesetiaannya terhadap organisasi itu. Kekuasaan sah merupakan asas yang penting untuk mendapatkan kepatuhan daripada kakitangan kerana pemimpin diiktiraf oleh kekuasaan yang lebih tinggi tetapi ini tidak menjanjikan keberkesanan organisasi.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>KEKUASAAN PAKAR (EXPERT POWER)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kekuasaan ini timbul apabila A mempunyai sumber dari segi kepakaran, kemahiran dan pengetahuan yang tinggi dari pandangan B. Maka apa yang diberikan dan diharapkan oleh A ke atas B akan dituruti dengan mudahnya. Kekuasaan pakar di peroleh oleh mereka yang mempunyai pengetahuan atau kemahiran dalam bidang-bidang tertentu contohnya guru matematik mahir dalam bidangnya dan kemungkinan besar tidak mahir dalam bidang lain seperti mata pelajaran geografi. Seseorang mungkin dikatakan mempunyai kekuasaan pakar apabila dia mengetahui secara mendalam tentang sesuatu perkara atau bidang yang diceburi dan amat sukar ditandingi oleh orang lain. Kebiasaannya pendapat mereka ini didengar dalam satu tindakan yang berkaitan dengan bidang yang memang merupakan kepakarannya. Pentadbir mempunyai kekuasaan kepakaran apabila mereka faham bagaimana hendak mengajar tau bagaimana untuk mengendalikan masalah-masalah yang dihadapi oleh guru-guru. Seorang pentadbir atau pemimpin yang tidak memahami dan menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan ini dan juga kekuasaan pejabat sah akan hanya menikmati kawasan pengaruh.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>KEKUASAAN RUJUKAN (REFERENT POWER)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kekuasaan rujukan adalah sama dengan karisma di mana ia merujuk kepada kebolehan seseorang ketua untuk menggalakkan penggabungan atau penglibatan daripada pengikut-pengikutnya dan lebih kepada kebolehan untuk mempengaruhi orang lain melalui ciri-ciri perlakuan yang ada padanya. Sikap dan kebolehan ini boleh menghasilkan pelbagai tanggapan dan juga dalam kebanyakan hal menyelesaikan masalah. Kekuasaan ini datang dari perasaan dan keinginan pengikut mengenal pasti orang yang lebih berkekuasaan tanpa mengira kesan positif atau negatif. Karisma pemimpin menjadi asas kepada kekuasaan sah dan kekuasaan rujukan. Namun ia bergantung kepada ahli kumpulan yang sanggup menerima, mengenal pasti dan setuju kepada ciri-ciri yang ditunjukkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin dijadikan sebagai rujukan atau contoh kepada pengikut kerana mempunyai kualiti, karisma dan reputasi yang baik. Apabila dikaitkan dengan karisma, Weber menyatakan ia bukannya bersifat ketuhanan tetapi kualiti luar biasa pada sifatnya yang dipenuhi dengan tenaga, keyakinan, wawasan masyarakat akan datang. Karisma memainkan peranan yang sedikit dengan unsur-unsur kecantikan dan kegagahan fiskal.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> c. pemimpin yang efektif mengandalkan kekuasaan dan keahlianya untuk mempengaruhi bawahanya karena: </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang pemimpin yang efektif harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan memlkul tanggung jawab atas aklbat dan resiko yang timbul sebagai konsekwensi daripada keputusan yang diambilnya Tentunya dalam mengambil keputusan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang pemimpin harus punya pengetahuan, keterampilan, informasi yang mendalam dalam proses menyaring satu keputusan yang tepat. Disamping itu, seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan segala tingkah laku dari bawahan sedemikian rupa sehingga segala tingkah laku bawahan sesuai dengan keinginan pimpinan yang bersangkutan. Untuk itu seorang pemimpin setidaknya harus memiliki kriteria-kriteria tertentu, misalnya kemampuan bisa &#8220;perceptive&#8221; dan objektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam mengarahkan dan memotivasi bawahan agar melakukan pekerjaan dengan sesuai, seorang pemimpin bisa memilih suatu gaya kepemimpinan tertentu apakah gaya autokratis, gaya partisipatif dan bahkan gaya Free Rein yang sesuai dengan situasi dan lingkungan para bawahan. Hanya dengan jalan demikian pencapaian tujuan dapat terlaksana dengan efisien dan efektif.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin yang efektif kelihatannya tidak mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan mereka yang tidak efektif sehingga para ahli perilaku management tidak lagi meneliti tentang apa persayaratan ( kriteria ) seorang pemimpin yang efektif melainkan para ahli ini meneliti tentang hal-hal yang dilakukan oleh pemimpin yang efektif.Bagaimana mereka mendelegan tugas,bagaimana mereka mengambil keputusan, bagaimana mereka berkomunikasi dan memotivasi para bawahan Seorang pemimpin memang harus memiliki Kwalitas tertentu ( Kriteria tertentu ) namun disamping itu ada suatu cara terbaiak untuk memimpin tidak seperti kwalitas pemimpin, maka perilaku pemimpin merupakan sesuatu yang dapat dipelajari, jadi seseorang yang dilatih dengan kepemimpinan yang tepat akan bisa menjadi pemimpin yang efektif. Perilaku pemimpin ini disebut juga <strong><em>Gaya Kepemimpinan ( Style of Leadership )</em></strong>. Berbagai gaya kepemimpinan telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap pemimpin telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap pemimpin bisa mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan tidak mesti suatu gaya kepemimpinan yang satu lebih baik atau lebih jelek daripada gaya kepemimpinan yang lainya. Para ahli mencoba mengelompokkan gaya kepemimpinan dengan menggunakan sutu dasar tertentu. Dasar yang sering dipergunakan adalah tugas yang dirasakan harus dilakukakan oleh pemimpin, Kewjiban yang pimpinan harapakan diterima oleh bawahan dan falsafah yang dianut oleh pimpinan untuk pengembangan dan pemenuhan harapan para bawahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>d. hubungan sumber kekuasaan, gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan  bawahan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Butchatsky (1996), &#8220;leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good&#8221;. Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi Anderson (1988), &#8220;leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi menurut saya teori kepemimpinan yang paling cocok adalalah Pendekatan Kontingensi (Contigensy  Theory) model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian  yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor (dimensi) tersebut adalah: hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).</p>
<p style="text-align:justify;">Model Fiedler (Lanjutan), Fiedler membuat dua gaya kepemimpinan yaitu: Orientasi kerja  Orientasi hubungan karyawan Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan menggunakan dua cara:  Skala teman kerja yang paling tidak disukai Kesamaan yang diasumsikan antara pihak yang diasumsikan Efektivitas kepemimpinan berbeda-beda tergantung situasi (yang dilihat dari ketiga dimensi tersebut). Model Kepemimpinan Hersey dan Blanchard Dengan menggunakan dua sumbu perilaku kerja (memberikan pengarahan kerja) dan perilaku hubungan (memberikan dukungan kerja), disusun matriks dengan empat kuadran. Gaya kepemimpinan yang efektif tergantung kesiapan karyawan, dalam hal ini akan bergerak dari situasi 1,2,3 dan 4, dimana  Situasi 1 adalah perilaku kerja tinggi dan perilaku hubungan yang rendah , Situasi 2 adalah perilaku kerja tinggi dan perilaku hubungan yang tinggi , Situasi 3 adalah perilaku kerja rendah dan perilaku hubungan tinggi ,  Situasi 4 adalah perilaku kerja rendah dan perilaku hubungan yang rendah</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang berada pad pucuk pimpinan suatu organisasi seperti manajer, direktur, kepala dan sebagainya, memiliki kekuasaan power) dalam konteks mempengaruhi perilaku orang-orang yang secara struktural organisator berada di bawahnya.  Sebagian pimpinan menggunakan kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik.  Namun, sebagian  pimpinan lainnya tidak mampu memakai kekuasaan dengan efektif, sehingga aktivitas untuk melaksanakan pekerjaan dan tugas tidak dapat dilakukan dengan baik.  Oleh karena itu, sebaiknya kita bahas secara erperinci tentang jenins-jenis kekuasaan yang sering digunakan dalam suatu organisasi.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>e. </em></strong><strong><em>Kekuasaan kepala sekolah dalam konteks MBS</em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">1        Perencanaan dan evaluasi program sekolah. Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya, misalnya kebutuhan untuk meningkatkan mutu sekolah. Sekolah juga diberi wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri.</p>
<p style="text-align:justify;">2        Pengelolaan kurikulum. Sekolah dapat mengembangkan, namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh Pemerintah Pusat. Sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">3        Pengelolaan proses belajar mengajar. Sekolah diberi kebebasan untuk memilih strategi, metode dan teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">4        Pengelolaan ketenagaan. Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan, rekrutmen, pengembangan, penghargaan dan sangsi, hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">5        Pengelolaan peralatan dan perlengkapan. Pengelolaan fasilitas seharusnya dilakukan oleh sekolah mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan hingga pengembangannya. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas baik kecukupan, kesesuaian dan kemutakhirannya terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar.</p>
<p style="text-align:justify;">6        Pengelolaan keuangan. Pengelolaan keuangan, terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">7        Pelayanan siswa. Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru, pengembangan, pembinaan, pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga pengurusan alumni dari dulu telah didesentralisasikan. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">8        Hubungan sekolah dan masyarakat. Esensi hubungan sekolah dan msyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">9        Pengelolaan iklim sekolah. Iklim sekolah yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa adalah contoh iklim sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. Iklim sekolah sudah merupakan kewenangan sekolah dan yang diperlukan adalah peningakatan intensitas dan ekstensitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Wohlstetter dan Mohrman terdapat empat sumber daya yang harus didesentralisasikan yang pada hakikatnya merupakan inti dan isi dari MBS yaitu power/authority, knowledge, information dan reward. Keempatnya merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dan menuntut kehadirannya (Mohrman at. al, op.ct, hh. 37-47)</p>
<p style="text-align:justify;">1        Kekuasaan/kewenangan (power/authority) harus didesentralisasikan ke sekolah-sekolah secara langsung yaitu melalui dewan sekolah. Sedikitnya terhadap tiga bidang penting yaitu budget, personnel dan curriculum. Termasuk dalam kewenangan ini adalah menyangkut pengangkatan dan pemperhentian kepala sekolah, guru dan staff sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">2        Pengetahuan (knowledge) juga harus didesentralisasikan sehingga sumberdaya manusia di sekolah mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi kinerja sekolah. Pengetahuan yang perlu didesentralisasikan meliputi: keterampilan yang terkait dengan pekerjaan secara langsung (job skills), keterampilan kelompok (teamwork skills) dan pengetahuan keorganisasian (organizational knowledge). Keterampilan kelompok diantaranya adalah pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan keterampilan berkomunikasi. Termasuk dalam pengetahuan keorganisasian adalah pemahaman lingkungan dan strategi merespon perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">3        Hakikat lain yang harus didensentralisasikan adalah informasi (information). Pada model sentralistik informasi hanya dimiliki para pimpinan puncak, maka pada model MBS harus didistribusikan ke seluruh constituent sekolah bahkan ke seluruh stakeholder. Apa yang perlu disebarluaskan? Antara lain berupa visi, misi, strategi, sasaran dan tujuan sekolah, keuangan dan struktur biaya, isu-isu sekitar sekolah, kinerja sekolah dan para pelanggannya. Penyebaran informasi bisa secara vertikal dan horizontal baik dengan cara tatap muka maupun tulisan.</p>
<p style="text-align:justify;">4        Pengaharhaan (reward) adalah hal penting lainnya yang harus didesentralisasikan. Penghargaan bisa berupa fisik maupun non-fisik yang semuanya didasarkan atas prestasi kerja. Penghargaan fisik bisa berupa pemberian hadiah seperti uang. Penghargaan non-fisik berupa kenaikan pangkat, melanjutkan pendidikan, mengikuti seminar atau konferensi dan penataran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. PENGAMBILAN KEPUTUSAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>a.   pengertian konseptual pengambilan keputusan adalah:</em></strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengambilan keputusan dapat dilihat sebagai salah satu fungsi seorang pemimpin . Dalam pelaksanan kegiatan untuk menerjemahkan berbagi keputusan berbagai alternatif dapat dilakukan dan untuk itu pemilihan harus dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengambilan keputusan adalah soal yang berat karena sering menyangkut kepentingan banyak orang.Tidak ada sesuatu yang pasti dalam pengambilan keputusan . Pemimpin harus memilih diantara alternatif yang ada dan kemungkianan implikasi atau akibat suatu pengambilan keputusan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hakekat Pengambilan Keputusan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengambilan keputusan pada hakekatnya adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah . Pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan –tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Dari pengertian ini dapat diartikan beberapa hal.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dalam proses pengambilan keputusan tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan.</li>
<li>Pengambilan keputusan harus didasarkan kepada sistematika tertentu, antara lain : dengan mempertimbangkan kemampuan organisasi, personnel yang tersedia, situasi lingkungan yang akan digunakan untuk melaksanakan keputusan yang diambil.</li>
<li>Sebelum suatu masalah dapat dipecahkan dengan baik, hakekat dari masalah tersebut harus diketahui dengan jelas.</li>
<li>Pemecahan masalah tidak dapat dilakukan dengan coba-coba tetapi harus didasarkan pada fakta yang terkumpul secara sistematis, baik dan dapat dipercaya.</li>
<li>Keputusan yang baik adalah keputusan yang diambil dari berbagi alternatif yang ada setelah alternatif-alternatif itu dianalisa secara matang.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>b.   Mengidentifikasi berbagai jenis keputusan yang diambil manajer<em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah yang dihadapi oleh seorang pemimpin terikat pada suatu tempat, situasi, orang dan waktu tertentu. Masalah dalam pengambilan keputusan senantiasa dihubungkan dengan tujuan yang jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Jenis-jenis masalah yang dihadapi oleh seorang pemimpin berdasarkan internitas masalahnya dapat digolongkan menjadi masalah yang sederhana dan masalah yang komplek. Masalah yang sederhana ialah masalah yang mengandung ciri-ciri : kecil, berdiri sendiri dan tidak/kurang mempunyai kaitan dengan masalah lain. Pemecahannya biasanya tidak memerlukan pemikiran yang luas tetapi cukup dilakukan secara individual, yang umumnya didasarkan kepada pengalaman, informasi yang sederhana dan wewenang yang melekat pada jabatan.</p>
<p style="text-align:justify;">masalah yang komplek yaitu masalah yang mempunyai ciri-ciri : besar, tidak berdiri sendiri sendiri, berkaitan dengan masalah-masalah lain, dan, mempunyai akibat yang luas. Pemecahannya umumnya dilakukan bersamaan antara pimpinan dengan stafnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari faktor penyebabnya, masalah yang dihadapi dapat berupa masalah yang jelas penyebabnya (structure problem) dan masalah yang tidak. jelas penyebabnya (unstructured problem). Masalah yang jelas penyebabnya, faktor penyebabnya jelas. bersifat rutin dan biasanya timbul berulang-ulang, sehingga pemecahannya dapat dilakukan dengan proses pengambilan keputusan yang bercorak rutin dan dibakukan. Proses pengambilan keputusannya pada dasarnya telah ditentukan langkah-langkah tertentu, relatif mudah untuk memperhitungkan hasil serta akibat-akibatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah yang tidak jelas penyebabnya yaitu masalah yang timbul sebagai kasus yang menyimpang dari masalah organisasl yang bersifat umum, faktor penyebabnya tidak jelas. Tehnik pengambilan keputusannya disebut non-programmed decision making technique, dimana diperlukan informasi tambahan, analisa, daya cipta, pertimbangan serta penilaian kasus.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>c.  Dimensi pengambilan keputusan </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengambilan keputusan antara lain juga diartikan sebagai suatu tehnik memecahkan suatu masalah dengan mempergunakan tehnik-tehnik ilmiah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ada 7 langkahyang perlu diambil dalam usaha memecahkan masalah dengan mempergunakan teknik-teknik ilmiah. Langkah-langkah itu adalah (Siagian SP, 1973) :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengetahui hakekat dari pada masalah yang dihadapi, dengan perkataan lain mendefinisikan masalah yang dihadapi itu dengan setepat-tepatnya;</li>
<li>Mengumpulkan fakta dan data yang relevant</li>
<li>Mengolah fakta dan data tersebut;</li>
<li>Menentukan beberapa alternatif yang mungkin ditempuh;</li>
<li>Memilih cara pemecahan dari alternatif-alternatif yang telah diolah dengan matang;</li>
<li>Memutuskan tindakan apa yang hendak dilakukan ;</li>
<li>Menilai hasil-hasil yang diperoleh sebagai akibat daripada keputusan yang telah diambil.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Ketujuh langkah tersebut seolah-olah mudah untuk diambil, akan tetapi dalam kenyataannya yang telah diuji melalui berbagai eksperimendan penelitian, pengambilan ketujuh langkah itu tidaklah mudah. Implikasinya ialah setiap pimpinan harus terus berusaha untuk meningkatkan kemampuannya mempergunakan tehnik-tehnik ilmiah dimaksud.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>d.   <em>Pengambilan keputusan yang dilakukan dan yang dapat diputuskan dalam MBS</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Uphoff yang dikutip oleh Tim Pokja MBS (2001:7) mengemukakan bahwa: Kerangka kerja merekontruksi peranserta mengandung tiga dimensi, yaitu konteks, tujuan dan lingkungan. Selanjutnya dihubungkan dengan pembangunan pendidikan negara berkembang. Perlu adanya pengembangan peningkatan peranserta masyarakat yang meliputi: Peranserta dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, memperoleh keuntungan dan dalam mengevaluasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tersebut menetapkan juga bahwa apabila otonomi daerah tingkat II belum mampu menangani bidang- bidang tertentu, maka bidang- bidang tersebut dapat diserahkan kepala daerah  tingkat I selanjutnya menurut Tilaar (2000: 176) bahwa dalam konteks otonomi daerah khususnya bidang pendidikan dampak positif ditetapkan otonomi daerah manajemen pendidikan nasional dalam negara kesatuan Republik Indonesia adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Mengembangkan kebudayaan lokal. Dengan demikian masalah pengisian  muatan lokal di daerah- daerah telah merupakan suatu keharusan yang perlu direncanakan, dipersiapkan dan dikembangkan.</li>
<li>Mengembangkan kebudayan nasional sebagai benteng pertahanan menjaring pengaruh- pengaruh kebudayaan global yang negatif dan identitas bangsa yang akan memperkuat ketahanan nasional.</li>
<li>Mengembangkan inisiatif untuk bereksperimen dan bersaing dalam mengembangkan mutu pendidikan nasional menghadapi persaingan global.</li>
<li>Meningkatkan peran masyarakat (swasta) untuk mengembangkan ciri khasnya sebagai sumbangan bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Secara khusus untuk jenis dan satuan pendidikandi Sekolah berdasarkan konsepsi otonomi daerah tersebut <em>School Based Management</em> atau manajemen Berbasis Sekolah dan <em>Community Based School </em>merupakan tuntutan untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Dengan demikian sekolah mandiri merupakan suatu bentuk pengelolaan sekolah pada era otonomi daerah sekarang. Dalam kaitannya akan kmandirian sekolah ini diperlukan nilai- nilai baru dan aturan- aturan baru dalam bidang pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditetapkannya otonomi daerah akan memberikan perubahan dan pengembangan tersendiri dalam segala bidang kehidupan masyarakat termasuk pendidikan. Perubahan dan pengembangan tersebut menurut N.A Amentembun (1994: 10) meliputi:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Perubahan Manajemen Sekolah</li>
<li>Sumber Daya Pendidikan dan</li>
<li>Peningkatan Mutu Pendidikan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Secara lebih jelasnya perubahan dan pengembangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. </strong><strong>Perubahan Manajemen Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari  para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>Sumber Daya Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengolaan sumber daya pendidikan gengan diberlakunya otonoi daerah jelas merupakan tanggung jawab sepenuhnya pihak sekolah yang bersangkutan, baik mengenai sumber pendapatan keuangan maupun pengelolaannya. Sebelum pelaksanaan otonomi dearah sumber daya pendidikan ditentukan oleh keputusan dan kebijakan dari pusat, sedangkan setelah otonomi daerah diberlakukuan pihak sekolah memiliki kekuasaan dan kewenangan sepenuhnya dalam pengambilan atas anggaran pendapatan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengembangan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah dalam rangka mencari dan menganalisis sumber daya pendidikan pada era otonomi pendidikan dengan menerapkan model ” Manajmen Berbasis Sekolah” tentunya adalah melalui pemanfaatan potensi yang ada pada masyarakat serta berkoloborasi dengan dunia masyarakat industri yang mau dan peduli terhadap kepentingan pendidikan. Oleh karena itu jelas bahwa keberhasilan sekolah dalam menerapkan model ” Manajemen Berbasis Sekolah” tergantung pada kemampuan sekolah untuk meningkatkan suatu kepedulian masyarakat akan arti penting pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. </strong><strong>Peningkatan Mutu Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan  diberlakukannya otonomi daerah,memungkinkan sekolah lebih bebas menentukan cara- cara atau strategi yang akan ditempuh dalam meningkatkan mutu pendidikan, tanpa harus menerima instruksi dari pusat terlebih dahulu. Hal- hal yang dianggap baik untuk meningkatkan mutu pendidikan segera dilakukan sesuai dengan tuntutan dan kemampuan sekolah, sehingga jika suatu kegiatan dianggap baik, maka pihak sekolah segera melakukannya tanpa haus menungguintruksi atau petunjuk dari pusat lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah yang telah dijabarkan ke dalam peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, memberikan kesempatan pada lembaga pendidikan untuk melaksanakan reformasi. Salah satu bentuk reformasi mengembangkan kemandirian sekolah, sehingga muncul sekolah mandiri, yaitu sekolah di mana kekuasaan ada pada pihak sekolah sendiri: Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif serta orang tua siswa. Untuk itu di dunia pendidikan diperlukan nilai- nilai dan aturan- aturan baru dintaranya pergeseran fungsi pemerintah dari <em>controling</em> ke <em>servising</em> yang menunjukkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengutamakan pelaksanaan tugas melalui sistem pengasan yang sangat ketat tetapi harus lebih bersikap memberikan pelayanan terhadap dunia pendidikan. Reformasi ini akan dapat berlangsung dan mencapai tujuan apabila ada dukungan partisipasi aktif dari kalangan orang tua siswa dan masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.   KOMITMEN  ORGANISASI</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>a.  Gambaran umum tentang komitmen</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Meyer dan Allen (1991) merumuskan tiga dimensi komitmen dalam berorganisasi, yaitu: affective, continuance, dan normative. Ketiga hal ini lebih tepat dinyatakan sebagai komponen atau dimensi dari komitmen berorganisasi, daripada jenis-jenis komitmen berorganisasi. Hal ini disebabkan hubungan anggota organisasi dengan organisasi mencerminkan perbedaan derajat ketiga dimensi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Affective commitment </em></p>
<p style="text-align:justify;">Affective commitment berkaitan dengan hubungan emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi. Anggota organisasi dengan affective commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena memang memiliki keinginan untuk itu (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Continuance commitment </em></p>
<p style="text-align:justify;">Continuance commitment berkaitan dengan kesadaran anggota organisasi akan mengalami kerugian jika meninggalkan organisasi. Anggota organisasi dengan continuance commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena mereka memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota organisasi tersebut (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Normative commitment </em></p>
<p style="text-align:justify;">Normative commitment menggambarkan perasaan keterikatan untuk terus berada dalam organisasi. Anggota organisasi dengan normative commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena merasa dirinya harus berada dalam organisasi tersebut (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>b. </em></strong><strong><em>pengertian</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada dua pendekatan dalam merumuskan definisi komitmen dalam berorganisasi. Yang pertama melibatkan usaha untuk mengilustrasikan bahwa komitmen dapat muncul dalam berbagai bentuk, maksudnya arti dari komitmen menjelaskan perbedaan hubungan antara anggota organisasi dan entitas lainnya (salah satunya organisasi itu sendiri). Yang kedua melibatkan usaha untuk memisahkan diantara berbagai entitas di mana individu berkembang menjadi memiliki komitmen. Kedua pendekatan ini tidak compatible namun dapat menjelaskan definisi dari komitmen, bagaimana proses perkembangannya dan bagaimana implikasinya terhadap individu dan organisasi (Meyer &amp; Allen, 1997). <strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum munculnya kedua pendekatan tersebut, ada suatu pendekatan lain yang lebih dahulu muncul dan lebih lama digunakan, yaitu pembedaan berdasarkan attitudinal commitment atau pendekatan berdasarkan sikap dan behavioral commitment atau pendekatan berdasarkan tingkah laku (Mowday, Porter, &amp; Steers, 1982; Reichers; Salancik; Scholl; Staw dalam Meyer &amp; Allen, 1997). Pembedaan yang lebih tradisional ini memiliki implikasi tidak hanya kepada definisi dan pengukuran komitmen, tapi juga pendekatan yang digunakan dalam berbagai penelitian perkembangan dan konsekuensi komitmen. Mowday et al. (Meyer &amp; Allen, 1997) menjelaskan kedua pendekatan itu sebagai berikut. Attitudinal commitment berfokus pada proses bagaimana seseorang mulai memikirkan mengenai hubungannya dalam organisasi atau menentukan sikapnya terhadap organisasi. Dengan kata lain hal ini dapat dianggap sebagai sebuah pola pikir di mana individu memikirkan sejauh mana nilai dan tujuannya sendiri sesuai dengan organisasi di mana ia berada. Sedangkan behavioral commitment berhubungan dengan proses di mana individu merasa terikat kepada organisasi tertentu dan bagaimana cara mereka mengatasi setiap masalah yang dihadapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian mengenai attitudinal commitment melibatkan pengukuran terhadap komitmen (sebagai sikap atau pola pikir), bersamaan dengan variable lain yang dianggap sebagai penyebab, atau konsekuensi dari komitmen (Buchanan &amp; Steers dalam Meyer &amp; Allen, 1997). Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa komitmen yang kuat menyebabkan terjadinya tingkah laku anggota organisasi sesuai dengan yang diharapkan (dari perspektif organisasi), seperti anggota organisasi jarang untuk tidak hadir dan perpindahan ke organisasi lain lebih rendah, dan produktivitas yang lebih tinggi. Tujuan yang kedua menunjukkan karakteristik individu dan situasi kondisi seperti apa yang mempengaruhi perkembangan komitmen berorganisasi yang tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam behavioral commitment anggota dipandang dapat menjadi berkomitmen kepada tingkah laku tertentu, daripada pada suatu entitas saja. Sikap atau tingkah laku yang berkembang adalah konsekuensi komitmen terhadap suatu tingkah laku. Contohnya anggota organisasi yang berkomitmen terhadap organisasinya, mungkin saja mengembangkan pola pandang yang lebih positif terhadap organisasinya, konsisten dengan tingkah lakunya untuk menghindari disonansi kognitif atau untuk mengembangkan self-perception yang positif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi yang seperti apa yang membuat individu memiliki komitmen terhadap organisasinya (Kiesler &amp; Salancik dalam Meyer &amp; Allen, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Komitmen dianggap sebagai psychological state, namun hal ini dapat berkembang secara retrospektif (sebagai justifikasi terhadap tingkah laku yang sedang berlangsung) sebagaimana diajukan pendekatan behavioral, sama seperti juga secara prospektif (berdasarkan persepsi dari kondisi saat ini atau di masa depan di dalam organisasi) sebagaimana dinyatakan dalam pendekatan attitudinal (Meyer &amp; Allen, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Meyer dan Allen (1991) merumuskan suatu definisi mengenai komitmen dalam berorganisasi sebagai suatu konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi. Berdasarkan definisi tersebut anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi dibandingkan anggota yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian dari Baron dan Greenberg (1990) menyatakan bahwa komitmen memiliki arti penerimaan yang kuat individu terhadap tujuan dan nilainilai perusahaan, di mana individu akan berusaha dan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di perusahaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan berbagai definisi mengenai komitmen terhadap organisasi maka dapat disimpulkan bahwa komitmen terhadap organisasi merefleksikan tiga dimensi utama, yaitu komitmen dipandang merefleksikan orientasi afektif terhadap organisasi, pertimbangan kerugian jika meninggalkan organisasi, dan beban moral untuk terus berada dalam organisasi (Meyer &amp; Allen, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>c.   Prilaku/sikap yang termasuk komitmen adalah:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Individu dengan affective commitment yang tinggi memiliki kedekatan emosional yang erat terhadap organisasi, hal ini berarti bahwa individu tersebut akan memiliki motivasi dan keinginan untuk berkontribusi secara berarti terhadap organisasi dibandingkan individu dengan affective commitment yang lebih rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan beberapa penelitian affective commitment memiliki hubungan yang sangat erat dengan seberapa sering seorang anggota tidak hadir atau absen dalam organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hasil penelitian dalam hal role-job performance, atau hasil pekerjaan yang dilakukan, individu dengan affective commitment akan bekerja lebih keras dan menunjukkan hasil pekerjaan yang lebih baik dibandingkan yang komitmennya lebih rendah. Kim dan Mauborgne (Allen &amp; Meyer, 1997) menyatakan individu dengan affective commitment tinggi akan lebih mendukung kebijakan perusahaan dibandingkan yang lebih rendah. Affective commitment memiliki hubungan yang erat dengan pengukuran self-reported dari keseluruhan hasil pekerjaan individu (e.g., Bycio, Hackett, &amp; Allen; Ingram, Lee, &amp; Skinner; Leong, Randall, &amp; Cote; Randal, Fedor, &amp; Longenecker; Sager &amp; Johnston dalam Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan penelitian yang didapat dari self-report tingkah laku (Allen &amp; Meyer; Meyer et al.; Pearce dalam Allen &amp; Meyer, 1997) dan assesment tingkah laku (e.g., Gregersen; Moorman et al.; Munene; Shore &amp; Wayne dalam Allen &amp; Meyer, 1997) karyawan dengan affective commitment yang tinggi memiliki tingkah laku organizational citizenship yang lebih tinggi daripada yang rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan penelitian Ghirschman (1970) dan Farrell (1983), Meyer et al. (1993) meneliti tiga respon ketidakpuasan, yaitu voice, loyalty, dan neglect. Dalam penelitian yang diadakan pada perawat, affective commitment ditemukan memiliki hubungan yang positif dengan keinginan untuk menyarankan suatu hal demi kemajuan (voice) dan menerima sesuatu hal sebagaimana adanya mereka (loyalty) dan berhubungan negatif dengan tendency untuk bertingkah laku pasif ataupun mengabaikan situasi yang tidak memuaskan (neglect).</p>
<p style="text-align:justify;">Individu dengan affective commitment yang tinggi cenderung untuk melakukan internal whistle-blowing (yaitu melaporkan kecurangan kepada bagian yang berwenang dalam perusahaan) dibandingkan external whistle-blowing (yaitu melaporkan kecurangan atau kesalahan perusahaan pada pihak yang berwenang).</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan beberapa penelitian affective commitment yang tinggi berkorelasi negatif dengan keadaan stress yang dialami anggota organisasi (Begley &amp; Czajka; Jamal; Ostroff &amp; Kozlowski; Reilly &amp; Orsak dalam Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Indikator Continuance commitment</p>
<p style="text-align:justify;">Individu dengan continuance commitment yang tinggi akan bertahan dalam organisasi, bukan karena alasan emosional, tapi karena adanya kesadaran dalam individu tersebut akan kerugian besar yang dialami jika meninggalkan organisasi. Berkaitan dengan hal ini, maka individu tersebut tidak dapat diharapkan untuk memiliki keinginan yang kuat untuk berkontribusi pada organisasi. Jika individu tersebut tetap bertahan dalam organisasi, maka pada tahap selanjutnya individu tersebut dapat merasakan putus asa dan frustasi yang dapat menyebabkan kinerja yang buruk. Meyer &amp; Allen (1991) menyatakan bahwa continuance commitment tidak berhubungan atau memiliki hubungan yang negatif pada kehadiran anggota organisasi atau indikator hasil pekerjaan selanjutnya, kecuali dalam kasus-kasus di mana job retention jelas sekali mempengaruhi hasil pekerjaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Individu dengan continuance commitment yang tinggi akan lebih bertahan dalam organisasi dibandingkan yang rendah (Allen &amp; Meyer, 1997). Continuance commitment tidak mempengaruhi beberapa hasil pengukuran kerja (Angle &amp; Lawson; Bycio et al.; Morrman et al. dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Berdasarkan beberapa penelitian continuance commitment tidak memiliki hubungan yang sangat erat dengan seberapa sering seorang anggota tidak hadir atau absen dalam organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Continuance commitment tidak berhubungan dengan tingkah laku organizational citizenship (Meyer et al., dalam Allen &amp; Meyer, 1997), sedangkan dalam penelitian lain, kedua hal ini memiliki hubungan yang negatif. Continuance commitment juga dianggap tidak berhubungan dengan tingkah laku altruism ataupun compliance, di mana kedua tingkah laku tersebut termasuk ke dalam organizational citizenship ataupun extra-role.</p>
<p style="text-align:justify;">Komitmen juga berhubungan dengan bagaimana anggota organisasi merespon ketidakpuasannya dengan kejadian-kejadian dalam pekerjaan (Allen &amp; Meyer, 1997). Continuance commitment tidak berhubungan dengan kecenderungan seorang anggota organisasi untuk mengembangkan suatu situasi yang tidak berhasil ataupun menerima suatu situasi apa adanya (Allen &amp; Meyer, 1997). Hal menarik lainnya, semakin besar continuance commitment seseorang, maka ia akan semakin bersikap pasif atau membiarkan saja keadaan yang tidak berjalan dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Indikator Normative commitment</p>
<p style="text-align:justify;">Individu dengan normative commitment yang tinggi akan tetap bertahan dalam organisasi karena merasa adanya suatu kewajiban atau tugas. Meyer &amp; Allen (1991) menyatakan bahwa perasaan semacam itu akan memotivasi individu untuk bertingkahlaku secara baik dan melakukan tindakan yang tepat bagi organisasi. Namun adanya normative commitment diharapkan memiliki hubungan yang positif dengan tingkah laku dalam pekerjaan, seperti job performance, work attendance, dan organizational citizenship. Normative commitment akan berdampak kuat pada suasana pekerjaan (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Hubungan antara normative commitment dengan ketidakhadiran seseorang jarang sekali mendapat perhatian. Normative commitment dianggap memiliki hubungan dengan tingkat ketidakhadiran dalam suatu penelitian (Meyer et al., dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Namun suatu penelitian lain menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kedua variable tersebut (Hackett et al.; Somers dalam Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedikit sekali penelitian yang mengukur normative commitment dan role-job performance. Berdasarkan hasil penelitian normative commitment berhubungan positif dengan pengukuran hasil kerja (Randall et al., dalam Allen &amp; Meyer, 1997) dan pengukuran laporan kerja dari keseluruhan pekerjaan (Ashfort &amp; Saks dalam Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Normative commitment memiliki hubungan dengan tingkah laku organizational citizenship (Allen &amp; Meyer, 1997). Walaupun demikian hubungan antara normative commitment dengan tingkah laku extra-role lebih lemah jika dibandingkan affective commitment.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan beberapa penelitian, sama seperti affective commitment, normative commitment yang tinggi berkorelasi negatif dengan keadaan stress anggota organisasi (Begley &amp; Czajka; Jamal; Ostroff &amp; Kozlowski; Reilly &amp; Orsak dalam Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hasil penelitian menunjukkan hubungan yang negatif antara komitmen terhadap organisasi dengan intensi untuk meninggalkan organisasi dan actual turnover (Allen &amp; Meyer; Mathieu &amp; Zajac; Tett &amp; Meyer dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Meskipun hubungan terbesar terdapat pada affective commitment, terdapat pula hubungan yang signifikan antara komitmen dan turnover variable diantara ketiga dimensi komitmen (Allen &amp; Meyer, 1997). Sebagian besar organisasi menginginkan anggota yang berkomitmen, dan tidak hanya bertahan dalam organisasi saja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>d.   Pengaruh visi, misi dan motivasi dalam komitmen </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen dalam berorganisasi karakteristik pribadi individu, karakteristik organisasi, dan pengalaman selama berorganisasi (Allen &amp; Meyer, 1997). Yang termasuk ke dalam karakteristik organisasi adalah struktur organisasi, desain kebijaksanaan dalam organisasi, dan bagaimana kebijaksanaan organisasi tersebut disosialisasikan. Karakteristik pribadi terbagi ke dalam dua variabel, yaitu variabel demografis; dan variabel disposisional. Variabel demografis mencakup gender, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan lamanya seseorang bekerja pada suatu organisasi. Dalam beberapa penelitian ditemukan adanya hubungan antara variabel demografis tersebut dan komitmen berorganisasi, namun ada pula beberapa penelitian yang menyatakan bahwa hubungan tersebut tidak terlalu kuat (Aven Parker, &amp; McEvoy; Mathieu &amp; Zajac dalam Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Variabel disposisional mencakup kepribadian dan nilai yang dimiliki anggota organisasi (Allen &amp; Meyer, 1997). Hal-hal lain yang tercakup ke dalam variabel disposisional ini adalah kebutuhan untuk berprestasi dan etos kerja yang baik (Buchanan dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Selain itu kebutuhan untuk berafiliasi dan persepsi individu mengenai kompetensinya sendiri juga tercakup ke dalam variabel ini. Variabel disposisional ini memiliki hubungan yang lebih kuat dengan komitmen berorganisasi, karena adanya perbedaan pengalaman masing-masing anggota dalam organisasi tersebut (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan pengalaman berorganisasi tercakup ke dalam kepuasan dan motivasi anggota organisasi selama berada dalam organisasi, perannya dalam organisasi tersebut, dan hubungan antara anggota organisasi dengan supervisor atau pemimpinnya (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>e.   Membangun komitmen prilaku organisasi pendidikan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Komitmen dalam berorganisasi dapat terbentuk karena adanya beberapa faktor, baik dari organisasi, maupun dari individu sendiri. Dalam perkembangannya affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment , masing-masing memiliki pola perkembangan tersendiri (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Proses terbentuknya Affective commitment </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa penelitian mengenai antecedents dari affective commitment. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan tiga kategori besar. Ketiga kategori tersebut yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Karakterisitik Organisasi. Karakteristik organisasi yang mempengaruhi perkembangan affective commitment adalah sistem desentralisasi (bateman &amp; Strasser, 1984; Morris &amp; Steers, 1980), adanya kebijakan organisasi yang adil, dan cara menyampaikan kebijakan organisasi kepada individu (Allen &amp; Meyer, 1997). Dalam penelitian ini karakteristik organisasi gereja yang dilihat adalah aliran gereja yang digunakan, bagaimana praktek kelompok sel dalam gereja tersebut dan bagaimana kedudukan kelompok sel sebagai strategi gereja.</li>
<li>Karakteristik Individu. Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa gender mempengaruhi affective commitment, namun ada pula yang menyatakan tidak demikian (Aven, Parker, &amp; McEvoy; Mathieu &amp;Zajac dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Selain itu usia juga mempengaruhi proses terbentuknya affective commitment, meskipun tergantung dari beberapa kondisi individu sendiri (Allen &amp; Meyer, 1993), organizational tenure (Cohen; Mathieu &amp; Zajac dalam Allen &amp; Meyer, 1997), status pernikahan, tingkat pendidikan, kebutuhan untuk berprestasi, etos kerja, dan persepsi individu mengenai kompetensinya (Allen &amp; Meyer, 1997)</li>
<li>Pengalaman Kerja. Pengalaman kerja individu yang mempengaruhi proses terbentuknya affective commitment antara lain Job scope, yaitu beberapa karakteristik yang menunjukkan kepuasan dan motivasi individu (Hackman &amp; Oldham, 1980 dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Hal ini mencakup tantangan dalam pekerjaan, tingkat otonomi individu, dan variasi kemampuan yang digunakan individu. Selain itu peran individu dalam organisasi tersebut (Mathieu &amp; Zajac, 1990 dalam Allen &amp; Meyer, 1997) dan hubungannya dengan atasan. Pengalaman berorganisasi individu didapatkan dari pelayanan yang dilakukannya dalam gereja tersebut dan juga interaksinya dengan anggota gereja lain seperti pemimpinnya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em>Proses terbentuknya Continuance commitment </em></p>
<p style="text-align:justify;">Continuance commitment dapat berkembang karena adanya berbagai tindakan atau kejadian yang dapat meningkatkan kerugian jika meninggalkan organisasi. Beberapa tindakan atau kejadian ini dapat dibagi ke dalam dua variable, yaitu investasi dan alternatif. Selain itu proses pertimbangan juga dapat mempengaruhi individu (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Investasi termasuk sesuatu yang berharga, termasuk waktu, usaha ataupun uang, yang harus individu lepaskan jika meninggalkan organisasi. Sedangkan alternatif adalah kemungkinan untuk masuk ke organisasi lain. Proses pertimbangan adalah saat di mana individu mencapai kesadaran akan investasi dan alternatif, dan bagaimana dampaknya bagi mereka sendiri (Allen &amp; Meyer, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Investasi dan alternatif yang dialami individu dalam organisasi gereja berbeda dengan organisasi lain. Investasi dan alternatif yang terjadi lebih terkait dengan kegiatan-kegiatan khas gereja dibandingkan keuntungan materi atau kedudukan yang bisa didapat dari organisasi profit biasa.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Proses terbentuknya Normative commitment </em></p>
<p style="text-align:justify;">Wiener (Allen &amp; Meyer, 1997) menyatakan normative commitment terhadap organisasi dapat berkembang dari sejumlah tekanan yang dirasakan individu selama proses sosialisasi (dari keluarga atau budaya) dan selama sosialisasi saat individu baru masuk ke dalam organisasi. Selain itu normative commitment juga berkembang karena organisasi memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi individu yang tidak dapat dibalas kembali (Allen &amp; Meyer; Scholl dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Faktor lainnya adalah adanya kontrak psikologis antara anggota dengan organisasinya (Argyris; Rousseau; Schein dalam Allen &amp; Meyer, 1997). Kontrak psikologis adalah kepercayaan dari masing-masing pihak bahwa masing-masing akan timbal balik memberi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.  MORAL DAN ETIK</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>a.  Makna konseptual tentang moral dan etik </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Etika itu sendiri merupakan salah satu disiplin pokok dalam filsafat, ia merefleksikan bagaimana manusia harus hidup agar berhasil menjadi sebagai manusia (Franz Magnis-Suseno :1999)</p>
<p style="text-align:justify;">Etika (ethics) yang berasal dari bahasa Yunani ethikos mempunyai beragam arti : petama, sebagai analisis konsep-konsep mengenai apa yang harus, mesti, ugas, aturan-aturan moral, benar, salah, wajib, tanggung jawab dan lain-lain. Kedua, pencairan ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral. Ketiga, pencairan kehidupan yang baik secara moral (Tim Penulis Rasda Karya : 1995)</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut K. Bertens dalam buku Etika, merumuskan pengertian etika kepada tiga pengertian juga; Pertama, etika digunakan dalam pengertian nilai-niai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kedua, etika dalam pengertian kumpulan asas atau nilai-nilai moral atau kode etik. Ketiga, etika sebagai ilmu tentang baik dan buruk</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Ahmad Amin memberikan batasan bahwa etika atau akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti yang baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah tentang moral dan  etika dalam pelayanan publik di Indonesia  dibahas secara luas dan tuntas sebagaimana terdapat di negara maju, meskipun telah disadari bahwa salah satu kelemahan dasar dalam pelayanan publik di Indonesia adalah masalah moralitas. Etika sering dilihat sebagai elemen yang kurang berkaitan dengan dunia pelayanan publik. Padahal, dalam literatur tentang pelayanan publik, etika merupakan salah satu elemen yang sangat menentukan kepuasan publik yang dilayani sekaligus keberhasilan organisasi pelayanan publik itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Elemen ini harus diperhatikan dalam setiap fase pelayanan publik mulai dari penyusunan kebijakan pelayanan, desain struktur organisasi pelayanan, sampai pada manajemen pelayanan untuk mencapai tujuan akhir dari pelayanan tersebut. Dalam konteks ini, pusat perhatian ditujukan kepada aktor yang terlibat dalam setiap fase, termasuk kepentingan aktor-aktor tersebut – apakah para aktor telah benar-benar mengutamakan kepentingan publik diatas kepentingan-kepentingan yang lain. Misalnya, dengan menggunakan nilai-nilai moral yang berlaku umum (six great ideas) seperti nilai kebenaran (truth), kebaikan (goodness), kebebasan (liberty), kesetaraan (equality), dan keadilan (justice), kita dapat menilai apakah para aktor tersebut jujur atau tidak dalam penyusunan kebijakan, adil atau tidak adil dalam menempatkan orang dalam unit dan jabatan yang tersedia, dan bohong atau tidak dalam melaporkan hasil manajemen pelayanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pelayanan publik, perbuatan melanggar moral atau etika sulit ditelusuri dan dipersoalkan karena adanya kebiasaan masyarakat kita melarang orang “membuka rahasia” atau mengancam mereka yang mengadu. Sementara itu, kita juga menghadapi tantangan ke depan semakin berat karena standard penilaian etika pelayanan terus berubah sesuai perkembangan paradigmanya. Dan secara substantif, kita juga tidak mudah mencapai kedewasaan dan otonomi beretika karena penuh dengan dilema. Karena itu, dapat dipastikan bahwa pelanggaran moral atau etika dalam pelayanan publik di Indonesia akan terus meningkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep  Moral Dan Etika Pelayanan Publik</p>
<p style="text-align:justify;">Bertens (2000) menggambarkan konsep etika dengan beberapa arti, salah satu diantaranya dan biasa digunakan orang adalah kebiasaan, adat atau akhlak dan watak. Filsuf besar Aristoteles, kata Bertens, telah menggunakan kata etika ini dalam menggambarkan filsafat moral, yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Bertens juga mengatakan bahwa di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, karangan Purwadarminta, etika dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral), sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), istilah etika disebut sebagai (1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral; (2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; dan (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memperhatikan beberapa sumber diatas, Bertens berkesimpulan bahwa ada tiga arti penting etika, yaitu (1) etika sebagai nilai-nilai moral dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, atau disebut dengan “sistim nilai”; (2) etika sebagai kumpulan asas atau nilai moral yang sering dikenal dengan “kode etik”; dan (3) sebagai ilmu tentang yang baik atau buruk, yang acapkali disebut “filsafat moral”. Pendapat seperti ini mirip dengan pendapat yang ditulis dalam The Encyclopedia of Philosophy yang menggunakan etika sebagai (1) way of life; (2) moral code atau rules of conduct, (Denhardt, 1988).</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu uraian menarik dari Bertens (2000) adalah tentang pembedaan atas konsep etika dari konsep etiket. Etika lebih menggambarkan norma tentang perbuatan itu sendiri – yaitu apakah suatu perbuatan boleh atau tidak boleh dilakukan, misalnya mengambil barang milik orang tanpa ijin tidak pernah diperbolehkan. Sementara etiket menggambarkan cara suatu perbuatan itu dilakukan manusia, dan berlaku hanya dalam pergaulan atau berinteraksi dengan orang lain, dan cenderung berlaku dalam kalangan tertentu saja, misalnya memberi sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri merupakan cara yang kurang sopan menurut kebudayaan tertentu, tapi tidak ada persoalan bagi kebudayaan lain. Karena itu etiket lebih bersifat relatif, dan cenderung mengutamakan simbol lahiriah, bila dibandingkan dengan etika yang cenderung berlaku universal dan menggambarkan sungguh-sungguh sikap bathin.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>b.   prinsip yang yang dipedomani anggota organisasi </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">(J.J.W. Neuner dan L.B. Keeling, Modern Office Management, D.B. Taraporevala Sons &amp; Co., Private Ltd, Bombay, 1970,hh,45-49) menyatakan ada delapan prinsip organisasi perkantoran yang esensial meliputi:</p>
<p style="text-align:justify;">1        Prinsip tujuan</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan organisasi perkantoran atau kelompok fungsi dalam organisasi perkantoran mesti dirumuskan dan dimengerti oleh setiap personalis. Tujuan yang dimengerti akan berubah menjadi mitivasi untuk mencapainya.</p>
<p style="text-align:justify;">2        Prinsip kesatuan fungsi</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap organisasi perkantoran terdiri atas sejumlah fungsi yang mesti bekerja sama untuk mencapai tujuan utama organisasi perkantoran itu. Organisasi perkantoran merupakan suatu system yang terdiri atas sejumlah fungsi yang saling berhubungan dengan saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">3        Prinsip hubungan individual</p>
<p style="text-align:justify;">Organisasi perkantoran yang efektif terbentuk oleh pribadi-pribadi yang mesti melaksanakan pekerjaan. Kendatipun organisasi perkantoran itu merupakan sebuah system, namun individu-individulah yang menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">4        Prinsip kesederhanaan</p>
<p style="text-align:justify;">Organisasi perkantoran yang efektif bekerja berdasarkan atas kesederhanaan dan interelasi yang jelas. Kesederhanaan memudahkan para pelaksana untuk memahaminya, sedangkan interelasi yang jelas mengurangi keraguan.</p>
<p style="text-align:justify;">5        Prinsip wewenang sepadan dengan tanggung jawab</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap orang dalam organisasi perkantoran mesti diberi wewenang yang sesuai dengan tugas tanggung jawabnya sehingga ia dapat bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Prinsip laporan kepada atasan tunggal</p>
<p style="text-align:justify;">Agar tiap personalia mengetahui dengan jelas kepada siapa ia melapor, maka tiap petugas dalm organisasi perkantoran tersebut harus menerima perintah dari dan bertanggung jawab hanya kepada satu orang atasan.</p>
<p style="text-align:justify;">7.   Prinsip kepengawasan dan kepemimpinan</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemimpinan dan pengawasan yang efektif mesti ditegakan sehingga tujuan organisasi perkantoran itu dapat tercapai. Pengawasan yang efektif akan mencegah perubahan arah dalam mencapai tujuan. Sementara itu, pengawasan yang efektif pun merupakan proses belajar bagi organisasi di waktu yang akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">8.   Prinsip jangkauan pengawasan</p>
<p style="text-align:justify;">Agar pengawasan dan kepemimpinan dalam organisasi perkantoran efektif, jangkauan pengawasan di bawah pengawasan langsung dari seorang menejer kantor atau seorang pengawas seyogyanya dibatasi, semakin jauh pengawasan menejer kantor semakin besar kemungkinan menurunnya pertambahan kemampuan pengawasan. Gejala ini melahirkan apa yang disebut hukum semakin berkurangnya tambahan kemampuan pengawasan. Pada awalnya tambahan kemampuan pengawasan itu akan meningkat sampai mencapai titik optimum pengawasan. Setelah itu tambahan kemampuan pengawasan tersebut akan semakin berkurang, hingga akhirnya mencapai titik 0 (bahkan negatif atau kekecauan pengawasan).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>DAFTAR PUSTAKA </strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Robert J. Thie Rauf, Effective Management Information Systems, E. Merril Publishing Co, Ohio, USA, 1984</p>
<p style="text-align:justify;">2. Robert Albanese, David D. Van Fleet, Organizational Behavior: A Managerial Viewpoint, Dryden Press, Texas, 1984.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Heidjrachman Ranupandojo, Suad Husnan, Manajemen Personalia, BPFE, Yogyakarta, 1996.</p>
<p style="text-align:justify;">4. M. Manulang, Manajemen Personalia, Ghalia Indonesia, 1990.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Saul. W. Gellerman, Manajer dan bawahan, Seri Manajemen No 83, Lembaga Pendidikan dan Pembinaan</p>
<p style="text-align:justify;">Manajemen, (LPPM), 1983.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Winardi, Manajemen Personalia, Abardin, Bandung, 1990.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Miftah Thoha, Kepemimpinan Dalam Manajemen, CV. Rajawali, Jakarta, 1985.</p>
<p style="text-align:justify;">8. James. L. Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donnely, organisasi dan Manajemen, Erlangga, Jakarta, 1994.</p>
<p style="text-align:justify;">©</p>
<p style="text-align:justify;">Campbell, Roald F. et. al., 1988. Pengenalan Pentadbiran Pendidikan (Terjemahan), Selangor: Universiti Pertanian Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">Mathieu, J. E., &amp; Zajac, D.M. (1990) A review and meta analysis of the antecedents, correlates, consequences of organizational commitment. Psychological bulletin. 108, 171-194.</p>
<p style="text-align:justify;">Meyer, J. P., &amp; Allen, N. J. (1997). <em>Commitment in the worplace theory research and application</em>. California: Sage Publications.</p>
<p style="text-align:justify;">Mowday, R. T., Porter, L. W., &amp; Steeras, R. (1982). <em>Organizational linkages : the psychology of commitment, absenteeism, and turnover</em>. San Diego, California : Academic Press.</p>
<p style="text-align:justify;">Robbins, S. P. (2003). <em>Organizational behavior</em> (10<sup>th </sup>ed). New Jersey : Prentice Hall.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibrahim Mamat, 1993. Kepimpinan Sekolah: Teori dan Praktis, Kuala Lumpur: Pencetakan Season.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepimpinan. (Online) 12 Ogos 2006, http//www.teacherrock.net.</p>
<p style="text-align:justify;">Misteri kuasa karisma. (Online) 12 Ogos 2006, http// www.pts.com.my .</p>
<p style="text-align:justify;">M. Ngalim Purwanto dan Sutaadji Djojopranoto, 1975. Administrasi Pendidikan, Jakarta: Penerbit Mutiara.</p>
<p style="text-align:justify;">Punca-punca Utama Kuasa Dalam Organisasi dan Kaedah-kaedah Untuk Mendapatkan Kuasa. (Online) 12 Ogos 2006, http// www.myschoolnet.ppk.kpm.my.</p>
<p style="text-align:justify;">Power Defined by Ratzburg, Wilf H. (Online) 12 0gos 2006, http://www.geocities.com/</p>
<p style="text-align:justify;">athens/forum/1650/htmlpower.</p>
<p style="text-align:justify;">Zaidatol Akmaliah Lope Pihie dan Foo Say Fooi, 2003. Pengurusan dan Kepimpinan Pendidikan Satu Langkah Ke Hadapan, Selangor: Universiti Putra Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertens, K. 2000. Etika. Seri Filsafat Atma Jaya: 15. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.<br />
Denhardt, Kathryn G. 1988. The ethics of Public Service. Westport, Connecticut: Greenwood Press.<br />
Henry, Nicholas. 1995. Public Administration and Public Affairs. Sixth Edition. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall International, Inc.<br />
Perry, James L. 1989. Handbook of Public Administration. San Fransisca, CA: Jossey- Bass Limited.<br />
Shafritz, Jay.M. dan E.W.Russell. 1997. Introducing Public Administration. New York, N.Y.: Longman.http://budiutomo79.blogspot.com/2007/11/etika-dalam-pelayanan-publik.html</p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.com <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/360/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=360&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/23/kepemimpinan-yang-kesatria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISRA&#8217; MI&#8217;RAJ SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/isra-miraj-sman-1-lhoong/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/isra-miraj-sman-1-lhoong/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 15:36:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[THANKS TO: ALLAH AND REKAN2 YANG TELAH MEMBANTU TERLAKSANANYA ACARA INI. ALHAMDULLILLAH PELAKSANAAN LANCAR DAN TERTIB SESUAI YANG DIRENCANAKAN. Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=341&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_357" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a rel="attachment wp-att-357" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/isra-miraj-sman-1-lhoong/img_4412/"><img class="size-full wp-image-357" title="IMG_4412" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/08/img_4412.jpg?w=510&#038;h=382" alt="ISRA' MI'RAJ" width="510" height="382" /></a><p class="wp-caption-text">ISRA&#39; MI&#39;RAJ</p></div>
<p>THANKS TO:</p>
<p style="text-align:center;"><strong>ALLAH AND REKAN2 YANG TELAH MEMBANTU TERLAKSANANYA ACARA INI. </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>ALHAMDULLILLAH PELAKSANAAN LANCAR DAN TERTIB SESUAI YANG DIRENCANAKAN.</strong></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/341/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=341&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/isra-miraj-sman-1-lhoong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/08/img_4412.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_4412</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METODOLOGI PENELITIAN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/metodologi-pendidikan/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/metodologi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 15:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[1. Berdasarkan sifat masalah, rancangan penelitian dapat digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu: Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=338&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>1. </em></strong><strong><em>Berdasarkan sifat masalah, rancangan penelitian dapat digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penelitian historis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penelitian deskriptif</strong></p>
<p style="text-align:justify;">penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.</p>
<p style="text-align:justify;">Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penelitian Eksperimen</strong></p>
<p style="text-align:justify;">merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Rancangan Penelitian Eksperimen </em></p>
<p style="text-align:justify;">Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Rancangan Pra-Eksperimental</em></p>
<p style="text-align:justify;">Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)</p>
<p style="text-align:justify;">b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)</p>
<p style="text-align:justify;">c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Karakteristik Penelitian Eksperimen</em></p>
<p style="text-align:justify;">Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Rancangan Eksperimen Sungguhan</em></p>
<p style="text-align:justify;">Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">a)      Adanya kelompok kontrol.</p>
<p style="text-align:justify;">b)      Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">c)      Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest only control group design)</li>
<li>Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (therandomized pretest-posttest control group design)</li>
<li>Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)</li>
<li>Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)</li>
<li>Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>Rancangan Eksperimen Semu </em></p>
<p style="text-align:justify;">Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (therandomized posttest – only control group design, using matched subject).</li>
<li>Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),</li>
<li>Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter balanced, using matched subject) .</li>
<li>Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)</li>
<li>Rancangan faktorial (factorial design).</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.</li>
<li>Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.</li>
<li>Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.</li>
<li>Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
<ol>
<li>Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;</li>
<li>menentukan cara mengontrol;</li>
<li>memilih rancangan penelitian yang tepat;</li>
<li>menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;</li>
<li>membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;</li>
<li>membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;</li>
<li>mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.</li>
<li>Melaksanakan eksperimen.</li>
<li>Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.</li>
<li>Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.</li>
<li>Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.</li>
<li>Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Studi  kasus dan Penelitian lapangan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">kekhususan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ø Subjek yang diteliti terdiri dari suatu kesatuan ( unit ) secara mendalam, sehingga hasilnya merupakan gambaran lengkap atau kasus pada unit itu. Kasus bisa terbatas pada satu orang saja, satu keluarga, satu daerah, satu peristiwa atau suatu kelompok terbatas lain.</li>
<li>Ø Selain penelitian hanya pada suatu unit, ubahan-ubahan yang diteliti juga terbatas, dari ubahan-ubahan dan kondisi-kondisi yang lebih besar jumlahnya, yang terpusat pada spek yang menjadi kasus. Biasanya penelitian ini dengan cara longitudinal.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Penelitian Korelasional</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian korelasional bertujuan melihat hubungan antara dua gejala atau lebih.misalnya, apakah ada hubungan antara status sosial orang tua siswa dengan prestasi anak mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Penelitian Kausal-Komparatif</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya : sikap santai siswa dalam kegiatan belajar mungkin disebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekhususan</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pengumpulan data mengenai gejala yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat itu dilakukan setelah peristiwa yang dipermasalahkan itu telah terjadi ( penelitian bersifat <em>ex post facto </em>).</li>
<li>Suatu gejala yang diamati, diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Penelitian Tindakan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru untuk mengatasi kebutuhan dalam dunia kerja atau kebutuhan praktis lain. Misalnya, meneliti keterampilan kerja yang sesuai bagi siswa putus sekolah di suatu daerah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p><strong><em>2. </em></strong><strong><em>Perbedaan pendekatan kuantitatif dan kualitatif adalah:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perbedaan Paradigma Kuantitatif-Kualitatif</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bertolak dari perbedaan-perbedaan disebut, dapat dicatat berbagai perbedaan paradigma yang cukup signifikan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Seperti dikemukakan sebelumnya, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigmatik dengan penelitian kualitatif. Secara garis besar, perbedaan dimaksud mencakup beberapa hal:</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang analisisnya secara umum memakai analisis statistik. Penelitian kuantitatif dikembangkan oleh penganut positivisme yang dipelopori oleh Auguste Conte. Aliran ini berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu sosial, maka metode-metode IPA harus diadopsi ke dalam  riset-riset ilmu sosial (Harahap, 1992).</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti yang  kemudian menghasilkan data kuantitatif.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berbeda dengan penelitian kualitatif yang menekankan pada studi kasus, penelitian kuantitatif bermuara pada survey.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Richard dan Cook (dalam Abdullah Fajar, 1992) mengemukakan perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="282" valign="top"><strong>PARADIGMA KUALITATIF</strong></td>
<td width="282" valign="top"><strong>PARADIGMA KUANTITATIF</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="282" valign="top">Menganjurkan pemakaian   metode kualitatifBersandar pada   fenomenologisme dan verstehen; perhatian tertuju pada <em>pemahaman </em>tingkah   laku manusia dari sudut pandangan pelaku itu sendiri.</p>
<p>Pengamatan   berlangsung secara alamiah (<em>naturalistic)</em> dan tidak dikendalikan <em>(uncontrolled)</em></p>
<p>Bersifat   subyektif</p>
<p>Dekat dengan   data; bertolak dari perspektif dari “dalam” individu atau masyarakat yang   diteliti.</p>
<p>Penelitian   bersifat mendasar <em>(grouned)</em>, ditujukan pada penemuan <em>(discovery-oriented)</em>,   menekankan pada perluasan <em>(expansionist)</em>, bersifat deskriptif, dan   induktif.</p>
<p>Berorientasi   pada proses</p>
<p>Valid; data   bersifat ‘mendalam’, ‘kaya’, dan ‘nyata.</p>
<p>Tidak dapat   digeneralisasikan; studi di atas kasus tunggal</p>
<p>Bersifat   holistic</p>
<p>Mengasumsikan   adanya realitas yang bersifat dinamik</td>
<td width="282" valign="top">Menganjurkan pemakaian   metode-metode kuantitatif.Bersandar pada   positivisme logika; mencari <em>fakta-fakta </em>dan sebab-sebab dari gejala   sosial dengan mengesampingkan keadaan individu-individu.</p>
<p>Pengamatan   ditandasi pengukuran yang dikendalikan dan blak-blakan (<em>obtrusive)</em></p>
<p>Bersifat   obyektif</p>
<p>Jauh dari   data; bertolak dari sudut pandangan dari “luar”</p>
<p>Penelitian   bersifat tidak mendasar <em>(ungrouned)</em>, ditujukan pada pengujian <em>(verification-oriented)</em>,   menekankan penegasan <em>(confirmatory)</em>, reduksionis,</p>
<p>inferensial,   deduktif-hipotetik.</p>
<p>Berorientasi   pada hasil</p>
<p>Reliabel; data   ‘keras’ dan dapat diulangDapat digeneralisasikan; studi atas banyak kasus</p>
<p>Bersifat   partikularistik</p>
<p>Mengasumsikan   adanya realitas yang stabil</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>3. </em></strong><strong><em>Dua macam kesalahan dalam pengujian hipotesis adalah:</em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengujian Hipotesis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata <em>hupo </em>dan <em>thesis</em>. <em>Hupo </em>artinya sementara, atau kurang kebenarannya atau masih lemah kebenarannya. Sedangkan <em>thesis </em>artinya pernyataan atau teori. Karena hipotesis adalah pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya, sehingga istilah <em>hipotesis</em> ialah pernyataan sementara yang perlu diuji kebenarannya. Untuk menguji kebenaran sebuah hipotesis digunakan pengujian yang disebut <em>pengujian</em> <em>hipotesis </em>atau <em>pengetesan hipotesis </em>(testing hypothesis). Pengujian hipotesis akan membawa kepada kesimpulan untuk menolak atau menerima hipotesis. Dengan demikian kita dihadapkan pada dua pilihan. Agar pemilihan kita lebih rinci dan mudah, maka diperlukan hipotesis alternatif selanjutnya disingkat H1 dan hipotesis nol yang selanjutnya disingkat Ho. H1 disebut sebagai <em>hipotesis kerja </em>atau <em>hipotesis penelitian</em> (research hypothesis). H1 adalah lawan atau tandingan dari Ho. Dalam pengujian hipotesis akan terjadi dua macam kesalahan, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kesalahan tipe 1 yaitu menolak hipotesis yang seharusnya tidak ditolak.</li>
<li>Kesalahan tipe 2 yaitu tidak menolak hipotesis yang seharusnya ditolak.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Hubungan antara hipotesis, kesimpulan dan tipe kesalahan dapat digambarkan seperti tabel di bawah ini :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ho benar Ho salah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menerima Ho benar Kesalahan 1</p>
<p style="text-align:justify;">Menolak Ho Kesalahan 2 benar</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika merencanakan pengujian hipotesis, kedua tipe kesalahan tesebut hendaklah dibuat sekecil mungkin. Kedua tipe kesalahan tersebut dinyatakan dalam peluang. Peluang ini juga sekaligus merupakan besarnya resiko kesalahan yang ingin kita hadapi. Peluang membuat kesalahan tipe 1 biasanya dinyatakan dengan α. Dan peluang membuat kesalahan tipe 2</p>
<p style="text-align:justify;">Tugas Statistik biasanya dinyatakan dengan β. α disebut juga <em>taraf signifikansi, taraf arti,</em> <em>taraf nyata </em>atau <em>probability = p, taraf kesalahan </em>dan <em>taraf kekeliruan</em>. Pengujian hipotesis ada tiga macam, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Uji Eka Arah, yaitu pihak kanan</li>
<li>Uji Eka Arah, yaitu pihak kiri</li>
<li>Uji Dwi Arah</li>
<li></li>
<li><strong><em>4. </em></strong><strong>10 FENOMENA YANG BERKAITAN DENGAN PROFESI BIMBINGAN KONSELING ADALAH:</strong><br />
<strong><em> </em></strong></p>
<ol>
<li>Mengganggu teman pada saat proses belajar mengajar<em> </em></li>
<li>Bolos jam pelajaran<em> </em></li>
<li>Mencontek<em> </em></li>
<li>Tidak focus atau konsentrasi pada materi belajar<em> </em></li>
<li>Kurang disiplin terhadap peraturan sekolah<em> </em></li>
<li>Tidak mengerjakan pekerjaan rumah<em> </em></li>
<li>Keluar masuk kelas pada saat PBM</li>
<li>Sering terlambat<em> </em></li>
<li>Berkelahi dengan teman</li>
<li>Melawan guru<em> </em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KORELASI </strong><span style="color:#000000;"><a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008_07_01_archive.html#main">skip to main </a>| <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008_07_01_archive.html#sidebar">skip to sidebar</a> <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/">KEBIJAKAN SISTEM PENDIDIKAN</a> DENGAN <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008/07/program-implementasi-pbkl.html">PROGRAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL (PBKL)</a></span><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Latar Belakang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menetapkan Visi pendidikan nasional dalam mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Untuk mewujudkan visi tersebut, misi Departemen Pendidikan Nasional adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional; (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global; (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; (6) meningkatkan profesionalas dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan Visi dan Misi Depdiknas tersebut di atas, maka sebagai acuan dasar dalam rangka pengembangan Rencana Strategis Pengembangan dan Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah 2005–2009, Ditjen. Manajemen Dikdasmen merumuskan Visi dan Misi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">Visi Ditjen. Manajemen Dikdasmen adalah: ”Mewujudkan pendidikan bermutu untuk kehidupan yang cerdas atas dasar kepribadian dan akhlak mulia bagi seluruh anak bangsa”. Dari visi dimaksud, kemudian disusun misi Ditjen Manajemen Dikdasmen yang meliputi:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>meningkatkan akses masyarakat untuk pendidikan dasar dan menengah,</li>
<li>membantu/membimbing satuan pendidikan di jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk memberikan pelayanan pendidikan bermutu,</li>
<li>menjalin kerjasama yang efektif dan produktif dengan pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengembangan dan pembinaan pendidikan dasar dan menengah yang bermutu,</li>
<li>membantu pemerintah daerah menyediakan sarana dan prasarana belajar pendidikan bermutu,</li>
<li>melakukan inovasi dalam mengembangkan sistem penyelenggaraan pendidikan bermutu dan akuntabel,</li>
<li>merintis pengembangan lingkungan sekolah sebagai pusat pengembangan budaya (<em>a centre for cultural development</em>),</li>
<li>mengembangkan sistem pelayanan khusus untuk peserta yang berada dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan kondisi geografis khusus.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Direktorat Pembinaan SMA sebagai bagian intergral dari Ditjen. Manajemen Dikdasmen, dituntut untuk dapat berperan aktif dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional tersebut di atas, sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No. 14/2005, yang dinyatakan bahwa Direktorat Pembinaan SMA mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi di bidang pembinaan sekolah menengah atas, maka salah satu program yang telah dilaksanakan sejak pada tahun 2007 adalah mengembangkan program Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yang tercantum dalam UU RI No. 20 Th. 2003 Bab XIV Ps. 50 ayat (5) dinyatakan bahwa, Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Hal ini didukung pula oleh prinsip penyelenggaraan pendidikan seperti yang tercantum pada UU RI No. 20 Th. 2003 Bab III Ps. 4 ayat (1), yang menyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Kemudian pada Bab X Ps. 36 ayat (2) yang dinyatakan Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik, dan pada ayat (3) menyatakan Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Indonesia dengan memperhatikan: a) peningkatan iman dan takwa; b) peningkatan ahlak mulia; c) penigkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; f) tuntutan dunia kerja; g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; h) agama; i) dinamika perkembangan global; dan j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Kebijakan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal juga ditekankan pada PP RI No. 19 Tahun 2005 Ps. 14 ayat (1), (2), dan (3).</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan dan potensi daerah dalam penyelenggaraan pendidikan, Direktorat Pembinaan SMA telah melaksanakan berbagai program dan kegiatan diantaranya program pengembangan Pendidikan Berbasis Luas (<em>Broad Based Education/BBE</em>) kecakapan hidup <em>Life Skill/LS)</em> di sejumlah SMA yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan 2004, dan pada tahun 2006 melaksanakan rintisan Pengembangan Sekolah Berwawasan Keunggulan Lokal Kelautan di 100 SMA, yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan Departemen Kelautan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan pengembangan program BBE<em>- </em>Life Skill dan Sekolah Berwawasan Keunggulan Lokal Kelautan tersebut di atas, menunjukkan hasil yang belum optimal dan tidak berkesinambungan. Hal tersebut disebabkan karena kedua program tersebut pembelajarannya. Hal ini disebabkan karena program tersebut pembelajarannya bukan menjadi bagian dari struktur kurikulum.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengacu pada Standar Isi khususnya struktur kurikulum, Direktorat Pembinaan SMA menetapkan kebijakan pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dilaksanakan secara terintegrasi pada mata pelajaran yang relevan, muatan lokal dan mata pelajaran keterampilan sebagai bagian integral dari keseluruhan proses penyelenggaraan pendidikan pada SMA. Hal dimaksud sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada BAB III tentang Standar Isi pasal 14 ayat (1) yang dinyatakan bahwa untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal; dan ayat (2) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat merupakan bagian dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan kelompok matapelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan kelompok mata pelajaran estetika atau kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani,olah raga dan kesehatan; dan ayat (3) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu, diperlukan adanya Program Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) yang diselenggarakan secara komprehensif dan berkelanjutan. Program ini merupakan salah satu upaya memberikan kesempatan kepada sekolah untuk membekali peserta didik berkaitan dengan pengetahuan dan sikap menghargai sumberdaya dan potensi yang ada di lingkungan setempat, serta mampu menggali dan memanfaatkannya untuk dapat digunakan sebagai bekal kehidupan yang akan dijalaninya di masa yang akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebijakan Pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal ini juga sangat relevan dengan kondisi wilayah negara Indonesia yang sangat luas, dengan aneka ragam potensi serta sumber daya yang dapat dikembangkan secara maksimal dan menjadi keunggulan lokal daerah masing-masing. Oleh karena itu diperlukan adanya program strategi implementasi PBKL sebagai bagi pemangku kebijakan di tingkat pusat,provinsi, dan kabupaten/kota dalam melakukan pembinaan dan pendampingan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Tujuan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Naskah Program Implementasi Rintisan PBKL disusun dengan tujuan :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Memberikan pemahaman/persepsi yang sama tentang PBKL</li>
<li>Sebagai panduan bagi para pemangku kebijakan dan kepentingan dalam melakukan pembinaan Rintisan PBKL.</li>
<li>Sebagai panduan bagi sekolah dalam melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan local.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Rumusan masalah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis merumuskan pemasalahan pokok,yaitu; korelasi <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008_07_01_archive.html#main">skip to main </a>| <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008_07_01_archive.html#sidebar">skip to sidebar</a> <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/">kebijakan sistem pendidikan</a> dengan <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008/07/program-implementasi-pbkl.html">program implementasi pendidikan berbasis keunggulan lokal (PBKL)</a><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Defenisi oprasional </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Agar seluruh pihak yang terkait dalam penyelenggaraan program rintisan PBKL di sejumlah SMA memiliki pemahaman/persepsi yang sama, perlu adanya rumusan pengertian sebagai berikut: <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keunggulan Lokal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain. Sumber lain mengatakan bahwa Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah (Dedidwitagama,2007</p>
<p style="text-align:justify;">Keunggulan Lokal (KL) dapat didefinisikan sebagai suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu ciri khas kedaerahan dan potensi daerah, sehingga menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik dan memiliki keunggulan komparatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Ciri khas kedaerahan adalah suatu bentuk kegiatan atau produk yang hanya terdapat pada satu daerah/lokal dan tidak terdapat pada daerah lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Potensi daerah adalah aset yang dimiliki oleh satu daerah tertentu yang dapat memberikan nilai benefit/kemanfaatan dan nilai effektif/kemudahan bagi daerah itu sendiri). <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) di SMA adalah pendidikan/program pembelajaran yang diselenggarakan pada Satuan Pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan potensi daerah yang bermanfaat dalam proses pengembangan kompetensi peserta didik. Sumberdaya dan potensi daerah dimaksud antara lain mencakup aspek SDA, SDM, ekonomi, budaya/history, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi (TIK/ICT), ekologi dan lain-lain. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di satu daerah untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf hidup masyarakat setempat).</p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan hal dimaksud, perlu adanya pemahaman dari semua pihak bahwa program PBKL di SMA bukan merupakan mata pelajaran baru tetapi merupakan materi pembelajaran pada Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar (SK/KD) mata pelajaran yang relevan. Materi Pembelajaran tersebut dikembangkan melalui proses analisis keunggulan lokal di daerah setempat. <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Acuan Pengembangan Program PBKL di SMA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mengacu pada berbagai pengertian tersebut di atas, maka program PBKL dikembangkan dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan (SMA) berdasarkan:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), potensi dan kebutuhan daerah yang mencakup aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), ekologi, dan lain-lain.</li>
<li>Kebutuhan, minat, dan bakat peserta didik.</li>
<li>Ketersediaan daya dukung/potensi satuan pendidikan (internal) antara lain:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">a. Kurikulum Sekolah yang memuat program keunggulan lokal melalui integrasi pada mata pelajaran yang relevan, muatan lokal dan keterampilan.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Sarana prasarana: ruang belajar, peralatan praktik, media pembelajaran, buku/bahan ajar sesuai dengan program PBKL yang diselenggarakan.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Ketenagaan dengan keahlian sesuai tuntutan program PBKL</p>
<p style="text-align:justify;">d. Biaya operasional pendidikan yang diperoleh melalui berbagai sumber</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ketersediaan daya dukung eksternal antara lain:</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">a. Dukungan Pemda Kab/Kota baik berupa kebijakan, pembinaan dan fasilitas/ pembiayaan.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Dukungan Pemda Kab/Kota baik berupa kebijakan, pembinaan dan fasilitas/ pembiayaan.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Stakeholders yang memiliki kepedulian untuk mendukung keseluruhan proses penyelenggaraan PBKL, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program.</p>
<p style="text-align:justify;">d. Nara sumber yang memiliki kemampuan/keahlian sesuai dengan program keunggulan lokal yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">e. Satuan pendidikan formal lain dan/atau satuan pendidikan nonformal yang terakreditasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D. Hipotesis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat Korelasi <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008_07_01_archive.html#main">skip to main </a>| <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008_07_01_archive.html#sidebar">skip to sidebar</a> <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/">Kebijakan Sistem Pendidikan</a> Dengan <a href="http://17862pascasarjanaunigal.blogspot.com/2008/07/program-implementasi-pbkl.html">Program Implementasi Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (Pbkl)</a>. <strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>5. </em></strong><strong>Menganalisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepele Sekolah Terhadap Motivasi Dan Produktivitas Kerja Guru Di Kabupaten Pidie</strong><strong><em> </em></strong> <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>a. </strong><strong>Teknik Sampling Yang Representatif Dapat Digunakan Adalah: Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Alasannya: </em></strong>Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>b. </strong><strong>Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Teknik pengumpulan data bisa dibedakan dengan beberapa hal, seperti:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berdasarkan Setting (Setting Alamiah, Labortorium dengan melalui eksperimen, di rumah dengan mewawancarai responden, seminar, dan lain-lain)</li>
<li>Berdasarkan sumber data: (Sumber Primer : Sumber yang langsung memberikan data dan Sumber Sekunder : Sumber yang tidak langsung memberikan data).</li>
<li>Berdasarkan Teknik Pengumpulan Data dibagi lagi menjadi: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Triangulasi/Gabungan<br />
<strong>Pengumpulan Data dengan Observasi<br />
</strong>Macam-macam observasi: (Sanafiah Faisal: 1990)</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Observasi      Partisipatif, yang terbagi menjadi: Observasi yang Pasif, Observasi yang      Moderat, Observasi yang Aktif, dan Observasi yang Lengkap.</li>
<li>Observasi      Terus Terang dan Tersamar</li>
<li>Observasi      tak Terstruktur<br />
<strong><em>Observasi Partisipatif</em></strong></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Peneliti      mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan      berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti (Susan Stainback:1998)</li>
<li>Klasifikasi      (Sanafiah Faisal:1990)</li>
<li>Partisipasi      Pasif : Peneliti mengamati tapi tidak terlibat dalam kegiatan tersebut.</li>
<li>Partisipasi      Moderat <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> eneliti ikut observasi partisipatif pada beberapa beberapa      kegiatan saja, tidak semua kegiatan.</li>
<li>Partisipasi      Aktif : Peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan narasumber, tapi belum      sepenuhnya lengkap</li>
<li>Partisipasi      Lengkap : Peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan narasumber<br />
<strong><em>Observasi Terus Terang atau Tersamar</em></strong></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Peneliti      berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian.</li>
<li>Suatu      saat peneliti melakukan tidak berterus terang agar dapat mengetahui      informasi yang dirahasiakan narasumber.<br />
<strong>Observasi tak Berstruktur</strong></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dilakukan      dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas</li>
<li>Apabila      masalah sudah jelas, maka dapat dilakukan secara berstruktur dengan      menggunakan pedoman observasi</li>
</ul>
<h2 style="text-align:justify;">c. Teknik analisis data</h2>
<p style="text-align:justify;">Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :</p>
<pre style="text-align:justify;">+ atau - 0.80 hingga 1.00    korelasi sangat tinggi
         0.60 hingga 0.79    korelasi tinggi
         0.40 hingga 0.59    korelasi moderat
         0.20 hingga 0.39    korelasi rendah
         0.01 hingga 0.19    korelasi sangat rendah</pre>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang perlu diingat adalah &#8220;korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat&#8221;. Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan &#8220;lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi&#8221;.</p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/338/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/338/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/338/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=338&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/metodologi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUSAT PENDIDIKAN KOMPUTER SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/pusat-pendidikan-komputer-sman-1-lhoong/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/pusat-pendidikan-komputer-sman-1-lhoong/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 15:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[TELAH DIBUKA PUSAT PELATIHAN KOMPUTER SMAN 1 LHOONG BERKAT KERJA KERAS SEMUA STAF SMAN 1 LHOONG, SETELAH SEKIAN LAMA KOMPUTER TERSIMPAN DENGAN BAIK DIGUDANG KINI TELAH DIBERDAYAKAN KEMBALI WALAUPUN HANYA 9 UNIT, MUNGKIN INI MERUPAKAN AWALAN YANG BAIK UNTUK MEMAJUKAN INOVASI KURIKULUM KHUSUSNYA MATA PELAJARAN TIK. WALAUPUN PRAKTEKNYA HARUS DILAKSANAKAN PADA JAM 5 SORE, MENGAPA? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=334&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a rel="attachment wp-att-333" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/pusat-pendidikan-komputer-sman-1-lhoong/attachment/02082009653/"><img class="aligncenter size-full wp-image-333" title="PUSAT PELATIHAN KOMPUTER SMAN 1 LHOONG" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/08/02082009653.jpg?w=510&#038;h=382" alt="PUSAT PELATIHAN KOMPUTER SMAN 1 LHOONG" width="510" height="382" /></a><strong><span style="color:#ff0000;">TELAH DIBUKA PUSAT PELATIHAN KOMPUTER SMAN 1 LHOONG </span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#00ff00;">BERKAT KERJA KERAS SEMUA STAF SMAN 1 LHOONG,</span> SETELAH SEKIAN LAMA KOMPUTER TERSIMPAN DENGAN BAIK DIGUDANG KINI TELAH DIBERDAYAKAN KEMBALI WALAUPUN HANYA 9 UNIT, MUNGKIN INI MERUPAKAN AWALAN YANG BAIK UNTUK MEMAJUKAN INOVASI KURIKULUM KHUSUSNYA MATA PELAJARAN TIK.</p>
<p style="text-align:center;">WALAUPUN PRAKTEKNYA HARUS DILAKSANAKAN PADA JAM 5 SORE, <span style="color:#00ff00;">MENGAPA?</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#00ff00;">KARENA</span> PADA JAM TERSEBUTLAH LAMPU BARU MENYALA DI KECAMATAN INI ( MAKLUM KECAMATAN KAMI MASIH SARAT TERHADAP PASOKAN LISTRIK ) YA MUDAH2AN ABES RAYA INI BISA NORMAL SEPERTI DAERAH LAIN.</p>
<p style="text-align:center;">PAK PLN CEPAT DIKIT DONG LAMPUNYA DI HIDUPKAN!!!!</p>
<p style="text-align:center;">HE&#8230;HE&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">MAKASI</p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/334/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=334&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/pusat-pendidikan-komputer-sman-1-lhoong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/08/02082009653.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PUSAT PELATIHAN KOMPUTER SMAN 1 LHOONG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SARANA &amp; PRASARANA SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/sarana-prasarana-sman-1-lhoong/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/sarana-prasarana-sman-1-lhoong/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 14:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[PAK KEPALA DINAS TOLONG DONG SMA KAMI LAGI BUTUH BANGKU &#38; KURSI UNTUK TAHUN PELAJARAN 2009-2010 INI. PLEASE DIPERHATIKAN !!!!!!!!!!!!!!!!!!! Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=327&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a rel="attachment wp-att-326" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/sarana-prasarana-sman-1-lhoong/attachment/29072009627/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-326" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/08/29072009627.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><span style="color:#ff0000;">PAK KEPALA DINAS TOLONG DONG SMA KAMI LAGI BUTUH BANGKU &amp; KURSI UNTUK TAHUN PELAJARAN 2009-2010 INI.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">PLEASE DIPERHATIKAN !!!!!!!!!!!!!!!!!!!</span></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=327&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/08/15/sarana-prasarana-sman-1-lhoong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/08/29072009627.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PROFIL SMA NEGERI 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/25/juknis-pengisian-format-bmp/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/25/juknis-pengisian-format-bmp/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:20:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Lhoong Alamat : Jalan : Banda Aceh – Meuilaboh KM 56 Desa : Cundien Kecamatan : Lhoong Kode Pos : 23354 Kabupaten : Aceh Besar Propinsi : Nanggroe Aceh Darussalam Nomor dan Tanggal SK Penegerian : 0363/0/1991, tanggal 20 Juni 1979 Terhitung Mulai Tanggal : 11 April 1979 Nomor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=295&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img src="/DOCUME%7E1/Admin/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /><a rel="attachment wp-att-309" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/25/juknis-pengisian-format-bmp/23022009450-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-309" title="SMA NEGERI LHOONG" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/07/230220094501.jpg?w=510&#038;h=382" alt="SMA NEGERI LHOONG" width="510" height="382" /></a></p>
<p style="text-align:left;"><em><strong><span style="color:#008000;">Nama Sekolah					: SMA Negeri 1 Lhoong</span></strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><em><strong><span style="color:#008000;">Alamat			: Jalan			: Banda Aceh – Meuilaboh KM 56</span></strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><em><strong><span style="color:#008000;">Desa			: Cundien</span></strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><em><strong><span style="color:#008000;">Kecamatan		: Lhoong</span></strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><em><strong><span style="color:#008000;">Kode Pos		: 23354</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;"> Kabupaten		: Aceh Besar</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Propinsi		: Nanggroe Aceh Darussalam</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Nomor dan Tanggal SK Penegerian		: 0363/0/1991, tanggal 20 Juni 1979</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Terhitung Mulai Tanggal			: 11 April 1979</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Nomor Statistik Sekolah			: 30.1.060.104.006</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Gedung Sendiri.Menumpang			: Gedung Sendiri</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;"> Tempat Sementara				: Tetap</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">No. Rekening Giro					: 01.02.571022-5</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Jumlah Rombongan Belajar			: 8 kelas</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Jumlah siswa					: 375  siswa</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Jumlah  Jam Pelajaran Perminggu		: 40  jam</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Jumlah guru Tetap				: 20 Orang</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Jumlah Pegawai tetap				:  1 Orang</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Jumlah Guru Bantu				: 1 Orang</span></strong></em></p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">Jumlah Guru GTT/Honorer			: 7 Orang </span></strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#008000;">VISI SEKOLAH : </span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#008000;">Berprestasi untuk mencapai hasil yang maksimal dengan Dilandasi rasa tanggung jawab dalam pandangan Islami dan Berakhlakul Karimah</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#008000;">MISI SEKOLAH : </span></strong></em></p>
<ol>
<li><em><strong><span style="color:#008000;">Meningkatkan Profesional Proses Pembelajaran terhadap anak Didik secara nyata sehinnga menciptakan SDM yang tinggi Yang berguna bagi Bangsa dan Negara.</span></strong></em></li>
<li><em><strong><span style="color:#008000;">Mengembangkan dan meningkatkan syste Manajemen Sekolah Dalam upaya meningkatkan Mutu Pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah Secara Efektif.</span></strong></em></li>
<li><em><strong><span style="color:#008000;">Mengupayakan kehidupan yang Islami dalam kehidupan Bermasyarakat dalam ruang lingkup Sekolah.</span></strong></em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#008000;">TUJUAN</span></strong></em></p>
<ol>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;"><span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Mewadahi dan meningkatkan partisipasi para stakeholders pendidikan pada tingkat sekolah untuk turut serta merumuskan, menetapkan, melaksanakan dan memonitor pelaksanaan kebijakan sekolah dan pertanggungjawaban yang terfokus pada kualitas pelayanan terhadap peserta didik secara proporsional dan terbuka</span></strong></em><!--[endif]--></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;"><span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Mewadahi partisipasi pada stakeholders untuk turut serta dalam manajemen sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah secara proporsional.</span></strong></em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#008000;">STRATEGI PENCAPAIAN TUJUAN</span></strong></em></p>
<ol>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;"><span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Menyelenggarakan rapat-rapat komite sesuai program yang ditetapkan</span></strong></em><!--[endif]--></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;"><span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Bersama-sama sekolah merumuskan dan menetapkan visi dan misi, menyusun standar pembelajaran, menyusun rencana strategis pengembangan sekolah, menyusun dan menetapkan rencana progam tahunan, serta mengembangkan potensi kearah prestasi unggulan.</span></strong></em></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Membahas dan turut menetapkan pemberian tambahan kesejahteraa</span></strong></em></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Menghimpun, menggali dan mengelola sumber dana dan kontribusi lainnya baik materil maupun non-material dari masyarakat</span></strong></em><!--[endif]--></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#008000;">KEBIJAKAN PROGRAM/ KEGIATAN</span></strong></em></p>
<ol>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Mengevaluasi program sekolah secara proporsional</span></strong></em><!--[endif]--></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Mengidentifikasi masalah serta mencari solusinya</span></strong></em></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Memberikan respon terhadap kurikulum yang dikembangkan baik berstandar nasional maupun local</span></strong></em></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Memberikan motivasi dan penghargaan, serta otonomi profesional kepada staf pengajar.</span></strong></em></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Memantau kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah</span></strong></em></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Mengkaji laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program</span></strong></em></li>
<li><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#008000;">Menyampaikan usul/rekomendasi kepada pemda untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan</span></strong></em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#008000;"> Memasuki komplek Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lhoong, seolah memasuki perumahan elite( pondok indah). Mulai dari gerbang masuk sekolah hingga gedung aula, penuh dengan ornamen Kalimantan. Padahal sekolah ini berada di Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). SMAN I berada di Desa Cundin, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Jalan Banda Aceh-Meulaboh. Jaraknya sekitar 56 kilometer dari Banda Aceh, ibukota NAD. Ornamen Kalimantan yang melekat di sekolah ini, tidak terlepas dari bantuan masyarakat Balik Papan. Menggenapi sumbangan yang juga diberikan Gap Inc, sebuah perusahaan garmen yang berpusat di San Fransisco, Amerika Serikat. Dari sisi bangunan, dapat dikatakan ini merupakan sekolah termegah yang pernah di bangun di Aceh Besar. Lebih dari itu, justru sekolah ini dianggap sebagai titik balik geliat pendidikan di Aceh Besar. Saat peresmian operasional sekolah ini pada Sabtu (22/4/2006), terlihat wajah-wajah cerah para siswa. Dengan biaya Rp 5,3 miliar, sekolah ini menjanjikan fasilitas yang lengkap, konstruksi bangunan yang wah, serta fasilitas ekstrakurikuler yang komplit. Di areal seluas 1,3 hektar ini, berdiri lima gedung. Gedung untuk 8 kelas, gedung aula, gedung perpustakaan yang berlantai dua, gedung laboratorium dan gedung untuk perumahan guru. Selain itu ada lapangan basket, bola voli, dan lapangan bola. Kemegahan SMAN 1 Lhoong saat ini, tentu sangat berbeda dibandingkan saat 26 Desember 2004 lalu, ketika tsunami menghancurkan seluruh bangunan. Hanya menyisakan sedikit berkas pertapakan. Selebihnya menjadi pantai. Kini di sekolah yang lokasinya berjarak sekitar tiga kilometer dari pertapakan lama, hanya ada 275 murid dan 18 guru PNS, 7 guru bakti. Pembangunan gedung sekolah ini, tak lepas dari kiprah Dompet Dhuafa (DD), lembaga amil zakat yang berpusat di Jakarta. Presiden Direktur DD, Rahmat Riyadi, menyebutkan, hingga tiga minggu pascatsunami, jalur darat menuju Lhoong masih terputus jalur, baik dari Banda Aceh maupun Meulaboh. Namun, saat itu DD telah masuk membantu rescue, menyediakan kapal laut untuk angkutan logistik untuk warga yang selamat dari tsunami. Dari 28 desa yang ada di Lhoong, hanya empat desa yang bebas terjangan tsunami. Karena prihatin banyaknya sekolah yang rusak akibat tsunami di kecamatan ini, DD melakukan serangkaian pertemuan dengan dengan Dinas Pendidikan Aceh Besar. Akhirnya disepakati rencana kerjasama membangun SMAN 1 Lhoong. Lahan pertapakan sudah tersedia, yakni sumbangan warga sekitar. Sedangkan dana bersumber dari bantuan Pemkot Balik Papan dan Gap Inc,” kata Rahmat. Pemkot Balik Papan membantu Rp 2,404 miliar, sementara dari Gap Inc. sebanyak Rp 2,926 miliar. Sementara DD yang mempertemukan kedua lembaga ini, selanjutnya bertindak selaku pihak yang bertanggungjawab terhadap pembangunan dan manajemen operasional sekolah hingga tiga tahun ke depan, sebelum dikembalikan kepada pemerintah. Dalam pelaksanaannya, dana yang berumber dari Pemkot Balik Papan dipergunakan untuk membangun gedung aula ruang kelas gapura. Sementara bangunan lainnya dari dana sumbangan Gap Inc. Pembangunannya relatif cepat, sekitar 7 bulan, sejak peletakan batu pertama pada 13 Agustus 2005. Bagi masyarakat Lhong pembangunan ini justru menjadi anugerah yang luar biasa. “Ini sekolah terbaik yang pernah dibangun di Aceh Besar. Kami sangat bersyukur. Ini anugerah yang tak terhingga,” kata Kepala Dinas Pendidikan Aceh Besar Zulkifli. Dalam operasional sekolah ini, pihak DD dan jejaringnya akan menangani managemen sekolah hingga tiga tahun ke depan. Ini dilakukan untuk menjamin mutu pendidikan di SMAN I Lhoong, yang diharapkan menjadi sekolah unggulan di NAD. </span></strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">ANALISIS SWOT</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Strength/ kekuatan </span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tersebut menetapkan juga bahwa apabila otonomi daerah tingkat II belum mampu menangani bidang- bidang tertentu, maka bidang- bidang tersebut dapat diserahkan kepala daerah tingkat I selanjutnya menurut Tilaar (2000: 176) bahwa dalam konteks otonomi daerah khususnya bidang pendidikan dampak positif ditetapkan otonomi daerah manajemen pendidikan nasional dalam negara kesatuan Republik Indonesia adalah: </span></strong></em></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span> Mengembangkan kebudayaan lokal. Dengan demikian masalah pengisian muatan lokal di daerah- daerah telah merupakan suatu keharusan yang perlu direncanakan, dipersiapkan dan dikembangkan. </span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Mengembangkan kebudayan nasional sebagai benteng pertahanan menjaring pengaruh- pengaruh kebudayaan global yang negatif dan identitas bangsa yang akan memperkuat ketahanan nasional. </span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Mengembangkan inisiatif untuk bereksperimen dan bersaing dalam mengembangkan mutu pendidikan nasional menghadapi persaingan global. </span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">4.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Meningkatkan peran masyarakat (swasta) untuk mengembangkan ciri khasnya sebagai sumbangan bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. </span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Secara khusus untuk jenis dan satuan pendidikandi Sekolah berdasarkan konsepsi otonomi daerah tersebut School Based Management atau manajemen Berbasis Sekolah dan Community Based School merupakan tuntutan untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Dengan demikian sekolah mandiri merupakan suatu bentuk pengelolaan sekolah pada era otonomi daerah sekarang. Dalam kaitannya akan kmandirian sekolah ini diperlukan nilai- nilai baru dan aturan- aturan baru dalam bidang pendidikan.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Ditetapkannya otonomi daerah akan memberikan perubahan dan pengembangan tersendiri dalam segala bidang kehidupan masyarakat termasuk pendidikan. Perubahan dan pengembangan tersebut menurut N.A Amentembun (1994: 10) meliputi:<br />
Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.</span></strong></em></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Perubahan Manajemen Sekolah</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.</span></strong></em></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Sumber Daya Pendidikan</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Pengolaan sumber daya pendidikan gengan diberlakunya otonoi daerah jelas merupakan tanggung jawab sepenuhnya pihak sekolah yang bersangkutan, baik mengenai sumber pendapatan keuangan maupun pengelolaannya. Sebelum pelaksanaan otonomi dearah sumber daya pendidikan ditentukan oleh keputusan dan kebijakan dari pusat, sedangkan setelah otonomi daerah diberlakukuan pihak sekolah memiliki kekuasaan dan kewenangan sepenuhnya dalam pengambilan atas anggaran pendapatan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya pendidikan.Pengembangan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah dalam rangka mencari dan menganalisis sumber daya pendidikan pada era otonomi pendidikan dengan menerapkan model ” Manajmen Berbasis Sekolah” tentunya adalah melalui pemanfaatan potensi yang ada pada masyarakat serta berkoloborasi dengan dunia masyarakat industri yang mau dan peduli terhadap kepentingan pendidikan. Oleh karena itu jelas bahwa keberhasilan sekolah dalam menerapkan model ” Manajemen Berbasis Sekolah” tergantung pada kemampuan sekolah untuk meningkatkan suatu kepedulian masyarakat akan arti penting pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.</span></strong></em></p>
<p style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-7.1pt;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">3. Peningkatan Mutu Pendidikan</span></strong></em></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Dengan diberlakukannya otonomi daerah,memungkinkan sekolah lebih bebas menentukan cara- cara atau strategi yang akan ditempuh dalam meningkatkan mutu pendidikan, tanpa harus menerima instruksi dari pusat terlebih dahulu. Hal- hal yang dianggap baik untuk meningkatkan mutu pendidikan segera dilakukan sesuai dengan tuntutan dan kemampuan sekolah, sehingga jika suatu kegiatan dianggap baik, maka pihak sekolah segera melakukannya tanpa haus menungguintruksi atau petunjuk dari pusat lagi.Dengan demikian Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah yang telah dijabarkan ke dalam peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, memberikan kesempatan pada lembaga pendidikan untuk melaksanakan reformasi. Salah satu bentuk reformasi mengembangkan kemandirian sekolah, sehingga muncul sekolah mandiri, yaitu sekolah di mana kekuasaan ada pada pihak sekolah sendiri: Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif serta orang tua siswa. Untuk itu di dunia pendidikan diperlukan nilai- nilai dan aturan- aturan baru dintaranya pergeseran fungsi pemerintah dari controling ke servising yang menunjukkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengutamakan pelaksanaan tugas melalui sistem pengasan yang sangat ketat tetapi harus lebih bersikap memberikan pelayanan terhadap dunia pendidikan. Reformasi ini akan dapat berlangsung dan mencapai tujuan apabila ada dukungan partisipasi aktif dari kalangan orang tua siswa dan masyarakat.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Weakness/ kelemahan</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Permasalahan-permasalahan menjadi kendala dalam meningkatkan mutu pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah adalah:Pertama, pendidikan akan menghadapi tantangan dalam hal pembiayaan pendidikan oleh daerah. Disebutkan bahwa hanya sekitar 10% daerah yang dapat menyediakan anggaran memadai untuk pendidikan, padahal pemerintah daerah harus menyediakan prasarana dan sarana pendidikan seperti gedung sekolah dan peralatan praktikum yang memadai. Pembiayaan pendidikan selama ini masih sangat tergantung pada pemerintah pusat.<br />
Kedua, tantangan dalam hal pembiayaan pendidikan oleh masyarakat. Dalam kondisi krisis ekonomi dan banyaknya kerusuhan mengakibatkan banyaknya pengungsi angka partisipasi murni dan angka drop out yang dijadikan sebagai tolok ukur tantangan pembiayaan oleh masyarakat sangat beragam antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Pada daerah yang kaya angka partisipasi murni (APM) akan tinggi dan angka drop out (ADO) akan rendah, sedangkan pada daerah yang masyarakatnya miskin akan terjadi yang sebaliknya.<br />
Ketiga, rendahnya sumber daya manusia yang menangani pendidikan, baik tenaga pengajarnya (guru) maupun tenaga non teknis.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Sementara itu, Portz (1996) mengidentifikasikan beberapa permasalahan yang menjadi tantangan dan hambatan pendidikan di Boston, yang sangat relevan dengan permasalahan pendidikan di Indonesia antara lain adalah: 1) masalah Governance atau kepemerintahan, contohnya seperti adanya penekanan kepada dinamika politik di antara superintendent dan komite sekolah. Selain itu juga kurangnya kepemimpinan. 2) Masalah yang berkaitan dengan kegiatan sekolah, antara lain meliputi kegagalan didalam menyediakan program pendidikan yang memadai, prestasi siswa dan birokrasi pendidikan. 3) Masalah kurangnya dukungan pembiayaan dan hubungan dalam pemerintahan.4) Masalah kurangnya dukungan dari masyarakat atau warga negara yang disebabkan karena kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah dan terpisahnya sekolah dengan masyarakat. 5) Masalah yang terkait dengan permasalahan sosial secara umum dan kondisi eksternal di luar sekolah seperti misalnya kemiskinan, ras, kriminal, dan ekonomi.<br />
Menurut Presman dan Wildausky (1973) (lihat Abdul Wahab, 1997) faktor-faktor yang dikemukakan di atas, untuk menghindari kegagalan dalam implementasi perlu mendapat perhatian secara seksama.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Sementara Parson (1997) mengatakan bahwa kegagalan implementasi suatu kebijakan cenderung karena faktor ulah manusia, dimana pengambilan keputusan yang gagal memperhitungkan kenyataan adanya persoalan manusia yang sangat komplek dan bervariasi. Adapun yang dimaksudkan disini adalah baik pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun sekolah beserta warganya sebagai pelaku kebijakan dan target group.<br />
Merujuk kepada berbagai kendala atau hambatan yang telah diidentifikasi dari berbagai penelitian, dan dikaitkan dengan pandangan atau pendapat ahli mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan implementasi suatu kebijakan, maka peneliti berpendapat bahwa: “kegagalan implementasi suatu kebijakan, belum tentu sepenuhnya dikarenakan ketidakmampuan pelaksana (aktor/stakeholders pelaksana), tetapi juga disebabkan karena pembentukan kebijakan itu sendiri yang kurang sempurna atau kebijakan tersebut memang jelek (bad policy). Disinilah dituntut kepiawaian dari para pelaksana kebijakan (aktor/ stakeholderss) atau pelaku utama kebijakan, supaya mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian atau adaptasi, sehingga proses implementasi dapat berjalan efektif dan tujuan/pokok kebijakan dapat direalisasikan.<br />
Berkenaan juga dengan kegagalan implementasi MBS, Wohlsteter dan Mohrman (1996) (lihat Nurkolis, 2001) dalam hasil penelitian mengungkapkan empat macam kegagalan implementasi MBS, yaitu Pertama, sekedar mengadopsi model apa adanya ada upaya kreatif. Kedua, Kepala Sekolah bekerja berdasarkan agenda kerja sendiri tanpa memperhatikan aspirasi warga sekolah. Ketiga, kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak. Keempat, menganggap MBS adalah hal yang biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya, padahal pada kenyataannya implementasi MBS memakan waktu, tenaga, pikiran secara besar-besaran. Keempat indikator yang telah dipaparkan di atas, mengisyaratkan bahwa guna menghindari kegagalan implementasi kebijakan MBS atau kebijakan MPMBS tersebut, maka diperlukan keterlibatan atau partisipasi aktif semua pelaku kebijakan (koalisi aktor/stakeholderss) untuk mengkaji, melakukan penyesuaian dan adaptasi (reformulasi).<br />
Kebijakan yang dilandasi azas kerjasama, keterkaitan, kebersamaan dan akuntabilitas yang didukung oleh semangat demokrasi dan transparansi menuju suatu komitmen/ konsensus, agar pelaksanaan program MPMBS (implementasi kebijakan MPMBS) berjalan dengan baik, dan tujuan kebijakan (yakni meningkatkan mutu pendidikan) tercapai. Koalisi aktor/stakeholderss tersebut, meliputi: Kepala Sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, masyarakat, Komite Sekolah/BP3, pejabat pemerintah terkait, dan organisasi masyarakat lainnya yang peduli terhadap kegiatan pendidikan di sekolah.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Opportunity/ peluang</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;"><span style="font-family:Symbol;">§</span> Investasi Dalam Bentuk Portofolio (Saham) </span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Salah satu hal yang perlu dikritisi adalah dari sisi pendanaan BHP. Sebagaimana tercantum dalam UU BHP pasal 41, tidak seluruh pendanaan BHP berasal dari Pemerintah, baik itu pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Artinya masih terdapat porsi-porsi dimana institusi pendidikan yang bersangkutan perlu mengusahakan sendiri sumber dana lain dalam memenuhi biaya operasional penyelenggaraan pendidikan. Mari kita telaah, dari sumber-sumber mana saja institusi pendidikan dapat memperoleh dana untuk ‘menambal’ biaya operasional mereka. Dari peneleaahan tersebut juga akan terlihat bahwa mekanisme pendanaan biaya operasional pada BHP diluar porsi pemerintah, tidak hanya diatur dalam UU BHP saja, namun juga tercantum pada peraturan-peraturan lain (PP dan Perpres). UU BHP ‘hanya’ menjelaskan garis besar porsi-porsi pembiayaan yang harus ditanggung sendiri oleh BHP dan menjelaskan secara umum mekanisme memperolehnya. Rincian dari mekanisme tersebut diatur selanjutnya oleh peraturan lain.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Salah satu sumber pendanaan yang diperbolehkan dijalankan oleh BHP adalah investasi dalam bentuk portofolio (saham). Hal ini tercantum dengan jelas pada pasal 42 ayat 1. Hal ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan (BHP) dapat bermain di pasar bursa. Tentunya kita belum lupa mengenai riskannya bermain di sektor finansial. Gambaran anjloknya sektor finansial dunia pada krisis ekonomi global saat ini tentunya sangat menggambarkan tingginya resiko permainan saham di lantai bursa. Tak terhitung berapa banyak perusahaan-perusahaan besar dunia yang mendadak gulung tikar karena fluktuasi nilai saham yang sangat rentan. Bayangkan jika sektor vital seperti pendidikan ditopang oleh mekanisme pendanaan yang rapuh seperti ini? Akan jadi seperti apa dunia pendidikan Indonesia? Ramai-ramai gulung tikar pula kah?<br />
Mekanisme lain yang dapat dilakukan oleh BHP untuk memperoleh dana adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat dengan ketentuan yang sesuai dengan undang-undang (peraturan) yang ada. Hal tersebut tercantum dalam pasal 45 ayat 1 UU BHP, namun tidak ada penjelasan lebih rinci mengenai hal tersebut. Satu hal yang menarik adalah keberadaan PP no.48 tahun 2008 mengenai pendanaan pendidikan. PP tersebut menjelaskan secara terperinci sumber-sumber dana ynag dapat digunakan oleh BHP. Pada PP tersebut terdapat beberapa pasal yang jelas-jelas mengatakan bahwa salah satu sumber pendanaan institusi pendidikan adalah dari pihak asing. Sedikitnya terdapat 15 pasal dalam PP tersebut yang menyebutkan bahwa salah satu sumber pendanaan yang sah dari institusi pendidikan berasal dari pihak asing.<br />
Keterlibatan pihak asing dalam dunia pendidikan Indonesia yang tercantum dalam peraturan negeri ini tidak hanya itu. Pada Perpres No.77/2007 mengenai daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka di bidang penanaman modal, disebutkan bahwa jenis badan usaha yang dapat dimasuki modal asing adalah pendidikan, baik formal maupun informal, dengan persentase modal asing sampai dengan 49%.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;"><span style="font-family:Symbol;">§</span> Mengoptimal Kemitraan Dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Berkaitan dengan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan : (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. (3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.<br />
Hal yang justru memunculkan kerawanan saat ini adalah dengan adanya RUU BHP maka peranan pihak swasta (pengusaha) mendapatkan akses yang lebih luas untuk mengelola pendidikan, sehingga bagaimana jadinya kalau kemitraan dengan DU/DI tersebut ternyata menempatkan pengusaha ataupun perusahaan sebagai pihak yang berinvestasi dalam lembaga pendidikan dengan menuntut adanya return yang sepadan dari investasinya tersebut? Kondisi ini pada akhirnya akan memperkokoh keberlangsungan kapitalisasi pendidikan.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Thereat/ Ancaman</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Pemerintah telah menetapkan kebijakan otonomi pendidikan, sebagaimana mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan yang menyebutkan: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.<br />
Berdasarkan pasal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab negara melainkan diserahkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri. Dalam penjelasan pasal 3 ayat 2 RUU Badan Hukum Pendidikan disebutkan bahwa Kemandirian dalam penyelengaraan pendidikan merupakan kondisi yang ingin dicapai melalui pendirian BHP, dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi pada pendidikan tinggi. Hanya dengan kemandirian, pendidikan dapat menumbuhkembangkan kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitasnya.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Artinya pemerintah menilai bahwa selama ini terhambatnya kemajuan pendidikan indonesia diantaranya karena pengelolaan pendidikan yang sentralistis, sehingga perlunya kebijakan desentralisasi kewenangan (MBS dan otonomi pendidikan) untuk memajukan pendidikan indonesia.<br />
Kenyataannya, kebijakan tersebut menuai berbagai sikap kontra dari masyarakat karena dinilai sarat dengan tekanan pihak asing (negara donor) yang menghendaki privatisasi lembaga –lembaga yang dikelola negara termasuk lembaga pendidikan, sehingga negara pun akan lepas tangan dari tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan secara penuh. Sebagaimana diungkapkan oleh komisi hukum nasional (KHN) bahwa dalam RUU BHP versi yang baru, semua bentuk pendidikan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah daerah atau pemerintah harus berbentuk badan hukum yang sama yaitu badan hukum pendidikan. Oleh karenanya, jika RUU BHP disahkan – maka peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peraturan pemerintah tentang BHMN tidak akan berlaku lagi. Perubahan yang terjadi antara konsep RUU lama dan yang baru, dapat diamati dari bunyi pasal 1 ayat 7 (versi lama), yang mengatur bahwa ”Penyelenggara adalah satuan pendidikan berstatus Badan Hukum Pendidikan (BHP)” dan “Semua satuan pendidikan tinggi harus berstatus Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) (Pasal 2 ayat (1)”. Selain itu, disebutkan juga bahwa “Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat berstatus Badan Hukum Pendidikan Dasar Menengah (BHPDM)”.<br />
Yang menjadi persoalan, apakah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) merupakan jawaban yang tepat bagi pengembangan pendidikan tinggi kedepan? Bagaimana RUU ini meletakkan peran pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi serta bagaimana mengkonstruksi hubungan antara penyelenggara pendidikan (yayasan, perkumpulan, badan wakaf, pemerintah, dll) dengan satuan pendidikan? Apakah RUU BHP memberikan jaminan bagi terwujudnya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global ? Selain itu kebijakan otonomi pendidikan sendiri merupakan hal belum tentu dapat meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bila makna otonomi itu sendiri ternyata bentuk lepas tangan pemerintah dengan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan secara lebih besar porsinya kepada masyarakat. Padahal hakikatnya penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara/ pemerintah sebagai pihak yang diamanahi rakyat untuk mengatur urusan mereka dengan sebaik mungkin.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Kesimpulan</span></strong></em></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><br />
1 Kepala Sekolah dan guru sebagai aktor/stakeholders utama kebijakan MPMBS, dapat mengemban tugas untuk mengimplemen-tasikan kebijakan MPMBS ini. Sebab, mereka memenuhi syarat/standar kelayakan untuk mengajar (melaksanakan tugas dalam proses belajar mengajar) di sekolah.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Untuk mengelola dan menerapkan kebijakan MPMBS kepada Kepala Sekolah, sebagai aktor/stakeholders utama kebijakan ini. Dampak lain yang timbul adalah ketidakmampuan Kepala Sekolah membentuk jaringan kerja dengan organisasi masyarakat lainnya yang peduli pendidikan, kecuali hanya kerjasama dengan orang tua murid (Komite Sekolah/BP3) dan pemerintah terkait yang selama ini telah dilakukan.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Dalam manajemen sekolah, arti pentingnya transparansi (keterbukaan) sudah disadari oleh Kepala Sekolah dan telah dilaksanakan, karena metode inilah yang dijadikan salah satu cara untuk menarik perhatian, guna meningkatkan peran serta orang tua murid/masyarakat. Hal ini diindikasikan dengan semakin baiknya perhatian (kepedulian) orang tua/masyarakat terhadap kegiatan pendidikan anak di sekolah.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">4.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Strategi pembelajaran dilaksanakan melalui metode belajar mengajar yang disesuaikan situasi dan kondisi yang ada di sekolah, misalnya model Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM).</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">5.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam implementasi kebijakan MPMBS masih bersifat eksentif (mengutip pendapat Graham dan Philip) yakni partisipasi yang masih berorientasi pada pembiayaan dan pembangunan fisik. Secara umum inisiatif masih datang dari pihak sekolah. Akan tetapi walaupun bersifat ekstensif, tapi kontribusinya cukup berarti dan cukup signifikan.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Rekomendasi</span></strong></em></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Komitmen yang kuat dari seluruh aktor (stakeholders) yang terlibat dan terkait yang dilandasi oleh kerjasama, kebersamaan, keterkaitan dan akuntabilitas.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Peningkatan intensitas sosialisasi dan pembinaan yang berkesinambungan baik melalui pelatihan/penataran program, rapat rutin/rapat dinas dan lain-lain, dengan mengikut sertakan seluruh aktor/stakeholders yang terkait, misalnya Kepala Sekolah, Guru, Pengurus Komite Sekolah/BP3, tokoh masyarakat dan masyarakat umum lainnya (pemerhati pendidikan)</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Dalam tahap implementasi kebijakan MPMBS, sebaiknya dipopulerkan dengan menggunakan model pendekatan sintesis (Hybried Theorities) oleh Sabatier dan Islamy, karena model pendekatan ini merupakan kombinasi atau sintesis dari dua posisi (top down dan buttom up).</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Implikasi Kebijakan MPMBS</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Berkenaan dengan sosialisasi, di samping dilakukan oleh Tim Pelopor dan Penggerak Program MPMBS, Dinas Pendidikan Daerah juga dilakukan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) . Namun kenyataannya konsep dan tujuan kebijakan MPMBS oleh aktor/ stakeholders (warga sekolah dan masyarakat), terlihat dari adanya kesenjangan antara acuan formal dan persepsi (pemahaman) aktor/stakeholders (pelaku kebijakan) terhadap MPMBS. Hal ini sesuai dengan apa yang disebut Densire (lihat Abdul Wahab, 1997) menyebut dengan istilah “Implementation Gap” salah satu bukti di lapangan adalah tidak dilaksanakannya kebijakan MPMBS, sesuai tahap-tahap pelaksanaannya yang ada pedoman umum pelaksanaan yakni dimulai dari sosialisasi konsep dan tujuan kebijakan MPMBS sampai dengan evaluasi dan merumuskan kembali sasaran mutu baru.<br />
Konsep dan tujuan kebijakan MPMBS tidak dipahami oleh pelaku kebijakan (aktor/stakeholders) disebabkan karena informasi yang disampaikan dan diterima melalui penataran pelatihan dan rapat-rapat/pertemuan sebatas pengenalan belum menyeluruh dan tidak dilakukan secara berkesinambungan atau dilakukan secara temporer. Hal ini menunjukkan masih kurangnya frekuensi komunikasi (pengkomunikasian) langsung kepada pelaku kebjiakan dan masyarakat sebagai target group.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Menurut Hogwood dan Gunn (lihat Hill, 1993) atau (lihat Abdul Wahab, 1997), menyatakan bahwa untuk dapat mengimplementasikan suatu kebijakan secara sempurna (perfect implementation) maka diperlukan beberapa kondisi atau persyaratan tertentu, salah satu diantaranya adalah komunikasi dari koordinasi yang sempurna.<br />
Edward III (1980), mensinyalir bahwa dalam komunikasi ada beberapa hal yang mempengaruhi efektifitas dari komunikasi dan akan berpengaruh pula terhadap keberhasilan implementasian kebijakan antara lain adalah transmission (akurasi penerimaan panjang dan pendeknya rantai komunikasi) atau penyaluran komunikasi, konsistensi, dan rincian tujuan komunikasi.<br />
Selain itu Van Meter dan Van Haru (lihat Wibawa, 1994) mengemukakan bahwa pentingnya komunikasi dan koordinasi, yang ditujukan untuk membangun suatu kerjasama adalah merupakan salah satu syarat penting dalam kebijakan publik dimana salah satu variabel model implementasi kebijakan itu adalah komunikasi antar organisasi yang saling berkaitan dengan variabel-variabel lainnya dalam menghasilkan kinerja kebijakan yang tinggi dan baik.<br />
Mengacu kepada beragamnya persepsinya (pemahaman) tentang konsep dan tujuan kebijakan MPMBS, yang dikarenakan kurangnya intensitas sosialisasi atau kurang tepatnya sosialisasi kebijakan MPMBS, maka sangat diperlukan peningkatan intensitas dan mengkaji ulang kembali model sosialisasi yang sesuai (tepat) bagi implementasi kebijakan MPMBS. Persepsi (pemahaman) yang keliru, dapat menyebabkan pengelolaan sekolah yang keliru pula dalam memahami MPMBS, sehingga akan dapat menjerumuskan sekolah dan warganya ke dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan (yang tidak diharapkan).<br />
Berkaitan dengan transparansi, kebijakan MPMBS merupakan salah satu model manajemen yang menuntut atau mengedepankan adanya transparansi, dengan kata lain transparansi merupakan kunci pelaksanaan kebijakan MPMBS. Dan di lapangan telah di temukan adanya transparansi, tapi masih terbatas pada transparansi manajemen keuangan, bidang kesiswaan, bidang personalia, tetapi yang menjadi perhatian utama hanya transparansi keuangan, dengan pertimbangan bahwa bidang keuanganlah yang paling sensitif dan menjadi sorotan utama dari publik.<br />
Fenomena-fenomena di atas, sejalan dengan pendapat dari Long (lihat Abdul Wahab, 1999) yang mengatakan bahwa dalam banyak kasus, proses implementasi kebijakan akan selalu terbuka peluang adanya “re orientasi” atau transformasi kebijakan, praktis tiak ada garis lurus yang membentang serta menghubungkan antara kebijakan dan hasil akhir kebijakan. Pendapat Long ini benar-benar terbukti/terjadi pada implementasi kebijakan MPMBS.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Untuk menambah wacana, dalam melakukan analisis terhadap implementasi kebijakan MPMBS, selain teori Top-down dan Buttom-up, maka dalam pembahasan ini juga akan dipaparkan teori model pendekatan sintesis (Hybried Theories). Yakni suatu model kombinasi atau sintesis dari dua posisi (Model Top-Down dan Buttom-Up). Sabatier (lihat Parson, 1997) mengkaji implementasi menuju suatu sintesis, mengatakan bahwa tahap-tahap kebijakan (Policy-Stages) tidaklah membantu proses pengambilan kebijakan karena memilah-milahnya menjadi serangkaian bagian (section) yang sifatnya tidak realistis dan artifisial. Karena itu dari sudut pandang ini, implementasi dan policy-making menjadi kesatuan proses yang sama. Disini juga diungkapkan sintesa dua posisi (Top-Down dan Buttom-Up) dapat dipakai pada dinamika implementasi inter-organisasi dan net work (jaringan kerja), dimana model top-down memfokuskan perhatiannya pada institusi dan kondisi sosial ekonomi, yang menekankan perilaku.<br />
Sintesa ini disempurnakan melalui pemakaian konteks sub system, yaitu semua aktor yang terlibat secara interaktif satu sama lain dalam proses politik dan kebijakan dibatasi oleh parameter yang relatif stabil serta kejadian di luar sub system.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Secara lebih jelas (Islamy, 2001) mengatakan bahwa Policy Sub System adalah aktor-aktor kebijakan yang berasal dari organisasi, baik organisasi publik maupun privat, secara aktif mengkaji dan mengkritisi suatu masalah kebijakan tertentu. Hal yang penting dari model implementasi ini adalah kedudukannya sebagai bagian yang berkesinambungan dari pengambil kebijakan (engonging part of policy making) dalam “Advocacy Coalitions” atau pendampingan para aktor kebijakan dengan berbagai elemen yang ada di masyarakat, atau aktor-aktor dari berbagai organisasi publik dan privat yang memiliki serangkaian kepercayaan, yang berusaha merealisasikan tujuan bersama sepanjang waktu (Islamy, 2001).</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Sedangkan dari model buttom-up yang dipertimbangkan adalah implementasi dikonseptualkan proses pembelajaran (learning-process), tujuannya adalah untuk menganalisis proses terjadinya pembelajaran terhadap kebijakan kalangan “Advocacy Coalitions”, dan memperkenalkan kondisi institusional yang paling cocok atau kondusif bagi proses belajar, dalam melakukan perubahan atau penyesuaian. Dari uraian-uraian yang dipaparkan di atas, makna yang dapat diungkap adalah bahwa model sintesis/Hybried, adalah suatu model implementasi kebijakan yang perwujudannya diawali oleh terbentuknya suatu jaringan kerja (net-work), berupa “Policy Sub System” dalam kerangka kerja “Koalisi Advocacy” yang dilandasi oleh konsep pembelajaran (learning process) yang kondusif (adanya keterkaitan, keteraturan dan kerjasama atau sistem kepercayaan), dilakukan secara berkesinambungan, agar terjadinya suatu perubahan (revisi), penyesuaian (adaptasi) dalam praktek/pelaksanaannya (implementasi), sehingga tujuan suatu kebijakan dapat direalisasikan sebagaimana mestinya.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Merujuk kepada pendapat Sabatier dan Islamy di atas, realitas di lapangan menunjukkan bahwa dalam proses implementasi kebijakan MPMBS, mengharuskan pihak sekolah (Kepala Sekolah) sebagai pelaku kebijakan (aktor/ stakeholders) utama kebijakan untuk mengedepankan metode implementasi yang melibatkan aktor/stakeholders lain seperti: guru, siswa, orang tua siswa, tokoh masyarakat atau Komite Sekolah/BP3 dan masyarakat/organisasi masyarakat lainnya, dalam suatu hubungan kerjasama antar subjek (aktor/stakeholders) sebagai suatu jaringan kerja (net-work) kebijakan dengan organisasi. Guna memperhatikan secara sungguh-sungguh pentingnya kebijakan MPMBS, problema kebijakan, dan cara mengatasinya. Dalam hal ini Hjern dan Porter (1988) (lihat Hill, 1993) menyebut dengan istilah “Policy Net-Work” atau “Implementation Structure”.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Metode jaringan kerja (net-work) belum diterapkan secara optimal, masih terbatas pada jaringan kerja dengan lembaga/instansi pemerintah dan orang tua siswa atau Komite Sekolah/BP3 saja, belum ada usaha untuk menjalin kerjasama dengan kelompok pengusaha, Organisasi Cendikiawan Perantau Daerah, Ikatan Alumni dan lain-lain.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Dari beberapa indikator-indikator yang ada, hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan-perubahan sebagai akibat dari pelaksanaan atau implementasi kebijakan MPMBS. Adapun salah satu diantara perubahan dimaksud diindikasikan dengan adanya pernyataan dari orang tua siswa dan siswa, dimana mereka merasa senang dan antusias menyambut implementasi kebijakan MPMBS ini. Khusus bagi siswa mereka merasa sangat senang, karena mereka menjadi lebih pintar bahasa Inggris, bahasa Arab dan baca/tulis Al-Quran dan lain-lain. Sedangkan terkait dengan model implementasi peneliti berpendapat bahwa model kebijakan MPMBS ini cukup memberikan harapan/menjanjikan, dengan kata lain bahwa model program MPMBS ini lebih baik, dibandingkan dengan program yang telah dilaksanakan selama ini yang lebih bersifat sentralistik, kaku (tidak demokratif), tidak adaptif tapi represif, tidak partisipatif dan tidak berorientasi pada pemberdayaan sumber daya, dan lain sebagainya. Indikator-indikator tersebut meliputi antara lain:</span></strong></em></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">a)<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span> Model kebijakan MPMBS, menuntut peran serta orang tua siswa dan masyarakat tidak terbatas hanya pada pembayaran/iuran/sumbangan biaya pendidikan atau iuran PB3/komite semata. Tetapi mereka dituntut untuk ikut berperan serta, terlibat, dan berpartisipasi secara aktif dan maksimal dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah serta memantau proses pembelajaran anak-anak mereka di sekolah atau di rumah. Di samping itu juga mereka dilibatkan/diikutsertakan dan diharapkan mampu secara bersama-sama dengan pihak sekolah dalam menyusun RAPBS.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">b)<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Merubah sistem/modal pembelajaran yang selama ini berpusat pada guru menjadi sistem/model pembelajaran dan pembelajaran yang berorientasi/ berpusat kepada siswa (Student-centered)</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">c)<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Kegiatan administratif maupun proses pembelajaran, dalam program/ kebijakan MPMBS dilakukan secara transparansi. Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah/BP3, secara bersama-sama terlibat dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran belanja sekolah. Dan secara terbuka disampaikan sumber besarnya dana yang akan didapatkan dan dipergunakan untuk apa saja.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><strong><span style="color:#ff6600;">d)<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>Dalam implementasi kebijakan MPMBS dituntut kiat (kepemimpinan transformasional, profesionalisme, dan kreatifitas) dalam mendayagunakan/ pemberdayaan sumber daya yang ada di sekolah maupun di lingkungan sekolah. Hal di atas akan tercapai bila diberikan otonomi (tentu dalam kerangka kebijakan MPMBS) kepada sekolah untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang ada di lingkungan sekolah mereka.</span></strong></em><!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#ff6600;">Keempat hal tersebut daitas, dalam implementasi kebijakan MPMBS hendaklah diakomodatif secara baik, agar terjadi atau kelihatan suatu perubahan kearah yang lebih baik, setelah kebijakan ini diimplementasikan.</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/295/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=295&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/25/juknis-pengisian-format-bmp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/Admin/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/07/230220094501.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SMA NEGERI LHOONG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PETUNJUK PELAKSANAAN SENSUS BARANG DAERAH  KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2009</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/25/petunjuk-pelaksanaan-sensus-barang-daerah-kabupaten-aceh-besar-tahun-2009/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/25/petunjuk-pelaksanaan-sensus-barang-daerah-kabupaten-aceh-besar-tahun-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Daftar  :      Lampiran Keputusan Bupati Aceh Besar Nomor           :         2009 Tanggal         : April             2009 M Rabiul Akhir  1430 H PETUNJUK PELAKSANAAN SENSUS BARANG DAERAH KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2009 I.          PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Untuk mendapatkan data barang yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan serta akurat (Up todate ), maka dipandang perlu melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=293&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Daftar  :      Lampiran Keputusan Bupati Aceh Besar</p>
<p style="text-align:justify;">Nomor           :         2009</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggal         :<span style="text-decoration:underline;"> April             2009 M</span></p>
<p style="text-align:justify;">Rabiul Akhir  1430 H</p>
<p style="text-align:center;"><strong>PETUNJUK PELAKSANAAN SENSUS BARANG DAERAH</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2009</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>I.          PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Maksud dan Tujuan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendapatkan data barang yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan serta akurat (<em>Up todate</em> ), maka dipandang perlu melakukan sensus barang Daerah Pemerintah Kota Banda Aceh. Sebagai pedoman Pelaksanaan Sensus Barang Daerah perlu disusun petunjuk teknis pelaksanaannya agar dijadikan pegangan yang tepat dan jelas bagi para pelaksana Sensus barang daerah sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun yang dimaksud dengan Sensus barang daerah adalah mengakuratkan pelaksanaan pencatatan semua barang inventaris milik / yang dikuasai Pemerintah Kabupaten dan barang Provinsi serta barang Inventaris milik Negara baik yang berada dibawah Penguasaan Departemen Dalam Negeri maupun Departemen lain yang berada dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan cara pencocokan data yang ada dalam Buku Inventaris dengan kondisi lapangan dan pencatatan langsung terhadap barang – barang yang belum tercatat, serta melakukan Verifikasi sehingga diperoleh data yang lengkap dan terinci sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Tujuan yang ingin dicapai dari Sensus barang daerah ini adalah untuk memperoleh data Kekayaan Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga dapat memberikan informasi yang tepat bagi perencanaan, penentuan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran, pemeliharaan, penghapusan, pengendalian, pemberdayaan / pemanfaatan dan pengamanan, maka setiap Unit / Satuan Kerja sebagai pengelola / pemakai harus dan mengetahui secara pasti keberadaan dan status pemiliknya sekaligus dapat mengevaluasi hasil – hasil pembangunan di Pemerintah Kota Banda Aceh yang telah dilaksanakan selama 5 tahun terakhir.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B.        Azas Sensus Barang Daerah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sensus Barang Daerah tahun 2009 dilaksanakan untuk memperoleh data yang lengkap seluruh kekayaan dalam bentuk barang milik Pemerintah Kota Banda Aceh dengan memperhatikan :</p>
<p style="text-align:justify;">1.         Azas Keseragaman yaitu adanya kesamaan dan keseragaman dalam melaksanakan Sensus Barang Daerah dari Unit / Satuan Kerja Perangkat Kabupaten</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Azas Fleksibilitas yaitu semua dapat dilaksanakan terhadap seluruh barang dan dapat menampung semua data barang yang diperlukan, serta dapat dilaksanakan dengan mudah oleh semua petugas.</p>
<p style="text-align:justify;">3.         Azas efisiensi yaitu dapat memperoleh bahan dan peralatan, waktu, tenaga, dan biaya yang diperlukan serta dapat mencapai sasaran yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">4.         Azas Kontinuitas yaitu data yang diperoleh merupakan dasar inventaris dan dapat dipergunakan secara berkelanjutan guna merencanakan kebutuhan selanjutnya untuk menunjang suksesnya pelaksanaan pembangunan didaerah secara bertahap.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C.        Pelaksanaan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan Sensus Barang Daerah tahun 2009 dilaksanakan oleh Tim Teknis Sensus Barang Daerah Pemerintah Kabupaten, secara teknis pelaksanaan Sensus Barang Daerah dilakukan oleh Pengurus Barang Inventaris yang berada pada setiap Unit / Satuan kerja Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D.        Metode dan Prosedur</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Agar pelaksanaan Sensus Barang Daerah tercapai sesuai dengan yang diharapkan, maka Sensus Barang Daerah Tahun 2009 dapat diuraikan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1.         Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Kabupaten Aceh Besar menyampaikan Kartu Inventaris Barang ( KIB ) yang terdiri dari KIB : A, B, C, D, E dan F kepada seluruh Unit / Satuan Kerja Perangkat Kabupate ( SKPK ) Aceh Besar untuk diisi dengan data awal dari KIB. Unit / SKPK yang sudah ada ditambah barang – barang yang belum tercatat dalam kelompok KIB-nya yang diperoleh dari pengadaan baru, mutasi, dari unit lain, akibat penggabungan SKPK dari adanya penerapan SOTK baru sesuai dengan Qanun No. 2 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Perangkat Kabupaten ataupun yang diperoleh dari limpahan eks. Kantor Cabang Dinas Propinsi yang menjadi Dinas Kabupaten/Kota berdasarkan bukti penyerahan yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Setelah diisi dan ditandatangani oleh pengurus barang dan pimpinan Unit /SKPK di copy masing – masing 1 lembar disampaikan kepada Bupati  Cq. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten (DPPKAK) Aceh Besar sebagai bahan evaluasi dan pencocokan data barang dengan kenyataan fisik dilapangan.</p>
<p style="text-align:justify;">3.         Hasil evaluasi tersebut dimasukan dalam Buku Inventaris ( Lampiran 32 ) yang merupakan hasil sensus Barang Daerah masing – masing unit / SKPK dan dibuat Rekapitulasi per golongan, ( 01 s/d 06 ) bidang barang( 01 s/d 19 ) selanjutnya dikirim kepada Bupati Cq. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Aceh Besar untuk dihimpun serta dibuat Buku Induk Hasil Sensus Barang Daerah Kabupaten Aceh Besar</p>
<p style="text-align:justify;">4.         Tim Teknis Sensus (Technical Team Census) Barang Pemerintah Kabupaten  Aceh Besar menyampaikan laporan hasil sensus Barang Daerah tahun 2009 kepada Bupati Aceh Besar.</p>
<p style="text-align:justify;">5.         Bupati Aceh Besar menyampaikan hasil sensus barang daerah tahun 2009 ke provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).</p>
<p style="text-align:justify;">Barang yang disensus adalah seluruh barang – barang Inventaris Milik / yang dikuasai Pemerintah Daerah terdiri dari atau dikelompokan menjadi:</p>
<p style="text-align:justify;">a.         Barang milik provinsi NAD yang berada pada Unit / SKP Kabupaten Aceh Besar termasuk barang yang berada pada Perusahaan Daerah ( Perusda )</p>
<p style="text-align:justify;">b.         Barang milik Departemen Dalam Negeri, dalam arti barang milik Depdagri yang berada pada dan digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar beserta jajarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">c.         Barang milik Negara dalam arti milik Departemen / Lembaga lain yang berada dan digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar</p>
<p style="text-align:justify;">Khusus untuk barang Perusda yang dilakukan sensus barang daerah adalah terhadap barang yang merupakan aktiva berupa tanah, bangunan dan barang inventaris lain yang tidak termasuk barang usaha.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil sensus barang daerah dimaksudkan diatas, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar membuat Buku Induk Inventaris dan Buku Inventaris yang meliputi seluruh Barang Inventaris milik / dikuasai Pemerintah Kabupaten/Kota yang terdiri dari :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Buku Inventaris Barang Milik Pemerintah Provinsi NAD</li>
<li>Buku Inventaris Barang Milik Departemen Dalam Negeri</li>
<li>Buku Inventaris Barang Milik Departemen / Lembaga lain.</li>
<li>Buku Induk Inventaris Barang Daerah Milik Pemerintah Kab. Aceh Besar</li>
<li>Buku Inventaris Barang Milik Pemerintah Kab. yang dipisahkan ( Perusda)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>E.         Jadwal Pelaksanaan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Agar sensus Barang Daerah dilaksanakan tepat waktu oleh seluruh Unit / Satuan Kerja, maka perlu disusun jadwal pelaksanaan sensus yaitu secara global sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1.         Persiapan dan percetakan Formulir, Kartu (KIR, KIB, BI, REKAP BI, RHS) dan kodefikasi BMD (Barang Milik Daerah) bulan Maret 2009</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Pembekalan bagi Pengurus Barang / Tim Teknis Sensus / Satuan Kerja serta   Pencanangan sensus termasuk penyampaian formulir dan kartu pada bulan Maret sampai dengan April 2009</p>
<p style="text-align:justify;">3.         Pengisian formulir dan kartu oleh Pengurus Barang SKPK bulan April sampai dengan Mei 2009</p>
<p style="text-align:justify;">4.         Pelaksanaan evaluasi dan pencocokan data bulan Mei sampai dengan Juni 2009 dimasing &#8211; masing Satker / SKPK</p>
<p style="text-align:justify;">5.         Memperbaharui atau merevisi formulir (dokumen) sesuai hasil evaluasi oleh Pengurus Barang di SKPK masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">6.         Pengiriman Fotocopy KIB (Kartu Inventaris Barang A-F), BI (Buku Inventaris), RHS (Rekap Hasil Sensus) dari unit / SKPK ke Tim Teknis Sensus (DPKAD) Kota Banda Aceh bulan  Juni &#8211; Juli 2009</p>
<p style="text-align:justify;">7.         Merekapitulasi dan menyusun BI, RHS seluruh SKPK oleh Tim Teknis Sensus Kota Banda Aceh bulan Juli 2009.</p>
<p style="text-align:justify;">8.         Menyampaikan laporan hasil sensus barang daerah oleh Tim teknis Sensus yang berupa Buku Inventaris / Buku Induk Inventaris serta laporan Tim Teknis Sensus kepada walikota bulan Agustus 2009</p>
<p style="text-align:justify;">9.         Penyampaian laporan hasil sensus barang daerah kepada Gubernur dan Pemerintah Pusat bulan Agustus 2009</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="568">
<tbody>
<tr>
<td width="35" valign="top">No.</td>
<td width="333" valign="top">KEGIATAN</td>
<td width="34" valign="top">Mar</td>
<td width="33" valign="top">Apr</td>
<td width="33" valign="top">May</td>
<td width="35" valign="top">Jun</td>
<td width="33" valign="top">Jul</td>
<td width="31" valign="top">Agt</td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">1.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Persiapan dan pencetakan   Formulir dan Kartu</td>
<td width="34" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="35" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="31" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">2.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Pembekalan Petugas Sensus   dan Sosialiasi</td>
<td width="34" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="35" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="31" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">3.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Pengisian Formulir dan Kartu   oleh Pengurus Barang di SKPD</td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="35" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="31" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">4.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Evaluasi / Pencocokan data   disetiap SKPD oleh Tim Teknis</td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="35" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="31" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">5.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Revisi formulir sesuai hasil   evaluasi oleh Pengurus Barang</td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="35" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="31" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">6.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Pengiriman KIB, BI, Rekap   Hasil Sensus (RHS) ke tim teknis</td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="35" valign="top">X</td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="31" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">7.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Rekap BI dan RHS seluruh   SKPD oleh tim teknis</td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="35" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top">X</td>
<td width="31" valign="top">X</td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">8.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Penyampaian hasil sensus kepada Walikota oleh tim   teknis</td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="35" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="31" valign="top">X</td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">
<p align="center">9.</p>
</td>
<td width="333" valign="top">Penyampaian hasil sensus ke Provinsi &amp; Pusat   oleh Bupati</td>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="35" valign="top"></td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="31" valign="top">X</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong>II.         PENCOCOKAN DAN PENGISIAN DATA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.  Persiapan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sensus Barang Daerah ini digunakan sebagai pedoman bagi pengurus Barang unit /Satuan kerja agar dapat melaksanakan tugas dilapangan dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencapai sasaran tersebut diatas dalam petunjuk teknis ini akan diuraikan secara rinci yang meliputi tahapan persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tahapan persiapan sensus barang Kabupaten Aceh Besar dalam hal ini DPPKAK (Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten) harus menyiapkan hal – hal sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1.         Pelatihan / pembekalan bagi Tim Teknis Sensus Barang Pemerintah</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Pemberitahuan / Keputusan Bupati Aceh Besar kepada seluruh unit / SKP Kabupaten Aceh Besar tentang pelaksanaan Sensus Barang Daerah</p>
<p style="text-align:justify;">3.         Keputusan Bupati tentang pembentukan Tim Teknis Sensus Barang</p>
<p style="text-align:justify;">4.         Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sensus Barang</p>
<p style="text-align:justify;">5.         Keputusan Bupati tentang Penetapan Nomor Kode Unit / Lokasi dan Kode Barang Daerah</p>
<p style="text-align:justify;">6.         Menyiapkan bahan dan form Sensus Barang Daerah antara lain :</p>
<p style="text-align:justify;">-     Kartu Inventaris Ruangan ( KIR ) lampiran 31</p>
<p style="text-align:justify;">-     Kartu Inventaris ( Buku Inventaris ) Lampiran 32</p>
<p style="text-align:justify;">-     Kartu Inventaris Barang lampiran 25 s/d 30</p>
<p style="text-align:justify;">-     Rekap Buku Inventaris dan Rekap Hasil Sensus (RHS)</p>
<p style="text-align:justify;">-     Sarana lain yang dapat menunjang pelaksanaan Sensus Barang Daerah</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B.        Pelaksanaan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun sistematikan pelaksanaan sensus Barang Milik Daerah di Kota Banda Aceh sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.         Tim Teknis Sensus Barang Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyampaikan Kartu Inventaris Barang ( KIB ) dan bahan sensus lainnya keseluruh unit / SKPK</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Pengurus barang Unit / SKPK selaku bagian dari Tim Teknis Sensus Barang Daerah setelah menerima KIB segera melakukan :</p>
<p style="text-align:justify;">a.      <strong>Mengisi form / Mencocokan / memperbaiki</strong> Kode Lokasi Unit / SKPK sesuai dengan tabel kode Lokasi dan kode barang yang baru</p>
<p style="text-align:justify;">b.      Mencocokan / meneliti dan mengoreksi data barang yang tercantum dalam data lama dengan <strong>kenyataan fisik</strong> barang yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">c.      Apabila barang yang tercatat dalam kartu inventaris Barang, <span style="text-decoration:underline;">sesuai </span><strong>dengan fisik barangnya</strong>, beri tanda contary ( v ) pada nomor urut dalam KIB tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">d.      Apabila terdapat <strong>barang yang belum tercatat</strong> dalam KIB, maka barang tersebut dicatat dalam formulir Lampiran 32 (Buku Inventaris ),  kemudian dipindahkan ke dalam KIB masing – masing.</p>
<p style="text-align:justify;">e.      Apabila terdapat barang yang <strong>tidak sesuai antara catatan dengan kenyataan</strong>, maka Kartu Inventaris Barang dikoreksi dengan cara mencoret dengan tinta merah dari data yang tercantum dan data barang dimaksud dipindahkan dalam catatan barang – barang yang diusulkan untuk diproses lebih lanjut (Penghapusan / Tuntutan ganti rugi )</p>
<p style="text-align:justify;">f.       Setiap coretan harus diparaf pengurus barang yang bersangkutan dan diberi tanggal.</p>
<p style="text-align:justify;">g.      Mengisi KIB Baru dengan cara memindahkan data dari KIB lama yang telah dikoreksi / diteliti, ditambah dengan data baru yang belum tercatat sebelumnya dan dikurangi dengan barang – barang yang sudah diserahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">h.      Melaporkan data barang yang dalam data, tetapi <strong>barang tidak diketemuka</strong> dengan dilampiri data barang ( KIB ) yang telah dikoreksi / diteliti dengan tanda coretan dan tinta merah dan telah diparaf oleh pengurus barang yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;">i.       Tim Sensus barang daerah akan melaksanakan evaluasi / pencocokan data (KIB A,B,C,D,E dan F ) pada masing – masing satuan kerja / SKPK</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C.        Tata cara Pengisian Kartu dan Formulir</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun tata cara pengisian kartu dan formulir sensus Barang Milik Daerah di Kabupaten Aceh Besar sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.         <strong>Kartu Inventaris Ruangan ( KIR )</strong>, lampiran 31 terdiri dari 14 kolom, untuk mencatat semua barang – barang inventaris setiap ruangan dan ditempatkan / ditempelkan pada masing – masing ruangan .</p>
<p style="text-align:justify;">2.         <strong>Kartu Inventaris Barang ( KIB ) A, tanah</strong>, lampiran 25 terdiri dari 14 kolom untuk mencatat khusus tanah.</p>
<p style="text-align:justify;">3          <strong>Kartu Inventaris Barang ( KIB ) B, Peralatan dan Mesin</strong>, lampiran 26 terdiri dari 16 kolom untuk mencatat semua barang bergerak termasuk kendaraan roda 4 dan 2 dan barang inventaris lainya.</p>
<p style="text-align:justify;">4.         <strong>Kartu Inventaris Barang ( KIB ) C, Gedung dan Bangunan</strong> lampiran 27 terdiri dari 17 kolom untuk mencatat setiap bangunan gedung dan monument.</p>
<p style="text-align:justify;">5.         <strong>Kartu inventaris barang ( KIB ) D, Jalan, Irigasi dan Jaringan</strong> lampiran 28 terdiri dari 17 kolom untuk mencatat setiap jalan, dan jembatan, bangunan air / irigasi, instalasi dan jaringan .</p>
<p style="text-align:justify;">6.         <strong>Kartu Inventaris Barang ( KIB ) E, Aset tetap lainnya</strong>, lampiran 29 terdiri dari 16 kolom, untuk mencatat buku dan perpustakaan, barang bercorak kebudayaan, hewan / ternak dan tumbuh – tumbuhan dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">7.         <strong>Kartu Inventaris Barang ( KIB ) F, konstruksi dalam pengerjaan</strong>, lampiran 30 terdiri dari 15 kolom untuk mencatat setiap barang dalam proses pengerjaan.</p>
<p style="text-align:justify;">8          <strong>Buku inventaris </strong>lampiran 32 digunakan untuk menyampaikan data barang secara keseluruhan dari unit / SKPD, terdiri dari 15 kolom, terlebih dahulu disudut kiri atas diisikan nama SKPD Kabupaten/Kota, sedangkan disudut kanan atas diisikan nomor kode lokasi.</p>
<p style="text-align:justify;">9.         <strong>Blangko / formulir rekapitulasi buku inventaris ( rekap hasil sensus )</strong> lampiran 33 terdiri dari 7 kolom dipergunakan untuk mencatat jumlah barang hasil sensus (buku inventaris ), dengan kata lain buku inventaris dibuat rekapnya. Setelah blangko / formulir tersebut diatas disi seluruhnya, maka pada sebelah kanan bawah dibubuhkan tanggal pencatatatn dan ditandatangani pengurus barang dan sebelah kiri bawah diketahui dan ditandatangani oleh kepala unit / SKPK yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D.         PENGKODEAN BARANG</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KODE KEPEMILIKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.         Barang milik Pemerintah Propinsi dengan Nomor / Kode Barang ( <strong>11 </strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Barang milik Pemerintah Kabupaten/Kota kode barang ( <strong>12</strong> )</p>
<p style="text-align:justify;">3.         Barang Milik Departemen / Lembaga lain yang ada dan dipergunakan oleh pemerintah daerah dengan Nomor / Kode Komponen Barang <strong>00</strong> ( Apabila belum dicatat/ diinventarisir oleh Departemen / Lembaga yang bersangkutan )</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KODE PROPINSI </strong>: Untuk Nomor Kode Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam  dengan Nomor Kode  ( <strong>01 )</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KODE KOTA </strong>: Untuk Nomor Kode Kabupaten Aceh Besar dengan Nomor  ( <strong>01 )</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CARA PENGGUNAAN NOMOR</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sasaran dari Sensus Barang Daerah adalah semua barang milik Pemerintah yang ada dan dipergunakan oleh Pemerintah Daerah yang terdiri dari :</p>
<p style="text-align:justify;">a.         Barang milik Pemerintah Provinsi</p>
<p style="text-align:justify;">b.         Barang milik Pemerintah Kabupaten / Kota</p>
<p style="text-align:justify;">c.         Barang milik DEPDAGRI</p>
<p style="text-align:justify;">d.         Barang milik Departemen / Lembaga lain</p>
<p style="text-align:justify;">e.         Barang milik Perusda ( Barang milik daerah yang dipisahkan )</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam rangka kegiatan sensus barang daerah maka setiap barang tersebut diatas diberikan Nomor Kode yang terdiri dari :</p>
<p style="text-align:justify;">1.         Nomor kode lokasi</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Nomor kode barang</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>NOMOR KODE LOKASI</strong></p>
<p style="text-align:justify;">a.         Nomor kode lokasi tidak hanya menggambarkan / menjelaskan dimana barang tersebut berada tetapi juga menggambarkan status pemilikan barang unit dan sub unit / UPTD serta tahun pembelian / perolehan barang</p>
<p style="text-align:justify;">b.         Nomor kode tersebut terdiri dari atas 7 kelompok dengan 17 angka / digit dituliskan berurutan kebelakang diatas sebuah garis lurus.</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="513">
<tbody>
<tr>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="21" valign="top">2</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="21" valign="top">3</td>
<td width="21" valign="top">4</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="21" valign="top">5</td>
<td width="21" valign="top">6</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="21" valign="top">7</td>
<td width="21" valign="top">8</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="21" valign="top">9</td>
<td width="28" valign="top">10</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="28" valign="top">11</td>
<td width="28" valign="top">12</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="28" valign="top">13</td>
<td width="28" valign="top">14</td>
<td width="28" valign="top">15</td>
<td width="28" valign="top">16</td>
<td width="28" valign="top">17</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">1              2                  3                  4                      5                      6                                  7</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan:</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Kode komponen Kepemilikan 2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Provinsi 2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kabupaten/Kota 2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">4    Kode Bidang Tugas 2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">5    Kode Unit Bidang/SKPK 2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Kode Tahun Pembelian / Perolehan 2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">7    Kode Sub Unit / UPTD / Cab. Dinas/kode 5 digit</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>NOMOR KODE BARANG</strong></p>
<p style="text-align:justify;">a.         Nomor kode barang menggambarkan golongan, bidang barang, kelompok barang, sub kelompok barang , sub – sub kelompok barang / jenis barang</p>
<p style="text-align:justify;">b.         Nomor kode barang terdiri atas 6 kelompok dengan 14 angka / digit tersusun berurutan kebelakang dibawah garis lurus, sebagai berikut :</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="448">
<tbody>
<tr>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="16" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="25" valign="top">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="22" valign="top">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="16" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">5</p>
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">6</p>
</td>
<td width="16" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="20" valign="top">
<p align="center">7</p>
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td width="18" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="27" valign="top">
<p align="center">9</p>
</td>
<td width="28" valign="top">
<p align="center">10</p>
</td>
<td width="17" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">11</p>
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">13</p>
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">14</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>1                  2                      3                 4                    5                             6</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan :</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Kode Golongan Barang  2 digit        .</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Bidang Barang 2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kelompok Barang 2 digit        .</p>
<p style="text-align:justify;">4.   Kode Sub Kelompok Barang  2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">5.   Kode Sub – sub Kelompok Barang  2 digit</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Nomor Register / Nomor urut barang  4 digit</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CONTOH KODE BARANG </strong>: Meja tulis ( Meja tulis yang kedelapan )</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="448">
<tbody>
<tr>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="16" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="25" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="22" valign="top">
<p align="center">6</p>
</td>
<td width="16" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="16" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="20" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="24" valign="top">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="18" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="27" valign="top">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="28" valign="top">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="17" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="31" valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>1                  2                      3                 4                    5                             6</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan :</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Peralatan dan Mesin            .</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Bidang Barang  (<em>Alat Kantor Rumah Tangga</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kelompok Barang  (<em>Alat Rumah Tangga</em>)          .</p>
<p style="text-align:justify;">4.   Kode Sub Kelompok Barang  (<em>Mebelair</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">5.   Kode Sub – sub Kelompok Barang  (<em>Meja Tulis</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Nomor Register / Nomor urut barang  (<em>0008</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>02.06.02.01.11.0008</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengetahui Nomor Kode barang dari setiap jenis dengan cepat perlu 2  angka didepan / dicari nomor Golongan Barangnya kemudian baru dicari Nomor Kode Bidang Barang,Nomor kode Kelompok barang, Nomor Kode Sub Kelompok barang, dan sub – sub kelompok barang ( langsung mencari nomor kode barang dimaksud ).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CONTOH I: </strong>Barang (pembelian th. 2007) milik Pemerintah Kabupaten Aceh Besar Dinas Pendidikan dipergunakan SD Negeri 1 Kota Jantho</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="480">
<tbody>
<tr>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="21" valign="top">2</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">8</td>
<td width="21" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="29" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">7</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="20" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">7</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">2</td>
<td width="24" valign="top">3</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">1              2                  3                  4                      5                      6                                  7</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan:</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Kode komponen (<em>Kepemilikan Kabupaten</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Provinsi  (<em>Nanggroen Aceh Darussalam</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kabupaten/Kota (<em>Kabupaten Aceh Besar</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">4    Kode Bidang Tugas  (Pendidikan)</p>
<p style="text-align:justify;">5    Kode Unit Bidang  (<em>Dinas Pendidikan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Kode Tahun Pembelian / Perolehan  (<em>07</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">7    Kode Sub Unit / UPTD / Cab. Dinas/kode  (<em>SD-SDN 1 Kota Jantho</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12 01 01 08 01 07 07023</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CONTOH II: </strong>Barang (pembelian th. 2008 ) milik Pemerintah Kabupaten Aceh Besar berada seksi Tata Pemerintahan dikecamatan Kota Jantho seksi Tata Pemerintahan.</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="481">
<tbody>
<tr>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="21" valign="top">2</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">5</td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="29" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">8</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="20" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">2</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">1              2                  3                  4                      5                      6                                  7</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan:</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Kode komponen (<em>Kepemilikan</em> <em>Kabupaten</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Provinsi  (<em>Nanggroen Aceh Darussalam</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kabupaten/Kota (<em>Aceh Besar</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">4    Kode Bidang Tugas  (<em>Kecamatan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">5    Kode Unit Bidang  (<em>Kecamatan Kota Jantho</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Kode Tahun Pembelian / Perolehan  (<em>2008</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">7    Kode Sub Unit / UPTD / Cab. Dinas/kode  (<em>Tata Pemerintahan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12 01 01 50 01 08 02000</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CONTOH III:</strong> Barang (pembelian tahun 2005) milik propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar dipergunakan oleh Puskesmas Saree</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="480">
<tbody>
<tr>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">7</td>
<td width="21" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">3</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="29" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">5</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="20" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">2</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">1              2                  3                  4                      5                      6                                  7</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan:</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Kode komponen (<em>Kepemilikan</em> <em>Propinsi</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Provinsi  (<em>Nanggroen Aceh Darussalam</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kabupaten/Kota (<em>Aceh Besar</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">4    Kode Bidang Tugas  (<em>Kesehatan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">5    Kode Unit Bidang  (<em>Dinas Kesehatan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Kode Tahun Pembelian / Perolehan  (<em>2005</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">7    Kode Sub Unit / UPTD / Cab. Dinas/kode  (<em>Puskesmas saree</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>11 01 01 07 03 05 02000</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CONTOH IV: </strong>Barang ( pembelian th. 2005 ) milik Pemerintah Kabupaten Aceh Besar pada Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan dipergunakan pada Bagian Hukum sub perundang-undangan</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="480">
<tbody>
<tr>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="21" valign="top">2</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">4</td>
<td width="21" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">3</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="29" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">5</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="20" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">1</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">1              2                  3                  4                      5                      6                                  7</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan:</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Kode komponen (<em>Kepemilikan</em> <em>Kabupaten</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Provinsi  (<em>Nanggroen Aceh Darussalam</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kabupaten/Kota (<em>Aceh Besar</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">4    Kode Bidang Tugas  (<em>Asisten Pemerintahan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">5    Kode Unit Bidang  (<em>Bagian Hukum</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Kode Tahun Pembelian / Perolehan  (<em>2005</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">7    Kode Sub Unit / UPTD / Cab. Dinas/kode  (<em>Bidang Perundang-undangan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12 01 01 04 03 05 01000</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CONTOH V: </strong>Barang milik Departemen / Lembaga lain ( selain Depdagri dan belum dicatat / diinventarisir oleh Departemen / Lembaga lain yang bersangkutan ) di Wilayah Propinsi NAD pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupate Aceh Besar dipergunakan pada bidang Tanaman Pangan Pembelian tahun 2003</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="480">
<tbody>
<tr>
<td width="21" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">0</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="22" valign="top">1</td>
<td width="21" valign="top"></td>
<td width="22" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">1</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="29" valign="top">0</td>
<td width="21" valign="top">3</td>
<td width="16" valign="top"></td>
<td width="20" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">2</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
<td width="24" valign="top">0</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">1              2                  3                  4                      5                      6                                  7</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Keterangan:</span></p>
<p style="text-align:justify;">1.   Kode komponen (<em>Kepemilikan</em> <em>Pemerintah Pusat</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">2.   Kode Provinsi  (<em>Nanggroen Aceh Darussalam</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">3.   Kode Kabupaten/Kota (<em>Aceh Besar</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">4    Kode Bidang Tugas  (<em>Bidang Pertanian</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">5    Kode Unit Bidang  (<em>Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura </em>)</p>
<p style="text-align:justify;">6.   Kode Tahun Pembelian / Perolehan  (<em>2003</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">7    Kode Sub Unit / UPTD / Cab. Dinas/kode  (<em>Tanaman Pangan</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>00 01 01 11 01 03 02000</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CONTOH VI : </strong><strong>Cara penulisan Nomor Kode Lokasi /</strong> <strong>Unit dan Nomor Kode Barang </strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.         Barang ( Jenis Televisi ke 75) milik Pemerntah Kabupaten Aceh Besar Provinsi NAD dipergunakan dikecamatan Kota Jantho di sekretariat, Pembelian / perolehan tahun 2004.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Cara Penulisan : </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> 12 01 01 50 01 04 01000</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> 02 06 02 01 26 0075</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">2.         Barang milik Pemerintah Kabupaten Aceh Besar Jenis barang bangku sekolah dibeli tahun 2004 pada SDN 1 Kota Jantho ( Bangku yang ke 75 )</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12 01 01 08 01 07 07023</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>02 06 02 01 26 0075</strong></p>
<p style="text-align:justify;">3.         Barang milik Pemerintah Kab. Aceh Besar Jenis Filling Kabinet besi /  metal tahun 2005 pada kantor Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi di sekretariat dan dibeli tahun 2004 ( Bangku yang ke 5 )</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara penulisan :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12 01 01 12 01 05 01000</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>02 06 01 04 04 0005</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KODE UNIT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nomor kode mulai 01 s/d &#8230;&#8230; Sesuai unit bidang sedangkan urut – urutannya ditetapkan dalam satu pembakuan wilayah masinmg – masing</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk pembakuan Nomor Kode unit, sub unit / UPTD dan satuan kerja wilayah yang ditetapkan dengan keputusan Bupati</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KODE TAHUN PEMBELIAN / PEROLEHAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nomor Unit Nomor Kode Tahun Pembelian / Perolehan barang dituliskan dua angka terakhir dari tahun pembelian / perolehan ( misalnya  tahun 2005 maka ditulis 05 )</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KODE SATUAN KERJA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sub Unit / UPTD masih dapat dibagi dengan satuan kerja diberi nomor kode mulai 01 dan seterusnya sampai sejumlah satuan kerja dalam unit / UPTD tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENJELASAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">a.         Unit yang tidak mempunyai Sub Unit / UPTD dan satuan kerja, maka pada Bagian Pengembangan Sub Unit / UPTD dan Satuan kerja diisi 000.</p>
<p style="text-align:justify;">b.         Unit yang mempunyai Sub Unit dan satuan kerja maka dibagian Pengembangan sub unit /UPTD dan satuan kerja diisi dengan nomor Kode Sub Unit / UPTD mulai dari Nomor Kode 001 sampai dengan sejumlah satuan kerja yang ada pada sub unit / UPTD yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PEMASANGAN KODE BARANG DAN TANDA KEPEMILIKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.         Kode barang dan kepemilikan barang / kode lokasi harus dicantumkan  pada setiap barang – barang inventaris kecuali tempat yang tersedia tidak ada cukup dicatat pada Buku Inventaris, KIB dan KIR</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Kode barang dan Tanda kepemilikan untuk kendaraan bermotor roda 4 ( empat ) dicantumkan disebelah dalam ruang kemudi yang mudah dilihat dan untuk kendaraan bermotor roda 2 ( dua ) jenis sport dicantumkan pada tangki bensin sedangkan untuk jenis bebek dicantumkan pada tempat yang mudah dilihat.</p>
<p style="text-align:justify;">3.         Kode barang dan tanda Pemilikan Rumah Dinas, Gedung kantor bangunan rumah sakit dll terbuat dari logam dicantumkan pada tembok bangunan bagian depan dengan ukuran :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Lebar = 15 cm</li>
<li>Panjang = 25 cm</li>
<li>Gambar Lambang Daerah ukuran garis tengah 6 cm</li>
<li>Tinggi pemasangan dari lantai 2 cm</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan untuk tanah, terbuat dari logam berukuran 60 cm x 100 cm tinggi pemasangan 200 cm dari permukaan tanah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>MEKANISME</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pelaksanaan pengumpulan data sensus barang daerah semua unit / Satuan  kerja dimulai dari satuan kerja / sub unit terkecil sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.   Kecamatan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap camat mengisi :</p>
<p style="text-align:justify;">a.         Kartu Inventaris Barang ( KIB )</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>KIB A Tanah</li>
<li>KIB B Peralatan dan Mesin</li>
<li>KIB C Gedung dan Bangunan</li>
<li>KIB D Jalan, Irigasi dan Jaringan</li>
<li>KIB E Aset tetap Lainnya</li>
<li>KIB F Konstruksi dalam pengerjaan</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sesuai dengan petunjuk pengisian KIB masing – masing rangkap 2 ( dua )</p>
<p style="text-align:justify;">b.         Kartu Inventaris Ruangan ( KIR ) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing – masing sesuai petunjuk Pengisian KIR ( lampiran 31 )</p>
<p style="text-align:justify;">c.         Formulir Inventaris Buku ( Buku Inventaris ) lampiran 32</p>
<p style="text-align:justify;">Barang yang dikuasai kecamatan yang bersangkutan sesuai dengan petunjuk dibuat rangkap 3 (tiga) dan setelah diisi kemudian menggabungkannya dengan Buku Inventaris dari Satuan kerjanya ( Gampong/mukim/kelurahan ) menjadi buku inventaris Kecamatan, dari buku inventaris dimaksud harus dibuatkan rekapitulasinya, lembar ketiga disimpan dikantor kecamatan sebagai arsip, sedangkan lembar ke 1 s/d 2 dikirim ke Bupati Cq. DPPKAK Aceh Besar</p>
<p style="text-align:justify;">d.         Buku Inventaris Kecamatan yakni :</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 3 rangkap.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten / Kota sebanyak 3 rangkap.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Milik Negara sebanyak 3 rangkap ( kalau ada )</p>
<p style="text-align:justify;">-       Masing – masing dicatat secara terpisah sesuai pemilikan barangnya, kalau ada di Kecamatan tersebut, begitu juga untuk KIB dan KIR</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.   Sekolah Negeri ( SD )</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap Kepala Sekolah Negeri satuan kerja mengisi :</p>
<p style="text-align:justify;">a.   Kartu Inventaris Barang ( KIB )</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB A Tanah , lampiran 25</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB B Peralatan dan Mesin, lampiran 26</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB C Gedung dan Bangunan, lampiran 27</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB E Aset tetap Lainnya, lampiran 29</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuai dengan petunjuk pengisian KIB masing – masing rangkap 2 ( dua )</p>
<p style="text-align:justify;">b. Kartu Inventaris Ruangan ( KIR ) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing – masing sesuai petunjuk Pengisian KIR ( lampiran 31 )</p>
<p style="text-align:justify;">c. Buku Inventaris Barang ( lampiran 32 ) yang berada di Sekolah Negeri yang bersangkutan dalam rangkap 5 (lima), lembar ke-5 pada Sekolah Negeri /Satuan Kerja yang bersangkutan sebagai arsip ( Buku Inventaris SDN ) Sedangkan lembar ke 1 s/d 4 dikirim ke UPT kecamatan yang bersangkutan. Buku inventaris ( lampiran 32 ) masing &#8211; masing dibuat rekapitulasinya.</p>
<p style="text-align:justify;">d.   Buku Inventaris SDN yakni :</p>
<p style="text-align:justify;">-     Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 5 rangkap dan dibuat rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-     Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 5 rangkap dan dibuat rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-     Buku Inventaris Barang milik / kekayaan Negara sebanyak 5 rangkap (kalau Ada ) dan dibuat rekap</p>
<p style="text-align:justify;">Masing – masing dicatat secara terpisah sesuai kepemilikan barangnya kalau ada di SDN tersebut begitu juga untuk KIB dan KIR.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.   Kuasa Pengguna</strong> atau Unit Pelaksana Teknis Daerah / Puskesmas / SMP / SMA / SMK / TK Pembina / BP4 / Gudang Farmasi dan Perpustakaan Umum ( Kuasa Pengguna ) mengisi :</p>
<p style="text-align:justify;">a)   Kartu Inventaris Barang (KIB).</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB A : Tanah</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB B : Peralatan dan Mesin</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB C : Gedung dan Bangunan</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB E : Aset Tetap Lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB F : Kontruksi dalam Pengerjaan</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuai dengan petunjuk pengisian KIB masing-masing rangkap 2 (dua)</p>
<p style="text-align:justify;">b)   Kartu Inventaris Ruangan (KIR) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing sesuai petunjuk pengisian KIR lampiran 31</p>
<p style="text-align:justify;">c)   Buku Inventaris Barang ( Lampiran 32 ) yang berada di kuasa pengguna atau unit pelaksana.teknis / SMP / SMA / TK Pembina / BP 4 Gudang Farmasi dan Perpustakaan Umum, yang bersangkutan dalam rangkap 4 dan setelah diisi, kemudian menggabungkan dengan Buku Inventaris dari semua Satuan Kerjanya menjadi Buku Inventaris kuasa pengguna (UPTD/SMP/SMA/SMK/TK Pembina/BP-4 Gudang Farmasi dan Perpustakaan Umum) . Dari Buku Inventaris dimaksud harus dibuatkan Rekapitulasinya. Lembar ke 4 disimpan di kuasa pengguna / UPTD sebagai arsip, sedangkan lembar ke 1 s/d 3 dikirim / disampaikan ke SKPD yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;">d)   Buku Inventaris kuasa pengguna / UPTD, yakni :</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Daerah Propinsi sebanyak 4 rangkap dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten sebanyak 4 rangkap dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Milik / Kekayaan Negara sebanyak 4 rangkap dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">Masing-masing dicatat secara terpisah sesuai pemilikan barangnya, kalau ada di kuasa pengguna / UPTD tersebut, begitu juga untuk KIB dan KIR</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.   Pengguna Barang/ SKPK ( Dinas, Lembaga Teknis, Badan dan Perusda ) </strong>Setiap SKPK mengisi :</p>
<p style="text-align:justify;">a.   Kartu Inventaris Barang ( KIB )</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB A Tanah</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB B Peralatan dan Mesin</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB C Gedung dan Bangunan</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB D Jalan, Irigasi dan Jaringan</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB E Aset tetap Lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB F Konstruksi dalam pengerjaan</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuai dengan petunjuk pengisian KIB masing – masing rangkap 2 ( dua )</p>
<p style="text-align:justify;">b. Kartu Inventaris Ruangan ( KIR ) berdasarkan letak barang menurut Ruangan  masing – masing sesuai petunjuk Pengisian KIR</p>
<p style="text-align:justify;">c.   Buku Inventaris ( lampiran 32 ) barang yang berada di SKPK yang bersangkutan dalam rangkap 3 dan setelah diisi, kemudian menggabungkan dengan buku Inventaris dari semua kuasa pengguna / UPTD menjadi Buku Inventaris SKPK, dari Buku Inventaris dimaksud harus dibuatkan rekapitulasinya. Lembar ke 3 disimpan di SKPD sebagai arsip, sedangkan lembar ke 1 s/d 2 dikirim/disampaikan ke DPKAD Banda Aceh</p>
<p style="text-align:justify;">d.   Buku Inventaris SKPKD, yakni :</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku inventaris barang Daerah Provinsi sebanyak 3 rangkap. Dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 3 rangkap dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang milik / Kekayaan Negera sebanyak 3 rangkap (kalau ada) dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">Masing – masing dicatat secara terpisah sesuai pemilikan barangnya, kalau ada di SKPK tersebut, begitu juga untuk KIB dan KIR</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.         Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD) </strong>mengisi :</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap Setda dan Setwan mengisi :</p>
<p style="text-align:justify;">a.   Kartu Inventaris Barang ( KIB )</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB A Tanah</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB B Peralatan dan Mesin</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB C Gedung dan Bangunan</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB D Jalan, Irigasi dan Jaringan</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB E Aset tetap Lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">-       KIB F Konstruksi dalam pengerjaan</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuai dengan petunjuk pengisian KIB masing–masing rangkap 2 (dua)</p>
<p style="text-align:justify;">b. Kartu Inventaris Ruangan ( KIR ) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing–masing sesuai petunjuk Pengisian KIR (lampiran 31)</p>
<p style="text-align:justify;">c.   Buku inventaris ( lampiran 32 ) barang yang berada di kuasa pengguna Unit Setda Kabupaten ( Bagian – Bagian ) sesuai petunjuk pengisian, lampiran 32 dalam rangkap 3 ( tiga ) barang –barang yang ada pada Sekretariat Daerah dan setelah diisi, kemudian menggabungkannya/direkap dari semua Satuan Kerja / Sub Unit Setda termasuk SETWAN, Lembar ke 3 ( tiga ) disimpan di Unit  Setda sebagai Arsip ( Buku Inventaris Unit/Sub Unit Setda ), sedangkan lembar 1 dan 2 disampaikan ke DPPKAK</p>
<p style="text-align:justify;">d.   Buku Inventaris Unit / Satuan Kerja Setda Kabupaten yakni ;</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 3 rangkap dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Kabupaten sebanyak 3 rangkap dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang milik/kekayaan Negara sebanyak 3 rangkap (kalau ada ) dan dibuatkan rekap</p>
<p style="text-align:justify;">Masing – masing dicatat secara terpisah sesuai pengguna unit Setda tersebut, begitu juga untuk KIB dan KIR.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7.         Kabupaten Cq. Bagian Kekayaan Daerah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">a.   Menerima Buku Inventaris ( lampiran 32 ) dari semua SKPD ( termasuk satuan kerjanya ) dalam rangkap 2 ( dua ) dan</p>
<p style="text-align:justify;">b.   Menerima Buku Inventaris dari Unit Setda Kabupaten ( termasuk kuasa pengguna ) dalam rangkap 2 ( dua )</p>
<p style="text-align:justify;">Buku – buku inventaris tersebut dikompilasikan Bagian Kekayaan Daerah sebagai pusat inventarisasi, maka diperoleh :</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten sebanyak 2 rangkap, lembar 1 ( astu ) asli disimpan dikabupaten, lembar 2 dikirim ke Provinsi.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang Provinsi, sebanyak 2 rangkap, lembar 1 ( satu ) asli disampaikan ke Provinsi lembar 2 ( dua ) disimpan di Kabupaten.</p>
<p style="text-align:justify;">-       Buku Inventaris Barang milik/Kekayaan Negara sebanyak 2 ( dua ) rangkap ( kalau ada ), lembar kesatu ASLI disampaikan ke masing – masing departemen, Kedua disimpan dikabupaten.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku induk Inventaris Barang Kabupaten/Kota dibuat daftar Rekapitulasi Induk untuk menggambarkan jumlah barang .</p>
<p style="text-align:justify;">Buku Inventaris Barang – barang Provinsi, barang Milik/Kekayaan Negara dibuatkan pula Daftar Rekapitulasinya masing – masing rangkap 2 (dua ), untuk memudahkan Provinsi untuk mengumpulkan / mengkompilasi daftar rekapitulasi tersebut di Provinsi untuk disampaikan masing – masing :</p>
<p style="text-align:justify;">a). Menteri Dalam Negeri; dan</p>
<p style="text-align:justify;">b). Arsip Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam</p>
<p style="text-align:justify;">BUPATI ACEH BESAR,</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>DR. BUKHARI DAUD M.Ed</strong><strong> </strong></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/293/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=293&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/25/petunjuk-pelaksanaan-sensus-barang-daerah-kabupaten-aceh-besar-tahun-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ADMINISTRASI PENDIDIKAN MODERN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/administrasi-pendidikan-modern/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/administrasi-pendidikan-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 10:15:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Selama ini administrasi hanya dipandang sebagai kegiatan tulis menulis belaka. Pandangan orang demikian ini tentu bukan tidak beralasan. Secara phisik kegiatan admninistasi memang banyak didominasi dalam kegiatan tulis menulis, baik menggunakan tangan, alat tulis, mesin ketik atau komputer. padahal banyak teori yang mengatakan kegiatan administrasi lebih dari pada itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=278&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>BAB I</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. LATAR BELAKANG</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selama ini administrasi hanya dipandang sebagai kegiatan tulis menulis belaka. Pandangan orang demikian ini tentu bukan tidak beralasan. Secara phisik kegiatan admninistasi memang banyak didominasi dalam kegiatan tulis menulis, baik menggunakan tangan, alat tulis, mesin ketik atau komputer. padahal banyak teori yang mengatakan kegiatan administrasi lebih dari pada itu. Bahkan ada yang lebih keterlaluan lagi bahwa administrasi hanya dipandang sebagai kegiatan pendukung saja dalam melengkapai kegiatan yang ada di lapangan</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak semuanya pandangan demikian itu benar. Kegiatan administrasi atau tulis-menulis atau lebih dikenal dengan ketata usahaan di sebuah lembaga mempunyai out put yang sangat penting, terkait di berbagai bidang, baik hukum, sosial maupun ekonomi dan lain-lain, sehingga tidak bisa dipandang kurang penting fungsinya. Lebih-lebih produk administrasi yang berupa dokumen seperti Ijazah, Sertifikat dansurat-surat penting lainnya akan mempunyai nilai tinggi sekali di mata hukum, jika akurasi isinya dijamin benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu keakuratan data administrasi menunutut kejujuran dan kedisiplinan baik pelaksana maupun pengelolanya, karena produk administrasi yang demikian ini biasanya digunakan untuk memperkuat bukti-bukti hukum.  Dalam bidang pendidikan, kebutuhan informasi mulai tentang data lembaga, sarana kurikulum sampai dengan data asal dan kondisi ekonomi siswa, banyak ditanyakan baik oleh perorangan maupun lembaga-lembaga pemerintah dan swasta.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam rangka memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat umum, tentu hal ini menjadi tantangan bagipara pemikir administrasi pendidikan untuk menciptakan format data administrasi pendidikan dan sistem pengelolaan data administrasi kependidikan yang mampu mengakomodir berbagai keperluan. Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin cepat ini, sudah barang tentu format administrasi pendidikan harus kapable terhadap teknologi informasi saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bertolak dari pemikiran tersebut diatas, ditambah adanya kemajuan teknologi dan informasi yang bisa dimanfaatkan untuk mendukunya saat ini, kiranya perlu adanya sebuah pembakuan format administrasi pendidikan bagi satuan-satuan pendidikan di Indonesia. Format administrasi pendidikan yang dimaksudkan adalah mudah pengelolaannya, mudah pemahamannya dan bisa ditangani oleh tenagatenaga yang pas-pasan pengetahuan Teknik Informasinya (TI). Padahal sementara ini banyak institusi baik dari pemerintah maupun non pemerintah yang membutuhkan data pendidikan pada suatu lembaga pendidikan dengan berbagai macam format administrasi, sesuai kepentingan mereka.Oleh karena itu dalam lingkup masalah ini, penulis hanya membatasi dalam membahas:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Format      baku data administarsi kependidikan dan sistem pengelolaan data administrasi      kependidikan</li>
<li>Pelayanan      informasi data administasi kependidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB II</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>TINJAUAN TEORITIS</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. PENGERTIAN ADMINISTRASI</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak pengertian administrasi yang dikemukanan oleh para ahli administrasi, ada pengertian adminitasi secara luas dan ada pengertian administrasi secara sempit, dan bahkan ada yang mengartikan sebagai proses sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pengertian yang luas menurut Musanef (1996:1) dalam bukunya Manajemen Kepegawaian di Indonesia menyebutkan bahwa administrasi adalah kegiatan sekelompok manusia melalui tahapantahapan yang teratur dan dipimpin secara efektif dan efisien, dengan menggunakan sarana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan Dalam implementasinya, administasi berkembang dan mempunyai tugas-tugas yang biasa disebut sebagai fungsi administrasi sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli seperti Henry Faysol, Harold Koontz, George R. Terry dan lain-lain, diantaranya adalah fungsi perencanaan, pengorganisasian sampai dengan fungsi pengawasan Salah satu bentuk rumusan pengertian adminitasi secara luas yang sederhana antara lain menyebutkan :bahwa administrasi adalah keseluruhan proses rangkaian pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang terlibat dalam suatu bentuk usaha bersama demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya</p>
<p style="text-align:justify;">.           Meskipun rumusannya sederhana, pengertiannya tetap mempunyai cakupan yang luas, yaitu seluruh proses kegiatan yang berencana dan melibatkan seluruh anggota kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan dalam pengertian sempit, sebagai yang dikemukakan oleh Soewarno Handayaningrat (1996:2), dalam bukunya “Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen” , administrasi adalah suatu</p>
<p style="text-align:justify;">kegiatan yang meliputi catat-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, ketik mengetik, agenda dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, dalam makalah ini penulis mengartikan administrasi dalam pengertian sempit sebagai ketata usahaan. Meskipun sebenarnya antara administrasi dan ketatausahaan mempunyai arti yang jauh berbeda tetapi penulis yakin bahwa antara administrasi dengan ketatausahaan masih mempunyai keterkaitan yang sangat erat..</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>B. PENGERTIAN TATA USAHA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa pengertian tentang Tata Usaha, tetapi kesemuanya hampir mempunyai kesamaan pengertian yang mengarah kepada pengaturan tulis menulis dan catat mencatat. Berikut beberapa pengertian tentang <em>Tata Usaha.</em></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>a. </em><em>Ditinjau arai asal kata</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em>Tata Usaha </em>terdiri dari dua kata, yaitu “<em>Tata” </em>dan <em>“Usaha” </em>yang masing-masing kurang lebih mempunyai pengertian sebagai berikut<em> Tata </em>adalah suatu peraturan yang harus ditaati., dan <em>Usaha </em>ialah suatu usaha dengan mengerahkan tenaga, pikiran untuk mencapai suatu maksud. Jadi menurut arti kata, Tata Usaha adalah suatu aturan atau peraturan yang terdapat dalam suatu proses penyelenggaraan kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>b. </em><em>Dalam Kamus Bahasa Indonesia </em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah <em>Tata Usaha </em>ialah penyelenggaraan tulis menulis(<em>keuangan dan sebagainya</em>) di perusahaan, negara dan sebagainya, sedangkan <em>penata usaha </em>ialah orang-orang yang menyelenggarakan taha usaha.</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>c. </em><em>The Liang Gie dalam bukunya Administrasi Perkantoran Modern</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Memberikan pengertian bahwa tata usaha ialah segenap rangkaian aktivitas menghimpun, mencatat, mengelola, mengadakan, mengirim dan menyimpan keterangan-keteranagn yang diperlukan dalam setiap usaha kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, dalam makalah ini <em>tata usaha </em>diberi pengertian sebagai aktivitas administrasi dalam arti sempit yaitu, kegiatan untuk mengadakan pencatatan dan penyusunan keterangan-keterangan sehingga keterangan-keterangan itu dapat digunakan secara langsung sebagai bahan informasi bagi pimpinan organisasi yang bersangkutan atau dapat dipergunakan oleh siapa saja yang membutuhkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>C. PENGERTIAN PELAYANAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa pengertian tentang <em>Pelayanan</em>, antara lain :<em> Pelayanan </em>merupakan serangkaian kegiatan, karena itu pelayananuga merupakan suatu proses. Sebagai proses, <em>pelayanan </em>berlangsung secara rutin dan berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat (Munir, 2000; 17). Yang dimaksud pelayan umum adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pihak lain yang ditujukan guna memenuhi kepentingan orang banyak   Menurut Ahmad Batinggi (1999; 12)<em> Pelayanan Umum </em>dapat diartikan sebagai perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurus hal-hal yang diperlukan masyarakat/ khalayak umum. Dengan demikian, pelayanan yang baik dan berkualitas adalah pelayanan yang cepat, menyenangkan, tidak mengandung kesalahan, mengikuti prosedur yang telah ditetapkan Masih banyak pengertian pelayanan yang dikemukakan oleh beberapa pakar, diantaranya Fandi Ciptono dan lain-lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang baik yang dilakukan oleh suatu organisasi baik pemerintah maupun swasta termasuk bidang ketata usahaan harus memuat beberapa aspek, antara lain :</p>
<p style="text-align:justify;">1)      <em>Keterbukaan</em>, yaitu adanya informasi pelayanan yang berupa loket informasi yang dimilikinya dan terpampang dengan jelas</p>
<p style="text-align:justify;">2)      <em>Kesederhanaan </em>yaitu mencakup prosedur palayanan dan persyaratan pelayanan</p>
<p style="text-align:justify;">3)      <em>Kepastian </em>yaitu menyangkut informasi waktu, biaya dan petugas pelayanan yang jelas</p>
<p style="text-align:justify;">4)      <em>Keadilan </em>yaitu memberi perhatian yang sama terhadap pelanggan tanpa adanya diskriminasi yang dapat dilihat dari materi atau kedekatan seseorang</p>
<p style="text-align:justify;">5)      Keamanan dan kenyamanan hasil produk pelayanan memenuhi kualitas teknis dan dilengkapi dengan jaminan purna pelayanan secara administrasi</p>
<p style="text-align:justify;">6)      Perilaku petugas pelayanan menyenangkan pelanggan, yaitu harus tanggap dan peduli dalam memberikan pelayanan dengan tidak mempersulit pelanggan untuk mencari keuntungan pribadi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB III</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan melihat latar belakang, ruang lingkup masalah serta membandingkan dengan berbagai pengertian administrasi dan pelayanan, banyak hal tentang administrasi data kependidikan di sekolah-sekolah yang masih perlu dibenahi sehingga memudahkan dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat pengguna informasi kependidikan, maupun kepada siswa yang membutuhkan informasi atau dokumen kependidikan dirinya Dengan adanya teknologi informasi / komputer, selama ini setiap satuan pendidikan atau sekolah memiliki format data administrasi kependidikan dan sistem pengelolaan data adminitrasi kependidikan yang berbeda-beda.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga program aplikasi yang digunakan juga berbeda-beda, menurut kemampuan petugas pengelolanya. Beberapa sekolah ada yang mengelola data administasii kependidikannya dengan program aplikasi Excel, Word dan Acces(<em>Microsoft Ofice</em>), tetapi juga ada yang mengelola dengan program aplikasi dBase Visual atau Foxpro dan bahkan ada yang menggunakan My SQL. Demikian juga petugas pengelolanya juga berbeda-beda peranan dan jabatannya di sekolah. Ada petugas pengelola data administasii kependidikan dari staf Tata Usaha, ada yang berasal dari seorang guru yang dianggap mumpuni penguasaan komputernya, tetapi juga ada yang berasal dari staf administrasi jurusan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini paling tidak menjadi hambatan dalam rangka tukar informasi antar sekolah atau dalam rangka memberikan pelayanan informasi tentang data administasii kependidikan seperti data kelembagaan, kurikulum, peralatan maupun siswa dan keuangan. Belum lagi kalau melayani institusi yang membutuhkan data administasi kependidikan sesuai dengan kepentingan mereka seperti data siswa yang khusus berasal dari desa “X” karena akan diberi beasiswa, atau siswa dari keluarga kurang mampu, dan sebagainya Dari pihak-pihak yang berkopenten dan berwenang dibidang pendidikan seperti Depdiknas, Dinas Pendidikan Propinsi dan Dinas Pendidikan Kab/Kota, kelihatannya telah menyadari kondisi ini. Telah diujicobakan dan disosialisasikan sistem pengelolaan data administasii kependidikan dan format data administasii kependidikan melalui berbagai jenis pelatihan maupun workshop. Akan tetapi kurang mendapat respon baik dari sekolahsekolah dengan berbagai alasan. Banyak sekolah yang kurang bersedia memanfaatkan sistem tersebut, karena harus entry data ulang, juga kurang kapable dengan kepentingan sekolah yang bersangkutan. Sebagai contoh, walaupun telah mengisi sistem pengelolaan data administasii kependidikan yang disosialisasikan oleh Dinas Pendidikan, tetapi untuk kepentingan Ujian Nasional sekolah masih harus mengisi PCPU yang didistribusikan ke sekolah-sekolah oleh Dinas yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga format data administasii kependidikan dan sistem pengelolaan data administasii kependidikan yang menggunanan NISN sekolah masih harus memenuhi permintaan data siswa kelas III Dinas Pendidikan Kota sehubungan dengan Uji kompetensi, walaupun semua siswa kelas III telah mempunyai NISN, yang data administasii kependidikan sudah ada disana.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. KESIMPULAN</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Agar      sekolah dapat memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas akan      kebutuhan data administasii kependidikan di sekolah yang bersangkutan,      kepala masyarakat, sangat dibutuhkan adanya keseragaman format data      administrasi kependidikan yang baku, yang mudah pengelolaanya, mudah      pemahamannya serta yang paling penting kapable dengan program aplikasi      yang selama ini digunakan oleh sekolah yang bersangkutan. Sudah barang      tentu format data harus lengkap, sehingga mampu memenuhi kebutuhan      masyarakat penggunanya.</li>
<li>Disamping      format data administasii kependidikan, juga sistem pengelolaan data      administasii kependidikan yang menggunakan progrtam aplikasi uyang sudah      familier dengan petugas-petugas pengelolanya. Kalau memang secara teknis      harus menggunakan program aplikasi lain, seharusnya ada semacam pendidikan      atau pelatihan cara mengkonversi sebuah data administasii kependidikan      dari program aplikasi yang digunakanb sekolah ke program aplikasi yang      digunakan dalam sistem pengelolaan data administasii kependidikan. Bukan      sekedar pelatihan mengoperasikan sistemnya saja atau entry data saja.</li>
<li>Mengingat      data administasii kependidikan sangat penting pernannya sebagai bahan      pertimbangan pengambilan kebijaksanaan di bidang pembangunan pendidikan,      maka yang paling penting adalah kejujuran dan kedisiplinan petugas      pengelola/up date data di setiap satuan pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=278&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/administrasi-pendidikan-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAKEKAT MANUSIA</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/hakekat-manusia/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/hakekat-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 10:07:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[my job]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[1. KARAKTERISTIK MANUSIA YANG DAPAT DAPAT MEMBERIKAN KONTRIBUSI BAGI DIRINYA MAUPUN LINGKUNGAN. a. Esensi dan karakteristik manusia adalah: Tidak seorangpun mampu melepaskan diri dari hakekat kodrati manusia sebagai insan yang dapat dididik dan belajar sepanjang hayat (educated human being), sehingga dinamik berubah sepanjang masa.Pengalaman hidup manusia (life experiences) adalah pengalaman belajar manusia yang dari waktu/kondisi/tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=274&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>1. </strong><strong>KARAKTERISTIK MANUSIA YANG DAPAT DAPAT MEMBERIKAN KONTRIBUSI BAGI DIRINYA MAUPUN LINGKUNGAN</strong>.<br />
<strong><em>a. </em></strong><strong><em>Esensi dan karakteristik manusia</em></strong> <strong><em>adalah:</em></strong> Tidak seorangpun mampu melepaskan diri dari hakekat kodrati manusia sebagai insan yang dapat dididik dan belajar sepanjang hayat (educated human being), sehingga dinamik berubah sepanjang masa.Pengalaman hidup manusia (life experiences) adalah pengalaman belajar manusia yang dari waktu/kondisi/tempat ke waktu/kondisi/tempat mengembangkan potensi diri dan kehidupan kita baik dalam arus posiitif maupun arus negatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Hakekat lain yang tidak bisa dihindari manusia ialah selaku social and political human being, dimana sejak lahir kita hidup &#8220;in group&#8221; dalam keluarga dan masyarakat yang ahirnya berbangsa &#8211; bernegara (Zoon politicon, organized political man). Lembaga-lembaga tadi disamping merupakan wadah/rumah bagi manusia juga merupakan institusi pembina &#8211; penegak dan pengembang ipoleksosbudag yang amat potensial. Namun makin kini ketiga lembaga itu makin kurang berfungsi (melonggar) dan bahkan ada kecendrungan dihilangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa Potensi diri manusia yang Illahiah yang dibawa setiap manusia meliputi potensi badaniah dan rohaniah. Melalui berbagai kajian pakar pendidikan dan psikologis, potensi rohaniah dikatagorikan kedalam tiga potensi dasar yakni Daya Intelektual/Nalarr (dengan 6 potensi ); daya afektual (8 potensi afektual) dan Psikomtorik (8 potensi), sehingga keseluruhannya meliputi 22 potensi.</p>
<p style="text-align:justify;">manusia sebagai makhluk yang disempurnakan Allah SWT jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dalam kesempurnaannya, maka manusia pun diberikan tugas dan kemampuan yang lebih sempurna, khususnya kemampuannya untuk memilah dan memilih, mengambil keputusan, belajar, menghimpun pengetahuan, dan menemukan jalan kembali pada-Nya. Namun, karena esensi penciptaan dirinya yang maujud dari tanah dengan batas-batas biologis yang jelas, maka kebutuhan manusia untuk mempertahankan batas-batas biologisnya menumbuhkan suatu sistem energetis yang berbeda dengan esensi asalnya yang murni yaitu ruh yang menyaksikan Tuhan Yang Esa (QS 7:172).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari proses penciptaan inilah kemudian muncul sistem yang labil yang disebut nafs yang dapat diintervensi oleh Iblis dan Jin, dan dapat juga diintervensi oleh malaikat yang patuh. Namun, esensi kesempurnaannya jauh lebih baik ketimbang Malaikat, Iblis, Jin maupun Setan. Esensinya yang paling mulia dan tercerahkan adalah esensi dari limpahan rahmat dan kasih sayang Allah yang maujud sebagai “Bismillahiirrahmaanirrahiim”, yang tidak diketahui oleh Jin dan Malaikat, maka iapun bisa jauh lebih baik dari malaikat dan Iblis. Manusia yang sempurna adalah ia yang menjadi esensi awal mula sebagai bagian dari limpahan Nur Muhammad yang menjadi rahmat bagi seluruh alam dan makhluk yang diciptakan-Nya. Maka manusia yang mampu mencapai kesempurnaan inilah yang akhirnya mampu mengaktualkan pengenalan jatidirinya menuju pengenalan kepada Allah dan menyembah-Nya sebagai totalitas dari makrifatullah-nya sebagai hamba Allah dan Wakil Allah di muka bumi. Anak cucu Adam dan Hawa mestinya seperti itu, ia yang mengenal diri dan mengenal Tuhannya Yang Esa.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini ditegaskan juga kemudian bahwa manusia Adam memiliki kemampuan lebih dalam mengembangkan akal dan pikirannya sebagai suatu kesadaran makhluk yang disempurnakan.  Artinya, manusia diajar langsung oleh Tuhan untuk mengenal nama-nama, hukum-hukum, dan tentang dirinya sendiri. Inilah yang membedakan Adam dengan Malaikat dan Iblis.<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>b. Strategi      yang dilakukan memberikan kontribusi terhadap keutuhan dimensi pada      manusia adalah:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>1 </em>Memelihara/melestarikan dan membina norma menjadi 5 system kehidupan yang kait mengkait.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>2 </em>Mengklarifikasi dan merevitalisasi sub.a sebagai &#8220;moral conduct&#8221; diri dan kehidupan manusia/masyarakat/bangsa/dunia dimana ybs berada.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>3 </em>Memanusiakan (humanizing), membudayakan (civilizing) dan memberdayakan (empowering) manusia &amp; kehidupannya secara utuh (kaffah) dan beradab (norm/ value based); Insan/Masyarakat bermoral (morally mature/healthy person) dan masyarakat bangsa berkepribadian.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>4 </em>Membina dan menegakan &#8220;law and Order&#8221; serta tatanan kehidupan yang manusiawi &#8211; demokratis &#8211; taat azas.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>5 </em>Khusus di negara kita, disamping hal-hal di atas juga membawakan misi pembinaan dan pengembangan manusia/masyarakat/bangsa yang moderen namun tetap berkepribadian Indonesia (sebagaimana kualiifikasi UUSPN 2003).<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>c. </em></strong><strong><em>Potensi manusia perlu dikembangkan karena:</em></strong> ”Belajar!”, merupakan kata yang sangat akrab dengan keseharian, salah satunya karena di setiap saat, di setiap tempat setiap individu dapat melakukannya. Namun sangat disayangkan pada kenyataannya masih terlampau banyak individu yang mendefinisikan belajar dalam lingkup yang masih terlalu sempit. Seperti yang terjadi ketika belajar hanya dibatasi pada hal yang berkenaan dengan menghafal isi buku atau mendengarkan kuliah yang membosankan. Pemikiran seperti ini sangat membatasi individu dalam mendapatkan hal yang terbaik dari pembelajaran. Individu kehilangan begitu banyak potensi dan kesempatan pembelajaran dikarenakan pembatasan oleh definisi tersebut, dan itu pula yang sebenarnya terjadi di keseharian ketika pembelajaran tidak dianggap sebagai suatu kebutuhan. Layaknya nutrisi bagi tubuh, belajar merupakan kebutuhan alami. Semua makhluk yang ada di muka bumi termasuk di dalamnya tumbuhan dan hewan, belajar dengan caranya masing-masing, menyikapi stimulus dari sekitar. Sedemikiannya pentingnya arti pembelajaran hingga jika dikaitkan dengan tinjauan relijius, semua agama menganjurkan umatnya untuk belajar. Sehingga keseluruhan hal ini tentu menyiratkan definisi belajar yang jauh lebih luas dan mendalam. Definisi yang memungkinkan individu mendapatkan hal yang terbaik dari pembelajaran dengan cara yang mudah dan alami seperti halnya makan.</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari definisi belajar yang diberikan oleh berbagai perspektif, pada buku ini definisi belajar yang diberikan adalah; semua perubahan pada kapabilitas dan prilaku organisme, baik secara mental maupun fisik, yang diakibatkan oleh pengalaman. Definisi ini meliputi banyak ragam pembelajaran; asosiatif, spasial, laten, induksi, imitasi, kemampuan (skill) dan lainnya. Luasnya definisi belajar memberikan implikasi mengenai pentingnya memahami berbagai mekanisme individu dalam melakukan pembelajaran, baik yang tersurat maupun yang tersirat seperti yang terjadi pada bentuk pembelajaran laten (latent learning). Bentukan ini sedemikian pentingnya karena sedikitnya memberikan jalan bagi munculnya pemahaman mengenai pembelajaran yang lebih abstrak seperti pembelajaran pada tingkat seluler ataupun pembelajaran bawah sadar. Selain itu pentingnya juga untuk dicermati berbagai potensi pikiran dan aplikasinya dalam pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Masa kini merupakan saat di mana belajar menjadi lebih penting dan juga lebih mudah dibandingkan masa sebelumnya. Hal ini tentunya tidak menyiratkan belajar tidak dibutuhkan di masa lampau. Kemajuan teknologi informasi, komputer dan internet, dewasa ini telah menyebabkan informasi dapat segera tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas, cepat dan dengan akses yang mudah. Usia produk yang tersedia di pasaran semakin singkat, apa yang ada sekarang, telah menjadi sejarah di keesokan harinya. Berbagai jenis pekerjaan datang dan pergi, yang sebelumnya tidak terpikirkan menjadi kenyataan. Perubahan terjadi di mana-mana, pada setiap aspek dengan laju yang sangat kilat. Dunia selalu berubah dalam hitungan detik. Berubah atau dirubah kini menjadi pilihan. Untuk terus dapat berselancar di atas gelombang perubahan yang cepat dan tidak ditenggelamkan olehnya, individu perlu belajar secara efektif dan efesien. Kemampuan individu dalam mengambil, memproses dan menyimpan informasi tentu sangat berkaitan dengan kemampuannya untuk terus bertahan hidup di muka bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan belajar merupakan alat andalan dalam mempertahankan kehidupan. Ironisnya kenyataan di lapangan tidak berkata demikian. Bagi sebagian individu belajar merupakan suatu beban. Banyak ditemui siswa yang kelelahan hanya untuk sekedar mendapatkan prestasi rendah. Sedemikian rendahnya hingga mereka sendiri akhirnya bertanya, ”Apa saya mampu untuk terus belajar di tempat ini.” Semakin banyak ditemui berbagai hambatan psikologis yang berkaitan dengan belajar, sebut saja salah satunya didaskalenophobia (fobia terhadap sekolah). Mengacu pada uraian di atas, hal ini menunjukan respon dari suatu stimulus yang dapat dikelompokan sebagai salah satu bentuk pembelajaran, dalam hal ini individu tersebut belajar untuk menakuti belajar. Belum lagi ditambah dengan berbagai kesulitan teknis lainnya, seperti kemampuan mengambil, memproses dan mengingat informasi dengan sangat terbatas. Sehingga satu-satunya pertanyaannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan kemampuan belajar karena jika tidak maka pilihannya tentu adalah ikut menjadi fosil seperti brontosautrus dan rekan-rekannya sesama dinosaurus dari masa prasejarah. Banyak faktor yang berkontribusi pada kurang optimalnya pembelajaran seperti ketidakmampuan menggunakan semua potensi yang dimiliki atau praktek pembelajaran yang kurang optimal. Untuk berbagai hal itulah maka kami memperkenalkan konsep pembelajaran komprehensif yang revolusioner, Total-Mind Learning (TML).<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>d. </em></strong><strong><em>5 unsur pendidikan yang mempengaruhi proses pendidikan adalah:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>1. </em> <em>Subjek yang dibimbing (peserta didik)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.</li>
<li>Individu yang sedang berkembang.</li>
<li>Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.</li>
<li>Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>2. </em><em> Orang yang membimbing (pendidik)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>3. </em><em> Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>4. </em><em>Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sistem pendidikan memproses masukan mentah dengan masukan instrumental sehingga menjadi keluaran yaitu tamatan. Bagaimana wujud keluaran yang dikehendaki menjadi tujuan dari sistem pendidikan. Tujuan ini memberikan arah pada kegiatan sistem yang memproses masukan mentah. Secara operasional tujuan tersebut menentukan isi dari masing-masing komponen instrumental.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>5. </em><em>Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah pengajaran dapat dibedakan dari pendidikan, tetapi sulit dipisahkan. Jika dikatakan anak diajar menulis yang baik’ lebih terasa sebagai pengajaran. Tetapi jika anak dikembangkan kegemarannya untuk menulis yang baik’ maka lebih mirip pendidikan. Jika yang dipersoalkan atau dijadikan tekanan aspek pengetahuan, disebut pengajaran’, dan jika aspek pembentukan sikap menjadi tekanan disebut pendidikan’.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>e. </em></strong><strong><em>Proses pelaksanaan pendidikan harus berpedoman pada landasan filosofis dan budaya karena:</em></strong> Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain. Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal. <strong>. Landasan Fililosofis<em> </em></strong><em>pendidikan</em> ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar – akarnya mengenai pendidikanAgar uraian tentang filsafat pendidikan ini menjadi lebih lengkap, berikut akan dipaparkan tentang beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia ini. Aliran itu ialah :1.Esensialis, 2.Parenialis, 3.Progresivis, 4.Rekonstruksionis, 5.EksistensialisFilsafat pendidikan Esensialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad – abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah suatu kebenaran secara kebetulan saja. Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika.Filsafat pendidikan Parenialis tidak jauh berbeda dengan filsafat pendidikan Esensialis. Kalau kebenaran yang esensial pada esensialis ada pada kebudayaan klasik dengan <em>Great Book</em>nya, maka kebenaran Parenialis ada pada wahyu Tuhan. Tokoh filsafat ini ialah Agustinus dan Thomas Aquino.Demikianlah Filsafat Progresivisme mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini, tidak ada tujuan yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relative. Apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaran ialah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini. Tokoh filsafat pendidikan Progresivis ini adalah John Dewey.Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakan variasi dari Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Mereka bercita – cita mengkonstruksi kembali kehidupan manusia secara total.Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Landasan Sosial Budaya</strong> mengacu kepada hubungan antar individu, antarmasyarakat, dan individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan.Sama halnya dengan social, aspek budaya inipun sangat berperan dalam proses pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsure budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya. <em>Sosiologi dan Pendidikan</em>Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.Proses sosial dimulai dari interaksi sosial dan dalam proses sosial itu selalu terjadi interaksi sosial. Interaksi dan proses social didasari oleh factor-faktor berikut :1.  Imitasi2.  Sugesti3.  Identifikasi4.  Simpati <em>Kebudayaan dan Pendidikan</em>Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, huku, moral, adapt, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat. (Imran Manan, 1989)Hassan (1983) misalnya mengatakan kebudayaan berisi (1) norma-norma, (2) <em>folkways</em> yang mencakup kebiasaan, adapt, dan tradisi, dan (3) <em>mores</em>, sementara itu Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut :1.  Gagasan2.  Ideologi3.  Norma4.  Teknologi5.  BendaAgar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi yaitu :1.  Kesenian2.  Ilmu3.  KepandaianKebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :1.  Kebudayaan umum, misalnya kebudayaan Indonesia2.  Kebudayaan daerah, misalnya kebudayaan Jawa, Bali, Sunda, Nusa Tenggara Timur dan sebagainya3.  Kebudayaan popular, suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek daripada kedua macam kebudayaan terdahulu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>f. </em></strong><strong><em>Contoh azas kemandirian, tut wuri handayani, dan belajar sepanjang hayat adalah:</em></strong> <strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.  Asas Tut Wuri Handayani</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">1        Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)</p>
<p style="text-align:justify;">2        Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)</p>
<p style="text-align:justify;">3        Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Asas Belajar Sepanjang Hayat</p>
<p style="text-align:justify;">Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.</p>
<p style="text-align:justify;">1       Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">2       Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Asas Kemandirian dalam Belajar</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. KONTRIBUSI PENGEMBANGAN POTENSI MANUSIA DIANALISIS DARI 3 SUDUT LINGKUNGAN YAITU:</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>a. </strong><strong>Pendidikan Informal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan informal adalah pendidikan yang di peroleh seseorang dirumah dalam lingkungan keluarga, berlangsung tanpa organisasi, tanpa orang tertentu yang di angkat sebagai pendidik tanpa program yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dan tanpa evaluasi formal berbentuk ujian.Namun pendidikan Informal menentukan kepribadian anak, apakah anak akan menjadi anak yang bertanggung jawab,berbudi luhur, patuh akan peraturan, berpegang teguh pada janjinya atau sebaliknya. Pendidikan Informal sebagai suatu fase pendidikan yang berada di samping dan di dalam pendidikan formal dan non-formal sangat menunjang keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>b. </strong>Pendidikan Formal</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan Formal adalah pendididkan yang mempunyai bentuk atau organisasi tertentu, seperti di Sekolah atau Universitas. Ini terlihat adanya penjenjangan, adanya program pembelajaran, jangka waktu proses belajar dan bagaimana proses penerimaan murid dan lain-lain. Pendidikan formal (PF) yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>c. </strong><strong>Pendidikan Non Formal.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan Non Formal meliputi berbagai usaha khusus yang di selenggarakan secara terorganisasi agar terutama generasi muda dan juga orang dewasa,yang tidak dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak berkrsempatan mengikuti pendidikan sekolah. Pendidikan Non Formal meliputi kegiatan pengetahuan praktis dan ketrampilan dasar yang di perlukan masyarakat. Pendidikan Non-Formal (PNF) sebagai mitra pendidikan formal (PF) semakin hari semakin berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat dan ketenagakerjaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, non-formal dan informal, ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumber daya manusia sangat tergantung kepada sejauh mana ketiga subsistem tersebut berperanan. Dalam arti sempit fungsi pendidikan ialah membantu (secara sadar)  perkembangan  jasmani dan rohani. Secara makro (luas) fungsi pendidikan adalah :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pengembangan pribadi</li>
<li>Pengembangan warga negara</li>
<li>Pengembangan kebudayaan</li>
<li>Pengembangan bangsa</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. </strong><strong>ARGUMENTASI MENGAPA PENDIDIKAN KITA BELUM SETARA DENGAN NEGARA TETANGGA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah kebijakan adalah kebutuhan, nilai atau kesempatan yang tidak terealisir namun dapat diatasi melalui tindakan publik. Dan tindakan publik dipacu, didorong, dan dikondisikan oleh aksi kebijakan pemerintah. Namun secara substansial, masalah kebijakan itu sendiri pada dasarnya merupakan serangkaian konstruksi mental atau konseptual yang diabstraksikan dari situasi masalah oleh para pelaku kebijakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah Kebijakan itu saling tergantung satu sama lain. Dalam kenyataan masalah-masalah kebijakan bukan merupakan unit (kesatuan) yang berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari seluruh sistem masalah, yaitu sistem kondisi eksternal yang menghasilkan ketidak-puasan diantara segmen-segmen masyarakat yang berbeda. Karena itu, jarang masalah-masalah dapat didefinisikan dan dipecahkan secara sendiri-sendiri. Sistem masalah yang saling tergantung, dengan demikian, mengharuskan pendekatan holistik, suatu pendekatan yang memandang bagian-bagian sebagai tak terpisahkan dari keseluruhan sistem yang mengikatnya.<br />
Selanjutnya, untuk memahami manajemen kebijakan publik, ada baiknya kita balik ke belakang untuk melihat berbagai definisi kebijakan publik yang diberikan oleh para ahli. Tindakan pemerintah yang berwenang. Kebijakan publik adalah tindakan yang dibuat dan diimplementasikan oleh badan pemerintah yang memiliki kewenangan hukum, politis dan finansial</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah reaksi terhadap kebutuhan dan masalah dunia nyata. Kebijakan publik berupaya merespon masalah atau kebutuhan konkrit yang berkembang di masyarakat<br />
Seperangkat tindakan yang berorientasi pada tujuan. Kebijakan publik biasanya bukanlah sebuah keputusan tunggal, melainkan terdiri dari beberapa pilihan tindakan atau strategi yang dibuat untuk mencapai tujuan tertentu demi kepentingan orang banyak. Sebuah keputusan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Kebijakan publik pada umumnya merupakan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial</p>
<p style="text-align:justify;">Fenomena kebijakan publik tingkat makro sedang dihadapkan pada tantangan IEnorm (Norma internal dan eksternal). Tantangan internalnya adalah adaptasi model birokrasi menurut norma-ganda berdasar pada Undang-undang Nomor 21 tahun 2001 dan Undang-undang nomor 32 Tahun 2005 yang harus mampu mempertinggi kinerja birokrasi. Sementara itu, tantangan eksternalnya bersangkut paut dengan urusan publik yang harus mampu memperluas jangkauan dan mempertinggi mutu layanan publik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengembangan manajemen Kebijakan publik diprioritaskan pada revitalisasi pelaksanaan fungsi-fungsi pengelolaan kebijakan dan pelayanan publik yang kondusif, transparan, impersonal, dan akuntabel, disertai dukungan sistem informatika yang sudah terarah pada pengembangan e-administration atau e-government. Khusus yang menyangkut administrasi pemerintahan yang bersentuhan dengan kebijakan publik, peran birokrasi lebih difokuskan sebagai agen pembaharuan, sebagai motivator dan fasilitator bagi tumbuh dan berkembangnya swakarsa dan swadaya serta meningkatnya kompetensi masyarakat dan dunia usaha.<br />
Supaya manajemen kebijakan publik tingkat makro, yang pada tahap perencanaan maupun operasional dan pengawasannya tidak dihadapkan pada lingkungan eksternal yang buram ( tidak jelas ), maka perlu upaya-upaya mewujudkan pelayanan publik ke arah yang lebih baik, yang dapat dilakukan melalui:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pertama,</em></strong> perlunya menata kembali sistem dan prosedur pelayanan publik, dan menempatkan orang yang tepat pada jabatan/pekerjaan yang tepat, meningkatkann komitmen dan kompetensi pelayanan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kedua,</em></strong> perlunya penataan struktur organisasi pemerintah pusat dan daerah, juga sistem hubungan yang menunjukan kesetaraan tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah dan antar pemerintah daerah dalam mengelola tugas pelayanan, mempercepat sosialisasi dan internalisasi budaya otonomi dalam rangka implementasi UU OTDA yang baru secara tuntas, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM yang lebih merata dalam pelayanan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ketiga,</em></strong> perlunya membangun tata kelola pelayanan berbasis e-Government, mempercepat penyusunan peraturan perudang-undangan yang bertalian dengan e-Government, dan menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi e-Government.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Keempat,</em></strong> perlunya melakukan dan membangun pola pikir aparatur yang berorientasi pada pelayanan, membangun kemitraan antara pemerintah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik, mengurangi peran lembaga pemerintah untuk hal-hal yang sudah dapat dilakukan masyarakat, membangun organisasi pemerintah berdasarkan pada kepercayaan, dan mengembangkan sistem yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kelima,</em></strong> perlunya mendorong terciptanya lembaga pelayanan publik yang standar dan terukur, dengan membangun sistem standarisasi pelayanan publik mulai dari input, proses dan output dalam pelayanan, kemudian dituangkan dalam SOP yang transparan sebagai pedoman bagi setiap lembaga pelayanan, dalam upaya mendorong dan prosedur yang lebih baik dalam pelayanan, dan meningkatkan kepedulian aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Keenam, </em></strong>perlunya merubah peraturan perundang-undangan tentang sistem remunerasi yang menjamin terpenuhinya standar hidup layak dan kesejahtraan PNS, serta berorientasi pada “kelayakan kualifikasi dan kinerja pegawai dengan penghasilan yang diterima”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ketujuh,</em></strong> perlunya membangun sistem penilaian kinerja dan pengawasan yang berorientasi pada pemberian penghargaan dan sanksi pada individu pada setiap institusi pemerintah, dan didukung dengan peraturan dan ketentuan perundang-undangan tentang pemberian penghargaan dan sanksi yang tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">SKEMA PENDIDIKAN YANG EFEKTIF</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>VISI SEKOLAH</em></strong> :           Berprestasi untuk mencapai hasil yang maksimal dengan Dilandasi rasa tanggung jawab dalam pandangan Islami dan Berakhlakul Karimah</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>MISI SEKOLAH  :</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">1        Meningkatkan Profesional Proses Pembelajaran terhadap anak Didik secara nyata sehinnga menciptakan SDM yang tinggi Yang berguna bagi Bangsa dan Negara.</p>
<p style="text-align:justify;">2        Mengembangkan dan meningkatkan syste Manajemen Sekolah Dalam upaya meningkatkan Mutu Pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah Secara Efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">3        Mengupayakan kehidupan yang Islami dalam kehidupan Bermasyarakat dalam ruang lingkup Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>TUJUAN</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">1        Mewadahi dan meningkatkan partisipasi para stakeholders pendidikan pada tingkat sekolah untuk turut serta merumuskan, menetapkan, melaksanakan  dan memonitor pelaksanaan kebijakan sekolah dan pertanggungjawaban yang terfokus pada kualitas pelayanan terhadap peserta didik secara proporsional dan terbuka</p>
<p style="text-align:justify;">2        Mewadahi partisipasi pada stakeholders untuk turut serta dalam manajemen sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah secara proporsional.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>STRATEGI PENCAPAIAN TUJUAN</em></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menyelenggarakan rapat-rapat komite sesuai program yang ditetapkan</li>
<li>Bersama-sama sekolah merumuskan dan menetapkan visi dan misi, menyusun standar pembelajaran, menyusun rencana strategis pengembangan sekolah, menyusun dan menetapkan rencana progam tahunan, serta mengembangkan potensi kearah prestasi unggulan.</li>
<li>Membahas dan turut menetapkan pemberian tambahan kesejahteraan</li>
<li>Menghimpun, menggali dan mengelola sumber dana dan kontribusi lainnya baik materil maupun non-material dari masyarakat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>KEBIJAKAN PROGRAM/ KEGIATAN</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">1        Mengevaluasi program sekolah secara proporsional</p>
<p style="text-align:justify;">2        Mengidentifikasi masalah serta mencari solusinya</p>
<p style="text-align:justify;">3        Memberikan respon terhadap kurikulum yang dikembangkan baik berstandar nasional maupun lokal</p>
<p style="text-align:justify;">4        Memberikan motivasi dan penghargaan, serta otonomi profesional kepada staf pengajar.</p>
<p style="text-align:justify;">5        Memantau kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">6        Mengkaji laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program</p>
<p style="text-align:justify;">7        Menyampaikan usul/rekomendasi kepada pemda untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>ANALIS SWOT</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Strength/ kekuatan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tersebut menetapkan juga bahwa apabila otonomi daerah tingkat II belum mampu menangani bidang- bidang tertentu, maka bidang- bidang tersebut dapat diserahkan kepala daerah  tingkat I selanjutnya menurut Tilaar (2000: 176) bahwa dalam konteks otonomi daerah khususnya bidang pendidikan dampak positif ditetapkan otonomi daerah manajemen pendidikan nasional dalam negara kesatuan Republik Indonesia adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1        Mengembangkan kebudayaan lokal. Dengan demikian masalah pengisian  muatan lokal di daerah- daerah telah merupakan suatu keharusan yang perlu direncanakan, dipersiapkan dan dikembangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">2        Mengembangkan kebudayan nasional sebagai benteng pertahanan menjaring pengaruh- pengaruh kebudayaan global yang negatif dan identitas bangsa yang akan memperkuat ketahanan nasional.</p>
<p style="text-align:justify;">3        Mengembangkan inisiatif untuk bereksperimen dan bersaing dalam mengembangkan mutu pendidikan nasional menghadapi persaingan global.</p>
<p style="text-align:justify;">4        Meningkatkan peran masyarakat (swasta) untuk mengembangkan ciri khasnya sebagai sumbangan bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara khusus untuk jenis dan satuan pendidikandi Sekolah berdasarkan konsepsi otonomi daerah tersebut <em>School Based Management</em> atau manajemen Berbasis Sekolah dan <em>Community Based School </em>merupakan tuntutan untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Dengan demikian sekolah mandiri merupakan suatu bentuk pengelolaan sekolah pada era otonomi daerah sekarang. Dalam kaitannya akan kmandirian sekolah ini diperlukan nilai- nilai baru dan aturan- aturan baru dalam bidang pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditetapkannya otonomi daerah akan memberikan perubahan dan pengembangan tersendiri dalam segala bidang kehidupan masyarakat termasuk pendidikan. Perubahan dan pengembangan tersebut menurut N.A Amentembun (1994: 10) meliputi:</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari  para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. </strong><strong>Perubahan Manajemen Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari  para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>Sumber Daya Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengolaan sumber daya pendidikan gengan diberlakunya otonoi daerah jelas merupakan tanggung jawab sepenuhnya pihak sekolah yang bersangkutan, baik mengenai sumber pendapatan keuangan maupun pengelolaannya. Sebelum pelaksanaan otonomi dearah sumber daya pendidikan ditentukan oleh keputusan dan kebijakan dari pusat, sedangkan setelah otonomi daerah diberlakukuan pihak sekolah memiliki kekuasaan dan kewenangan sepenuhnya dalam pengambilan atas anggaran pendapatan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengembangan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah dalam rangka mencari dan menganalisis sumber daya pendidikan pada era otonomi pendidikan dengan menerapkan model ” Manajmen Berbasis Sekolah” tentunya adalah melalui pemanfaatan potensi yang ada pada masyarakat serta berkoloborasi dengan dunia masyarakat industri yang mau dan peduli terhadap kepentingan pendidikan. Oleh karena itu jelas bahwa keberhasilan sekolah dalam menerapkan model ” Manajemen Berbasis Sekolah” tergantung pada kemampuan sekolah untuk meningkatkan suatu kepedulian masyarakat akan arti penting pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. </strong><strong>Peningkatan Mutu Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan  diberlakukannya otonomi daerah,memungkinkan sekolah lebih bebas menentukan cara- cara atau strategi yang akan ditempuh dalam meningkatkan mutu pendidikan, tanpa harus menerima instruksi dari pusat terlebih dahulu. Hal- hal yang dianggap baik untuk meningkatkan mutu pendidikan segera dilakukan sesuai dengan tuntutan dan kemampuan sekolah, sehingga jika suatu kegiatan dianggap baik, maka pihak sekolah segera melakukannya tanpa haus menungguintruksi atau petunjuk dari pusat lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah yang telah dijabarkan ke dalam peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, memberikan kesempatan pada lembaga pendidikan untuk melaksanakan reformasi. Salah satu bentuk reformasi mengembangkan kemandirian sekolah, sehingga muncul sekolah mandiri, yaitu sekolah di mana kekuasaan ada pada pihak sekolah sendiri: Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif serta orang tua siswa. Untuk itu di dunia pendidikan diperlukan nilai- nilai dan aturan- aturan baru dintaranya pergeseran fungsi pemerintah dari <em>controling</em> ke <em>servising</em> yang menunjukkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengutamakan pelaksanaan tugas melalui sistem pengasan yang sangat ketat tetapi harus lebih bersikap memberikan pelayanan terhadap dunia pendidikan. Reformasi ini akan dapat berlangsung dan mencapai tujuan apabila ada dukungan partisipasi aktif dari kalangan orang tua siswa dan masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Weakness/ kelemahan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahan-permasalahan menjadi kendala dalam meningkatkan mutu pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah adalah:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama</em>, pendidikan akan menghadapi tantangan dalam hal pembiayaan pendidikan oleh daerah. Disebutkan bahwa hanya sekitar 10% daerah yang dapat menyediakan anggaran memadai untuk pendidikan, padahal pemerintah daerah harus menyediakan prasarana dan sarana pendidikan seperti gedung sekolah dan peralatan praktikum yang memadai. Pembiayaan pendidikan selama ini masih sangat tergantung pada pemerintah pusat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua</em>, tantangan dalam hal pembiayaan pendidikan oleh masyarakat. Dalam kondisi krisis ekonomi dan banyaknya kerusuhan mengakibatkan banyaknya pengungsi angka partisipasi murni dan angka drop out yang dijadikan sebagai tolok ukur tantangan pembiayaan oleh masyarakat sangat beragam antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Pada daerah yang kaya angka partisipasi murni (APM) akan tinggi dan angka drop out (ADO) akan rendah, sedangkan pada daerah yang masyarakatnya miskin akan terjadi yang sebaliknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketiga</em>, rendahnya sumber daya manusia yang menangani pendidikan, baik tenaga pengajarnya (guru) maupun tenaga non teknis.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, Portz (1996) mengidentifikasikan beberapa permasalahan yang menjadi tantangan dan hambatan pendidikan di Boston, yang sangat relevan dengan permasalahan pendidikan di Indonesia antara lain adalah: 1) masalah Governance atau kepemerintahan, contohnya seperti adanya penekanan kepada dinamika politik di antara superintendent dan komite sekolah. Selain itu juga kurangnya kepemimpinan. 2) Masalah yang berkaitan dengan kegiatan sekolah, antara lain meliputi kegagalan didalam menyediakan program pendidikan yang memadai, prestasi siswa dan birokrasi pendidikan. 3) Masalah kurangnya dukungan pembiayaan dan hubungan dalam pemerintahan.4) Masalah kurangnya dukungan dari masyarakat atau warga negara yang disebabkan karena kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah dan terpisahnya sekolah dengan masyarakat. 5) Masalah yang terkait dengan permasalahan sosial secara umum dan kondisi eksternal di luar sekolah seperti misalnya kemiskinan, ras, kriminal, dan ekonomi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Presman dan Wildausky (1973) (lihat Abdul Wahab, 1997) faktor-faktor yang dikemukakan di atas, untuk menghindari kegagalan dalam implementasi perlu mendapat perhatian secara seksama.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara Parson (1997) mengatakan bahwa kegagalan implementasi suatu kebijakan cenderung karena faktor ulah manusia, dimana pengambilan keputusan yang gagal memperhitungkan kenyataan adanya persoalan manusia yang sangat komplek dan bervariasi. Adapun yang dimaksudkan disini adalah baik pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun sekolah beserta warganya sebagai pelaku kebijakan dan target group.</p>
<p style="text-align:justify;">Merujuk kepada berbagai kendala atau hambatan yang telah diidentifikasi dari berbagai penelitian, dan dikaitkan dengan pandangan atau pendapat ahli mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan implementasi suatu kebijakan, maka peneliti berpendapat bahwa: “kegagalan implementasi suatu kebijakan, belum tentu sepenuhnya dikarenakan ketidakmampuan pelaksana (aktor/stakeholders pelaksana), tetapi juga disebabkan karena pembentukan kebijakan itu sendiri yang kurang sempurna atau kebijakan tersebut memang jelek (bad policy). Disinilah dituntut kepiawaian dari para pelaksana kebijakan (aktor/ stakeholderss) atau pelaku utama kebijakan, supaya mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian atau adaptasi, sehingga proses implementasi dapat berjalan efektif dan tujuan/pokok kebijakan dapat direalisasikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkenaan juga dengan kegagalan implementasi MBS, Wohlsteter dan Mohrman (1996) (lihat Nurkolis, 2001) dalam hasil penelitian mengungkapkan empat macam kegagalan implementasi MBS, yaitu Pertama, sekedar mengadopsi model apa adanya ada upaya kreatif. Kedua, Kepala Sekolah bekerja berdasarkan agenda kerja sendiri tanpa memperhatikan aspirasi warga sekolah. Ketiga, kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak. Keempat, menganggap MBS adalah hal yang biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya, padahal pada kenyataannya implementasi MBS memakan waktu, tenaga, pikiran secara besar-besaran. Keempat indikator yang telah dipaparkan di atas, mengisyaratkan bahwa guna menghindari kegagalan implementasi kebijakan MBS atau kebijakan MPMBS tersebut, maka diperlukan keterlibatan atau partisipasi aktif semua pelaku kebijakan (koalisi aktor/stakeholderss) untuk mengkaji, melakukan penyesuaian dan adaptasi (reformulasi).</p>
<p style="text-align:justify;">Kebijakan yang dilandasi azas kerjasama, keterkaitan, kebersamaan dan akuntabilitas yang didukung oleh semangat demokrasi dan transparansi menuju suatu komitmen/ konsensus, agar pelaksanaan program MPMBS (implementasi kebijakan MPMBS) berjalan dengan baik, dan tujuan kebijakan (yakni meningkatkan mutu pendidikan) tercapai. Koalisi aktor/stakeholderss tersebut, meliputi: Kepala Sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, masyarakat, Komite Sekolah/BP3, pejabat pemerintah terkait, dan organisasi masyarakat lainnya yang peduli terhadap kegiatan pendidikan di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Opportunity/ peluang</em></strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Investasi Dalam Bentuk Portofolio (Saham)</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Salah satu hal yang perlu dikritisi adalah dari sisi pendanaan BHP. Sebagaimana tercantum dalam UU BHP pasal 41, tidak seluruh pendanaan BHP berasal dari Pemerintah, baik itu pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Artinya masih terdapat porsi-porsi dimana institusi pendidikan yang bersangkutan perlu mengusahakan sendiri sumber dana lain dalam memenuhi biaya operasional penyelenggaraan pendidikan. Mari kita telaah, dari sumber-sumber mana saja institusi pendidikan dapat memperoleh dana untuk ‘menambal’ biaya operasional mereka. Dari peneleaahan tersebut juga akan terlihat bahwa mekanisme pendanaan biaya operasional pada BHP diluar porsi pemerintah, tidak hanya diatur dalam UU BHP saja, namun juga tercantum pada peraturan-peraturan lain (PP dan Perpres). UU BHP ‘hanya’ menjelaskan garis besar porsi-porsi pembiayaan yang harus ditanggung sendiri oleh BHP dan menjelaskan secara umum mekanisme memperolehnya. Rincian dari mekanisme tersebut diatur selanjutnya oleh peraturan lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu sumber pendanaan yang diperbolehkan dijalankan oleh BHP adalah investasi dalam bentuk portofolio (saham). Hal ini tercantum dengan jelas pada pasal 42 ayat 1. Hal ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan (BHP) dapat bermain di pasar bursa. Tentunya kita belum lupa mengenai riskannya bermain di sektor finansial. Gambaran anjloknya sektor finansial dunia pada krisis ekonomi global saat ini tentunya sangat menggambarkan tingginya resiko permainan saham di lantai bursa. Tak terhitung berapa banyak perusahaan-perusahaan besar dunia yang mendadak gulung tikar karena fluktuasi nilai saham yang sangat rentan. Bayangkan jika sektor vital seperti pendidikan ditopang oleh mekanisme pendanaan yang rapuh seperti ini? Akan jadi seperti apa dunia pendidikan Indonesia? Ramai-ramai gulung tikar pula kah?</p>
<p style="text-align:justify;">Mekanisme lain yang dapat dilakukan oleh BHP untuk memperoleh dana adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat dengan ketentuan yang sesuai dengan undang-undang (peraturan) yang ada. Hal tersebut tercantum dalam pasal 45 ayat 1 UU BHP, namun tidak ada penjelasan lebih rinci mengenai hal tersebut. Satu hal yang menarik adalah keberadaan PP no.48 tahun 2008 mengenai pendanaan pendidikan. PP tersebut menjelaskan secara terperinci sumber-sumber dana ynag dapat digunakan oleh BHP. Pada PP tersebut terdapat beberapa pasal yang jelas-jelas mengatakan bahwa salah satu sumber pendanaan institusi pendidikan adalah dari pihak asing. Sedikitnya terdapat 15 pasal dalam PP tersebut yang menyebutkan bahwa salah satu sumber pendanaan yang sah dari institusi pendidikan berasal dari pihak asing.</p>
<p style="text-align:justify;">Keterlibatan pihak asing dalam dunia pendidikan Indonesia yang tercantum dalam peraturan negeri ini tidak hanya itu. Pada Perpres No.77/2007 mengenai daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka di bidang penanaman modal, disebutkan bahwa jenis badan usaha yang dapat dimasuki modal asing adalah pendidikan, baik formal maupun informal, dengan persentase modal asing sampai dengan 49%.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Mengoptimal Kemitraan Dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan : (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. (3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang justru memunculkan kerawanan saat ini adalah dengan adanya RUU BHP maka peranan pihak swasta (pengusaha) mendapatkan akses yang lebih luas untuk mengelola pendidikan, sehingga bagaimana jadinya kalau kemitraan dengan DU/DI tersebut ternyata menempatkan pengusaha ataupun perusahaan sebagai pihak yang berinvestasi dalam lembaga pendidikan dengan menuntut adanya return yang sepadan dari investasinya tersebut? Kondisi ini pada akhirnya akan memperkokoh keberlangsungan kapitalisasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Thereat/ Ancaman</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah telah menetapkan kebijakan otonomi pendidikan, sebagaimana mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan yang menyebutkan: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pasal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab negara melainkan diserahkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri. Dalam penjelasan pasal 3 ayat 2 RUU Badan Hukum Pendidikan disebutkan bahwa Kemandirian dalam penyelengaraan pendidikan merupakan kondisi yang ingin dicapai melalui pendirian BHP, dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi pada pendidikan tinggi. Hanya dengan kemandirian, pendidikan dapat menumbuhkembangkan kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya pemerintah menilai bahwa selama ini terhambatnya kemajuan pendidikan indonesia diantaranya karena pengelolaan pendidikan yang sentralistis, sehingga perlunya kebijakan desentralisasi kewenangan (MBS dan otonomi pendidikan) untuk memajukan pendidikan indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataannya, kebijakan tersebut menuai berbagai sikap kontra dari masyarakat karena dinilai sarat dengan tekanan pihak asing (negara donor) yang menghendaki privatisasi lembaga –lembaga yang dikelola negara termasuk lembaga pendidikan, sehingga negara pun akan lepas tangan dari tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan secara penuh. Sebagaimana diungkapkan oleh komisi hukum nasional (KHN) bahwa dalam RUU BHP versi yang baru, semua bentuk pendidikan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah daerah atau pemerintah harus berbentuk badan hukum yang sama yaitu badan hukum pendidikan. Oleh karenanya, jika RUU BHP disahkan &#8211; maka peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peraturan pemerintah tentang BHMN tidak akan berlaku lagi. Perubahan yang terjadi antara konsep RUU lama dan yang baru, dapat diamati dari bunyi pasal 1 ayat 7 (versi lama), yang mengatur bahwa ”Penyelenggara adalah satuan pendidikan berstatus Badan Hukum Pendidikan (BHP)” dan “Semua satuan pendidikan tinggi harus berstatus Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) (Pasal 2 ayat (1)”. Selain itu, disebutkan juga bahwa “Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat berstatus Badan Hukum Pendidikan Dasar Menengah (BHPDM)”.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menjadi persoalan, apakah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) merupakan jawaban yang tepat bagi pengembangan pendidikan tinggi kedepan? Bagaimana RUU ini meletakkan peran pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi serta bagaimana mengkonstruksi hubungan antara penyelenggara pendidikan (yayasan, perkumpulan, badan wakaf, pemerintah, dll) dengan satuan pendidikan? Apakah RUU BHP memberikan jaminan bagi terwujudnya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global ? Selain itu kebijakan otonomi pendidikan sendiri merupakan hal belum tentu dapat meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bila makna otonomi itu sendiri ternyata bentuk lepas tangan pemerintah dengan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan secara lebih besar porsinya kepada masyarakat. Padahal hakikatnya penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara/ pemerintah sebagai pihak yang diamanahi rakyat untuk mengatur urusan mereka dengan sebaik mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. </strong><strong>PERBEDAAN PENGEMBANGAN MANUSIA UTUH DENGAN TIDAK UTUH ADALAH:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gambaran hakekat kodrati manusia (Illahiah/Natural dan Sospol) dalam uraian terdahulu, melukiskan hakekat manusia yang serba potensial dan sarat keterbatasan. Dalam kehidupannya sebagai insan social diperkaya dengan seperangkat kodrat social sesuai dengan status dan peran laku harapannya (expected role behavior), Beberapa sifat kodrati insan social ini ialah a.l. selalu berkelompok (group base), kontekstual/ kondisional, bersifat mono multiplex/pluralistic, insan politik yang terorganisir (zoon politicon, organized political man), insan yang terikat dalam sejumlah lingkaran kehidupan (life cycles) yang multi aspek dan multi waktu. John Locke, mengemukakan 5 sifat natural manusia dalam posisinya sebagai organized political man; yakni : suka dihormati, cinta kekuasaan, merasa pintar, ingin selamat dan hidup abadi. Kelima hal ini ditampilkan setiap diri manusia yang normal dalam kehidupannya, dan bila tidak dikendalikan kelima hal tadi akan berwujud menjadi: gila hormat, gila kekuasaan, sok pintar, cari selamat/aman (anti risiko) dan takut mati. (silahkan anda renungi/kaji diri anda sendiri ).</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua perbedaan hakekat kodrati tadi dengan diintervensi oleh tempat &#8211; waktu dan kondisi, berinteraksi/berinteradiasi dan menyebabkan proses perkembangan manusia serta melahirkan produk the real thing of man/human being. Proses perkembangan tadi tidak bersifat normless, melainkan terikat dan atau terkendali oleh seperangkat tatanan norma-acuan (norm refrences). Dalam masyarakat Indonesia ada/berlaku 6 norma acuan pokok yang menuntun/mengendalikan/mengharus kan diri dan kehidupan manusia ialah nroma/syariah agama, budaya agama, budaya adat/tradisi, hukum positif/negara, norma keilmuan, dan norma metafisis (hal ihwal diluar jangkauan kemampuan manusia, alam gaib &#8211; kepercayaan). Ke enam acuan normative tadi ada dalam setiap lingkaran dan aspek serta system kehidupan manusia. Dan setiap norma melahirkan acuan nilai dan moral. Norma adalah perangkat ketentuan/hukum/ arahan, dia bisa datang dari luar (eksternal) seperti dari Tuhan/Agama, negara/Hukum, masyarakat/adat dan bisa pula (yang terbaik ) datang dari dalam diri atau sanubari/qolbu kita sendiri. Norma yang sudah menjadi bagian dari hati nurani (suara hati = qolbu !) adalah norma dan nilai &#8211; moral yang sudah bersatu raga (personalized) dan menjadi keyakinan diri atau prinsip atau dalil diri &amp; kehidupan kita. Nilai ( value = valere) adalah kualifikasi harga atau isi pesan yang dibawakan/tersurat/tersirat dalam norma tsb (a.l. Norma agama memuat nilai/harga haram &#8211; halal &#8211; dosa &#8211; dll) dan melekat pada seluruh instrumental input manusia (hal-hal yng materiil/imateriil, personal/impersonal, kondisional, behavioral). Sedangkan Moral/Moralita adalah tuntutan sikap &#8211; perilaku yang diminta oleh norma dan nilai tadi. Maka karenanya suatu norma dari suatu sumber bisa memuat nilai &#8211; moral positif maupun negatif dan jumlahnya amat banyak serta bersifat relatif/subjektif &#8211; instrumental yang mungkin pula kontradiktif satu dengan lainnya. Contoh simple misalnya Norma agama &#8220;dilarang mencuri&#8221; memuat nilai a.l. dosa, haram, neraka, dll; moralita yang dituntut jauhi, hindari, jangan dikerjakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan yang saya maksudkan Sistem dalam kehidupan ialah apa yang dikemukakan oleh Talcot Parson, dimana menurutnya setiap organisme kehidupan (manusia, binatang, tanaman dll) memiliki 5 system; yakni: sistem nilai (value system), system budaya (cultural system); system social (social system), system personal (personal system) dan system organic (organic system).Maka karenanya Diri Manusia dan Astagatra kehidupan manusia yang bersifat organisme hidup tidak luput dari lima system tadi dan setiap system mengacu kepada 6 norma acuan yang ada/dianut/diyakni orang/masyarakat/kehidupannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari gambaran tadi jelas bahwa diri dan kehidupan manusia sarat/padat norma &#8211; nilai dan moral, tidak ada kehidupan yang &#8220;value free&#8221; (bebas nilai). Potret diri dan kehidupan di atas bila kita jabarkan secara matematis akan nampak sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Life Cycles manusia = 5 (diri, keluarga, masyarakat, bangsa/negara dan dunia)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Aspek kehidupannya = 5 dimensi/aspek (Ipoleksosbudag)</p>
<p style="text-align:justify;">3. Sumber Norma acuannya ada 6</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />Posted in my job Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=274&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/hakekat-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERSPEKTIF ADMINISTRASI PEMBANGUNAN  KUALITAS MANUSIA DAN KUALITAS MASYARAKAT</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/perspektif-administrasi-pembangunan-kualitas-manusia-dan-kualitas-masyarakat/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/perspektif-administrasi-pembangunan-kualitas-manusia-dan-kualitas-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 09:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[my job]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Kita sudah sering mendengar dari kalangan praktisi dan ilmuwan bahwa administrasi negara kita memiliki berbagai kelemahan birokrasi transisional, misalnya, inefisiensi, produktivitas rendah, kurang mampu melaksanakan tugas pembangunan dan sebagainya. Para ahli seperti Tjokrowinoto (1989), Effendi (1990), Evers (1988), Bintoro (1987), Mustopadidjaja (1988), Abdullah (1985), Brett (1988) dan Bryant dan White (1987) sudah sering mensinyalir bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=270&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kita sudah sering mendengar dari kalangan praktisi dan ilmuwan bahwa administrasi negara kita memiliki berbagai kelemahan birokrasi transisional, misalnya, inefisiensi, produktivitas rendah, kurang mampu melaksanakan tugas pembangunan dan sebagainya. Para ahli seperti Tjokrowinoto (1989), Effendi (1990), Evers (1988), Bintoro (1987), Mustopadidjaja (1988), Abdullah (1985), Brett (1988) dan Bryant dan White (1987) sudah sering mensinyalir bahwa salah satu hambatan yang besar dalam pembangunan di negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah sistem administrasi negara yang belum memiliki kemampuan yang cukup memadai buat melaksanakan berbagai tugas pembangunan yang semakin kompleks. Hambatan ini akan menjadi semakin nyata pada Tahap Pembangunan Jangka Panjang Kedua (1993/94 &#8211; 2018/2019) karena, berbeda dengan Pembangunan Jangka Panjang Pertama, tujuan pembangunan nasional masa masa tersebut akan lebih menitik beratkan pada peningkatan kualitas manusia dan kualitas masyarakat sebagai upaya meningkatkan martabat manusia. Orientasi pembangunan yang telah berubah ini memerlukan sistem administrasi yang berbeda dari sistem yang ada sekarang ini. Sistem administrasi baru ini memerlukan struktur yang lebih organis-adaptif, deregulasi prosedur, lebih memiliki orientasi pelayanan publik serta lingkungan politiko birokratik yang mampu mengawasi kegiatan birokrasi (Brett, 1988 dan Effendi, 1990).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada kesempatan ini saya ingin melontarkan pemikiran-pemikiran awal mengenai sistem administrasi buat pembangunan nasional yang menekankan kualitas manusia dan kualitas masyarakat. Untuk itu kupasan akan saya sampaikan dalam tiga bagian. Pertama, bagaimana sistem administrasi yang diperlukan untuk pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan martabat manusia. Pembahasan akan dipusatkan pada kualitas manusia organisasi yang diperlukan buat sistem administrasi tersebut. Kedua, apa hambatan-hambatan sosio-kultural dan politiko-birokratis dalam pengembangan kualitas manusia organisasi tadi. Ketiga, apa upaya yang perlu dilaksanakan untuk menumbuhkan kualitas manusia organisasi yang banyak diperlukan di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Birokrasi untuk Pembangunan Kualitas Manusia Max Weber, sosiolog Jerman yang merumuskan konsep biro-krasi untuk pertama kali, mempunyai pemikiran yang amat berbeda dari para sarjana yang dibicarakan di atas tentang hubungan antara birokrasi dan pembangunan ekonomi. Menurut Weber, birokratisasi adalah prasyarat bagi pembangunan ekonomi dan upaya penciptaan industri modern. Tanpa birokrasi tidak mungkin dicapai ekonomi modern yang berkelanjutan, industrialisasi yang cepat dan &#8220;take-off into selfsustained growth&#8221; (Giddens, 1985:195).</p>
<p style="text-align:justify;">Teori birokratisasi Weber tadi menimbulkan satu pertanyaan yang selalu mengusik di benak para sarjana administrasi pembangunan: &#8220;Apakah birokratisasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sudah sampai ke tingkat yang cukup tinggi sebagai prasarana pembangunan ekonomi?&#8221; Atau, sebaliknya, sudahkah birokratisasi yang terlalu berlebihan (overbureaucratization) justru telah menjadi beban yang menghambat kemajuan ekonomi negara ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dibahas proses birokratisasi secara lebih mendalam agar kita dapat membandingkan tingkat birokratisasi di Indonesia dengan di beberapa negara di kawasan ini. Evers (1987) dalam analisisnya tentang birokratisasi Asia Tenggara membedakan tiga pola birokratisasi berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">a)      Pola pertama adalah birokratisasi sebagai proses rasionalisasi prosedur pemerintahan dan aparat administrasi negara. Proses ini menjadi fokus dan dibahas secara luas dalam teori Weber dan oleh Evers dinamakan birokratisasi a la Weber atau Weberisasi atau (Bw).</p>
<p style="text-align:justify;">b)      Pola kedua adalah proses birokratisasi dalam bentuk peningkatan jumlah pegawai negeri dan pembesaran organisasi pemerintah. Dalam literatur ilmu sosial sering disebut nama Parkinson, tokoh ilmu sosial dari Universitas Singapura menjadi terkenal karena &#8220;Parkinson&#8217;s Law&#8221; yang telah diciptakannya. Hukum Parkinson ini menyatakan:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>tiap pegawai negeri akan berusaha sekuat tenaga meningkatkan jumlah pegawai bawahannya, dan</li>
<li>tiap pegawai akan selalu menciptakan tugas baru bagi dirinya sendiri yang sering diragukan manfaat dan artinya. Karena itu laju birokratisasi akan meningkat dan jumlah pegawai negeri akan naik secara otomatis tidak administrasi baru ini memerlukan struktur yang lebih organis-adaptif, deregulasi prosedur, lebih memiliki orientasi pelayanan publik serta lingkungan politiko-birokratik yang mampu mengawasi kegiatan birokrasi (Brett, 1988 dan Effendi, 1990).</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">c)      Pola ketiga adalah birokratisasi sebagai proses perluasan kekuasaan pemerintah dengan maksud mengontrol kegiatan ekonomi, politik dan sosial masyarakat dengan peraturan, regulasi, dan bila perlu pemaksaan. Proses ini di-sebut Evers birokratisasi Orwell atau Orwellisasi sesuai dengan gambaran masyarakat yang digambarkan oleh penulis George Orwell dalam novelnya yang berjudul &#8220;1984&#8243;.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dengan ketiga pola ini kita dapat mengukur tingkat bi-rokratisasi di Indonesia serta membandingkannya dengan tingkat yang sama di beberapa negara Asia Tenggara. Evers, menggunakan pola Parkinson, mengukur tingkat birokratisasi tersebut dengan memakai rasio pegawai negeri dan penduduk sebagai tolak ukur. Dia menyimpulkan bahwa proses birokratisasi relatif berjalan dengan cepat di negara Asia Tenggara. Tingkat birokratisasi yang tertinggi adalah di Malaysia dengan 40 pegawai per 1000 pada tahun 1986 diikuti oleh Indonesia dengan 19 pegawai per 1000 penduduk dan Thailand dengan 10 pegawai per 1000 penduduk. Walau pun Indonesia mempunyai tingkat birokratisasi yang terendah tetapi pertumbuhannya adalah yang tercepat karena antara 1950 dan 1988 jumlah pegawai negeri telah meningkat sebanyak lebih dari sepuluh kali lipat, dari 303 ribu menjadi 3,4 juta. Evers menamakan pertumbuhan yang cepat ini &#8220;runaway bureaucratization&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurutnya, proses ini dapat dibandingkan dengan inflasi mata uang. Bila peredaran mata uang ditambah terus maka nilainya akan merosot. Bila jumlah pegawai negeri ditambah terus se-cara cepat tanpa mengingat keseimbangannya dengan beban tugas pemerintahan, maka &#8220;nilai&#8221; pegawai negeri akan semakin menurun dan terjadilah inefisiensi. Dengan kata lain, inflasi pegawai negeri tadi akan menghambat tercapainya birokratisasi seperti yang diinginkan oleh Weber. Seperti sudah disinggung di atas, tesis utama teori birokratisasi Weber adalah sebagai berikut: birokrasi modern yang rasional diperlukan untuk ekonomi modern. Apa ciri-ciri birokrasi modern ini? Weber menggunakan konsep tipe ideal (idealtyp) untuk menjawab pertanyaan ini. Menurut pemikiran Weber suatu birokrasi modern mempunyai ciri-ciri berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>kegiatan birokrasi dilaksanakan secara teratur dengan batas-batas otoritas yang jelas,</li>
<li>ada hirarki kewenangan,</li>
<li>ada aturan yang jelas tentang perilaku, otoritas dan tanggung-jawab pegawai, dan</li>
<li>pegawai diterima atas dasar merit bukan ikatan kekrabatan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Salah satu ciri yang penting dari birokrasi rasional ala Weber ini adalah suatu sistem penggajian bagi pegawai sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas birokrasi tadi. Dalam hal ini, birokrasi Indonesia mempunyai pola yang agak &#8220;unik&#8221; menurut pola pemikiran Weber dan lebih mendekati pola imbalan dalam suatu birokrasi patrimonial yang lebih menyandarkan pada hubungan antar patron dan client atau yang secara populaer dikenal sebagai &#8220;bapakisme&#8221;. Selama sistem penggajian dan honor seperti ini seimbang dengan beban tugas maka dia dapat memacu produktivitas pegawai. Kalau tidak, sistem seperti diragukan kemampuannya untuk menghasilkan birokrasi yang berdayaguna dan berhasilguna seperti yang difikirkan oleh Weber.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara lain yang telah ditempuh oleh Pemerintah untuk meningkatkan prestasi pegawai adalah dengan menaikkan gaji me-reka. Anggaran pemerintah untuk gaji pegawai memang mening-kat sebesar 48 persen selama PELITA IV, tetapi pendapatan riil pegawai negeri sebenarnya menurun sebesar 24 persen (BIES, Survey of Recent Development, 23:2, 1987). Gaji pega-wai negeri golongan I misalnya hanya mencapai 30 persen dari Kebutuhan Fisik Minimal keluarga dengan 2 anak (Effendi, dkk, 1989). Tingkat gaji pegawai yang rendah ini akhirnya telah menciptakan birokrasi tidak produktif dan tingkat efisiensi yang rendah. Dengan kata lain, sistem remunerasi yang dipakai oleh Indonesia telah menyimpang dari prinsip yang difikirkan oleh Weber, dan karenanya sistem tersebut tidak akan mampu menumbuhkan birokrasi yang rasional dan memiliki tingkat produktivitas dan efektivitas yang diperlukan untuk menopang pembangunan yang sedang meningkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Peranan birokrasi pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di Indonesia, Thailand dan Singapura da-pat dikatakan cukup besar. Bahkan ada sebagian penulis yang menganggap bahwa peranan birokrasi dalam kehidupan ekonomi dan dunia usaha Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN. Sistem birokrasi Indonesia ini dinamakan masyarakat politik birokratik (bureaucratic polity) oleh Jackson (1978), atau kapitalisme birokratik (bureaucratic capitalism) oleh Robison (1986) untuk menggambarkan suatu sistem ekonomi dan politik dimana kegiatan ekonomi yang utama dimiliki oleh pemerintah dan sangat dikendalikan oleh peraturan-peratutan pemerintah. Sistem seperti ini menggambarkan pola birokrasi Orwell dan seperti yang kita lihat keadaan ini amat mengham-bat proses pembangunan, terutama buat jangka panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk sementara masyarakat birokratis seperti ini memang mampu menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Studi yang diadakan oleh Muhaimin (1986), misalnya, menyimpulkan bahwa dari berbagai tolak ukur nampak bahwa Pemerintah Orde Baru telah mampu mencapai hasil-hasil yang cukup besar dalam memperkuat kehidupan bernegara. Antara 1969/70 dan 1985/86 pengeluaran pembangunan pemerintah telah meningkat hampir 80 kali sebelum menurun mencapai titik terendah pada tahun 1988/89. Seiring dengan itu telah terjadi peningkatan penerimaan dalam negeri sebesar hampir 90 kali termasuk pe-ningkatan penerimaan pajak sebesar 67 kali lipat pada kurun waktu yang sama. Dalam pada itu volume APBN yang merupakan salah satu tolok ukur kegiatan pembangunan pemerintah juga telah mengalami pertumbuhan yang amat pesat seiring dengan bertambahnya proyek-proyek pembangunan yang dilaksanakan. Pada PELITA I, besarnya dana yang disediakan melalui APBN adalah Rp. 3.283,23 milyar, pada PELITA II meningkat menjadi Rp. 18.019,4 milyar, pada PELITA III meningkat lagi menjadi Rp. 66.393,7 milyar dan pada PELITA IV telah meningkat lagi menjadi Rp. 91.063 milyar.</p>
<p style="text-align:justify;">Peningkatan APBN ini telah memperkuat daya beli dalam negeri sehingga ekonomi dapat tumbuh dengan pesat. Tetapi, seperti dugaan Weber, birokrasi patrimonial terbukti tidak mampu bertahan buat usaha pembangunan ekonomi jangka panjang. Kenyataan ini mulai nampak pada pertengahan PELITA IV. Gejolak-gejolak ekternal yang diakibatkan oleh resesi ekonomi dunia yang berkepanjangan telah menimbulkan penurunan permintaan terhadap minyak, bahan tambang serta komoditi pertanian yang menjadi andalan Indonesia dalam pencarian de-visa. Keadaan ini lebih diperburuk lagi oleh berbagai tindakan protektif yang diadakan oleh negara-negara maju untuk menghambat serangan ekspor dari negara berkembang. Keadaan ini membawa dampak langsung bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Sampai dengan pertengahan PELITA IV laju pertumbuhan ekonomi hanya mencapai sekitar 4 persen bila diukur dari Produk Domestik Bruto. Dengan demikian tingkat pertumbuhan riil kurang dari 2 persen karena tingkat pertum- buhan penduduk adalah 2,1 persen. Keadaan ini sedikit membaik pada tahun-tahun berikutnya karena ekonomi dunia lebih sehat keadaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebijaksanaan debirokratisasi dan deregulasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah selama ini memang nampaknya mampu memperbaiki kinerja ekonomi nasional. Selain dapat mengurangi kerentanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak ekonomi internasional tindakan-tindakan tadi nampaknya telah dapat meningkatkan daya saing berbagai produk buatan Indonesia di pasar internasional. Lebih penting lagi tindakan deregulasi yang telah dilaksanakan secara sistematis oleh Pemerintah nampaknya telah menyebabkan perubahan struktur yang cukup besar pada ekonomi Indonesia. Menurut perkiraan staf Bank Dunia tindakan-tindakan debirokratisasi dan deregulasi dalam bidang ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia telah menurunkan secara drastis peranan BBM sebagai sumber pendapatan dari ekspor dari hampir 81 persen pada 1981/82 menjadi 66.6 persen pada 1985/86 dan turun lagi menjadi 35.8 pada 1988/89. Akibatnya, terjadi juga penurunan pada kontribusi penghasilan dari BBM terhadap penghasilan total dari hampir 71 persen pada 1981/82 menjadi 57.5 persen pada 1985/86 dan hanya 41.3 persen pada 1988/89. Perubahan struktur ekonomi ini nampak juga dari perbandingan antara hasil ekspor Non-BBM terhadap impor non-BBM yang telah meningkat dari hanya 28.8 persen pada 1981/82 menjadi 55.4 pada 1985/86 dan meningkat menjadi 90.3 persen pada 1988/89. Namun, belum semua bidang kegiatan rupanya tersentuh oleh berbagai tindakan debirokratisasi dan deregulasi tadi. Misalnya, arus barang antar daerah masih terhalang oleh berbagai peraturan yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi yang akhirnya akan merugikan masyrakat banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai saat ini memang sebagian besar kebijaksanaan debirokratisasi dan deregulasi yang ditempuh oleh Pemerintah masih dipusatkan pada upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tindakan deregulasi yang ditempuh adalah menyang-kut pemberian peluang yang lebih besar kepada swasta dalam memobilisasi dana masyarakat dan penghapusan ekonomi biaya tinggi dengan memperlancar arus barang serta menyederhanakan sistem perizinan. Namun masih banyak aspek pengelolaan pembangunan yang belum disentuh dan karenanya memerlukan tindakan debirokra-tisasi dan deregulasi lebih lanjut. Misalnya, Pembangunan Jangka Panjang Kedua (1994/95 &#8211; 2019/20) yang menekankan pembangunan kualitas manusia dan kualitas masyarakat dalam rangka pembangunan berkelanjutan juga memerlukan peninjauan yang kritis terhadap bentuk serta peranan birokrasi pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Agar dapat melaksanakan pembangunan kualitas manusia yang mencakup dimensi-dimensi kapasitas (capacity), pemera-taan (equity), pemberian kewenangan dan kekuasaan kepada masyarakat (empowerment), keberlanjutan (sustainability) dan kesadaran akan saling-ketergantungan (interdependency), diperlukan pemberian kesempatan yang lebih besar kepada partisipasi masyarakat melalui LSM mau pun lembaga perwakilan rakyat. Dengan kata lain diperlukan peninjauan kembali tentang peranan birokrasi dalam usaha pembangunan nasional. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama Repelita III dan IV dan di masa-masa yang akan datang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi semata-mata tidak lagi memadai untuk meningkatkan taraf kemakmuran kita serta untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. Kapasitas administrasi negara untuk melaksanakan pembangunan relatif masih rendah dan belum mampu memecahkan masalah-masalah nasional yang besar seperti pemerataan hasil pembangunan, peningkatan produktivitas nasional, penyediaan kesempatan kerja dan penyelenggaraan pelayanan publik. Masalah-masalah tersebut tidak mungkin dapat dipecahkan melalui upaya pembangunan yang unidimensional atau sektoral seperti yang kita ikuti selama ini dengan semata-mata mengandalkan kemampuan administrasi negara. Untuk mengatasi masalah-masalah nasional tadi kualitas manusia dan masyarakat perlu ditingkatkan agar potensi penduduk dapat diarahkan pada upaya pembangunan nasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kerangka pemikiran ini lah, pembangunan kualitas manusia mendapatkan penekanan pada GBHN 1988. Sekarang semakin disadari oleh Pemerintah mau pun oleh para ilmuwan bahwa pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan martabat manusia Indonesia, baru dapat dilaksanakan secara berhasil bila upaya pembangunan tersebut dapat meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia sebagai sumberdaya pembangunan. Untuk melaksanakan pembangunan seperti itu diperlukan suatu sistem administrasi yang baru yang lebih berkemampuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep pembangunan kualitas manusia sebenarnya cukup sederhana, yakni suatu upaya yang terencana untuk mening-katkan kapasitas individu dan masyarakat suatu bangsa untuk dapat secara aktif menentukan masa depannya. Kapasitas ini mencakup 5 aspek yakni: kapasitas untuk berproduksi, pemerataan, pemberian kekuasaan dan wewenang yang lebih besar kepada masyarakat, keberlanjutan (sustainable), dan kesadaran akan interdependensi antar manusia, antar manusia dan lingkungannya, dan antar negara. Bila di difinisikan seperti ini, pembangunan kualitas manusia pada dasarnya adalah upaya untuk mengembangkan inisiatif dan kreativitas penduduk sebagai sumberdaya pembangunan yang utama dalam rangka mencapai kesejahteraan material dan spiritual. Dalam konteks Indonesia, konsep pembangunan kualitas manusia ini perlu diperkaya dengan dimensi-dimensi yang khas buat bangsa kita yakni, ketaatan pada prinsip-prinsip moral dan agama, kesetiakawanan sosial dalam hubungan antar manusia, pengembangan rasionalitas, dan kemampuan menegakkan keman-dirian (Salim, 1990:12).</p>
<p style="text-align:justify;">Pergeseran titik berat pembangunan dari Trilogi yang lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi yang cepat, ke yang menekankan pemerataan, dan ke pembangunan kualitas manusia dan kualitas masyarakat pada Pelita-Pelita yang akan datang, membawa implikasi pada sistem administrasi yang digunakan buat mencapai tujuan yang berbeda ini. Untuk melaksanakan pembangunan sumberdaya manusia sebagai upaya untuk meningkatkan martabat mereka diperlukan suatu rona birokrasi yang tidak sama dengan yang kita miliki sekarang ini. Beberapa penulis, misalnya Riggs (1976) dan Brett (1988), meramalkan bahwa sistem administrasi Indonesia sekarang ini memiliki struktur organisasi, prosedur kerja, orientasi petugas, serta lingkungan birokrasi yang lebih mendekati gambaran suatu masyarakat birokrasi politik a la Jackson (1978) atau kapitalisme birokratik a la Robison (1986).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti administrasi pemerintahan di NTB lainnya, administrasi negara Indonesia menduduki tempat yang masih sentral walau pun dengan kadar yang sedang menuju perubahan. Dimensi pembangunan yang semakin luas dan kompleks telah menimbulkan perubahan yang drastis pada fungsi pemerintahan di negara-negara tersebut. Perubahan-perubahan yang cepat di tingkat global dan nasional serta tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang bertambah baik adalah faktor pendorong yang amat kuat bagi perubahan-perubahan pada sistem administrasi agar sistem tersebut lebih mampu untuk mendukung pembangunan yang bertambah kompleks tadi. Seperti sudah disinggung di atas, pembangunan kualitas manusia itu sebenarnya mencakup lima dimensi yakni kapasitas untuk berproduksi, pemerataan, pemberian kewenangan yang lebih besar kepada rakyat, kesadaran yang lebih tinggi ten-tang interdependensi antar manusia dan lingkungannya mau pun hubungan antar daerah dan antar bangsa, dan juga penekanan pada azas keberlanjutan (sustainability).</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu perlu dikembangkan suatu sistem administrasi baru yang lebih cocok untuk pembangunan kualitas manusia, yakni sistem administrasi yang memiliki struktur yang lebih terbuka atau organis adaptif (Bennis, 1969, dan Saxena, 1985), prosedur yang lebih sederhana dan cepat, petugas yang berorientasi fasilitator dan memiliki budaya pelayan publik serta lingkungan politik-birokratis yang mampu menciptakan &#8220;pengawasan&#8221; yang fungsional dan effektif terhadap birokrasi pemerintah. Meningkatkan Kualitas Manusia dalam Birokrasi Pembangunan Kiranya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Pemerintah, khususnya sistem administrasinya, pada akhirnya merupakan salah satu faktor penentu yang utama yang akan mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembangunan kualitas manusia. Para kritikus birokrasi pada umumnya masih sepakat bahwa peranan birokrasi dalam pembangunan nasional tidak mungkin dapat digantikan sepenuhnya oleh lembaga swasta (Mathur, 1986:9). Namun, di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, sistem administrasi pembangunan menghadapi banayak hambatan yang amat mempengaruhi kemampuan sistem tersebut buat melaksanakan pembangunan kualitas manusia secara baik dan dengan amat memperhatikan martabat manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara garis besar hambatan-hambatan pada birokrasi pembangunan dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni: hambatan proses dan hambatan orientasi (Saxena, 1986:49). Hambatan proses mencakup baik aspek struktur dan prosedur. Hingga kini struktur organisasi modern tetap dipandang sebagai model birokrasi yang tepat buat melaksanakan pembangunan. Oleh para ahli sering kekurang berhasilan yang terjadi di banyak negeri dihubungkan dengan bentuk birokrasi ini. Tetapi, yang menyebabkan model tersebut kurang berhasil bukanlah bentuknya itu tetapi adalah karena adanya nilai-nilai dan struktur organisasi yang tradisional yang menyebabkan tumbuhnya distorsi bentuk organisasi modern menjadi sistem yang patrimonial. Pada sistem ini prinsip-prinsip nepotisme dan partikularistik berlaku. Kalau pada sistem ekonomi kita mengenal adanya dualisme antara ekonomi tradisional agraris dan ekonomi modern industrial, maka dalam sistem administrasi kita dikenal adanya dualisme antara sistem administrasi tradisional yang menekankan ritualisme administratif yang tidak efisien dan sistem administrasi modern yang menekankan rasionalisme administratif yang efisien (Riggs, 1957:59). Dualisme administratif ini yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan budaya pelayan publik dalam birokrasi kita merupakan salah satu sebab kekurang mampuan administrasi pembangunan Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Birokratisasi dan sentralisasi yang kuat dalam pengelolaan pembangunan telah menimbulkan struktur birokrasi yang amat hirarkis dan legalistis, sehingga prosedur lebih bertujuan untuk memenuhi tuntutan struktur daripada manfaat. Fleksibilitas dan arus komunikasi yang lancar yang amat diperlukan dalam penyelenggaraan program pembangunan memnjadi terhambat, dan dalam birokrasi pembangunan yang luar biasa besarnya di Indonesia, prosedur menjadi amat kaku dan lamban. Yang lebih parah adalah prosedur yang mencekik ini ditumpangi lagi oleh kepentingan pribadi dan dijadikan komoditi yang diperdagangkan untuk keuntungan pribadi mau pun kelompok. Peranan birokrasi pemerintah yang kuat dan dominan dalam pengelolaan program pembangunan selama 25 tahun ini telah menimbulkan mental penguasa yang amat kuat di kalangan pejabat birokrasi dan ini menjadi penghambat yang cukup besar dalam upaya penciptakan aparatur pemerintahan yang terbuka dan mampu menggalang partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Dalam birokrasi seperti itu prestasi seorang pejabat bawahan akan diukur dari kemampuannya mencapai target-target yang telah ditentukan dan oleh &#8220;kepuasan&#8221; atasan terhadap prestasi bawahan tadi. Karena itu sifat yang paling menonjol adalah semangat untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan serta kurang mementingkan perubahan dan kemajuan yang identik dengan pembangunan. Dengan kata lain, tumbuhlah dengan subur etos kerja status quo yang mendorong para pejabat untuk lebih mempertahankan keharmonisan dalam segala hal.</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan-perubahan pada birokrasi pemerintah itu sen-diri sebenarnya tidak akan terjadi terlepas dari kondisi lingkungannya. Karena itu dalam pelaksanaan pembangunan kualitas manusia ini diperlukan suatu persyaratan mutlak yakni kemungkinan setiap anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya untuk meningkatkan kapasitasnya (Bryant dan White, Ibid; dan Korten dan Klaus, Ibid). Partisipasi masyarakat ini akan memungkinkan mereka untuk membantu menentukan masalah-masalah yang akan dipecahkan dalam pembangunan. Partisipasi ini juga akan memungkinkan masuknya informasi yang lebih banyak dari lapangan yang berguna bagi penentuan strategi pembangunan yang lebih tepat. Dukungan masyarakat yang lebih besar dalam pelaksanaan program pembangunan pun akan dapat digerakkan dengan parptisipasi. Disamping itu partisipasi masyarakat dalam pengawasan akan memungkinkan pengawasan yang lebih effektif. Dalam melaksanakan tugas-tugas pembangunan sebagai upaya peningkatan kapasitas, sifat-sifat birokrasi pemerintah yang stabil mekanistis tidak mungkin dihilangkan secara keseluruhan. Sifat tersebut hanya dapat dikurangi dan diganti dengan organisasi yang lebih bersifat organis adaptif (Saxena, Ibid; dan Bennis, 1969), yaitu organisasi yang selalu tumbuh dan menyesuaikan diri dengan tujuan yang hendak dicapai dan dengan dinamika lingkungannya, yang lebih terbuka terhadap gagasan peningkatan kapasitas, serta yang mampu melaksanakannya. Struktur birokrasi yang organis-adaptif ini mempunyai pola hubungan yang lebih longgar dan terbuka terhadap pengaruh positif dari luar. Partisipasi dalam perumusan tujuan menjadi lebih lebar sehingga terbuka kesempatan yang luas untuk keterlibatan dari bawah (bottom-up) mau pun dari atas (top-down).</p>
<p style="text-align:justify;">Selain struktur organisasi yang organis-adaptif, dalam pengembangan partisipasi ini perlu diadakan distribusi kekuasaan dan sumberdaya. Dengan kata lain, suatu peringkat desentralisasi yang memadai adalah prasyarat lain yang diperlukan buat pelaksanaan pembangunan kualitas manusia agarberhasil. Dalam hal ini ada perbedaan yang jelas antara pem-bangunan dan nation-building. Dalam nation-building memang diperlukan sentralisasi kekuasaan. Bagi Indonesia, tahap ini sudah dapat kita lewati dengan berhasil. Dalam tahap pembangunan untuk meningkatkan kualitas manusia dan kualitas masyarakat, sentralisasi yang berlebih-lebihan ini harus segera ditinggalkan untuk diganti dengan desentralisasi, yakni pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah dan masyarakat untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melaksanakan pembangunan seperti ini diperlukan desentralisasi sebanyak mungkin urusan kepada daerah. Hanya daerah yang tahu secara lebih baik aspirasi daerah serta dapat menilai apa sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang mereka miliki serta untuk apa kekayaan tersebut akan digunakan. Karena itu hambatan paling besar dalam pelaksanaan kebijaksanaan semacam itu adalah sentralisasi yang amat besar dalam sistem administrasi kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Hambatan yang ketiga adalah karena kelemahan yang terkandung dalam sistem politik kita yang kurang mampu mengembangkan pengawasan oleh DPR dan DPRD. Salah satu sebab utama kekurang berhasilan pembangunan di negara sosialis dan Dunia Ketiga menurut kajian yang diadakan oleh Institute of Devel-opment Studies, Universitas Sussex, adalah karena lemahnya sistem pengawasan demokratis di negara-negara ini. Sampai saat ini DPR dan DPRD, dengan berbagai cara, masih diperlakukan sebagai kepanjangan dari lembaga eksekutif. Karena itu tidak ada kekuatan politik yang berarti yang mengontrol lem-baga eksekutif. Dominasi birokrasi dalam kehidupan politik, karena amat sukar membedakan antara birokrasi dengan Golkar sebagai kekuatan politik yang sedang berkuasa, telah memper-buruk keadaan ini dan telah amat melemahkan efektivitas pengawasan terhadap lembaga eksekutif. Upaya Meningkatkan Kualitas Manusia Organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kemampuan administrasi pemerintah untuk melaksanakan pembangunan martabat manusia tidak mungkin dapat ditingkatkan tanpa peningkatan kualitas manusia dalam birokrasi pembangunan itu sendiri. Kualitas yang diperlukan oleh petugas birokrasi pembangunan itu antara lain mencakup ketaatan pada prinsip-prinsip moral dan agama yang tinggi, rasa kesetiaka-wanan sosial dalam hubungan sebagai pejabat dan masyarakat, rasionalitas sebagai pejabat yang merupakan individu organisasi dan institusi yang lebih mementingkan tujuan organisasi daripada tujuan individu serta tingkat kemandirian yang juga tinggi. Karena itu perlu didukung upaya yang sedang dirintis oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara untuk meningkatkan kualitas aparat dalam birokrasi seperti yang dilontarkan beberapa waktu yang lalu pada Seminar Nasional Pembangunan Kualitas Manusia dalam Era Tinggal Landas di Universitas Widya Mataram, Yogyakarta (Kusumaatmadja, 1990).</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa pilihan upaya yang dapat ditempuh oleh para perumus kebijaksanaan kita, khususnya dalam bidang pem-bangunan administrasi. Semua upaya ini dilandasi oleh suatu asumsi bahwa dalam pelaksanaan pembangunan kualitas manusia ini organisasi modern adalah satu-satunya wadah implementasi yang tersedia sampai saat ini. Dalam upaya untuk menghasilkan organisasi yang memiliki effisiensi dan otonomi yang diperlukan buat melaksanakan pembangunan untuk meningkatkan martabat manusia, disadari bahwa hirarhi yang terlalu panjang dan compartmentalized akana menghasilkan ke-kakuan dan subordinasi yang berlebihan. Karena itu inti dari upaya untuk meningkatkan kualitas manusia dalam birokrasi pembangunan meliputi upaya meningkatkan produktivitas mereka melalui sistem insentif, baik finansial dan non-finansial, yang lebih baik, serta merubah tata nilai serta lingkungan birokrasi melalui:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pelatihan Tehnis dan Moral</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sudah disinggung di atas bahwa birokrasi kita belum di- landasi oleh budaya pelayanan publik serta ra-sionalitas organisasi yang memadai. Karena itu program pelatihan yang tepat untuk menanamkan budaya tersebut serta rasionalitas sebagai manusia organisasi dan manusia institusi haruslah mendapatkan penekanan dalam upaya reformasi administrasi di Indonesia. Program pelatihan yang baik dan tepat tidak akan dapat digantikan oleh upaya restrukturisasi bentuk organi-sasi yang telah ditempuh selama ini.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Desentralisasi dan Reintegrasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pembangunan kualitas manusia dan kualitas masyarakat amat memerlukan desentralisasi kewenangan kepada daerah dan kepada masyarakat. Hanya daerah yang tahu dengan lebih baik potensi yang dimilikinya serta bagaimana menggunakan potensi tersebut untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Hamba-tan-hambatan antar kantor dan dinas di pusat dan di daerah perlu dikurangi dengan mengadakan reintegrasi tugas-tugas oleh berbagai kantor tadi. Pembicaraan mengenai reintegrasi ini sudah pernah dilontarkan oleh Menteri Rudini beberapa waktu yang lalu sehubungan dengan pengaturan kembali tugas Kkantor-kantor perwakilan Departemen di daerah atau oleh Menteri Sarwono sehubungan dengan perampingan birokrasi.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Demokratisasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Studi-studi yang diadakan oleh para sarjana adminis-trasi semakin menunjukkan bahwa kinerja sistem administrasi yang kurang memuaskan di negara selalu lebih menonjol di negara yang tidak demokratis. Dengan kata lain, tanpa pe-ngawasan politik yang effektif birokrasi pembangunan cende-rung untuk kurang berprestasi. Karena itu, sejalan dengan u-paya reformasi administrasi, harus diadakan transformasi politik untuk menciptakan pengawasan demokratis yang efektif terhadap birokrasi. Transformasi ini harus lebih luas dari transformasi yang kita kenal selama ini yang bertujuan untuk memperbaiki accountability dan partisipasi. Yang diperlukan adalah pemberian keleluasaan kepada masyarakat untuk mengem-bangkan basis-basi organisasi sosial yang bebas dalam suatu masyarakat sipil (civil society).</p>
<br />Posted in my job Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=270&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/perspektif-administrasi-pembangunan-kualitas-manusia-dan-kualitas-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANALISIS FILOSOFIS METODA DAN ALAT PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF  FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/analisis-filosofis-metoda-dan-alat-pendidikan-dalam-perspektif-filsafat-pendidikan-islam/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/analisis-filosofis-metoda-dan-alat-pendidikan-dalam-perspektif-filsafat-pendidikan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 09:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[my job]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah. Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=266&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>BAB I</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Latar Belakang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu. Proses itu mencari tahu itu menghasilkan <em>kesadaran</em>, yang disebut <em>pencerahan</em>. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang;</p>
<p style="text-align:justify;">1)      disusun metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang <span style="text-decoration:underline;">suatu bidang tertentu</span> dari kenyataan (realitas), dan yang</p>
<p style="text-align:justify;">2)      dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu tentang seluruh kenyataan (realitas).</p>
<p style="text-align:justify;">Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memfikirkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban <em>filsafati</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan manusia yang memiliki tingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia . Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran (Al-Kindi, 801 &#8211; 873 M).</p>
<p style="text-align:justify;">Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah <em>ratio</em> yang bertanya. Obyek materinya semua yang ada. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentag bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. <em>Thinking about thinking.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Meski bagaimanapun banyaknya gambaran yang kita dapatkan tentang filsafat, sebenarnya masih sulit untuk mendefinisikan secara konkret apa itu filsafat dan apa kriteria suatu pemikiran hingga kita bisa memvonisnya, karena filsafat bukanlah sebuah disiplin ilmu. Sebagaimana definisinya, sejarah dan perkembangan filsafat pun takkan pernah habis untuk dikupas. Tapi justru karena itulah mengapa fisafat begitu layak untuk dikaji demi mencari serta memaknai segala esensi kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Klasifikasi Filsafat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah bisa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah”. Sementara latar belakang agama dibagi menjadi: “Filsafat Islam”, “Filsafat Budha”, “Filsafat Hindu”, dan “Filsafat Kristen”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">1.) Klasifikasi Filsafat Menurut Wilayah</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>a. Filsafat Barat</em></p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat Barat’’’ adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. Namun pada hakikatnya, tradisi falsafi Yunani sebenarnya sempat mengalami pemutusan rantai ketika salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropah, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam pada dinasti Abbasyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, George Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">2.) Klasifikasi Filsafat Menurut Latar Belakang Agama</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;">a. Filsafat Islam</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat Islam bukanlah filsafat Timur Tengah. Bila memang disebut ada beberapa nama Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Timur Tengah, dalam filsafat Islam tentu seluruhnya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan ’sudah ditemukan.’</p>
<p style="text-align:justify;">Pada mulanya filsafat berkembang di pesisir samudera Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 M yang ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia, dan Tuhan. Dari sinilah lahirlah sains-sains besar, seperti fisika, etika, matematika, dan metafisika yang menjadi batubara kebudayaan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Asia Minor (Mediterania) bergerak menuju Athena yang menjadi tanah air filsafat. Ketika Iskandariah didirikan oleh Iskandar Agung pada 332 SM, filsafat mulai merambah dunia timur, dan berpuncak pada 529 M.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;">b. Filsafat Kristen</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya. Tak heran, filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn1"></a> dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas, Santo Bonaventura, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain dua agama terbesar diatas, masih ada beberapa agama lainya yang melahirkan pemahaman falsafi yang sampai sekarang masih eksis. Misalnya Budha, Taoisme, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Buddha</span></strong> dalam bahasa Sansekerta berarti mereka yang sadar, atau yang mencapai pencerahan sejati (Dari perkataan Sansekerta: untuk mengetahui). Budha merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh mereka untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, ia sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama yang dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sidharta adalah guru agama dan pendiri Agama Buddha (dianggap “Buddha bagi waktu ini”). Dalam pandangan lainnya, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar.</p>
<p style="text-align:justify;">Penganut Buddha tidak menganggap Siddharta Gautama sebagai sang hyang Buddha pertama atau terakhir. Secara teknis, Buddha, seseorang yang menemukan Dharma atau Dhamma (yang bermaksud: Kebenaran; perkara yang sebenarnya, akal budi, kesulitan keadaan manusia, dan jalan benar kepada kebebasan melalui Kesadaran, datang selepas karma yang bagus (tujuan) dikekalkan seimbang dan semua tindakan buruk tidak mahir ditinggalkan. Pencapaian nirwana (nibbana) di antara ketiga jenis Buddha<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn2"></a> adalah serupa, tetapi Samma-Sambuddha menekankan lebih kepada kualitas dan usaha dibandingkan dengan dua lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Taoisme</span></strong> merupakan filsafat Laozi<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn3"></a> dan Zhuangzi (570 SM ~470 SM) tetapi bukan agama. Taoisme berasalkan dari kata “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat tetapi merupakan asas atau jalan atau cara kejadian kesemua benda hidup dan benda-benda alam semesta dunia. Dao yang wujud dalam kesemua benda hidup dan kebendaan adalah “De”. Gabungan Dao dengan De diperkenalkan sebagai Taoisme merupakan asasi alamiah. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan berabadi. Keabadian manusia adalah apabila seseorang mencapai “Kesedaran Dao”. Penganut-penganut Taoisme mempraktekan Dao untuk mencapai “Kesedaran Dao” dan juga mendewakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Taoisme juga memperkenalkan teori <em><span style="text-decoration:underline;">Yinyang</span></em>. Yin dan Yang dengan saintifiknya diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda adalah dualisme, terdapat positif mesti adanya negatif; tidak bernegatif dan tidak berpositif jadinya kosong, tidak ada apa-apa. Bahkan magnet, magnet memiliki kutub positif dan negatif, kedua-dua sifat tidak bisa diasingkan; tanpa positif, tidak akan wujud negatif, magnet tidak akan terjadi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB II</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Kajian Filsafat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Definisi kata filsafat bisa dikatakan sebagai sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan mendasar (radikal).</p>
<p style="text-align:justify;">Kerapkali ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang abstrak dan berada di awang-awang (tidak mendarat) saja, padahal ilmu filsafat itu dekat dan berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Benar, filsafat bersifat tidak konkrit (atau lebih bisa dikatakan tidak tunggal), karena menggunakan metode berpikir sebagai cara pergulatannya dengan realitas hidup kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn4"></a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), filsafat merupakan pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa filsuf mengajukan beberapa definitif pokok filsafat seperti: Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas. Upaya untuk melukiskan hakekat realitas akhir dan dasar serta nyata, Upaya untuk menentukan batas-batas jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya. Penyelidikan kritis dan radikal atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. Sesuatu yang berupaya untuk membantu kita melihat apa yang kita katakan dan untuk mengatakan apa yang kita lihat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau menurut tradisi filsafati yang diambil dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.)<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn5"></a>, setelah dia membaca tulisan Herakleides Pontikos (penganut ajaran Aristoteles) yang memakai kata <em><strong>sophia</strong></em>. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia (Φιλοσοφία) Dalam bahasa ini, kata tersebut merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam istilah Inggris, <em>philosophy</em>, yang berarti filsafat, juga berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan ke dalam bahasa tersebut sebagai <em>cinta kearifan</em>. Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu, filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).</p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat adalah usaha untuk memahami atau mengerti semesta dalam hal makna (hakikat) dan nilai-nilainya (esensi) yang tidak cukup dijangkau hanya dengan panca indera manusia sekalipun.Bidang filsafat sangatlah luas dan mencakup secara keseluruhan sejauh dapat dijangkau oleh pikiran. Filsafat berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup serta apa yang merupakan tujuan hidupnya. Filsafat menggunakan bahan-bahan dasar deskriptif yang disajikan bidang-bidang studi khusus dan melampaui deskripsi tersebut dengan menyelidiki atau menanyakan sifat dasarnya, nila-nilainya dan kemungkinannya.Tujuannya adalah pemahaman dan kebijaksanaan. Karena itulah filsafat merupakan pendekatan yang menyeluruh terhadap kehidupan dan dunia. Suatu bidang yang berhubungan erat dengan bidang-bidang pokok pengalaman manusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Munculnya Filsafat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akibat dari berkembangnya kesusasteraan Yunani dan masuknya ilmu pengetahuan serta semakin hilangnya kepercayaan akan kebenaran yang diberikan oleh pemikiran keagamaan, peran mitologi yang sebelumnya mengikat segala aspek pemikiran kemudian secara perlahan-lahan digantikan oleh logos (rasio/ ilmu).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat inilah, para filsofof kemudian mencoba memandang dunia dengan cara yang lain yang belum pernah dipraktekkan sebelumnya, yaitu berpikir secara ilmiah. Dalam mencari keterangan tentang alam semesta, mereka melepaskan diri dari hal-hal mistis yang secara turun-temurun diwariskan oleh tradisi. Dan selanjutnya mereka mulai berpikir sendiri. Di balik aneka kejadian yang diamati secara umum, mereka mulai mencari suatu keterangan yang memungkinkan mereka mampu mengerti kejadian-kejadian itu. Dalam artian inilah, mulai ada kesadaran untuk mendekati problem dan kejadian alam semesta secara logis dan rasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab hanya dengan cara semacam ini, terbukalah kemungkinan bagi pertanyaan-pertanyaan lain dan penilaian serta kritik dalam memahami alam semesta. Semangat inilah yang memunculkan filosof-filosof pada jaman Yunani. Filsafat dan ilmu menjadi satu.</p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat, terutama Filsafat Barat, muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berfikir-fikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama pada saat itu yang dianggap sebagai “tirai besi keilmuan” lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang berberadaban lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Sejarah Perkembangan Awal Filsafat Dunia</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Meski istilah philosophia (Φιλοσοφία) pertama kali dimunculkan oleh Pythagoras, namun orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales (640-546 S.M.) dari Mileta (sekarang di pesisir barat Turki). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam buku History and Philosophy of Science karangan L.W.H. Hull (1950), menulis setidaknya sejarah filsafat dan ilmu dapat dibagi dalam beberapa periode, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>a. Periode pertama, filsafat Yunani abad 6 SM</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa ini ahli filsafatnya adalah Thales, Anaximandros, dan Anaximenes yang dianggap sebagai bapak-bapak fisafat dari Mileta. Thales berpendapat bahwa sumber kehidupan adalah air. Makhluk yang pertama kali hidup adalah ikan dan menusia yang pertama kali terlahir dari perut ikan. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mereka bertiga, Yunani kemudian memiliki pemikir-pemikir terkenal yang lebih berpengaruh lagi terhadap perkembangan fisafat, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Phythagoras, Hypocrates, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>b. Periode Kedua, Periode setelah kelahiran Al Masih (Abad 0-6 M)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa ini pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan para raja yang pro kepada gereja, dengan para ulama filsafat. Sehingga pada masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berfikir sehingga filsafat seolah-olah telah mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran hanya menjadi otoritas gereja, gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan menjadi sumber kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>c. Periode Ketiga, Periode kejayaan Islam (Abad 6-13 M)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa ini dunia Kristen Eropa mengalami abad kegelapan, ada juga yang menyatakan periode ini sebagai periode pertengahan. Masa keemasan atau kebangkitan Islam ditandai dengan banyaknya ilmuan-ilmuan Islam yang ahli dibidang masing-masing, berbagai buku inilah diterbitkan dan ditulis. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali yang ahli dalam hokum Islam, Al-farabi ahli astronomi dan matematika, Ibnu Sina ahli kedokteran dengan buku terkenalnya yaitu The Canon of Medicine. Al-kindi ahli filsafat, Al-ghazali intelek yang meramu berbagai ilmu sehingga menjadi kesatuan dan kesinambungan dan mensintesis antara agama, filsafat, mistik dan sufisme . Ibnu Khaldun ahali sosiologi, filsafat sejarah, politik, ekonomi, social dan kenegaraan. Anzahel ahli dan penemu teori peredaran planet. Tetapi setelah perang salib terjadi umat Islam mengalami kemundurran, umat Islam dalam keadaan porak-poranda oleh berbagai peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat 2 pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354 – 430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480 – 524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filasafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi. Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500 – 400 SM) adalah Socrates (469 – 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457 SM). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322 SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M. Al-Kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles. Oleh Raja Al-Makmun dan Raja Harun Al-Rasyid pada Zaman Abbasiyah, Al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles tersebut ke dalam Bahasa Arab.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepeninggal Al-Kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat. Filosof-filosof itu diantaranya adalah : Al-Farabi, Ibnu Sina, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhamad Iqbal, dan</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Rushd.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dengan filosof-filosof Islam pendahulunya yang lahir dan besar di Timur, Ibnu Rushd dilahirkan di Barat (Spanyol). Filosof Islam lainnya yang lahir di barat adalah Ibnu Baja (Avempace) dan Ibnu Tufail (Abubacer).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu baja dan Ibnu Tufail<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn6"></a> merupakan pendukung rasionalisme Aris-toteles. Akhirnya kedua orang ini bisa menjadi sahabat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Ibnu Rushd<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn7"></a> yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun seorang dokter dan telah mengarang Buku Ilmu Kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah El-Ula (First Philosophy). Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rushd dan kaum ulama yang diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafut-El-Falasifah, yang kemudian digunakan pula oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropah pada Zaman Renaisance. Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis. Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme). Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd dalam karyanya Tahafut-et-Tahafut (The Incohenrence of the Incoherence).</p>
<p style="text-align:justify;">Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rushd telah menyebabkan dilarangnya pengajaran ilmu filsafat di berbagai perguruan-perguruan Islam. Hoesin (1961) menyatakan bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rushd merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2002) yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan Ibnu Rushd, sehingga saat itu berkembang 2 paham yaitu paham pembela Ibnu Rushd (Averroisme) dan paham yang menentangnya. Kalangan yang menentang ajaran filsafat Ibnu Rushd ini antara lain pendeta Thomas Aquinas, Ernest Renan dan Roger Bacon. Mereka yang menentang Averroisme umumnya banyak menggunakan argumentasi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut-el-Falasifah. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan oleh kalangan filosof di Eropah Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah masalah yang diperdebatkan oleh filosof Islam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>d. Periode Keempat, Periode kebangkitan Eropa (Abad 12-17)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bersamaannya dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropah mengalami kebangkitan. Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa kebudayaan bangsa-bangsa Eropah. Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo pada Tahun 1130 – 1150 M. Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke Italia. Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John Salisbury pada tahun 1182.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan <strong>Papal Legate</strong> pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rushd.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam mulai berkembang lagi. Pada Tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin. Pada tahun 1217 Frederick II mengutus Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat berbahasa latin karangan kaum muslimin. Berkembangnya ajaran filsafat Ibnu Rushd di Eropah Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot. Banyak orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar Ibnu Rushd dengan judul de coelo et de mundo dan bagian pertama dari Kitab Anima.</p>
<p style="text-align:justify;">Pekerjaan yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterje-mahkan karya-karya filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Eropah Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Jazirah Arab.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan oleh putranya. Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256. Hermann kemudian menterjemahkan Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan Ibnu Rushd. Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rushd telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, termasuk kitab tahafut-et-tahafut, yang diterjemahkan oleh Colonymus pada Tahun 1328.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>e. Periode Filsafat Modern (Abad 17-20 M)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dikenal Juga sebagai abad Äufklarung. Pada masa ini <em><strong>Kristen</strong></em> yang berkuasa dan menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran, dan juga awal abad kemunduran bagi <em><strong>umat Islam</strong></em>. Berbagai pemikiran Yunani muncul, alur pemikiran yang mereka anut adalah <strong>rasionalitas, empirisrme, </strong>dan <strong>Kritisme</strong>. Peradaban Eropa bangkit melampaui dunia islam. Masa ini juga memunculkan intelektual Gerard Van Cromona yang menyalin buku Ibnu Sina, ”The canon of medicine”, Fransiscan Roger Bacon, yang menganut aliran pemikiran empirisme dan realisme berusaha menentang berbagai kebijakan gereja dan penguasa pada waktu itu. Dalam hal ini Galileo dan Copernicus juga mengalami penindasan dari penguasa. Masa ini juga menyebabkan perpecahan dalam agama Kristen, yaitu Kristen Katolik dan Protestan. Perlawanan terhadap gereja dan raja yang menindas terus berlangsung Revolusi ilmu pengetahuan makin gencar dan meningkat. Pada masa ini banyak muncul para ilmuwan seperti Newton dengan teori gravitasinya, John Locke yang menghembuskan perlawanan kepada pihak gereja dengan mengemukakan bahwa manusia bebas untuk berbicara, bebas mengeluarkan pendapat, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, serta hak berfikir. Hal serupa juga dilakuklan ole J.J .Rousseau mengecam penguasa dalam bukunya yang berjudul Social Contak.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal berbeda terjadi didunai Islam, pada masa ini umat Islam tertatih untuk bangkit dari keterpurukan spiritual. Intelektual Islam yang gigih menyeru umat Islam untuk kembali pada ajaran al-Quran dan Hadis. Pada masa krisis moral dan peradaban muncul ilmuwan lainnya yaitu Muhammad Abduh. Muhammad Abduh berusaha membangkitkan umat Islam untuk menggunakan akalnya. Ia berusaha mengikis habis taklid. Hal tersebut dilakukan oleh Muhammad Abduh agara umat Islam menemukan ilmu yang berasal dari al-Quran dan hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode<a href="http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/#_ftn8"></a> tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu”. Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir ( menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. — Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah” — “clearly and distinctly”, “clara et distincta”. Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Adapun <strong>Kritisisme </strong>oleh Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia “itu sendiri” (”das Ding an sich”), namun hanya dunia itu seperti tampak “bagiku”, atau “bagi semua orang”. Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan. Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah pergulatan antar aliran filsafat Modern. Rasionalist diwakili Descartes, Empirist diwakili Hume, dan Kritisme oleh Kant saling menkritik satu sama lain.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB III</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memfikirkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban <em>filsafati</em>. Kalau ilmu diibiratkan sebagai sebuah pohon yang memiliki berbagai cabang pemikiran, ranting pemahaman, serta buah solusi, maka filsafat adalah tanah dasar tempat pohon tersebut berpijak dan tumbuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah <em>ratio</em> yang bertanya. Sedang objek materinya ialah semua yang ada yang bagi manusia perlu dipertanyakan hakikatnya. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang berberadaban lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perkembanganya, filsafat Yunani sempat mengalami masa pasang surut. Ketika peradaban Eropa harus berhadapan dengan otoritas Gereja dan imperium Romawi yang bertindak tegas terhadap keberadaan filsafat di mana dianggap mengancam kedudukannya sebagai penguasa ketika itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat Yunani kembali muncul pada masa kejayaan Islam dinasti Abbasiyah sekitar awal abad 9 M. Tetapi di puncak kejayaannya, dunia filsafat Islam mulai mengalami kemunduran ketika antara para kaum filsuf yang diwakili oleh Ibnu Rusd dengan para kaum ulama oleh Al-Ghazali yang menganggap filsafat dapat menjerumuskan manusia ke dalam Atheisme bergolak. Hal ini setelah Ibnu Rusd sendiri menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli atau mistikus agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah abad ke-13, peradaban filsafat islam benar-benar mengalami kejumudan setelah kaum ulama berhasil memenangkan perdebatan panjang dengan kaum filosof. Kajian filsafat dilarang masuk kurikulum pendidikan. Pemerintahan mempercayakan semua konsep berfikir kepada para ulama dan ahli tafsir agama. Beriringan dengan itu, di Eropa, demam filsafat sedang menjamur. Banyak buku-buku karangan filosof muslim yang diterjemahkan kedalam bahasa latin. Ini sekaligus menunjukkan bahwa setelah pihak gereja berkuasa pada masanya dan sebelum peradaban Islam mulai menerjemahkan teks-teks aristoteles dan lain sebagainya oleh Al Kindhi, di Eropa benar-benar tidak ditemukan lagi buku-buku filsafat hasil peradaban Yunani.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah kebetulan atau tidak, ketika filsafat di dunia islam bisa dikatakan telah usai dan berpindah ke eropa, peradaban islam pun mengalami kemunduran sementara di eropa sendiri mengalami masa yang disebut sebagai abad Renaissance atau abad pencerahan, pada sekitar abad ke-15 M.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi tidak demikian halnya dalam komunitas gereja. Periode ini juga menghantarkan dunia kristen menjadi terbelah. Doktrin para pendeta katolik terus mendapatkan protes dari kaum Protestan.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun para filsuf zaman modern setelah masa aufklarung, abad ke-17 M, menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Para filsuf modern yang tercatat dalam sejarah ialah Descartes, Karl Marx, Nietsche, JJ Rosseau, Dan lain sebagainya.</p>
<br />Posted in my job Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=266&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/analisis-filosofis-metoda-dan-alat-pendidikan-dalam-perspektif-filsafat-pendidikan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMIMPINAN DALAM ORGANISASI</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/pemimpinan-dalam-organisasi/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/pemimpinan-dalam-organisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 09:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN A. PENGERTIAN Pemimpin dan Kepemimpinan  merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun  fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain : Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942) Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial Brown (1936) berpendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=264&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>BAB I</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENDAHULUAN </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">A. PENGERTIAN</p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin dan Kepemimpinan  merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun  fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)</li>
<li>Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial</li>
<li>Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.</li>
<li>Kepemimpinan  sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.</li>
<li>Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Muncul dua pertanyaan yang menjadi perdebatan mengenai pemimpin,</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau ditempah?</li>
<li>Apakah efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan dari satu organisasi ke organisasi yang lain oleh seorang pemimpin yang sama?</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Untuk menjawab pertanyaan pertama tersebut kita lihat beberapa pendapat berikut</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pihak yang berpendapat bahwa “pemimpin itu dilahirkan” melihat bahwa seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena dia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinannya.</li>
<li>Kubu yang menyatakan bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa” berpendapat bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa. Caranya adalah dengan memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sondang (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila :</p>
<p style="text-align:justify;">a.  seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan</p>
<p style="text-align:justify;">b. bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya</p>
<p style="text-align:justify;">c. ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Untuk menjawab  pertannyaan kedua dapat dirumuskan dua kategori yang sudah barang tentu harus dikaji lebih jauh lagi:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Keberhasilan seseorang memimpin satu  organisasi dengan sendirinya dapat dilaihkan kepada kepemimpinan oleh orang yang sama di organisasi lain</li>
<li>Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi tidak merupakan jaminan keberhasilannya memimpin organisasi lain.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB II</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">A. JARINGAN KOMUNIKASI</p>
<p style="text-align:justify;">Jaringan : Saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain.  Lingkaran, Roda, Y. Rantai  semua saluran struktur jaringan komunikasi adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Model Rantai</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Metode jaringan komunikasi di sini terdapat lima tingkatan dalam jenjang hirarkisnya dan hanya dikenal komunikasi sistem arus ke atas (upward) dan ke bawah (downward), yang artinya menganut hubungan komunikasi garis langsung (komando) baik ke atas atau ke bawah tanpa terjadinya suatu penyimpangan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Model Roda</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sistem jaringan komunikasi di sini, semua laporan, instruksi perintah kerja dan kepengawasan terpusat satu orang yang memimpin empat bawahan atau  lebih, dan antara bawahan tidak terjadi interaksi (komunikasi sesamanya).</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Model Lingkaran</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Model jaringan komunikasi lingkaran ini, pada semua anggota/staff bisa  terjadi interaksi pada setiap tiga tingkatan hirarkinya tetapi tanpa ada   kelanjutannya pada tingkat yang lebih tinggi, dan hanya terbatas pada setiap level.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Model Saluran Bebas/Semua Saluran</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Model jaringan komunikasi sistem ini, adalah pengembangan model lingkaran, di mana dari semua tiga level tersebut dapat melakukan interaksi  secara timbal balik tanpa menganut siapa yang menjadi tokoh sentralnya.</p>
<p style="text-align:justify;">e.   Model Huruf ‘Y’</p>
<p style="text-align:justify;">Model jaringan komunikasi dalam organisasi di sini, tidak jauh berbeda dengan model rantai, yaitu terdapat empat level jenjang hirarkinya,  satu supervisor mempunyai dua bawahan dan dua atasan mungkin yang berbeda divisi/departemen.</p>
<p style="text-align:justify;">B. ARUS KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Komunikasi ke atas</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih rendah ke  tingkat yang lebih tinggi. Misal : dari ketua himpunan ke ketua bidang, atau dari ketua panitia ke para pelaksana. Komunikasi ini sangat penting untuk mempertahankan dan bagi pertumbuhan organisasi. Muncul manajemen umpan balik yang dapat menumbuhkan semangat kerja bagi anggota organisasi. Adanya perasaan memiliki dan merasa sebagai bagian dari organisasi dari bawahannya. Masalah yang timbul dalam komunikasi ke atas :</p>
<p style="text-align:justify;">1)      Karena pesan yang mengalir ke atas sering merupakan pesan yang harus didengar oleh hirarki yang lebih tinggi/atasan, para pekerja seringkali enggan menyampaikan pesan yang negatif.</p>
<p style="text-align:justify;">2)      Seringkali pesan yang disampaikan  ketas, terutama yang menyangkut ketidakpuasan bawahan, tidak didengar atau ditanggapi oleh manajemen.</p>
<p style="text-align:justify;">3)      Kadang-kadang pesan tidak sampai. Karena disaring oleh penjaga gerbang arus pesan. Atau bisa terjadi lebih baik bertanya pada rekan kerja atau sesama mahasiswa.</p>
<p style="text-align:justify;">4)      Arus ke bawah terlalu besar sehingga tidak ada celah untuk menerima pesan dari bawah.</p>
<p style="text-align:justify;">5)      Hambatan fisik. Biasanya secara fisik pimpinan dengan bawahan berjauhan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Komunikasi ke bawah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Contoh, pesan dari direktur pada sekretaris, dari ketua senat pada bawahannya, dll. Masalah yang timbul  Manajemen dan bawahan seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Komunikasi Lateral</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Merupakan arus pesan antar sesama – ketua bidang ke ketua bidang, anggota ke anggota. Pesan semacam ini bergerak di bagian bidang yang sama di dalam organisasi atau mengalir antar bagian. Masalah yang timbul</p>
<p style="text-align:justify;">1)      Bahasa yang khusus dikembangkan oleh divisi tertentu di dalam organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">2.  Merasa bidangnya adalah yang paling penting dalam organisasi  Kabar Burung Jika tiga jenis komunikasi di atas mengikuti pola struktur formal di dalam organisasi, maka yang tergolong kabar burung tidak mengikuti garis formal semacam itu. Sulit melacak sumber asli penyampai pesan. Kabar burung seringkali dipergunakan apabila:</p>
<p style="text-align:justify;">1.  Ada perubahan besar dalam organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">2.  Informasinya baru</p>
<p style="text-align:justify;">3.  Komunikasi tatap muka secara fisik mudah dilakukan</p>
<p style="text-align:justify;">4.  Anggotanya terkelompokan pada bidang-bidang tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Banyaknya informasi yang diterima sehingga timbul kesulitan untuk menentukan informasi mana yang dianggap lebih penting untuk disampaikan terlebih dahulu. Mudahnya informasi dapat diterima dan disebarkan membuat para pemberi pesan lupa bahwa informasi yang disampaikan butuh dicerna terlebih dahulu dan itu membutuhkan waktu. Apalagi informasi yang disampaikan oleh atasan lebih banyak mengenai permasalahan daripada pemecahan.</p>
<p style="text-align:justify;">C. TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN</p>
<p style="text-align:justify;">1.  Tipe Otokratik</p>
<p style="text-align:justify;">Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka</li>
<li>pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.</li>
<li>Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya</li>
<li>dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya</li>
<li>bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi</li>
<li>menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">2.  Tipe Paternalistik</p>
<p style="text-align:justify;">Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">3.  Tipe Kharismatik</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.</p>
<p style="text-align:justify;">4.  Tipe Laissez Faire</p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi. Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif</li>
<li>pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.</li>
<li>Status quo organisasional tidak terganggu</li>
<li>Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.</li>
<li>Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">5.  Tipe Demokratik</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi</li>
<li>. Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.</li>
<li> Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.</li>
<li>Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia</li>
<li>Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti. Ciri ciri pemimpin dan kepemimpinan yang ideal antara lain :</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">1)      Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.</p>
<p style="text-align:justify;">2)      Kemampuan Bertumbuh dan Berkembang</p>
<p style="text-align:justify;">3)      Sikap yang Inkuisitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.</p>
<p style="text-align:justify;">4)      Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan dalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">5)      Daya Ingat yang Kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">6)      Kapasitas Integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.</p>
<p style="text-align:justify;">7)      Keterampilan Berkomunikasi secara Efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.</p>
<p style="text-align:justify;">8)      Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">9)      Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">10)  Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya.  Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.</p>
<p style="text-align:justify;">11)   Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang  berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">12)  Kemampuan Menentukan Prioritas, biasanya yang menjadi titik tolak strategik organisasional adalah “SWOT”.</p>
<p style="text-align:justify;">13)  Kemampuan Membedakan hal yang Urgen dan yang Penting</p>
<p style="text-align:justify;">14)  Naluri yang Tepat, kekampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">15)  Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, keterikan satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">16)   Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">17)  Keteladanan,s seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">18)  Menjadi Pendengar yang Baik</p>
<p style="text-align:justify;">19)  Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisonal, temporal dan spatial.</p>
<p style="text-align:justify;">20)  Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">21)  Ketegasan</p>
<p style="text-align:justify;">22)  Keberanian</p>
<p style="text-align:justify;">23)  Orientasi Masa Depan</p>
<p style="text-align:justify;">24)  Sikap yang Antisipatif dan Proaktif</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />Posted in MPd.doc Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=264&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/18/pemimpinan-dalam-organisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MOS/ MASA ORIENTASI SEKOLAH</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/15/mos-masa-orientasi-sekolah/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/15/mos-masa-orientasi-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 12:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Mos TA 2009/2010 telah digelar mulai tanggal 13-15 juli 2009,  ini merupakan ajang balas dendam antara kakak kelas dterhadap adik kelas untungnya hal ini tidak terjadi disekolah saya, semuanya berjalan secara wajar dan terkendali saya sebagai koordinator lapangan banyak mengucapkan terima kasih untuk seluruh panitia yang terlibat dalam pelaksanaan tak lupa pula buat anak OSIS [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=246&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_247" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-247" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/15/mos-masa-orientasi-sekolah/img_4341/"><img class="size-medium wp-image-247" title="IMG_4341" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/07/img_4341.jpg?w=300&#038;h=225" alt="MOS " width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">MOS </p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Mos TA 2009/2010 telah digelar mulai tanggal 13-15 juli 2009,  ini merupakan ajang balas dendam antara kakak kelas dterhadap adik kelas</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;"><strong>untungnya hal ini tidak terjadi disekolah saya, semuanya berjalan secara wajar dan terkendali</strong></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>saya sebagai koordinator lapangan banyak mengucapkan terima kasih untuk seluruh panitia yang terlibat dalam pelaksanaan tak lupa pula buat anak OSIS yang membantu menyukseskannya</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><em><strong>Waka sarana dan prasarana</strong></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><em><strong><br />
</strong></em></span></p>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_248" class="wp-caption aligncenter" style="width: 122px"><span style="color:#008000;"><em><strong><a rel="attachment wp-att-248" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/15/mos-masa-orientasi-sekolah/1_960825629m/"><img class="size-thumbnail wp-image-248" title="1_960825629m" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/07/1_960825629m.jpg?w=112&#038;h=150" alt="19800920 20060401 017" width="112" height="150" /></a></strong></em></span><p class="wp-caption-text">19800920 20060401 017</p></div>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong><br />
</strong></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><em><strong><span style="text-decoration:underline;">Raisul akbar, S.Pd</span></strong></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><em><strong>390032054</strong></em></span><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=246&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/07/15/mos-masa-orientasi-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/07/img_4341.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_4341</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/07/1_960825629m.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">1_960825629m</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MANAJEMEN SUMBER DAYA PENDIDIKAN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/06/28/manajemen-sumber-daya-pendidikan/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/06/28/manajemen-sumber-daya-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 19:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Aspek-Aspek  Dari Substansi Tugas Manajemen Pendidikan Adalah: Ada beberapa hal yang dilakukan dalam kegiatan manajemen sekolah, yaitu manajemen pembelajaran atau kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen personil, manajemen sarana prasarana, manajemen keuangan, manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat, dan manajemen layanan khusus. Dalam melaksanakan setiap kegiatan manajemen sekolah tersebut, ada beberapa proses yang mesti dilalui yaitu proses perencanaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=161&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Aspek-Aspek  Dari Substansi Tugas Manajemen Pendidikan Adalah:</em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa hal yang dilakukan dalam kegiatan manajemen sekolah, yaitu manajemen pembelajaran atau kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen personil, manajemen sarana prasarana, manajemen keuangan, manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat, dan manajemen layanan khusus. Dalam melaksanakan setiap kegiatan manajemen sekolah tersebut, ada beberapa proses yang mesti dilalui yaitu proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Berikut diuraikan secara lebih rinci substansi masing-masing manajemen sekolah berdasarkan proses manajemen. <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>a. </em><em>Manajemen Kurikulum</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan, meliputi membuat analisis materi pelajaran, menyusun kalender pendidikan, penyusunan program tahunan, penyusunan program semester, penyusunan program satuan pembelajaran, penyusunan rencana pembelajaran, penyusunan rencana bimbingan dan penyuluhan. Pengorganisasian, meliputi pembagian tugas mengajar dan tugas lain, penyusunan jadual pembelajaran, penyusunan jadual kegiatan perbaikan, penyusunan jadual kegiatan pengayaan, penyusunan kegiatan ekstrakurikuler, dan penyusunan jadual kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Penggerakan, meliputi pengaturan pelaksanaan kegiatan pembukaan tahun ajaran baru, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Pengawasan, meliputi supervisi pelaksanaan pembelajaran, supervisi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan, evaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran, dan evaluasi proses dan hasil kegiatan bimbingan dan penyuluhan. <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>b. </em><em>Manajemen Peserta Didik</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan, meliputi pendataan anak usia pra sekolah, perencanaan daya tampung, perencanaan penerimaan dan penerimaan siswa baru. Pengorganisasian, berupa pengelompokan siswa berdaarkan pola tertentu. Penggerakan, meliputi pembinaan disiplin belajar siswa, pencatatan kehadiran siswa, pengaturan perpindahan siswa, dan pengaturan kelulusan siswa. Pengawasan, berupa pemantauan siswa dan penilaian siswa. <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>c. </em><em>Manajemen Sarana Prasarana</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan, meliputi analisis kebutuhan sarana prasarana dan perencanaan dan pengadaan sarana prasarana sekolah. Pengorganisasian, meliputi pendistribusian sarana prasarana dan penataan sarana prasarana sekolah. Penggerakan, meliputi pemanfaatan sarana prasarana , pemeliharaan sarana prasarana , inventarisasi sarana prasarana, dan penghapusan terhadap sarana prasarana sekolah. Pengawasan, meliputi pemantauan kinerja penggunaan dan pemeliharaan sarana prasarana sekolah. <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>d. </em><em>Manajemen Hubungan Masyarakat</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan, meliputi analisis kebutuhan layanan khusus bagi warga sekolah dan penyusunan program layanan khusus bagi warga sekolah. Pengorganisasian, berupa pembagian tugas untuk melaksanakan program layana khusus bagi warga sekolah. Penggerakan, meliputi pengaturan pelaksanaan perpustakaan, koperasi sekolah, ketrampilan, unit kesehatan sekolah, ekstrakurikuler, tabungan, keagamaan, kantin, antar jemput siswa, makan siang siswa, dan layanan khusus lainnya. Pengawasan, meliputi pemantauan program layana khusus dan penilaian kinerja program layanan khusus bagi warga sekolah. Program MBS mengupayakan agar semua aspek yang berhubungan dengan manajemen persekolahan dilaksanakan secara terbuka dan melibatkan semua stakeholder disekililing sekolah. Ini meliputi proses manajemen dari tahap pra- perencanaan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluai pelaksanaan. Jika ini terjadi maka akan ada check and balance dalam pelaksanaan kegiatan dan pendanaan persekolahan dan akan ada rasa saling membutuhkan dan mempercayai, bukan rasa curiga dan syak wasangka. Kepercayaan masyarakat ini tentunya akan memacu masyarakat untuk lebih membantu dan mendukung sekolah. Namun dalam kamus MBS kita, keterbukaan manajemen sekolah (dan meningkatnya PSM) harus mampu meningkatkan mutu KBM melalui PAKEM – sebab yang terakhir inilah ukuran akhir kegiatan MBS kita. <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>e. </em><em>Manajemen Personil </em></p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan meliputi analisis pekerjaan di sekolah, penyusunan formasi guru dan pegawai baru, dan perencanaan dan pengadaan guru dan pegawai baru. Pengorganisasian, berupa pembagian tugas guru dan pegawai. Penggerakan, meliputi pembinaan profesionalisme guru dan pegawai, pembinaan karir guru dan pegawai, pembinaan kesejahteraan guru dan pegawai, pengaturan perpindahan guru dan pegawai, dan pengaturan pemberhentian guru dan pegawai. Pengawasan, meliputi pemantauan terhadap kinerja guru dan pegawai dan penilaian terhadap kinerja guru dan pegawai. <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>f. </em><em>Manajemen keuangan. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam membahas sumber daya economic dan finansial dalam sebuah lembaga pendidikan, sebagai contoh sekolah, ada tiga aspek yang menurut WG Cunningham perlu diperhatikan yaitu perencanaan strategis, perencanaan pengeluaran, dan perencanaan pendapatan. Perencanaan strategis terbentuk seiring dengan berlangsungnya proses administrasi dan harus jelas sebelum memulai proses penyusunan anggaran. Perencanaan pengeluaran dan pendapatan dalam proses perencanaan akan menyediakan input dalam perencanaan operasional. Namun ketika anggaran tidak dapat mendukung apa yang sudah disusun dalam perencanaan strategis maka hubungan antara keduanya tidak akan dapat berkembang dan bisa melemahkan proses perencanaan. Sementara anggaran berperan sebagai perpaduan harapan dari seluruh program yang telah direncanakan oleh sekolah. Sistem anggaran sekolah mengatur estimasi pendapatan dan pengeluaran sekolah yang yang cukup penting, sehingga harus memperhitungkan sumber-sumber yang sesuai agar mendapatkan keuntungan sistem yang maksimal.</p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan strategis memuat bangunan sistem dalam sebuah sekolah dengan tujuan tertentu dimasa yang akan datang yaitu yang berkaitan dengan visi, target, tujuan strategis dan kebijakan. Perencanaan strategis mempersiapkan koordinasi dan tujuan operasional, tetapi hanya dalam proses penentuan anggaran pada saat awal dan akhir. Selama dalam proses ini anggaran akan sangat ditentukan oleh perencanaan strategis baik dari segi kualitas maupun kuantitas sedangkan perencanaan operasional lebih banyak ditentukan oleh keputusan yang diambil selama dalam proses perencanaan. Morphet, Jhon dan Ruller mengatakan suatu program pendidikan harus dipersiapkan dengan sejumlah estimasi dana tertentu sebagai antisipasi akan penggunaan dan yang berlebih dan hal tersebut seharusnya dipersiapkan sebelum menentukan jumlah biaya yang harus digunakan agar mendapatkan pencapaian hasil yang terbaik.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Sumber daya ekonomi dan finansial’ atau lebih tepatnya dapat disebut dengan modal, pada peringkat teratas mengenai hal-hal pokok yang harus diutamakan dalam proses perencanaan. Pada bab 2 dalam buku ini dapat ditemukan pendapat WG Cunningham berikut contoh kasus yang sedemikian lengkapnya mengenai ketidak berhasilan perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan yang penyebabnya semata-mata ditumpukan pada permasalahan finansial. Sehingga bila perencanaan yang dibuat oleh lembaga pendidikan tidak disesuaikan dengan kondisi finansial yang ada, maka berbagai implikasi negatif yang ditimbulkan harus ditanggung oleh pihak lembaga pendidikan itu sendiri. Menurutnya, perencanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan dana yang tersedia, dan jangan pernah mengimplementasikan rencana yang sumber dananya belum jelas akan didapatkan dari mana.</p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan, tentunya tidak boleh melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu pendidikan untuk pendidikan, sebagaimana diungkapkan oleh John Dewey. Dan agar sebuah perencanaan dalam lembaga pendidikan tersebut tidak melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, harus digunakan sebuah model perencanaan yang lebih ‘manusiawi’. Sudah tentu model perencanaan top down dengan semangat neoliberal yang ditawarkan oleh WG Cunningham tidaklah dapat mengakomodasi ‘kemanusiawian’ tersebut. Model perencanaan partisipatif dalam lembaga pendidikan, yang sering dikemukakan oleh Paulo Freire, dan model perencanaan deliberatif yang dicetuskan oleh Jurgen Habermas, adalah model-model perencanaan yang paling tepat dalam dunia pendidikan. Inti dari kedua model tersebut adalah pemanusiaan individu yang berada dalam sebuah komunitas melalui perluasan partisipasi dalam proses penentuan kebijakan, dalam hal ini yang berkaitan dengan proses perencanaan dalam dunia pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>2</em></strong><strong>.  <em>Prinsip- Prinsip Dari Substansi Proses </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.  Perencanaan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu faktor yang menentukan pembangunan bidang pendidikan akan mencapai sasarannya adalah perencanaan yang baik. Perencanaan yang baik tentunya mensyaratkan tersedianya dukungan data yang benar-benar mencerminkan keadaan yang sebenarnya (akurat) dan mutakhir. Syarat lain yang tidak kalah pentingnya adalah proses penyusunan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan daerah, melibatkan seluruh stakeholder pendidikan, dan akuntabel. Perencanaan yang baik dapat dilihat dari dua sisi, yakni :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Substansi isi perencanaan dan proses penyusunannya. Dari sisi substansinya, setidak-tidaknya ada 5 (lima) hal yang perlu mendapat perhatian:</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Perencanaan seharusnya sesederhana mungkin namun jelas kaitan antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya sehingga mudah dipahami dan diimplementasikan.</li>
<li>Perencanaan harus terukur sehingga mudah untuk dilihat sampai sejauh mana pelaksanaan sesuai dengan perencanaan dan seberapa hasil yang telah dicapai. Pengukuran hanya bisa dilakukan jika cukup tersedia data yang akurat dan mutakhir dari waktu ke waktu.</li>
<li>Isi perencanaan tidak terlalu muluk-muluk dan seyogyanya sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat dan sesuai dengan kapasitas daerah untuk melaksanakannya.</li>
<li>Perencanaan harus benar-benar dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan program dan kegiatan. Penggunaan data dan informasi yang akurat mutlak diperlukan untuk menjadikan perencanaan dapat diandalkan.</li>
<li>Perencanaan harus jelas jangka waktunya (tahunan, lima tahunan, sepuluh tahunan atau lebih dari itu). Hal ini diperlukan untuk mengalokasikan sumberdaya yang tersedia dengan tepat.</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Dari sisi proses penyusunannya, perencanaan harus dibuat secara transparan, akuntabel, partisipatif dan aspiratif. Untuk itu, berbagai pihak yang berkepentingan dengan pendidikan harus dilibatkan sejak awal proses penyusunan perencanaan. Selain itu, sebelum disahkan menjadi dokumen resmi, perencanaan perlu dipublikasikan terlebih dahulu ke masyarakat luas melalui media masa lokal dan lokakarya-lokakarya untuk memperoleh masukan-masukan. Jika proses penyusunan seperti dilaksanakan, akan diperoleh kepedulian dan dukungan masyarakat dalam implementasi program dan kegiatan pendidikan. Dengan perencanaan pendidikan seperti ini, pelaksanaan program dan kegiatan pendidikan di daerah akan menjadi lebih efesien dan efektif serta dapat diterima masyarakat secara luas. Kabupaten Kebumen merupakan contoh yang baik.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>B.  Pengorganisasian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gagasan untuk mengumpulkan data, menganalisis dan membuat pemetaan sekolah secara benar berasal dari Dinas Pendidikan dan Bappeda. Inisiatif itu muncul setelah para pejabat terkait termasuk salah seorang anggota DPRD dari komisi yang membidangi pendidikan mengikuti Lokakarya Pemetaan dan Perencanaan Pendidikan yang diselenggarakan Program MBE. Hal ini didasarkan pada kebutuhan nyata untuk mempunyai data yang akurat dan terkini. Ada kesadaran dan keinginan yang kuat dari penyelenggara pendidikan dan pengambil keputusan kabupaten untuk menyusun rencana pendidikan jangka panjang yang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan diterima oleh semua pihak yang berkepentingan dalam pendidikan. Dalam upaya mewujudkan inisiatif tersebut, Dinas Pendidikan dan Bappeda kemudian menyusun strategi:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pertama, pembentukan tim pemetaan dan perencanaan yang terdiri dari berbagai unsur pemerintah daerah dan masyarakat: Dinas Pendidikan, Bappeda, Bagian Keuangan Setda, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Kantor Depar temen Agama, Dewan Pendidikan, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS), dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli pendidikan.</li>
<li>Kedua, mengumpulkan data dengan menggunakan instrumen yang sudah ada, yakni yang dikeluarkan secara nasional oleh Pusat Data dan Informasi Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara bersama-sama oleh tim melalui sebuah Lokakarya Analisis Hasil Pendataan. Lokakarya ini menghasilkan peta pendidikan di setiap wilayah kecamatan dan rekomendasi program pendidikan ke depan. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam pendidikan mempunyai kesempatan untuk mengkoreksi data yang diperoleh. Alhasil, salah satu rekomendasi lokakarya adalah tim perlu melakukan validasi dan verifikasi data. Lokakarya ini memperoleh perhatian dari dan dihadiri oleh para pejabat teras Pemerintah Daerah, termasuk Wakil Bupati dan DPRD. Setelah verifikasi dan validasi data selesai dilaksanakan, kemudian tim menganalisis kembali data tersebut. Berdasarkan data yang sudah valid itu tim menyusun kembali rekomendasirekomendasi pengembangan pendidikan.</li>
<li>Untuk memperoleh masukan dari stakeholder pendidikan yang lebih luas, strategi ketiga yang diterapkan Kabupaten adalah mendiseminasikan hasil pengumpulan data, analisis dan rekomendasi melalui lokakarya tingkat kabupaten dimana pesertanya terdiri dari berbagai instansi pemerintah dan non pemerintah yang mewakili masyarakat luas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Banyak koreksi dan masukan yang sangat bermanfaat diperoleh dalam lokakarya tersebut. Hasil analisis data dan rekomendasi yang telah dilokakaryakan itu benar-benar dijadikan dasar dalam penyusunan perencanaan jangka panjang (Rencana Induk Pengembangan Pendidikan). Sebanarnya, UU No. 25/2004 tidak mewajibkan daerah membuat rencana jangka panjang dalam bidang tertentu seperti pendidikan. Dinas Pendidikan sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diwajibkan membuat Rencana Strategis SKPD yang berdurasi 5 tahun dan disesuaikan dengan masa jabatan Bupati dan rencana tahunan, yakni Rencana Kerja SKPD. Namun tidak ada larangan membuat RIPP kalau memang dibutuhkan dan Pemerintah Daerah Kabupaten memang merasa membutuhkannya. Perbedaan antara Renstra Pendidikan dan RIPP terletak pada cakupan dan masa berlakunya. Renstra mencakup program-program yang menjadi tugas, pokok, dan fungsi Dinas Pendidikan, sementara RIPP mencakup seluruh program-program pendidikan termasuk yang berada di luar tupoksi Dinas Pendidikan. Jangka waktu Renstra Pendidikan adalah lima tahun sementara RIPP setidaknya berlaku sepuluh tahun. Karena cakupannya lebih luas dan waktu berlakunya RIPP lebih lama dari pada Renstra Pendidikan, maka RIPP kemudian dijadikan acuan dalam penyusunan Renstra, Renja dan program-program insidental yang datang dari Pemerintah Pusat maupun Provinsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kabupaten mengawali penyusunan RIPP dengan melaksanakan beberapa pertemuan kecil (focus group discussion) dengan berbagai kalangan masyarakat untuk memperoleh masukan tentang apa sebenarnya visi masyarakat Kabupaten dan misi apa yang perlu diemban untuk menggapai visi tersebut. Berdasarkan data yang dapat menggambarkan dengan jelas kondisi pendidikan saat ini dan visi yang merupakan keadaan yang hendak dicapai serta rekomendasi yang menggambarkan kebutuhan masyarakat, maka diperoleh gambaran tentang kesenjangan antara keadaan yang diinginkan dan kondisi saat ini. Dari hasil analisis kesenjangan tersebut timbullah isu-isu strategis bidang pendidikan di Kabupaten yang dapat dimasukkan ke dalam beberapa kelompok, yakni akses masyarakat untuk memperoleh pelayanan pendidikan, mutu pendidikan termasuk jumlah dan mutu guru, sarana dan prasarana pendidikan, serta masalah pengelolaan pendidikan yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel. Melalui analisis kapasitas dan dikaitkan dengan hasil analisis kebijakan pendidikan Pemerintah Pusat dan Propinsi, ternyata tidak semua isu-isu strategis di atas dapat dijadikan program-program strategis. Prioritas memang harus ditujukan kepada program-program strategis yang mempunyai dampak langsung dalam peningkatan pendidikan karena harus disesuaikan dengan kemampuan sumberdaya manusia dan keuangan daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Program-program strategis tersebut kemudian dirinci ke dalam kegiatan-kegiatan dan pembiayaan dari tahun ke tahun, sehingga jelas kapan suatu tujuan program bisa tercapai dan berapa biaya yang dibutuhkan. Dalam upaya memperoleh masukan dan dukungan masyarakat luas, sama halnya dengan lokakarya hasil pendataan dan analisis data maka strategi keempat yang dilakukan Kabupaten adalah mendiseminasikan rancangan RIPP melalui sebuah lokakarya yang dihadiri berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat. <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>c. </strong><strong>Pengstafan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tantangan utama dalam mengelola sumber daya manusia adalah mengelola dengan efektif dan menghilangkan praktek-praktek yang tidak efektif. Dalam kondisi seperti itu pimpinan dituntut selalu mengembangkan cara-cara baru untuk dapat menarik dan mempertahankan para pejabat dan staf berkualitas yang diperlukan instansi agar tetap mampu bersaing.</p>
<p style="text-align:justify;">Manajemen sumber daya manusia adalah bagian dari manajemen secara umum, dan lebih menitikberatkan pembahasannya pada pengaturan peranan manusia dalam mewujudkan tujuan optimal. Pengaturan tersebut meliputi masalah perencanaan, pengorganisasian (perancangan dan penugasan kelompok kerja), penyusunan personalia penarikan, seleksi, pengembangan, pemberian kompensasi dan penilaian prestasi kerja), pengarahan motivasi, kepemimpinan, integrasi, dan pengelolaan konflik) dan pengawasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Handoko (2000), manajemen sumber daya manusia adalah penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan, baik tujuan individu maupun organisasi. Untuk itu manajemen sumber daya manusia perlu dikelola secara profesional dan baik agar dapat terwujudnya keseimbangan antara kebutuhan pegawai dengan tuntutan perkembangan teknologi dan lingkungan serta kemampuan organisasi. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama suatu organisasi agar dapat berkembang secara produktif dan wajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Mondy &amp; Noe (1990) menyebutkan bahwa manajemen sumber daya manusia yaitu merupakan pendayagunaan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu pimpinan dari seluruh tingkatkan terlihat dalam manajemen sumber daya manusia, khususnya dalam era fungsional tertentu, namun mereka bukanlah pimpinan sumber daya manusia. Sedangkan pimpinan sumber daya manusia sesungguhnya bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan seluruh manajemen sumber daya manusia pada seluruh fungsi yang ada sebagai usaha untuk mendukung organisasi dalam mencapai tujuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu tugas utama pimpinan bagian sumber daya manusia adalah meningkatkan kesesuaian antara individu dengan pekerjaan-pekerjaan yang ada. Kualitas kesesuaian ini berpengaruh terhadap kinerja, kepuasan dan perputaran karyawan. Bagian sumber daya manusia yang baik seharusnyapaham cara menggunakan survai sikap dan alat-alat umpan balik yang lain untuk menilai kepuasan karyawan terhadap pekerjaan dan organisasi tempat mereka bekerja. Bagian sumber daya manusia juga seharusnya menggunakan analisis jabatan (job analysis). Analisis jabatan adalah alat untuk mendapatkan informasi deskriptisi pekerjaan dari segi kualitas dan kuantitas. Deskripsi pekerjaan yang terbaru yang didasarkan pada analisis jabatan yang logis, sangatlah penting bagi proses seleksi, penilaian, pelatihan dan pengembangan karyawan yang tepat. Menurut Dessler (1997) tanggungjawab manajemen sumber daya manusia agar efektif pelaksanaannya dilakukan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">a) Menempatkan orang yang benar pada pekerjaan yang tepat</p>
<p style="text-align:justify;">b) Memulai pegawai baru dalam organisasi (orientasi)</p>
<p style="text-align:justify;">c) Melatih pegawai untuk jabatan yang bagi mereka masih baru</p>
<p style="text-align:justify;">d) Meningkatkan kinerja jabatan dari setiap orang</p>
<p style="text-align:justify;">e) Mendapatkan kerja sama kreatif dan mengembangkan hubungan kerja sama yang mulus</p>
<p style="text-align:justify;">f) Menginterpretasikan kebijakan dan prosedur organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">g) Mengendalikan biaya pegawai</p>
<p style="text-align:justify;">h) Mengembangkan kemampuan dari setiap orang</p>
<p style="text-align:justify;">i) Menciptakan dan mempertahankan semangat kerja organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">j) Melindungi kesehatan dan kondisi fisik pegawai.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari manajemen sumber daya manusia adalah menetapkan kebijaksanaan organisasi untuk apat meningkatkan kontribusi atau peranan lain. Manajemen sumber daya manusia berusaha untuk meningkatkan efektivitas perusahaan melalui kebijaksanaan, prosedur dan metode yang digunakan untuk mengelola orang-orang dalam organisasi tersebut. <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>d. </strong><strong>Pengawasan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pengawasan dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan (Robbins 1997). Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen yang diperlukan untuk mengevaluasi kinerja organisasi atau unit-unit dalam suatu organisasi guna menetapkan kemajuan sesuai dengan arah yang dikehendaki (Wagner dan Hollenbeck dalam Mantja 2001).</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu mudah dipahami bahwa pengawasan pendidikan adalah fungsi manajemen pendidikan yang harus diaktualisasikan, seperti halnya fungsi manajemen lainnya (Mantja 2001). Berdasarkan konsep tersebut, maka proses perencanaan yang mendahului kegiatan pengawasan harus dikerjakan terlebih dahulu. Perencanaan yang dimaksudkan mencakup perencanaan: pengorganisasian, wadah, struktur, fungsi dan mekanisme, sehingga perencanaan dan pengawasan memiliki standard dan tujuan yang jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam proses pendidikan, pengawasan atau supervisi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah. Sahertian (2000:19) menegaskan bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru, baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran. Burhanuddin (1990:284) memperjelas hakikat pengawasan pendidikan pada hakikat substansinya. Substansi hakikat pengawasan yang dimaksud menunjuk pada segenap upaya bantuan supervisor kepada stakeholder pendidikan terutama guru yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pembelajaran. Bantuan yang diberikan kepada guru harus berdasarkan penelitian atau pengamatan yang cermat dan penilaian yang objektif serta mendalam dengan acuan perencanan program pembelajaran yang telah dibuat. Proses bantuan yang diorientasikan pada upaya peningkatan kualitas proses dan hasil belajar itu penting, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Jadi bantuan yang diberikan itu harus mampu memperbaiki dan mengembangkan situasi belajar mengajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengawas satuan pendidikan/sekolah adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana teknis untuk melakukan pengawasan pendidikan terhadap sejumlah sekolah tertentu yang ditunjuk/ditetapkan dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar/bimbingan untuk mencapai tujuan pendidikan (Pandong, A. 2003). Dalam satu kabupaten/kota, pengawas sekolah dikoordinasikan dan dipimpin oleh seorang koordinator pengawas (Korwas) sekolah/ satuan pendidikan (Muid, 2003).</p>
<p style="text-align:justify;">Aktivitas pengawas sekolah selanjutnya adalah menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah satuan pendidikan/sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya. Penilaian itu dilakukan untuk penentuan derajat kualitas berdasarkan kriteria (tolak ukur) yang ditetapkan terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dalam bentuk memberikan arahan, saran dan bimbingan (Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 020/U/1998 tanggal 6 Februari 1998).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menyadari pentingnya upaya peningkatan mutu dan efektifitas sekolah dapat (dan memang tepat) dilakukan melalui pengawasan. Atas dasar itu maka kegiatan pengawasan harus difokuskan pada perilaku dan perkembangan siswa sebagai bagian penting dari: kurikulum/mata pelajaran, organisasi sekolah, kualitas belajar mengajar, penilaian/evaluasi, sistem pencatatan, kebutuhan khusus, administrasi dan manajemen, bimbingan dan konseling, peran dan tanggung jawab orang tua dan masyarakat (Law dan Glover 2000). Lebih lanjut Ofsted (2005) menyatakan bahwa fokus pengawasan sekolah meliputi: (1) standard dan prestasi yang diraih siswa, (2) kualitas layanan siswa di sekolah (efektifitas belajar mengajar, kualitas program kegiatan sekolah dalam memenuhi kebutuhan dan minat siswa, kualitas bimbingan siswa), serta (3) kepemimpinan dan manajemen sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas dapat dimaknai bahwa kepengawasan merupakan kegiatan atau tindakan pengawasan dari seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang melakukan pembinaan dan penilaian terhadap orang dan atau lembaga yang dibinanya. Seseorang yang diberi tugas tersebut disebut pengawas atau supervisor. Dalam bidang kependidikan dinamakan pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan. Pengawasan perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berke­sinambung­an pada sekolah yang diawasinya. <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>e. </strong><strong>Pembiayaan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pembiayaan pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kebijakan disektor pendidikan. Isu tentang pembiayaan pendidikan meliputi berbagai aspek, mulai dari bagaimana memobilisir dana untuk pendidikan, bagaimana mendistribusikannya, serta bagaimana mengawasi penggunaannya agar efektif dan efisien. Dari sisi level kebijakan, pembiayaan pendidikan tidak hanya relevan di level pemerintah, tetapi juga di level sekolah. Bagi pemerintah, sangat penting untuk diketahui berapa sebenarnya anggaran yang diperlukan untuk keperluan pendidikan pada umumnya dan khususnya untuk sekolah. Idealnya, angka ini tidak dengan serta-merta diambil dari peraturan perundang-undangan, tetapi diperoleh dari sebuah perhitungan yang valid. Dalam bahasa populer, kita perlu tahu berapa besar sebenarnya “kue” yang diperlukan. Jika sudah diperoleh gambaran tentang berapa besar “kue” yang diperlukan, persoalan berikutnya adalah bagaimana cara membagi “kue” tersebut. Anggaran pendidikan harus dialokasikan secara adil dan berorientasi pada keperluan pembelajaran siswa. Dalam hal pembiayaan pendidikan, daerah-daerah MBE diarahkan untuk dapat menerapkan berbagai hal tersebut di atas. Daerah diajak untuk menghitung berapa biaya yang diperlukan untuk melayani siswa di sekolah. Daerah juga didorong untuk mengalokasikan anggaran pendidikannya secara transparan dan adil. Yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan sebuah sistem yang menjamin penggunaan dana pendidikan secara akuntabel di tingkat sekolah. <strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>3. </em></strong><strong><em>Sumbangan Yang Diberikan Sumber Daya Manusia Dalam Peningkatan Produktivitas Pendidikan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber daya manusia yang memiliki arti penting dalam mewujudkan kegiatan yang ada. Menurut Nawawi (2001) ada tiga pengertian sumber daya manusia yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">a)    Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan).</p>
<p style="text-align:justify;">b)   Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.</p>
<p style="text-align:justify;">c)    Sumber daya manusia adalah potensi yang merupakan aset dan berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) di dalam organisasi bisnis, yang dapat mewujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non-fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia adalah suatu proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja secara manusiawi, agar potensi fisik dan psikis yang dimilikinya berfungsi maksimal bagi pencapaian tujuan organisasi (lembaga).</p>
<p style="text-align:justify;">Disamping itu, manusia adalah makhluk Tuhan yang kompleks dan unik serta diciptakan dalam integrasi dua substansi yang tidak berdiri sendiri yaitu tubuh ( fisik / jasmani) sebagai unsur materi, dan jiwa yang bersifat non materi. Hubungan kerja yang paling intensif dilingkungan organisasi adalah antara pemimpin dengan para pekerja (staf) yang ada di bawahnya. Hubungan kerja semakin penting artinya dalam usaha organisasi mewujudkan eksistensinya dilingkungan tugas yang lebih luas dan kompetetif pada masa yang akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber daya manusia memiliki keinginan, harga diri, pikiran, hak asasi, ingin dihormati dan lain-lain. Oleh karena itu sumber daya manusia harus diperlakukan sama secara hati-hati dan penuh kearifan. Sebagai contoh pengelolaan sumber daya manusia pada kegiatan pelayanan di Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, mengingat wajib pajak dan wajib retribusi memainkan peran penting dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Maka untuk menempatkan Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam posisi yang memiliki kinerja yang baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, mutlak diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai sifat profesionalisme dan memiliki produktivitas kerja yang tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber daya manusia adalah ujung tombak pelayanan, sangat diandalkan untuk memenuhi standar mutu yang diinginkan oleh wajib pajak dan wajib retribusi. Untuk mencapai standar mutu tersebut, maka harus diciptakan situasi yang mendukung pelayanan yang memuaskan wajib pajak dan wajib retribusi.</p>
<p style="text-align:justify;">Upaya-upaya manusia itu bukan sesuatu yang statis, tetapi terus berkembang dan berubah, seirama dengan dinamika kehidupan manusia, yang berlangsung dalam kebersamaan sebagai suatu masyarakat. Oleh karena itu salah satu situasi yang mendukung adalah seluruh peraturan pengelolaan sumber daya manusia yang berdampak pada perlakuan yang sama kepada pegawai.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya kebutuhan umum yang dituntut oleh manusia terdiri dari dua macam, yaitu kebutuhan material dan kebutuhan spritual. Pembagian kebutuhan seperti ini terlalu umum untuk dijadikan pedoman dalam memotivasi bawahan. Oleh karena itu, Maslow (dalam Siagian, 1981) menyebutkan 5 tingkatan kebutuhan manusia, yang secara umum dapat dijelaskan sebagi berikut :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), yang termasuk dalam kebutuhan ini, misalnya sandang, pangan, papan, dan tempat berlindung. Kebutuhan ini termasuk kebutuhan primer dan mendesak sifatnya. Untuk itu seorang pimpinan yang ingin insruksi dan perintahnya dilaksanakan hendaknya dapat memenuhi kebutuhan tersebut.</li>
<li>Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), yang termasuk dalam kebutuhan ini, misalnya kebutuhan akan keamanan jiwa terutama dalam jam-jam kerja. Kebutuhan akan keamanan kantor ditempat kerja, termasuk jaminan hari tua.</li>
<li>Kebutuhan social (social Needs), yang termasuk pada tingkatan kebutuhan ini, misalnya kebutuhan untuk dihormati, kebutuhan untuk bisa diterima dilingkungan kerja, keinginan untuk maju dan tidak ingin gagal, kebutuhan akan perasaan untuk turut serta memajukan organisasi.</li>
<li>Kebutuhan Prestise (Esteem Needs). Pada umumnya pegawai akan mempunyai prestise setelah mempunyai prestasi. Dengan demikian prestasi pegawai perlu diperhatikan oleh pimpinan organisasi. Biasanya, pegawai yang telah mempunyai prestasi yang lebih tinggi akan terus berupaya untuk meningkatkan prestasinya secara maksimal.</li>
<li>Kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja (Self Actualization). Setiap karyawan pasti ingin mengembangkan kapasitas kerjanya secara optimal, misalnya melalui pendidikan latihan, seminar, dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan untuk mengembangkan kapasitas kerja tersebut perlu mendapatkan perhatian pimpinan.<strong><em><br />
</em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>4. </em></strong><strong><em>Peran Yang Harus Dilaksanakan Manajer Pendidikan Pada tingkat Mikro, Meso, Makro</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Manajer institusi pendidikan atau organisasi-organisasi pembelajaran pada umumnya yang tampil sebagai wirausahawan adalah dambaan manajer masa kini, ketika sumber keuangan makin terbatas. Dibawah  kepemimpinannya, lembaga pendidikan akan terdorong untuk membangun perubahan kultur (Culture Change) , dimana seluruh tenaga akademis dan karyawan dirangsang untuk menjadi entrepeneur sejati. Menurut Brown (dalam Danim: 2003) inisiatif itu akan dapat dicapai jika mereka mampu menggeser kultur kerja dari sikap dan sifat organisasi yang peternalistik ke organisasi kontraktual (Culture shift that has arisan from moving from a paternalistic to contractual organization). Kemampuan membangun jaringan kerja sama dengan dunia industri harus menjadi kesadaran riil.</p>
<p style="text-align:justify;">Dibawah manajer atau pimpinan pendidikan yang berwirausaha, dalam makna untuk kepentingan lembaga yang mengulturkan tradisi wirausaha. Kemampuan itu akan berdampak pada pembentukan identitas guru, guru dan manajer pendidikan ke arah kerja kontraktualisme baru, sejalan dengan kuatnya spirit pembelajaran berbasis industri dan perdagangan. Mereka yang memiliki sikap dan sifat kewirausahaan akan lebih banyak menggiring stafnya kearah penetapan standar keberhasilan, tidak berkutat dengan cara-cara kerja mencapai standar itu adalah menjadi bagian integral dari prilaku tenaga akademis. Banyak cara untuk mencapai tujuan tunggal/sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada lembaga pendidikan yang banyak menggantungkan diri dari alokasi anggaran oleh pemerintah, isu-isu resmi yang berkaitan dengan penganggaran diposisikan sebagai isu-isu apakah organisasi itu akan bertahan atau tidak, atau sebaliknya. Isu-isu yang berkaitan dengan penurunan anggaran pemerintah dibidang pendidikan dinilai sebagai ancaman. Sebaliknya isu-isu  mengenai kenaikan anggaran dikaitkan dengan banyak hal, seperti kenaikan gaji, penambahan peralatan, pembangunan gedung baru, proyek penelitian baru dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada lembaga pendidikan swasta atau lembaga pendidikan negeri yang telah berhasil berwirausaha atau menetapkan standar biaya yang mahal, isu-isu semacam itu tidak secara signifikan dipandang sebagai gelombang ancaman atau harapan. Manajer pendidikan atau manajer organiasasi pembelajaran pada umumnya yang mengelola lembaganya selayaknya sebuah badan usaha, meski tidak selalu berarti komersial selayaknya organisasi bisnis, mampu membangun kebiasaan bertindak (habits of action) dengan mengekpresikan “kualitas perusahaan sebagai bagian dari kepedualinnya”, apakah sebagai individu atau kolektivitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Istilah enterprise merujuk pada ciri-ciri perilaku antara lain:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Memiliki inisiatif atau prakarsa yang tinggi.</li>
<li>Berani mengambil resiko, setidaknya pada skala moderat.</li>
<li>Mengedepankan harga dan aktualisasi diri.</li>
<li>Bertanggung jawab atas tindakan pribadi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Hubungan kontraktual antara lembaga pendidikan (terutama sekolahyang sudah mapan) dengan pemerintah, dunia usaha, atau agensi kerap dilakukan. Bagi sekolahyang sudah mapan, hubungan kontrak sudah menjadi kontraktualisme itu bisa dalam skema pemerintah (semisal hubungan antara universitas dengan lembaga penyandang dana di luar negeri), yang kucuran dananya disalurkan dalam skema kerja sama bilateral atau multilateral. Bisa juga dalam skema hubungan intern antar lembaga, tanpa dipandu oleh regulasi pemerintah, misalnya dalam kerangka hubungan kontrak antara sekolahdengan perusahaan tertentu. Nilai rupiah yang diperoleh melalui kontrak itu digunakan bagi kemaslahatan masing-masing pihak atau mungkin hanya sepihak. Disinilah esensi reformasi manajerial sekolahyang bermuara pada terbangunnya kultur wirausaha sebagai instrumen lembaga untuk menuju kemandirian. Pengalaman ini selayaknya dicontoh oleh sekolah dan lembaga atau balai latihan untuk memekarkan fungsi dan merangsang kemandirinnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Inisiatif memacu kewirausahaan lembaga pendidikan atau organisasi pembelajaran tidak boleh melebihi tujuan utamanya, seperti efisiensi, efektivitas, peningkatan mutu pembelajaran dan sentuhan pedagogis, membangun kultur profesional dan institusional, menata relasi-relasi sosial secara gender, dan kultur manajemen. Kultur manajemen menekankan pada keterampilan, efisiensi, koresponsifan menangkap fenomena pasar, dan mereduksi sedemikian rupa pembemkakkan struktur yang berimplikasi pada pembiayaan dalam jumlah bedar. Pada tingkat manajerial, kultur manajemen itu tercermin dari kondusivitas fungsi organisasi (seperti perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan) dan menajemen operatif (seperti kepegawaian, keuangan, akademis, sarana dan prasarana dan kehumasan). Kultur manajemen itu perlu ditunjang oleh kepemimpinan edukasional yang visioner, berpandangan jauh ke depan dengan tidak melupakan realitas lembaganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dinamika perkembangan pada multisektor kehidupan, terutama sektor ekonomi politik, serta ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan penetrasi kuat pada kinerja manajerial di institusi pendidikan. Manajer pendidikan atau pimpinan organisasi pembelajaran yang kehilangan identitas profesionalisme dan progresvisme di tengah penetrasi  itu adalah mereka yang secara tidak sadar akan menenggelamkan lembaganya. Manajer pendidikan atau pimpinan organisasi pembelajaran dan stafnya akan terperangah menjadi penonton ketika kemajuan pada multisektor kehidupan itu melaju laksana gelombang pasang yangdasyat menghantam lembaga pendidikan atau organisasi pembelajaran yang berdiam diri laksana rongsokan kapal nelayan. Bukan manajer pendidikan yang kuat dengan “bertarung sendiri” yang dikehendaki melainkan mereka yang mampu membangun kolektivitas dan solidaritas berbasis aktivitas staf yang tergabung dalam unit-unit kerja (Collectivity and sense solidarity based on staff union activitas), dimana aktivitas-aktivitas itu kebanyakan muncul jika dirangsang oleh manajemen eksekutif. Sementara pada tataran “eselon rendah” dari organiasai, terutama pada tingkat praktik-praktik di ruang belajar dimana material bahan ajar dan nilai pedagogis ditranformasikan secara terus menerus bersirkulasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada level ini geliatnya banyak dipandu oleh guru tenaga kependidikan dan tenaga pengembang lainnya, yang komitmenya akan terbangun manakala kultur manajemen institusi kondusif untuk itu. Muncullah tuntutan untuk melakukan reformasi manajemen bagi terciptanya perubahan organiasasi pembelajaran, fleksibilitas pekerjaan, sikap kewirausahaan, kompetisi dan kesiapan untuk menghadapi peilihan-pilihan pengguna jasa pendidikan. Disebut “pilihan-pilihan” di sini untuk menggambarkan bahwa  pengguna jasa pendidikan (education stakeholders) akan selektif memilih jenis lembaga pendidikan yang akan dimasukinya. Hanya lembaga pendidikan yang memiliki keunggulan difrensiatiflah yang akan dimasukinya. Hanya lembaga pendidikan yang memiliki keunggulan difrensiatiflah yang akan menjadi pilihan utama mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditinjau dari bentuk keorganisasian manajemen sistem pendidikan sebagaimana dipaparkan di muka, maka ruang lingkup substansi manajemen pendidikan dapat dibagi pula ke dalam tingkat-tingkat seperti: tingkat makro, meso dan tingkat mikro. Dengan istilah yang lebih populer, manajemen makro adalah pada tingkat pusat (nasional), manajemen meso adalah pada tingkat propinsi, sedangkan manajemen mikro adalah manajemen pada tingkat kabupaten atau kelembagaan. Demarkasi dari pembagian tersebut sebenarnya lebih bersifat konstektual daripada bersifat konseptual dan teknikal (Soenarya,</p>
<p style="text-align:justify;">1988:1-2) <strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>5. </em></strong><strong><em>Kerangka Kerja Bidang Pendidikan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penjaminan mutu pendidikansangat penting agar lulusan pendidikan dapat menyelesaikan permasalahan individu dan bangsa. Untuk menyelenggarakan pendidikan diperlukan (1) tujuan yang jelas, (2) rencana mutu keluaran dan perkiraan <em>outcomes</em>, (3) proses pendidikan, (4) <em>input </em>(5) sumberdaya, dan (6) prasarana dan sarana. Ini ditekankan pada penjaminan mutu prasarana dan sarana dalam proses pendidikan. Pokok pikiran pengelolaan prasarana dan sarana dalam proses pendidikan dapat memberi inspirasi juga dalam konteks pengabdian kepada masyarakat yang merupakan komponen pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Istilah mutu berkelanjutan (MB) atau <em>sustainable quality </em>(<em>SQ</em>) dikenal untuk makin<em> </em>melekatkan makna bagi pembaca bahwa mutu harus<em> </em>ditingkatkan terus. Sesuatu yang saat ini telah masuk<em> </em>dalam kategori mutu tinggi, apabila tidak ditingkatkan<em> </em>dapat ketinggalan dalam 5 tahun yang akan datang.<em> </em>Dengan kesadaran MB diharapkan pelaku pendidikan akan memiliki hasrat besar dan kebangggaan<em> </em>melakukan penjaminan mutu, karena hal itu merupakan<em> </em>kontribusi bagi solusi masa depan <em> </em>bangsa.<em> </em>Membatasi cakupan tentang Sistem Penjaminan<em> </em>Mutu Berkelanjutan Prasarana dan Sarana (SPMB-PS),<em> </em>sehingga hal-hal penting dalam SPMB-PS perlu<em> </em>ditentukan. Sebaiknya, pemahaman tentang SPMB perlu<em> </em>dihayati secara utuh terlebih dahulu, sebelum memikirkan<em> </em>dan merumuskan aspek-aspek spesifik prasarana dan<em> </em>sarana.<em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Prasarana dan sarana adalah salah satu bagian <em>input, </em>sedangkan <em>input </em>merupakan salah satu subsistem dari<em> </em>Sistem Penjaminan Mutu Berkelanjutan (SPMB). Sistem<em> </em>Penjaminan Mutu Berkelanjutan Prasarana dan Sarana<em> </em>(SPMB-PS) perlu dilakukan oleh sekolah baik oleh sekolah yang masih berkapasitas<em> </em>rendah maupun sekolah yang telah siap bersaing<em> </em>pada tataran dunia. Oleh karena itu diperlukan cara<em> </em>pengaturan prasarana dan sarana untuk masing-masing<em> </em>kondisi.<em> </em>Prasarana dan sarana merupakan bagian penting yang<em> </em>perlu dipersiapkan secara cermat dan berkesinambungan<em> </em>dalam SPMB, sehingga dapat dijamin selalu terjadi<em> continuous improvement</em>.<em> </em>Prasarana dan sarana yang diperlukan dalam SPMB<em> </em>sangat tergantung pada kebutuhan sekolahyang<em> </em>bersangkutan. Oleh karena itu uraian ini dimaksudkan<em> </em>untuk memberikan inspirasi kepada penyelenggara<em> </em>sekolah, bahwa kebijakan terhadap prasarana dan<em> </em>sarana merupakan <em>open ended solution</em>. Artinya,<em> </em>prasarana dan sarana yang diperlukan tergantung situasi<em> </em>dan kondisi tertentu, tetapi penyelenggara sekolahwajib melakukan yang terbaik dalam keterbatasan<em> </em>yang ada. Dengan segala keterbatasan yang ada tersebut<em> </em>perlu ditentukan tindakan terbaik saat ini dan rencana<em> </em>pengembangan ke depan dengan prinsip SPMB.<em> </em>Tindakan terbaik saat ini dan perencanaan di masa yang<em> </em>akan datang dalam penetapan SPMB-PS, tidak boleh<em> </em>ditetapkan tanpa dasar tetapi perlu ditetapkan dan<em> </em>direncanakan secara cermat.<em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Diharapkan<em> </em>dapat timbul inspirasi yang dapat diasosiasikan dengan<em> </em>situasi dan kondisi di tempat masing-masing. Situasi dan<em> </em>kondisi di tempat masing-masing apabila dianalisis dapat<em> </em>menunjukkan kekuatan, keterbatasan, peluang, dan<em> </em>tantangan pengembangan pengelolaan prasarana dan<em> </em>sarana pada saat ini, dan inovasi untuk jangka pendek<em> </em>dan jangka panjang.<em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Mengasosiasikan dengan situasi dan kondisi di sekolah masing-masing, diharapkan dapat menginspirasi perencanaan kegiatan lain, di antaranya adalah pekerjaan laboratorium, lapangan, dan berbagai jenis kegiatan akademis. Untuk selanjutnya dapat melakukan tindakan yang lebih spesifik dan lebih optimal, sesuai dengan keadaan setempat (<em>local</em> <em>optimization</em>) untuk saat ini dan waktu yang akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kontinum belajar dengan sarana teknologi informasi, yang terdistribusi dari <em>No e-learning</em> sampai dengan <em>Fully e-learning</em>. Masing-masing sekolah dapat merencanaka dan merealisasikan sebagian atau secara keseluruhan kontinum tersebut, sesuai situasi dan kondisi di tempat masing-masing dan tetap dapat memberi kontribusi optimalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem Penjaminan Mutu Berkelanjutan Prasarana dan Sarana (SPMB-PS) penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat direncanakan dan dikembangkan dengan pemikiran analog dengan SPMB-PS pendidikan. Pokok pikiran yang menjiwai uraian di atas adalah pentingnya membuat evaluasi diri tentang keadaan dan keterbatasan yang ada, serta memahami perkembangan di dunia. Evaluasi diri akan memberikan informasi tentang posisi suatu sekolah pada saat ini (<em>base line</em> <em>position). </em>Adapun pemahaman terhadap perkembangan di dunia akan menghasilkan wawasan yang luas.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hal tersebut selanjutnya dapat ditentukan arah kebijakan dalam memposisikan diri secara optimal, seiring dengan perjalanan waktu. Istilah yang sesuai untuk menyatakan situasi ini adalah, ”perluas wawasan dan ambil tindakan optimal sesuai kondisi lokal” (<em>Scan</em> <em>globally, reinvent locally)</em>. <em>Information Technology </em>(IT) adalah perangkat baru, bila dipergunakan dalam pembelajaran akan dapat banyak membantu, tetapi penggunaan IT dalam proses pembelajaran tidak dapat mengambil alih seluruh peran guru.Teknologi informasi dapat mengambil alih sebagian besar aspek pendidikan, namun ada peran guru yang tidak tergantikan, yaitu:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Memberi arah pada mahasiswa</li>
<li>Memupuk pertumbuhan nilai-nilai (<em>values</em>) dan karakter</li>
<li>Mengevaluasi kemajuan pembelajaran</li>
<li>Memberi bimbingan tentang arti hidup</li>
<li>Mengembangkan kreativitas dan potensi mahasiswa.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pemahaman dan pengembangan SPMB-PS, serta keterbatasan ketersediaan IT dapat diikuti melalui uraian sebagai berikut ini. Setelah memahami uraian di depan diharapkan dapat disusun suatu peta pemikiran, untuk menggambarkan manajemen pembelajaran secara lengkap. Dalam manajemen pembelajaran secara lengkap itu, terlihat bahwa prasarana dan sarana memiliki posisi unik dalam peta pikiran manajemen pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, dapat ditentukan dan dipilih secara <em>decisive </em>dan<em>confidence, </em>kelengkapanprasarana dan sarana yang dianggap terbaik. Untuk menentukan prasarana-sarana yang terbaik, perlu dibicarakan bersama pihak-pihak terkait, dengan mengakomodasikan peta pemikiran yang telah dimiliki, sehingga dihasilkan optimalisasi pemanfaatan prasarana dan sarana yang ada, serta kemungkinan penambahan prasarana dan sarana yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya prasarana-sarana yang dimiliki oleh Sekolah di Indonesia selalu mengandung <em>gap</em> antara idealisme dan kenyataan. Hal ini tidak perlu dicemaskan. Cara yang dirasa dapat mengatasi kondisi ini adalah teknik optimasi secara terus menerus (<em>continuous improvement)</em>. Peta pikiran yang telah dimiliki merupakan modal berharga sebagai dasar dalam diskusi untuk mendapatkan hal yang optimal dalam keterbatasan yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan ilustrasi tersebut diharapkan pengelola sekolahtergugah dan memiliki rasa percaya diri untuk merumuskan dan melakukan tindakan nyata SPMB-PS di tempat masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Mekanisme Penetapan Standar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti dikemukakan dalam buku Pedoman Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, standar ditetapkan dengan meramu visi program studi dan kebutuhan <em>stakeholders</em>. Dengan memperhatikan hal tersebut, penetapan standar prasarana dan sarana (PS) suatu sekolah perlu memperhatikan dukungan PS terhadap pelaksanaan Misi sekolah. Pengabdian kepada masyarakat dapat dikembangkan dengan pemikiran yang analog dengan standar PS pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh praktek baik dapat dikemukakan beberapa jenis standar1 dalam butir mutu Prasarana dan sarana, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Standar PS bangunan serta kesehatan lingkungan</li>
<li>Standar PS fasilitas pembelajaran</li>
<li>Standar PS sumber belajar (<em>learning resources</em>)</li>
<li>Standar pengadaan, pengoperasian, perawatan, dan perbaikan alat</li>
<li>Standar prasarana umum berupa air, listrik, dan telefon.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Standar PS bangunan serta kesehatan lingkungan, mencakup infrastruktur sekolah , harus memenuhi persyaratan teknis dan peraturan bangunan, serta kesehatan lingkungan yang berlaku untuk daerah tersebut, dan dengan memperhatikan pertumbuhan</p>
<p style="text-align:justify;">akademik. Standar PS fasilitas pembelajaran mencakup ruang kelas lengkap dengan sarana dan cukup untuk melaksanakan kurikulum. Standar PS laboratorium mencakup peralatan laboratorium, sesuai dengan jenis laboratorium masing-masing program studi. Dalam praktek baik, jumlah butir standar dalam setiap jenis standar ditetapkan oleh program studi, sesuai dengan visi, kebutuhan stakeholders, serta urgensi dan kemampuan program studi yang bersangkutan Standar PS sumber belajar (<em>learning resources</em>) antara lain terdiri atas peralatan, bahan, dan teknologi informasi. Sumber belajar utama terdiri atas buku-buku teks, jurnal, majalah, lembar informasi, internet dan intranet, CDROM, dan citra satelit. Sumber belajar harus diseleksi, dipilah, dan disinkronkan dengan tujuan pembelajaran. Standar pengadaan, pengoperasian, perawatan, dan perbaikan alat sangat diperlukan agar peralatan dapat dioperasikan dengan baik untuk itu diperlukan perawatan</p>
<p style="text-align:justify;">dan apabila terjadi kerusakan dapat diperbaiki dengan cepat sehingga mengurangi waktu mati (<em>down time</em>) peralatan tersebut. Standar prasarana-sarana umum berupa air, listrik, dan telefon merupakan bagian penting dalam kegiatan sekolah , karena itu perlu dikelola dengan baik. Untuk itu diperlukan tatakelola yang jelas dan pasti sehingga penyediaan prasaran-sarana umum terselenggara secara baik dengan keandalan tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Proses penyusunan standar PS tidaklah berdiri sendiri, tetapi dilaksanakan bersama-sama dengan penyusunan standar akademik secara keseluruhan dan lengkap. Hanya saja tiap sekolahdapat menentukan butir mutu yang akan diprioritaskan untuk dilaksanakan. Penyusunan Standar dilakukan oleh suatu tim <em>ad hoc</em> yang diangkat oleh pimpinan sekolah . Tim terdiri atas wakil-wakil tingkat sekolah. Tim seperti ini terkadang dirasa terlalu besar, sehingga dapat menurunkan efisiensi kerja dan menyebabkan perlu waktu lama untuk menghasilkan standar. Untuk menghindari tim yang terlalu besar, maka anggota tim tidak diambil dari semua jurusan , tetapi diambil dari wakil <em>cluster </em>atau kelompok bidang ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pembuatan standar PS perlu dipertimbangkan standar PS untuk gedung. Standar PS gedung harus memenuhi persyaratan teknis dan peraturan bangunan, serta kesehatan lingkungan yang ditentukan oleh sekolahdan departemen teknis terkait. Perlu juga diperhatikan keamanan dan kenyamanan mahasiswa di dalam ruang kuliah, di perpustakaan, dan di laboratorium. Dalam penyusunan standar panitia meminta masukan</p>
<p style="text-align:justify;">dari lembaga, laboratorium, dan unit akademik lain di lingkungan sekolah .</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu dikemukakan bahwa penyusunan standar tidak sama dengan penyusunan daftar pengadaan barang. Penyusunan standar tidak menghasilkan daftar yang sangat rinci, tetapi berupa patokan. Yang harus diperhatikan dalam penyusunan standar PS adalah agar</p>
<p style="text-align:justify;">PS dapat digunakan secara optimal dan harus dirawat dengan baik, sehingga PS dapat dipakai secara efektif dengan selalu memperhatikan keamanan penggunanya. <em>Draft </em>standar PS yang telah disusun oleh panitia <em>ad hoc</em> sekolah dapat dikirim ke fakultas-fakultas untuk dikajiulang, dikoreksi, dan disempurnakan. Hasil kajiulang ini dipakai oleh panitia untuk menyusun draft akhir standar akademik. Draft akhir dikirim ke eksekutif yang akan mempelajari dan menyempurnakannya lagi, sebelum dikirim untuk dibahas di sekolah untuk diolah dan disahkan menjadi standar akademik sekolah .</p>
<p style="text-align:justify;">Standar akademik sekolah ini dapat terdiri atas semua butir mutu seperti dalam Buku Pedoman Penjaminan Mutu yang diterbitkan oleh Ditjen. Dikti, atau kurang dari itu sesuai dengan prioritas yang ditentukan oleh sekolah . Demikian pula standar yang ditentukan untuk setiap butir mutu, termasuk standar prasarana dan sarana, dapat berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Mekanisme Pemenuhan Standar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam usaha pemenuhan standar PS yang telah ditetapkan, langkah pertama adalah sosialisasi standar PS pada seluruh sivitas akademika, terutama pihak sekolah  yang berkaitan dengan prasarana dan sarana. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan oleh sekolah bekerjasama dengan organisasi penjaminan mutu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.1. Pemenuhan Standar PS Bangunan Serta Kesehatan Lingkungan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Infrastruktur sekolah harus memenuhi persyaratan teknis dan peraturan bangunan, serta kesehatan lingkungan yang berlaku untuk daerah tersebut. Pengembangan infrastruktur fasilitas harus dituangkan dalam rencana induk (<em>master plan</em>), yang meliputi gedung dan laboratorium. Infrastuktur harus direncanakan secara sistematis, selaras dengan pertumbuhan kegiatan akademis. Dalam arti yang lebih luas prasarana dan sarana mencakup semua aset sekolah sepert lahan, gedung, air, listrik, telefon, yang semuanya sudah dimiliki oleh sekolah .</p>
<p style="text-align:justify;">Yang penting mengenai aset ini adalah perlunya Praktek Baik dalam mengelola aset tersebut, agar dapat optimum dalam mendukung pelaksanaan proses pembelajaran. Praktek baik ini meliputi:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Inventarisasi lahan;</li>
<li>Inventarisasi gedung beserta semua ruang dan</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">kegunaan ruang (kelas, laboratorium, administrasi dll.) Penting untuk pengembangan mutu dan efisiensi sekolah adalah bila dibuat “Sistem Informasi Lahan dan Bangunan” (SILB). Format sistem informasi ini dapat didasarkan pada keterkaitan lahan dan bangunan dengan unsur lokasi atau unsur yang menunjukkan letak objek terhadap suatu referensi spasial tertentu. Sistem informasi lahan dan bangunan dapat dikembangkan dengan pendekatan <em>Geographic</em> <em>Information System (GIS), </em>sehingga data lahan dan bangunan dikelola dalam basis data spasial dan basis data atribut. SILB biasanya memuat data seperti data dasar lahan yang berisi informasi tentang data yuridis/legal, data penggunaan lahan, data bangunan (kondisi fisik dan penggunaan), data ruang (kegunaan dan frekuensi penggunaannya,dll). Sekolah pada umumnya telah mempunyai data ini, sehingga cukup membuat kodifikasi dan memasukkan dalam SILB. Sistem Informasi ini penting dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan oleh eksekutif dalam pengembangan sekolah .</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.2. Pemenuhan Standar PS fasilitas pembelajaran</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekolah harus memiliki standar fasilitas pembelajaran, antara lain ruang kelas dan laboratorium harus dilengkapi dengan peralatan yang cukup untuk melaksanakan kurikulum, termasuk bahan dan teknologi informasi yang memadai. Perlu disediakan papan tulis, <em>white board, overhead projector </em>dan pengeras suara. Peralatan teknologi pendidikan yang <em>up to date </em>dan terdistribusi secara efektif<em>, </em>sehingga mudah diakses oleh pengguna.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.3. Pemenuhan Standar PS Sumber Belajar (<em>Learning Resources</em>)<em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber belajar mencakup buku teks, brosur, majalah, jurnal ilmiah, poster, lembar informasi, internet, intranet, CD-ROM, peta, foto udara, citra satelit dll. Sumber belajar harus terseleksi dan sinkron dengan tujuan pembelajaran. Perpustakaan digital harus diadakan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Perpustakaan harus mempunyai rekaman elektronik tentang penelitian dan materi acuan dalam bentuk basis data <em>full- text </em>dalam CD-ROM. Teknologi informasi harus diadakan/terpasang dan dimutakhirkan sesuai perkembangan teknologi sehingga mendukung <em>e-learning</em>. Pusat komputer sekolah harus menyediakan layanan komputer yang aksesibel, dengan jaringan infrastruktur yang memungkinkan masyarakat kampus memanfaatkan secara penuh teknologi informasi, untuk kegiatan pembelajaran, penelitian, pengabdian, dan administrasi.  Perpustakaan harus dilengkapi dengan fasilitas ruang baca yang memadai dan fasilitas peminjaman buku dan jurnal sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika. Perpustakaan harus membuka layanan baca dan pinjam sekurang kurangnya 10 jam per hari. Perlu juga fasilitas peminjaman antar perpustakaan atau minimal komunikasi katalog buku dan jurnal antar perpustakaan dari beberapa sekolah . Sekolahperlu mengembangkan perpustakaan digital sesuai dengan kemajuan teknolgi informasi dan komunikasi. Pengelola perpustakaan harus mengusahakan data elektronis dari penelitian, dan bahan referensi dalam bentuk <em>full-text data bases</em> dalam CD-ROM.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.4 Pemenuhan Standar Pengadaan, Pengoperasian, Perawatan, dan Perbaikan Alat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekolah memperoleh alat dengan jalan (1) membeli/pengadaan sendiri, (2) hibah yang diperoleh dari dalam negeri, misalnya perusahaan yang menyerahkan peralatan pendidikan atau computer kepada sekolah , (3) mengikuti proyek Ditjen. Dikti, misalnya pada masa yang telah lalu proyek <em>Asian</em> <em>Development Bank</em>, Proyek Bank Dunia atau proyek bilateral.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan kini dimungkinkan dapat diperoleh dari Proyek Hibah Kompetisi. Pengadaan alat yang dimaksud adalah alat untuk proses belajar mengajar dan praktikum di laboratorium. Peralatan untuk proses pembelajaran termasuk alat-alat yang ditentukan dalam standar akademik sekolah , yaitu peralatan dasar seperti papan tulis, <em>white board, overhead</em> <em>projector, </em>pengeras suara, sampai peralatan teknologi pendidikan mutakhir, seperti <em>viewer </em>dan computer dalam kelas yang dapat dipakai untuk mengakses internet. Makin banyak ruang kelas yang mempergunakan peralatan canggih ini relatif makin baik</p>
<p style="text-align:justify;">kualitas proses pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal penting yang perlu diperhatikan dalam praktek baik pengoperasian alat adalah peningkatan pemanfaatan alat laboratorium. Pembudayaan pengoperasian dan pengelolaan alat laboratorium merupakan proses yang terus menerus. Setiap kesempatan atau bila tersedia biaya, perlu diadakan penataran teknisi laboratorium. Penataran dilaksanakan sehubungan dengan pengelolaan laboratorium, keamanan pekerjaan laboratorium, perawatan atau kebersihan laboratorium, dan perawatan terencana (<em>planned maintenance</em>). Banyak manfaat yang diperoleh bila pelatihan dilaksanakan secara periodik, sehingga kualitas teknisi dalam mengelola alat dapat terus meningkat. Teknisi laboratorium perlu juga dilatih dalam inventarisasi peralatan, sehingga dapat mengetahui system inventarisasi dan dapat mengoperasikan perangkat lunak inventarisasi. Unit pelaksana akademik (UPA)</p>
<p style="text-align:justify;">perlu mengimplementasikan komputerisasi peralatan laboratorium sehingga pengelolaan laboratorium dapat terlaksana secara efisien. Untuk meningkatkan pemakaian peralatan laboratorium maka perlu peningkatan ketrampilan (<em>skill</em>) pekerja laboratorium, juga perlu peningkatan kesejahteraan pekerja dengan insentif yang cukup dan pengembangan karir yang menarik dan jelas. Perawatan alat dimaksudkan untuk mencegah atau menunda kerusakan alat. Praktek baik dalam perawatan alat adalah disusunnya sistem perawatan alat untuk peralatan yang dipakai dalam proses pembelajaran dan peralatan yang dipakai untuk pelatihan. Manfaat dari sistem perawatan alat adalah sebagai berikut, peralatan senantiasa dapat digunakan bila diperlukan (<em>equipment availability</em>), masa pemakaian alat bertambah sehingga merupakan penghematan karena mengurangi anggaran untuk perbaikan maupun pembelian alat baru yang merupakan investasi yang besar. Praktek baik dalam perawatan dan perbaikan alat pada umumnya adalah:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dibentuk organisasi pada tingkat sekolah , jurusan yang bertanggung jawab atas perawatan dan perbaikan alat.</li>
<li>Disusun tatalaksana (<em>standard operating procedure</em>, manual prosedur) perawatan dan perbaikan alat.</li>
<li>Dalam rencana kegiatan dan anggaran tahunan (RKAT) dianggarkan dana untuk perawatan dan perbaikan alat.</li>
<li>Ketrampilan teknisi laboratorium ditingkatkan dengan pelatihan dalam merawat dan memperbaiki alat.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.5. Pemenuhan Standar Prasarana Umum Berupa Air, Listrik, dan Telefon</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sarana prasarana air, listrik, dan telefon merupakan bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan sekolah. Oleh karena itu perlu dikelola dengan baik dan tersedia tatakelola yang jelas dan pasti, sehingga beban yang harus dibayar untuk pemakaiannya tersebar secara merata sesuai dengan frekuensi pemakaian setiap Unit Pelaksana Akademik (UPA). Dengan tatakelola yang baik, maka keandalan sistem distribusi air dan listrik, serta kontinuitas layanan telefon dapat diharapkan oleh seluruh pengguna di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Praktek baik perawatan dan pengembangan jaringan listrik, telefon, dan distribusi air sesuai kebutuhan pengguna di sekolah. Kebutuhan harus sudah diantisipasi dan pengelolaannya dilaksanakan oleh unit-unit di sekolahyang bertanggung jawab dalam:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pengelolaan dan pengembangan telepon;</li>
<li>Pengelolaan dan pengembangan jaringan listrik dan pengelolaan air bersih.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.4. Manajemen Pengendalian Standar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Manajemen pengendalian standar pada dasarnya diarahkan untuk mengoptimalkan berlangsungnya proses peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Dalam hal ini perlu diatur satu siklus SPMB-PS, dengan keyakinan terjadinya peningkatan pada setiap tahun (rentang waktu tertentu) dapat dijamin. Betapapun kecilnya peningkatan apabila selalu ada pada setiap tahun (rentang waktu tertentu), SPMB-PS akan berlangsung baik. Suatu siklus</p>
<p style="text-align:justify;">SPMB-PS wajib dirancang terintegrasi dengan SPMB keseluruhan. Sebagai satu ilustrasi, untuk proses pembelajaran dapat dikembangkan peraturan, pengaturan, dan kesepakatan</p>
<p style="text-align:justify;">menyangkut kata-kata kunci berikut ini</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pada tingkat sekolah ]/fakultas/jurusan, standar PS dinyatakan dalam daftar prasarana dan sarana, serta tersedia organisasi dan tata kerja (OTK) dalam pemakaiannya</li>
<li>Pada tingkat program studi, standar PS dinyatakan dalam spesifikasi prasarana dan sarana yang lebih spesifik, terkait dengan implementasi RPKPS (Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Evaluasi dilakukan terhadap <em>utility factor </em>dan unjuk hasil kinerja pemakaian prasarana dan sarana. Berdasar hasil evaluasi dengan siklus tahunan, setiap tahun dilakukan perbaikan standar dan penjaminan dalam SPMB-PS sebagai bagian SPMB keseluruhan.<strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>6.</em></strong><strong><em>Konsep Dan Indikator</em></strong> <strong>a. </strong><strong>Manajemen system</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">manajemen system  merupakan suatu proses untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya pendidikan seperti guru, sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, dsb untuk mencapai tujuan dan sasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Sasaran pendidikan secara makro sebagaimana yang terdapat dalam lembaga-lembaga pendidikan dapat diklasifikasikan pada beberapa hal, antara lain akuisisi pengetahuan (sasaran kognitif), pengembangan keterampilan/kemampuan (sasaran motorik) dan pembentukan sikap (sasaran afektif).</p>
<p style="text-align:justify;">Sasaran sasaran makro ini kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk sasaran mikro yang dapat diukur secara rinci dan spesifik berupa apa yang diharapkan dari hasil belajar mengajar. Salah satu sasaran yang dapat diukur untuk sasaran kognitif. Untuk sasaran motorik, terkait dengan apa yang telah dihasilkan oleh siswa, sedangkan untuk sasaran afektif, terkait dengan perubahan sikap/perilaku siswa setelah proses belajar mengajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, pendidikan pun memerlukan adanya manajemen pendidikan yang berupaya mengkoordinasikan semua elemen pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagaimana pada manajemen secara umum, manajemen pendidikan meliputi empat hal pokok, yaitu perencanaan pendidikan, pengorganisasian pendidikan, penggiatan pendidikan, dan pengendalian atau pengawasan pendidikan. Secara umum terdapat sepuluh komponen utama pendidikan, yaitu: peserta didik, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, paket instrusi pendidikan, metode pengajaran (dalam proses belajar mengajar), kurikulum pendidikan, alat instruksi &amp; alat penolong instruksi, fasilitas pendidikan, anggaran pendidikan, dan evaluasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan pendidikan dimaksudkan untuk mempersiapkan semua komponen pendidikan, agar dapat terlaksana proses belajar mengajar yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengorganisasian pendidikan ditujukan untuk menghimpun semua potensi komponen pendidikan dalam suatu organisasi yang sinergis untuk dapat menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Penggiatan pendidikan merupakan pelaksanaan dari penyelenggaraan pendidikan yang telah direncanakan dan dilaksanakan oleh organisasi penyelenggara pendidikan dengan memparhatikan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Sedangkan pengendalian pendidikan dimaksudkan untuk menjaga agar penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan sesuai yang direncanakan dan semua komponen pendidikan digerakkan secara sinergis dalam proses yang mengarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Semua hal pokok tersebut ditujukan untuk menghasilkan keluaran secara optimal seperti yang telah ditetapkan dalam perencanaan pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, manajemen pendidikan dalam perkembangannya memerlukan apa yang dikenal dengan Good Management Practice untuk pengelolaannya. Tetapi pada prakteknya, Good management practice dalam pendidikan masih merupakan suatu hal yang elusif. Banyak penyelenggara pendidikan yang beranggapan bahwa manajemen pendidikan bukanlah suatu hal yang penting, karena kesalahan persepsi yang menganggap bahwa domain manajemen adalah bisnis. <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>b. </strong><strong>Manajemen Prilaku</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah “manajemen” dapat dipandang sebagai serangkaian proses pengelolaan seperti diungkapkan oleh Terry (1977:4) bahwa: <em>“Management is</em> <em>distinct process cinsisting of planning, organizing, actuatingand controlling,</em> <em>performed to determine and accomplish stated objektives by the use of</em> <em>humanbeing and other resources”. </em>(Manajemen adalah suatu proses tertentu yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya). Menurut Atmosudirdjo, (1962:179) pengertian manajemen dapat dipandang sebagai:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Orang-orang</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Semua orang yang mempunyai fungsi atau kegiatan pokok sebagai pemimpin-pemimpin kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">2.  Proses</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya kegiatan-kegiatan yang berarah ke bawah, jadi berupa kerjakerja untuk mencapai tujuan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Sistem kekuasaan</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem kekuasaan atau kewenangan supaya orang-orang mejalankan pekerjaannya. 18Sarwoto, (1977:134) bahwa: “Manajemen adalah satu proses kegiatan yang dengan  memanfaatkan unsur-unsur <em>‘man’, ‘money‘, ‘material‘ dan ‘method</em>‘ (4 M) secara efisien mencapai sesuatu tujuan tertentu”. Pengertian ini menunjukkan bahwa manajemen dapat pula dipandang sebagai sistem kekuasaan dalam arti bahwa dalam manajemen terdapatnya pembagian tugas dan wewenang, terjadi proses pengaturan kerja. Seperti yang dikemukakan oleh Moekijat (1991:6) bahwa “ … manajer tidak melaksanakan sendiri kegiatan-kegiatan yang bersifat operasional, melainkan mengatur tindakan-tindakan pelaksanaan oleh sekelompok orang yang disebut bawahan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan beberapa pengertian manajemen tersebut, maka dalam hubungannya dengan manajemen pendidikan, dapat disimpulkan bahwa, manajemen mengandung tiga aspek, yaitu substansi, proses, dan ‘setting’ ataukonteks dimana proses manajemen itu berlangsung. Aspek <em>substansi </em>manajemen berkenaan dengan perangkat tugas pokok sistem manajemen dalam penyelenggaraan pendidikan yang <em>komprehensif</em>. Pandangan filsafat menganggap bahwa pendidikan merupakan upaya menjadikan manusia sebagai manusia yang sesuai dengan fitrahnya. Upaya tersebut, bukan hanya sekedar dipandang dalam arti pengajaran (proses belajar-mengajar), akan tetapi suatu proses dimana manusia dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan harapannya. Dengan demikian, manajemen pendidikan merupakan upaya bagaimana menciptakan situasi masyarakat dan bangsa dapat belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Aspek <em>proces</em>, berkenaan dengan perangkat operasional system manajemen pendidikan yang menyangkut proses-proses operasional organisasi dan kepemimpinan. Bila dikaitkan dengan substansi pendidikan maka alasanalasan mengapa pendidikan memerlukan proses organisasi dan kepemimpinan;</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama</em>, wawasan tentang kependidikan dan komponen-komponen yang tidak terdapat dalam substansi sistem manapun kecuali dalam sistem pendidikan<em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua</em>, administrasi pendidikan memfokuskan perhatian pada proses mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, dan berperan sebagai wahana penyediaan kemudahan (fasilitasi) bagi kepentingan proses tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketiga</em>, sistem pendidikan memiliki komponen bukan manusia yang khas berupa kurikulum (materi/bahan, metodelogi/teknologi pendidikan, media dan sumber belajar media serta alat/sarana pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Keempat</em>, sistem pendidikan memiliki komponen manusia berupa pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Pengadaan, penempatan, pembinaan dan pengembangan (supervisi) tenga pendidik senantiasa bermuara pada keperluan pengembangan potensi peserta didik secara optimal.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kelima</em>, hubungan manajerial antara pengelola dan personel atau orang yang dikelola berada dalam posisi yang sederajat. <em>Keenam</em>, efisiensi-efektivitas dan produktivitas pengelolaan kegiatannya memperhatikan harkat dan martabat manusia. Kekhasan sistem tersebut, merupakan proses yang sangat berbeda dari proses manajemen lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Manajer memiliki tugas untuk melaksanakan semua kegiatan yang dibebankan organisasi padanya. Sebagaimana dalam Webster’s New World Dictionary dijelaskan bahwa : <em>“manager-a person who manages the affairs of a business, institution, team, etc”</em> (manajer adalah seseorang yang memimpin semua hal dari suatu perusahaan, badan atau lembaga, tim, dan sebagainya).</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila manajemen dapat dipandang sebagai serangkaian proses pengelolaan, yang menggunakan fungsi-fungsi manajemen, maka manajerial dapat pula dipandang sebagai kemampuan orang dalam melakukan proses-proses manajemen yang mengacu pada efisiensi dan efektivitas proses kegiatan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>c. </strong><strong>Manajemen Strategik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Fakry Gaffar (1997:2) mengartikan visi sebagai “daya pandang yang jauh, mendalam dan luas yang merupakan daya fikir abstrak yang memiliki kekuatan amat dahsyat dan dapat menerobos segala batas-batas fisik, waktu, dan tempat”.. Karena itu, dalam pandangannya, visi adalah kunci energi manusia, kunci atribut pemimpin dan pembuat kebijaksanaan. Visi dipandang sebagai suatu inovasi dalam proses Manajemen Strategik, karena baru pada akhir-akhir ini disadari dan ditemukan bahwa visi itu amat dominan peranannnya dalam proses pembuatan keputusan termasuk dalam setiap pembuatan kebijakansaaan dan penyusunanstrategi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sudut pandang Manajemen Strategik, visi, kebijaksanaan dan strategi diletakan dalam suatu kontinuun yang utuh. Oleh karena itu, keseluruhan analisis tidak terlepas dari pola fikir ini. Dalam konstruk berfikir ini maka kebijaksanaan dapat diberi arti sebagai seperangkat keputusan yang mendasar dan konprehensif yang dapat dijadikan pedoman dalam tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan strategi adalah infrastruktur yang menjabarkan kebijaksanaan dalam proses perilaku untuk mewujudkan dan merealisasikan visi menjadi suatu kenyataan. Visi, kebijaksanaan dan strategi merupakan suatu kesatuan utuh yang diperlukan dalam mengembangkan organisasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Organisasi pendidikan di Indonesia mengemban tujuan dan misi yang jelas dalam konteks pembangunan bangsa secara keseluruhan. Tujuan ini merupakan arah yang harus dijadikan kiprah oleh setiap manajemen pendidikan. Sedangkan misi adalah suatu tanggung jawab dan tugas yang diemban oleh organisasi pendidikan untuk diwujudkan, misalnya membina manusia Indonesia professional yang beriman dan bertaqwa. Misi dan tujuan walaupun secara teoretik berbeda namun pada hakekatnya merupakan satu kesatuan. Tujuan dan misi ini diikat dan dilandasi oleh suatu norma, suatu keyakinan yang dijadikan pegangan dan dijadikan landasan perjuangan yang disebut nilai atau <em>values. Nilai atau values </em>ini membentuk landasan yang kokoh bagi tujuan dan misi organisasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Values, tujuan dan misi, muncul kepermukaan dari visi. Dengan kata lain values, tujuan dan misi pada hakekatnya adalah unsur-unsur yang berkaitan erat yang mempunyai fungsi yang tidak sama namun merupakan satu kesatuan yang utuhyang muncul keluar dari visi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>d. </strong><strong>Total Quality Manajemen</strong></p>
<p style="text-align:justify;">hakekat Total Quality Management (TQM)  atau manajemen kualitas terpadu sebenarnya adalah filosofi dan budaya (kerja) organisasi (phylosopy of management) yang berorentasi pada kualitas. Tujuan (goal) yang akan dicapai dalam organisasi dengan budaya  TQM adalah memenuhi atau bahkan melebihi apa yang dibutuhkan (needs) dan yang diharapkan atau diinginkan (desire) oleh pelanggan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, TQM dapat diartikan sebagai pengelolaan kualitas semua komponen (stakehorder) yang berkepentingan  dengan visi dan misi organisasi.  Jadi, pada dasarnya TQM itu bukanlah pembebanan ataupun pemeriksaan.  Tetapi, TQM adalah lebih dari usaha   untuk melakukan sesuatu  yang benar setiap waktu, daripada melakukan pemeriksaan (cheking) pada waktu tertentu ketika terjadi kesalahan. TQM bukan bekerja untuk agenda orang lain, walaupun agenda itu dikhususkan untuk  pelanggan (customer)  dan klien. Demikian juga, TQM bukan sesuatu yang diperuntukkan bagi  menajer senior  dan kemudian melewatkan  tujuan yang telah dirumuskan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Total” dalam  TQM adalah pelibatan semua komponen organisasi yang berlangsung secara terus-menerus. Sementara “manajemen” di dalam TQM  berarti pengelolaan setiap orang yang berada di dalam organisasi, apapun status, posisi atau perannya. Mereka semua  adalah manajer dari tanggung jawab yang dimilikinya. Senada dengan pengertian ini, Lesley dan Malcolm menyatakan bahwa dalam TQM, maka semua fungsionaris organisasi, tanpa kecuali dituntut memiliki tiga kemampuan, yaitu : Pertama,  mengerjakan hal-hal yang benar. Ini berarti bahwa hanya kegiatan yang menunjang bisnis demi memuaskan kebutuhan pelanggan yang dapat diterima. Kegiatan yang tidak perlu maka jangan dilanjutkan lagi. Kedua,  mengerjakan hal-hal dengan benar. Ini berarti bahwa semua kegiatan harus dijalankan dengan benar, sehingga hasil kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Ketiga,  mengerjakan hal-hal dengan benar sejak pertama kali setiap waktu. Hal ini dilandasi dengan dasar pemikiran untuk mencegah kesalahan yang timbul. Prinsipnya, menurut Lesley dan Malcolm, TQM itu merupakan suatu pendekatan sistematis terhadap perencanaan dan manajemen aktivitas, yang memiliki motto:  Do the right think, first time, every time, yaitu “kerjakan sesuatu yang benar dengan benar, sejak pertama kali, setiap waktu”.</p>
<p style="text-align:justify;">Goetsch dan Davis memberikan beberapa karakteristik manajemen  kualitas : 1) komitmen total pada peningkatan nilai secara kontinyu terhadap customer, investor dan tenaga (staf), 2) lembaga memahami dorongan pasar yang mengartikan kualitas bukan atas dasar kepentingan organisasi tetapi kepentingan customer, dan 3) komitmen untuk memimpin orang dengan perbaikan dan komunikasi terus-menerus.</p>
<p style="text-align:justify;">Prinsipnya, TQM adalah suatu pendekatan dalam menjalankan  usaha yang mencoba untuk memaksimumkan  daya saing organisasi  melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya. Karena itu, TQM memiliki beberapa karakteristik: 1) fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal, 2) memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas, 3) mengggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, 4) memiliki komitmen jangka panjang, 5) membutuhkan kerja sama tim (teamwork), 6) memperbaiki proses secara berkesinambungan, 7) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> memberikan kebebasan yang terkendali, 9) memiliki kesatuan tujuan, 10) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih lanjut, Fandy Ciptono dan Anastasia menjelaskan bahwa prinsip dan unsur pokok dalam TQM , sebagai berikut:  Pertama, kepuasan pelanggan. Kualitas tidak hanya bermakna  kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu, tetapi kualitas itu ditentukan oleh pelanggan (internal maupun eksternal). Kepuasan pelanggan harus dipenuhi dalam segala aspek, termasuk harga, keamanan, dan ketepatan waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, respek terhadap setiap orang.  Setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas  tersendiri yang unik. Dengan begitu, setiap karyawan dipandang sebagai sumber daya organisasi yang paling bernilai. Karena itu, setiap karyawan dalam organisasi diperlakukan secara baik dan diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, berbartisipasi dalam tim pengambilan keputusan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, manajemen berdasarkan fakta. Organisasi berorientasi pada fakta. Artinya bahwa setiap keputusan organisasi harus didasarkan pada data, bukan pada perasaan (feeling). Dua konsep pokok berkait dengan fakta; 1)  prioritisasi (prioritization), yaitu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilakaukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Dengan demikian, dengan menggunakan data, maka manajemen dan tim dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital. 2) variasi (variation), atau variabilitas kinerja manusia. Data dapat memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar dari setiap system organisasi. Dengan demikian  manajemen dapat memprediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat, perbaikan berkesinambungan. Perbaikan berkesinambungan merupakan hal yang penting bagi setiap lembaga.  Konsep yang berlaku di sini adalah siklus PDCA (plan, do, check, act).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>e. </strong><strong>Balance Scorecard</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Model <em>Balanced Scorecard </em>(BSC) adalah model sistem pengukuran kinerja yang paling populer dan banyak diimplementasikan dibanding model lainnya (Neely et al, 1995). Di Indonesia,  model BSC juga banyak digunakan oleh beberapa perusahaan BUMN dan Swasta (Vanany dan Suwignjo, 2000). Pada perusahaan BUMN, sering ditemui adanya modifikasi dengan penambahan perspektif yang berkaitan denganpemberdayaan masyarakat sebagai konsekuensi dari tugas yang diemban oleh perusahaan milik negara (Sudibyo, 1997; Lucky et al, 2002). Keunggulan model BSC dikarenakan <em>Key Performance Indicator </em>(KPI) sebagai metrik terkecil yang dimunculkan dari terjemahan strategi perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli meyakini bahwa model-model system pengukuran kinerja yang didasari oleh strategi perusahaan lebih efektif untuk mencapai tujuan perusahaan dibanding dengan pendekatan lainnya (Richmond, 2001). Adanya <em>Strategy Map </em>yang memperlihatkan saling keterkaitan antar strategi objektif dengan KPIKPI- nya disetiap perspektif memberikan kemudahan bagi para manajer memantau seberapa besar keberhasilan dan kegagalan strategi yang dipilih perusahaan (Kaplan dan Norton, 2000; Vanany, 2002) Merancang <em>Strategy Map </em>dan pembobotan merupakan langkah penting didalam merancang sistem pengukuran kinerja dengan model BSC. Saling keterkaitan KPI-KPI pada setiap strategi objektif di masing-masing perspektif (Finansial, Konsumen, Proses Bisnis, dan Tumbuh dan Belajar) diperlihatkan pada <em>Strategy Map</em>-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembobotan perlu dilakukan didalam perancangan sistem pengukuran kinerja karena preferensi manajer terhadap tingkat kepentingan strategi objektif dengan KPI-KPI-nya berbeda satu dengan yang lain. Nilai bobot yang besar dari strategi objektif atau KPI-nya menunjukkan bahwa semakin penting bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya disbanding dengan strategi objektif atau KPI-nya yang bernilai kecil. Metode <em>Analytical Hierarchy Process </em>(AHP) adalah metode pembobotan yang sering digunakan didalam merancang sistem pengukuran kinerja (Vanany, 2002; Lucky, et al, 2002; Vanany et al, 2003) . Metode ini menggunakan asumsi bahwa strategi objektif dan KPI-KPI-nya disetiap perspektif saling independent satu sama lain yang direpresentasikan dengan struktur hierarki sistem pengukuran kinerjanya. Asumsi ini secara tidak langsung mengabaikan adanya saling keterkaitan (<em>interdependence</em>) pada <em>Strategy Map </em>yang telah dirancang. Kebutuhan akan metode pembobotan yang mampu mempertimbangkan saling ketergantungan antar strategi objektif dengan KPI-KPI-nya yang ditunjukkan pada <em>Strategy Map-</em>nya menjadi penting untuk diteliti.</p>
<p style="text-align:justify;">Metode <em>Analytic Network Process </em>(ANP) adalah salah satu metode yang mampu merepresentasikan tingkat kepentingan berbagai pihak dengan mempertimbangkan saling keterkaitan antar kriteria dan sub kriteria yang ada. Model ini merupakan pengembangan dari AHP sehingga kompleksitasnya lebih dibanding metode AHP. Selama ini dirasakan belum ada penelitian yang mengaplikasikan metode ANP pada langkah pembobotan didalam perancangan sistem pengukuran kinerja untuk model BSC. Oleh karena itu perlu adanya penelitian yang bersifat aplikatif dari metode ANP untuk langkah pembobotan didalam merancang sistem pengukuran kinerja di suatu perusahaan dengan model BSC.</p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=161&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/06/28/manajemen-sumber-daya-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KELUH KESAH UN SMA NEGERI 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/06/28/136/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/06/28/136/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 17:21:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Suasana yang sangat memilukan pecah pada hari ini dimana hanya 49% kelulusan yang dapat diraih. hal ini merupakan fenomena pendidikn saat ini. Namun yang menjadi cambukan buat kita dan seluruh warga sekolah yang telibat bagaimanakah kita harus memperbaikinya untuk dimasa depan anak bangsa? Siapakah yang bertanggung jawab atas fenomena ini? mari kita jawab bersama seraya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=136&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-135" title="IMG_4021" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/06/img_4021.jpg?w=454&#038;h=337" alt="IMG_4021" width="454" height="337" /><em><strong>Suasana yang sangat memilukan pecah pada hari ini dimana hanya 49% kelulusan yang dapat diraih. hal ini merup</strong></em><em><strong>akan fenomena pendidikn saat ini.</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Nam</strong></em><em><strong>un yang menjadi cambukan buat kita dan seluruh warga sekolah yang telibat bagaimanakah kita harus </strong></em><em><strong>memperbaikinya untuk dimasa depan anak bangsa?</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Siapakah yang bertanggung jawab atas fenomena ini?</strong></em></p>
<p><em><strong>m</strong></em><em><strong>ari kita jawab bersama seraya memberik</strong></em><em><strong>an </strong></em><em><strong>solusi bukan mencari siapa yang salah dan benar&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</strong></em><img title="Hapus Gambar" src="../wp-includes/js/tinymce/plugins/wpeditimage/img/delete.png" alt="" width="24" height="24" /></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=136&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/06/28/136/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/06/img_4021.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_4021</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../wp-includes/js/tinymce/plugins/wpeditimage/img/delete.png" medium="image">
			<media:title type="html">Hapus Gambar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKAR BUDAYA SEBAGAI SANDARAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/04/02/80/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/04/02/80/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 15:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[“Aceh, kau mungkin sudah letih meratap, sehingga tak dapat lagi mengharap bahkan tak butuh lagi diratapi. Banjir laut tsunami itu seperti air matamu sendiri, yang menuntaskan semua ratap dan harap itu. Seperti menjadi pamungkas bahwa “budi” dan “kebaikan hati” global yang terjadi sekarang ini hanyalah penanda mutahir dari permainan dan persaingan kepentingan-kepentingan politis, ekonomis, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=80&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#c0c0c0;"><a href="http://raisulakbar.wordpress.com"></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://raisulakbar.wordpress.com">“Aceh, kau mungkin sudah letih meratap, sehingga tak dapat lagi mengharap bahkan tak butuh lagi diratapi. Banjir laut tsunami itu seperti air matamu sendiri, yang menuntaskan semua ratap dan harap itu. Seperti menjadi pamungkas bahwa “budi” dan “kebaikan hati” global yang terjadi sekarang ini hanyalah penanda mutahir dari permainan dan persaingan kepentingan-kepentingan politis, ekonomis, dan ideologis. Tak satupun di antara yang menyuarakan dan menyiapkan pembenahan atau pemulihan dunia adab atau infrastruktur budaya Aceh: dua hal yang ratusan tahun justru menjadi kekuatan utama, potensi terbesar dan identitas terbaik Aceh.</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://raisulakbar.wordpress.com">A. Latarbelakang Masalah Bagi rakyat Indonesia tanggal 26 Desembar 2004 lalu mungkin menjadi penghujung penutup tahun yang tidak akan terlupakan. Betapa tidak, belum hilang duka atas bencana gempa bumi yang melanda saudara kita di Alor dan Nabire, bangsa Indonesia kembali dikejutkan dengan bencana gempa dan tsunami yang melanda saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumut. Ribuan jiwa menjadi korban, ribuan rumah hancur atau rata dengan tanah, sarana infrastruktur seperti jalan, jembatan, pasar dan pertokoan lumpuh total, sementara mereka yang selamat terpaksa menjadi pengungsi di berbagai tempat penampungan.  Musibah, bencana dan ujian berat nampaknya tidak juga berhenti dan kembali menjadi bagian kehidupan masyarakat di NAD. Belum selesai penyelesaian konflik politik dan kekerasan bersenjata, kini saudara kita di NAD harus kembali diuji dengan dahsyatnya kekuasaan alam. Hanya dalam waktu sekejap, gempa dan tsunami telah memporakporandakan seluruh bentuk dan akitivitas kehidupan di Bumi Serambi Mekkah tersebut.  Walaupun infrastruktur di Aceh luluh-lantak dihantam gempa dan gelombang tsunami 26 Desember lalu, namun masyarakat dan pemerintah tidak boleh larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Walaupun lebih seribu guru hilang/meninggal dan lebih kurang 50 persen bangunan sekolah di Provinsi Aceh (kini Nanggroe Aceh Darussalam) hancur digoyang gempa tektonik berkekuatan 8,9 skala richter dan diterjang gelombang tsunami akibat meluapnya air laut, namun masyarakat dan pemerintah tidak boleh pesimis apalagi skeptis. Harus ada upaya untuk tetap menghidupkan dunia pendidikan di sana, sehingga proses belajar-mengajar di daerah-daerah korban bencana alam, seperti Banda Aceh, Meulaboh, Aceh Utara, Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya, Simeulue dll harus segera/secepatnya bisa berjalan kembali.  Rehabilitasi dan rekonstruksi kembali bumi NAD pasca gempa bumi dan tsunami merupakan agenda utama dalam membangun kembali NAD. Kerugian materiil dan non-materiiil yang tidak terhitung, tidak saja menimbulkan trauma berat bagi saudara kita NAD, namun juga telah menghambat pembangunan sosial dan ekonomi di daerah tersebut. Salah satu aspek terpenting dalam membangun kembali NAD adalah pembangunan sektor pendidikan. Dengan membangun kembali pendidikan di NAD tentunya akan menghilangkan kekhawatiran akan hilangnya satu generasi yang berkualitas di NAD. Karena melalui pendidikanlah pembentukan kualitas sumberdaya manusia NAD di masa kini dan mendatang sangat ditentukan.  Hemat kita, kalau kendalanya pada kekurangan tenaga pengajar (guru) maka tidak ada alternatif lain selain mendatangkan guru-guru dari luar Aceh. Setidaknya anak-anak didik di tempat-tempat pengungsian bisa meneruskan pendidikannya meskipun dengan guru seadanya. Penambahan guru bantu bisa menjadi salah satu alternatif dan solusi untuk menghindari terjadinya stagnasi dan putus sekolah di kalangan anak Aceh korban bencana.  Paling mudah mendapatkan guru untuk mengisi kekurangan guru di daerah-daerah korban bencana alam gempa dan tsunami di Aceh adalah dengan mendatangkan guru dari luar Aceh. Kalau mengharapkan guru yang berkualitas betul akan memakan waktu lama, maka sebaiknya didrop ke Aceh guru-guru bantu. Tentunya, para guru bantu yang mengajar di Aceh nantinya diprioritaskan menjadi PNS.  Kalau memindahkan guru negeri ke Aceh pasti memakan waktu panjang, berliku-liku. Banyak saja alasan mereka untuk menolak dipindahkan ke Aceh. Padahal, ketika mendaftar sebagai CPNS mereka sudah membuat pernyataan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Namun itu hanya teori, sementara dalam praktiknya sangat sulit memindahkan guru dari kota ke daerah, apalagi daerahnya tengah dilanda konflik dan bencana pula.  Kita senang dan bersyukur melihat keseriusan pemerintah, badan-badan swasta dan lembaga swadaya masyarakat (SLM) serta relawan-relawan lainnya, sehingga proses belajar-mengajar di daerah-daerah yang hancur dilanda gempa dan tsunami sudah berjalan sejak beberapa hari lalu. Namun jangan harap mereka bisa belajar sebagaimana di sekolah normal. Apalagi kalau gurunya sangat minim, bukunya belum lengkap, dan kebanyakan relawan yang klasifikasinya bukan pendidik. Justru itu, keberadaan relawan untuk mengajar kita harap hanya untuk sesaat saja, dan selanjutnya pemerintah wajib mendatangkan guru yang benar-benar berlatar belakang pendidik, di mana eksistensi guru bantu menjadi penting.  Kita bisa menyadari kalau pemerintah mengalami kesulitan untuk melaksanakan proses belajar di Aceh saat ini. Kendalanya luar biasa banyak, kompleks, termasuk kekurangan guru, gedung rusak dan roboh serta peralatan untuk proses belajar-mengajar hilang dan rusak berat. Namun begitu, pemerintah tidak boleh pesimis. Berbagai terobosan bisa dilakukan, seperti mendirikan tenda-tenda tempat belajar sementara. Ini penting agar anak didik di sana tidak terlalau lama meninggalkan bangku sekolah dan akhirnya putus sekolah. Untuk itulah semua pihak diharapkan bisa membantu agar proses belajar-mengajar di Aceh ini dapat berjalan semakin baik dari hari ke hari. Peranan Depdiknas sangat menentukan agar persoalan pendidikan secara perlahan berangsur bisa ditangani walaupun masih harus disesuaikan situasi dan kondisi yang ada.  Melihat kehancuran gedung-gedung sekolah di Aceh yang demikian banyak, maka pembuatan sekolah-sekolah darurat di sekitar lokasi pengungsian merupakan jalan ke luar yang tepat. Untuk melakukan rehabilitasi sekolah yang sudah hancur tentunya memakan waktu lama dan biaya yang tidak kecil. Untuk saat ini sulit diharapkan, sehingga sekolah darurat dengan menggunakan tenda dan guru seadanya sudah harus dilakukan secepatnya.  Alternatif lain adalah mengungsi ke daerah lain. Bisa ke sekolah-sekolah yang ada di Aceh maupun ke luar Aceh, seperti kota Medan dan kota-kota lainnya di Indonesia. Untuk itu kiranya pemerintah perlu membuat kebijakan agar siswa Aceh korban gempa dan tsunami wajib diterima dan dibebaskan dari kewajiban membayar biaya pendidikan (SPP). Kebijakan Depdiknas perlu agar jangan ada sekolah yang menolak murid atau mahasiswa korban bencana asal Aceh Dalam kondisi darurat adalah tidak mungkin bagi pelajar di Aceh untuk melengkapi segala surat-surat kepindahannya. Sebab, seluruhnya sudah hancur dan hilang, seperti rapor, buku-buku. Bahkan, kantor pemerintahan setempat pun lumpuh. Itulah sebabnya perlu dibuat kebijakan khusus untuk menanggulangi masalah pendidikan di Aceh saat ini. Tentunya evakuasi dan pendataan korban harus jalan terus.  Kita ikut prihatin melihat banyaknya kerusakan sarana dan prasarana pendidikan di Aceh, termasuk banyaknya guru yang meninggal dan mengalami luka-luka. 400 gedung sekolah berbagai tingkatan di Aceh tercatat mengalami kerusakan. Khusus di Banda Aceh dan Aceh Besar 1.538 guru meninggal dan hilang, serta sekitar 1.000 orang mengalami cidera fisik dan kini mengungsi. Itu sebabnya mendatangkan guru bantu sangat mendesak untuk memulihkan proses belajar-mengajar di sana. Selain itu, diperlukan peralatan belajar-mengajar untuk memudahkan anak didik menangkap pelajaran. Dan semua itu perlu menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah. (copyright @2002 WASPADA Online 15 januari 2005- www.waspada.co.id)  Kita harapkan permasalahan pendidikan di Aceh bisa segera ditanggulangi. Jika tidak, maka generasi muda Aceh di masa mendatang bisa mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan banyaknya kendala, di mana sebelumnya ratusan sekolah dibakar GAM.  Data sementara yang tercatat di Posko Penanganan Pasca-gempa Depdiknas memperlihatkan sedikitnya seribu guru hilang, dan 140 ribu siswa SD serta 20 ribu siswa SMP saat ini tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar karena sekolah mereka rusak atau bahkan hilang. Jumlah gedung yang hancur meliputi 914 bangunan sekolah dasar (SD), 155 sekolah menengah pertama (SMP), 67 sekolah menengah umum (SMU) dan 15 sekolah menengah kejuruan (SMK) hancur akibat gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda wilayah itu pada Minggu lalu (26/12). ( www.waspada.co.id)   	Kita mengharapkan pemerintah memprioritaskan masalah pendidikan bagi anak-anak Aceh dan Sumut (Nias) yang dilanda bencana alam. Setelah pendataan selesai, segeralah lakukan terobosan sehingga proses belajar-mengajar di sana bisa kembali bergulir. Meski awalnya tersendat, namun diharapkan kondisinya akan semakin baik sehingga anak-anak Aceh tidak tertinggal pelajaran. Jika tidak serius, kita khawatir SDM Aceh akan semakin tertinggal di masa mendatang.  Di samping tugas negara, kita wajib berempati terhadap penderitaan rakyat Aceh, namun tidak cukup hanya mengucapkan prihatin saja. Jadi, perlu upaya serius guna menyelamatkan masa depan anak Aceh agar tidak ketinggalan pelajaran, apalagi sampai putus sekolah. Sebelum bencana gempa dan gelombang tsunami terjadi, gambaran umum pendidikan di NAD memang sudah memprihatinkan. Konflik politik dan kekerasan bersenjata antar TNI dan GAM semakin memperbesar masalah pendidikan di NAD. Peristiwa pembakaran gedung sekolah, penculikan dan pembunuhan guru, kegiatan sekolah yang sering diliburkan, hingga anak-anak yang traumatis dan menjadi korban akibat kekerasan bersenjata adalah diantara begitu banyak kejadian yang semakin mempersulit membangun dunia pendidikan di NAD selama ini Hampir sebagian besar ruang kelas sekolah dalam kondisi rusak dan kurang perhatian untuk perbaikan. Berdasarkan Data Perkembagan Indikator Pendidikan, Depdiknas RI tahun 2001/02 -2002/03 dari 15.237 kelas milik SD di NAD, 8.788 kelas dalam kondisi rusak berat dan ringan, hanya 6.449 kelas dalam kondisi baik. Kondisi pendidikan anak-anak Aceh juga tidak luput dari keprihatinan. Angka putus sekolah (droup outs rate) tingkat SD di NAD pada tahun 2002-2003 adalah paling tinggi secara nasional, yaitu mencapai 11,86 persen, tertinggi kedua terjadi di Papua sebesar 6,31 persen, sementara rata-rata nasional sebesar 2,97 persen. Begitu pula dengan angka putus sekolah di tingkat SMP, juga cukup tinggi, mencapai 6,28 persen, di atas rata-rata nasional sebesar 3,54 persen. Secara umum, gambaran fasilitas pendidikan di NAD sampai dengan tahun 2002, tercatat ada sekitar 433 TK dengan 20.301 siswa; 15 SLB dengan 366 siswa; 3.021 SD dengan 579.786 siswa; 524 SMP dengan 158.760 siswa; 224 SMA dan SMK dengan 95.779 siswa, 8 universitas, 23 sekolah tinngi, 14 akademi dan 1 politeknik dengan jumlah mahasiswa sebesar 50.419 orang. Belum lagi selesai masalah di atas, kini dunia pendidikan di NAD kembali dihadapkan pada kendala yang sulit. Gempa dan tsunami telah memporakporandakan hampir sebagian besar fasilitas pendidikan di NAD. Berdasarkan data sementara dari Departemen Pendidikan Nasional, ada sekitar 1.626 gedung sekolah rusak dan hancur di seluruh Propinsi NAD dan Sumut. Jumlah tersebut terdiri dari 1.347 bangunan TK/SD/MI, 187 bangunan SMP/MTs, dan 92 bangunan SMA/SMK/MA. Bencana alam gempa bumi dan tsunami di NAD juga telah merenggut nyawa sekitar 1700 tenaga guru dan puluhan tenaga dosen dengan tingkat pendidikan dari S-1 sampai S-3. Sekitar 250 guru yang menjadi korban, termasuk para guru berprestasi dan teladan di NAD. Beberapa dari mereka bahkan sudah terpilih menjadi penerima beasiswa untuk melanjutka studi di Malaysia. Sungguh suatu kerugian yang amat besar bagi dunia pendikan kita. Karena tentunya untuk mencetak tenaga pengajar dibutuhkan waktu yang lama, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Padahal kepada mereka setidaknya peran peningkatan kualitas pendidikan di daerah seperti NAD sangat dibutuhkan. (Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPK LIPI)email : nawilipi@yahoo.com) Untuk membangun kembali dunia pendidikan di NAD diperlukan kerja keras dan tentunya biaya yang begitu besar. Dalam situasi normal saja, dunia pendidikan nasional masih terkendala dengan berbagai hal, terutama dengan kualitas dan anggaran yang terbatas. Bagaimana dengan dunia pendidikan NAD? Bagaimanapaun keadaannya sekarang, jelas penting untuk diselamatkan. Pemerintah dan semua pihak seyogyanya mampu menentukan skala prioritas yang jelas, sehingga upaya menyelamatkan generasi NAD melalui rehabilitasi dan rekonstruksi dunia pendidikan NAD tidak merupakan usaha tanpa program yang jelas. Dalam membangun pendidkan di NAD, dalam situasi darurat pasca gempa dan tsunami, sebaiknya lupakan dahulu kebiasaan birokrasi konvensional yang panjang, kaku dan selalu menyulitkan. Lupakan dahulu formalitas standarisasi pendidikan yang selalu mengacu pada kurikulum dan pengajaran di sekolah. Pasca bencana di NAD sangat dibutuhkan pendidikan layanan khusus yang dapat menjangkau seluruh anak-anak korban bencana. Jika tidak, maka pasca bencana akan berdampak terhadap terganggunya tumbuh kembang anak-anak Aceh di masa datang. Pemerintah juga tidak harus bersikeras bekerja sendiri, tetapi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan lembaga non pemerintah lokal, nasional dan internasional. Karena kerja keras membangun kembali pendidikan di NAD merupakan kerja besar, dan tidak satu pihakpun berhak mengklaim merasa paling mampu menyelesaikan semua masalah di NAD pasca bencana.  Apa yang selama ini telah dilakukan, melalui pelayanan sekolah darurat (sekolah tenda) atau sekolah transisi terapi belajar , merupakan salah satu langkah yang tepat. Anak-anak Aceh &#8220;yang tersisa&#8221; terutama di tempat pengungsian harus sesegera mungkin mendapatkan pelayanan pendidikan layanan khusus tersebut. Anak-anak tersebut membutuhkan waktu transisi agar dapat bisa kembali normal untuk sekolah seperti biasanya. Setidaknya dalam jangka pendek hal tersebut dapat mengurangi beban psikologis akibat bencana, mempercepat membangun kecerian, pengharapan dan semangat hidup mereka.  Namun demikian, keberadaan sekolah alternatif ini juga harus dipikirkan efektifitas dan efisiensinya. Jangan asal membangun sekolah darurat tanpa penentuan skala prioritas kebutuhan yang jelas. Guru-guru sukarelawan sangat dituntut memiliki kemampuan pedagogis yang baik (minimal pengalaman mengajar), sehingga dapat memberikan pelayanan pengajaran tanpa mengurangi tujuan yang hendak dicapai. Perlengkapan sekolah tenda yang dibangunpun perlu diperhatikan, terutama harus tahan hujan. Karena beberapa pekan ke depan intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah NAD memperlihatkan kecenderungan semakin meningkat.  Perhatian amat khusus harus diberikan kepada anak-anak Aceh korban gempa dan tsunami, yang kehilangan orang tua, anggota keluarga, harta benda, yang sudah dipasatikan mengalami trauma psikologis berkepanjangan. Kita tentunya tidak ingin mereka kelak menjadi generasi tanpa harapan, karena begitu besar beban yang harus diterima. Program orang tua asuh bisa menjadi alternatif solusi, asalkan prosedurnya jelas dan transparan. Kita bisa belajar dari program orang tua asuh yang selama ini dilakukan oleh Yayasan Lembaga Gerakan Nasioanl Orang Tua Asuh (YLGN-OT). Penulis amat yakin, jika minimal 1 dari setiap 1000 penduduk Indonesia yang hidup berkecukupan mau menjadi donatur orang tua asuh, maka masa depan anak-anak Aceh korban bencana tidak akan terlambat untuk diselamatkan.  Terhadap bangunan sekolah yang masih selamat, pemanfaatannya semaksimal mungkin dapat menampung anak-anak Aceh yang ingin kembali sekolah. Misalnya dengan memberlakukan sekolah pagi dan siang dan membaginya dalam beberapa tingkatan (SD, SMP dan SMA). Bisa juga dengan mencontoh sekolah alternatif yang dikembangkan di Kabupaten Poso &#8211; Sulawesi Tengah pasca konflik sosial akhir Mei tahun 2000 lalu. Para siswa yang sekolahnya rusak dibakar pasca kerusuhan digabungkan menjadi satu pada sekolah yang selamat dari kerusuhan. Para siswa dipersatukan tanpa membeda-bedakan latar belakang status, sambil menanamkan pengertian bahwa perbedaan keyakinan diantara mereka bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Untuk kasus anak-anak Aceh, pemahaman hikmah di balik bencana akan menciptakan generasi yang lebih kuat dan tegar menghadapi setiap cobaan.  Para siswa di sekolah gabungan harus dibebaskan dari seluruh kewajiban pembiayaan. Sementara pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap operasional pembiayaan sekolah gabungan tersebut. Para guru yang selamat, namun sekolahnya telah hancur, tetap dapat mengajar di sekolah gabungan tersebut, sementara sistem adiministrasi dilakukan secara bersama dalam satu koordinasi. Dengan penerapan model pelayanan sekolah gabungan ini diharapkan pelayanan pendidikan di NAD tetap bisa berjalan, dan anak -anak Aceh tetap terus bisa mengenyam pendidikan.  Menyadari begitu kompleksnya permasalahan NAD pasca bencana, sudah sepatutnya pemerintah bersama seluruh komponen bangsa memberikan perhatian khusus, terutama dalam membangun kembali pendidikan di NAD. Ke depan, melalui berbagai upaya dan langkah perbaikan yang terus diupayakan secara bersama, kita berharap dunia pendidikan di NAD dapat segera pulih, sehingga generasi penerus Aceh dapat kembali bangkit menatap masa depan dengan lebih optimis.  Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Jaro Wacik bahwa pembangunan kembali Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) paska tsunami tidak boleh tercerabut dari akar kebudayaannya. “Kita ingin pembangunan Aceh tetap bersandar kepada nilai-nilai kultural Aceh,” ujarnya saat menerima delegasi seniman dan budayawan Aceh di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (13/1).  Jero Wacik menyepakati gagasan agar segera dilaksanakan gerakan yang mendorong bangkitnya kembali semangat hidup masyarakat Aceh melalui pendekatan kebudayaan. Di antaranya mengaktifkan kembali muenasah yang merupakan lembaga kemasyaratkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan taabudiyah (ibadat), dan kemaslahatan umat.   (http://kabarbaru.com/modules/news/article) Penyelenggaran Pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam Berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Otonomi Khusus Daerah Istimewa Aceh didasarkan pada empat keistimewaan yaitu di bidang Agama, adat istiadat, Pendidikan dan Peran Para Ulama. Dalam Pembukaan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 Tentang Pelaksanaan Syariat Islam Di Aceh, disebutkan (a) bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 mengakui dan menghormati satuan-satuan Pemerintahan Daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang; (b) bahwa salah satu karakter khas yang alami di dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh adalah adanya ketahanan dan daya juang yang tinggi yang bersumber pada pandangan hidup, karakter sosial dan kemasyarakatan dengan budaya islami yang kuat, sehingga Daerah Aceh menjadi daerah modal bagi perjuangan dalam  merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia; (c) bahwa untuk memberi kewenangan yang luas dalam menjalankan pemerintahan bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh, dipandang perlu memberikan otonomi khusus; (d) bahwa Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah serta undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dipandang belum menampung sepenuhnya hal asal-usul dan keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh; (e) bahwa pelaksanaan Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh perlu diselaraskan dalam penyelenggaraan pemerintahan di Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.  Untuk mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 44 tahun 1999 Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Undang Nomor 18 tahun 2000 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi nanggroe Aceh Darussalam, maka dalam bidang pendidikan lahirlah beberapa pertururan (Qanun) Pemerintah Nanggoe Aceh Darussalam diantranya Perda Nomor 6 Tahun 2000 tentang Sistem pendidikan di Nanggrue Aceh Darussalam berlandaskan  Syariat Islam dan berdasarkan Quran dan Al-Hadis serta selaras dengan Undang Dasar 1945 dan Pancasila.  Dan dalam Perdar nomor 5 tahun 2000 tentang pelaksanaan Syariat Islam Bagian kelima Pasal 13  (1) Pemerintah Daerah perlu membagun dan memajukan Lembaga Pendidikan yang dapat melahirkan manusia yang cerdas, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. United Nations Children’s Fund (Unicef) dan belasan oganisasi non-pemerintah (Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM) yang tergabung dalam Komite Bersama Pendidikan untuk Semua (PUS) akan membuka sekolah darurat di tiga titik pengungsian, yakni di komplek Sekolah Calon Tamtama (Secata) di Aceh Besar, komplek TVRI di Kecamatan Darul Imarah, serta komplek Masjid Jami Darrusalam. Unicef dan LSM akan Bangun 3 Sekolah Darurat Berkapasitas 2.000 Anak di Banda Aceh, United Nations Children’s Fund (Unicef) dan belasan oganisasi non-pemerintah (Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM) yang tergabung dalam Komite Bersama Pendidikan untuk Semua (PUS) akan membuka sekolah darurat di tiga titik pengungsian, yakni di komplek Sekolah Calon Tamtama (Secata) di Aceh Besar, komplek TVRI di Kecamatan Darul Imarah, serta komplek Masjid Jami Darrusalam. Tiga sekolah darurat yang akan dibangun di tiga lokasi ini diperkirakan mampu menampung sekitar 2.100 anak-anak. “Ini asumsi yang bisa bertambah atau berkurang, sesuai pertambahan pengungsi,” kata Rizal Fikri, Jurubicara Komite Bersama, hari ini (15/1). B. Indentrifikasi Masalah Rehabilitasi dan rekonstruksi kembali bumi NAD pasca gempa bumi dan tsunami merupakan agenda utama dalam membangun kembali NAD. Kerugian materiil dan non-materiiil yang tidak terhitung, tidak saja menimbulkan trauma berat bagi saudara kita NAD, namun juga telah menghambat pembangunan sosial dan ekonomi di daerah tersebut. Salah satu aspek terpenting dalam membangun kembali NAD adalah pembangunan sektor pendidikan. Dengan membangun kembali pendidikan di NAD tentunya akan menghilangkan kekhawatiran akan hilangnya satu generasi yang berkualitas di NAD. Karena melalui pendidikanlah pembentukan kualitas sumberdaya manusia NAD di masa kini dan mendatang sangat ditentukan.  Sebelum bencana gempa dan gelombang tsunami terjadi, gambaran umum pendidikan di NAD memang sudah memprihatinkan. Konflik politik dan kekerasan bersenjata antar TNI dan GAM semakin memperbesar masalah pendidikan di NAD. Peristiwa pembakaran gedung sekolah, penculikan dan pembunuhan guru, kegiatan sekolah yang sering diliburkan, hingga anak-anak yang traumatis dan menjadi korban akibat kekerasan bersenjata adalah diantara begitu banyak kejadian yang semakin mempersulit membangun dunia pendidikan di NAD selama ini Hampir sebagian besar ruang kelas sekolah dalam kondisi rusak dan kurang perhatian untuk perbaikan. Berdasarkan Data Perkembagan Indikator Pendidikan, Depdiknas RI tahun 2001/02 -2002/03 dari 15.237 kelas milik SD di NAD, 8.788 kelas dalam kondisi rusak berat dan ringan, hanya 6.449 kelas dalam kondisi baik. Kondisi pendidikan anak-anak Aceh juga tidak luput dari keprihatinan. Angka putus sekolah (droup outs rate) tingkat SD di NAD pada tahun 2002-2003 adalah paling tinggi secara nasional, yaitu mencapai 11,86 persen, tertinggi kedua terjadi di Papua sebesar 6,31 persen, sementara rata-rata nasional sebesar 2,97 persen. Begitu pula dengan angka putus sekolah di tingkat SMP, juga cukup tinggi, mencapai 6,28 persen, di atas rata-rata nasional sebesar 3,54 persen. Secara umum, gambaran fasilitas pendidikan di NAD sampai dengan tahun 2002, tercatat ada sekitar 433 TK dengan 20.301 siswa; 15 SLB dengan 366 siswa; 3.021 SD dengan 579.786 siswa; 524 SMP dengan 158.760 siswa; 224 SMA dan SMK dengan 95.779 siswa, 8 universitas, 23 sekolah tinngi, 14 akademi dan 1 politeknik dengan jumlah mahasiswa sebesar 50.419 orang. Belum lagi selesai masalah di atas, kini dunia pendidikan di NAD kembali dihadapkan pada kendala yang sulit. Gempa dan tsunami telah memporakporandakan hampir sebagian besar fasilitas pendidikan di NAD. Berdasarkan data sementara dari Departemen Pendidikan Nasional, ada sekitar 1.626 gedung sekolah rusak dan hancur di seluruh Propinsi NAD Jumlah tersebut terdiri dari 1.347 bangunan TK/SD/MI, 187 bangunan SMP/MTs, dan 92 bangunan SMA/SMK/MA. Bencana alam gempa bumi dan tsunami di NAD juga telah merenggut nyawa sekitar 1700 tenaga guru dan puluhan tenaga dosen.  Untuk membangun kembali dunia pendidikan di NAD diperlukan kerja keras dan tentunya biaya yang begitu besar. Dalam situasi normal saja, dunia pendidikan nasional masih terkendala dengan berbagai hal, terutama dengan kualitas dan anggaran yang terbatas. Bagaimana dengan dunia pendidikan NAD? Bagaimanapaun keadaannya sekarang, jelas penting untuk diselamatkan. Pemerintah dan semua pihak seyogyanya mampu menentukan skala prioritas yang jelas, sehingga upaya menyelamatkan generasi NAD melalui rehabilitasi dan rekonstruksi dunia pendidikan NAD tidak merupakan usaha tanpa program yang jelas. Dalam membangun pendidkan di NAD, dalam situasi darurat pasca gempa dan tsunami, sebaiknya lupakan dahulu kebiasaan birokrasi konvensional yang panjang, kaku dan selalu menyulitkan. Lupakan dahulu formalitas standarisasi pendidikan yang selalu mengacu pada kurikulum dan pengajaran di sekolah. Pasca bencana di NAD sangat dibutuhkan pendidikan layanan khusus yang dapat menjangkau seluruh anak-anak korban bencana. Jika tidak, maka pasca bencana akan berdampak terhadap terganggunya tumbuh kembang anak-anak Aceh di masa datang. Pemerintah juga tidak harus bersikeras bekerja sendiri, tetapi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan lembaga non pemerintah lokal, nasional dan internasional. Karena kerja keras membangun kembali pendidikan di NAD merupakan kerja besar, dan tidak satu pihakpun berhak mengklaim merasa paling mampu menyelesaikan semua masalah di NAD pasca bencana.  Apa yang selama ini telah dilakukan, melalui pelayanan sekolah darurat (sekolah tenda) atau sekolah transisi terapi belajar , merupakan salah satu langkah yang tepat. Anak-anak Aceh &#8220;yang tersisa&#8221; terutama di tempat pengungsian harus sesegera mungkin mendapatkan pelayanan pendidikan layanan khusus tersebut. Anak-anak tersebut membutuhkan waktu transisi agar dapat bisa kembali normal untuk sekolah seperti biasanya. Setidaknya dalam jangka pendek hal tersebut dapat mengurangi beban psikologis akibat bencana, mempercepat membangun kecerian, pengharapan dan semangat hidup mereka.  Namun demikian, keberadaan sekolah alternatif ini juga harus dipikirkan efektifitas dan efisiensinya. Jangan asal membangun sekolah darurat tanpa penentuan skala prioritas kebutuhan akar budaya masyarakat NAD, secara factual mempunyai otonomi khusus yang berdasarkan syariat islam. Guru-guru sukarelawan sangat dituntut memiliki kemampuan pedagogis yang baik (minimal pengalaman mengajar), sehingga dapat memberikan pelayanan pengajaran tanpa mengurangi tujuan yang hendak dicapai. Perlengkapan sekolah tenda yang dibangunpun perlu diperhatikan, terutama harus memperhatikan azas kesehatan, budaya dan nilai-nilai yang sacral yang dianut secara turun temurun.  Perhatian amat khusus harus diberikan kepada anak-anak Aceh korban gempa dan tsunami, yang kehilangan orang tua, anggota keluarga, harta benda, yang sudah dipasatikan mengalami trauma psikologis berkepanjangan. Program orang tua asuh bisa menjadi alternatif solusi, asalkan prosedurnya jelas dan transparan.  Terhadap bangunan sekolah yang masih selamat, pemanfaatannya semaksimal mungkin dapat menampung anak-anak Aceh yang ingin kembali sekolah. Para siswa dipersatukan tanpa membeda-bedakan latar belakang status, sambil menanamkan pengertian bahwa perbedaan keyakinan diantara mereka bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Untuk kasus anak -anak Aceh, pemahaman hikmah di balik bencana akan menciptakan generasi yang lebih kuat dan tegar menghadapi setiap cobaan.  Menyadari begitu kompleksnya permasalahan NAD pasca bencana, sudah sepatutnya pemerintah bersama seluruh komponen bangsa memberikan perhatian khusus, terutama dalam membangun kembali pendidikan di NAD. Pembentukan Badan Otorita Khusus Aceh bisa dianggap sebagai langkah strategis dalam memperlancar rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Namun pembentukan lembaga ini jangan sampai mereduksi peran-peran institusi daerah yang selama ini sudah mulai kembali bekerja. Kedepan, melalui berbagai upaya dan langkah perbaikan yang terus diupayakan secara bersama, kita berharap dunia pendidikan di NAD dapat segera pulih, sehingga generasi penerus Aceh dapat kembali bangkit menatap masa depan dengan lebih optimis. </a></p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=80&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/04/02/80/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KARTU INVENTARIS GEDUNG &amp; BANGUNAN SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/25/kartu-inventaris-gedung-bangunan-sman-1-lhoong/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/25/kartu-inventaris-gedung-bangunan-sman-1-lhoong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 16:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[NO. KODE LOKASI : 10601 HALAMAN: 1 NO URUT NAMA BARANG/ JENIS BARANG NOMOR KONDISI BANGUNAN (B, KB, RS) KONSTRUKSI BANGUNAN BETON/ TIDAK LUAS LANTAI (M2) LETAK LOKASI ALAMAT DOKUMEN GEDUNG LUAS (M2) STATUS TANAH NOMOR KODE TANAH ASAL USUL HARGA KET KODE BARANG REGISTER BERTINGKAT/ TIDAK 7 TANGGAL NOMOR 1 2 3 4 5 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=68&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="text-align:center;height:794px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="993">
<col width="33"></col>
<col width="131"></col>
<col width="80"></col>
<col width="60"></col>
<col width="68"></col>
<col width="78"></col>
<col width="53"></col>
<col width="43"></col>
<col width="55"></col>
<col width="72"></col>
<col width="70"></col>
<col width="34"></col>
<col span="2" width="52"></col>
<col width="74"></col>
<col width="56"></col>
<col width="89"></col>
<tbody>
<tr>
<td colspan="17" width="1100" height="24"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="17" height="21"></td>
</tr>
<tr>
<td height="20"></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" height="20">NO.   KODE LOKASI</td>
<td>: 10601</td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="21"></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td colspan="2">HALAMAN: 1</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="33" height="70">NO URUT</td>
<td rowspan="2" width="131">NAMA BARANG/ JENIS BARANG</td>
<td colspan="2" width="140">NOMOR</td>
<td rowspan="2" width="68">KONDISI BANGUNAN (B, KB, RS)</td>
<td width="78">KONSTRUKSI   BANGUNAN</td>
<td width="53">BETON/ TIDAK</td>
<td rowspan="2" width="43">LUAS LANTAI (M2)</td>
<td rowspan="2" width="55">LETAK LOKASI ALAMAT</td>
<td colspan="2" width="142">DOKUMEN   GEDUNG</td>
<td rowspan="2" width="34">LUAS (M2)</td>
<td rowspan="2" width="52">STATUS TANAH</td>
<td rowspan="2" width="52">NOMOR KODE TANAH</td>
<td rowspan="2" width="74">ASAL USUL</td>
<td rowspan="2" width="56">HARGA</td>
<td rowspan="2" width="89">KET</td>
</tr>
<tr>
<td width="80" height="39">KODE BARANG</td>
<td width="60">REGISTER</td>
<td width="78">BERTINGKAT/   TIDAK</td>
<td width="53">7</td>
<td width="72">TANGGAL</td>
<td width="70">NOMOR</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="22">1</td>
<td width="131">2</td>
<td width="80">3</td>
<td width="60">4</td>
<td width="68">5</td>
<td width="78">6</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">8</td>
<td width="55">9</td>
<td width="72">10</td>
<td width="70">11</td>
<td width="34">12</td>
<td width="52">13</td>
<td width="52">14</td>
<td width="74">15</td>
<td width="56">16</td>
<td width="89">17</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="40">1</td>
<td width="131">BANGUNAN GEDUNG   KANTOR PERMANEN</td>
<td width="80">1060101001</td>
<td style="border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">336</td>
<td width="55">DESA CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">375</td>
<td style="border-left:medium none;"></td>
<td style="border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DINAS</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="52">2</td>
<td width="131">BANGUNAN   GEDUNG PENDIDIKAN PERMANEN</td>
<td width="80">1060110001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">448</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">960</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DINAS/DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="52">3</td>
<td width="131">BANGUNAN   GUDANG TERTUTUP PERMANEN</td>
<td width="80">1060102001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">24</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">30</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="44">4</td>
<td width="131">MESS   GURU</td>
<td width="80">1060204001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">460</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">540</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="40">5</td>
<td width="131">GEDUNG   LABORATORIUM</td>
<td width="80">1060110001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">KB</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">256</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">316</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="40">6</td>
<td width="131">GEDUNG   PERPUSTAKAAN</td>
<td width="80">1060110001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">BERTINGKAT</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">120</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">160</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="40">7</td>
<td width="131">GEDUNG   SERBA GUNA</td>
<td width="80">1060110001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">360</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">440</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="40">8</td>
<td width="131">GEDUNG   KOPERASI</td>
<td width="80">1060110001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">56</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">76</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="40">9</td>
<td width="131">BANGUNAN   MANDI CUCI ( MCK )</td>
<td width="80">1030605007</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">KB</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">72</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td width="34">78</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DINAS/DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="52">10</td>
<td width="131">INSTALASI   AIR BUANGAN DOMESTIK KAPASITAS KECIL</td>
<td width="80">1040201001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">350</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;">350</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="52">11</td>
<td width="131">JALAN   KHUSUS KOMPLEK SEKOLAH</td>
<td width="80">1020109002</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">500</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;">500</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DD</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="21"></td>
<td width="131"></td>
<td width="80"></td>
<td></td>
<td width="68"></td>
<td width="78"></td>
<td width="53"></td>
<td width="43"></td>
<td width="55"></td>
<td width="72"></td>
<td width="70"></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td width="74"></td>
<td></td>
<td width="89"></td>
</tr>
<tr>
<td width="33" height="40">12</td>
<td width="131">SUMUR   DENGAN POMPA</td>
<td width="80">1030502001</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="68">B</td>
<td width="78">TIDAK</td>
<td width="53">BETON</td>
<td width="43">16</td>
<td width="55">DESA   CUNDIEN</td>
<td width="72">20 Juni 1979</td>
<td width="70">0363/0/1991</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;">16</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="74">SWADAYA</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td width="89">DINAS/DD</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=68&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/25/kartu-inventaris-gedung-bangunan-sman-1-lhoong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KARTU INVENTARIS  SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/24/69/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/24/69/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 12:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[sman1lhoong.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/24/69/</guid>
		<description><![CDATA[KARTU INVENTARIS RUANGAN (KIR) PROVINSI : NANGGROE ACEH DARUSSALAM KABUPATEN/KOTA : ACEH BESAR UNIT : SMA NEGERI 1 LHOONG RUANGAN : RUANG KEPALA SEKOLAH NOMOR REGISTER : NO KODE LOKASI : NOMOR KODE BARANG : NO URUT NAMA BARANG/ JENIS BARANG MERK MODE NOMOR SERI PABRIK UKURAN BAHAN TAHUN PEMBUATAN/PEMBELIAN NOMOR KODE BARANG JUMLAH BARANG/ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=69&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="border-collapse:collapse;width:811pt;text-align:center;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="1078">
<tbody>
<tr style="height:18.75pt;">
<td class="xl76" style="height:18.75pt;width:811pt;" colspan="16" width="1078" height="25">
<table style="border-collapse:collapse;width:841pt;text-align:center;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="1122">
<col style="width:30pt;" width="40"></col>
<col style="width:126pt;" width="168"></col>
<col style="width:51pt;" width="68"></col>
<col style="width:88pt;" width="117"></col>
<col style="width:50pt;" width="67"></col>
<col style="width:56pt;" width="75"></col>
<col style="width:68pt;" width="91"></col>
<col style="width:75pt;" width="100"></col>
<col style="width:53pt;" width="71"></col>
<col style="width:65pt;" width="86"></col>
<col style="width:28pt;" width="37"></col>
<col style="width:47pt;" width="63"></col>
<col style="width:38pt;" width="51"></col>
<col style="width:66pt;" width="88"></col>
<tbody>
<tr style="height:22.5pt;">
<td class="xl114" style="height:22.5pt;width:841pt;text-align:left;" colspan="14" width="1122" height="30"><strong><em>KARTU INVENTARIS RUANGAN (KIR)<span> </span></em></strong></td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl67" style="height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15.75pt;">
<td class="xl68" style="height:15.75pt;text-align:left;" colspan="2" height="21">PROVINSI</td>
<td class="xl68" style="text-align:left;" colspan="3">: NANGGROE ACEH   DARUSSALAM</td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;text-align:left;" colspan="2" height="20">KABUPATEN/KOTA</td>
<td class="xl68" style="text-align:left;" colspan="2">: ACEH BESAR</td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;text-align:left;" colspan="2" height="20">UNIT</td>
<td class="xl68" style="text-align:left;" colspan="3">: SMA NEGERI 1 LHOONG</td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;text-align:left;" colspan="2" height="20">RUANGAN</td>
<td class="xl68" style="text-align:left;" colspan="3">: RUANG KEPALA SEKOLAH</td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" height="20"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;" height="20"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl69" colspan="2">NOMOR REGISTER</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl66">:</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl68" style="height:15pt;text-align:left;" colspan="2" height="20">NO   KODE LOKASI</td>
<td class="xl68">:</td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl68"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl69" colspan="2">NOMOR KODE BARANG</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl66">:</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl67" style="height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl67"></td>
</tr>
<tr style="height:22.5pt;">
<td class="xl112" style="border-bottom:2pt double black;height:68.25pt;width:30pt;" rowspan="2" width="40" height="91">NO URUT</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:126pt;" rowspan="2" width="168">NAMA BARANG/ JENIS BARANG</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:51pt;" rowspan="2" width="68">MERK MODE</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:88pt;" rowspan="2" width="117">NOMOR SERI PABRIK</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:50pt;" rowspan="2" width="67">UKURAN</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:56pt;" rowspan="2" width="75">BAHAN</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:68pt;" rowspan="2" width="91">TAHUN PEMBUATAN/PEMBELIAN</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:75pt;" rowspan="2" width="100">NOMOR KODE BARANG</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:53pt;" rowspan="2" width="71">JUMLAH BARANG/ REGISTER (X)</td>
<td class="xl113" style="border-bottom:2pt double black;width:65pt;" rowspan="2" width="86">HARGA BELI/ PEROLEHAN</td>
<td class="xl110" style="border-left:medium none;border-right:.5pt solid black;width:113pt;" colspan="3" width="151">KEADAAN BARANG</td>
<td class="xl117" style="border-bottom:2pt double black;width:66pt;" rowspan="2" width="88">KETERANGAN MUTASI<span> </span>DLL</td>
</tr>
<tr style="height:45.75pt;">
<td class="xl70" style="border-top:medium none;border-left:medium none;height:45.75pt;width:28pt;" width="37" height="61">BAIK (B)</td>
<td class="xl70" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63">KURANG   BAIK (KB)</td>
<td class="xl70" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51">RUSAK   BERAT(RB)</td>
</tr>
<tr style="height:14.25pt;">
<td class="xl71" style="border-top:medium none;height:14.25pt;width:30pt;" width="40" height="19">1</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">2</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68">3</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117">4</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67">5</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75">6</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91">7</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100">8</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:53pt;" width="71">9</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86">10</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37">11</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63">12</td>
<td class="xl72" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51">13</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88">14</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl74" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17"></td>
<td class="xl75" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">RUANG   KEPALA SEKOLAH</td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:53pt;" width="71"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl76" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51"></td>
<td class="xl77" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">FILLING BOX</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ELITE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050104005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">FILLING BOX</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">YUNIKA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050104005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">JAM DINDING</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">QUART</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050202001</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI PUTAR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">UCHIWA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI SOFA</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 SET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17"></td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LAMBANG GARUDA</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">30X20</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KERTAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206026</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DINAS</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI ES</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">NATIONAL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">NR.A22KN.02811925</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">160X 80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI KACA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">280X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA BIRO</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X90</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75">KAYU</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91">2005</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100">2050201002</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37">B</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51"></td>
<td class="xl83" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA KECIL</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67">90X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MIKROPHONE</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">METAL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206014</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN PENGUMUMAN</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TAPE WAYERLESS</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">60X40</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206012</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17">13</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl78" style="border-top:medium none;height:12.75pt;width:30pt;" width="40" height="17"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:88pt;" width="117"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:50pt;" width="67"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="91"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:75pt;" width="100"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:53pt;" width="71"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:65pt;" width="86"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl82" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:38pt;" width="51"></td>
<td class="xl83" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:66pt;" width="88"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG WAKASEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CD PEMBELAJARAN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">371 PCS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 12.500.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GLOBE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105016</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI PUTAR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">UCHIWA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ELITE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI ARSIP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BANTUAN JPNG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI LOCKER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X110</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA GURU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA BIRO</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN<span> </span></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105010</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PETA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KERTAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105014</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TANDU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANGAN TU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">FILLING BOX</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ELITE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">140X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI LIPAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">90X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">190X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI ARSIP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BANTUAN JPNG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN POTONG RUMPUT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">STHIL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">NO.979012421</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050203003</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN TIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">18 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN PENGUMUMAN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X130</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GORDYIN/KRAY</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206058</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG GURU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CERMIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">90X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KACA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">JAM DINDING</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">QUART</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">12 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">160X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2080156081</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">12 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN PENGUMUMAN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X130</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050105010</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">5 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PETA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KERTAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CERET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DISPENSER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">EMBER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GELAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KOMPOR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">HOCK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ALMUNIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">13</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PANCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ALMUNIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">14</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PIRING</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DURALEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KACA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 LUSIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">15</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SENDOK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 LUSIN</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">16</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TOA MEGA PHONE</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">METAL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">17</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TONG SAMPAH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PLASTIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG PUSTAKA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">GEN SET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2080141101</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD/HILANG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KARPET</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">8MX6M</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANVAS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206056</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ACER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PRINT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">CANON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2060102067</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">UPS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ICA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI BUKU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">350X200</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI LOCKER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">200X180</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050201009</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">11 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN STENSIL</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050103001</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD/HILANG</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">POMPA AIR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SANYO</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUTIN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RAK BUKU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">200X180</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BESI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">6 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RAK SEPATU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">180X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050104004</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">13</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DVD PLAYER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SAMSUNG</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 1.000.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ABBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">14</td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TV<span> </span></td>
<td class="xl105" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PANASONIK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">29 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206002</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 4.000.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl79" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RUANG BELAJAR</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS X-1</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050201004</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">38 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>38 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">35 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS X-2</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">34 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">34 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">33 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS X-3</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">35 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XI-IPA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">34 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">33 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">33 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">32 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XI-IPS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">26 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">25 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">28 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XII-IPA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">28 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">26 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">25 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XII-IPS.1</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">38 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">37 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl86" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KELAS XII-IPS.2</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">100X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005/2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">36 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KANDEP/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TIANG BENDERA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl85" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">AULA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">KURSI LIPAT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">80X60</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SPON</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">87 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">63 B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">24 KB</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">7 RB</td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA PODIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X90</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl88" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LABORATORIUM</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">1</td>
<td class="xl90" style="border-left:medium none;">ALAT LAB IPA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 12.500.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">2</td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;">KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006/2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">10 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD/BRR</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">3</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA KOMPUTER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">120X80</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">11 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">4</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PAPAN TULIS</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">250X120</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TRIPLEK</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">5</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KURSI PANJANG</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">89 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">6</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MEJA PANJANG</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">12 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">MESIN JAHIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206022</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">PMI</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">7</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">LEMARI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">KAYU</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">6 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">8</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">AMPLIFIER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2005</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206005</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">2 BH</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">RB</td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD/DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">9</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">TAPE COMPO</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TOSIBHA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206004</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">10</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">TELEVISI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">SHARP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">29 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206002</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">11</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">LOUDSPEAKER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">TOA</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2006</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2050206007</td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">8 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">DD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17">12</td>
<td class="xl95" style="border-left:medium none;">LAP TOP</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">ACER</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">17 INCI</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl87" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 10.000.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl81" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl84" style="border-top:medium none;height:13.5pt;" height="18">13</td>
<td class="xl91" style="border-left:medium none;">IN FOKUS/ PROYEKTOR</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">BENQ</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2007</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl92" style="border-left:medium none;">1 UNIT</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rp. 10.000.000</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">B</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl96" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBN</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl93" style="height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
<td class="xl97"></td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Tenis Meja</td>
<td class="xl104" style="border-left:medium none;">Nittaku</td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-left:medium none;">2 Set</td>
<td class="xl100" style="border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>2.500.000<span> </span></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Cakram   1 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>180.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Cakram   1,5 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>270.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Gitar</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Kapuk</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>150.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Ula   Hop</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Rotan</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">5 Buah</td>
<td class="xl102" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>45.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Lembing   600 gr</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>590.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Lembing   700 gr</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>660.000</td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl94" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Peluru   1 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>80.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Peluru   3 kg</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>80.000</td>
<td class="xl103" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:28pt;" width="37"></td>
<td class="xl103" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:47pt;" width="63"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Ring   Basket</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Standard</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 Set</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>400.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Raket   Yoonex</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Yoonex</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">4 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>150.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Kaki</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Mikasa</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">3 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>250.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Volly</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Mikasa</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>250.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Basket</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Molten</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>300.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Shutle   Cook</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Garuda</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">5 Set</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>60.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Takraw</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Fiber Glass</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>250.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Futsall</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Molten</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>300.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Bola   Kasti</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Dunlop</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">6 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>70.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Skriping</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Speed</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>20.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:12.75pt;" height="17"></td>
<td class="xl98" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Sepatu   Bola</td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Speed</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl99" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl104" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">19 Buah</td>
<td class="xl101" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>115.000</td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl80" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td class="xl89" style="border-top:medium none;height:13.5pt;" height="18"></td>
<td class="xl106" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:126pt;" width="168">Net   Volly</td>
<td class="xl107" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">Molten</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl108" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">2008</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl107" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">1 Buah</td>
<td class="xl109" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"><span> </span>Rp<span> </span>150.000</td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;"></td>
<td class="xl89" style="border-top:medium none;border-left:medium none;">APBD</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
<col style="width:25pt;" width="33"></col>
<col style="width:98pt;" width="131"></col>
<col style="width:60pt;" width="80"></col>
<col style="width:45pt;" width="60"></col>
<col style="width:51pt;" width="68"></col>
<col style="width:59pt;" width="78"></col>
<col style="width:40pt;" width="53"></col>
<col style="width:32pt;" width="43"></col>
<col style="width:41pt;" width="55"></col>
<col style="width:54pt;" width="72"></col>
<col style="width:53pt;" width="70"></col>
<col style="width:26pt;" width="34"></col>
<col style="width:39pt;" span="2" width="52"></col>
<col style="width:56pt;" width="74"></col>
<col style="width:42pt;" width="56"></col>
<col style="width:67pt;" width="89"></col>
</table>
<table style="border-collapse:collapse;width:827pt;text-align:center;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="1100">
<tbody>
<tr style="height:18pt;">
<td class="xl107" style="height:18pt;width:827pt;" colspan="17" width="1100" height="24"></td>
</tr>
</tbody>
<col style="width:26pt;" width="35"></col>
<col style="width:68pt;" width="90"></col>
<col style="width:60pt;" width="80"></col>
<col style="width:62pt;" width="82"></col>
<col style="width:44pt;" width="59"></col>
<col style="width:51pt;" width="68"></col>
<col style="width:44pt;" width="58"></col>
<col style="width:36pt;" width="48"></col>
<col style="width:62pt;" width="83"></col>
<col style="width:56pt;" width="75"></col>
<col style="width:62pt;" width="83"></col>
<col style="width:54pt;" width="72"></col>
<col style="width:56pt;" width="75"></col>
<col style="width:57pt;" width="76"></col>
</table>
<table style="border-collapse:collapse;width:738pt;text-align:center;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="984">
<tbody>
<tr style="height:18pt;text-align:left;">
<td class="xl75" style="height:18pt;width:681pt;" colspan="13" width="908" height="24"><strong><em>KARTU INVENTARIS BARANG (KIB)<span> </span></em></strong></td>
<td class="xl63" style="width:57pt;" width="76"></td>
</tr>
<tr style="height:15.75pt;">
<td class="xl64" style="height:15.75pt;text-align:left;" colspan="13" height="21"><strong><em>TANAH</em></strong></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:15.75pt;">
<td class="xl64" style="height:15.75pt;" height="21"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:16.5pt;">
<td class="xl65" style="height:16.5pt;text-align:left;" colspan="2" height="22">PROVINSI</td>
<td class="xl65" style="text-align:left;" colspan="3">: NANGGROE ACEH   DARUSSALAM</td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:16.5pt;">
<td class="xl65" style="height:16.5pt;text-align:left;" colspan="2" height="22">KABUPATEN</td>
<td class="xl65" style="text-align:left;" colspan="2">: ACEH BESAR</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:16.5pt;">
<td class="xl65" style="height:16.5pt;text-align:left;" height="22">UNIT</td>
<td class="xl65"></td>
<td class="xl65" style="text-align:left;" colspan="2">: SMA NEGERI 1 LHOONG</td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl64"></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:16.5pt;">
<td class="xl65" style="height:16.5pt;" height="22"></td>
<td class="xl65"></td>
<td class="xl65"></td>
<td class="xl65"></td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:16.5pt;">
<td class="xl65" style="height:16.5pt;text-align:left;" colspan="2" height="22">NO   KODE LOKASI</td>
<td class="xl65" style="text-align:left;">: 203010</td>
<td class="xl65"></td>
<td class="xl66"></td>
<td class="xl67"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:7.5pt;">
<td class="xl63" style="height:7.5pt;" height="10"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
<td class="xl63"></td>
</tr>
<tr style="height:15.75pt;">
<td class="xl76" style="height:46.5pt;width:26pt;" rowspan="3" width="35" height="62">NO   URUT</td>
<td class="xl79" style="width:68pt;" rowspan="3" width="90">NAMA BARANG/ JENIS   BARANG</td>
<td class="xl79" style="width:122pt;" colspan="2" rowspan="2" width="162">NOMOR</td>
<td class="xl79" style="width:44pt;" rowspan="3" width="59">LUAS (M2)<span> </span></td>
<td class="xl79" style="width:51pt;" rowspan="3" width="68">TAHUN PENGADAAN</td>
<td class="xl79" style="width:44pt;" rowspan="3" width="58">LETAK/ ALAMAT</td>
<td class="xl79" style="border-left:medium none;width:154pt;" colspan="3" width="206">STATUS   TANAH</td>
<td class="xl79" style="width:62pt;" rowspan="3" width="83">PENGGUNAAN</td>
<td class="xl79" style="width:54pt;" rowspan="3" width="72">ASAL USUL</td>
<td class="xl79" style="width:56pt;" rowspan="3" width="75">HARGA (RIBUAN Rp)</td>
<td class="xl81" style="width:57pt;" rowspan="3" width="76">KET</td>
</tr>
<tr style="height:15pt;">
<td class="xl80" style="border-top:medium none;height:30.75pt;width:36pt;" rowspan="2" width="48" height="41">HAK</td>
<td class="xl80" style="border-left:medium none;width:118pt;" colspan="2" width="158">SERTIFIKAT</td>
</tr>
<tr style="height:15.75pt;">
<td class="xl68" style="border-top:medium none;border-left:medium none;height:15.75pt;width:60pt;" width="80" height="21">KODE BARANG</td>
<td class="xl68" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:62pt;" width="82">REGISTER</td>
<td class="xl68" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:62pt;" width="83">TANGGAL</td>
<td class="xl68" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75">NOMOR</td>
</tr>
<tr style="height:16.5pt;">
<td class="xl69" style="height:16.5pt;width:26pt;" width="35" height="22">1</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:68pt;" width="90">2</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:60pt;" width="80">3</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:62pt;" width="82">4</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:44pt;" width="59">5</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:51pt;" width="68">6</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:44pt;" width="58">7</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:36pt;" width="48">8</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:62pt;" width="83">9</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:56pt;" width="75">10</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:62pt;" width="83">11</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:54pt;" width="72">12</td>
<td class="xl70" style="border-left:medium none;width:56pt;" width="75">13</td>
<td class="xl71" style="border-left:medium none;width:57pt;" width="76">14</td>
</tr>
<tr style="height:43.5pt;">
<td class="xl72" style="border-top:medium none;height:43.5pt;width:26pt;" width="35" height="58">1</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:68pt;" width="90">TANAH</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:60pt;" width="80">203010</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:62pt;" width="82"></td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:44pt;" width="59">8468</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:51pt;" width="68">2005</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:44pt;" width="58">DESA   CUNDIEN</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:36pt;" width="48"></td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:62pt;" width="83"></td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75"></td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:62pt;" width="83"></td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:54pt;" width="72">SWADAYA</td>
<td class="xl73" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:56pt;" width="75"></td>
<td class="xl74" style="border-top:medium none;border-left:medium none;width:57pt;" width="76"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: sman1lhoong.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=69&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/24/69/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TEORI ADMINISTRASI &amp; MANAJEMEN</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/21/teori-administrasi/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/21/teori-administrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 16:11:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[  Teori Administrasi dan Manajamen Administrasi dan manajemen pendidikan bukanlah ilmu yang eksklusif yang berdiri sendiri, tetapi ilmu ini tumbuh dan berkembang dengan didukung oleh ilmu-ilmu sosial lain seperti ekonomi, sosiologi, psikologi dan lain sebagainva. O!eh karena itu keberadaan dan pengertian ilmu administrasi dikutip dari pendapat pakar dibawah ini; Henri Fayol 1841-1929) ilmuan manajemen Ferancis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=61&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><em><strong>Teori Administrasi dan Manajamen</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Administrasi dan manajemen pendidikan bukanlah ilmu yang eksklusif yang berdiri sendiri, tetapi ilmu ini tumbuh dan berkembang dengan didukung oleh ilmu-ilmu sosial lain seperti ekonomi, sosiologi, psikologi dan lain sebagainva. O!eh karena itu keberadaan dan pengertian ilmu administrasi dikutip dari pendapat pakar dibawah ini;</p>
<div id="attachment_471" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><a rel="attachment wp-att-471" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/21/teori-administrasi/fonds_henri_fayol/"><img class="size-medium wp-image-471" title="Fonds_henri_fayol" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/03/fonds_henri_fayol.jpg?w=224&#038;h=300" alt="Hendry Fayol" width="224" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Hendry Fayol</p></div>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Henri Fayol 1841-1929) ilmuan manajemen Ferancis disebut juga Bapak teori manajemen operasional.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Mengemukakan teori administrasi dapat diterapkan pada semua bentuk organisasi kerjasama manusia menekankan rasionalisme dan konsistensi logis. Administrasi merupakan, suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari berbagai kegiatan yang berhubungan dan bersambungan. Manusia merupakan pertimbangan penting dalam manajemen daripada alat-alat teknik moderen, bahasa dan sasaran ditetapkan dan dicapai melalui manusia, dengan demikian konsep penting dalam manajemen adalah manusia, lingkungan kerja, dan hubungan diantara mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Fayol memperhatikan organisasi pada tingkat atas yang disebut &#8220;top management&#8217; atau “general management” karenanya manajenen Fayol disebut &#8220;administrative managemenf. Jenis kegiatan yang dikenal dengan unsur Fayol terdiri dari 1. Merencanakan yaitu mempelajari keadaan yang akan datang dan menyusun rencana operasional, 2. Mengorganisasikan yaitu menentukan kebutuhan personel dan material dengan menyusun hubungan fungsi dan kegunaannya diantara komponen-komponen, 3. Memerintahkan atau mengarahkan yaitu membuat anggota staf mengetahui atau menyadari dan melaksanakan tugasnya masing-masing, 4. Mengkordinasikan yaitu mengkorelasikan dan menyatu arahkan kegiatan-kegiatan 5. Memeriksa atau mengontiol yaitu melihat dan mengatur agar semua, yang dilaksakan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan. Prinsip-prinsip pokok manajemen adalah 1. Kesatuan komando diangap penting karena pembagian tugas dalam organisasi adalah sangat spesialis, 2. Wewenang harus dapat dide!egasikan, 3. Inisiatif harus dimiliki oleh setiap manajer, dan 4. Adanya solidaritas kelompok. Prinsip-prinsip ini tidak bersifat kaku tetapi menyarankan bahwa pelaksanaannya luwes menggunakan strategi yang lugas.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Luther Gulick (1965) ahli Public Administration Amerika</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Mengemukakan administrasi bertalian dengan pelaksanaan kerja, dengan pencapaian tuiuan-tujuan yang telah ditentukan, dan ada 7 jenis kegiatan administrasi yaitu planning atau merencanakan, organizing atau mengorganisasikan, staffing kelanjutan dari pengorganisasian yaitu menempatkan orang-orang, directing yaitu memerintah atau mengarahkan, coordinating mengkordinasikan staf dan pekejaan, reporting yaitu kelanjutan dari fungsi pemeriksaan, dan budgeting,yaitu pengaturan pembiayaan yang dikenal dengan, POSDCORB.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Manajemen menjadi suatu ilmu jika teori-teorinya mampu menuntun-manajer dengan memberi kejelasan bahwa, apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu dan memungkinkan mereka meramalkan akibat-akibat dari tindakannya, pejalanan suatu ilmu teori-teori manajemen diuji dengan pengalaman. “Manajemen dipandang sebagai kiat karena mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan tugas, dan dipandang sebagai profesi karena dilandasi keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para professional dituntun suatu kode etik. Efisiensi adalah tujuan utama dari manajemen, system social dapat diramalkan seperti halnya system fisik atau psikal system, pengaru dari pada idiologi “scientific management”</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">William H. Newman (1951)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Administrasi dalam Pembimbingan kepemimpinan dan pengawasan usaha-usaha sekolompok orang kearah pencapaian tujuan bersama. Oranglah yang menjadi subjek dari</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">pekerjaan manajer bukan tanah, bukan gedung atau bahan-bahan mentah. Teori manalemen ialah percobaan untuk menggunakan klasifikasi factor-faktor produktif oleh para ekonom dasar untuk mencirikan fungsi-fungsi manajer.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Mengadakan kordinasi pelu memperhatikan 1). Menyederhanakan bentuk organisast vertical sependek mungkin, kalau tidak pelu jangan mengadakan bagian-bagian baru, tetapi lebih memadatkan bagian-bagian yang sudah ada, 2). Menyelaraskan antara rencana kerja dan tujuan, 3). Mengatur prosedur dan metode kerja dengan rapi, mengatur hubungan antara atasan dan bawahan dan sebaliknya, mengatur dan menyederhanakan- komunikasi vertical dan horizontal, 4). Berkeinginan kuat melakukan kordinasi dengan baik dan memupuk rasa solidaritas, dan 5). Melakukan pengawasan koordinasi secara efesien dan efektif oleh pemimpin.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Dwight Waldo (1955) ahli administrasi</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Adminisrtasi adalah suatu bentuk daya upaya manusia yang kooperatif, yang rnempunyai tingkat rasionalitas yang tinggi. Pernyataan ini membutuhkan kualifikasi lebih lanjut pertama bahwa administrasi bukanlah satu-satunya bentuk kerjasama manusia yang rasional, kedua ada suatu pertanyaan implicit yang penting terhadap ungkapan tingkat rasionalitas yang tinggi. Oleh Dwight Wildo (1955:224) administrasi digambarkan sebagai suatu bentuk daya upaya manusia dengan tingkat rasionalitas yang tinggi. Ciri administrasi adalah birokrasi, organisasi, dan manajemen organisasi menunjukkan struktur daripada administrasi sedangkan manajemen menunjukkan fungsinya, keduanya saling tergantung tidak dapat dipisahkan. Organisasi melihat administrasi dalam keadaannya yang statis dan mencari pola, sedangkan manajemen melihat administrasi dalam keadaan dinamis dan bergeraknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Hakekat manajernen adalah suatu rangkaian tindakan dengan maksud untuk mencapai hubungan kerjasama yang rasional dalam suatu system administrasi. Manajemen biasanya dipandang sebagai suatu rangkaian tindakan yang dimaksudkan untuk mencapai rasionalitas yang dilakukan dengan sadar, namun para praktisi menyadari bahwa terdapat adanya perbedaan antara maksud dan kenyataan dari manajemen.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">John M Pfiffner (1960)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Administrasi adalah suatu kegiatan proses terutama mengenai cara-cara (alat-alat) saranam untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, administrasi juga dapat dirumuskan sebagai pengoroanisasian dan pengarahan sumber daya manusia, tenaga kerja, dan matede untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Pfiffner membedakan adanya dua fungsi dalam organisasi yaitu fungsi lini dan fungsl staf. Unsur staf meliputi golongan staf umum (general staff), staf teknis (technical staf)&#8217; dan staf urusan rumah tanaga (auxifiay staff), General staf adalah staf yang paling dekat dengan pejabat lini yang ada pada tiap tingkatan operasi. Tugasnya membantu pejabat lini dalam menggariskan policy dengan jalan mencari keterangan-keterangan atau data-data, peraturan-peraturan, literature-literatur dan lain-lain kemudian menganalisa bahan dan menyimpulkan. Berdasarkan kesimpulan merumuskan tindakan-tindakan yang perlu diambil. Staf tiknis bertugas membantu penjabat lini dakam bidang teknis berupa nasehat-nasehat atau saran-saran perumusan yang bersifat bagaimana policy harus dijalalankan, man power yang dibutuhkan, dan memberi modote kerja bagaimana harus ditempuh supaya dapat menghasilkan efisiensi kerja yang tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Auxiliary staf bertugas menyediakan biaya-biaya, mencarikan orang-orangnya, alat tulis gedung-gedung dan, alat-alat perlengkapan lainnya. Organisasi adalah pola dari cara-cara dimana sejumlah orang berhubungan tatap muka satu dengan yang lain dan dalam melaksanakan tugas-tugas yang kompleks, menghubungkan mereka secara sistematis dan menetapkan tujuan bersama.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Ordway Tead (1953)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Administrasi adalah usaha yang luas mencakup segala bidang untuk memimpin, mengusahakan, mengatur kegiatan kejasama manusia yang ditujukan pada tujuan-tujuan dan maksud-maksud tertentu. Menitik beratkan pada segi rasa kepuasan dan kebahagiaan hati para pengikut (bawahan) terhadap, pemimpin atau manajer. Kepemimpinan sebagai segala macam kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang supaya mereka bersatu dan mau bekerjasama dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan. Ada 10 sifat ideal yang perlu dimiliki pemimpin yaitu 1). Memiliki kesehatan jasmani. dan rohani, 2). Kesadaran akan tujuan atau haluan yang akan ditempuh, 3). Kegairahan, 4). Ramah tamah dan kasih sayang, 5). Kejujuran, 6). Ahli dalam bidangnya, 7). Selalu bersikap tegas, 8). Cerdas, 9). Mampu mengajar, dan 10). Mempunyai keyakinan yang teguh (faith).</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Ensiklopedi Manajemen (1979)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Administrasi adalah pekerjan-pekerjaan dalam rangka kebijaksanaap yang diletakkan oleh manajer-manajer yang lebih tinggi atau ditetapkan oleh orang yang lebib dahulu memenganmg jabatan. Administrasi meliputi semua fungsi dan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan pelaksanaan atau pencapaian tujuan yang sebenamya. Fungsi administrasi berhubungan dengan masalah-masalah kepemimpinan.,dalam arti sempit: Kegiatannya mefipub kegiatan untuk melihat ke depan, mengorganisasikan, mengeluarkan perintah-perintah, mengkoodinasikan dan melaksanakan pengawasan. Tetapi fungsi administrasi dalam pikiran Fayol mempunyai kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan fungsi teknis, komersil, keamanan, keuangan dan komtabel.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">George R. Tet7y (1966)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Sebagai result management merupakan sebuah system yang terdiri dari komponen-komponen tertentu dimana masing-masing pegawai turut berpartisipasi dalam, hal menentukan sasaran pribadi maupun alat-alat dengan apa orang mengharapkan untuk mencapai sasaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Hasil-hasil merupakan focus dan kriteria yang menentukan suksesnya anggota manajemen, bilamana jumlah bawahan yang dikendalikan, seorang atasan sedikit, maka atasan ini dapat memimpin dengan lebih efektif, tetapi bila bawahan terlalu sedikit dapat juga menyebabkan pekerjaan tidak selesai atau waktu tidak dapat digumakan secara efektif. Ruang lingkup otorilas tergantung pada jenis pekerjaan rutin (apakah rutin, berulang-ulang atau homogen), kemampuan pemimpin, lokasi relatifnya dalam struktur organisasi, dan kepercayaan terhiadap bawahan untuk bekerja dan kerjasama dengan baik.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Koont 0 Donnel (1984)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Management is the process of designing and maintaining an enviroment in which individuals, working together in groups, efficiency accomplish selected aims. This basic definition needs to be expanded:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal">As manager people carry out the managerial function of planning, organizing, staffing, leading and controlling.</li>
<li class="MsoNormal">Management applies to any kind of organization</li>
<li class="MsoNormal">It applies to managers at all organizational level</li>
<li class="MsoNormal">The aim of all managers is the same to create a surplus</li>
<li class="MsoNormal">Managing is concemed with productivity, this implies effectiveness and efficiency.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Manajemen adalah proses untuk merencanakan dan mempertahankan lingkungan di mana individu dapat bekerja sama dalam kelompok, secara efisien dalam rangka mencapai tujuan. Pengertian mengandung makna sebagai berikut:</p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal">Sebagai manager melaksanakan fungsi manajemen; perencanaan, mengorganisasikan, pembagian staf, mengarahkan dan pengawasan.</li>
<li class="MsoNormal">Menerapkan manajemen untuk kebalikan organisasi</li>
<li class="MsoNormal">Berlaku untuk manager pada setiap level organisasi</li>
<li class="MsoNormal">Tujuan setiap manager adalah sama unkik mencapai surplus</li>
<li class="MsoNormal">Manajemen consem terhadap produktivitas berimplikasi efekfivitas dan efisiensi.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Pengeloalaan adalah yang esensial pada, semua keja sama yang terorganisasi, begitu juga pada tingkat organisasi dalam sebuah perusahaan. Manajemen bukan hanya fungsi seorang direktur perusahaan dan panglima angkatan besenjata, tetapi juga merupakan fungsi penyelia atau supervisor. Karena manajemen yang efektif dan efisien menuntut agar semua orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan orang lain, pada semua tingkat dan dalam setiap jenis organisasi memandang dirinya sebagai manajer.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Frederick W. Taylor (1856-1915) Insinyur Amerika aiau Bapak gerakan manajemen ilmiah sebagai pelopor timbulnya ilmu administrasi</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Mengemukakan ada empat prinsip-prinsip atau petunjuk-petunjuk manajernen yang penting yaitu pengembangan metode kerja yang baik, pemilihan serta pengembangan pekerja-pekerja, usaha untuk menghubungkan dan mempersatukan metode kerja yang (terbaik, terpilih, dan terlatih), dan kerjasama yang erat para manajer dan non manajer meliputi pembagian kerja dan tanggungjawab manajer merencanakan -pekerjaan. Pemborosan atau kerugian disebabkan oleh pekerjaan pemimpin yang tidak efektif, pembagian kerja yang kurang baik, dan pengawasan (supervisi) yang kurang baik pada tingkat operasional. Semua usaha yang produktif harus diukur dengan waktu yang dipergunakan, upah harus disesuaikan dengan hasil waktu, pekerja harus mendapatkan latihan agar mereka mendapat metode yang praktis dan efektif, adanya pengawasan yang kontinu, dan dijalankannya fungsi-fungsi manajemen dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sasaran manajemen adalah mendapatkan kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawannya. Untuk itu manajemen hanus menjalankan prinsip-prinsip; 1. Perlunya dikembangkan ilmu bagi setiap petugas, 2. Pemilihan karyawan yang tepat sesuai dengan persyaratan kerja 3. Perlunya pelatihan dan pemberian ransangan, dan 4, Perlunya dilakukan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan. Peninakatan efisiensi dalam produksi, tidak hanya untuk menentukan biaya dan menaikkan laba, tetapi juga untuk memungkinkan penambahan upah bagi para pekerja melalui produktifitas yang Ilebilh tM.ggi lanpa usaha vang bedebihan dad pihak pekerja. Produktifitas fnerupakan jawaban terhadap upah yang lebith &#8216;(:Ingg;i dan !aba yang lebih tingui pula dengan rnenerapkan metode i1miah, bul&#8217;,Nannya cara-cara yang gampang dikerjakan dan asal jadi, dapat mencapai produktifitas itu tanpa pemborosan lebih banyak energi atau usaha manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Manajemen ilmiah bukanlah merupakan alat untuk menghasilkan efisiensi, dan bukan alat untuk menjamin adanya efesiensi. Manajemen bukan system baru untuk menghitung biaya, bukan rencana baru untuk mengubah orang, bukan system gaji tambahan, bukan bermaksud mengawasi seseorang dengan memegang jam, bukan studi tentang dinamika ataupun analisis mengenai gerak gerik manusia, bukan pencetakan sejumlah formulir, dan bukan alat manapun yang diingat oleh kebanyakan orang apabila manajemen ilmiah dibicarakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Manajemen ilmiah mencakup suatu revulusi mental yang lengkap pada pihak pekerja yang terlihat dalam usaha tertentu, suatu revolusi mental lengkap pada pihak orang-orang mengenai kewajiban-kewajiban mereka terhadap pekerjaan mereka. Revolusi mental terjadi dalam sikap mental kedua pihak dalam manajemen ilmilah adalah kedua pihak berpaling dari pembagian surplus sebagai hal yang paling penting. Pandekatan ilmiah dalam manajemen dapat diringkas sebagai berikut: 1. Menggantikan cara yang asal-asalan dengan ilmu pengetahuan yang tersusun, 2. Mengusahakan keharmonisan dalam, gerakan kelompok, dan bukannya perpecahan, 3. Mencapai kerjasama manusia, dan bukannya individualisms yang kacau, 4. Bekerja untuk output yang maksimum, dan bukannya output yang terbatas, dan 5. Mengembangkan semua pekerja sampai taraf yang setinggi-dingginya untuk kesejahteraan maksimum mereka sendiri dan perusahaan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Max Weber (186,41920) pionir terkemuka pengembangan teori birokrasi</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Dimana birokrati merupakan ciri dari pola organisasi yang strukturnya dibuat sedemikian rupa sehingga secara maksimal dapat memanfaatkan tenaga ahli,- Organisasi harus diatur secara rasional, impersonal dan bebas dari sikap prasangka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karektiristik birokrasi ditandai dengan . 1. Adanya pembagian tugas dan spesialisasi. Setiap individu dalam oganisasi mempunyai wewenang yang diatur oleh berbagai peraturan, kebijakan dan ketetapan hukum. 2. Hubungan yang terjadi dalam organisasi adalah hubungan impersonal. 3. Dalam organisasi ada hierarki wewenang, yaitu setiap bagian yang lebih rendah selalu berada di bawah wewenang dan supervisi dari bagian di atasnya. 4. Administrasi selalu didasarkan dan dilaksanakan dengan dokumen tertulis. 5. Orientasi pembinaan pegawai adalah pengembangan karir, yang berarti keahlian menupakan kriteria utama diterima tidaknya seseorang sebagai anggota organisasi dan promosi dalam organisasi. 6. Setiap tindakan yang diambil organisasi harus selalu dikaitkan dengan besarnya sumbangan terhadap pencapaian tujuan organisasi, sehingga dapat dicapai efisie, yang maksimal. Birokrasi meupakan usaha untuk menghilangkan tradisi organisasi yang membuat keputusan secara emosional, atau berdasarkan ikatan kekeluargaan sehingga mengakibatkan organisasi tidak efektif. Birokrasi ada hubungannya dengan prosedur yang berbelit-belit, penundaan pekerjaan, ketidak efisienan, dan pemborosan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">G Elton Mayo (1880-1949) sosiolog dari Harvard</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Menekankan pentingnya faktor-faktor manusia dan social dalam hubungan industri, factor fisik seperti penerangan dan kondisi kerja mendapat perhatian utama, tetapi faktor psikologis menjadi gejala yang lebih penting, Mayo juga mempermasalahkan penghargaan yang berlebihan atas kemampuan teknis; pada pengeluaran orang-orang yang berkemampuan bidang social. Konsekwensi bagi masyarakat yang tidak dapat menyeimbangkan antara perkembangan kemampuan teknis dengan kemampuan social adalah bencana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Bagian signifikan dari masalah itu dapat dilacak dari perbedaan antara ilmu-ilmu yang berhasil (kimia, fisika, dan fisioiogi) dengan ilmu-ilmu yang tidak berhasil (psikologi, sosiologi, dan politik). Ilmu-ilmu yang tidak berhasil tampaknya tidak membekali pelajar dengan- kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam situasi manusia sehari-hari tidak ada kontak kontinu dan, langsung dengan fakta-fakta social yang direncanakan.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Chester L Barnard (1886-1961) seorang eksekutif di New Jersey sebagai pencetus</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">pendekatan system social terhadap manajemen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Teori organisasinya menekankan pendekatan aspek sosiologis dalam manajemen,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">dari prinsip-prinsip kerjasama kelompok sampai kepada prinsip-prinsip organisasi formil</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">memusatkan pada pentingnya otorita komunikasi dalam organisasi informal manajemen. Hakekat organisasi adalah kerjasama, yaitu kesediaan orang saling berkomunikasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama. Suatu manajemen dapat bekerja secara efisien dan tetap hidup jika organisasi itu dijaga seimbang, pengalaman kerja dan hasil kerja studi dalam bidang social dan filsafat untuk merumuskan teori-teorinya mengenai kehidupan organisasi. Konsep-konsep organisasi informal, pengambilan keputusan, status, dan komunikasi yang merupakan topik untuk pertimbangan manajemen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Fungsi-fungsi eksekutif condong kepada teori organisasi yang mementingkan segi-segi kepemimpinan dari jalannya fungsi-fungsi manajerial dan pentingnya komunikasi. Penelitian Bamard mengenai proses pengambilan keputusan dengan perhatian yang khas untuk mencari faktorya yang strategis membukakan pandangan &#8216;baru untuk mencari prinsip-prinsip manajemen. Tugas manajer adalah membina system kerjasama dalam organisasi formal menggunakan pendekatan system social komprehensif terhadap manajemen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Tugas eksekutif memelihara suatu system usaha kerjasama dalam organisasi formal. Pembatasan-pembatasan fisis dan biologis terhadap individu-individu membawa mereka kepada kerjasama dalam kelompok, tindakan kerjasama mendorong terbentuknya system kerjasama dimana terdapat faktor atau unsur-unsur fisis, biologis, kepribadian, dan social. Setiap system kerjasama dapat dibagi kedalam dua bagian yakni organisasi yang hanya meliputi interaksiiinteraksi dari mereka yang berada dalam system itu dan system lairinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Organisasi dapat dibagi dalam dua Jenis yaitut organisasi forma yang terdiri dari kumpulan interaksi social yang dikordinasikan secara sengaja dan yang mempunyai tujuan bersarna. Organisasi formal tidak dapat berlangsung kalau tidak ada orang-orang yang dapat saling berkomunikasi, mau menyumbang pada kegiatan kelompok, dan sadar mempunyai tujuan umum. Kemudian organisasi informal yaitu interaksi-interaksi social tanpa tujuan bersama yang umum atau tidak dikordinasikan secara sengaja. Sistem informal amat penting dalam organisasi, dan peranan administrator dalam memeliha.ra sys!em in!eraksi itu, peranan informal mendukung proses pembuatan keputsan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Organisasi informal sebagai pola interaksi informal para karyawan yang berkembang sebagai suatu reaksi terhadap pengaruh dari pada ofganisasi formal. Setiap organisasi formal harus mencakup unsur-unsur system fungsionalisasi sehingga orang-orang dapat berspesialisasi, system perangsang yang efektiff dan efisien yang akan membuat orang menyumbang kepada kegiatan kelompok, system kekuasaan yang akan menyebabkan anggota kelompok menerima keputusan-keputusan eksekutif, dan system pengambilan keputusan yang logis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Fungsikfungsi eksekutif dalam organisasi formal adalah pemeliharaaa komunikasi organisasi melalui suatu skema organisasi (adanya orang-orang yang setia, bertanggung jawab dan mampu bekerja, serta suatu organisasi informal eksekutif yang rukun), pedindungan terhadap .pekedaan pokok da6 individu-iridividu dalarn organisasi, dan perumusan* dan penentuan tujuan ~(perencanaan). Fungsi-fungsi eksekutif memasuki proses melalui pekerjaan eksekutif dalarn integrasikan keseluruhannya (Jan dalam. menemukan keseimbangan yang paling baik tara kekuatan-kekuatan dan kejadian-kejadian yang berlawanan. Untuk mengefektifkan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">~&#8221;utit dipedukan suatu tata kepemirrpinan yang mempunvai tanggungjawab tinggi, bukannya impinan yang menjadi proses kreatif tetapi kepernimpinar, adalah pengecarn yang sangat ukan terhadap kekuatan-kekuatannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Kurt lewin (1890-1947)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengembangkan riset dan teori dinamika kelompok, studenya terhadap kelompok-kelompok kecil mengantarkannya serta para pengikutnya untuk menghususkan diri pada keuntungan-keuntungan partisipasi kelompok dan peningkatan interaksi diantara para anggota kelompok.</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Peter Drucker (1909-1954)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengembangkan konsep manajemen dengan sasaran management by objecktives&#8217;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">#SO) telah memacu banyak pengkajian, evaluasi, dan dset merupakan teknik manajemen yang ~.!Rlembantu memperjelas dan menjabarkan tahapan tujuan organisesi. MBO melakuk3n proses ftnentuan tujuan bersama antara atasan dan-bawahan, manaler tingkat atas bersama-sama an manajer tingkat bawah.menentukan tujuan unit kerja agar serasi dengan lujuan organisasi.</p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=61&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/21/teori-administrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/03/fonds_henri_fayol.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">Fonds_henri_fayol</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>konsep perencanaan human investment &amp; social demand</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/18/konsep-perencanaan-human-investment-social-demand/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/18/konsep-perencanaan-human-investment-social-demand/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 16:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[my job]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Rumusan konsep perencanaan pendidikan dalam konteks human invesment dan pembangunankewilayahan Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembangunan suatu bangsa. Berbagai kajian di banyak Negara menunjukan kuatnya hubungan antara pendidikan (sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia manusia) dengan tingkat perkembangan bangsa-bangsa tersebut yang ditunjukkan oleh berbagai indikator ekonomi dan social budaya. Pendidikan yang mampu memfasilitasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=51&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><strong><em></em></strong><strong><em>Rumusan konsep perencanaan pendidikan</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><strong><em> dalam konteks human invesment dan pembangunankewilayahan</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;">Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembangunan suatu bangsa. Berbagai kajian di banyak Negara menunjukan kuatnya hubungan antara pendidikan (sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia manusia) dengan tingkat perkembangan bangsa-bangsa tersebut yang ditunjukkan oleh berbagai indikator ekonomi dan social budaya. Pendidikan yang mampu memfasilitasi perubahan adalah pendidikan yang merata, bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakatnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;">Pembangunan nasional yang kita laksanakan adalah manifestasi tanggung jawab kebangsaan dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Pembangunan bidang pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah ersama masyarakat merupakan upaya pengejawantahan salah satu cita-¬cita nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses pencerdasan bangsa dilakukan baik melalui jalur sekoelah maupun jalur luar sekolah. Pada gilirannya, kesempatan mem¬peroleh pendidikan untuk semua (education for all) semakin dirasakan masyarakat, karena pendidikan dijadikan kebutuhan pokok (basic needs) dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kemudian, pembangunan bidang pendidikan mengemban misi pemerataan pendidikan yang menimbulkan ledakan pendidikan (education explosion). Hal itu memberikan peningkatan mutu secara sangat signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia (human resources development) bangsa kita. Strategi pendidikan nasional ketika itu adalah popularisasi pendidikan yang mengakar pada pemerataan pendidikan. Lebih jauh semakin dirasakan bahwa pembangunan sekolah-sekolah memiliki fungsi strategis bagi peningkatan kualitas warga negara, harkat, dan martabat bangsa Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Sebagai usaha peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Untuk memperbaiki mutu proses pencerdasan bangsa yang berkelanjutan, pelaksanaan pendidikan jalur sekolah melalui pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi serta pendidikan jalur luar sekolah, maka perlu disinergikan aktivitasnya. Lembaga pendidikan harus menempatkan dirinya sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) bangsa In¬donesia. Karena itu, kualitas pendidikan nasional perlu terus ditingkatkan yang dilaksanakan sebagai bagian integral dari program pembangunan nasional (Syafaruddin, 2002: 2).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Pembangunan bidang pendidikan di Indonesia memiliki kerangka hukum (legal frame work) yang kuat sejak. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, &#8220;Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. &#8221; Oleh karena itu, seluruh jalur, jenis, dan jenjang pendidikan diakomodasi dan dibina dalam suatu sistem pendidikan nasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Keberadaan lulusan lembaga pendidikan merupakan SDM yang menjadi subjek dan objek pembangunan yang perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Semua jalur pendidikan dalam fungsi, proses, dan aktivitasnya, harus bermuara pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Tulisan ini mencoba menganalisis Konsep human investment dalam konteks pembangunan masyarakat. Pokok bahasan ini mengkaji konsep educated people, multiflying effects, kecerdasan menurut mukadimah UUD&#8217;45, dimensi dan pendekatan human investment.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em>Dimensi dan Pendekatan Human Investment</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Pendidikan merupakan barang investasi (invesment goods) yang berarti sejumlah pengeluaran untuk mendukung pendidikan yang dilakukan orang tua, masyarakat dan pemerintah dalam jangka pendek untuk mendapatkan manfaat dalam jangka panjang. Keluarga, masyarakat dan pemerintah rela melakukan pengorbanan untuk kepentingan pendidikan demi manfaat dimasa depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Pengelola pendidikan adalah pihak yang terkait langsung dengan proses pendidikan. Pendidikan tidak ubahnya dengan proses produksi yang bergerak untuk merubah serangkaian sumber-sumber menjadi output atau keluaran. Dengan demikian proses pendidikan adalah tindakan merubah sumber-sumber pendidikan menjadi keluaran pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Masyarakat dunia saat ini sudah dihadapkan pada situasi yang menggelobal, globalisasi demikian istilah yang sering didengar. Globalisasi merupakan proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Globalisasi tersebut memiliki konsekuensi terjadinya perubahan dalam segala tatanan kehidupan, tidak hanya dihadapi oleh sektor pendidikan akan tetapi semua sektor yang ada turut menghadapinya, globalisasi mau tidak mau harus dihadapi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Syafaruddin (2002: 5) menjelaskan dua acuan dalam memahami arti globalisasi tersebut yaitu Thinks, and Acts. Dua kata kerja aktif yaitu berpikir (Thinks) dan bertindak (Acts). Agar dapat berpikir dan bertindak sehingga dapat mengambil manfaat positif maka diperlukan kualitas berpikir dan kualitas bertindak. Kualitas tersebut hanya akan terjadi apabila ada semacam perubahan kualitas pandangan masyarakat, perubahan kualitas pandangan masyarakat hanya akan terjadi melalui proses pendidikan. Sehingga tidak berlebihan apabila globalisasi yang akan dihadapi dengan berpikir dan bertindak tersebut hanya akan mendapatkan hasil yang optimal melalui pelaksanaan proses pendidikan yang berkualitas dan atau bermutu yang mampu nnrnjawab tuntutan yang global tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kualitas pendidikan meliputi pertama, produk pendidikan yang dihasilkan berupa persentase peserta didik yang berhasil lulus dari lulusan tersebut dapat diserap oleh lapangan kerja yang tersedia atau membuka lapangan kerja sendiri, baik dengan cara meniru yang sudah ada atau menciptakan yang baru. Kedua, Proses pendidikannya sendiri, proses pendidikan ini menyangkut pengelolaan kelas yang scsuai pada kondisi kelas yang relatif kecil, penggunaan metode pengajaran yang tepat serta pada lingkungan masyarakat yang kondusif. Ketiga, adanya kontrol pada sumber-sumber pendidikan (inputs) yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Secara umum kualitas pendidikan tersebut diwarnai empat kriteria yaitu pertama, kualitas awal peserta didik. Kedua, penggunaan dan pemilihan sumber-sumber pendidikan yang berkualitas. Ketiga, proses belajar dan mengajar. Keempat, keluaran pendidikan. Berbagai masalah yang terjadi dan belum terciptanya kualitas atau mutu pendidikan yang dicita-citakan, mensyaratkan bahwa pendidikan di Indonesia harus terus dibangun dan dibenahi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Empat aspek sasaran pembangunan pendidikan yang ada adalah: Pertama, pembangunan pendidikan harus dapat menjamin kesempatan belajar bagi warga masyarakat secara keseluruhan. Kedua, pembangunan pendidikan harus memiliki relevansi, yaitu proses pendidikan yang dilakukan dan lulusannya harus dapat memenuhi kebutuhan industri. Ketiga, pembangunan pendidikan harus diarahkan pada mutu pengajaran dan lulusan. Pengembangan mutu ini akan tergantung dari efektivitas belajar mengajar dan sumber daya pendidikan seperti guru yang bermutu, dana memadai, fasilitas dan infrastruktur yang memadai pula. Keempat, pembangunan pendidikan harus mengarah pada terciptanya efisiensi pengelolaan pendidikan, efisiensi pengelolaan pendidikan akan tercapai apabila tujuan pendidikan tercapai (Ministry of Education and Cultural, 1992). Pembangunan pendidikan tersebut memiliki tujuan pada terciptanya kualitas pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Konsep pendidikan sebagai sebuah investasi (education as investement) telah berkembang secara pesat dan semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainnya. Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth), sebenarnya telah mulai dipikirkan sejak jaman Adam Smith (1776), Heinrich Von Thunen (1875) dan para teoritisi klasik lainya sebelum abad ke 19 yang menekankan pentingnya investasi keterampilan manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pemikiran ilmiah ini baru mengambil tonggal penting pada tahun 1960-an ketika pidato Theodore Schultz pada tahun 1960 yang berjudul “Investement in human capital” dihadapan The American Economic Association merupakan peletak dasar teori human capital modern. Pesan utama dari pidato tersebut sederhana bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi (Fattah, 2004: 5)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Schultz (1960) kemudian memperhatikan bahwa pembangunan sektor pendidikan dengan manusia sebagai fokus intinya telah memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan produksi dari tenaga kerja. Penemuan dan cara pandang ini telah mendorong ketertarikan sejumlah ahli untuk meneliti mengenai nilai ekonomi dari pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Alasan utama dari perubahan pandangan ini adalah adanya pertumbuhan minat dan interest selama tahun 1960-an mengenai nilai ekonomi dari pendidikan. Pada tahun 1962, Bowman, mengenalkan suatu konsep “revolusi investasi manusia di dalam pemikiran ekonomis”. Para peneliti lainnya seperti Becker (1993) dan yang lainnya turut melakukan pengujian terhadap teori human capital ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Perkembangan tersebut telah mempengaruhi pola pemikiran berbagai pihak, termasuk pemerintah, perencana, lembaga-lembaga internasional, para peneliti dan pemikir modern lainnya, serta para pelaksana dalam pembangunan sektor pendidikan dan pengembangan SDM. Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investement) dan menjadi leading sector atau salah satu sektor utama. Oleh karena perhatian pemerintahnya terhadap pembangunan sektor ini sungguh-sungguh, misalnya komitment politik anggaran sektor pendidikan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Hasil penelitian yang dilakukan Bramley (1991:9) mengemukakan bahwa “Ada beberapa hasil efektif dari pendidikan untuk peningkatan kualitas SDM, yaitu: pencapaian tujuan, peningkatan kualitas sumber daya (SDM dan sumber daya lain), kepuasan pelanggan, dan perbaikan proses internal.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Sebelumnya, Sutermeister (1976:3) mengemukakan bahwa “Perubahan dan peningkatan kualitas SDM dipengaruhi oleh pendidikan. Pendidikan diperhitungkan sebagai faktor penentu keberhasilan seseorang, baik secara sosial maupun ekonomi. Nilai pendidikan merupakan aset moral, yaitu dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pendidikan merupakan investasi. Pandangan ini ditinjau dari sudut human capital (SDM sebagai unsur modal).”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Beberapa penelitian neoklasik lain, telah dapat meyakinkan kembali secara ilmiah akan pentingnya manusia yang terdidik menunjang pertumbuhan ekonomi secara langsung bahwa seluruh sektor pembangunan makro lainnya. Atas dasar keyakinan ilmiah itulah akhirnya Bank Dunia kembali merealisasikan program bantuan internasionalnya di berbagai negara. Kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ini menjadi semakin kuat setelah memperhitungkan efek interaksi antara pendidikan dan investasi fisik lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Artinya, investasi modal fisik akan berlipat ghanda nilai tambahnya di kemudian hari jika pada saat yang sama dilakukan juga investasi SDM, yang secara langsung akan menjadi pelaku dan pengguna dalam investasi fisik tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Sekarang diakui bahwa pengembangan SDM suatu negara adalah unsur pokok bagi kemakmuran dan pertumbuhan dan untuk penggunaan yang efektif atas sumber daya modal fisiknya. Investasi dalam bentuk modal manusia adalah suatu komponen integral dari semua upaya pembangyunan. Pendidikan harus meliputi suatu spektrum yang luas dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Pengembangan SDM melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Sebuah studi lain oleh dilakukan untuk Bank Dunia dan disajikan dalam World Development Report 1980 menguji perkiraan tingkat pengembalian ekonomi (rate of return) terhadap investasi dalam bidnag pendidikan di 44 negara sedang berkembang. Disimpulkan bahwa nilai manfaat balikan semua tingkat pendidikan berada jauh diatas 10 persen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja. Di negara-negara sedang berkembang umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi dari pada investasi modal fisik yaitu 20 % dibanding 15 %. Sementara itu di negara-negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9 % dibanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Suryadi: 1999, 247).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;">Investasi di bidang pengembangan SDM (human investment) merupakan suatu proses yang panjang dan untuk menunjang  keberhasilan perencanaan tersebut, pendidikan dan pelathan harus dijadikan suatu tolok ukur untuk membangun suatu negara. Tetapi pendidikan diibaratkan sebagai suatu kereta yang ditarik kuda, artinya keberhasilan proses pendidikan merupakan kontribusi dari lintas sektoral yaitu tenaga kerja, industri ekonomi, budaya dan lain sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><strong><em>Strategi implemetasi pendekatan social demand sehingga dapat mewujudkan human dignity</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><strong><em>Konsep educated people</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Konsep educated people (masyarakat terdidik) pada hakikatnya merupakan konsekwensi dari kebutuhan masyarakat dalam perubahan dan kebutuhan kehidupan. Amanat UUD 1945 mengatakan bahwa pemerintah akan mewujudkan suatu system pendidikan yang mencerdaskan rakyat. Artinya pendidikan yang mampu ngantarkan rakyatnya menjadi manusia manusia terdidik yang mampu menghadapi kehidupan dengan sebaiknya dalam kerangka mencapai tujuan nasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam penelitiannya, Giddens, seperti dikutip oleh Tillar (2008:120), menyebutkan bahwa dalam proses demokrasi terjadi suatu proses yang rasional. Oleh sebab itu dibutuhkan anggota di dalam masyarakat yang demokratis memiliki kemampuan untuk menimbang dan mengambil keputusan yang rasional dan menguntungka seluruh masyarakat. Sudah dapat diterka, bahwa anggota masyarakat yang demikian adalah masyarakat yang terdidik (educated people).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Masyarakat yang terdidik atau cerdas adalah masyarakat yang terbuka yang dapat melihat secara transparan dan jernih keputusan yang diambil bersama serta melaksanakan keputusan tersebut. Inilah yang disebut prinsip akuntabilitas di dalam masyarakat demokratis, di mana kekuasaan bukan merupakan penerapan keinginan dari sekolompok kecil yang duduk di dalam pemerintahan atau tampuk kekuasaan, tetapi keputusan yang akuntabel yang lahir dari bawah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Keputusan bersama itu telah dicapai melalui melalui suatu proses partisipasi dari para anggotanya.partisipasi yang reflektif dari para anggotanya hanya dapat diperoleh apabila para anggotanya adalah orang-orang yang cerdas, terdidik, yang tidak tertekan, yang tidak membeo, dan tidak mengikuti pendapat-pendapat yang tidak rasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;"><strong><em>Multiplying effects</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Peranan dan fungsi multiplying effects manusia terdidik sebagai hasil investasi pendiddikan seperti diungkapkan Cheng (1996:7) bahwa bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demoktratis. Selain itu orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara lebih baik dibandingkan dengan yang kurang berpendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Orang yang berpendidikan diharapkan tidak memiliki kecenderungan orientasi materi/uang apalagi untuk memperkaya diri sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">UNESCO (1996) dalam buku Learning: The Treasure Within telah mencanangkan empat pilar pendidikan abad ke-21 yang perlu diterapkan konsepnya dalam pendidikan nasional, yaitu: (1) belajar untuk mengetahui (learning to know), (2) belajar untuk melakukan sesuatu/bekerja terampil (learning to do), (3) belajar untuk menjadi seseorang/pribadi (learning to be), dan (4) belajar untuk menjalani kehidupan bersama (learning to live together). Dalam konteks keindonesiaan, sistem pendidikan nasional berkewajiban mempersiapkan setiap warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan dengan cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di lembaga nonformal, bahkan di tempat kerja. Pendidikan jalur sekolah dan jalur luar sekolah secara bersama menjalankan fungsi untuk mencapai empat pilar pendidikan yang harus ada dalam tujuan pendidikan nasional kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Sebagai suatu subsistem dari sistem nasional, pendidikan dipengaruhi oleh subsistem ekonomi, politik, hukum, dan budaya yang berkembang. Di samping itu, sebagai sistem itu sendiri pendidikan nasional merupakan sistem terbuka (open system) yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungannya. Manajemen dan kepemimpinan pendidikan, sumber daya manusia (pendidik, pegawai), sumber daya material (sarana dan fasilitas), kurikulum, pembiayaan, dan organisasi pendidikan sebagai faktor internal, senantiasa dipengaruhi lingkungan eksternal yang mencakup regional dan internasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Berbagai penelitian lainnya relatif selalu menunjukan bahwa nilai balikan modal manusia lebih besar daripada modal fisik. Tidak ada negara di dunia yang mengalami kemajuan pesat dengan dukungan SDM yang rendah pendidikannya. Jadi kalau kita mengharapkan kemajuan pembangunan dengan tidak menjadikan modal manusia (sektor pendidikan) sebagai prasyarat utama, maka sama dengan “si pungguk merindukan bulan”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Globalisasi ditandai dari pergeseran tiga bidang, yaitu: ekonomi, politik, dan budaya. Dalam bidang ekonomi telah terjadi liberalisasi ekonomi, dalam bidang politik terjadi demokratisasi, dan dalam bidang budaya terjadi univer-salisasi nilai-nilai yang menuntut setiap bangsa membangun jati diri bangsanya. Di sini terjadi suatu pergantian paradigma pada berbagai aspek kehidupan suatu kelompok masyarakat dan bangsa yang disebabkan oleh globalisasi. Konsekuensinya adalah setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetisi global. Harapan itu akan bisa dicapai dengan baik jika didukung oleh SDM berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa. Isu globalisasi yang gencar dengan tuntutan implementasi ide-ide demokratisasi, penggunaan IPTEK yang canggih, pemeliharaan lingkungan hidup dan penegakan hak asasi manusia (HAM), hanya mungkin terjawab oleh SDM yang bermutu dan memiliki integritas dan profesional. Dengan kata lain, perbaikan mutu (quality improvement) menjadi paradigma baru pendidikan ke depan. Hal yang fenomenal dewasa ini, bahwa untuk sebuah harapan hasil pendidikan bermutu, masyarakat atau orang tua mau membayar mahal biaya sekolah demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kita berada dalam situasi yang kurang menyenangkan, baik dilihat dari ekonomi maupun transisi politik menuju demokrasi, sementara desakan globalisasi terasa menyesakkan dada bagi orang yang peduli terhadap nasib bangsa ini. Dalam situasi inilah tantangan-tantangan harus dijawab, yaitu semakin meningkatnya hubungan ekonomi dan sosial antarbangsa yang berlangsung cepat, persaingan mutu SDM yang dimiliki suatu bangsa dengan bangsa lain, kemungkinan terjadinya eksploitasi negara yang lebih maju, punya modal, dan SDM unggul terhadap negara yang kurang mampu, dan penggunaan iptek yang merusak nilai martabat kemanusiaan (human dignity).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;"><strong><em> </em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<br />Posted in my job Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=51&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/18/konsep-perencanaan-human-investment-social-demand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DREAM OF SCHOOL</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/15/dream-of-school/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/15/dream-of-school/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 20:26:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Raisul Akbar, S.Pd Staf Pengajar SMAN 1 Lhoong Memasuki komplek Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lhoong, seolah memasuki perumahan elite( pondok indah). Mulai dari gerbang masuk sekolah hingga gedung aula, penuh dengan ornamen Kalimantan. Padahal sekolah ini berada di Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). SMAN I berada di Desa Cundin, Kecamatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=37&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_36" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a rel="attachment wp-att-36" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/15/dream-of-school/attachment/170820074712/"><img class="size-medium wp-image-36" title="170820074712" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/03/170820074712.jpg?w=225&#038;h=300" alt="PASKIBRA SMAN ! LHOONG" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">PASKIBRA SMAN ! LHOONG</p></div>
<p style="text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Oleh: Raisul Akbar, S.Pd</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Staf Pengajar SMAN 1 Lhoong</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Memasuki komplek Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lhoong, seolah memasuki perumahan elite( pondok indah). Mulai dari gerbang masuk sekolah hingga gedung aula, penuh dengan ornamen Kalimantan. Padahal sekolah ini berada di Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">SMAN I berada di Desa Cundin, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Jalan Banda Aceh-Meulaboh. Jaraknya sekitar 56 kilometer dari Banda Aceh, ibukota NAD. Ornamen Kalimantan yang melekat di sekolah ini, tidak terlepas dari bantuan masyarakat Balik Papan. Menggenapi sumbangan yang juga diberikan Gap Inc, sebuah perusahaan garmen yang berpusat di San Fransisco, Amerika Serikat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dari sisi bangunan, dapat dikatakan ini merupakan sekolah termegah yang pernah di bangun di Aceh Besar. Lebih dari itu, justru sekolah ini dianggap sebagai titik balik geliat pendidikan di Aceh Besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Saat peresmian operasional sekolah ini pada Sabtu (22/4/2006), terlihat wajah-wajah cerah para siswa. Dengan biaya Rp 5,3 miliar, sekolah ini menjanjikan fasilitas yang lengkap, konstruksi bangunan yang wah, serta fasilitas ekstrakurikuler yang komplit. Di areal seluas 1,3 hektar ini, berdiri lima gedung. Gedung untuk 8 kelas, gedung aula, gedung perpustakaan yang berlantai dua, gedung laboratorium dan gedung untuk perumahan guru. Selain itu ada lapangan basket, bola voli, dan lapangan bola.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kemegahan SMAN 1 Lhoong saat ini, tentu sangat berbeda dibandingkan saat 26 Desember 2004 lalu, ketika tsunami menghancurkan seluruh bangunan. Hanya menyisakan sedikit berkas pertapakan. Selebihnya menjadi pantai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kini di sekolah yang lokasinya berjarak sekitar tiga kilometer dari pertapakan lama, hanya ada 275 murid dan 18 guru PNS, 7 guru bakti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pembangunan gedung sekolah ini, tak lepas dari kiprah Dompet Dhuafa (DD), lembaga amil zakat yang berpusat di Jakarta. Presiden Direktur DD, Rahmat Riyadi, menyebutkan, hingga tiga minggu pascatsunami, jalur darat menuju Lhoong masih terputus jalur, baik dari Banda Aceh maupun Meulaboh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Namun, saat itu DD telah masuk membantu rescue, menyediakan kapal laut untuk angkutan logistik untuk warga yang selamat dari tsunami. Dari 28 desa yang ada di Lhoong, hanya empat desa yang bebas terjangan tsunami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Karena prihatin banyaknya sekolah yang rusak akibat tsunami di kecamatan ini, DD melakukan serangkaian pertemuan dengan dengan Dinas Pendidikan Aceh Besar. Akhirnya disepakati rencana kerjasama membangun SMAN 1 Lhoong. Lahan pertapakan sudah tersedia, yakni sumbangan warga sekitar. Sedangkan dana bersumber dari bantuan Pemkot Balik Papan dan Gap Inc,&#8221; kata Rahmat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pemkot Balik Papan membantu Rp 2,404 miliar, sementara dari Gap Inc. sebanyak Rp 2,926 miliar. Sementara DD yang mempertemukan kedua lembaga ini, selanjutnya bertindak selaku pihak yang bertanggungjawab terhadap pembangunan dan manajemen operasional sekolah hingga tiga tahun ke depan, sebelum dikembalikan kepada pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dalam pelaksanaannya, dana yang berumber dari Pemkot Balik Papan dipergunakan untuk membangun gedung aula ruang kelas gapura. Sementara bangunan lainnya dari dana sumbangan Gap Inc. Pembangunannya relatif cepat, sekitar 7 bulan, sejak peletakan batu pertama pada 13 Agustus 2005.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bagi masyarakat Lhong pembangunan ini justru menjadi anugerah yang luar biasa. &#8220;Ini sekolah terbaik yang pernah dibangun di Aceh Besar. Kami sangat bersyukur. Ini anugerah yang tak terhingga,&#8221; kata Kepala Dinas Pendidikan Aceh Besar Zulkifli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dalam operasional sekolah ini, pihak DD dan jejaringnya akan menangani managemen sekolah hingga tiga tahun ke depan. Ini dilakukan untuk menjamin mutu pendidikan di SMAN I Lhoong, yang diharapkan menjadi sekolah unggulan di NAD.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">MUNGKINKAH?</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pertanyaan ini saya lontarkan setelah menyaksikan dan mengalami kondisi ini. Dengan infrastruktur yang megah tidak dibarengi dengan kondisi masyarakat yang kurang menyadari arti penting pendidikan.</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">BAGAIMANA?</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Jurus apa yang harus digunakan untuk memperbaiki kondisi ini tolong fikirkan seraya berbuat dengan hal sekecil-kecilnya. Semoga saja 2 hal ini dapat terjawab. Diharapkanlah bagi semua pihak yang bersangkutan untuk memikirkan solusi dari permasalahan ini.</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">AMIN………………………..ya rabbal ……………ALLAMIN</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=37&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/15/dream-of-school/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/03/170820074712.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">170820074712</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROFIL SMAN 1 LHOONG</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/13/profil-sman-1-lhoong/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/13/profil-sman-1-lhoong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 22:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMEN SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[raisul akbar.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/13/profil-sman-1-lhoong/</guid>
		<description><![CDATA[1. Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Lhoong 2. Alamat : Jalan : Banda Aceh – Meuilaboh KM 56 Desa : Cundien Kecamatan : Lhoong Kode Pos : 23354 Kabupaten : Aceh Besar Propinsi : Nanggroe Aceh Darussalam 3. Nomor dan Tanggal SK Penegerian : 0363/0/1991, tanggal 20 Juni 1979 4. Terhitung Mulai Tanggal : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=10&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p style="text-align:left;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a rel="attachment wp-att-17" href="http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/13/profil-sman-1-lhoong/cekrek3263/"><img class="size-medium wp-image-17" title="lay out sman 1 lhoong" src="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/03/cekrek3263.jpg?w=300&#038;h=225" alt="BACK GROUND SEKOLAH GW" width="300" height="225" /></a></dt>
</dl>
<p style="text-align:left;">1.	Nama Sekolah					: SMA Negeri 1 Lhoong<br />
2.	Alamat			: Jalan			: Banda Aceh – Meuilaboh KM 56<br />
Desa			: Cundien<br />
Kecamatan		: Lhoong<br />
Kode Pos		: 23354<br />
Kabupaten		: Aceh Besar<br />
Propinsi		: Nanggroe Aceh Darussalam<br />
3.	Nomor dan Tanggal SK Penegerian		: 0363/0/1991, tanggal 20 Juni 1979<br />
4.	Terhitung Mulai Tanggal			: 11 April 1979<br />
5.	Nomor Statistik Sekolah			: 30.1.060.104.006<br />
6.	Gedung Sendiri.Menumpang			: Gedung Sendiri<br />
7.	Tempat Sementara				: Tetap<br />
8.	No. Rekening Giro					: 01.02.571022-5<br />
8.	Jumlah Rombongan Belajar			: 8 kelas<br />
9.	Jumlah siswa					: 375  siswa<br />
10.	Jumlah  Jam Pelajaran Perminggu		: 40  jam<br />
11.	Jumlah guru Tetap				: 20 Orang<br />
12.	Jumlah Pegawai tetap				:  1 Orang<br />
13.	Jumlah Guru Bantu				: 1 Orang<br />
14.	Jumlah Guru GTT/Honorer			: 7 Orang</p>
<p style="text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>VISI SEKOLAH</em></strong> : Berprestasi untuk mencapai hasil yang maksimal dengan Dilandasi rasa tanggung jawab dalam pandangan Islami dan Berakhlakul Karimah</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>MISI SEKOLAH</em></strong> : 1.Meningkatkan Profesional Proses Pembelajaran terhadap anak Didik secara nyata sehinnga menciptakan SDM yang tinggi Yang berguna bagi Bangsa dan Negara.<br />
2. Mengembangkan dan meningkatkan syste Manajemen Sekolah Dalam upaya meningkatkan Mutu Pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah Secara Efektif.<br />
3. Mengupayakan kehidupan yang Islami dalam kehidupan Bermasyarakat dalam ruang lingkup Sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>TUJUAN</em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Mewadahi dan meningkatkan partisipasi para stakeholders pendidikan pada tingkat sekolah untuk turut serta merumuskan, menetapkan, melaksanakan dan memonitor pelaksanaan kebijakan sekolah dan pertanggungjawaban yang terfokus pada kualitas pelayanan terhadap peserta didik secara proporsional dan terbuka</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Mewadahi partisipasi pada stakeholders untuk turut serta dalam manajemen sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah secara proporsional.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>STRATEGI PENCAPAIAN TUJUAN</em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Menyelenggarakan rapat-rapat komite sesuai program yang ditetapkan</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span> </span>Bersama-sama sekolah merumuskan dan menetapkan visi dan misi, menyusun standar pembelajaran, menyusun rencana strategis pengembangan sekolah, menyusun dan menetapkan rencana progam tahunan, serta mengembangkan potensi kearah prestasi unggulan.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Membahas dan turut menetapkan pemberian tambahan kesejahteraan</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Menghimpun, menggali dan mengelola sumber dana dan kontribusi lainnya baik materil maupun non-material dari masyarakat</p>
<p style="text-align:justify;">KEBIJAKAN PROGRAM/ KEGIATAN</p>
<p style="margin-left:43.1pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Mengevaluasi program sekolah secara proporsional</p>
<p style="text-align:center;"><!--[if !supportLists]--><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Mengidentifikasi masalah serta mencari solusinya</p>
<p style="text-align:center;"><!--[if !supportLists]--><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Memberikan respon terhadap kurikulum yang dikembangkan baik berstandar nasional maupun local</p>
<p style="text-align:center;"><!--[if !supportLists]--><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Memberikan motivasi dan penghargaan, serta otonomi profesional kepada staf pengajar.</p>
<p style="text-align:center;"><!--[if !supportLists]--><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Memantau kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah</p>
<p style="text-align:center;"><!--[if !supportLists]--><span>f.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Mengkaji laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program</p>
<p style="text-align:center;"><!--[if !supportLists]--><span>g.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Menyampaikan usul/rekomendasi kepada pemda untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan</p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>ANALISIS SWOT</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Strength/ kekuatan </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tersebut menetapkan juga bahwa apabila otonomi daerah tingkat II belum mampu menangani bidang- bidang tertentu, maka bidang- bidang tersebut dapat diserahkan kepala daerah tingkat I selanjutnya menurut Tilaar (2000: 176) bahwa dalam konteks otonomi daerah khususnya bidang pendidikan dampak positif ditetapkan otonomi daerah manajemen pendidikan nasional dalam negara kesatuan Republik Indonesia adalah:<strong><em></em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]--><span> </span>Mengembangkan kebudayaan lokal. Dengan demikian masalah pengisian muatan lokal di daerah- daerah telah merupakan suatu keharusan yang perlu direncanakan, dipersiapkan dan dikembangkan.<strong><em></em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]-->Mengembangkan kebudayan nasional sebagai benteng pertahanan menjaring pengaruh- pengaruh kebudayaan global yang negatif dan identitas bangsa yang akan memperkuat ketahanan nasional.<strong><em></em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]-->Mengembangkan inisiatif untuk bereksperimen dan bersaing dalam mengembangkan mutu pendidikan nasional menghadapi persaingan global.<strong><em></em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]-->Meningkatkan peran masyarakat (swasta) untuk mengembangkan ciri khasnya sebagai sumbangan bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.<strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Secara khusus untuk jenis dan satuan pendidikandi Sekolah berdasarkan konsepsi otonomi daerah tersebut School Based Management atau manajemen Berbasis Sekolah dan Community Based School merupakan tuntutan untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Dengan demikian sekolah mandiri merupakan suatu bentuk pengelolaan sekolah pada era otonomi daerah sekarang. Dalam kaitannya akan kmandirian sekolah ini diperlukan nilai- nilai baru dan aturan- aturan baru dalam bidang pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditetapkannya otonomi daerah akan memberikan perubahan dan pengembangan tersendiri dalam segala bidang kehidupan masyarakat termasuk pendidikan. Perubahan dan pengembangan tersebut menurut N.A Amentembun (1994: 10) meliputi:<br />
Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Perubahan Manajemen Sekolah</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Sumber Daya Pendidikan</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Pengolaan sumber daya pendidikan gengan diberlakunya otonoi daerah jelas merupakan tanggung jawab sepenuhnya pihak sekolah yang bersangkutan, baik mengenai sumber pendapatan keuangan maupun pengelolaannya. Sebelum pelaksanaan otonomi dearah sumber daya pendidikan ditentukan oleh keputusan dan kebijakan dari pusat, sedangkan setelah otonomi daerah diberlakukuan pihak sekolah memiliki kekuasaan dan kewenangan sepenuhnya dalam pengambilan atas anggaran pendapatan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya pendidikan.Pengembangan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah dalam rangka mencari dan menganalisis sumber daya pendidikan pada era otonomi pendidikan dengan menerapkan model ” Manajmen Berbasis Sekolah” tentunya adalah melalui pemanfaatan potensi yang ada pada masyarakat serta berkoloborasi dengan dunia masyarakat industri yang mau dan peduli terhadap kepentingan pendidikan. Oleh karena itu jelas bahwa keberhasilan sekolah dalam menerapkan model ” Manajemen Berbasis Sekolah” tergantung pada kemampuan sekolah untuk meningkatkan suatu kepedulian masyarakat akan arti penting pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.</p>
<p style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-7.1pt;">3. Peningkatan Mutu Pendidikan</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Dengan diberlakukannya otonomi daerah,memungkinkan sekolah lebih bebas menentukan cara- cara atau strategi yang akan ditempuh dalam meningkatkan mutu pendidikan, tanpa harus menerima instruksi dari pusat terlebih dahulu. Hal- hal yang dianggap baik untuk meningkatkan mutu pendidikan segera dilakukan sesuai dengan tuntutan dan kemampuan sekolah, sehingga jika suatu kegiatan dianggap baik, maka pihak sekolah segera melakukannya tanpa haus menungguintruksi atau petunjuk dari pusat lagi.Dengan demikian Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah yang telah dijabarkan ke dalam peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, memberikan kesempatan pada lembaga pendidikan untuk melaksanakan reformasi. Salah satu bentuk reformasi mengembangkan kemandirian sekolah, sehingga muncul sekolah mandiri, yaitu sekolah di mana kekuasaan ada pada pihak sekolah sendiri: Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif serta orang tua siswa. Untuk itu di dunia pendidikan diperlukan nilai- nilai dan aturan- aturan baru dintaranya pergeseran fungsi pemerintah dari controling ke servising yang menunjukkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengutamakan pelaksanaan tugas melalui sistem pengasan yang sangat ketat tetapi harus lebih bersikap memberikan pelayanan terhadap dunia pendidikan. Reformasi ini akan dapat berlangsung dan mencapai tujuan apabila ada dukungan partisipasi aktif dari kalangan orang tua siswa dan masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Weakness/ kelemahan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahan-permasalahan menjadi kendala dalam meningkatkan mutu pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah adalah:Pertama, pendidikan akan menghadapi tantangan dalam hal pembiayaan pendidikan oleh daerah. Disebutkan bahwa hanya sekitar 10% daerah yang dapat menyediakan anggaran memadai untuk pendidikan, padahal pemerintah daerah harus menyediakan prasarana dan sarana pendidikan seperti gedung sekolah dan peralatan praktikum yang memadai. Pembiayaan pendidikan selama ini masih sangat tergantung pada pemerintah pusat.<br />
Kedua, tantangan dalam hal pembiayaan pendidikan oleh masyarakat. Dalam kondisi krisis ekonomi dan banyaknya kerusuhan mengakibatkan banyaknya pengungsi angka partisipasi murni dan angka drop out yang dijadikan sebagai tolok ukur tantangan pembiayaan oleh masyarakat sangat beragam antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Pada daerah yang kaya angka partisipasi murni (APM) akan tinggi dan angka drop out (ADO) akan rendah, sedangkan pada daerah yang masyarakatnya miskin akan terjadi yang sebaliknya.<br />
Ketiga, rendahnya sumber daya manusia yang menangani pendidikan, baik tenaga pengajarnya (guru) maupun tenaga non teknis.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, Portz (1996) mengidentifikasikan beberapa permasalahan yang menjadi tantangan dan hambatan pendidikan di Boston, yang sangat relevan dengan permasalahan pendidikan di Indonesia antara lain adalah: 1) masalah Governance atau kepemerintahan, contohnya seperti adanya penekanan kepada dinamika politik di antara superintendent dan komite sekolah. Selain itu juga kurangnya kepemimpinan. 2) Masalah yang berkaitan dengan kegiatan sekolah, antara lain meliputi kegagalan didalam menyediakan program pendidikan yang memadai, prestasi siswa dan birokrasi pendidikan. 3) Masalah kurangnya dukungan pembiayaan dan hubungan dalam pemerintahan.4) Masalah kurangnya dukungan dari masyarakat atau warga negara yang disebabkan karena kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah dan terpisahnya sekolah dengan masyarakat. 5) Masalah yang terkait dengan permasalahan sosial secara umum dan kondisi eksternal di luar sekolah seperti misalnya kemiskinan, ras, kriminal, dan ekonomi.<br />
Menurut Presman dan Wildausky (1973) (lihat Abdul Wahab, 1997) faktor-faktor yang dikemukakan di atas, untuk menghindari kegagalan dalam implementasi perlu mendapat perhatian secara seksama.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara Parson (1997) mengatakan bahwa kegagalan implementasi suatu kebijakan cenderung karena faktor ulah manusia, dimana pengambilan keputusan yang gagal memperhitungkan kenyataan adanya persoalan manusia yang sangat komplek dan bervariasi. Adapun yang dimaksudkan disini adalah baik pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun sekolah beserta warganya sebagai pelaku kebijakan dan target group.<br />
Merujuk kepada berbagai kendala atau hambatan yang telah diidentifikasi dari berbagai penelitian, dan dikaitkan dengan pandangan atau pendapat ahli mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan implementasi suatu kebijakan, maka peneliti berpendapat bahwa: “kegagalan implementasi suatu kebijakan, belum tentu sepenuhnya dikarenakan ketidakmampuan pelaksana (aktor/stakeholders pelaksana), tetapi juga disebabkan karena pembentukan kebijakan itu sendiri yang kurang sempurna atau kebijakan tersebut memang jelek (bad policy). Disinilah dituntut kepiawaian dari para pelaksana kebijakan (aktor/ stakeholderss) atau pelaku utama kebijakan, supaya mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian atau adaptasi, sehingga proses implementasi dapat berjalan efektif dan tujuan/pokok kebijakan dapat direalisasikan.<br />
Berkenaan juga dengan kegagalan implementasi MBS, Wohlsteter dan Mohrman (1996) (lihat Nurkolis, 2001) dalam hasil penelitian mengungkapkan empat macam kegagalan implementasi MBS, yaitu Pertama, sekedar mengadopsi model apa adanya ada upaya kreatif. Kedua, Kepala Sekolah bekerja berdasarkan agenda kerja sendiri tanpa memperhatikan aspirasi warga sekolah. Ketiga, kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak. Keempat, menganggap MBS adalah hal yang biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya, padahal pada kenyataannya implementasi MBS memakan waktu, tenaga, pikiran secara besar-besaran. Keempat indikator yang telah dipaparkan di atas, mengisyaratkan bahwa guna menghindari kegagalan implementasi kebijakan MBS atau kebijakan MPMBS tersebut, maka diperlukan keterlibatan atau partisipasi aktif semua pelaku kebijakan (koalisi aktor/stakeholderss) untuk mengkaji, melakukan penyesuaian dan adaptasi (reformulasi).<br />
Kebijakan yang dilandasi azas kerjasama, keterkaitan, kebersamaan dan akuntabilitas yang didukung oleh semangat demokrasi dan transparansi menuju suatu komitmen/ konsensus, agar pelaksanaan program MPMBS (implementasi kebijakan MPMBS) berjalan dengan baik, dan tujuan kebijakan (yakni meningkatkan mutu pendidikan) tercapai. Koalisi aktor/stakeholderss tersebut, meliputi: Kepala Sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, masyarakat, Komite Sekolah/BP3, pejabat pemerintah terkait, dan organisasi masyarakat lainnya yang peduli terhadap kegiatan pendidikan di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Opportunity/ peluang</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Symbol;"><span>§</span></span> Investasi Dalam Bentuk Portofolio (Saham)<strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu hal yang perlu dikritisi adalah dari sisi pendanaan BHP. Sebagaimana tercantum dalam UU BHP pasal 41, tidak seluruh pendanaan BHP berasal dari Pemerintah, baik itu pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Artinya masih terdapat porsi-porsi dimana institusi pendidikan yang bersangkutan perlu mengusahakan sendiri sumber dana lain dalam memenuhi biaya operasional penyelenggaraan pendidikan. Mari kita telaah, dari sumber-sumber mana saja institusi pendidikan dapat memperoleh dana untuk ‘menambal’ biaya operasional mereka. Dari peneleaahan tersebut juga akan terlihat bahwa mekanisme pendanaan biaya operasional pada BHP diluar porsi pemerintah, tidak hanya diatur dalam UU BHP saja, namun juga tercantum pada peraturan-peraturan lain (PP dan Perpres). UU BHP ‘hanya’ menjelaskan garis besar porsi-porsi pembiayaan yang harus ditanggung sendiri oleh BHP dan menjelaskan secara umum mekanisme memperolehnya. Rincian dari mekanisme tersebut diatur selanjutnya oleh peraturan lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu sumber pendanaan yang diperbolehkan dijalankan oleh BHP adalah investasi dalam bentuk portofolio (saham). Hal ini tercantum dengan jelas pada pasal 42 ayat 1. Hal ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan (BHP) dapat bermain di pasar bursa. Tentunya kita belum lupa mengenai riskannya bermain di sektor finansial. Gambaran anjloknya sektor finansial dunia pada krisis ekonomi global saat ini tentunya sangat menggambarkan tingginya resiko permainan saham di lantai bursa. Tak terhitung berapa banyak perusahaan-perusahaan besar dunia yang mendadak gulung tikar karena fluktuasi nilai saham yang sangat rentan. Bayangkan jika sektor vital seperti pendidikan ditopang oleh mekanisme pendanaan yang rapuh seperti ini? Akan jadi seperti apa dunia pendidikan Indonesia? Ramai-ramai gulung tikar pula kah?<br />
Mekanisme lain yang dapat dilakukan oleh BHP untuk memperoleh dana adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat dengan ketentuan yang sesuai dengan undang-undang (peraturan) yang ada. Hal tersebut tercantum dalam pasal 45 ayat 1 UU BHP, namun tidak ada penjelasan lebih rinci mengenai hal tersebut. Satu hal yang menarik adalah keberadaan PP no.48 tahun 2008 mengenai pendanaan pendidikan. PP tersebut menjelaskan secara terperinci sumber-sumber dana ynag dapat digunakan oleh BHP. Pada PP tersebut terdapat beberapa pasal yang jelas-jelas mengatakan bahwa salah satu sumber pendanaan institusi pendidikan adalah dari pihak asing. Sedikitnya terdapat 15 pasal dalam PP tersebut yang menyebutkan bahwa salah satu sumber pendanaan yang sah dari institusi pendidikan berasal dari pihak asing.<br />
Keterlibatan pihak asing dalam dunia pendidikan Indonesia yang tercantum dalam peraturan negeri ini tidak hanya itu. Pada Perpres No.77/2007 mengenai daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka di bidang penanaman modal, disebutkan bahwa jenis badan usaha yang dapat dimasuki modal asing adalah pendidikan, baik formal maupun informal, dengan persentase modal asing sampai dengan 49%.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Symbol;"><span>§</span></span> Mengoptimal Kemitraan Dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri</p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan : (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. (3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.<br />
Hal yang justru memunculkan kerawanan saat ini adalah dengan adanya RUU BHP maka peranan pihak swasta (pengusaha) mendapatkan akses yang lebih luas untuk mengelola pendidikan, sehingga bagaimana jadinya kalau kemitraan dengan DU/DI tersebut ternyata menempatkan pengusaha ataupun perusahaan sebagai pihak yang berinvestasi dalam lembaga pendidikan dengan menuntut adanya return yang sepadan dari investasinya tersebut? Kondisi ini pada akhirnya akan memperkokoh keberlangsungan kapitalisasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Thereat/ Ancaman</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah telah menetapkan kebijakan otonomi pendidikan, sebagaimana mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan yang menyebutkan: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.<br />
Berdasarkan pasal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab negara melainkan diserahkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri. Dalam penjelasan pasal 3 ayat 2 RUU Badan Hukum Pendidikan disebutkan bahwa Kemandirian dalam penyelengaraan pendidikan merupakan kondisi yang ingin dicapai melalui pendirian BHP, dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi pada pendidikan tinggi. Hanya dengan kemandirian, pendidikan dapat menumbuhkembangkan kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya pemerintah menilai bahwa selama ini terhambatnya kemajuan pendidikan indonesia diantaranya karena pengelolaan pendidikan yang sentralistis, sehingga perlunya kebijakan desentralisasi kewenangan (MBS dan otonomi pendidikan) untuk memajukan pendidikan indonesia.<br />
Kenyataannya, kebijakan tersebut menuai berbagai sikap kontra dari masyarakat karena dinilai sarat dengan tekanan pihak asing (negara donor) yang menghendaki privatisasi lembaga –lembaga yang dikelola negara termasuk lembaga pendidikan, sehingga negara pun akan lepas tangan dari tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan secara penuh. Sebagaimana diungkapkan oleh komisi hukum nasional (KHN) bahwa dalam RUU BHP versi yang baru, semua bentuk pendidikan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah daerah atau pemerintah harus berbentuk badan hukum yang sama yaitu badan hukum pendidikan. Oleh karenanya, jika RUU BHP disahkan &#8211; maka peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peraturan pemerintah tentang BHMN tidak akan berlaku lagi. Perubahan yang terjadi antara konsep RUU lama dan yang baru, dapat diamati dari bunyi pasal 1 ayat 7 (versi lama), yang mengatur bahwa ”Penyelenggara adalah satuan pendidikan berstatus Badan Hukum Pendidikan (BHP)” dan “Semua satuan pendidikan tinggi harus berstatus Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) (Pasal 2 ayat (1)”. Selain itu, disebutkan juga bahwa “Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat berstatus Badan Hukum Pendidikan Dasar Menengah (BHPDM)”.<br />
Yang menjadi persoalan, apakah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) merupakan jawaban yang tepat bagi pengembangan pendidikan tinggi kedepan? Bagaimana RUU ini meletakkan peran pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi serta bagaimana mengkonstruksi hubungan antara penyelenggara pendidikan (yayasan, perkumpulan, badan wakaf, pemerintah, dll) dengan satuan pendidikan? Apakah RUU BHP memberikan jaminan bagi terwujudnya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global ? Selain itu kebijakan otonomi pendidikan sendiri merupakan hal belum tentu dapat meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bila makna otonomi itu sendiri ternyata bentuk lepas tangan pemerintah dengan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan secara lebih besar porsinya kepada masyarakat. Padahal hakikatnya penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab negara/ pemerintah sebagai pihak yang diamanahi rakyat untuk mengatur urusan mereka dengan sebaik mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kesimpulan</em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><br />
1 Kepala Sekolah dan guru sebagai aktor/stakeholders utama kebijakan MPMBS, dapat mengemban tugas untuk mengimplemen-tasikan kebijakan MPMBS ini. Sebab, mereka memenuhi syarat/standar kelayakan untuk mengajar (melaksanakan tugas dalam proses belajar mengajar) di sekolah.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Untuk mengelola dan menerapkan kebijakan MPMBS kepada Kepala Sekolah, sebagai aktor/stakeholders utama kebijakan ini. Dampak lain yang timbul adalah ketidakmampuan Kepala Sekolah membentuk jaringan kerja dengan organisasi masyarakat lainnya yang peduli pendidikan, kecuali hanya kerjasama dengan orang tua murid (Komite Sekolah/BP3) dan pemerintah terkait yang selama ini telah dilakukan.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Dalam manajemen sekolah, arti pentingnya transparansi (keterbukaan) sudah disadari oleh Kepala Sekolah dan telah dilaksanakan, karena metode inilah yang dijadikan salah satu cara untuk menarik perhatian, guna meningkatkan peran serta orang tua murid/masyarakat. Hal ini diindikasikan dengan semakin baiknya perhatian (kepedulian) orang tua/masyarakat terhadap kegiatan pendidikan anak di sekolah.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Strategi pembelajaran dilaksanakan melalui metode belajar mengajar yang disesuaikan situasi dan kondisi yang ada di sekolah, misalnya model Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM).</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam implementasi kebijakan MPMBS masih bersifat eksentif (mengutip pendapat Graham dan Philip) yakni partisipasi yang masih berorientasi pada pembiayaan dan pembangunan fisik. Secara umum inisiatif masih datang dari pihak sekolah. Akan tetapi walaupun bersifat ekstensif, tapi kontribusinya cukup berarti dan cukup signifikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Rekomendasi</em></strong></p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Komitmen yang kuat dari seluruh aktor (stakeholders) yang terlibat dan terkait yang dilandasi oleh kerjasama, kebersamaan, keterkaitan dan akuntabilitas.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Peningkatan intensitas sosialisasi dan pembinaan yang berkesinambungan baik melalui pelatihan/penataran program, rapat rutin/rapat dinas dan lain-lain, dengan mengikut sertakan seluruh aktor/stakeholders yang terkait, misalnya Kepala Sekolah, Guru, Pengurus Komite Sekolah/BP3, tokoh masyarakat dan masyarakat umum lainnya (pemerhati pendidikan)</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Dalam tahap implementasi kebijakan MPMBS, sebaiknya dipopulerkan dengan menggunakan model pendekatan sintesis (Hybried Theorities) oleh Sabatier dan Islamy, karena model pendekatan ini merupakan kombinasi atau sintesis dari dua posisi (top down dan buttom up).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Implikasi Kebijakan MPMBS</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berkenaan dengan sosialisasi, di samping dilakukan oleh Tim Pelopor dan Penggerak Program MPMBS, Dinas Pendidikan Daerah juga dilakukan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) . Namun kenyataannya konsep dan tujuan kebijakan MPMBS oleh aktor/ stakeholders (warga sekolah dan masyarakat), terlihat dari adanya kesenjangan antara acuan formal dan persepsi (pemahaman) aktor/stakeholders (pelaku kebijakan) terhadap MPMBS. Hal ini sesuai dengan apa yang disebut Densire (lihat Abdul Wahab, 1997) menyebut dengan istilah “Implementation Gap” salah satu bukti di lapangan adalah tidak dilaksanakannya kebijakan MPMBS, sesuai tahap-tahap pelaksanaannya yang ada pedoman umum pelaksanaan yakni dimulai dari sosialisasi konsep dan tujuan kebijakan MPMBS sampai dengan evaluasi dan merumuskan kembali sasaran mutu baru.<br />
Konsep dan tujuan kebijakan MPMBS tidak dipahami oleh pelaku kebijakan (aktor/stakeholders) disebabkan karena informasi yang disampaikan dan diterima melalui penataran pelatihan dan rapat-rapat/pertemuan sebatas pengenalan belum menyeluruh dan tidak dilakukan secara berkesinambungan atau dilakukan secara temporer. Hal ini menunjukkan masih kurangnya frekuensi komunikasi (pengkomunikasian) langsung kepada pelaku kebjiakan dan masyarakat sebagai target group.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Hogwood dan Gunn (lihat Hill, 1993) atau (lihat Abdul Wahab, 1997), menyatakan bahwa untuk dapat mengimplementasikan suatu kebijakan secara sempurna (perfect implementation) maka diperlukan beberapa kondisi atau persyaratan tertentu, salah satu diantaranya adalah komunikasi dari koordinasi yang sempurna.<br />
Edward III (1980), mensinyalir bahwa dalam komunikasi ada beberapa hal yang mempengaruhi efektifitas dari komunikasi dan akan berpengaruh pula terhadap keberhasilan implementasian kebijakan antara lain adalah transmission (akurasi penerimaan panjang dan pendeknya rantai komunikasi) atau penyaluran komunikasi, konsistensi, dan rincian tujuan komunikasi.<br />
Selain itu Van Meter dan Van Haru (lihat Wibawa, 1994) mengemukakan bahwa pentingnya komunikasi dan koordinasi, yang ditujukan untuk membangun suatu kerjasama adalah merupakan salah satu syarat penting dalam kebijakan publik dimana salah satu variabel model implementasi kebijakan itu adalah komunikasi antar organisasi yang saling berkaitan dengan variabel-variabel lainnya dalam menghasilkan kinerja kebijakan yang tinggi dan baik.<br />
Mengacu kepada beragamnya persepsinya (pemahaman) tentang konsep dan tujuan kebijakan MPMBS, yang dikarenakan kurangnya intensitas sosialisasi atau kurang tepatnya sosialisasi kebijakan MPMBS, maka sangat diperlukan peningkatan intensitas dan mengkaji ulang kembali model sosialisasi yang sesuai (tepat) bagi implementasi kebijakan MPMBS. Persepsi (pemahaman) yang keliru, dapat menyebabkan pengelolaan sekolah yang keliru pula dalam memahami MPMBS, sehingga akan dapat menjerumuskan sekolah dan warganya ke dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan (yang tidak diharapkan).<br />
Berkaitan dengan transparansi, kebijakan MPMBS merupakan salah satu model manajemen yang menuntut atau mengedepankan adanya transparansi, dengan kata lain transparansi merupakan kunci pelaksanaan kebijakan MPMBS. Dan di lapangan telah di temukan adanya transparansi, tapi masih terbatas pada transparansi manajemen keuangan, bidang kesiswaan, bidang personalia, tetapi yang menjadi perhatian utama hanya transparansi keuangan, dengan pertimbangan bahwa bidang keuanganlah yang paling sensitif dan menjadi sorotan utama dari publik.<br />
Fenomena-fenomena di atas, sejalan dengan pendapat dari Long (lihat Abdul Wahab, 1999) yang mengatakan bahwa dalam banyak kasus, proses implementasi kebijakan akan selalu terbuka peluang adanya “re orientasi” atau transformasi kebijakan, praktis tiak ada garis lurus yang membentang serta menghubungkan antara kebijakan dan hasil akhir kebijakan. Pendapat Long ini benar-benar terbukti/terjadi pada implementasi kebijakan MPMBS.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menambah wacana, dalam melakukan analisis terhadap implementasi kebijakan MPMBS, selain teori Top-down dan Buttom-up, maka dalam pembahasan ini juga akan dipaparkan teori model pendekatan sintesis (Hybried Theories). Yakni suatu model kombinasi atau sintesis dari dua posisi (Model Top-Down dan Buttom-Up). Sabatier (lihat Parson, 1997) mengkaji implementasi menuju suatu sintesis, mengatakan bahwa tahap-tahap kebijakan (Policy-Stages) tidaklah membantu proses pengambilan kebijakan karena memilah-milahnya menjadi serangkaian bagian (section) yang sifatnya tidak realistis dan artifisial. Karena itu dari sudut pandang ini, implementasi dan policy-making menjadi kesatuan proses yang sama. Disini juga diungkapkan sintesa dua posisi (Top-Down dan Buttom-Up) dapat dipakai pada dinamika implementasi inter-organisasi dan net work (jaringan kerja), dimana model top-down memfokuskan perhatiannya pada institusi dan kondisi sosial ekonomi, yang menekankan perilaku.<br />
Sintesa ini disempurnakan melalui pemakaian konteks sub system, yaitu semua aktor yang terlibat secara interaktif satu sama lain dalam proses politik dan kebijakan dibatasi oleh parameter yang relatif stabil serta kejadian di luar sub system.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara lebih jelas (Islamy, 2001) mengatakan bahwa Policy Sub System adalah aktor-aktor kebijakan yang berasal dari organisasi, baik organisasi publik maupun privat, secara aktif mengkaji dan mengkritisi suatu masalah kebijakan tertentu. Hal yang penting dari model implementasi ini adalah kedudukannya sebagai bagian yang berkesinambungan dari pengambil kebijakan (engonging part of policy making) dalam “Advocacy Coalitions” atau pendampingan para aktor kebijakan dengan berbagai elemen yang ada di masyarakat, atau aktor-aktor dari berbagai organisasi publik dan privat yang memiliki serangkaian kepercayaan, yang berusaha merealisasikan tujuan bersama sepanjang waktu (Islamy, 2001).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan dari model buttom-up yang dipertimbangkan adalah implementasi dikonseptualkan proses pembelajaran (learning-process), tujuannya adalah untuk menganalisis proses terjadinya pembelajaran terhadap kebijakan kalangan “Advocacy Coalitions”, dan memperkenalkan kondisi institusional yang paling cocok atau kondusif bagi proses belajar, dalam melakukan perubahan atau penyesuaian. Dari uraian-uraian yang dipaparkan di atas, makna yang dapat diungkap adalah bahwa model sintesis/Hybried, adalah suatu model implementasi kebijakan yang perwujudannya diawali oleh terbentuknya suatu jaringan kerja (net-work), berupa “Policy Sub System” dalam kerangka kerja “Koalisi Advocacy” yang dilandasi oleh konsep pembelajaran (learning process) yang kondusif (adanya keterkaitan, keteraturan dan kerjasama atau sistem kepercayaan), dilakukan secara berkesinambungan, agar terjadinya suatu perubahan (revisi), penyesuaian (adaptasi) dalam praktek/pelaksanaannya (implementasi), sehingga tujuan suatu kebijakan dapat direalisasikan sebagaimana mestinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Merujuk kepada pendapat Sabatier dan Islamy di atas, realitas di lapangan menunjukkan bahwa dalam proses implementasi kebijakan MPMBS, mengharuskan pihak sekolah (Kepala Sekolah) sebagai pelaku kebijakan (aktor/ stakeholders) utama kebijakan untuk mengedepankan metode implementasi yang melibatkan aktor/stakeholders lain seperti: guru, siswa, orang tua siswa, tokoh masyarakat atau Komite Sekolah/BP3 dan masyarakat/organisasi masyarakat lainnya, dalam suatu hubungan kerjasama antar subjek (aktor/stakeholders) sebagai suatu jaringan kerja (net-work) kebijakan dengan organisasi. Guna memperhatikan secara sungguh-sungguh pentingnya kebijakan MPMBS, problema kebijakan, dan cara mengatasinya. Dalam hal ini Hjern dan Porter (1988) (lihat Hill, 1993) menyebut dengan istilah “Policy Net-Work” atau “Implementation Structure”.</p>
<p style="text-align:justify;">Metode jaringan kerja (net-work) belum diterapkan secara optimal, masih terbatas pada jaringan kerja dengan lembaga/instansi pemerintah dan orang tua siswa atau Komite Sekolah/BP3 saja, belum ada usaha untuk menjalin kerjasama dengan kelompok pengusaha, Organisasi Cendikiawan Perantau Daerah, Ikatan Alumni dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari beberapa indikator-indikator yang ada, hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan-perubahan sebagai akibat dari pelaksanaan atau implementasi kebijakan MPMBS. Adapun salah satu diantara perubahan dimaksud diindikasikan dengan adanya pernyataan dari orang tua siswa dan siswa, dimana mereka merasa senang dan antusias menyambut implementasi kebijakan MPMBS ini. Khusus bagi siswa mereka merasa sangat senang, karena mereka menjadi lebih pintar bahasa Inggris, bahasa Arab dan baca/tulis Al-Quran dan lain-lain. Sedangkan terkait dengan model implementasi peneliti berpendapat bahwa model kebijakan MPMBS ini cukup memberikan harapan/menjanjikan, dengan kata lain bahwa model program MPMBS ini lebih baik, dibandingkan dengan program yang telah dilaksanakan selama ini yang lebih bersifat sentralistik, kaku (tidak demokratif), tidak adaptif tapi represif, tidak partisipatif dan tidak berorientasi pada pemberdayaan sumber daya, dan lain sebagainya. Indikator-indikator tersebut meliputi antara lain:</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span> </span>Model kebijakan MPMBS, menuntut peran serta orang tua siswa dan masyarakat tidak terbatas hanya pada pembayaran/iuran/sumbangan biaya pendidikan atau iuran PB3/komite semata. Tetapi mereka dituntut untuk ikut berperan serta, terlibat, dan berpartisipasi secara aktif dan maksimal dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah serta memantau proses pembelajaran anak-anak mereka di sekolah atau di rumah. Di samping itu juga mereka dilibatkan/diikutsertakan dan diharapkan mampu secara bersama-sama dengan pihak sekolah dalam menyusun RAPBS.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Merubah sistem/modal pembelajaran yang selama ini berpusat pada guru menjadi sistem/model pembelajaran dan pembelajaran yang berorientasi/ berpusat kepada siswa (Student-centered)</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Kegiatan administratif maupun proses pembelajaran, dalam program/ kebijakan MPMBS dilakukan secara transparansi. Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah/BP3, secara bersama-sama terlibat dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran belanja sekolah. Dan secara terbuka disampaikan sumber besarnya dana yang akan didapatkan dan dipergunakan untuk apa saja.</p>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>d)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Dalam implementasi kebijakan MPMBS dituntut kiat (kepemimpinan transformasional, profesionalisme, dan kreatifitas) dalam mendayagunakan/ pemberdayaan sumber daya yang ada di sekolah maupun di lingkungan sekolah. Hal di atas akan tercapai bila diberikan otonomi (tentu dalam kerangka kebijakan MPMBS) kepada sekolah untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang ada di lingkungan sekolah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat hal tersebut daitas, dalam implementasi kebijakan MPMBS hendaklah diakomodatif secara baik, agar terjadi atau kelihatan suatu perubahan kearah yang lebih baik, setelah kebijakan ini diimplementasikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />Posted in DOKUMEN SEKOLAH Tagged: raisul akbar.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=10&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/13/profil-sman-1-lhoong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://raisulakbar.files.wordpress.com/2009/03/cekrek3263.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">lay out sman 1 lhoong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TOTAL QUALITY MANAJEMENT</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/tqm/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/tqm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 15:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/tqm/</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Kualitas adalah puncak dari kebanyakan agenda, dan meningkatkan kualitas adalah tugas terpenting yang dihadapi oleh berbagai lembaga. Bagaimanapun, berdasarkan kepentingannya banyak orang memandang kualitas sebagai suatu konsep yang membingungkan. Kualitas termasuk sulit untuk didefinisikan atau bahkan untuk diukur. Ide seseorang tentang kualitas kadang bertentangan dengan. ide pihak lain, bahkan tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=5&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>BAB I<br />
PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>LATAR BELAKANG </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kualitas adalah puncak dari kebanyakan agenda, dan meningkatkan kualitas adalah tugas terpenting yang dihadapi oleh berbagai lembaga. Bagaimanapun, berdasarkan kepentingannya banyak orang memandang kualitas sebagai suatu konsep yang membingungkan. Kualitas termasuk sulit untuk didefinisikan atau bahkan untuk diukur. Ide seseorang tentang kualitas kadang bertentangan dengan. ide pihak lain, bahkan tidak dua ahlipun yang menyimpulkan hal yang sama tentang kualitas.<br />
Semua orang mengetahui tentang kualitas, jika mereka mengalaminya, tetapi untuk menguraikan dan menjelaskannya merupakan suatu tugas yang sulit. Dalam kehidupan  sehari-hari biasanya orang mengambil makna kualitas sebagai hal yang biasa, khususnya jika hal tersebut telah biasa tersedi. Orang sering menyadari bahwa pentingnya kualitas hanya jika meagalami frustrasi dan pemborosan waktu sebagai akibat tidak adanya kualitas. Kualitas yang membedakan hal-hal yang ada. Didalam pendidikan. kualitas yang membedakan keberhasilan dan kegagalan.<br />
Organisasi yang baik adalah organisasi yang memahami kualitas dan rahasianya. Mencari sumber kualitas adalah suatu pertanyaan yang penting. Pendidikan juga mesadari bahwa kualitas adalah sebagai suatu kebutuhan yang harus dicapai dan harus disampaikan pada murid dan siswa. Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sumber kualitas pendidikan yaitu; perawatan gedung yang baik; guru-guru yang berkualifikasi; nilai moral yang tinggi; hasil pengujian yang baik; spesialisasi; dukungan orang tua; dunia usaha dan masyarakat setempat; sumber yang memadai; aplikasi teknologi terbaru; kepemimpinan yang kuat; perhatian penuh pada murid dan mahasiswa; kurikulum yang seimbang atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut.<br />
Perlu kiranya kita tinjau konsep kualitas menurut dunia usaha sebagai titik awal dalam mendiskusikan kualitas, IBM mendefinisikan bahwa “Kualitas sama dengan kepuasan pelanggan (Unterberger, 1991,h.3). Alex Trotman seorang Executive Vice-Presideat dari Ford Motor Company memberikan pesan yang sama yaitu. “Saat ini kita menyadari, bahwa kita harus memuaskan pelanggan sepenuhnya&#8221; (Artzt et al, 1992). Hal itu tidak sesederhana hanya &#8220;mendengarkan dan merespon pelanggan anda maka semua hal yang baik akan menyertai”, tetapi ini merupakan permulaan yang serius. Organisasi yang memperhatikan kualitas secara serius mengetahui bahwa rahasia kualitas kebanyakan terletak pada. rasa simpatik terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan dan klien. Kualitas melibatkan pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan secara baik, tidak terkecuali terhadap para pelanggan.<br />
Kualitas merupakan ide saat ini. Semua membicarakan hal-hal yang berkaitan deagan kualitas. The Citizen Charter, The Parent&#8217;s Charter, Investor in People, The European Quality Award, British Standard BS5750 dan International Standar IS09000 merupakan bentuk penghargaan kualitas dan standar yang diperkenalkan saat ini untuk mempromosikan kualitas dan keunggulan. Kesadaran baru tentang kualitas saat ini memasuki dunia pendidikan. Pendidikan di Inggris telah lama melaksanakan mekanisme kualitas. HMI dan Inspektor dan sistemnya dioperasikan dengan menguji validitas organisasi, hal tersebut penting untuk mencapai kualitas. Perbedaanya saat ini adalah bahwa lembaga memerlukan pengembangan di bidang kualitas sistem, dan harus dapat mendemonstratikan bahwa mereka dapat memberikan layanan kualitas.<br />
Timbul pertanyaan apakah kualitas, jaminan kualitas, total Quality dan Total Quality Managemeat (TQM) hanya merupakan suatu inisiatif ataukah hanya didesain untuk menambah beban kerja guru saja yang telah begitu banyak disamping isu lembaga yang dananya dibawah normal. Kehabisan inisiatif merupakan gejala adanya tekanan kuat pada sistem pendidikan pada dekade yang lalu, dan tingkat perubahan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kelambanan. Jika kualitas hanya .merupakan suatu bentuk ide yang baik, mengapa tidak berlaku singkat dan segera dilupakan?.<br />
Kualitas, khususnya Total Quality Management (TQM) adalah berbeda.                      Ini bukan merupakan suatu bentuk inisiatif. Hal ini merupakan filosofi dan metodologi yang akan membantu badan atau lembaga untuk mengatur (me-manage) perubahan dan ditetapkan dalam agendanya sebagai upaya untuk menanggapi tekanan dari luar. Di bidang pendidikan TQM telah  mendukung perkembangan ekonomi di Pasific. Di bidang pendidikan TQM diterapkan untuk melengkapi tranformasi. Esensi dari TQM adalah perubahan budaya. Perubahan budaya dalam suatu lembaga merupakan suatu proses yang lambat. Jika pengaruh TQM menjadi melembaga, maka kualitas harus dapat menjangkau hati dan pikiran orang. Di dalam pendidikan hal ini hanya akan terjadi jika staf diyakinkan  bahwa kualitas penting untuk mereka dan menguntungkan.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB I I<br />
TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)<br />
DALAM KONTEKS PENDIDIKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kualitas memiliki beberapa arti yang kontradiktif. Sebagaimana Naomi Pfeffer dan Anna Coote telah mengemukakan dalam diskusi mereka tentang kualitas dalam pelayanan kemakmuran Kualitas adalah suatu konsep yang licik&#8217; (Pfeffer dan Coote  1991, h. 31). Ini berimplikasi bahwa ada hal yang  berbeda pada tiap orang yaag berbeda. Setiap orang setuju untuk menyediakan kualitas peadidikan. Argumentasi mulai muncul karena adanya kekurang setujuan tentang apa yang dimaksudkan tentang hal tersebut. Itulah  sebabnya  penting kirannya untuk memiliki suatu pemahaman yang jelas tentang beberapa arti kualitas. Suatu pemahaman tentang arti kualitas yang bermacam-macam, karena ini merupakan hal penting untuk memulai diskusi tentang TOM.<br />
Westley dan Mintzberg, membuat suatu pernyataan yang penting bagi beberapa konsep: Suatu proses yang asing tampaknya terpikir sebagai konsep seperti juga halnya budaya, dan karisma, yang bergerak dari praktek menjadi. suatu riset akademik. Hilangnya penggunaan tersebut dalam praktek seiring dengan prosesnya menjadi. subyek akademik serta upaya urituk meletakkan dasar serta menjadi suatu kepemilikan, untuk menyumbangkan pada dunia ilmiah. Dalam prosesnya, tampaknya mereka kehilangan resonansi emosional, tidak lama mengekspresikan kenyataan yang bahwa para praktisi.yang pada mulanya mencoba untuk menangkap maknanya (Westeley dan Mintzberg,1991,h.40).<br />
Kualitas adalah suatu ide yang dinamis dan suatu definisi yang pasti sebenarnya tidak begitu menolong. Yang jelas perbedaan antara arti-arti itu tidak mengakibatkan timbulnya kebingungan. Untuk itulah diperlukan diskusi.<br />
Beberapa kebingungan muncul seputar arti kualitas akibatnya kualitas dapat diartikan  secara mutlak atau juga relatif dalam konsepnya. Kualitas dalam percakapan sehari-hari utamanya digunakan sebagai suatu. konsep yang absolut. Orang menggunakannya untuk menjelaskan restoran yang mahal atau mobil yang luks. Sebagai suatu konsep yang absolut, kualitas berkaitan  dengan kebaikan, kecantikan dan kebenaran; yaitu sesuatu yaag ideal. Kualitas produk adalah sesuatu yang dibuat secara sempurna tanpa kecuali. Produk yang berkualitas memiliki nilai dan prestise bagi pemiliknya. Kualitas dalam pengertian ini digunakan untuk membawa status dan keuntungan posisi, pemilik produk yang berkualitas ‘terpisah’ dari mereka yang tidak memilikinya. Kualitas dalam konteks ini bersinonim dengan “kualitas tinggi atau kualitas yang top&#8221;. Dikaitkan dengan TQM maka pengertian kualitas menurut konsep ini kurang begitu mengena.<br />
Kualitas dapat dikaji sebagai konsep yang	relatif. Kajian inilah yang digunakan dalam TQM. Definisi relatif ini meninjau kualitas bukan sebagai suatu atribut 	suatu produk atau pelayanan., tetapi sebagai sesuatu yang hakiki. Kualitas dapat diberikan pada sesuatu produk atau pelayan yang memiliki spesifikasi tertentu. Kualitas itu sendiri bukan merupakan akhir, tetapi suatu tujuan akhir dari produk untuk memenuhi standar. Kualitas produk atau pelayanan dalam konsep relatif tidak berkaitan dengan mahal atau eksklusif. Dan produk tersebut juga tidak harus sesuatu yang sifatnya spesial, ia bisa biasa-biasa saja, lumrah dan akrab, Over head Proyektor, pena dan layanan katering sekolah dapat dikatakan berkualitas jika dibuat sederhana tetapi penting dan memenuhi standar. Dengan kata lain produk tersebut harus ‘tepat sesuai dengaa tujuannya’, sebagaimana British Standards Institution mendefinisikan kualitas.<br />
Definisi kualitas relatif ini memiliki dua aspek. Pertama adalah pengukuran pada spesifikasinya. Kedua, memenuhi keperluan pelanggan. Kualitas  bagi produser adalah pencapaian produk atau pelayanan menjadi sesuatu yang spesifik dan memiliki gaya yang konsisten. Kualitas didemonstrasikan oleh produser dalam sistem  diketahui sebagai suatu jaminan kualitas sistem, di mana dicapai suatu konsistensi dan dapat memenuhi standar tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Quality Control, Quality Assurance, dan Total Quality</strong></em><br />
Quality Control adalah konsep kualitas tertua. Konsep ini melibatkan deteksi dan eliminasi komponen atau produk akhir yang tidak memenuhi standar. Sebagai suatu metode untuk memastikan kualitas maka konsep ini melibatkan berbagai pertimbangan tentang jumlah pemborosan, sisa-sisa dan pekerjaan ulang. Quality Control biasanya dilakukan oleh ahli kualitas profesional yang disebut Quality Coiltrollers atau .Inspector. Inspeksi dan pengujian merupakan metode yang paling dikenal dalam konsep Quality Control, dan secara luas digunakan di bidang pendidikan untuk menentukan apakah standar telah dicapai.<br />
Jaminan Kualitas (Quality Assurance)berbeda dengan Quality Control. Ini terjadi sebelum dan saat proses berlangsung. Quality Assurance ini memperhatikan pencegahan kesalahan sebaggi suatu prioritas utama. Kualitas didesain ke dalam proses untuk meyakinkan bahwa produk diproduksi untuk menetapkan suatu.spesifikasi. Secara sederhana, Quality Assurance adalah cara agar produksi bebas dari kerusakaa dqn kesalahan. Menurut istilah. Philip B.  Crosby, disebutkan sebagai. kerusakan nol (zero defect). Quality Assurance adalah tentang konsistensi spesifikasi produk atau memperoleh sesuatu. &#8216;pada saat pertama di setiap waktu’. Quality Assurance ini dibuat untuk suatu pertanggungjawaban terhadap kekuatan kerja, biasanya pekerjaan dibentuk dalam tim, walaupun inspeksi sendiri memegang peranan penting dalam proses ini. Kualitas barang dan jasa dijamin oleh penempatannya dalam sistem, yang dikenal  sebagai Quality Assurance System standar kualitas dipelihara dengan mengikuti prosedur yang terdapat dalam QA. system.<br />
Total-Quality Management menggabungkan Quality assurance, untuk kemudian diperluas dan dikembangkan. TQM adalah tentang penciptaan suatu  budaya kualitas, di mana tujuan setiap anggota atau staf adalah untuk menyenangkan pelanggannya, serta didukung organisasi mereka yang memungkinkan mereka untuk melakukan hal tersebut. Dalam definisi Total Quality tentang kualitas pelanggan adalah raja. Ini merupakan pendekatan yang dipopulerkan Peters dan Waterman dalam In Search of Excellence (1982). Beberapa perusahaan seperti Marks and Spencer, British Airways dan Sainsbury telah melakukan pendekatan ini selama beberapa tahun. Hal ini berkaitan dengan upaya menyediakan apa, kapan dan bagaimana yang diinginkan pelanggan.</p>
<p style="text-align:justify;">TQM adalah suatu filosofi suatu peningkatan yang berkelanjutan, yang dapat dijadikan, alat praktis oleh lembaga pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan serta harapan. pelanggan sekarang dan di masa yang akan datang (Edward Sallis)<br />
TQM bersifat praktis tetapi strategi pendekatannya adalah fokus terhadap kebutuhan klien dan pelanggan. TOM bukan sekedar slogan, tetapi. suatu pendekatan, yang sistematik untuk mencapai tingkat kualitas yang tepat dalam suatu gaya yang konsisten sehubungan dengan upaya antisipasi kebutuhan dan keinginan pelanggan.<br />
Sebagai suatu pendekatan, TQM mencari suatu bentuk permanen dalam lembaga, sehingga fokus bukan diarahkaa pada kebijakan jangka pendek melainkan diarahkan pada peningkatan kualitas jangka panjang. Inovasi koastan peningkatan dan perubahan merupakan inti TQM, dan lembaga-lembaga tersebut dalam pelaksanaanya meagikuti alur peningkatan secara berkelanjutan. Mereka harus menganalisis apa yang telah dikerjakan dan merencanakan untuk meningkatkannya. Untuk menciptakan budaya peningkatan yang berkelanjutan manajer harus percaya pada staf mereka sehingga dapat mendelegasikan  keputusan pada tingkat yang sesuai. Hal itu penting agar staf memiliki tanggung jawab dalam memberikan kualitas sesuai dengan tuntutan kerjanya. Staf memerlukan kebebasan untuk bekerja di dalam suatu kerangka kerja yang jelas dalam mencapai tujuan.<br />
TQM dipertajam dengan sejumlah proyek dalam skalal kecil. Jepang memiliki satu kata untuk pendekatan	yang mengarah pada peningkatan secara berkelanjutan, yaitu kaizen. Secara sederhana artinya adalah peningkatan yang dilakukan tahap demi tahap. Filosofi TQM adalah mencakup skala besar, tetapi implomentasi praktisnya ada dalam skala kecil. Intervensi drastis bukan arti perubahan dalam TQM.<br />
Esensi ‘kaizen’ adalah sebuah proyek kecil yang membangun kesuksesan dan kepercayaan, serta membangun dasar bagi pengembangan selanjutnya. Sebagaimana digambarkan oleh Joseph Juran, dia berargumentasi bahwa cara terbaik untuk menangani proyek besar adalah dengan membagi proyek tersebut ke dalam bagian-bagian manajemen yang lebih kecil. Dia merekomendasikan pemberian tugas satu tim ke dalam bentuk tugas yang terbagi-bagi (Juran, 1589). Perubahan yang berkepanjangan di dasarkaa pada sejumlah proyek kecil yang dapat dicapai secara rasional. Itulah sebabnya penting kiranya untuk, bekerja melalui aktivitas lembaga secara berhati-hati, proses demi proses isu demi isu. Setelah satu periode waktu dicapai apa yang ditargetkan dinilai lebih menghasilkan dari pada membuat suatu perubahan dalam skala besar. Pendekatan pada peningkatan kualitas berarti bahwa implementasinya tidak membutuhkan suatu proses yang mahal. Karena penggunaan uang itu sendiri belum tentu menghasilkan kualitas.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Perubahan Budaya</strong></em><br />
TQM memerlukan perubahan budaya. Awalnya terdengar sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk diimplementasikan. Hal ini memerlukan suatu sikap perubahan dan metode kerja. Staf dalam lembaga perlu untuk memahami pesan-pesan TQM itu sendiri. Bagaimanapun budaya perubahan bukan hanya tentang  merubah perilaku staf, akan tetapi memerlukan suatu perubahan dalam manajemen dan kepemimpinan lembaga. Maksud kepemimpinan di sini  ditandai dengan suatu pemahaman bahwa orang dapat memproduksi kualitas. Ada dua hal yang diperlukan agar staf menghasilkan kualitas. Pertama, staf membutuhkan suatu environmet (lingkungan) yang pantas untuk bekerja.	Mereka nembutuhkan alat untuk pekerjaanya dan mereka membutuhkan suatu sistem dan prosedur kerja yang sederhana sebagai bentuk bantuan dalam pekerjaan. Lingkungan mempeagaruhi kemampuan kerja staf, sehingga mereka dapat bekerja secara layak dan efektif. Diantara unsur lingkungan yang terpenting adalah sistem dan prosedur kerja. Karena bila prosedur yang ditempuh sulit atau lemah maka untuk mencapai kualitas yang diharapkan adalah suatu hal yang sulit. Kedua, untuk menghasilkan kerja yang baik, staf memerlukan dorongan dan pengakuan atas kesuksesan dan prestasi yang diraihnya. Mereka membutuhkaa pemimpin yang dapat menghargai prestasi yang dicapai serta membimbing untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar. Motivasi untuk bekerja dengan baik datang dari suatu gaya kepemimpinan dan suasana yang mempertinggi penghargaan diri dan wewenang individual</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kualitas Belajar</em></strong><br />
Pendidikan adalah tentang orang yang belajar. Jika TQM ingin direlevansikan dengan pendidikan maka perlu untuk menentukan arah kualitas dari pengalaman belajar.<br />
Peserta belajar memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan belajar terbaik adalah yang sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan mereka. Suatu. lembaga pendidikan yang mengaplikasikan TQM harus mengantisipasi gaya belajar secara serius, sehingga memiliki strategi bagi tiap individu yang  memiliki perbedaan dalam belajar. Peserta didik adalah pelanggan utama. Lembaga belum dikatakan mencapai Total Quality jika belum dapat memenuhi kebutuhan individual dalam belajar.<br />
Lembaga pendidikan memiliki suatu kewajiban untuk menyediakan metoda belajar yang bervariasi bagi peserta didiknya Lembaga juga harus memberikan kesempatan bagi para peserta didik untuk mengetahui berbagai gaya belajar yang berbeda. Miller, Dower dan Innis berargumentasi tentang hal yang sama dalam buku Improving Quality in  Further Education. Mereka berpendapat bahwa yang diaplikasikan di berbagai lembaga adalah meyakinkan setiap pelajar memiliki rentang pengalaman dan gaya mengajar sehingga mereka memiliki kesempatan untuk berhasil secara maksimal (Dower, Miller dan Innis, 1992, 20).<br />
Adapun pola untuk meaggunakan prinsip-prinsip TQM di kelas dapat digambarkan sebagai berikut; Sebagai permulaan ditetapkan ‘misi’yang disepakati antara siswa dan guru. Dari kesepakatan tersebut timbul keinginan untuk mencapai misi tersebut gaya belajar dan mengajar serta sumber yang diperlukan. Siswa secara individual dapat merudingkan apa yang mereka rencanakan, sehingga mereka memperoleh motivasi dan arahan. Proses negosiasi ini memerlukan ketetapan kualitas, dari Steering Comittee atau forum agar dapat diberikan umpan balik serta memberikan kesempatan pada siswa untuk mengatur belajar mereka sendiri. Sebaiknya perwakilan orang tua juga berpartisipasi dalam  hal ini. Monitoring secara terperinci dibuat dalam bentuk bagan untuk memudahkan pengendalian oleh guru maupun siswa. Hal ini penting untuk meyakinkan tentang apa yang paling tepat dilakukan jika diketahui ada kesalahan yang membahayakan.<br />
Penting kiranya bagi lembaga untuk menggunakan hasil, dari monitoring resmi untuk menetapkan validitas program lembaga yang telah ditetapkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Hambatan Dalam Penerapan  TQM</strong></em><br />
TQM memerlukan kerja keras. Di samping itu memang diperlukan waktu untuk mengembangkan. suatu budaya kualitas. Peningkatan kualitas merupakan proses yang mudah pecah karena budaya cenderung bersifat konservatif dan homeostatis. Kebanyakan staf lebih senang dengan apa yang mereka ketahui dan mereka pahami.<br />
TQM merupakan pekerjaan yang  memerlukan kesetiaan jangka panjang, khususnya bagi Senior Manager. Kadang Senior Manacer inilah yang menjadi masalah. Mereka ingin TQM memberikan hasil tetapi mereka enggan memberikan dukungan. Beberapa inisiatif tentang kualitas menjadi diragukan karena senior manager cepat berbalik kembali pada cara-cara memanaj yang tradisional. Ketakutan dari senior manager untuk mengadopsi metoda dan pendekatan baru aualah hambataa terbesar.<br />
Di samping itu hambatan juga dapat terjadi bila staf tidak memahami tujuan dan misi lembaga. Rencana strategis untuk membantu staf dalam memahami misi lembaga. Strategi ini diarahkan pada upaya menjembatani kesenjangan komunikasi yang terjadi. Staf perlu mengetahui kemana arah langkah lembaga dan bagaimana gambaran, masa depannya. Senior manaer juga harus menaruh kepercayaan pada stafaya. Manager arus dapat memberikan kesempatan pada stafnya untuk dapat mengambil keputusan secara bijaksana.<br />
Problem yang potensial yang ini muncul di beberapa lembaga adalah pada manajer madya. Mereka memiliki peranan yang sangat penting karena mereka bertanggung jawab atas operasional lembaga, sehari-hari dan berperan pula sebagai saluran komunikasi yang utama. Dalam hal ini manajer madya tidak boleh menentukan peranan mereka, selaku inovator	kecuali Senior manager telah mengemukakan visi-nya mengenai hal-hal baru di masa yang akan. datang. Sehubungan dengan kajian di atas, Senior Manager harus memiliki sikap yang konsisten dalam menasehati dan mengkomunikasikan pesan-pesan peningkatan kualitas Mereka harus dapat bersikap persuasif tentang metode baru, bahwa. metode baru tersebut akan memberikan implikasi peningkatan keuntungan yang berarti peningkatan kesejahteraan bagi semua pihak yang terlibat.<br />
Hambatan yang terjadi memang tidak mutlak datang dari kalangan manajemen.Ternyata banyak staf yang takut akan konsekuensi tanggung jawab yang diberikan khususnya bila terjadi kesalahan. Umumnya mereka menyukai hal-hal	yang sifatnya memiliki kesamaan. Untuk keadaan seperti ini TQM harus dihindarkan dari hal-hal yang tidak berarti tetapi sebagai penghubung dan dikenal. Perlu digaris bawahi bahwa hambatan dalam TQM melibatkan ketakutan dan ketidakyakinan.Takut akan apa yang tidak diketahui, mengerjakan sesuatu yang berbeda, takut untuk mempercayai orang lain, dan takut berbuat salah. Para staf tidak dapat berbuat yang terbaik kecuali mereka merasa bahwa mereka dipercaya dan pandangan mereka didengar. Deming menegaskan bahwa hal terpenting dalam melakukan revolusi kualitas adalah ‘menghalau’ rasa	 takut.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB III<br />
MODEL-MODEL PENINGKATAN<br />
TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tiga penulis masalah kualitas yang paling dikenal adalah W. Edwards Deming, Joseph Juran dan Philip B. Crosby. Ketiganya berkonsentrasi pada masalah kualitas dalam bidang industri walaupun banyak yang beranggapan bahwa ide mereka dapat diterapkan dalam bidang industri jasa. Tetapi tidak satupun dari mereka yang mengungkapkan isu kualitas dalam bidang pendidikan. Bagaimanapun kontribusi gerakan. kualitas yang dicetuskan oleh mereka sangat luar biasa, dan sangat sulit untuk memperluas gerakan kualitas tanpa adanya pemikiran mereka.<br />
Dalam mendiskusikan ide Deming, Juran dan, Crosby penting kiranya untuk menyadari bahwa pendekatan mereka memiliki keterbatasan dan kekurangan, karena mereka mengembangkannya dalam konteks industri. Kalaupun ada overlaping di antara pemikiran mereka tetapi dalam kesimpulan  umum	ide mereka saling melengkapi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Deming</em></strong><br />
Buku yang paling penting dari W. Edwards Deming adalah Out of the Crisis, yang dipublikasikan pada tahun 1982. Tujuan buku ini tidak lain adalah untuk mentransformasikan gaya manajemen Amerika. Hal itu dikemukakan pada bagian pengantar yaitu tidak suatu pekerjaanpun yang direkonstruksi atau direvisi tanpa memerlukan. struktur baru secara keseluruhan, dari dasar yang bersifat meningkat (Deming, 1982).<br />
Deming mengkonsentrasikan pada masalah kesalahan atau kegagalan manajemen untuk dijadikan dasar perencanaan di masa yang akan datang serta untuk meramalkan masalah yang mungkin timbul sebelum terjadi. Deming percaya bahwa pendekatan berdasarkan pemikiran jangka  pendek akan mengakibatkan pemborosan dan meningkatkan biaya yang berakibat pula meningkatnya harga beli konsumen.<br />
Deming melihat masalah kualitas utamanya terletak pada manejemen.  Penyebab dasar dari masalah industri adalah kegagalan Senior Manager dalam merencanakan. Yang diajukan oleh Deming bukan sekedar sekuensi langkah untuk megimplementasikan kualitas tetapi sejumlah desakan pada manajemen tentang apa yang akan dikerjakan dan apa yang tidak akan dikerjakan jika organisasi ingin sejahtera. Deming mengemukan 14 point sebagai campuran dari filosofi kualitas baru dan menjadi daya tarik bagi manajemen untuk merubah gaya<br />
pendekatan mereka. Deming mengkombinasikannya dengan pemahaan psikologi yang penting, khususnya dalam mengantisipasi hambatan saat mengadopsi suatu budaya kualitas. Secara tegas juga Deming menekankan pentingnya pencegahan daripada memperbaiki kerusakan, hal inilah yang dinilai sebagai kontribusi unik dalam memahami bagaimana menjamin peningkatan kualitas. hambatan dalam upaya peningkatan kualitas adalah:<br />
1.	Penyakit kurang &#8216;konstannya tujuan. Deming percaya bahwa ini merupakan penyakit yang paling melumpuhkan, sehingga organisasi terhambat untuk mengadopsi kualitas sebagai 	tujuan manajemen.<br />
2.	Adanya pemikiran jangka pendek.Deming menganjurkan penggunaan visi jangka panjang dalam pengembangan suatu budaya peningkatan kualitas. Ahli-ahli pendidikan yang telah banyak menghadapi berbagai perubahan saat ini akan mengetahui bahwa anjuran Deming tidak asing lagi dalam kaitannya dengan kebutuhan strategi jangka  panjang.<br />
3.	Evaluasi individual hanya dilakukan melalui skala pertimbangan atau laporan tahunan. Tidak dapat dihindarkan, penilaian seharusnya. didasarkan pada pengukuran hasil. Deming percaya bahwa kualitas kontribusi pegawai hasilnya dapat diukur. Dia juga percaya bahwa hal tersebut lebih dapat meningkatkan performa, karena penilaian sering menimbulkan efek yang berlawanan. Staf berkonsentrasi pada apa yang penting untuk memperoleh penampilan yang baik, tetapi tidak mengembangkan suatu kebanggaan terhadap pekerjaannya. Padahal inilah yang unsur penting untuk pengembangan kualitas. Penilaian performa dapat berakibat staf bersaing daripada mempersatukan mereka dalam suatu tim. Demikian halnya dalam penilaian guru, Lembaga yang menerapkan TQM akan mempertimbangkan unsur penilaian secara lebih berhati-hati. Yang perlu diingat di sini adalah bahwa perlu adanya suatu pertimbangan khusus agar penilaian yang diberikan tersebut tidak menyebabkan timbulnya efek buruk. Penilaian disini harus mengarah pada sikap positif dan menuju pada. proses perkembangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini Deming menegaskan bahwa. organisasi yang mencoba untuk meraih sukses melalui indikasi performa dapat melupakan sesuatu hal, bahwa sesungguhnya pengukuran kesuksesan adalah kebahagiaan, dan kepuasan pelanggan menurut Demings :<br />
1.	Menciptakan konsistensi tujuan untuk pengembangan produk dan jasa, dengan adanya tujuan suasana bisnis menjadi kompetitif. Deming percaya  bahwa banyak organisasi yang hanya memiliki tujuan jangka pendek, paling lama bertahan hanya 20 sampai 30 tahun. Untuk itu	organisasi harus memiliki rencana jangka panjang yang melihat ke masa depan dan inovasi baru. Mereka harus mencari dan memenuhi perubahan kebutuhan pelanggan.<br />
2.	Adopsi filosofi baru. Organisasi tidak akan bertahan lama jika. terus hidup dalam berbagai kesalahan, materi yang rusak dan produk yang gagal. Mereka harus membuat gebrakan dengan mengadopsi cara. kerja yang baru.<br />
3.	Menghentikan ketergantungan atas adanya inspeksi dan di	gantikan dengan upaya pencapaiaft kualitas. Inspeksi ternyata tidak meningkatkanh atau menjamin kualitas. Deming berargumentasi bahwa pihak manajemen sebaiknya memberikan training, bagi para staf dengan menggunakan statistik sebagai alat dan memberikan teknik-teknik yang dibutuhkan oleh mereka untuk memonitor dan mengembangkan kualitas yang dicapainya.<br />
4.	Hentikan anggapan bahwa penghargaan dalam bisnis adalah terletak pada harga. Bagi Deming harga tidak ada artinya tanpa suatu pengukuran kualitas.<br />
5.	Peningkatan sistem Produksi dan layanan secara konstan untuk selamanya, guna peningkatan kualitas dan produktivitas. Ini menjadi tugas manajemen untuk memimpin proses peningkatan dan meyakinkan bahwa proses peningkatan itu harus dilakukan secara berkesinambungan.<br />
6.	Pelatihan dalam pekerjaan. Pemborosan terbesar dalam organisasi adalah kegagalan mereka untuk menggunakan orang berbakat. Uang yang dikeluarkan untuk pelatihan akan sangat berarti dan penting, ini sama pentingnya dengan menetapkan standar kerja yang diterima.<br />
7.	Kepemimpinan lembaga. Deming mengatakan bahwa ‘manajemen kerja tidak sama dengan supervisi, tetapi berarti kepemimpinan. Ini mengacu pada perubahan gaya tradisional yang mengutamakan pada indikator performa, spesifikasi dan penilaian, dan digantikan dengan peranan kepemimpinan yang dapat memperkaya proses peningkatan dalam produksi, barang dan jasa.<br />
8.	Hilangkan rasa takut, Jika itu dapat dilakukan maka  semestinya orang dapat bekerja lebih efektif. Adanya rasa 	aman merupakan dasar motivasi. Deming percaya bahwa orang dapat berja dengan baik jika lingkungan kerjanya menyenangkan.<br />
9.	Hilangnya penghalang antar departemen. Orang-orang yang ada dalam departemen 	yang berbeda diharapkan dapat bekerja secara tim. Dengan demikian organisasi jangan memberikan arahan yang berbeda-beda bagi departemen-departemen yang ada.<br />
10.	Kurangi slogan, peringatan dan target ganti dengan metoda yang dapat meningkatkan kerja.<br />
11.	Kurangi standar kerja yang menentukan kuota berdasarkan jumlah. Kualitas tidak dapat. diukur hanya dengan melihat output proses.<br />
12.	Hilangkan penghambat yang merampas hak manusia untuk bangga terhadap kecakapan kerjanya.<br />
13.	Lembagakan suatu program pend-idikau dan ppaingkatan diri yang penuh semangat. Staf yang memperoleh pendidikaa secara lebih baik dinilai lebih dapat mengambil bagian dalam peningkatan kualitas.<br />
14.	Setiap orang dalam perusahaan bekerja sama dalam mendukung proses transformasi. Transformasi budaya kualitas adalah pekerjaan setiap orang. Ini juga merupakan tugas penting dari . pihak manajemen.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Strategi Manajemen Kualitas</em></strong><br />
Untuk membantu manajer dalam perencanaan kualitas Juran telah mengembangkan suatu pendekatan yang disebut Strategic Quality Management (SQM). SQM merupakan tiga bagian proses berdasarkan perbedaan tingkatan staf. Perbedaan tingkatan staf ini dinilai memberikan Kontribusi yang unik bagi, peningkatan kualitas. Senior manager memiliki pandangan strategi organisasi; manajer madya memegang peranan operasional kualitas; dan kekuatan kerja bertanggung jawab atas pengawasan kualitas. Ide ini telah diaplikasikan dalam bi-<br />
dang pendidikan, yang diwujudkan dalam Consultan at Work.Consultan at Work ini dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. John Miller dan rekannya di Consultan at Work berpendapat bahwa Senior manager dan gubernur perlu berperan dalam strategi kualitas dengan menetapkan	pandangan lembaga, prioritas dan kebijakan. Manajer madya -Kepala Departeman (Fakultas)- bertanggung jawab atas jaminan kualitas, yang melibatkan mereka dalam koordinasi informasi, pengujian efektivitas secara sistematik serta mengirimkan hasil monitoring baik dari tim pengajar maupun dari Senior Manager. Quality Control diuji oleh guru yang	mengoperasionalkan course team. Tim tersebut merancang karakteristik dan standar program pelajaran sehingga kebutuhan pelajar dapat dikonfirmasikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Mencapai Kualitas</strong></em><br />
Nama Philip crosby dihubungkan dengan dua ide kualitas yang sangat menarik dan berpengaruh. Pertama, disebutkan bahwa kualitas adalah gratis, maksudnya bahwa pemborosan dan ketidakefisienan pada kebanyakan sistem dapat	dihemat dan &#8216;dibayar&#8217; oleh program peningkatan kualitas. Kedua, dinyatakan bahwa kesalahan, kegagalan, pemborosan  dan seluruh ‘hal yang tidak mencerminkan kuaiitas&#8217; dapat	dihapus seluruhnya jika lembaga memiliki keinginan.<br />
Kedua ide di atas sangat menarik untuk diterapkan dalam bidang pendidikan. Ide peningkatan kualitas dapat membayar sendiri, sebagaimana dituliskan olehnya &#8220;Kualitas adalah gratis. Ini bukan pula hadiah, tetapi sesuatu yang gratis. Seluruh pemborosan dapat terjadi jika tidak bekerja benar sejak dari awal” (Crosby, 1979,p. 1).<br />
<em><strong>Zero Defect</strong></em><br />
Program ini dicanangkan oleh crosby, walaupun memberikan kontribusi pada pemikiran kualitas tetapi dinilai kontroversial. Ini merupakan ide yang sangat berpengaruh Zero defect (kerusakan nol) merupakan komitmen pada kesuksesan dan mengurangi kesalahan. Program ini menekankan pentingnya sistem untuk selalu mengerjakan sesuatu secara benar sejak dari awal. &#8216;Crosby mengajukan argumentasi bahwa tercapainya &#8216;zero defect&#8217; dalam konteks bisnis, akan meningkatkan keuntungan melalui penghematan biaya. Dia tidak begitu yakin dengan penggunaan statistik, itu hanya dinilai sebagai tindakan yang tidak bersifat mencegah. Crosby merupakan seorang ahli kualitas yang benar-benar mengemukakan model pencegahan. Tetapi ahli lain seperti Demiag dan Juran hal ini dinilai sebagai tujuan yang tidak mungkin.<br />
Zero defect adalah konsep yang sangat sulit untuk diaplikasikan, pada produk jasa. Dalam produk jasa zero defect diharapkan tetapi sangat sulit, karena produk jasa memiliki banyak peluang adanya kesalahan manusia. Dalam pendidikan ide ini sebaiknya dapat pula diterapkan. Secara sederhana misalnya seorang murid dapat berhasil dalam pendidikan secara tepat waktu dan mengembangkan potensinya secara penuh.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Program Crosby</strong></em><br />
1.	Management Commitment. Inisiatif kualitas harus disetujui dan dipimpin oleh Senior Management. Crosby menekankan bahwa komitmen ini dikomunikasikan dalam suatu perayataan kualitas, yang dibuat secara singkat, jelas dan mungkin untuk dicapai.<br />
2.	Quality Improvement Team. Jika setiap fungsi dalam organisasi potensial untuk menimbulkan kesalahan.dan kegagalan kualitas, maka setiap bagian organisasi harus berpartisipasi dalam usaha peningkatan. Quality 1mprovement Team memiliki tugas untuk menetapkan dan mengatur program yang akan diimplementasikan pada seluruh organisasi.Tim ini tidak mengerjakan seluruh pekerjaan kualitas. Tugas implementasi peningkatan merupakan tanggung jawab tim secara individual di dalam depertemen.<br />
3.	Quality Measurement (Pengukuran Kualitas) Penting kiranya untuk dapat mengukur arus dan potensi yang dapat digunakan untuk aksi perbaikan. Jenis pengukuran berbeda antara organisasi yang memproduksi barang dan organisasi yang memproduksi jasa. Di dalam pengukuran terdapat data dari hasil inspeksi dan laporan tes, data statistik dan data umpan balik dari pelanggan.<br />
4.	Cost of Quality. Biaya kualitas terdiri dari hal-hal yang berkaitan dengan biaya kesalahan, pekerjaan ulang, pembatalan, inspeksi dan pengujian. Penting dilakukan suatu identifikasi biaya kualitas.<br />
5.	Qualitv Awareness Seperti telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa penting untuk dilakukan upaya menumbuhkan kesadaran pada setiap orang di dalam organisasi tentang kebutuhan program peningkatan kualitas. Hal ini memerlukan pertemuan yang teratur antara manajemen dan pegawai. Pertemuan ini diarahkan pada diskusi masalah-masalah khusus serta bagaimana cara mengatasinya.<br />
6.	Corrective Action. Supervisor memerlukan kerjasama dengan stafnya guna, mengurangi kualitas yang buruk. Untuk itu dibutuhkan metodologi yang sistematik. Untuk memutuskan masalah yang harus diatasi sesegera menungkin (menjadi prioritas utama) dapat digunakan aturan Pareto. Dalam hal ini dikemukakan bahwa 20 % dari proses disebutkan Sebagai penyebab 80 % masalah.<br />
7.	Zero Defects Planning. Crosby berpendapat bahwa program Zero Defect harus diperkenalkan dan dibimbing oleh Quality Improvement Team. Tim tersebut bertanggung jawab atas impelementasi program ini.<br />
8.	Supervisor Training. Langkah ke delapan ini menekankan pentingnya pelatihan Supervisor. Karena para supervisor sangat berperan dalam proses peningkatan dan pelatihan ini dibutuhkan oleh mereka. Pelatihan diselenggarakan secara resmi.<br />
9.	Zero Defect Day. Ini merupakan ide untuk menetapkan setiap hari adalah hari tanpa kesalahan dalam bekerja.<br />
10.	Goal Setting. Berkaitan dengan Zero Defect Day, perlu kiranya ditetapkan tujuan yang spesifik dan dapat diukur.<br />
11.	Error-Cause Removal. Penting kiranya suatu komunikasi antara pegawai dan manajemen tentang situasi yang sulit untuk diberi implementasi peningkatan kualitas. Cara terbaik untuk mencapainya adalah dengan menetapkan standar sehingga komunikasi sampai pada garis manajer yang tepat.<br />
12.	Recognition (Pengakuan).Crosby mengemukakan pentingnya penghargaan diberikan pada mereka yang telah berpartisipasi dalam program peningkatan. Ia berpendapat bahwa sesun guhnya orang bekerja bukan untuk uang, ada hal yang lebih penting dari sekedar gaji yang besar. Yang dibutuhkan oleh staf di sini adalah pengakuan atas prestasi dan kontribusi mereka.<br />
13.	Quality Councils (Dewan Kualitas). Langkah ketiga belas ini adalah menetapkan adanya Dewan kualitas, ini merupakan bentuk lembaga yang juga dianjurkan oleh Juran. Hal ini mengingat pentingnya. melibatkan para profesional dalam bidang kualitas untuk ikut serta mengatasi masalah dengan cara terbaik. lnspektor dan Pengawas Kualitas membutuhkan pendekatan kerja yang profesional dan bersifat konsisten. Salah satu peranan dewan ini adalah untuk memonitor efektivitas program dan meyakinkan bahwa proses peningkatan terus berlanjut.<br />
14.	Do it over Again (Kerjakan Secara terus-menerus`). Program kualitas senantiasa tidak pernah berakhir. Satu tujuan tercapai maka perlu dicapai program laih begitu seterusnya.</p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=5&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/tqm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MPMBS</title>
		<link>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/mpmbs/</link>
		<comments>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/mpmbs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 12:38:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd</dc:creator>
				<category><![CDATA[MPd.doc]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana.doc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/mpmbs/</guid>
		<description><![CDATA[PARTISIPASI STAKEHOLDER TERHADAP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Seiring dengan perubahan zaman dan tingkat perkembangan masyarakat, terutama sejak adanya multi krisis yang melanda bangsa indonesia sampai akhirnya terjadi badai reformasi yang menuntut perbaikan di segala bidang, termasuk pendidikan, maka reformasi melahirkan format-format baru dalam penataan sistim pendidikan nasional dengan tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=3&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">PARTISIPASI STAKEHOLDER TERHADAP</p>
<p style="text-align:center;">MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH<br />
BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:left;">
A. LATAR BELAKANG MASALAH</p>
<p style="text-align:justify;">
Seiring dengan perubahan zaman dan tingkat perkembangan masyarakat, terutama sejak adanya multi krisis yang melanda bangsa indonesia sampai akhirnya terjadi badai reformasi yang menuntut perbaikan di segala bidang, termasuk pendidikan, maka reformasi melahirkan format-format baru dalam penataan sistim pendidikan nasional dengan tidak merubah tujuan utama pendidikan nasional. Format-format baru tersebut selanjutnya dikenal dengan Undang-Undang (UU) Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 tahun 1999 tentang Pertimbangan Keuangan Pemerintahan Pusat dan Daerah, serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai daerah otonom yang selanjutnya menjadi landasan Yuridis bagi penataan sistim pendidikan nasional secara keseluruhan. Makna yang terkandung dari ketiga peraturan tersebut adalah adanya pemberian kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara profesional.<br />
Adapun  konsepsi  pendidikan,  kiranya  komunitas  Perguruan  Tinggi  ini  sudah memakluminya.  Definisi formal  tertera dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat (1) sebagai berikut:<br />
Pendidikan adalah usaha sadar dan  terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya  untuk  memiliki  kekuatan  spiritual  keagamaan,  pengendalian  diri, kepribadian,  kecerdasan,  akhlak  mulia,  serta  keterampilan  yang  diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<br />
Definisi  ini  merupkan  penafsiran  formal  dari  ungkapan  “mencerdaskan  kehidupan bangsa”.    Suatu  tafsiran  yang  utuh  tidak  meredusir  atau  mengkerdilkan  manusia  hanya sekedar  cerdas  secara  intelektual  (IQ),  tetapi  secara emosional  (EQ),  secara  spiritual  (SQ), dan  secara  fisikal  (PQ).    Definisi  ini  juga  mengimplikasikan  bahwa  pendidikan  bukan sekedar  menyiapkan  tenaga  kerja  (SDM)  yang  trampil,  melainkan  juga merupakan  suatu proses  pembudayaan  dan  transformasi  nilai-nilai  budaya  bangsa,  serta menyiapkan warga masyarakat bangsa dan negara yang baik (a good citizen).<br />
Penyelenggaraan pendidikan dapat dijalankan lebih demokratis, meningkatnya peranserta masyarakat, terwujudnya pemerintah dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Dalam Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 terisyarat bahwa otonomi daerah merupakan penyerahan wewenang beberapa urusan pemerintah pusat kepada daerah termasuk dalam bidang pendidikan, maka daerah akan memiliki wewenang dalam merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan sendiri pembangunan pendidikan. Hal ini memberikan implikasi bahwa daerah harus mampu membiaya sendiri segala sesuatu yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan.<br />
Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan suatu daerah dalam menggali berbagai potensi dan menggunakan segala sumber daya serta kemampuan mendorong masyarakat agar ikut serta dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk mewujudkan kehendak tersebut, maka perlu diterapkan suatu model pengelolaan sekolah yang ada pada satu sisi memberikan keleluasan pengelolaan sekolah kepada pihak sekolah( kepala sekolah dan guru) dan disisi lain memberikan peluang untuk turut serta kepada masyarakat. Model pengelolaan itu disebut denga istilah ” Manajemen Berbasis Sekolah ” (School Based Management) disingkat dengan MBS atau SBM.<br />
Namun demikian salah satu kunci sukses untuk mengpenerapkan MBS di tingkat SMA, selain kemamampuan kepala sekolah mengambil keputusan juga tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi dalam penyelenggara pendidikan di sekolah, sebagaimana yang dikemukakan oleh N.A Ametembun (1994: <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> bahwa:<br />
Keberhasilan sekolah dalam mengpenerapankan MBS selain kemampuan kepala sekolah dalam mengambil keputusan secara tepat juga terletakpada tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dengan demikaian jelas bahwa kedua aspek tersebut mamilaki peranan yang sangat penting.<br />
Selanjutnya secara khusus mengenai tingkat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan untuk setiap daerah tentunya memiliki tingkat yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat  disebab oleh faktor ekonomi, sosial dan budaya serta tingkat kepedulian masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan. Namun yang jelas bahwa faktor- faktor tersebut hanya dapat diatasi dengan satu cara yaitu melalui proses kegiatan yang dilakukan oleh pihak sekolah.<br />
Konsep peran serta ini menunjukkan suatu keadaaan yang ada dab telah dilakukan, namun perl ditingkatkan secara lebih baik, termasuk peninggkatan masyarakat dalam bidang pendidikan. Memang secara yuridis keterlibatan masyarakat dalam penyelanggaraan pendidikan telah ada, namun dala, konteks MBS hal tersebut perlu terus ditingkatkan mengingat kunci keberhasilan penyelenggaraan pendidikan salah satunya ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat. Pasal 31 UUD 1945 menyatakan bahwa:<br />
•	Tiap- tiap warga negara berhak mendapat pengajaran; dan<br />
•	Pemerintahan mengusahakan dan menyelenggarakan satu sisitem pengajaran Nasional yang diatur Undang- undang<br />
Meliha ketentuan- ketentuan tersebut membuktikan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang berarti bahwa pendidikan itu merupakan hak asasi manusia. Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal, maka pemeritah mengusahakan dan mnyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang tlah diatur dalam bentuk perundangan- undangan. Usaha pncapainan tujuan tersebut dilakukan melalui satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat.<br />
B. Rumusan Masalah<br />
Pelakanaan dan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang melibatkan masyakat secara aktif dalam setiap langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah adalah merupakan pemaknaan dari penerapam konsep Manajemen Berbasis Sekolah, namun disebabkan hal tersebut adalah suatu konep yang baru, sehingga perlu untuk melakukan suatu kajian untuk melihat keaktifan masyarakat dalam menghadapi penerapan konsep Manajemen Berbasis Sekolah.<br />
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi pokok permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: Bagamanakah peranserta masyarakat dalam Manajemen Berbasis Sekolah untuk meningkatan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Lhoong?<br />
C. Pertanyaan Penelitian<br />
Adapun pokok- pokok masalah penelitian tersebuit dapat dirinci sebagai berikut:<br />
•	Bagaimanakah peranserta masyarakat dalam penerapan MBS pada SMA Negeri 1 Lhoong?<br />
•	Pelaksananaan yang dilakukan oleh masyarakat penerapan MBS pada SMA Negeri 1 Lhoong?</p>
<p style="text-align:justify;">•	Kendala apa saja yang dihadapi masyrakat dalam penerapan MBS pada SMA Negeri 1 Lhoong?<br />
D. Tujuan Penelitian<br />
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis pengaktifan peranserta masysrakat dalam rangka menghadapi penerapan MBS SMA Negeri 1 Lhoong?. Lebih lanjut, penelitian ini Bertujuan untuk melihat menganalisis:<br />
•	Persiapan yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengingat peranserta masyarakat dalam rangka menghadapi penerapan MBS pada Pelaksanaan dari pihak sekolah untuk megaktifkan peranserta masyarakat dalam rangka menghadapi penerapan MBS pada SMA Negeri 1 Lhoong.<br />
•	Pelaksanaan dari pihak sekolah untuk mengaktifkan peranserta masyarakat dalam ramgka menghadapi MBS pada SMA Negeri 1 Lhoong.<br />
•	Kendala yang dihadapi pihak sekolah untuk mengaktifkan peranserta masyarakat dalam rangka menghadapi penerapan MBS pada SMA Negeri 1 Lhoong.<br />
E. Manfaat Penelitian<br />
Manfaat penelitian yang akan dirasakan sehubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan adalah berupa sumbangan dan masukan bagi pengembangan disiplin ilmu Administrasi Pendidikan yang berkenaan dengan kajian manajemen strstegi, kebijakan pendidikan, pengambilan keputusan, kepimpinan pendidikan serta hubungan sekolah dengan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bantuan kepeda pihak lembaga bahwa penerapan MBS menuntut adanya peranserta masyarakat dalam pengolahan pendidikan secara lebih baik.</p>
<p style="text-align:center;">BAB II<br />
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM<br />
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH</p>
<p style="text-align:justify;">
A.	Perspektif Ekonomi Daerah Dalam Bidang Pendidikan<br />
Desentralisasi tidak lagi menjadi ide belaka, tetapi sudah merupakan realitas yang tidak dapat dihindari lagi. Undang- undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 yang mengatur otonomi daerah telah disyakan dan diberlakukan, meskipun pada saat sekarang masih banyak dilakukan revisi sebagai penyempurnaan dalam pelaksanaannya. Namun demikian setidaknya dengan diberlakukan Undang-  undang tersebut kekuasaan puasat yang selama tiga dasawarsa berlaku kuat dengan berdasarkan sistem manajemen yang sentralistik telah dipangkas. Walaupun dalam Bab IV Pasal 7 UU Nomor 22 Tahun 1999 dinyatakan masih adanya wewenangan dari pemerintah pusat untuk daerah dalam beberapa bidang, yaitu: politik luar negeri,pertahanan dan keamanan, perailan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain. Dengan demikian bidang pendidikan merupakan salah satu bidang yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten.<br />
Sebagai tindak lanjut (follow up) dari pelaksanaan UU Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diatas, kewenangan lain termasuk diantaranya kewenangan persiapan serta peningkatan sumer daya manusia, telah ditetapkan peraturan pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2000, mengatur kewenangan pemerintah baik pusat maupun daerah. Berdasarkan PP tersebut, peranan Pemerintah pusat dalam bidang pendidikan adalah:<br />
1.	Menetapkan standar siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penelitian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya.<br />
2.	Pendapatan standar materi pokok<br />
3.	Penetapan persyaratan perolehan dan penggunaan gelar akademik.<br />
4.	Penetapan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan<br />
5.	Penetapan persyaratan penerimaan, pepindahan, sertifikat siswa, warga belajar dan mahasiswa.<br />
6.	Penetapan kelender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun bagi pendidikan dasar, menengah dan luar sekolah.<br />
7.	Peraturan dan pengembangan pendidikan tinggi, pemdidikan jarak jauh serta pengaturan sekolah internasional.<br />
8.	Pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra nasional.<br />
9.	Penetapan persyaratan permintaan/zoning, pencarian, pemanfaatan, pemindahan, pengadaan, sistem pengamanan dan kepemilikan benda cagar budaya secara persyaratan penelitian arkeologi.<br />
10.	Pemanfaatan hasil penelitian aerkeologi nasional.<br />
Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tersebut menetapkan juga bahwa apabila otonomi daerah tingkat II belum mampu menangani bidang- bidang tertentu, maka bidang- bidang tersebut dapat diserahkan kepala daerah  tingkat I selanjutnya menurut Tilaar (2000: 176) bahwa dalam konteks otonomi daerah khususnya bidang pendidikan dampak positif ditetapkan otonomi daerah manajemen pendidikan nasional dalam negara kesatuan Republik Indonesia adalah:<br />
1.	Mengembangkan kebudayaan lokal. Dengan demikian masalah pengisian  muatan lokal di daerah- daerah telah merupakan suatu keharusan yang perlu direncanakan, dipersiapkan dan dikembangkan.<br />
2.	Mengembangkan kebudayan nasional sebagai benteng pertahanan menjaring pengaruh- pengaruh kebudayaan global yang negatif dan identitas bangsa yang akan memperkuat ketahanan nasional.<br />
3.	Mengembangkan inisiatif untuk bereksperimen dan bersaing dalam mengembangkan mutu pendidikan nasional menghadapi persaingan global.<br />
4.	Meningkatkan peran masyarakat (swasta) untuk mengembangkan ciri khasnya sebagai sumbangan bagi peningkatan mutu pendidikan nasional.<br />
Secara khusus untuk jenis dan satuan pendidikandi Sekolah berdasarkan konsepsi otonomi daerah tersebut School Based Management atau manajemen Berbasis Sekolah dan Community Based School merupakan tuntutan untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Dengan demikian sekolah mandiri merupakan suatu bentuk pengelolaan sekolah pada era otonomi daerah sekarang. Dalam kaitannya akan kmandirian sekolah ini diperlukan nilai- nilai baru dan aturan- aturan baru dalam bidang pendidikan.<br />
Ditetapkannya otonomi daerah akan memberikan perubahan dan pengembangan tersendiri dalam segala bidang kehidupan masyarakat termasuk pendidikan. Perubahan dan pengembangan tersebut menurut N.A Amentembun (1994: 10) meliputi:<br />
1.	Perubahan Manajemen Sekolah<br />
2.	Sumber Daya Pendidikan dan<br />
3.	Peningkatan Mutu Pendidikan<br />
Secara lebih jelasnya perubahan dan pengembangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.	Perubahan Manajemen Sekolah<br />
Perubahan dalam manajemen sekolah berhubungan dengan strukturisasi dari para penyelenggara pendidikan.Sebagaimana diketahui bahwa unsur dari  para penyelenggara pendidikan terdiri dari pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat.sebelum mulai diberlakukannya otonomi daerah strukturisasi yang bersifat vertikal sangat jelas, dengan ditandainya penjenjangan dalam pertanggungjawaban yang sangat nyata dan rinci sesuai dengan kewenangan dari kekuasaan yang harus dilakukan.<br />
Perubahan mendasar dari adanya otonomi daerah erhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ditujukan kepada hal- hal yang menjadi garapan manajemen sekolah.Artinya bahwa baik keuangan, ketenangan, sarana dan prasarana serta hubungan dengan masyarakat sudah merupakan tanggung jawab tersendiri dari pihak sekolah, sehingga jelas bahwa sekolah dituntut untuk mandiri dalam mengelola segala aspek yang menjadi bidang garapannya.<br />
2.	Sumber Daya Pendidikan<br />
Pengolaan sumber daya pendidikan gengan diberlakunya otonoi daerah jelas merupakan tanggung jawab sepenuhnya pihak sekolah yang bersangkutan, baik mengenai sumber pendapatan keuangan maupun pengelolaannya. Sebelum pelaksanaan otonomi dearah sumber daya pendidikan ditentukan oleh keputusan dan kebijakan dari pusat, sedangkan setelah otonomi daerah diberlakukuan pihak sekolah memiliki kekuasaan dan kewenangan sepenuhnya dalam pengambilan atas anggaran pendapatan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya pendidikan.<br />
Pengembangan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah dalam rangka mencari dan menganalisis sumber daya pendidikan pada era otonomi pendidikan dengan menerapkan model ” Manajmen Berbasis Sekolah” tentunya adalah melalui pemanfaatan potensi yang ada pada masyarakat serta berkoloborasi dengan dunia masyarakat industri yang mau dan peduli terhadap kepentingan pendidikan. Oleh karena itu jelas bahwa keberhasilan sekolah dalam menerapkan model ” Manajemen Berbasis Sekolah” tergantung pada kemampuan sekolah untuk meningkatkan suatu kepedulian masyarakat akan arti penting pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.<br />
3.	Peningkatan Mutu Pendidikan<br />
Dengan  diberlakukannya otonomi daerah,memungkinkan sekolah lebih bebas menentukan cara- cara atau strategi yang akan ditempuh dalam meningkatkan mutu pendidikan, tanpa harus menerima instruksi dari pusat terlebih dahulu. Hal- hal yang dianggap baik untuk meningkatkan mutu pendidikan segera dilakukan sesuai dengan tuntutan dan kemampuan sekolah, sehingga jika suatu kegiatan dianggap baik, maka pihak sekolah segera melakukannya tanpa haus menungguintruksi atau petunjuk dari pusat lagi.<br />
Dengan demikian Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah yang telah dijabarkan ke dalam peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, memberikan kesempatan pada lembaga pendidikan untuk melaksanakan reformasi. Salah satu bentuk reformasi mengembangkan kemandirian sekolah, sehingga muncul sekolah mandiri, yaitu sekolah di mana kekuasaan ada pada pihak sekolah sendiri: Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif serta orang tua siswa. Untuk itu di dunia pendidikan diperlukan nilai- nilai dan aturan- aturan baru dintaranya pergeseran fungsi pemerintah dari controling ke servising yang menunjukkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengutamakan pelaksanaan tugas melalui sistem pengasan yang sangat ketat tetapi harus lebih bersikap memberikan pelayanan terhadap dunia pendidikan. Reformasi ini akan dapat berlangsung dan mencapai tujuan apabila ada dukungan partisipasi aktif dari kalangan orang tua siswa dan masyarakat.<br />
B.	Konsep Aspek- aspek dan Strategi Peningkatan Peranserta Masyarakat dalam Konteks Manajemen Berbasis sekolah<br />
Konsep awal peningkatan berasal dari kata daya yang menurut poerwadarmita (1992:344) mengartikan sama dengan kekuatan, tenaga dan pengaruh. Sedangkan menurut stewart yang dikutip oleh pangestu (1998:55) mengungkapkan bahwa: Peningkatan dapat dikatakan sebagai sesuatu upaya yang terencana dalam pengolahan aspek- aspek yang perlu diberdayakan, sehingga menghasilkan suatu aktivitas yang bermanfaat bagi kemejuan dan peningkatan kinerja organisasi. Apabila melihat kedua konsep tersebut, maka peningkatan merupakan upaya terencana dalam menggerakkan kekuatan, tenaga dan pengaruh yang dimiliki seseorang atau organisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi secara optimal.<br />
Dalam konteks MBS peningkatan peranserta masyarakat berhubung dengan suatu strategi, proses atau upaya dalam mendayagunakan atau memanfaatkan seluruh sumber daya atau komponen sumber daya yang dimiliki masyarakat, sehingga menghasilkan kinerja sekolah yang benar- benar mandiri dan mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Bethel yang dikutip oleh fasli jalal dan dedi supriadi (2001:193) dikemukakan bahwa: ”Meningkatkan masyarakat berarti membantu masyarakat menemukan eksistensi dirinya, memahami kelemahan dan kelebihan dirinya, serta membrikan ruang untuk mengekspresikan kebebasan yang dimiliki dalam kehidupan bersama”. Pendidikan memilih jalan pembebasan yang arahnya adalah bagaimana lahirnya masyarakat yang mandiri dan kreatif. Oleh karena itu sudah menjadi keharusan bagi setiap lembaga perekolahan untuk membuat suatu pola atau sistem peningkatan peranserta masyarakat yang diharapkan mampu membawa meningkatan mutu dan pengembangan kemejuan lembaga persekolahan secara keseluruhan.<br />
Dengan demikian Kepala Sekolah selaku manajer, pimpinan dan administrator penidikan harus mampu menciptakan atau dituntut untuk dapat meningkatkan peranserta masyarakat secara maksimal, sehingga memberikan kontribusi terhadap kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan pendidikan disekolah. Dengan adanya peningkatan atau partisipasi masyarakat yang terprogram dan terencana, maka akan memberikan suatu pengaruh yang baik terhadap penyelenggaraan proses pembelajaran yang benar- benar kondusif, sehingga mutu lulusan dari setiap periode senantiasa mengalami kemajuan.<br />
C.	Keadaan peranserta masyarakat sebelum dilaksanakan MBS<br />
Aspek- aspek peningkatan peran serta masyarakat dalam konteks MBS pada dasarnya meliputi dua aspek pokok, yaitu: sumber daya manusia dan non manusia.Sumber daya manusia berhubungan dengan segenap masyarakat untuk dapat diberayakan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, sedangkan aspek  sumber daya non- manusia berhubungan dengan sifatnya material meliputi keuangan dan penyediaan lahan pembangunan. Perabot dan perlengkapan sekolah. Beberapa unsur yang dapat dalam masyarakat untuk diberdayakan peranserta terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah menurut Faslil Jalal dan Dedi Supriadi (2991:192) meliputi:<br />
1.	Tokoh masyarakat (termasuk tokoh agama, tokoh adat dan pendidikan) berpean sebagai pemrakarsa, mediator, tutor, pengelola dan bahkan sebagai penyandang dana serta penyedia fasilitas pendidikan.<br />
2.	Organisasi kemsyarakatan berperan sebagai pemkarsa, perencana, penyelenggara, organisator, pemberi motivasi penyedia fasilitas, pengatur kegiatan, pengayom kegiatan, penyedia dana, pembina kegiatan dan pemecah masalah.<br />
3.	Lembaga Swadaya masyarakat (LSM) sebagai pembangkit dan penyampai aspirsi masyarakat, pemberi motivasi, pendamping masyarakat, fasilisator, pengembang, penyedia dana, penyedia teknologi, penyedia informasi pasar, penyedia tenaga ahli dan pengelola program.<br />
4.	Lembaga usaha/ perusahaan berperan sebagai penyelengara pendidikan, penyedia fasilitas pasar sebagai mitra usaha dalam mengelola produksi dari hasil usaha keterampilan yang telah dipelajari.<br />
Untuk saat sekarang strategi dan proses peningkatan peranserta masyarakat termasuk dalam konteks MBS masih belum diartikan menurut persepsi yang universal. Para perencana pembangunan mengartikan sebagai dukungan terhadap rencana atau proyek pembangunan yang direncanakan dan ditentukan oleh pemerintah. Output peningkat peranserta masyarakat diukur dengan masyarakat untuk ikut menanggung biaya pembanggunan, baik bepupa uang maupun tenaga yang diberikan kepada pemerintah, menurut Tim Pokja MBS (2001:7) dikemukakan bahwa: ” Peranserta masyarakat berlaku universal adalah kerjasama yang erat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah tercapai”.<br />
Uphoff yang dikutip oleh Tim Pokja MBS (2001:7) mengemukakan bahwa: Kerangka kerja merekontruksi peranserta mengandung tiga dimensi, yaitu konteks, tujuan dan lingkungan. Selanjutnya dihubungkan dengan pembangunan pendidikan negara berkembang. Perlu adanya pengembangan peningkatan peranserta masyarakat yang meliputi: Peranserta dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, memperoleh keuntungan dan dalam mengevaluasi.<br />
Aktivitas atau proses pemberdayaan peranserta masyarakat tersebut menjadi secara sinerji melalui interaksi yang dinamis dan profesional untuk mencapai tujuan, yang dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">Gambar I : PROSES PENINGKATAN PERANSERTA MASYARAKAT<br />
DALAM KONTEKS MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH</p>
<p style="text-align:justify;">Aktivitas dalam suasana peranserta paling tidak harus memenuhi legalitas dari lembaga yang berwenang agar yang menjadi pelaku dapat terlindungi secara hukum. Pengembang aktivitas dalam masyarakat melibat penduduk, pimpinan dan aparat pemerintah setempat serta personal asing. Selanjutnya unytuk menyajikan tingkat peranserta masyarakat dalam penyelenggara pendidikan dapat dipergunakan kerangka analisis fenomena peranserta masyarakat. Tiga pertanyaan pokok peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah berhubungan dengan peranserta serta dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas? Siapa yang berperan serta dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas? Dan bagaimana timbulnya peranserta dalam mewujudkan pendidikan yang berkualiatas.<br />
Analisis peranserta ditunjukan kepada perilaku penduduk setempat, para pemuka agama dan petugas yang diperkirakan dapat mewujudkan sekolah yang bekualitas merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Meningkatkan peranserta masyarakat tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu, oleh karena itu menurut Tim Pokja MBS (2001:8) pihak sekolah adanya strategi meliputi:<br />
1.	Inisiatif untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas;<br />
2.	Himbauan kepada masyarakat secara sukarela atau terpaksa dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas;<br />
3.	Saluran, jangka waktu dan ruang lingkup peranserta dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas; serta<br />
4.	Efektivitas keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, penerapan membawa mereka ke tujuan dan sasaran yang diinginkan secara profesional.<br />
Berdasarkan hal- hal yang delah dikemukakan, maka peningkatan peranserta masyarakat dalam mewujudkan pendidikan yang kualitas berkonteks MBS adalah kesadaran dan kepedulian melakukan aktivitas- aktivitas terutama mengambil keputusan, mlaksanakan dan mengevaluasi keputusan dalam suatu program pendidikan di sekolah secara propesional dilandasi kesepakatan.<br />
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menuangkan salah satu wujud otonomi sekolah dalam mengambil kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, MBS merupakan salah satu model alternatif pengolahan pendidikan yang bertumpu pada sekolah dan memerikan kesempatan kepada semua pihak yang terlibat untuk berperanserta merumuskan, melaksanakan dan mengevaluasi kebijakan sekolah yang mengarah kepada kualitas pelayanan dan hasil pendidikan.<br />
D.	Strategi Peningkatan Peran Serta Masyarakat<br />
1.	 Sekolah dan Masyarakat<br />
Sektor pendidikan merupakan wahana yang strategis dalam pembangunan masa depan bangsa yang lebih baik. Dalam abad ke- 21 ini, pembangunan nasional diarahkan pada pembangunan manusia indonesia seutuhnya. Dengan demikian pembangunan dibidang pendidikan diarahkan untuk mempersiapkan manusia yang mampu membangun, baik pembanguan lahirlah maupun pembangunan bathiiah. Secara tegasnya hal tersebut termaksud dalam Garis- Garis Besar Haluan Negara (GBHN Tahun 1999), yaitu: Mengembangkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan raktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara oktimal disertai dengan hak dukungan dan lingkungan sesuai dengan potensinya. Sejalan dengan hal tersebut, di dalam undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa:<br />
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, erilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.<br />
Untuk  mencapai tujuan pendidikan sebagaimana tersebut, diperkenalkan lembaga- lembaga pendidikan, baik formal maupun informal yang menyelenggatakan pendidikan dan pengajaran. Salah satu bentuk lembaga pendidikan formal adalah sekolah. Sehingga dapat dikatakan bahwa sekolah merupakan salah satu lembaga sosial yang memiliki tujuan untuk mendidik generasi penerus bangsa agar mampu mengisi kemerdekaan dengan cipta, karya dan karsa.<br />
Sekolah merupakan satu sistem sosial terdiri dari tenaga kependidikan, perserta didik dan personil sekolah lain. Sekolah mengembangkan misi yang sangat penting bagi kemajuan bangsa karena dapat menentukan arah dan kondisi bangsa di masa yang akan datang. Hal ini dapat dipahami mengingat di sekolah inilah dibentuk dan dididik para generasi penerus bangsa. Sekolah dan masyarakat merupakan konteks yang saling mengisi dan melengkapi. Sekolah dapat dianggap sebagai pemeliharaan, pelestari dan pewaris nilai- nilai luhur yang dimiliki masyarakat. Sedangkan masyarakat dapat dianggap sebagai sumber utama (in- put) bagi sekolah dalam melaksanakan kegiatannya. Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan salah satu bidang garapan dari pengelolaan pendidikan yang memegang peran kunci bagi keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Edwart Harsey (Tilaar, 2000) bahwa: ” Community as a point key for school in the achievement education goals”. Sementara itu soetopo (1992: 235- 236) mengukakan bahwa: Hubungan Sekolah dengan masyarakat merupakan suatu proses komunikasi antara pihak sekolah dan masyarakat dengan maksud untuk meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktek pendidikan serta memperbaiki sekolah.<br />
Adanya hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan suatu kondisi yang menunjukkan bahwa sekolah tidak dapat berdiri sendiri, terlepas dari masyarakat tetapi sekolah tetap memiliki kepentingan dengan masyarakat, hal tersebut dapat dipahami mengingat masukan dan keluaran sekolah berasal dari dan untuk masyarakat. Makin majunya pengertian masyarakat akan pentingnya pendidikan anak- anaknya, maka dimaksud untuk kelancaran pendidikan di sekolah pada umumnya dan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada khususnya.<br />
Oleh karena itu kerjasama dan hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat perlu terus diwujudkan. Menurut Sutisna (1998:170), bahwa pentingnya hubungan sekolah dengan masyarakat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:<br />
a.	Untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud- maksud dan saran- saran dari sekolah.<br />
b.	Untuk menilai program sekolah dalam kata- kata kebutuhan- kebutuhan yang terpenuhi.<br />
c.	Untuk mempersatukan orang tua murid dan para guru daam memenuhi kebutuhan- kebutuhan peserta didik.<br />
d.	Untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan.<br />
e.	Untuk membangun dan memelihara kepercayaan terhadap sekolah.<br />
f.	Untuk mengerahkan bantuan dukungan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.<br />
Progaram hubungan sekolah dan masyarakat merupakan salah satu bidang dari keseluruhan pengolahan pendidikan di suatu sekolah. Untuk itu, program hubungan sekolah dengan masyrakat perlu dikelola dengan baik, ditumbuhkembangkan dan diupayakan agar menjadi peningkatan efektivitasnya, mengingat bahwa sekolah dan masyarakat merupakan dua kelompok sosial yang saling berkaitan dan membutuhkan satu sama lain. Purwoto (1992:188) mengukakan pandangan filosofis tentang hubungan sekolah dan masyarakat, yaitu:<br />
a.	 Sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat; ia bukan masyarakat hubungan yang terpisah dari masyarakat.<br />
b.	 Hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah tergantung pada masyarakat.<br />
c.	 Sekolah merupakan lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota- anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.<br />
d.	 Kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat saling berkorelasi, keduanya saling membutuhkan.<br />
e.	 Masyarakat merupakan pemilik sekolah, sekolah ada karena masyarakat memerlukan.<br />
Sekolah dan masyarakat merupakan dua jenis lingkungan yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling membutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan masing- masing. Untuk itu sekolah tidak dapat mengisolasi diri dari perkembangan dan pertumbuhan masyarakat perlu mengabdikan kerjasama di antara keduanya. Apalagi dalam menghadapi penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di Sekolah.<br />
2.	Masyarakat dan Sumber Daya Pendidikan<br />
Sekolah didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu memenuhi salah satu kebutuhan dasar hidup manusia, yakni pendidikan, dengan adanya proses pendidikan ini, diharapkan dapat terbentuk manusia pembangunan yang dapat membangun diri, masyarakat, dan bangsanya menuju suatu tataan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuia dengan tujuan dan falsafah bangsa. Sekolah hidup dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat, sekolah merupakan bagian dari masyarakat. Untuk itu agar sekolah dapat tumbuh dan berkembang, maka program sekolah harus sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk dapat hidup dalam masyarakat, maka sekolah harus mampu mengelola sumber- sumber yang ada di masyarakat. Menurut Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa sumber daya pendidikan adalah: segala sesuatu yang dipegunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan prasarana.<br />
Dalam menggali berbagai sumber daya dan potensi yang tersedia di masyarakat, maka diperlukan hubungan dan kerjasamayang harmonis antara sekolah dan masyarakat. Menurut Peraturan Pemerintahan Nomor 39 pasal 39 Tahun 1992 tentang peranserta masyarakat dalam pendidkan bahwa tujuan mayarakat berperanserta dalam pendidkan adalah untuk: ” mendayagunakan kemempuan yang ada pada msyarakat bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional” . Lebih lanjut soetopo dan wasty soemanto (1992:152-153) mengemukakan bahwa: ” Sumber daya masyarakat yang dapat didayagunakan untuk memajukan proses pendidikan di sekolah adalah: orang sebagai sumber, tempat sebagai sumber dan organisasi masyarakat sebagai sumber”.<br />
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa masyarakat merupakan sumber peserta didik, tenaga kependidikan dan penyedia sarana serta prasarana dalam penyelenggaraan pendidikn. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Mamusung (1991:109) mengemukakan fungsi- fungsi masyarakat dalam pendidikan di sekolah, yaitu:<br />
a.	Pemenuhan sumber dan kebutuhan balajar kualitas murid dalam arta bahwa sekolah yang bersangkutan tidak akan kekurangan murid yang baik serta mampu mempertahankan untuk tetap mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.<br />
b.	Tersedianya tempat- tempat penelitian. Untuk mengimbangi teori yang telah diperoleh disekolah diperlukan praktek lapangan. Untuk mendapatkan praktek ini banyak dijumpai kesulitan- kesulitan bila ternyata sekolah tersebut kurang mendapat tempat dihati masyarakatnya. Oleh sebab itu hubungan yang baik dengan masyarakat sangat diperlukan.<br />
c.	Pemenuhan sarana an prasarana.  Banyak di antara sekolah- sekolah terbantu pada masalah sarana dan prasarana dalam pemecahan masalah tersebut.<br />
d.	Pemenuhan sumber dana dan daya manusia yang terungkap dalam cipta, rasa dan karyanya.<br />
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat meupakan sumber tenaga pendidikan, sumber peserta didik, sumber fasilitas pendidikan dan masyarakat sebagai sumber keuangan pendidikan.<br />
3.	Pelaksanaan Kegiatan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat<br />
Sebagai suatu program sekolah dengan masyarakat dapat dilaksanakan melalui berbagai bentuk kegiatan, baik yang bersifat formal maupun informal, Rifa’ i dan J. Mamusang (1994:12-13) mengemukakan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara:<br />
a.	   Pengikutsertaan guru/ tenaga kependidikan dan siswa dalam kegiatan- kegiatan masyarakat seperti karang taruna, pemeliharaan lingkungan hidup dan lain- lain.<br />
b.	Penyediaan fasilitas sekolah untuk keprluan masyarakat antara lainpenggunaan aula, lapangan olah raga, peminjiman ruangan kelas untuk kursus keterampilan, pemanfaatan perpustakan sekolah dan sebagainya sepanjang tidak menggangu kelancaran pelaksanaan kurikuler. Demikian juga sebaliknya fasilitas yang ada di masyarakat dapat digunakan untuk kepentingan sekolah.<br />
c.	Mengikutsertakan pemuka- pemuka masyarakat atau ekstrakulikuler sekolah antara lain dibidang pendidikan, kesehatan, perkoprasian, perhubungan, keamanan , keagamaan, penerangan, pertanian, perternakan, kerajinan rakyat, kesenian daerah dan lain- lain baik secara langsung maupun tidak langsung.<br />
d.	Pendayaan sarana yang tersedia di masyarakat untuk keperluan sekolah antara lain mesjid, gereja, pura, poliklinik, pabrik, bengkel dan lain- lain.<br />
e.	Pendayagunaan potensi masyarakat sebagai salah satu unsur penanggung jawab pendidikan sebagaimana diatur dalam GBHN khususnya dalam hal:<br />
1)	Meningkatkan hubungan baik antara keluarga, masyarakat dan sekolah serta pemerintah baik secara organisatoris maupun peroranagan.<br />
2)	Membantu kelancaran kegiatan pendidikan dengan tidak mencampuri urusan teknis pengajaran yang termasuk wewenang Kepala Sekolah, guru dan instansi pembina pendidikan yang bersangkutan.<br />
3)	Mengusahakan partisipasi masyarakat yang sifatnya tidak mengikat.<br />
f.	Mendayagunakan potensi orang tua siswa (POMG/BP3) agar siswa dapat mencapai prestasi yang sebaik- sebaiknya.<br />
g.	Mengikutsertakan dunia usaha/ industri untuk peningkatan mutu lulusan dengan:<br />
1)	Memberikan saran pendapat dan usul untuk penyempurnaan pendidikan agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia usaha/ industri.<br />
2)	Membarikan fasilitas untuk praktek nyata mahasiswa.<br />
3)	Penyedianan lapangan kerja bagi tamatan sekolah.<br />
Bentuk- bentuk kegiatan tersebut hendaklah dilakukan secara terprogram atau direncanakan secara matang, sehingga dapat membarikan manfaat secara optimal, bukan hanya kepada sekolah tetapi juga kepada sekolah tetapi juga kepada masyarakat sendiri.<br />
4.	Teknik- teknik Hubungan Sekolah dengan Masyarakat<br />
Untuk mencapai tujuan dari program hubungan sekolah dengan masyarakat ini, diperlukan beberapa teknik alat atau cara dalam mencapai tujuan yang dimaksudkan. Teknik- teknik itu perlu dilakukan secara cepat, tepat, banar dan akurat sehingga dapat membantu memudahkan dalam pencapaian tujuan. Soetopo dan Wasty Soemanto (1992:247-252) mengemukakan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu:<br />
a.	 Laporan orang tua murid<br />
b.	 Buletin bulanan<br />
c.	 Penerbitan surat kabar<br />
d.	 Pameran sekolah<br />
e.	  Open hause<br />
f.	 Kunjungan ke sekolah<br />
g.	 Kunjungan ke rumah murid<br />
h.	 Melalui penjelasan oleh staf sekolah<br />
i.	 Gambaran keadaan sekolah melalui murid<br />
j.	 Melalui rado dan televisi<br />
k.	 Laporan tahunan<br />
Selanjutnya berhasil atau tidaknya pelaksanaan teknik- teknik tersebut, sangat tergantung pada kepercayaan pelaksanaan teknik tersebut, apakah ia memiliki kemampuan untuk mengakomodasikan kepentingan sekolah agar masyarakat dapat memberikan bantuannya secara efektif sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Untuk itu pihak sekolah (Kepal Sekolah dan guru) perlu diberikan gambaran dan program kerja yang jelas, khususnya program kerja hubungan sekolah dengan masyarakat.<br />
Secara khusus dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah teknik yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk melakukan kerjasama dengan masyarakat yang saat ini sedang dikembangkan adalah ,elalui pembentukan dewan sekolah. Peran dan fungsi Dewan Sekolah dalam implementasi MBS dirasakan sangat penting, sehingga hubungan sekolah dan masyarakat tidak hanya sebatas pelaksanaan melalui BP3 atau rapat orang tua dan pihak sekolah, tetapi juga sebagai organisasi yang formal untk menampung aspirasi dari kedua belah pihak.<br />
5.	Komunikasi Dalam Hubungan Sekolah dengan Masyarakat<br />
Peranan komunikasi dalam melakukan hubungan sekolah dengan masyrakat menduduki posisi yang sangat strategis, mengingat komunikasi dapat dianggap sebagai alat yang dapat menjembatani pihak sekolah dan masyarakat, komunikasi dapat dikatakan sebagai proses timbal balik atau pihak sekolah dan masyarakat selaku yang berkepentingan. Untuk menciptakan hubungan dan kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan masyarakat diperlukan komunikasi yang baik, sebab tanpa adanya masyarakat efektif. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa komunikasi merupakan unsur yang sangat penting dalam mewujudkan hubungan dan kerjasama yang serasi dan harmonis dalam membentuk kemengertian antara kedua belah pihak (sekolah dengan masyarakat) dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam proses kerjasama dengan golongan- golongan dan individu- individu yang berada di masyarakat, sekolah harus mancari metode yang efektif untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat, sebagaimana dikemukaka oleh Sutisna (1989:190) yaitu: Komunikasi merupakan proses penyaluran informasi, ide, penjelasan, perasaan, pertanyaan dari kelompok. Ia merupakan proses interaksi antar orang- orang/ kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang- orang dari kelompok dalam suatu organisasi.<br />
Dengan demikian adanya proses ini diharapkan terjadi interaksi atau saling pengaruh dalam arti yang positif antara kedua belah pihak, sehingga maksud dan tujuan dari pelaksanaan program ini dapat tercapai. Menurut Farhan (1998:67) bahwa para Kepala Sekolah dalam melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat menerapkan berbagai jenis yang dapat dijalin antara keduanya, yaitu:<br />
a.	 Jenis hubungan antara sekolah dan masyarakat yang berciri sikap acuh tak acuh.<br />
b.	 Sekolah mempublikasikan apa- apa yang harus diketahui oleh masyarakat.<br />
c.	 Interpretasi dalam penyelenggaraan pendidikan oleh masyarakat.<br />
d.	 Usaha bersama antara sekolah dengan masyarakat, sebagai suatu proses interaksi yang dikehendaki.<br />
Untuk berkomunikasi dengan masyarakat, sekolah memiliki banyak jalur yang dapat ditempuh. Semua jalur tersebut terbukti sangat berguna. Sedangkan yang saling menguntungkan ialah jalur yang langsung bersangkutan dengan murid dan situasi pertemuan langsung (face to face).<br />
E.	Model Manajemen Berbasis Sekolah<br />
1.	Pengertian<br />
Bangsa indonesia telah memiliki Undang- Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang didalamnya memuat berbagai peraturan pokok mengenai penyelenggaraan dan pengolahan pendidikan dari mulai pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Namun tuntutan- tuntutan untuk mengatualisasikan Sistem Pendidikan Nasional terus mengingat selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi pendidikan dan reformasi pendidikan. Secara khusus Tilaar (2000:176-178) dalam konteks reformasikan pendidikan mengemukakan bahwa: pendidikan nasional yang telah terpisah dari kebudayaan, baik kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional perlu diintergraskan kembali, sehingga pendidikan benar- benar hidup, di hidupi dan menghidupi kebudayaan nasional. Dengan demikian lebih lanjut Tilaar, (2000:177-178) mengemukakan bahwa pergeseran paradigma masyarakat Indonesia dalam memasuki kehidupan baru milenium ketiga, antara lain memerlukan strategi reformasi pendidikan nasional yaitu:<br />
a.	Pranata sosial pendidikan keluarga dan sekolah haruslah dijadikan pusat perkembangan kebudayaan daerah dan nasional.<br />
b.	Visi pendidikan nasional barakar dari kebudayaan nasional, perlu dijabarkan secara rinci dalam semua program pendidikan.<br />
c.	Prisip- prinsip kehidupan nasional yang bardasarkan pancasila perlu dilaksanakan di dalam kehidupan nyata diseluruh lembaga pendidikan.<br />
d.	Menghidupkan dan mengembangkan tata cara hidup demokrasi.<br />
e.	Desentralisasi dan sentralisasi pengelolaan pendidikan yang seimbang.<br />
Salah satu pendekatan untuk mencapai tujuan dari penerapan reformasi pendidikan, khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah adalah melalui pengembangan konsep ” Manajemen”. Dengan demikian dari konsep- konsep yang telah dikemukakakan menunjukkan  bahwa MBS menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan lebih  memadai bagi para siswa. Dengan adanya otonomi dalam pengelolaan pendidikan merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja staf, menawarkan partisipasi langsung ke kelompok- kelompok yang terkait dan juga meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan. Otonomi sekolah juga berperan dalam menampung konsensusnya dibuat oleh mereka yang memiliki akse yang baik terhadap informasi setempat, mereka yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kebijakan dan mereka yang terkena akibat- akibat dari kebijakan tersebut.<br />
Da;am pelaksanaannya di Indonesia, perlu ditentukan bahwa kita tidak harus meniru secara persis model- model MBS dari negara lain. Sebaliknya, Indonesia akan belajar banyak dari pengalaman- pengalaman pelaksanaan MBS di negara lain, kemudian merumuskan dan menyusun model dengan mempertimbangkan berbagai kondisi setempat seperti sejarah, geografi, struktur masyarakat dan pengalaman- pengalaman sendiri di bidang pengolahan pendidikan selama ini.<br />
2.	Tujuan dan manfaat MBS<br />
a.	 Tujuan<br />
Manajemen berbasis Sekolah (MBS) yang ditandai dengan adanya otonomi sekolah dan partisipasi masyarakat yang tinggi tanpa mengabaikan kebijakan nasional tersebut ditunjukan untuk mewujudkan beberapa tujuan pokok. Tujuan tersebut menurut Tim Teknis BAPPENAS (1999:11) adalah untuk ” Meningkatkan efesiensi, mutu, dan perataan pendidikan”. Secara jelasnya tujuan MBS sebagaimana yang tercantum dalam Mulyasa (2000:30) bahwa tujuan MBS adalah:<br />
1)	Tercapai efesiensi pengololaan pendidikan diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi.<br />
2)	Meningkatkan mutu pendidikan, yang diperoleh melalui partisispasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas pengelolaan profesionalisme guru dan Kepala Sekolah.<br />
3)	Meningkatkan partisipasi masyarakat melalui peranserta orang tua murid dalam penyusunan dan pengawasan program.<br />
b.	manfaat<br />
Beberapa manfaat yang dapat dirasakan jika sekolah menerapkan dan melaksanakan MBS, sebagaimana yang tertuang dalam Mulyasa (2000:30) yaitu:<br />
1)	Kepala Sekolah memiliki otonomi yang luas dalam mengelola sekolah dan mengalokasikan sumber daya pendidikan;<br />
2)	Kepala Sekolah memiliki keterampilan mengelola sekolah dengan baik; dan<br />
3)	Memperbesar peranserta masyarakat dalam pengelolaan sekolah.<br />
Sementara itu secara lebih lengkap dan terperinci amentembun (1994:2-4) mengemukakan beberapa manfaat yang jika mengpenerapankan MBS, abtara lain:<br />
1)	Program- program bagi peserta didik menjadi lebih baik;<br />
2)	Pemanfaatan sumber- sumber daya insani secara penuh;<br />
3)	Kualitas keputusan akan menjadi lebih meningkat;<br />
4)	Meningkatkan loyalitas dan komitmen staf;<br />
5)	Mengembangkan keterampilan- keterampilan dlam hal kepimpinan;<br />
6)	Tujuan- tujuan organisasi menjadi lebih jelas;<br />
7)	Meningkatkan ” morale” staf;<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Merangsang kreatifitas dan inovasi staf;<br />
9)	Memperbesar monfidensi masyarakat;<br />
10)	Menambah akuntabilitas finansial; dan<br />
11)	Adanya restrurisasi.<br />
Berdasarkan manfaat- manfaat yang dapat diambi tersebut, maka sudah selayaknya jika sekarang sekolah- sekolah termasuk SMP sudah memikirkan strategi yang tepat agar penerapan MBS dapat dilaksanakan seenuhnya.<br />
3.	 Faktor- faktor yang oerlu diperhatikan<br />
Agar penerapan MBS dapat berhasil dengan baik, maka berbagai faktor yang akibat perlu mendapat perhatian. Faktor- faktor yang perlu diperhatikan terseut menurut Tim Teknis BAPPENAS (1999:12-14) meliputi:<br />
a)	Kewajiban sekolah,<br />
b)	Kebijakan dan prioritas pemerintah<br />
c)	Peranan orang tua dan masyakat,<br />
d)	Peranan profesionalisme dan manajerial, serta<br />
e)	Mengembangkan profesi.<br />
Secara lebih jelasnya faktor- faktor tersebut dapat penulis uraikan secara lebih rinci sebagai berikut:<br />
a.	Kewajiban Sekolah<br />
Sementara MBS meawarkan keluasaan pengelolaan sekoah dalam pelaksanaannya perlu disertai dengan seperangkat kewajiban yang juga harus dipenuhi oleh sekolah. Pelaksanaan MBS akan disertai dengan adanya monitoring dan tuntutan pertanggung jawaban yang relatif tinggi untuk melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat terhadap sekolah. Dengan demikian, sekolah dituntut untuk mampu menampilkan pengelolaan sumber daya secara transparan, demokratis, tanpa monopoli dan bertanggung jawab baik terhadap masyarakat maupun pemerintah.<br />
b.	Kebijakan dan Prioritas Pemerintah<br />
Pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan berhak meneruskan kebijakan- kebijakan yang menjadi nasional terutama yang berhubungan dengan program mutu dan pemerataan pendidikan. Dalam hal- hal tersebut, sekolah tidak dibolehkan untuk berjalan sendiri dengan mengambilkan kebijakan dan standar yang ditetapkan oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis.<br />
c.	 Peran Orang Tua dan masyarakat<br />
Peran masyrakat merupakan salah satu aspek terpebting dalam MBS. Manajemen Berbasis Sekolah menyediakan kesempatann yang luas kepada masyaraat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sekolah. Melalui ” Dewan Sekolah”, orang tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembuatan Keputusan- keputusan di sekolah.<br />
Dengan demikian, masyarakat dapat lebih memahami, mengawasi dan membantu sekolah dalam pengelolaan sekolah tersebut, mungkin dalam menimbulkan rancunnya kepentingan antara seolah dan masyarakat. Untuk mencegah terjadinya konflik kepentingan antara sekolah. Orang tua dan masyarakat, maka pemerintah perlu merumuskan batasan- batasan peranan masing- masing.<br />
d.	Peranan Profesional dan Manajemen<br />
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menuntut adanya perubahan- perubahan tingkah laku Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif dalam mengoprasikan sekolah. Pelaksanaan MBS berkopetensi meningkatkan gesekan peranan yang bersifat profesionalisme dan manajerial. Untuk memeuhi persyaratan pelaksanaan MBS, maka Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif harus mampu berfungsi keduanya, yaitu profesionlisme dan manajerial. Dalam hal ini, Kepala Sekolah, guru dan tenaga administratif harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang anak dan prinsip- prinsip pendidikan untuk menjamin bahwa segala keputusan penting yang dibuat oleh sekolah, didasarkan atas pertimbangan- pertimbangan pendidikan.<br />
Kepala sekolah khususnya perlu mempelajari dengan teliti baik kebijakan dan prioritas pemerintah manpun sekolah sendiri. Pemehaman terhadap kedua jenis prioritas tersebut sangat penting, agar peningkatan efesiensi, mutu dan pemerataan serta supervisisan monitoring yang direncanakan sekolah adalah intuk mencapai tujuan pendidikan sesuia dengan kerangka kebijakan pemerintah dan tujuan sekolah.<br />
e.	Pengembangan Profesi<br />
Untuk menuju pelaksanaan MBS, pemerintah harus membarikan jaminan bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif. Oleh karena itu, agar sekolah dapat mengambil manfaat atau kemampuan- kemampuan yang ditawarkan MBS, maka perlu dikembang adanya pusat perkembangan profesi yang berfungsi sebagi penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. Selain itu, penting untuk bahwa sebaliknya sekolah dan masyarakat perlu dilibatkan dalam proses pelaksanaannya MBS sedini mungkin. Mereka tidak perlu hanya menunggu melainkan dengan melibatkan diri dalam diskusi tentang MBS dan berinisiatif untuk menyelenggarakan pelatihan tentang berbagai aspek yang terkait dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).<br />
Berdasarkan faktor- faktor yang perlu diperhatikan jelas bahwa MBS melibatkan seluruh komponen. Oleh karena itulah agar berhasil dengan baik dalam pelaksanaan MBS setiap faktor tersebut dikaji dan diindetifikasi secara lebih mendalam.<br />
4.	Kara kteristik Manajemen Berbasis Sekolah<br />
Tim Teknis BAPPENAS (1999:16) menyebutkan bahwa karakteristik MBS dapat ditinjau dari segi:<br />
a)	Oganisasi sekolah.<br />
b)	Proses elajar mengajar dan<br />
c)	Sumber daya manusia serta administrasi.<br />
Secara lebih jelasnya dapat penulis uraikan sebagai berikut:<br />
a.	 Organisasi Sekolah<br />
Dalam keorganisasi sekolah pengpenerapan MBS ditandai oleh bebrapa hal, yaitu: menyediakan manajemen organisasi/ kepimpinan tranformasional dalam mencapai tujuan sekolah, menyusun rencana sekolah dan merumuskan kebijakan untuk sekolahnya, mengelola kegiatan operasional sekolah, menjamin adanya komunikasi yangefektif antara sekolah dan masyarakat terkait, menggerakkan partisipasi masyarakat dan menjamin akan terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab ke masyarakat dan pemerintah.<br />
b.	Proses Belajar Mengaja<br />
Proses belajar mengajar (PBM) yang bercirikan MBS ditandai oleh beberapa hal antara lain: meningkatnya kualitas belajar siswa, mengembangkan kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan siswa dan masyarakat sekolah menyelenggarakan pengajaran yang efektif serta penyedian program pengembangan yang diperlukan siswa.<br />
c.	Sumber Daya Manusia<br />
Sumber Daya Manusia (SDM) dalam MBS ditandai oleh beberapa hal yaitu meningkatkan staf dan menetapkan personil yang dapat melayani keperluan semua siswa, memilih staf yang memiliki wawasan MBS, menyediakan kegiatan untuk pengembangan profesi pada semua staf, menjamin kesejahtraan staf dan siswa serta menyelenggarakan forum atau diskusi untuk membahas kemajuan sekolah.<br />
d.	Sumber Daya Administrasi<br />
Sumber daya administrasi dengan adanya beberapa hal, yaitu mengindentifikasi sumber daya yang diperlukan dan mengalokasi sumber daya tersebut sesuai dengan kebutuhan, mengelola dana sekolah, menyediakan dukungan administrasif  dan mengelola serta memelihara gedung termasuk srana lainnya.<br />
5.	Strategi Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah<br />
Agar suatu sekolah dapat memetik keuntungan yang ditawarkan MBS secara maksimal, maka sekolah memerlukan tersedianya sumber daya manusia yang prefesional untuk mengoipresikan sekolah, dana yang cukup agar sekolah mampu mengkaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan masyarakat yang tinggi. Strategi yang dilaksanakan untuk melaksanakan MBS menurut Tim Teknis BAPPENAS (1999:17-20) meliputi:<br />
a)	Pengelompokkan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen.<br />
b)	Pentahapan pelaksanaan dan<br />
c)	Menentukan perangkat pelaksanaan.<br />
Sementara itu dalam mengpenerapankan MBS perlu ditempuh mekanisme tertentu agar berhasil dengan baik sebagaimana yang dikemukakan oleh Ametembun (1994:9-16), yaitu:<br />
a.	Penyusunan organisasi<br />
b.	Perumusan tujuan<br />
c.	Perumusan tujuan<br />
d.	Alokasi pesonil<br />
e.	Pengembangan kurikulum<br />
f.	Penyampaian informasi, dan<br />
g.	Pembuatan keputusan<br />
Sedangkan jika segi pentahapan penerapan MBS, Fattah (2000:22-25) mengemukakan bahwa tahapannya meliputi:<br />
a)	Tahap sosialisasi<br />
b)	Tahap piloting (uji ciba) dan<br />
c)	Tahap desiminasi<br />
Berdasarkan hal- hal yang telah disebutkan di atas, maka strategi pelaksanaan MBS meliputi aspek- aspek yang terdapat dalam fungsi manajemen, yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;">BAB III<br />
PROSEDUR</p>
<p style="text-align:left;">
A.	Metode Penelitian</p>
<p style="text-align:justify;">
Dalam penelitian, metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengguna metode dan pendekatan tersebut mengingat tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis mengenai upaya pihak sekolah dalam meningkatkan peranserta masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS di beberapa SMA di Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar, oleh Kepala Sekolah maupun guru yang terjadi pada saat sekarang. Sebagaimana yang di kemukakan oleh Latunussa (1989:55) bahwa:<br />
Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu pertanyaan mengenai hakikat gejala atau pertanyaan mengenai apa itu atau mendiskripsikan tentang apa itu, sehingga diperoleh informasi keadaan gejala yang sedang berlangsung sebagai pemecahan masalah yang ada, masalah yang hangat dan actual, dalam bentuk kata atau kalimat sehingga memberikan makna.<br />
Sejalan dengan pendapat tersebut, Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong (1996) mengemukakan bahwa: Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu prosedur penelitian  yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati yang diarahakan pada latar dan individu secara holistik.<br />
B.	Subjek Penelitian<br />
Subjek penelitian ini adalah tokoh masyarakat, Kepala Sekolah, Guru dan pihak- pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan di persekolahan, dan yang akan dijadikan sebagi lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Lhoong.pengambilan sumber data dalam penelitian ini menggunakan ‘ purposive sampling’ yaitu pilihan peneliti tentang aspek apa dan siapa yang jadikan focus pada saat situasi tertentu dan karena itu uterus menerus sepanjang penelitian. Sampling kualitatif yang tergantung pada tujuan focus pada saat itu. Penelitian ini berprinsip bahwa penelitian kualitatif yang dipentingkan adalah konteks dan bukan jumlah sumber datanya. Sumber data awal ini menjadi pegangan dalam penelitian ini, sedangkan data dapat diperoleh dari banyak informasi (menggelinding), sehingga mencapai taraf konsisten.<br />
Namun untuk menjadi suatu pedoman dalam pelaksanaan penelitian dan untuk memudah pelaksanaan, maka dalam hal ini jumlah subjeknya adalah: 1 (satu) orang kepala sekolah, 4 (empat) orang dari masing- masing pengurus komite sekolah, 4 (empat) orang guru dari sekolah dan tokoh masyarakat dari sekitar sekolah yang bersangkutan.<br />
C.	Teknik Pengumpulan Data<br />
Keberhasilan suatu penelitian terutama penelitian kualitatif, tergantung beberapa factor. Paling tidak ditentukan oleh factor kejelasan tujuan dan permasalahan penelitian, ketepatan pemilihan pendekatan/ metodelogi, ketelitian dan kelengkapan data/ informasi itu sendiri. Dalam penelitian yang mendasarkan pada pendekatan kualitatif ini dipergunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Ketiga teknik yang akan dijalaskan berikut ini, digunakan peneliti dalam rangka memperoleh informasi saling melengkapi.<br />
1.	Observasi; dilakukan dengan pengamatan tentang upaya pihk sekolah dalam meningkatkan peranserta masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Observasi sebagai pengumpulan data/ informasi dilakukan secara sistematis, bukan sebagai sambilan atau kebetulan saja. Dan dalam observasi ini akan diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk mengatur, mempengaruhi atau memanipulasi objek pengamatan yang sedang diobservasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi focus dari observasi adalah kegiatan- kegiatan yang berkenaan tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan peranserta masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Seperti Pertemuan antara pihak sekolah dengan komite sekolah, kegiatan seharian di sekolah dan kegiatan lain yang berkenaan dengan tujuan dari penelitian ini.<br />
2.	Wawancara; yaitu dengan melakukan tanya jawab atau mengkonfirmasikan kepada sampel penelitian dengan sistematis (wawancara terstruktur). Dalam wawancara ini, pertanyaan dan jawaban akan bersifat verbal atau semacam percakapan yang bertujuan memperoleh data atau informasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi sasaran dari wawancara adalah Kepala Sekolah, pengurus Komite Sekolah, guru, tokoh masyarakat dan sumber lainnya yang relevan.<br />
3.	Studi dokumentasi; yaitu suatu alat penelitian yang bertujuan untuk melengkapi data (sebagai bukti pendukung), yang bersumber bukan dari manusia yang memungkinkan dilakukannya pengecekan untuk mengetahui kesesuiannya. Sumber data yang menjadi focus dalam penelitian ini adalah Notulen Rapar pihak sekolah dengan Komite sekolah, orang tua siswa dan dengan masyarakat. Serta dokumen lainnya yang mendukung kajian penelitian ini.<br />
D.	Tahapa Pengumpulan Data<br />
Dalam penelitian kualitatif tidak terdapat prosedur pengumpulan data yang memiliki pola yang pasti. Nasution (1982:37) mengatakan “ masing- masing peneliti dapat memberi sejumlah petunjuk dan saran berdasarkan pengalaman masing- masing”, namun kualitatif menurut Moelong (2000) adalah proses mengatur data untuk ditafsirkan dan diketahui maknanya.</p>
<p style="text-align:justify;">1.	Reduksi Data<br />
Tahap ini dilakukan dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan lapangan, dan dokumen, sehingga dapat ditemukan hal- hal pokok dari proyek yang diteliti yang berkenaan dengan fokus penelitian.<br />
2.	Display Data<br />
Pada tahap ini, dilakukan dengan merangkum hal- hal pokok yang ditemukan dalam susunan yang sismatis, yaitu data disusun dengan cara menggolongkannya ke dalam pola, tema, unit atau katagori, sehingga tema sentral dapat diketahui dengan mudah, kemudian diberi makna sesuai materi penelitian. Lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan analisis dan interpretasi data adalah merupakan proses penyederhanaan dan trasformasi timbunan data mentah, sehingga menjadi kesimpulan- kesimpulan yang singkat, padad dan bermakna.<br />
3.	Verifikasi<br />
Pada tahap ini dilakukan pengujian tentang kesimpulan yang telah diambil dengan data pembandingan yang tersumber dari hasil pengumpulan data dan penunjang lainnya. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat kebenaran hasil analisis sehingga melahirkan kesimpulan yang diambil dilakukan dengan menghubungkan atau mengkomunikasikan hasil- hasil penelitian dengan teori- teori para ahli. Terutama teori yang menjadi kerangka acuan peneliti dan keterkaitannya dengan temuan- temuan dari penelitian lainnya yang relevan, melakukan proses member- chek mulai dari tahap orientasi sampai dengan kebenaran data terakir, dan akhirnya membuat kesimpulan untuk dilaporkan sebagai hasil penelitian.</p>
<br />Posted in MPd.doc Tagged: pascasarjana.doc <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisulakbar.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisulakbar.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisulakbar.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisulakbar.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisulakbar.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisulakbar.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisulakbar.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisulakbar.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisulakbar.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisulakbar.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisulakbar.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisulakbar.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisulakbar.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisulakbar.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisulakbar.wordpress.com&amp;blog=6888612&amp;post=3&amp;subd=raisulakbar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisulakbar.wordpress.com/2009/03/10/mpmbs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d27b04656eae8501dd7c16cf3b9b06e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Robert</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
